CENDEKIA Volume xx Issue xx . Pages x-xx P-ISSN x-x. E-ISSN x-x https://ejournal. id/index. php/cendekia Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan Landasan-Landasan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Achmad Junaedi Sitika. Safira Nur Azizah. Sabrina Siti Az-Zahra. Salman Faris Universitas Singaperbangsa Karawang Achmad. junaedi@staff. id, safiranurazizah604@gmail. com, sabrinasiti3009@gmail. com, sf223078@gmail. Received: 21-05-2025 Revised: 31-05-2025 Accepted: 01-05-2025 Published: 02-06-2025 DOI: https://doi. org/10. 61159/cendekia. Abstract The curriculum holds a central role in the education system as a primary reference for the learning process. However, the Islamic Religious Education (PAI) curriculum continues to face several challenges, particularly regarding the relevance of its content to studentsAo real-life experiences. It often emphasizes cognitive aspects, leaving religious values inadequately internalized in studentsAo attitudes and behaviors. This study adopts a qualitative approach using literature review as its method. Data were collected by analyzing various sources such as books and scholarly articles discussing curriculum development theories and practices. The data were then examined using content analysis techniques. Findings indicate that curriculum development should be grounded in four fundamental foundations: philosophical, psychological, sociological, and technical. These components serve as guiding principles to ensure the curriculum aligns with studentsAo needs and contemporary developments. Therefore, curriculum planning must be carried out systematically and contextually, involving competent experts so that the PAI curriculum can adapt to social changes and technological advancements. Keywords: Curriculum. Curriculum Development. Islamic Religious Education Curriculum. Development Foundations. Literature Study. Abstrak Kurikulum memainkan peran yang sangat penting dalam pendidikan sebagai panduan utama dalam pelaksanaan proses Namun, dalam praktiknya, kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam hal keterkaitan antara isi materi dengan kehidupan nyata peserta didik. Kurikulum PAI sering kali lebih menekankan aspek kognitif, sehingga penguatan nilai-nilai keagamaan dalam sikap dan perilaku siswa belum optimal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Data dikumpulkan melalui penelusuran berbagai referensi berupa buku dan artikel ilmiah yang membahas teori serta implementasi pengembangan kurikulum, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam merancang kurikulum diperlukan empat landasan utama, yaitu landasan filosofis, psikologis, sosiologis, dan teknis. Keempatnya berfungsi sebagai acuan dalam menentukan arah, isi, dan tujuan kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik serta perkembangan Dengan demikian, proses pengembangan kurikulum harus dirancang secara sistematis dan relevan dengan konteks yang ada, serta melibatkan pihak-pihak yang memiliki kompetensi di bidangnya agar kurikulum PAI yang dihasilkan mampu beradaptasi terhadap dinamika sosial dan kemajuan teknologi. Kata Kunci: Kurikulum. Pengembangan Kurikulum. Kurikulum PAI. Landasan Pengembangan. Studi Literatur. Pendahuluan Pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran sentral dalam menyesuaikan proses pembelajaran agama dengan perubahan zaman yang semakin dinamis dan Kurikulum PAI berfungsi tidak hanya sebagai media penyampaian ilmu agama, tetapi juga sebagai wahana untuk membentuk karakter dan moral siswa agar dapat hidup bertanggung jawab dan selaras dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, penyusunan kurikulum PAI harus berlandaskan pada pondasi yang kuat, mencakup aspek sosial budaya, kebutuhan masyarakat, dan Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan 44 perkembangan sosial, sehingga materi pembelajaran yang diberikan tetap relevan dan bermanfaat secara