Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 1 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Barong Bulu Goak Dalam Kajian Teo Estetika Hindu I Gusti Ngurah Pertu Agung Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Indonesia pertuagung04@gmail. Abstract Barong Bulu Goak is a unique manifestation of culture and spirituality in Hindu society in Bali. Known for its rare and sacred presence, the Barong Bulu Goak attracts attention because it uses crow feather decoration, which is rarely used in other types of This research aims to explore the theological and aesthetic depth surrounding Barong Bulu Goak in the context of Balinese culture. This research uses a descriptive qualitative approach to explore the symbolic role, ritual and theological meaning of Barong Bulu Goak in Balinese society. The main focus of this research is to explore the Theo-Aesthetic aspects surrounding Barong Bulu Goak, relate it to Hindu theological concepts, and explore how the use of crow feathers as an aesthetic element influences aesthetic perception and experience. In the context of theo-aesthetics, this research explains how Hindu theological concepts related to Brahman and its manifestations in everyday life are combined with aesthetic experiences through performing arts. The results of the research present that Barong Bulu Goak shows a tendency in its appearance and rituals to exude beauty or Ramya Tattwa and also the Suwung Tattwa phase which reflects aspects of Balinese artistic aesthetics. The concept of ramya refers to the integrated beauty of make-up, movement, and rituals that attract attention and radiate feelings of joy and satisfaction in religious ceremonies. Suwung presents quiet moments that provide opportunities for spiritual reflection and deep appreciation of the presence of Barong Bulu Goak in the ritual until the peak of the experience is known as saktibhava, marking the moment where the ceremony participants feel connected spiritually which indicates the existence of Barong Bulu Goak is a creative expression which shows how spiritual and aesthetic life in the Hindu context can combine in a deep experience, giving rise to the power of spirituality in the perception of beauty. Keywords: Barong. Barong Bulu Goak. Theo-Aesthetics Abstrak Barong Bulu Goak merupakan salah satu manifestasi budaya dan spiritualitas yang unik dalam masyarakat Hindu di Bali. Dikenal dengan keberadaannya yang langka dan bermuatan sakral. Barong Bulu Goak menarik perhatian karena menggunakan hiasan bulu burung gagak, yang jarang digunakan pada jenis barong lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelajahi kedalaman teologis dan estetika yang melingkupi Barong Bulu Goak dalam konteks kebudayaan Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggali peran simbolis, ritual, dan makna teologis dari Barong Bulu Goak dalam masyarakat Bali. Fokus utama penelitian ini adalah menjelajahi aspek Teo-Estetika yang melingkupi Barong Bulu Goak, mengaitkannya dengan konsep teologi Hindu, dan mengeksplorasi bagaimana penggunaan bulu gagak sebagai elemen estetika mempengaruhi persepsi dan pengalaman estetis. Dalam konteks teo-estetika, penelitian ini menjelaskan bagaimana konsep teologi Hindu yang terkait dengan Brahman dan manifestasinya dalam kehidupan sehari-hari dipadukan dengan pengalaman estetika melalui seni pertunjukan. Hasil penelitian menyajikan Barong Bulu Goak memperlihatkan kecenderungan dalam penampilan dan ritusnya yang memancarkan keindahan atau Ramya Tattwa dan juga fase Suwung Tattwa yang merefleksikan aspekhttps://jayapanguspress. org/index. php/JPAH aspek dalam estetika seni Bali. Konsep ramya mengacu pada keindahan yang terpadu dari tata rias, gerak, dan ritus yang memikat perhatian serta memancarkan perasaan sukacita dan kepuasan dalam upacara keagamaan. Suwung menghadirkan momen-momen sunyi yang memberi kesempatan bagi refleksi spiritual dan penghayatan mendalam terhadap kehadiran Barong