GemaKesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI TERHADAP BURNOUT PADA PERAWAT Ni Made Nopita Wati1. Tri Rahyuning Lestari2. Ria Anggraini3. Adharudin2. Dhia Diana Fitriani2 Program Studi Keperawatan Program Sarjana. STIKes Wira Medika Bali. Indonesia Program Studi Keperawatan. STIKes Widya Dharma Husada Tangerang. Indonesia STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung Jawa Timur. Indonesia Email Penulis Korespondensi (K): nopitawati@stikeswiramedika. ABSTRAK Kasus positif Covid-19 terus meningkat hampir disetiap negara. Kasus positif secara global tercatat kurang lebih 113 juta kasus dengan kasus kematian sebanyak 2,5 juta jiwa. Negara dengan angka kasus pasien positif terbanyak yaitu Amerika Serikat dengan jumlah total kasus 28 juta kasus. Indonesia berada diurutan 18 dengan total kasus 1,3 juta kasus positif, kasus meninggal 35 ribu kasus. Perawat merupakan tenaga kesehatan digarda depan yang merawat pasien Covid-19. Perawat dalam melaksanakan tugasnya wajib menggunakan alat pelindung diri (APD). Penggunaan APD ini dapat memberikan perlindungan bagi penggunanya. Penggunan APD pada level 3 masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini dalam jangka waktu yang lama merupakan salah satu faktor yang dapat memicu burnout. Data menyebutkan sebanyak 2,707 orang dari 60 negara menyatakan bahwa tenaga kesehatan mengalami burnout akibat pandemi Covid-19 yang tidak kunjung usai bahkan justru semakin meningkat. Dampak dari burnout ini menyebabkan perawat merasakan kehilangan energi, kehilangan antusiasme dalam bekerja, dan kehilangan kepercayaan diri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan penggunaan APD terhadap burnout pada perawat. Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross Penelitian menggunakan teknik purposive sampling, sebanyak 213 orang. Data dianalisis menggunakan uji rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden menggunakan APD dalam kategori baik yaitu sebanyak 167 orang . ,4%), sebagian besar responden mengalami burnout rendah yaitu sebanyak 204 orang . ,8%) dengan nilai p-value 0,001 dan kekuatan korelasi -0,228 dengan arah korelasi negative. Hal ini menunjukan bahwa terdapat hubungan antara penggunaan APD dengan burnout, dimana semakin baik penggunaan APD maka semakin rendah burnout yang dirasakan perawat. Penggunaan APD yang baik dapat mengurangi burnout yang dirasakan perawat karena membuat perawat merasa aman dan terlindungi. Perawat diharapkan senantiasa menggunakan APD sesuai dengan standar, selain itu pihak rumah sakit juga diharapkan senantiasa melakukan evaluasi secara berkala terhadap kesehatan mental perawat agar dapat mengurangi resiko terjadinya burnout. Kata kunci: Alat pelindung diri. Burnout. Perawat ABSTRACT Positive cases of Covid-19 continue to increase in almost every country. Globally, there are approximately 113 million positive cases with 2. 5 million deaths. The country with the highest number of positive patient cases is the United States, with 28 million cases. Indonesia is ranked 18th with a total 3 million positive points and 35 thousand cases of death. Nurses are frontline health workers who care for Covid-19 patients. Nurses must use personal protective equipment (PPE) to carry out their The use of this PPE can protect its users. The use of PPE at level 3 during the Covid-19 pandemic, as it is now for a long time, is one factor that can trigger burnout. Data states that 2,707 people from 60 countries say that health workers are experiencing burnout due to the Covid-19 pandemic, which has not gone away and has even increased. The impact of this burnout causes nurses to feel a loss of energy. GemaKesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 a loss of enthusiasm at work, and a loss of confidence. This study aimed to determine the relationship between the use of PPE and burnout in nurses. This type of research is descriptive quantitative with a cross-sectional approach. The study used a purposive sampling technique with as many as 213 people. Data were analyzed using the Spearman rank test. The results showed that most respondents used PPE in the excellent category, namely 167 people . 