Tanpa landasan yang kokoh, pencapaian tujuan pendidikan tidak akan maksimal. Selain itu, kurikulum harus mampu beradaptasi secara berkelanjutan dengan perkembangan zaman. Jika tuntutan zaman mengubah arah tujuan pendidikan, maka landasan kurikulum juga harus diperbarui agar tetap relevan (Aziz & Zakir, 2. Penelitian terdahulu menegaskan bahwa pengembangan kurikulum PAI perlu mengintegrasikan prinsip-prinsip ajaran Islam dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memperhatikan pembentukan sikap karakter dan kemampuan sosial siswa agar mereka siap menghadapi tantangan Inovasi dalam kurikulum PAI menjadi hal yang sangat penting sebagai respons terhadap perubahan sosial dan kemajuan teknologi yang sangat cepat. Namun, sebagian besar kurikulum yang ada saat ini lebih menitikberatkan pada pengajaran teori dan hafalan, sehingga kurang mampu mempersiapkan siswa secara menyeluruh dalam menghadapi kompleksitas kehidupan modern (Marvianasari et al. , 2. Keunikan dari penelitian ini terletak pada penekanan integrasi antara dasar sosial budaya, kebutuhan masyarakat, dan perkembangan sosial sebagai landasan utama dalam penyusunan kurikulum PAI yang bersifat adaptif dan kontekstual, penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis bagaimana ketiga aspek tersebut dapat dijadikan dasar dalam merancang kurikulum pai yang tidak hanya menyampaikan ajaran Islam secara teoritis, tetapi juga membekali siswa dengan nilai-nilai serta keterampilan yang relevan untuk kehidupan dalam masyarakat. dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan serta menganalisis dasar sosial budaya, kebutuhan masyarakat, dan perkembangan sosial sebagai fondasi dalam mengembangkan kurikulum PAI yang menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan kebutuhan siswa. penelitian ini sangat penting untuk memberikan sumbangsih ilmiah dalam penyusunan kurikulum PAI yang lebih optimal dan cocok dengan kondisi sosial budaya terkini. Kurikulum yang diatur berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, terdiri dari berbagai rencana, ketentuan perihal isi, materi pelajaran, dan metode yang diperlukan guna mendukung proses belajar mengajar. Rencana ini menjadi faktor penting dalam mencapai tujuan pembelajaran. Kurikulum juga menetapkan kriteria penilaian bagi guru dan siswa serta, metode penilaian guna mengukur keberhasilan proses pembelajaran. dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur berkat keberadaan Penelitian lanjutan sangat diperlukan untuk menentukan kurikulum yang sesuai bagi setiap lembaga pendidikan, sehingga pengembangan kurikulum menjadi suatu hal yang sangat penting. Seiring berjalannya waktu, kebutuhan akan pengetahuan manusia mengalami perubahan, termasuk kemajuan teknologi yang memberikan dampak besar terhadap pengembangan kurikulum. Oleh karena itu, prinsip atau dasar yang tepat sangat dibutuhkan dalam proses pengembangan kurikulum. Prinsip-prinsip tersebut berperan sebagai pedoman dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum, baik untuk pendidikan umum maupun pendidikan agama Islam. Pendidikan Islam memiliki tujuan mulia yaitu Rohmatan lil AAolamin, yang mencakup berbagai aspek kehidupan berkaitan dengan peran manusia sebagai khalifah dalam menciptakan dunia yang makmur, harmonis, dan berkelanjutan sesuai dengan ajaran Al-Qur'an. (Marvianasari et al. , 2. Metode Pendekatan yang diterapkan dalam penulisan artikel ini adalah analisis literatur. Penelitian ini menunjukkan bahwa esensi dasar dalam pengembangan kurikulum merupakan aspek-aspek yang perlu diperhatikan saat menyusun kurikulum. Dasar kurikulum terdiri dari dasar pengaruh sosial budaya dan Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan 45 kemajuan ilmu pengetahuan terhadap pengembangan kurikulum Dasar Kebutuhan Masyarakat, serta Dasar Perkembangan Masyarakat. Penerapan prinsip-prinsip utama ini dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum akan menghasilkan