Bulu Goak dalam ritual hingga Puncak dari pengalaman yang disebut sebagai saktibhava, menandai momen di mana peserta upacara merasa terhubung secara spiritual yang mengindikasikan keberadaan Barong Bulu Goak merupakan ekspresi kreatif yang menunjukkan bagaimana kehidupan spiritual dan estetika dalam konteks Hindu dapat berpadu dalam sebuah pengalaman yang mendalam, memunculkan daya spiritualitas dalam pencerapan rasa keindahan. Kata Kunci: Barong. Barong Bulu Goak. Teo-Estetika Pendahuluan Barong Bulu Goak merupakan salah satu ekspresi budaya dan spiritual yang unik dalam masyarakat Hindu di Bali. Keberadaannya yang langka dan memiliki makna sakral telah menarik perhatian karena menggunakan hiasan bulu burung gagak, yang jarang digunakan pada jenis barong lainnya. Barong Bulu Goak tidak hanya menjadi simbol budaya yang kaya, tetapi juga mencerminkan kedalaman simbolisme spiritual dalam tradisi Hindu Bali. Perannya dalam upacara adat dan keberadaannya sebagai karya seni turut mencerminkan perpaduan narasi mitologis, warisan budaya, dan praktik keagamaan yang mendefinisikan kehidupan budaya di Bali. Keberadaan Barong Bulu Goak sebagai suatu kekayaan budaya dan spiritualitas Bali menghadirkan berbagai manifestasi yang unik dan menakjubkan dalam sebuah keistimewaan panorama seni pertunjukan Bali menjadi pusat perhatian karena penggunaan hiasan bulu burung gagak yang jarang terlihat pada jenis Barong lainnya. Dalam perkembangannya beberapa jenis barong Bali telah dijelaskan oleh Wirawan . yang menyebutkan bahwa citra barong ada banyak jenisnya, seperti Babi. Gajah. Anjing, lembu, dan Burung. Citra tersebut diwujudkan dalam berbagai jenis barong, yakni Barong Ket. Barong Bangkal. Barong Landung. Barong Macan. Barong Gajah. Barong Asu. Barong Brutuk. Barong Lembu. Barong Kedingkling. Barong Kambing, dan Barong Gagombrangan. Barong Sae. Barong Jaran. Barong Manjangan, dan Barong Dawang-Dawang. Wirawan juga berpendapat bahwasanya barong dalam bingkai pemikiran tattwa, merujuk pada citra Hyang Banaspati Raja yang berwujud binatang gaib sebagai penjelmaan dari Bhatara Siwa. Sebagai binatang gaib, tentunya barong memiliki kelebihan-kelebihan yang digambarkan dalam sosok menyeramkan dan dipercaya memiliki kekuatan-kekuatan yang luar biasa . , sehingga masyarakat Bali meyakini sosoknya sebagai yang sakral . Selain aspek magis, keberadaan barong juga dilekatkan teo-estetika yang menjadi ikon sakral yang mewakili berbagai aspek, seperti aspek religius, teologi, estetika, ekologi, dan mistik. Konstruksi Barong Bulu Guak di tengah keberagaman jenis barong menunjukan suatu otentisitas mendasar dan menonjol sebagai objek budaya dengan keunikan tersendiri hingga memampukan keberadaannya layak digunakan sebagai objek material dalam penelitian ini. Barong Bulu Goak menarik perhatian karena bahan hiasannya yang terbuat dari bulu burung gagak, menjadikan Barong Bulu Goak sebagai salah satu jenis barong yang langka, serta menambah kompleksitas dalam tradisi seni dan keagamaan Bali. Dalam konteks penelitian ini, peneliti berupaya menjelajahi aspek teologis dan estetika yang melingkupi Barong Bulu Goak. Dengan memahami bagaimana barong ini dipandang dalam perspektif agama Hindu di Bali, serta bagaimana keunikan bulu gagak https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sebagai elemen estetika memengaruhi persepsi dan pengalaman estetik masyarakat Bali, penelitian ini bertujuan untuk merealisasikan teoestetika dalam konteks budaya Bali dengan menggali lebih dalam mengenai signifikansi spiritual dari Barong Bulu Goak, termasuk bagaimana elemen-elemen teologis yang terkandung di dalamnya berperan dalam praktik keagamaan sehari-hari di Bali. Selain itu, penelitian ini juga akan mengkaji dimensi estetika dari penggunaan bulu burung gagak yang tidak lazim tersebut, mengidentifikasi pengaruhnya terhadap apresiasi dan pengalaman visual masyarakat. Dengan pendekatan yang menggabungkan analisis teologis dan