4%). most of the respondents experienced low burnout, namely 204 people . 8%) with a p-value of 0. 001 and a correlation strength of -0. 228 with negative correlation direction. There is a relationship between the use of PPE and burnout, where the better PPE, the lower the burnout felt by nurses. Proper PPE can reduce nurses' burnout by making them feel safe and protected. Nurses are expected to use PPE according to standards continually. the hospital is also likely to regularly evaluate the mental health of nurses to reduce the risk of burnout. Keywords: Burnout. Nurses. Personal protective equipment PENDAHULUAN Masyarakat dunia saat ini masih melanjutkan perjuangannya untuk menghadapi Covid-19. Penyebaran penyakit Covid-19 sangat cepat bisa lewat udara maupun kontak langsung antara sesama manusia (Artiningsih and Chisan, 2. Data menunjukkan trend penyebaran kasus positif Covid-19 di Bali menempati posisi ke 8 dengan dengan jumlah kasus kurang lebih sebanyak 160. 158 ribu kasus, dengan urutan sebagai berikut DKI Jakarta . 983 kasu. Jawa Barat . 567 kasu. Jawa Tengah . 047 kasu. Jawa Timur . 723 kasu. Banten . 410 kasu. Daerah istimewa Yogyakarta . 339 kasu. Kalimantan Timur . 613 kasu. (Satuan Tugas Penanganan Covid. Data yang dirilis oleh Ketua Harian Penanganan Satgas Covid-19 Provinsi Bali pada Bulan Januari 2021 menunjukkan pasien terkonfirmasi positif di Bali mencapai angka 542 kasus. Hal tersebut menjadi pencapaian tinggi bagi Provinsi Bali. Penambahan kasus positif juga dialami oleh tenaga kesehatan di Indonesia. Gugurnya petugas medis serta tenaga kesehatan di Indonesia terus bertambah dan menjadi yang tertinggi di Kawasan Asia dan nomor tiga terbesar diseluruh dunia (IDI, 2. Data Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia mencatat 647 tenaga medis gugur akibat terinfeksi Covid-19 dimana sebanyak 221 perawat meninggal dunia di Indonesia (IDI, 2. Masyarakat secara global sangat merasakan dampak yang besar dari pandemi Covid-19. Dampak besar dirasakan juga oleh tenaga kesehatan (Artiningsih and Chisan, 2. Perawat wajib memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan pada pasien Covid-19, perlu memperhatikan beberapa hal guna meminimalisir terinfeksi Covid-19. Salah satu hal yang wajib diperhatikan yaitu penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Solusi dalam meminimalisir terpaparnya penyakit dan kecelakaan kerja yaitu dengan penggunaan APD. Pemakaian APD harus disesuaikan dengan standar operasional prosedur dari rumah sakit (Ahmad et al. Standar atau level penggunaan APD bagi tenaga kesehatan seperti perawat yang melakukan kontak langsung dengan pasien dalam pengawasan seperti pasien positif Covid-19 adalah alat pelindung diri level i (Ahmad et al. , 2. APD diri level i adalah alat sebuah alat perlindungan diri yang seharusnya dipakai oleh tenaga kesehatan di ruang operasi, ruang prosedur, dan ruang rawat inap khusus pasien terkonfirmasi Covid156 GemaKesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 19, alat pelindung diri ini dapat melindung tenaga kesehatan khususnya perawat dari kegiatan yang menimbulkan aerosol pada pasien dengan status dalam pemantauan atau positif Covid-19. Jenis-jenis alat perlindungan diri di level i ini, meliputi gaun coverall, apron, masker N95, sarung tangan karet steril sekali pakai, face shield, pelindung mata, headcap, serta sepatu boots (Ahmad et al. , 2. Persediaan alat pelindung diri yang kurang untuk perawat dapat menyebabkan berisiko terpapar Covid19 lebih besar, karena pasien sangat sering kontak dengan perawat. Penggunaan APD dapat menyebabkan terbatasnya aktivitas pemenuhan kebutuhan dasar seperti makan, minum, serta kebutuhan Perawat harus merasakan rasa panas dan pengap saat menggunakan APD tersebut demi meminimalisir risiko tertular virus