kurikulum yang tepat guna dan efisien, sehingga mempermudah tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Data dikumpulkan melalui dokumentasi, yaitu mencari informasi dari berbagai jenis berita, jurnal, buku, dan sumber lainnya. Selanjutnya, penulis menganalisis beberapa artikel, makalah, buku, dan bahan referensi yang terkait dengan tulisan ini. (Putri et al. , 2. Hasil dan Pembahasan Dalam bidang pendidikan, istilah kurikulum dipahami dengan makna yang bervariasi sesuai dengan pandangan para pakar. Ronald C. Doll mengemukakan bahwa AuKurikulum sekolah adalah isi dari proses, baik yang resmi maupun yang tidak resmi, yang ditujukan kepada siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan pemahaman, mengasah keterampilan, serta mengubah karakter dan nilai dengan pengarahan dari sekolah. Ay Sementara itu. Maurice Dulton menyatakan bahwa Aukurikulum dipahami sebagai rangkaian pengalaman yang didapatkan siswa dengan bimbingan sekolah. Ay Dalam mengembangkan kurikulum PAI, dibutuhkan landasan atau asas yang kokoh. Jika proses pengembangannya dilakukan secara sembarangan dan tanpa dasar yang kuat, maka kualitas hasil pendidikan yang diperoleh tidak dapat dijamin. Landasan dalam pengembangan kurikulum PAI pada dasarnya merupakan faktor-faktor yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan oleh para pengembang kurikulum saat akan menyusun atau merancang kurikulum untuk lembaga pendidikan. Asas-asas utama dalam pengembangan kurikulum PAI adalah, (Marjuni, 2. Landasan Sosial Budaya dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dalam Pengembangan Kurikulum Landasan sosial budaya dalam pengajaran endidikan Agama Islam (PAI) memegang peranan yang sangat penting karena pendidikan ini tidak hanya memberikan pengetahuan agama, tetapi juga membentuk karakter, moral, dan etika peserta didik. PAI berfungsi sebagai pedoman hidup yang membantu siswa menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan nilainilai Islami yang kokoh tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial dan budaya di mana para peserta didik berada. Penyusunan kurikulum PAI perlu mempertimbangkan nilai-nilai, norma, tradisi, dan karakteristik sosial budaya yang ada agar proses pembelajaran bisa relevan dan Dengan cara ini. Pendidikan agama Islam tidak semata-mata menitikberatkan pada aspek yang bersifat teoritis tetapi juga membentuk karakter peserta didik sehingga mereka dapat beradaptasi dan memberikan kontribusi yang positif dalam masyarakat. Selain itu, landasan sosial budaya menuntut agar kurikulum mampu menjawab pergeseran sosial dan perubahan budaya yang terjadi, sehingga peserta didik dapat menghadapi perkembangan zaman dengan tetap mempertahankan identitas serta nilai-nilai luhur budaya serta agama yang dianut. Kurikulum dapat dipandang sebagai sebuah rancangan pendidikan. Sebagai rancangan tersebut, kurikulum menetapkan, bagaimana pendidikan dilaksanakan dan apa yang dihasilkan. Pendidikan adalah usaha untuk mempersiapkan siswa agar bisa beradaptasi dengan lingkungan Pendidikan tidak sekadar untuk mendapatkan ilmu, tetapi juga memberikan wawasan, keahlian, serta nilai-nilai yang diperlukan guna menjalani kehidupan, bekerja, dan berkembang lebih lanjut dalam masyarakat. Para siswa bersumber dari masyarakat serta memperoleh pendidikan, baik formal maupun nonformal, dalam konteks sosial, yang juga diarahkan untuk keperluan masyarakat. Kehidupan sosial, dengan segala sifat dan kekayaan budaya, menjadi dasar sekaligus panduan bagi sistem pendidikan. Melalui pendidikan, diharapkan kita dapat memahami dan berkontribusi dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Oleh 46 Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan karena itu, tujuan, materi pelajaran, dan proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan, dan perkembangan yang ada dalam masyarakat. Setiap komunitas memiliki sistem sosial budaya yang unik, yang menentukan cara