estetika, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman lebih luas mengenai interseksi antara seni, agama, dan budaya di Bali. Dalam observasi awal, terlihat bahwa Barong Bulu Goak tidak hanya ditemukan di Pura Dalem Kutuh Desa Gulingan, tetapi juga tersebar di beberapa lokasi tertentu seperti Kabupaten Badung. Gianyar, dan Kota Madya Denpasar. Namun, keberadaannya masih dianggap langka, menambah nilai keistimewaan dari barong ini. Penelitian ini akan melibatkan analisis mendalam terhadap peran simbolis, ritual, dan makna teologis dari Barong Bulu Goak dalam konteks kehidupan masyarakat Bali. Selain itu, peneliti juga akan menggali pemahaman tentang bagaimana penggunaan bulu gagak sebagai hiasan rambut pada Barong Ket menciptakan dimensi estetis yang khas dan berbeda. Melalui pendekatan teo-estetika, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam memahami hubungan antara dimensi teologis dan dimensi estetika dalam konteks seni dan kebudayaan Bali. Dengan demikian, peneliti berharap hasil penelitian ini tidak hanya dapat memperkaya pengetahuan akademis tentang seni tradisional Bali, tetapi juga memberikan wawasan yang mendalam tentang kompleksitas dan kekayaan budaya di Indonesia. Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami makna dan pengalaman yang terkait dengan Barong Bulu Goak. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari wawancara mendalam dengan informan kunci, yaitu para pemangku adat, seniman, dan masyarakat yang terlibat langsung dalam upacara. Teknik penentuan informan dilakukan secara purposif, dengan memilih informan yang memiliki pengetahuan mendalam dan pengalaman langsung terkait Barong Bulu Goak. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi panduan wawancara semi-terstruktur, catatan lapangan, dan dokumentasi visual. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumen terkait. Analisis data dilakukan secara tematik dengan mengidentifikasi pola dan tema yang muncul dari data yang telah dikumpulkan, kemudian dilakukan interpretasi mendalam untuk memahami makna teologis dan estetika dari Barong Bulu Goak dengan harapan dapat memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai peran dan makna Barong Bulu Goak dalam konteks budaya dan agama di tengah masyarakat Bali. Hasil dan Pembahasan Barong Bulu Goak Pada dasarnya. Barong Bulu Goak tidak berbeda secara prinsip dengan jenis Barong Ket Bali lainnya. Perbedaannya terletak pada bahan yang digunakan untuk membuat tubuh barong tersebut, yaitu bulu gagak. Alasan keberadaan barong ini dipertahankan adalah untuk menjadi penanda bahwa pada masa lalu di Pura Dalem Kutuh Desa Gulingan. Mengwi Badung populasi burung gagak sangat melimpah. Penggunaan bulu burung gagak atau Goak secara teologis sebagai simbol kesuburan yang didasari atas https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH keyakinan bahwa Barong Bulu Goak adalah manifestasi Bhatara Siwa yang disekalakan untuk menetralisir . wabah dan marabahaya . yang membahayakan pertanian dan warga, mengacu pendapat Sudiana . peristiwa sakralitas yang dilakukan oleh masyarakat pendukung barong atau disebut dengan panyungsung dan pangempon barong. Ritual barong sakral ini demikian rumit sehingga barong bagi masyarakat Bali diberikan gelar hampir setara dengan kekuasaan dewa-dewa umat hindu. Manifestasi barong secara mitologis dianggap sebagai penjelmaan dewa Siwa atau simbol Bhatara Siwa untuk menghalau Roh Jahat yang ingin menyebarkan penyakit di dunia. Bulu dari burung Goak secara tidak langsung berhubungan dengan aspek zologi yang menunjukan bahwa peranan hewan sangat penting dalam sistem religius manusia. Oleh karena itu, secara atropologis muncul kepercayaan terhadap hewan-hewan yang memiliki kekuatan gaib . dan barong sendiri menunjukan hal tersebut. Sublimasi dari citra totem, kemudian diwujudkan dalam sosok Barong Bulu Goak yang dipadukan dalam keindahan estetik. Dengan demikian, burung Goak dapat dijadikan orientasi atau axismundi, yang