Covid-19 (Ahmad et al. , 2. Penggunaan APD dalam jangka waktu lama juga menjadi pemicu timbulnya burnout (Rosyanti and Hadi, 2. Burnout dikatakan sebagai suatu kondisi seseorang yang mengalami kelelahan sehingga tidak dapat melakukan fungsinya sebagaimana mestinya yang diakibatkan oleh terlalu keras dalam bekerja. Burnout yang dialami perawat saat pandemi Covid-19 ini dapat menyebabkan penurunan kualitas pelayanan kesehatan pada pasien. Perawat yang telah mengalami lelah fisik dan mental, akan kesulitan dalam berkonsentrasi serta kurang mampu melakukan pemberian pelayanan untuk pasien Covid-19. Burnout yang dialami perawat juga bisa membahayakan keselamatan perawat itu sendiri, karena ketika sudah merasakan lelah fisik dan psikologis, maka sistem pertahanan tubuh juga akan melemah dan risiko terpapar virus Covid-19 akan semakin besar (Ahmad et al. , 2. Pemenuhan kebutuhan secara fisik maupun mental yang kurang, dapat menyebabkan perawat memilih keluar dari pekerjaannya. Hal ini merupakan dampak dari timbulnya burnout pada perawat. Burnout selama pandemi Covid-19 juga disebabkan oleh adanya tekanan akan waktu kerja, kurangnya dukungan dari institusi atau organisasi terkait . umah sakit serta lain sebagainy. , stress akan pekerjaan yang tinggi, dan tidak adanya waktu untuk menenangkan diri sendiri. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa tenaga kesehatan yang mengalami burnout akibat tidak kunjung usainya pandemi Covid-19 justru semakin meningkat (Morgantini et al. , 2. Penggunaan APD merupakan salah satu faktor situasional yang mempengaruhi burnout pada perawat. Hal ini diuraikan oleh Sabir et al . yang menjelaskan bahwa pemakaian alat pelindung diri menjadi salah satu penyebab timbulnya stress dalam diri perawat. Pemakaian APD untuk durasi panjang dapat menyebabkan kecemasan bagi tenaga medis (Sabir. Arafat and Yusuf, 2. Peningkatan kasus positif penyakit Covid-19 ini menyebabkan para perawat merasa lelah, stress, cemas, dan menginginkan pandemi ini segera berlalu dimana stres dan kecemasan yang berkepanjangan akan memicu terjadinya burnout. Menurut penelitian dari Rosyanti and Hadi . menyebutkan sumber stress bagi perawat adalah penggunaan APD. WHO telah mengeluarkan sebuah rekomendasi tentang cara menggunakan masker respirator FFP2, kepatuhan mengenai sikap yang tepat serta prosedur praktik terbaik untuk menangani penularan penyakit sehingga dapat menurunkan resiko penyebaran virus. Penggunaan APD dalam jangka waktu lama juga menjadi pemicu timbulnya burnout pada perawat (Rosyanti and Hadi, 2. GemaKesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 Peneliti telah melakukan studi pendahuluan di lima RS Negeri dan Swasta di Bali didapatkan data bahwa 8 . %) perawat yang menangani pasien Covid-19 dengan menggunakan APD level i dimana perawat merasa panas dan pengap serta tenaganya terkuras ketika menggunakan APD untuk durasi waktu yang panjang selama bertugas, 10 orang . %) perawat juga mengatakan bahwa merasa cemas, khawatir dan merasa takut tertular virus Covid-19. Hasil wawancara juga menunjukkan 7 orang . %) perawat merasakan kelelahan fisik maupun emosional akibat banyaknya pasien yang dirawat dan penggunaan APD dalam jangka waktu yang lama. Data menunjukkan 10 orang . %) perawat yang diwawancara memiliki harapan yang sama, yakni berharap segera berakhirnya pandemi Covid-19 agar bisa kembali ke rutinitas seperti semula. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara penggunaan APD terhadap burnout yang dialami perawat selama Covid-19 di Bali. METODE Penelitian ini bersifat kuantitatif menggunakan design deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini menggunakan lima rumah sakit negeri dan swasta di Bali sebagai tempat penelitian, dengan waktu selama 2 bulan dari bulan April-Juni 2021. Nama rumah sakit tidak dicantumkan karena mematuhi keputusan etik penelitian. Seluruh perawat merawat pasien Covid19 merupakan populasi penelitian ini. Samplingnya menggunakan non probality sampling dengan teknik purposive sampling didapatkan sampel sebanyak 213 orang perawat. Kriteria inklusi penelitian yaitu perawat yang bersedia menjadi responden dengan menandatangani informed consent, memiliki pengalaman kerja minimal 1 tahun dan berpendidikan minimal D3 Keperawatan sedangkan kriteria eksklusinya yaitu perawat yang tidak kooperatif. Variabel dalam penelitian ini, yaitu penggunaan APD sebagai variabel bebas dan burnout perawat sebagai variabel terikat. Instrumen dalam penelitian ini yaitu kuesioner yang sudah diuji validitas dan realibilitasnya pada 30 orang perawat. Kuesioner APD terdiri dari 13 item pernyataan dengan skala likert. Nilai validitas kuesioner ini yaitu berada pada rentang 0,367-0,777 dan nilai reliabilitasnya 0,851. Kuesioner burnout terdiri dari 18 item pernyataan dengan skala likert. Nilai validitas kuesioner yaitu berada pada rentang 0,452-0,779 dan nilai reliabilitasnya 0,904. Penelitian ini diawali dengan melakukan persamaan persepsi bersama enumerator lalu melakukan pendekatan kepada responden sembari menjelaskan tujuan, manfaat, prosedur dan alur penelitian. Responden yang bersedia terlibat dalam penelitian kemudian menandatangani informed consent lalu dilanjutkan mengisi kedua Penelitian No. 0379/KEPITIKES-BALI/IV/2021. Analisa data bivariat menggunakan uji korelasi rank HASIL Karakteristik responden yang meliputi usia, jenis kelamin, status pernikahan, pendidikan, dan lama bekerja disajikan pada Tabel 1 berikut ini: GemaKesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 Tabel 1. Distribusi frekuensi karakteristik responden Karakteristik responden Usia 25-35 Tahun 36-46 Tahun >46 Tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Status pernikahan Menikah Tidak menikah Pendidikan Di Keperawatan S1 Keperawatan Profesi Ners Lama bekerja 1-5 tahun 6-10 tahun >10 tahun Total Tabel 1 menunjukkan sebagian besar responden berada pada usia 25-35 tahun, yaitu sebanyak 117 orang . ,8%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 154 orang . ,3%), memiliki status menikah sebanyak 184 orang . ,4%), status pendidikan Di Keperawatan sebanyak 114 orang . ,5%) dan lama bekerja 6-10 tahun sebanyak 156 orang . ,2%). Adapun hasil analisis univariat pada variable penggunn APD dan burnout disajikan pada table 2 berikut ini: Tabel 2 Distribusi Frekuensi Masing-masing variabel penelitian Variabel penelitian Penggunaan APD Baik Cukup Burnout Rendah Sedang Tinggi Total Tabel 2 menunjukkan sebagian besar responden menggunakan alat pelindung diri dalam kategori baik, yaitu sebanyak 167 orang . ,4%) dan burnout perawat sebagian besar rendah yaitu sebanyak 204 orang . ,8%). Hasil analisis bivariat dengan uji korelasi Rank Spearman yang menguji hubungan antara penggunaan APD dengan bornout terlihat pada Tabel 3 berikut ini: GemaKesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 Tabel 3. Hubungan penggunaan APD dengan burnout pada perawat Penggunaan APD Cukup Baik Jumlah Rendah 40 18,8 164 77,0 204 95,8 Burnout Sedang Jumlah Tinggi -0,228 0,001 Tabel 3 menunjukkan sebagian besar responden menggunakan APD dengan baik dan mengalami burnout rendah yaitu sebanyak 164 orang . ,0%), dengan nilai p-value 0,001 dan kekuatan hubungan -0,228 dengan arah kolerasi negatif. BAHASAN Penggunaan APD dari 213 responden mendapatkan hasil yaitu sebagian besar responden dengan kategori baik sebanyak 167 orang . ,4%) serta sebanyak 46 orang . ,6%) dengan kategori cukup baik. Hal ini berarti penggunaan APD dalam kategori baik. Upaya yang dapat dilakukan dalam melindungi pekerja dari bahaya yang dapat terjadi ditempat kerja baik bersifat fisik maupun kimiawi disebut APD. Penggunaan APD memiliki peran yang penting di masa pandemi Covid-19. APD yang digunakan oleh tenaga kesehatan untuk melindungi diri dari paparan virus Covid-19 yang semakin hari semakin meresahkan masyarakat karena penyebarannya yang cepat. APD level 3 merupakan alat yang harus digunakan oleh tenaga kesehatan terutama yang bekerja diruang isolasi agar terlindungi dari paparan virus Covid-19 (Wayutomo, 2. Penelitian Ernanda . menyatakan bahwa sebagian besar responden mempunyai sikap penggunaan alat pelindung diri dalam kategori baik sebanyak 28 orang . ,9%) sedangkan responden dengan sikap dalam kategori cukup sebanyak 18 orang . ,1%). Penelitian yang dilakukan Arif . juga menyatakan bahwa dari 127 responden menunjukkan perilaku penggunaan APD pada perawat di masa pandemi Covid-19 dengan kategori baik sebanyak 91 responden . 