Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Pengaruh Penambahan Vitamin C Dan Vitamin A Dalam Pakan Terhadap Pert. Amaro Kampus Soars et al. Volume Perikanan 20. Nomordan 1. Juni 2025: 30-40 Jurnal Ilmu-ilmu Budidaya Perairan. Vol. Juni :30-40 https://jurnal. univpgri-palembang. id/index. php/ikan PENGARUH PENAMBAHAN VITAMIN C DAN VITAMIN A DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN KEPITING BAKAU (Scylla serrat. The Effect of Vitamin C and Vitamin A Supplementation in Feed on the Growth of Mud Crabs (Scylla serrat. Amaro Kampus Soars 1. Syaeful Anwar 1*. Debora Victoria Liubana1 Program Studi Budi Daya Ikan. Fakultas Vokasi Logistik Militer. Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) *Corresponding author: syaeful. anwar81@gmail. ABSTRAK Kepiting bakau merupakan komoditas perikanan bernilai tinggi, baik untuk pasar domestik maupun ekspor, dengan permintaan yang terus meningkat setiap tahunnya (KKP Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan vitamin C dan A dalam pakan terhadap pertumbuhan berat mutlak dan berat spesifik kepiting bakau (Scylla serrat. Penelitian dilakukan selama 30 hari, pada bulan April Ae Mei 2025 di CV. Elitism. Kupang. Nusa Tenggara Timur. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), 3 perlakuan dan 3 pengulangan. Perlakuan A penambahan pakan ikan rucah vitamin C, perlakuan B penambahan pakan ikan rucah vitamin A, dan perlakuan C tidak ada penambahan vitamin . Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata pertumbuhan berat mutlak pada masing-masing perlakuan adalah perlakuan A . , perlakuan B . , dan perlakuan C . dengan demikian penambahan ikan rucah dengan vitamin C merupakan nilai tertinggi pada perlakuan A. Nilai pertumbuhan berat spesifik (SGR) pada masing-masing perlakuan adalah, perlakuan A . 805 %), perlakuan B . 809 %), dan perlakuan C . 433 %), dengan nilai tertinggi didapatkan pada penambahan vitamin A pada perlakuan B. Hasil uji statistik dengan menggunakan One Way Anova menunjukkan bahwa nilai Ftabel > Fhitung . 25 > 3. pada taraf 5% . Dengan demikian maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan atau tidak ada pengaruh nyata dari perbedaan perlakuan penambahan pakan ikan rucah dengan vitamin A dan vitamin C terhadap pertambahan berat kepiting bakau (Scylla Hasil uji statistik menunjukan bahwa hipotesis terima H0 dan tolak H1. Kata kunci: Scylla serrata, vitamin C, vitamin A, pakan, pertumbuhan ABSTRACT Mud Crab (Scylla serrat. is a high-value fishery commodity, both for the domestic and export markets, with increasing demand each year (KKP 2. This study aimed to determine the effect of adding vitamins C and A to feed on the absolute weight gain and specific growth rate of mud crab (Scylla serrat. The research was conducted over a period of 30 days, from April to May 2025, at CV. Elitism. Kupang. East Nusa Tenggara. The method used was an experimental approach with a Completely Randomized Design (CRD), consisting of 3 treatments and 3 replications. Treatment A involved trash fish feed supplemented with vitamin C, treatment B involved trash fish feed supplemented with vitamin A, and treatment C served as the control group with no vitamin supplementation. The results showed that the average e-ISSN 2620-4622 p-ISSN 1693-6442 Pengaruh Penambahan Vitamin C Dan Vitamin A Dalam Pakan Terhadap Pert. Amaro Kampus Soars et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :30-40 absolute weight gain in each treatment was as follows: treatment A . , treatment B . , and treatment C . , indicating that the addition of vitamin C in treatment A resulted in the highest weight gain. The specific growth rate (SGR) values for each treatment were: treatment A . 