terhubung dengan aspek teologi, ekologi, antropologi dan estetika sebagai rasa keindahan. Barong Bulu Goak Dalam Realisasi Teo-Estetika Wicaksana . menyebutkan bahwa Teo-estetika merupakan gabungan antara konsep teologi dan estetika, yang dalam konteks ini akan difokuskan pada teologi dan estetika dalam agama Hindu. Dalam The New Oxford Illustrated Dictionary, teologi dapat diartikan sebagai ilmu agama yang mempelajari tentang Tuhan atau para dewa, terutama atribut dan hubungannya dengan manusia. Asal usul kata teologi berasal dari theos yang berarti Tuhan, dan logos yang berarti ilmu atau pengetahuan, sehingga secara harfiah berarti pengetahuan tentang Tuhan. Dalam konteks Agama Hindu, istilah yang setara dengan teologi adalah Brahmavidya, yang merupakan pengetahuan tentang Brahman, atau pengetahuan tentang Ketuhanan yang tinggi dan rohani. Dengan demikian, teoestetika dalam konteks Hindu mengacu pada penggabungan pemahaman tentang Tuhan atau Brahman dengan keindahan atau estetika dalam seni dan kebudayaan. Ini mencakup pemahaman tentang manifestasi Tuhan, penciptaan, dan segala yang berkaitan dengan-Nya. Sesuai dengan definisi tersebut, teologi dalam bahasa Sanskerta juga disebut Brahmavidya atau Brahma Tattva Jnana. Keberadaan palawatan Barong Bulu Goak juga berhubungan dengan tattwa dari beberapa aspek estetika dalam Agama Hindu. Selama ini, estetik hanya dapat dimaknai dengan segala sesuatau yang berhubungan dengan keindahan. Padahal dalam perpsektif tattwa, estetika berhubungan dengan makna keindahan rasa yang mana sumber keindahan rasa adalah dari Bhatara Siwa dengan manifestasi sebagai Sanghyang Guru Reka. Menarik menyimak catatan Robson . , tentang Kakawin Sumanasantaka, bahwasanya Bhatara Siwa dinyatakan sebagai sang karas kawi, vakni papan tulisnya para pengarang keindahan sastra. Zoetmulder . , menyatakan hal yang sama bahwasanya rasa adalah berhubungan dengan aspek lango yang merupakan sebuah kondisi yang terpesona akan keindahan sastra, dan terserap ke dalamn keindahan yang nenyebabkan rasa lango. Semua keindahan tersebut, berhubungan dengan rasa, seperti dalam teori rasa dari Bharata Muni dalam Adhikary . , bahwa keindahan dapat memunculkan bhava atau getaran Kemudian dari bhava melahirkan rasa yang tiada lain adalah berhubungan dengan emosi dan perasaan (Sukayasa, 2. Sebagaimana mengacu teori Kacarasa Taksu, bahwa pementasan seni merupakan instrumen untuk membangkitkan bhava atau emosi dan perasaan seseorang yang menurut Bhatara Muni dalam buku Natyasastra perasaan tersebut menjadi vibhava, anubhava, dan bhava seperti uraian berikut: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Actions and feelings are evoked in connection with certain surrounding objects and circumstances, called Vibhava-s. Different mental and emotional states manifest themselves and beconne visible through universal physiological reactions called Aubhava-s. Thus Bhava, the emotion felt by the character, results from a "Determinant" . , or determining circumstance, such as the time of year, the presence of loved ones, the decor or environment, and so on. The vibhava affects the character so that he feels sorrow, terror, anger, or some such emotion . (Kumar, 2. Rasa menurut Bharata Muni tersebut di atas dapat ditimbulkan dari beberapa hal, seperti Vibhava adalah perasaan vang dimunculkan sehubungan dengan objek sekitarnya, keadaan dan kondisi. Kemudian kondisi mental dan emosi seseorang terwujud melalui reaksi fisiologis yang universal dan disebut sebagai Anubhava. Berkenaan dengan hal bhava atau emosi sebagai kararter diterminan yang menentukan keadaan, waktu, kehadiran orang-orang tercinta, pementasan seni, dekorasi dan sebagainya yang disebut dengan Vibhava. Vibhava inilah yang mempengaruhi karakter sehingga seseorang dapat merasa sedih, teror, kemarahan, atau emosi seperti dan yang berhubungan dengan luapan emosi beserta dengan keindahan di dalamnya. Berdasarkan atas deskripsi tersebut, ada beberapa