hidup dan interaksi antar anggotanya. Ada dua aspek sosial budaya yang menjadi dasar dalam pengembangan kurikulum: pertama, setiap individu dalam masyarakat berhadapan dengan tantangan dari anggota masyarakat yang belum dewasa dalam aspek budaya. Yang dimaksud adalah Manusia belum mampu beradaptasi dengan cara kelompok mereka. Selain itu, kurikulum di setiap komunitas mencerminkan cara berpikir, perasaan, harapan, atau kebiasaan masyarakat. Oleh sebab itu, demi mengembangkan struktur dan fungsi kurikulum penting untuk memahami budaya. Dengan demikian, para perancang kurikulum perlu: Mengkaji dan menangkap kebutuhan komunitas. Memahami budaya masyarakat secara mendalam di sekitar lokasi sekolah. Meneliti kekuatan dan Kekuatan wilayah. Menilai syarat dan kebutuhan pasar kerja. Menginterpretasikan kebutuhan setiap individu dengan mengutamakan kepentingan Masyarakat Dari keterangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan memfasilitasi manusia dalam mengenal peradaban masa lalu. , berperan dalam peradaban saat ini, dan membentuk peradaban di masa depan. Penerapan teori, prinsip, hukum, dan konsep dari berbagai ilmu apa yang tercantum dalam kurikulum wajib diselaraskan dengan kondisi sosial dan budaya di lingkungan sekitar, sehingga hasil belajar yang diterima siswa lebih berarti dalam kehidupan Pengembangan kurikulum seharusnya memperhatikan kebutuhan dam kemajuan Di sinilah aspirasi masyarakat dijadikan salah satu pijakan dalam pengembangan Pendidikan memiliki tujuh fungsi sosial, antara lain: Mengajarkan keterampilan. Mewariskan budaya. Mengupayakan penyesuaian dengan lingkungan. Mengembangkan disiplin. Mendorong kerjasama. Mengembangkan sikap etis, dan Mengidentifikasi bakat serta memberikan penghargaan atas prestasi. Faktor budaya memainkan peranan krusial dalam pengembangan kurikulum antara lain: Setiap individu dilahirkan tanpa budaya baik terkait kebiasaan, impian, sikap, pengetahuan, maupun keterampilan, dan lainnya. Segala hal tersebut diperoleh oleh individu melalui keterlibatan dengan lingkungan, budaya, keluarga, masyarakat, dan atau lembaga pendidikan. Oleh karena itu, sekolah atau institusi pendidikan memiliki kewajiban khusus untuk menyediakan pengalaman bagi para siswa melalui sarana yang disebut kurikulum. Secara mendasar, kurikulum mengakomodasi berbagai aspek sosial dan budaya. Aspek sosiologis berhubungan dengan kondisi sosial komunitas yang sangat beragam, seperti masyarakat industri, pertanian, perikanan, dan lain-lain. Pendidikan seharusnya bertujuan untuk membekali masyarakat agar bisa hidup terintegrasi dan beradaptasi dengan sesama anggota, serta meningkatkan taraf hidup mereka sebagai makhluk Ini menunjukkan bahwa kurikulum dipakai sebagai instrumen untuk mewujudkan tujuan pendidikan mengandung unsur kebudayaan yang bersifat umum seperti nilai, sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Mengingat betapa pengembangan Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan 47 kurikulum sangat penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sehingga sangatlah penting bagi seorang akademisi untuk memahami metode pengembangan Kurikulum, baik sebagai gagasan, rencana, pengalaman, maupun hasil dari proses pengembangannya, harus didasarkan pada landasan yang solid agar dapat menjalankan fungsi dan peran sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang hendak dicapai dicapai, seperti yang tertulis dalam sasaran pendidikan nasional sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. (Rosni, 2. Landasan Kebutuhan Masyarakat Pengembangan kurikulum juga perlu menitikberatkan pada pertumbuhan pribadi yang terkait dengan hubungan individu dengan komunitas sosial lokal. Lingkungan sosio-kultural adalah sumber daya yang terdiri dari budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Dengan demikian, sangat penting untuk memperhatikan kebutuhan masyarakat. Ada sebuah filosofi yang menekankan bahwa transformasi