805%), treatment B . 809%), and treatment C . 433%), with the highest SGR observed in treatment B with the addition of vitamin A. Statistical analysis using One-Way ANOVA showed that the F-table > the F-calculated value . 25 > 3. at the 5% significance level . Therefore, there was no significant difference or no significant effect of the different treatments . rash fish feed with vitamin A and vitamin C) on the weight gain of mud crab (Scylla serrat. The statistical test results indicated acceptance of the null hypothesis (H . and rejection of the alternative hypothesis (H. Keywords: Scylla serrata, vitamin C, vitamin A, feed, growth PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia memiliki potensi sumber daya perikanan yang sangat melimpah. Indonesia juga dikaruniai kekayaan perairan yang besar, dengan luas zona ekonomi eksklusif 0,27 juta kmA, landas kontinen 2,8 juta kmA, dan panjang garis pantai hingga 108. 000 km, menjadikannya sebagai salah satu ekosistem pesisir terkaya di dunia (KKP, 2. Potensi sumber daya perikanan yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan diperkirakan mencapai 12,54 juta ton per tahun, dengan kontribusi signifikan dari komoditas bernilai tinggi seperti kepiting bakau (Scylla serrat. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP 2. Komoditas ini telah menjadi salah satu andalan nilai ekspor produk Indonesia pertumbuhan positif sebesar 21,63% pada tahun 2022 jika dibandingkan dengan tahun Pada tahun 2021, nilai ekspor produk perikanan Indonesia mencapai 258 juta USD, yang kemudian meningkat 530 juta USD pada tahun 2022 (Nabillah et al. , 2. Kepiting bakau (Scylla serrat. merupakan salah satu komponen ekosistem mangrove yang memiliki nilai ekologis dan ekonomis penting. Secara ekologis, kepiting bakau memegang peranan sebagai detritivor yang membantu mengurai bahan organik dan menjaga keseimbangan rantai (Siringoringo et al. , 2. Secara ekonomis, kepiting bakau merupakan komoditas perikanan bernilai tinggi, baik untuk pasar domestik maupun ekspor, dengan permintaan yang terus meningkat setiap tahunnya (KKP. , 2. Populasi kepiting bakau di alam semakin terancam akibat beberapa faktor. Hal itu karena tekanan eksploitasi berlebihan untuk memenuhi permintaan pasar. Potensi sumber daya ikan yang terdapat di WPPNRI 573 berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2022 . 442 to. Berdasarkam estimasi potensi sumber daya ikan pada komunitas kepiting merupakan komoditas dengan estimasi sumberdaya ikan terendah di WPPNRI 573 dengan nilai 585 ton/ tahun (Azizah et al. , 2. Degradasi habitat mangrove akibat alih fungsi lahan untuk tambak, pemukiman, dan industri juga merupakan faktor dari berkurangnya populasi kepiting bakau. Laju deforestasi mangrove Indonesia mencapai 52. hektar per tahun (KLHK, 2. , yang secara langsung mengurangi area hidup dan berkembang biak kepiting bakau. Ketiga, perubahan kondisi lingkungan seperti perubahan salinitas dan pencemaran perairan yang memengaruhi pertumbuhan Pengaruh Penambahan Vitamin C Dan Vitamin A Dalam Pakan Terhadap Pert. Amaro Kampus Soars et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :30-40 dan kelangsungan hidup kepiting bakau (Kaligis, 2. Pertumbuhan kepiting bakau sangat dipengaruhi oleh faktor kondisi lingkungan tempat hidupnya. Parameter seperti suhu air, salinitas, pH, ketersediaan pakan alami, dan substrat dasar perairan berperan penting dalam menentukan laju pertumbuhan