aspek estetik dalam palawatan Barong Bulu Goak yang berhubungan dengan tattwa dalam ajaran Agama Hindu. Semua aspek tersebut, pastinya dapat melahirkan rasa keindahan atau rasa lango. Adapun beberapa aspek estetika yang nampak jelas terlihat dalam palawatan Barong Bulu Goak, baik dalam citra maupun dalam penghayatan warga panyungsung terhadap keberadaan palawatan Barong Bulu Goak, yakni aspek Ramya Tattwa. Suwung Tattwa, dan Santa Rasa-Sakti Tattwa. Ramya Tattwa Istilah ramya beberapa kali muncul dalam catatan peneliti tentang seni dan Sebagaimana diuraian Wirawan . , bahwasanya ramya adalah berhubungan dengan pementasan seni yang di dalamnya ada unsur keramaian yang terpadu menjadi sebuah keindahan. Uraian dari Bandem . , bahwasanya ramya adalah aspek dalam seni yang memunculkan keragaman, baik keragaman bentuk, gerak, warna dan suara yang terpadu padankan, sehingga menjadi sebuah keindahan. Dalam konteks ini, palawatan Barong Bulu Goak selalu menonjolkan aspek ramy atau ramya. Aspek ini bahkan secara tidak langsung telah memunculkan rasa Vibhava. Anubhava an Bhava di mana pergumulan perasaan bermain dalam ruang sakral. Bagaiman aspek rame/ramya ini muncul dapat dilihat dari bagaimana tumpah ruahnya warga panyungsung ketika ada prosesi upacara terhadap palawatan Barong Bulu Goak. Terlebih ketika ada prosesi mengkhusus, yakni nangluk merana, napak siti dan prosesi lainnya, masyarakat hadir dengan hikmat untuk turut serta aktif dalam setiap Keramaian tersebut menunjukkan bahwa penghayatan kepada palawatan/Ida Sasuwunan merupakan peristiwa religi yang mengandung tiga aspek, yakni . Wujud atau rupa . , . Bobot atau isi . ontent, substanc. , dan . Penampilan atau penyajian . (Djelantik, 1. Ketiga hal tersebut ada dalam kegiatan bereligi warga terhadap palawatan yang membawa bhava seseorang pada puncak kepuasan di balik keramaian dalam pembauran. Wujud atau appearance tentunya dapat dilihat dari mulai ide yang medasari kepercayaan warga terhadap keberadaan palawatan Barong Bulu Goak, sehingga setiap ritus tersebut selalu memunculkan aspek ramya. Kemudian secara bobot atau substansi pemujaan atau penghayatan terhadap palawatan barong selalu menonjolkan suasana ramya, dan penampilan sosok Ida Ratu Gede (Barong Bulu Goa. secara keseluruhan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sudah tentu membawa ramya bhava atau perasaan yang gembira di balik keramaian dan hiruk pikuknya pemujaan atau persembahan. Ramya sendiri menurut Bandem . merupakan prinsip keindahan yang berkoheren dengan segala sesuatu hal yang berhubungan dengan seni. Ramya secara harfiah diartikan Ramu, riuh rendah dan hiruk Adanya keriuhan dan hiruk pikuk, maka pemujaan terhadap palawatan Barong Bulu Goak di dalamnya ada aspek lengut, pangus, hidup, metaksu, adung, dan sebagainya yang dimunculkan. Terlebih palawatan barong sendiri merupakan citra aeng, tenget dan metakstu. Keramaian tersebut tercipta tidak saja dilatar belakangi dari sebuah proksi, bahwa masyarakat Hindu sangat terpesona akan hal-hal yang bersifat magis, tenget dan keramat yang terdapat dalam setiap palawatan barong, tetapi sepenuhnya mereka tertarik dengan daya keindahan yang dimunculkan dalam pemujaan maupun dalam wujud Barong Bulu Goak sendiri. Daya keindahan tersebut teryata dimunculkan dari berbagai aspek, dan yang paling jelas terlihat secara emperik adalah aspek ramya. Keberadaan Barong Bulu Goak yang dipandang aeng oleh masyarakat pendukungnya tidak saja terlahir dari prosesi sakralisasi barong, tetapi juga sosok barong, dan prerai Barong Bulu Goak yang ramya, sehingga memunculkan bhawa yang menimbulkan rasa keindahan. Dilihat dari warna prarai Barong Bulu Goak menyajikan kombinasi warna ramya, yakni warna belang, seperti merah, hitam, dan putih. Warna dasar prarai yang pada bagian tertentu terdapat warna hitam dan buras atau cawian berwarna putih, sehingga ada ramnya warna yang menyajikan aeng. Mengacu kitab-kitab Tantra, khususnya dari mazab Saiva dan