dalam aspek perubahan dalam bidang sosial, budaya, agama, pengetahuan, dan teknologi akan ikut mengubah kebutuhan komunitas, sehingga kemajuan dan perubahan tersebut akan berdampak pada kehidupan masyarakat. mengubah cara hidup masyarakat yang juga memengaruhi sistem pendidikan serta perancangan dan pengembangan kurikulum. Oleh karena itu, kebutuhan suatu komunitas dipengaruhi oleh kondisi mereka sendiri. Pendidikan sebagai agen perubahan dan siswa sebagai agen sosial di era yang akan datang, memegang peranan penting. Pendidikan sangat esensial dalam proses pembentukan nilai, sosialisasi, serta rekayasa sosial. Meskipun seringkali sulit untuk menentukan jenis-jenis kebudayaan yang seharusnya dipertahankan, arah sosialisasi yang hendak dicapai, dan jenis masyarakat yang ingin dibangun sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Namun secara umum, kontribusi yang diberikan oleh pendidikan dapat dipahami dengan jelas. Kesulitan yang disebutkan sebelumnya lebih disebabkan oleh kompleksitas dalam memahami kebutuhan masyarakat, yang terus berubah dan berkembang, sehingga tuntutannya juga bersifat dinamis dan terus beradaptasi. (Khalim, 2. Dasar Pengembangan Masyarakat Pendidikan harus siap menghadapi tuntutan kehidupan, sehingga dapat mempersiapkan siswa untuk menjalani hidup secara wajar sesuai dengan konteks sosial dan budaya yang ada. Dalam hal ini, kurikulum sebagai program pembelajaran harus bisa menjawab berbagai tantangan dan kebutuhan masyrakat. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, tidak cukup hanya dengan memenuhi aspek materi kurikulumnya. Oleh sebab itu, guru, pembina, dan pelaksana kurikulum perlu lebih sensitif dalam menghadapi perkembangan masyarakat, agar materi yang diajarkan kepada siswa tetap relevan dan berguna bagi kehidupan mereka di lingkungan sosial. Salah satu ciri masyarakat adalah selalu mengalami Perubahan dalam masyarakat akan berpengaruh pada sekolah, yang perlu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut melalui pengembangan kurikulum. Pada beberapa masyarakat, perubahan terjadi dengan lambat, sementara pada masyarakat lainnya, perubahan bisa sangat cepat. Oleh karena itu, penyesuaian sekolah terhadap perkembangan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan bentuk dan variasinya, tetapi juga dengan tingkat perubahan yang terjadi. Selain itu. Kemajuan masyarakat dipengaruhi oleh filosofi hidup, nilainilai, pengetahuan dan teknologi, serta kebutuhan masyarakat itu sendiri. Karena hal tersebut, kemajuan masyarakat, memerlukan penyediaan proses pendidikan yang sesuai dengan konteks Untuk merancang dan menciptakan proses pembelajaran yang mengikuti perkembangan masyarakat, perlu adanya kurikulum yang dikembangkan berdasarkan perkembangan masyarakat itu sendiri. Kurikulum yang efektif adalah yang dapat berfungsi sebagai pedoman bagi penyelenggara pendidikan dalam meraih tujuan pendidikan yang Untuk mencapai sasaran pendidikan tersebut, diperlukan suatu fondasi sebagai pendukung pendidikan itu sendiri. Dalam pengembangan kurikulum PAI yang didasarkan pada 48 Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan neurosains spiritual, terdapat lima landasan yang menjadi penopang utamanya. (Heni Listiana. Achmad Yusuf. Supandi, 2. Landasan kebutuhan masyarakat dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah faktor sosiologis yang sangat krusial dalam pengembangan kurikulumnya. Landasan ini menekankan bahwa penyusunan dan pengembangan kurikulum perlu mempertimbangkan keadaan sosial dan budaya, nilai-nilai, serta tuntutan dari masyarakat di mana pendidikan Proses pendidikan sebagai bentuk sosialisasi dan enkulturasi harus mampu mempersiapkan siswa agar dapat menyesuaikan diri dengan lancar serta memberikan kontribusi yang bermanfaat dalam kehidupan masyarakat. Beberapa hal penting terkait landasan kebutuhan masyarakat dalam pengajaran PAI meliputi: Keselarasan dengan Kondisi Sosial Budaya Kurikulum