7%), yang juga didukung dengan pengetahuan yang dimiliki perawat terhadap penggunaan APD di masa pandemi Covid-19. Penelitian Apriluana. Khairiyati and Setyaningrum . menyebutkan bahwa sikap serta perilaku perawat dalam menggunakan APD kemungkinan besar dipengaruhi oleh faktor usia dan masa kerja sebagai perawat. Perawat yang berusia 26-35 tahun, secara usia pada periode kehidupan ini disebut sebagai usia yang penting karena pada periode ini struktur kehidupan cencerung tetap serta stabil. Seseorang dengan usia yang cukup maka tingkat kemampuan serta kekuatannya lebih matang dalam berpikir serta bekerja. Hasil penelitian ini menunjukkan karakteristik usia responden didominasi pada rentang usia 25-35 tahun yaitu sebanyak 117 orang . ,9%) dan karakteristik responden berdasarkan masa bekerja sebagai perawat didominasi 156 orang . ,2%). Perawat yang memiliki masa kerja 6-10 tahun cenderung memiliki pengalaman dan pengetahuan yang baik dalam menggunakan alat pelindung diri level i saat menangani pasien Covid-19. GemaKesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 Burnout yang dialami perawat dari 213 responden, sebanyak 204 orang . ,8%) dengan kategori rendah, 8 orang . ,8%) dengan kategori sedang dan 1 orang . ,5%) dengan kategori tinggi. Hal tersebut diartikan bahwa sebagian besar perawat dengan burnout dalam kategori rendah. Burnout yang dirasakan dalam kategori rendah juga didukung oleh hasil jawaban kuesioner responden yang menyatakan bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 80% menyatakan tidak pernah tidak bekerja setengah hati. Hal ini menandakan bahwa perawat senantiasa bekerja sepenuh hati dalam merawat pasien Covid-19. Kondisi pandemi Covid-19 menyebabkan banyak hal diantaranya rasa kelelahan fisik dan mental terhadap pandemi yang tidak kunjung usai atau bisa disebut Burnout. Burnout merupakan kondisi lelah secara fisik dan mental terhadap tuntutan pekerjaan akibat dari adanya suatu pandemi dalam jangka waktu yang lama. Kelelahan dalam menghadapi pandemi atau Pandemic Burnout dapat menyebabkan seseorang merasa terkuras secara emosional dan tidak dapat berfungsi dalam konteks di banyak aspek kehidupan, khususnya dalam melakukan pekerjaan. Kelelahan dapat menurunkan motivasi dan menyebabkan seseorang merasa tidak berdaya, putus asa, dan kesal. Perawat sebagai bagian dari tenaga kesehatan yang turut serta menangani pasien Covid-19 memiliki risiko mengalami pandemic burnout (Queen and Harding, 2. Hasil penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian dari Kapu . , penelitian tersebut menyebutkan perawat di ruang IGD serta ICU burnout rendah sebanyak 22 responden . %) dari 34 orang responden selama pandemi Covid-19. Hal ini terjadi karena adanya self efficacy yang tinggi dari Meskipun hasil burnout ringan/rendah, hal tersebut harus tetap diperhatikan dan diwaspadai karena memiliki kemungkinan besar burnout yang dirasakan meningkat. Penelitian Pertiwi. Andriany and Pratiwi . , menunjukkan tingkat burnout yang dialami tenaga medis perawat saat pandemi Covid-19 dalam kategori rendah yaitu 34. 