Sakta, kombinasi warna belang . erah, hitam dan puti. yang terdapat pada sosok murthi Rudra, bahkan Dewi Durga adalah mencirikan konsep Para-Sakti (Santiko, 1. Mengacu pada uraian Avalon . yang menyitir teks Tantra KamaKala-Visesa. Paduka-Panchaka dan Yogini Hredaya Tantra ketiga warna atau dhatu tersebut merupakan simbol penciptaan yang terjadi melalui beberapa tahapan. Melalui daya Para-Sakti akan terlahir tiga aspek, yakni Isa Sakti. Jnana Sakti dan Kriya Sakti yang darinya semua terlahir, dan mengada. Penggambaran tiga warna dalam kitab Tantra, dan merujuk pada tiga warna dominan dalam palawatan Barong Bulu Goak sesungguhnya relevan dengan tattwa yang ada dalam teks Tantra Kuno, bahwa konsep tiga warna tersebut menunjukan sebuah simbol kama kala atau mula trikona yang sarat dengan proses penciptaan dimana bertemunya antara kekuatan Siwa dengan Sakti. Bahkan dalam teks Ghandarwa Tantra menyatakan bahwa untuk menciptakan citra, dan dalam hal ini palawatan barong, warna hitam dibuat oleh sangging/undagi sebagai simbolisasi dari pemujaan kepada muka atau mulut Dewa Kala, dan dua warna lainnya adalah simbol yang ditujukan kepada pemujaan terhadap tubuh Dewa Kala, sehingga simbol ini dapat dijadikan pemusatan praktikpraktik pemujaan Tantrik Siddhi. Bertolak atas gagasan tersebut, dapat dipastikan bahwa dhatu atau Warna merah, hitam dan putih pada palawatan Barong Bulu Goak merupakan Yantra Tantra untuk menunjukan bahwa palawatan barong memiliki daya-daya siddhi tertentu. Selain itu. Warna ulengan mata secara tattwa mengikuti konsep pangiderin Bhuwana maka dapat dipastikan bahwa ada koherenitas atau kesesuaian yang kuat dengan uraian warna dalam kitab Tantra. Dalam uraian kitab Kulawarnawa Tantra, warna-warma tertentu dapat dijadikan sebuah mandala yang dapat mengandung kekuatan magis atau gaib yang sangat Sebagaimana uraian Avalon . , bahwasanya mandala adalah sebuah pola garis yang di dalamnya ada beberapa elemen warna yang berkaitan dengan karakteristik energi, dan ketika si pembuat mandala ini membuat pola tertentu, pola itu dapat difungsikan menjadi pelindung dan penolak segala macam kekuatan-kekuatan yang sifatnya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Suwung Tattwa Palawatan Barong Bulu Goak memunculkan aspek suwung atau sunya. Sebuah deskripsi aspek suwung dalam lingkar teori estetika seni dalam kebudayaan Bali. Suwung bukanlah dipandang sebagai kosong dalam arti harfiah yang tidak ada apa-apa. Akan tetapi, suwung dalam hal ini merupakan suatu fase jeda yang dapat memuncul kan Jeda dalam hal ini adalah fase terhenti di mana adegan dramatikal terhenti sejenak dalam sunyi kemudian dimunculkan kembali dalam ritme riuh. Bandem . menyebutkan bahwa suwung dikonotasikan dengan arti sunya atau kosong, dan kekosongan dalam hal ini adalah keadaan di mana keriuhan terhenti sejenak, dan situasi terbawa dalam keadaan yang sunyi. Menariknya, objek seni apapun tidak selalu berada dalam ruang riuh, tetapi ada suwung sehingga ada kesan tidak monoton. Dalam filsafat Advaita Vedanta, sunya merupakan landasan doktrinal kebenaran teologis yang selalu dijadikan landasan untuk berfilsafat. Dalam Advaita, segala realitas yang ada sebenarnva ini adalah tidak ada, karena semua mengada hanya sementara. Namun yang tidak ada sebagai hal yang mentafisIs inilabh sejatinya ada dan abadi (Suamba, 2. Jadi sunya atau Suwung . bukanlah seperti gelap malam yang tidak ada apa-apa, melainkan ada daya kekuatan yang tidak dapat dilihat dengan pengamatan emperik. Oleh karena itu, suwng dapat dipertautkan dengan taksu sebagaimana Dibia . menyebutkan bahwa taksu adalah suatu keadaan ketika terjadi keterlibatan bathin yang mendalam, yang terjadi di luar dari keadaan yang bisa diketahui. Dengan kata lain, taksu adalah sesuatu yang tidak dapat diindra dengan panca indra kita yang kasar, dan suwung juga demikian. Baik suwung dan taksu hanya dapat dirasakan dalam perasaan vibhava, dan atas deskripsi tersebut suwung secara sederhana