perlu disesuaikan dengan konteks sosial budaya para siswa agar isi pelajaran relevan dengan kenyataan hidup mereka. Dengan demikian, pendidikan agama Islam dapat berfungsi sebagai alat yang efektif untuk membentuk karakter dan kepribadian yang sejalan dengan nilai-nilai masyarakat di sekitarnya. Pengembangan Individu yang Adaptif Pendidikan seharusnya mendukung siswa untuk menjadi individu yang fleksibel terhadap perubahan dalam aspek sosial dan budaya, serta mampu menyesuaikan diri dengan dinamika kehidupan masa kini. Oleh karena itu, kurikulum perlu menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berubah agar pendidikan tetap relevan dan Keterkaitan dengan Perkembangan IPTEK dan Nilai Sosial Perubahan dalam aspek ilmu pengetahuan dan teknologi, dan nilai-nilai sosial sangat mempengaruhi kebutuhan masyarakat. Kurikulum PAI perlu dapat menggabungkan elemen-elemen ini agar siswa tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga siap menghadapi tantangan zaman yang semakin rumit. Peranan Pendidikan dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Komunitas Kurikulum yang diorientasikan pada kebutuhan komunitas bertujuan untuk melahirkan individu yang tidak sekadar memiliki pengetahuan dan moral yang baik, melainkan juga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan melalui kontribusi nyata di berbagai aspek kehidupan sosial. Dukungan Lingkungan Komunitas Pelaksanaan pendidikan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan komunitas, termasuk ketersediaan fasilitas, sistem budaya, politik, dan rasa aman. Oleh karena itu, kurikulum perlu mempertimbangkan hal-hal tersebut agar proses pendidikan bisa berjalan dengan efektif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, saat merancang kemajuan kurikulum pendidikan, hal itu tidak bisa terpisah dari dasar-dasar penyusunan perkembangan kurikulum yang telah dijelaskan Landasan Perkembangan Masyarakat Pendidikan di masa lampau berbeda dengan pendidikan sekarang, baik dalam konteks umum maupun pendidikan agama Islam. Karena itu, pendidikan agama Islam harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dengan landasan yang kokoh untuk Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan 49 pengembangan kurikulum. utri et al. , 2. Landasan kemajuan masyarakat dalam pendidikan PAI memerlukan pengembangan kurikulum yang peka terhadap perubahan sosial, budaya, dan kemajuan teknologi. Kurikulum yang didasarkan pada aspek ini akan melahirkan generasi yang tidak hanya menguasai ajaran Islam dengan baik, tetapi juga dapat berkontribusi secara aktif dan beradaptasi dalam masyarakat yang terus berubah. Pendidikan sebagai suatu proses budaya merupakan usaha untuk membina dan mengembangkan kemampuan cipta, karsa, dan rasa manusia menuju peradaban yang lebih luas dan tinggi, yakni manusia yang berbudaya. Dengan semakin pesatnya perkembangan sosial budaya manusia, tuntutan hidup manusia juga semakin meningkat. Oleh karena itu, lembaga pendidikan harus siap menghadapi berbagai tantangan yang muncul akibat perkembangan kebudayaan tersebut. Sebagai langkah antisipasi, lembaga pendidikan perlu mempersiapkan peserta didik agar dapat hidup secara wajar sesuai dengan perkembangan sosial budaya di Untuk mewujudkan hal ini, dibutuhkan inovasi-inovasi dalam dunia pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan kurikulum. Kurikulum pendidikan perlu disesuaikan dengan situasi masyarakat saat ini, bahkan harus dirancang untuk mengantisipasi kondisi-kondisi yang mungkin akan terjadi di masa Selain itu, tugas seorang guru adalah membina dan melaksanakan kurikulum tersebut agar materi yang disampaikan kepada peserta didik bermanfaat dan relevan dengan kehidupan ruang lingkup pendidikan tentu tidak lepas dari ruang kebudayaan masyarakat, keduanya saling berkaitan dalam rangka menjadi masyarakat terdidik dan terhubung. menjadi sebuah keharusan bagi pendidikan untuk menginternalisasikan dalam