3% dari 127 responden. Burnout selama pandemi dapat terjadi akibat kelelahan emosional, adanya tekanan akan waktu kerja, kurangnya dukungan dari institusi atau organisasi terkait . umah sakit, dan lain sebagainy. , stress akan pekerjaan yang tinggi, dan tidak adanya waktu untuk menenangkan diri sendiri. Hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja atau kualitas pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan secara professional (Morgantini et al. , 2. Kelelahan emosional dan fisik, serta perasaan takut tertular Covid-19 masih menjadi keluhan bagi perawat ruang isolasi. Perawat harus dapat mengontrol diri dan memberikan dukungan kepada diri sendiri sehingga dapat meminimalisir terjadinya burnout selama pandemi Covid-19 yang masih belum dapat dipastikan kapan akan berakhir. Berdasarkan uji rank spearman hubungan penggunaan APD dengan burnout perawat diperoleh hasil p-value= 0,001 yang berarti ada hubungan secara signifikan antara penggunaan APD dengan burnout perawat. Nilai kekuatan korelasi menunjukan -0,228 dengan arah korelasi negative. Hal ini berarti apabila penggunaan alat pelindung diri baik maka burnout rendah, begitu pula sebaliknya jika penggunaan alat pelindung diri buruk maka burnout tinggi. Penelitian dari Rosyanti and Hadi . menyebutkan bahwa alat pelindung diri menjadi salah satu sumber stress yang dapat memicu timbulnya burnout pada perawat di era Covid-19. Namun disisi lain APD juga dapat disebut sebagai senjata untuk mencegah agar tidak terpapar virus Covid-19. GemaKesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 Penggunaan alat pelindung diri telah ditetapkan sesuai standar yaitu alat pelindung diri level i yang diharapkan dapat membantu perawat melindungi diri dari virus Covid-19. Perawat harus menggunakan APD level i dalam jangka waktu yang lama demi keselamatan diri sendiri dalam menangani pasien Covid-19. Ketakutan akan tertular virus Covid-19 menyebabkan perawat harus siap memproteksi diri dengan menggunakan APD. Minimnya persediaan APD di Indonesia menjadi suatu masalah yang ditakutkan oleh perawat. Suatu kewajiban yang mengharuskan menjadi garda terdepan mengalami kelelahan fisik dan emosional serta minimnya pengetahuan membuat perawat cenderung mengalami Burnout dalam menghadapi pandemi yang dirasakan oleh perawat dapat menurunkan kualitas pelayanan kesehatan dalam menghadapi pasien Covid-19. Perawat yang bekerja ditengah-tengah perhatian media masa serta menjadi perhatian publik secara intens, panjangnya waktu bekerja, masif serta tidak pernah terjadi sebelumnya pada perawat maka akan berimplikasi sehingga akan memicu efek psikologis negatif seperti suasana hati buruk, mudah marah, panik, insomnia, gangguan emosi, kelelahan emosional, stress dan depresi. Terbatasnya persediaan alat pelindung diri semakin menimbulkan rasa resah bagi perawat sehingga mempengaruhi pikiran, dan juga mental, ditambah dengan beban kerja yang berat dan risiko tinggi yang dipikulnya. Dampak dari burnout ini dapat menyebabkan perawat merasakan kehilangan energi, kehilangan antusiasme dalam bekerja, dan kehilangan kepercayaan diri (Handayani et al. , 2. Penelitian ini memperoleh hasil bahwa terdapat hubungan antara penggunaan APD dengan burnout perawat menandakan bahwa baik kurangnya penggunaan alat pelindung diri akan mempengaruhi tinggi rendahnya burnout yang dialami semasa pandemi Covid-19. Penggunaan alat pelindung diri yang kurang baik dapat memicu semakin parahnya keluhan kelalahan fisik dan emosional serta semakin beratnya beban kerja yang dihadapi perawat. Perawat yang telah mengalami burnout dengan tingkat tinggi, maka akan merasa bosan dan tidak bersemangat dalam bekerja, sehingga risiko terpapar virus Covid-19 lebih besar. Perawat dengan kondisi burnout juga dapat mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas pelayanan kesehatan sehingga berdampak pada kualitas rumah sakit Persediaan alat pelindung diri yang memadai dapat menjadi salah satu bentuk dukungan penuh pada perawat dan memastikan bahwa perawat dapat menjalankan tugasnya dengan aman. SIMPULAN DAN SARAN Studi ini menunjukkan hubungan signifikan antara penggunaan APD dengan burnout pada peawat yang menangani pasien Covid-19. Diharapkan agar pihak manajemen rumah sakit melakukan evaluasi secara berkala terhadap kesehatan mental perawat agar bisa mengurangi resiko terjadinya GemaKesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 RUJUKAN