diartikan sebagai keadaan tertentu yang transenden. Sunya pada aspek ini berarti penghentian sejanak pada suasana riuh. Tidak ada suara gamelan, suara riuh warga, dan yang ada hanya suara bajra dan mantra. Nampak di sana ada fase jeda atau terhenti dengan khusuk warga panyungsung melakukan persembahyangan, sehingga semua ada dalam sunya. Dalam kondis yang demikian sesungguhnya dapat dimaknai sebagai keterhubungan antara pemuja dengan yang dipuja. Hampir setiap warga panyungsung yang melakukan persembahyangan memejamkan mata, dan semua itu dilakukan sejatinya untuk bertemu dengan sunya yang ada di balik sosok palawatan Barong Bulu Goak. Makna tattwa yang terkandung dalam suwung tersebut adalah berhubungan dengan Bhatara Siwa yang sejatinya adalah sunyatma, yakni kondisi yang tidak lagi ada atribut apapun. Penghentian sejanak pada suasana riuh saat ritual dilakukan oleh anyungsung, dengan praktik persembahyangan diiringi dengan memejamkan mata, menandakan fokus dan konsentrasi yang mendalam dalam mencapai koneksi spiritual. Keyakinan ini terfokus pada figur seperti Barong Bulu Goak sebagai simbol kekuatan alam atau transenden yang memiliki hubungan khusus dengan Dewa yang dipuja di Pura bersangkutan. Dalam praktik ini, pemahaman tentang tattwa, unsur dasar dalam kepercayaan Hindu, menjadi penting dalam mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri dan alam semesta. Konsep Siwa, yang terkait dengan peleburan, pengembalian atau transformasi, dan sunyatma, keadaan kesadaran murni di luar atribut duniawi, menjadi landasan untuk eksplorasi spiritual dalam praktik Namun, interpretasi atas praktik ini sangat dipengaruhi oleh budaya lokal dan perspektif individu, menjadikan pencarian spiritual dan pemahaman diri sebagai bagian dari kehidupan spiritual bagi para panyungsung palawatan Barong Bulu Goak. Santa Rasa-Sakti Tattwa Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa keberadaan palawatan Barong Bulu Goak dapat memunculkan rasa estetis yang tinggi melalu sebuah pengalaman estetik, baik warga panyungsung dan warga lainnya. Keindahan dalam https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH konsep Hindu adalah merasakan pengalaman estetik yang sering disebut dengan Pengalaman estetik atau rasasvada ini berhubungan dengan rasa keindahan dalam diri, sehingga dapat memunculkan saktibhava (Creese, 2. Saktivada merupakan kekhasan estetik yang memiliki karakteristik sebagaimana menurut Zoetmulder . meliputi, . Sebelum membuat sesuatu, si pembuat memuja Tuhan terlebih dahulu, . manunggal dengan Tuhan adalah sarana sekaligus tujuan, . penciptaan merupakan yoga, . dalam rangka yoga pengarang adalah alat, . untuk itu pencipta karya seni melakukan pemurnian emosi agar menjadi rasa dengan laku spiritual, . pengalaman estetik terbayang dimana-mana, . dengan demikian, pencinta seni dan alam menyatu dalam keindahan, . temyata pengalaman estetik nencipta seni adalah ketenggelamannya dengan Tuhan sebagai saktibhava dan . dengan demikian karya seni adalah monumen dharma. Kata keindahan dalam diri banya akan dapat dirasakan jika seseorang mampu memahami kekhasan estetik melalui nengalaman estetik atau rasasvada. Kemudian keindahan dalam diri sebagai saktibhava akan dapat memunculkan shrdaya, yakni sebagai puncak pengalaman estetik. Sukayasa . menjelaskan bahwa puncak dari pengalaman estetik adalah ketika orang mengalami pencerapan dan lupa akan dirinya sehingga mencapai titik universal yang membawa kebahagiaan tertinggi. Kemudian saktibhava menurut Subagia . dapat dikenali dari ekspresi seseorang dalam kondisi dimana pada puncak atau klimaks pemujaan dalam bentuk trance atau kerauhan yang memperlihatkan kesaktian dari lda Sesuhunan Ratu Ayu dan Ratu Gede. Dalam konteks ini, warga sudah terbiasa melihat sumbu atau pengiring lda Ratu Gede mengalami kerauhan atau nadhi. Dalam prosesi ritus pemujaan kepada lda Seuswunan melalui palawatan Barong Bulu Goak terlihat bagaiamana kekuatan Saktibhawa ini