diri peserta didik dengan norma, adat istiadat, serta kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. landasan ini harus menjadi salah satu pertimbangan dalam mengembangkan kurikulum. perubahan masyarakat mengharuskan kurikulum juga senantiasa ditinjau kembali. Kurikulum harus didasarkan pada aspek sosial dan budaya karena pengajaran akan mencapai hasil yang diinginkan jika berlandaskan pada interaksi antara siswa dengan lingkungan sekitarnya. Penerapan materi yang dipelajari oleh anak sebaiknya mencakup hal-hal yang ada dalam masyarakat, karena hal tersebut bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari mereka. Menurut Nasution, kurikulum seharusnya bersifat hidup dan dinamis, mengikuti serta ikut menentukan perkembangan masyarakat di lingkungan sekolah. Scheffer mengatakan pendidikan menjadi sarana bagi manusia untuk mendapatkan peradaban masa lalu, berperan dalam peradaban masa kini, dan menghasilkan peradaban masa yang akan datang. dalam landasan ini secara substansi Kajian tersebut dapat dilakukan dari dua perspektif, yaitu hubungan antara kebudayaan dan kurikulum serta antara unsur masyarakat dan kurikulum, dalam konteks peradaban masa kini dan penciptaan peradaban di masa depan. Unsur budaya dan kurikulum Kebudayaan merupakan unsur penting dalam pengembangan kurikulum dengan beberapa alasan. Pertama, seorang individu sejak lahir dapat terbiasa berinteraksi dengan lingkungan budaya, keluarga, masyarakat sekitar, serta lembaga pendidikan. dalam memahami kurikulum perlu melibatkan kebudayaan di dalamnya. dalam arti memahami pola perilaku yang umumnya ada dalam suatu masyarakat, yang mencakup seluruh ide, cita-cita, pengetahuan, kepercayaan, cara berpikir, kesenian, dan Ketiga, kebudayaan adalah hasil karya, perasaan, dan kehendak manusia yang terealisasi dalam alam pikiran manusia, tempat kebudayaan itu berada, kegiatan dan hasil karya yang menjadi wujud kebudayaan. Mayarakat dan kurikulum Menurut Daud Yusuf, terdapat tiga sumber nilai dalam masyarakat yang dapat dikembangkan melalui pendidikan, yaitu logika, estetika, dan etika. Ilmu pengetahuan dan kebudayaan merupakan nilai-nilai yang berasal dari logika . Sebagai 50 Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang pada dasarnya merupakan hasil kebudayaan manusia, kehidupan manusia menjadi semakin luas dan berkembang, sehingga tuntutan hidup juga semakin tinggi. dalam menjawab tantangan dan tuntutan pun, perlu dicermati pula selain pemenuhan dari segi isi kurikulumnya saja, selain itu, pendekatan dan strategi pelaksanaan juga perlu diperhatikan. Teori, prinsip, dan hukum yang terkandung dalam semua ilmu pengetahuan di dalam kurikulum harus diterapkan dengan menyesuaikan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat, agar hasil belajar yang diperoleh peserta didik menjadi lebih relevan dan bermakna dalam kehidupan maka dari itu, para guru, pembina dan pelaksana kurikulum diharapkan lebih sensitif dalam menghadapi perkembangan masyarakat, agar materi yang disampaikan kepada peserta didik tetap relevan dan bermanfaat bagi kehidupan mereka. saat hidup dengan masyarakat. Pendidikan agama Islam memiliki visi dan misi yang ideal, yaitu rahmatan lil alamin. Konsep dasar pendidikan Islam lebih mendalam karena mencakup persoalan hidup yang multidimensional, yakni pendidikan yang tidak terpisah dari tugas manusia sebagai khalifah atau kader khalifah, dalam rangka membangun kehidupan dunia yang sejahtera, dinamis, harmonis, dan berkelanjutan, sesuai dengan ketentuan Allah dalam Al-QurAoan. Akankah Rumah Jika tidak berpondasi dapat berdiri tegak??? Jika sebuah rumah runtuh karena tidak memiliki fondasi yang kokoh, kerugian yang timbul akan relatif kecil dan hanya setara dengan nilai bangunan tersebut. Jika keadaan finansial memungkinkan, rumah tersebut dapat dengan cepat dibangun kembali. Namun, jika yang runtuh adalah kurikulum yang berfungsi untuk mempersiapkan individu, kerugiannya