kepiting (Kusuma et al. , 2. Habitat yang sesuai untuk budidaya kepiting memiliki standar kualitas lingkungan diantaranya suhu kisaran 25-35AC karena metabolisme, tingkat keasaman . H) air berkisar 7,0-9,0 untuk memastikan kondisi lingkungan yang stabil dan sesuai dengan kebutuhan kepiting. Kadar oksigen terlarut (DO) harus tetap di atas 5 mg/L agar proses respirasi berlangsung normal dan kepiting tidak mengalami stres dan salinitas berada pada kisaran 10-30 g/L (Hastuti et al. Selain kualitas lingkungan, pemberian pakan tambahan yang bernutrisi menjadi kunci penting dalam meningkatkan performa pertumbuhan kepiting. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menambahkan vitamin ke dalam pakan untuk memperbaiki metabolisme dan mempercepat pertumbuhan. Vitamin meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu dalam sintesis kolagen serta penyembuhan luka, sedangkan Vitamin A penting dalam mendukung pertumbuhan sel dan fungsi penglihatan serta sistem imun. Hasan et al. menjelaskan bahwa kekurangan vitamin C dalam pakan dapat menyebabkan penurunan nafsu makan, pertumbuhan terhambat, dan peningkatan Sementara itu. Cahyawati . , menyatakan bahwa vitamin A berperan penting dalam mengatur aktivitas genetik dan meningkatkan imunitas pada organisme akuatik yang fungsi biologis tubuh seperti perkembangan embrio, penglihatan dan fungsi otak. Kombinasi kedua vitamin ini diharapkan dapat memberikan pengaruh positif terhadap tubuh untuk keperluan metabolisme tubuh sehingga pakan yang dikonsumsi dapat digunakan untuk pertumbuhan. Putri et al. , menyatakan bahwa meskipun dalam jumlah kecil, vitamin sangat dibutuhkan oleh kepiting bakau karena tubuhnya tidak mampu memproduksi vitamin tersebut secara alami, sehingga harus diperoleh dari Pertumbuhan kepiting bakau berkaitan erat dengan pemanfaatan energi yang diserap oleh tubuhnya. Putranti, . menyatakan bahwa berdasarkan hukum termodinamika, energi yang masuk . ntake energ. merupakan total energi dari pakan yang dikonsumsi. Energi ini kemudian terbagi menjadi beberapa bentuk, seperti energi feses, energi gas, energi urin, energi insang, energi permukaan, energi panas, dan energi yang dipulihkan . ecovered energ. Proses metabolisme yang optimal akan meningkatkan konversi energi masuk menjadi energi yang dipulihkan untuk mendukung pertumbuhan Oleh karena itu, dalam kegiatan budidaya terhadap pertumbuhan kepiting bakau dengan perlu adanya menambahkan Vitamin C dan Vitamin A pada pakan, untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan bobot kepiting. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan budidaya kepiting yang lebih efisien dan produktif melalui strategi pemberian pakan yang Pertumbuhan kepiting bakau juga dibutuhkan untuk pengembangan budidaya yang berkelanjutan. Dengan mengetahui laju pertumbuhan kepiting, petambak dapat merancang sistem budidaya yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam beberapa aspek. Pertama, sebagai basis data ilmiah untuk pengelolaan sumber daya Pengaruh Penambahan Vitamin C Dan Vitamin A Dalam Pakan Terhadap Pert. Amaro Kampus Soars et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :30-40 kepiting bakau berkelanjutan. Kedua, sebagai acuan dalam menyusun kebijakan konservasi kepiting bakau dan ekosistem yang ada. Ketiga, sebagai referensi bagi pengembangan teknik budidaya kepiting bakau yang lebih efektif. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui laju pertumbuhan berat mutlak dan laju pertumbuhan spesifik (SGR), terhadap pengaruh statistik penambahan vitamin A, dan vitamin C dalam pakan terhadap pertumbuhan kepiting bakau. METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian ini dilakukan selama 30 hari, yaitu pada bulan April - Mei 2025. Lokasi penelitian di lakukan di CV. Elitism. Jalan Bakau. Oesapa Barat. Kec. Kelapa Lima. Kota Kupang. Nusa Tenggara Timur. Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan kepiting bakau berupa wadah jerigen plastik berkapasitas 5 Liter dengan dimensi panjang 17,8 cm, lebar 10 cm, dan tinggi 33,3 cm. Sebelum digunakan sebagai wadah pemeliharaan kepiting bakau, jerigen terlebih melakuakn proses pencucian untuk memastikan kebersihan dan keamanannya. Metode Penelitian Penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri atas 3 . perlakuan dan 3 . kali ulangan. Perlakuan ini berdasarkan perbedaan penambahan vitamin A dan Vitamin C pada pakan ikan rucah yang diberikan kepada kepiting bakau (Scylla Dimana masing-masing pakan direndam dalam larutan yang sudah diberikan vitamin selama 6 . A: penambahan vitamin C . mg/liter ai. B: Penambahan vitamin A . mg/liter ai. C: tanpa penambahan vitamin . Data yang Diamati Pertumbuhan berat mutlak (W. Pertumbuhan berat mutlak kepiting bakau dihitung dengan menggunakan rumus anjuran Effendie . Wm=Wt-W0 Ket: W0= berat awal rata-rata . Wt= berat akhir rata-rata . Wm= Pertumbuhan berat mutlak kepiting . Laju pertumbuhan spesifik (SGR) Rumus untuk menghitung laju pertumbuhan spesifik (LPS) atau Spesific Gowth Rate (SGR) menurut Mulqan et al. , . yaycu WtOeyaycu W0 SGR = y 100 yc Ket: Ln Wt = Logaritma dari berat rata-rata pada akhir pemeliharaan . Ln Wo = Logaritma dari berat rata-rata pada awal pemeliharaan . = Lama pemeliharaan . Tingkat kelangsungan hidup (SR) Tingkat kelangsungan hidup (SR) kepiting bakau selama penelitian menggunakan rumus yang dianjurkan oleh Sagala et al. sebagai berikut: SR = No y 100% Keterangan: SR= Derajat kelulusan hidup (%) Nt = Jumlah akhir pemeliharaan . No = Jumlah awal penebaran . Manajemen kualitas air Parameter kualitas air yang diukur selama penelitian yaitu suhu air, pH, salinitas. TDS, kecerahan, dan DO. Analisis Data Hasil pengamatan ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik sedangkan uji statistik menggunakan One Way Anov. pada taraf 5% . Pengaruh Penambahan Vitamin C Dan Vitamin A Dalam Pakan Terhadap Pert. Amaro Kampus Soars et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :30-40 HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan Berat Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh nilai pertumbuhan Pertumbuhan berat mutlak . berat mutlak . kepiting bakau (Scylla serrat. yang disajikan pada Gambar 1 Perlakuan Gambar 1. Pertumbuhan berat mutlak . Dari Gambar 1 diatas menunjukkan bahwa perlakuan A . kan rucah vitamin C) menghasilkan pertumbuhan berat mutlak tertinggi sebesar 80 gram, diikuti oleh perlakuan B . kan rucah vitamin A) sebesar 75 gram, dan terendah pada perlakuan C . anpa penambahan vitami. sebesar 40 gram. Perbedaan pertumbuhan berat mutlak antar perlakuan menunjukkan bahwa suplementasi vitamin dalam pakan mampu meningkatkan laju pertumbuhan kepiting bakau secara nyata. Vitamin C dikenal memiliki peran penting dalam pembentukan kolagen, peningkatan daya penyembuhan jaringan, yang secara langsung mendorong pertumbuhan berat Sementara itu, vitamin A mendukung pertumbuhan melalui peningkatan fungsi metabolik dan regenerasi jaringan (Sari et , 2. Nilai pertumbuhan yang lebih rendah pada perlakuan C diduga disebabkan oleh ketiadaan suplementasi vitamin yang berperan penting dalam mendukung proses metabolisme dan pertumbuhan jaringan Hal ini menyebabkan pemanfaatan nutrien dari pakan kurang optimal, sehingga menghambat peningkatan berat badan secara maksimal. Laju Pertumbuhan Spesifik (SGR) Pada Gambar 2. menunjukan bahwa secara rataan laju pertumbuhan spesifik (SGR) yang tertinggi . 