dimunculkan. Sangat sering. Warga panyungsung mengalami pencerapan dan lupa akan keberadaan, karena seolah-olah dirinya adalah masuk ke dalam ruang magis yang sangat kuat. Tirta sebagai salah satu Pemangku menjelaskan bahwa dirinya Ketika memipin prosesi upacara pada fase tertentu terserap dan lupa diri hingga yang dirasakan dirinya bukan dirinya lagi, tetapi memasuki ruang sunya beberapa detik, sehingga berada dalam wilayah transenden. Saktibhava sebagai pengalaman keindahan juga sering dirasakan oleh warga panyungsung. Dari beberapa kejadian, ada beberapa kali warga mengalami kerauhan . setelah lda Palawatan Tedun Napak Siti. Ada beberapa warga juga tiba-tiba berteriak histeris dan lupa dirinya sesampainya sehingga terkadang melakukan tarian mistik yang bermuatan sangat magis. Kemudian. tirtha dan sajeng tetabuhan pada akhirnya mereka tersadarkan kembali. Saktibhava yang sering sekali muncul dalam prosesi upacara yang ditujukan kepada palawatan Barong Bulu Goak adalah pada prosesi klimaks atau puncak Napak Siti. Pemaknaan estetis yang dalam, ketika menyadari proses rasa kebangkitan melalui proses kontemplatif yang bersifat religious. Dari hal itu dapat dipahami bahwa membicarakan tentang rasa dalam diri adalah sama halnya dengan rasa yang berhubungan dengan pengalaman keindahan estetik, yakni perasaan nikmat dan cerah, maka dapatlah dinyatakan bahwa aspek. Saktibhava dalam prosesi upacara tersbu dapat menimbulkan pengalaman estetik. Pengalaman estetik akan memunculkan rasa keindahan yang mendalam, sehingga memberikan kehalusan jiwa. Sakti atau Saktibhava dalam konteks ini bukanlah dimaknai sebagai Sakti dalam arti keteguhan dan kawisesan, meskipun dalam prosesi ada kerauhan yang dengan wisesa yang dikonotasikan dengan kesaktian. Saktibhava hanya sebuah diksi mendeskripsikan puncak pengalaman estetik dari sebuah prosesi upacara yang tidak menutup kemungkinan juga menjadikan prosesi tersebut adalah pergumulan Berkenaan dengan itu, keberadaan palawatan Barong Bulu Goak adalah sebagai simbolisme berpusat, artinya sebuah objek dimana dibangun dan berpadunya pusat keindahan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kesimpulan Palawatan Barong Bulu Goak, dalam konteksnya, menghadirkan pengalaman estetik yang mendalam yang didominasi oleh aspek ramai atau ramya. Suwung tattwa, sebagai fase jeda dalam prosesi upacara, memberikan momen untuk refleksi dan keheningan yang kemudian diikuti oleh ritme riuh yang khas. Dalam keheningan tersebut, sunyi menjadi landasan bagi pemahaman filsafat dan teologis yang mendalam tentang diri dan alam semesta. Konsep Siwa dan sunyatma tercermin dalam pengalaman estetik yang mencapai puncaknya, di mana individu mengalami pencerapan dan melupakan dirinya sendiri, mencapai kebahagiaan tertinggi. Ekspresi dalam kondisi trance atau kerauhan, seperti yang dinyatakan dalam Napak Siti, mencerminkan Saktibhava, memberikan pengalaman estetik yang memperkaya jiwa dan memunculkan kehalusan Dengan demikian, palawatan Barong Bulu Goak bukan hanya sekadar upacara, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan filosofis yang mendalam, yang membawa ke dalam kedalaman pemahaman akan diri dan alam semesta. Konsep Siwa yang terkait dengan transformasi dan sunyatma, keadaan kesadaran murni, tercermin dalam Barong Bulu Goak. Pengalaman estetik mencapai puncaknya ketika seseorang mengalami pencerapan dan melupakan dirinya sendiri, mencapai titik universal yang membawa kebahagiaan tertinggi. Saktibhava, yang dapat dikenali melalui ekspresi seseorang dalam kondisi trance atau kerauhan, seperti Napak Siti, memberikan pengalaman estetik yang mendalam, memperhalus jiwa. Dengan demikian, bahwa dalam prosesi upacara Barong Bulu Goak, aspek ramya dan suwung tattwa menghasilkan pengalaman estetik yang mendalam, yang memperkaya jiwa dan membawa kebahagiaan tertinggi bagi penyungsung atau yang terlibat dalam prosesi ritual dalam upacara di Pura Pura Dalem Kutuh Desa Gulingan. Daftar Pustaka