akan sangat serius dan tidak dapat diukur dalam hal materi karena menyangkut usaha untuk memanusiakan manusia. Oleh karena itu, dalam proses pengembangan kurikulum, perlu dilakukan identifikasi dan kajian yang selektif, tepat, mendalam, dan menyeluruh terhadap dasar-dasar yang perlu dijadikan acuan dalam mendesain, mengembangkan, serta menerapkan kurikulum tersebut. Dengan fondasi yang kuat, kurikulum yang dihasilkan akan memiliki daya tahan yang baik, sehingga program pendidikan yang dikembangkan mampu menghasilkan individu yang berpendidikan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, baik untuk kehidupan saat ini maupun, untuk menghadapi tantangan di masa depan. (Ulum, n. Kesimpulan Dasar-dasar pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) meliputi berbagai elemen seperti pengetahuan, informasi, data, aktivitas, serta pengalaman yang menjadi inti dari kurikulum, bersama dengan metode pengajaran dan teknik evaluasi yang diterapkan. Kurikulum memegang posisi sentral dalam dunia pendidikan karena menjadi landasan utama proses hubungan antara guru dan siswa sangat dipengaruhi oleh isi dan struktur kurikulum Tanpa kurikulum yang jelas dan terstruktur, proses pembelajaran akan kehilangan arah dan tujuan yang pasti. Pengembangan kurikulum mencakup dua aspek penting yang saling berhubungan, yaitu sebagai dokumen tertulis yang menjadi pedoman dan acuan dalam pelaksanaan, serta sebagai sistem pembelajaran yang berjalan nyata dalam praktik. Dalam menyusun kurikulum, sangat diperlukan untuk mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi yang terus berubah. Penyesuaian dengan konteks sosial budaya lokal juga menjadi faktor penting agar materi pembelajaran tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga relevan dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan 51 Landasan dalam pengembangan kurikulum merupakan fondasi utama yang sangat krusial untuk mencapai tujuan pendidikan secara menyeluruh, khususnya dalam membantu siswa mencapai keberhasilan akademik sekaligus membentuk karakter dan moral yang baik. Dalam kurikulum PAI, terdapat beberapa dasar utama yang wajib dijadikan pegangan, yakni landasan teologis yang bersumber dari ajaran Islam, landasan filosofis yang memberikan pandangan mendalam tentang hakikat pendidikan, landasan psikologis yang memperhatikan perkembangan dan kebutuhan mental peserta didik, landasan sosiologis yang menelaah hubungan pendidikan dengan masyarakat, serta pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang. Kombinasi dari berbagai landasan tersebut secara seimbang akan menghasilkan kurikulum PAI yang tidak hanya menyampaikan ajaran agama secara konseptual, tetapi juga membekali peserta didik dengan nilai-nilai spiritual, karakter positif, dan keterampilan sosial yang diperlukan untuk hidup harmonis dan produktif di dalam masyarakat. Kurikulum yang disusun dengan memperhatikan seluruh aspek tersebut akan menjadi lebih relevan, adaptif terhadap perubahan zaman, serta dapat memenuhi kebutuhan peserta didik dan masyarakat secara luas. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum PAI perlu dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak terkait seperti pendidik, ahli kurikulum, tokoh masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya. Hal ini penting agar kurikulum yang dihasilkan mampu memberikan dampak positif yang signifikan dalam pembentukan karakter siswa sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif. Pengembangan kurikulum yang dilakukan secara terus menerus juga berfungsi untuk memastikan agar kurikulum PAI selalu selaras dengan perubahan sosial, kemajuan teknologi, dan dinamika global yang berlangsung dengan cepat. Dengan demikian, kurikulum yang ideal bukan hanya berfungsi sebagai media penyampaian ilmu, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter dan persiapan siswa dalam menghadapi berbagai tantangan dunia yang terus berkembang. References