809%) yang ditampilkan oleh kepiting uji pada perlakuan B, kemudian diikuti oleh kepiting uji pada perlakuan A dengan nilai . 805%), dan yang terendah adalah kepiting uji pada perlakuan C dengan nilai . 433%). Berdasarkan dilakukan selama 30 hari diperoleh laju pertumbuhan spesifik (SGR) kepiting bakau (Scylla serrat. yang disajikan pada Gambar 2 berikut: Laju pertumbuhan spesifik (SGR) Pengaruh Penambahan Vitamin C Dan Vitamin A Dalam Pakan Terhadap Pert. Amaro Kampus Soars et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :30-40 0,805 0,809 0,433 Perlakuan Gambar 2. Laju petumbuhan berat spesifik kepitng bakau Hasil perlakuan B . kan rucah vitamin A) memiliki nilai SGR tertinggi, yaitu 0,809%/hari, diikuti oleh perlakuan A . kan rucah vitamin C) sebesar 0,805%/hari, dan yang terendah pada perlakuan C . anpa penambahan vitami. dengan nilai 0,433%/hari. Perbedaan nilai SGR antara penambahan vitamin, baik vitamin A maupun vitamin C, mampu meningkatkan dibandingkan dengan pakan tanpa vitamin. Vitamin A berperan dalam memperkuat sistem kekebalan tubuh dan memperbaiki Tingkat kelangsungan hidup (SR) Kelangsungan Hidup Dari hasil kegiatan penelitian yang pertumbuhan sel yang optimal. Sedangkan vitamin C berperan dalam mempercepat metabolisme dan meningkatkan penyerapan nutrisi, yang juga penting dalam mendukung pertumbuhan (Putra et al. Nilai SGR yang lebih rendah pada perlakuan C diduga karena tidak adanya tambahan vitamin yang berfungsi untuk menunjang proses metabolisme tubuh kepiting secara maksimal. Kondisi ini menyebabkan laju pertumbuhan lebih lambat dibandingkan dengan perlakuan yang mendapat suplementasi vitamin. kelangsungan hidup kepiting bakau (Scylla serrat. seperti disajikan pada Gambar 3 Perlakuan Gambar 3. Tingkat kelangsungan hidup (SR) kepiting bakau Pengaruh Penambahan Vitamin C Dan Vitamin A Dalam Pakan Terhadap Pert. Amaro Kampus Soars et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :30-40 Dari gambar 3 di atas menunjukkan bahwa pada semua perlakuan memiliki tingkat kelangsungan hidup yang sama, yakni 100%. Ketinggian batang yang seragam menunjukkan tidak adanya perbedaan nilai Survival Rate antar Hal ini menegaskan bahwa metode budidaya dan perlakuan pakan yang digunakan selama penelitian ini mampu memberikan kondisi lingkungan yang stabil dan aman bagi kepiting. Pencapaian nilai Survival Rate sebesar 100% ini pemeliharaan yang digunakan, yaitu sistem individu dalam jerigen, yang terbukti mampu mencegah kanibalisme dan stress. Menurut Putri et al. sistem pemeliharaan secara individual dapat meningkatkan SR karena dapat mengurangi interaksi agresif antar kepiting. Selain itu, kondisi kualitas air yang stabil dan manajemen harian yang baik, serta pemberian pakan yang konsisten turut mendukung keberhasilan (Gareso et al. Tabel 1. Hasil Uji Statistik One-Way Anova. Sumber Variasi Antara Kelompok Dalam Kelompok Total Pengamatan Kualitas Air Berdasarkan hadil pengamatan yang dilakukan selama penelitian pemeliharaan Hasil Uji Statistik Hasil One Way Anova menunjukkan bahwa nilai Ftabel > Fhitung . 25 > 3. pada taraf 5% . dapat dilihat pada Tebel 1. Dengan demikian maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan atau tidak ada pengaruh nyata dari perbedaan perlakuan penambahan pakan ikan rucah dengan vitamin A dan vitamin C terhadap pertambahan berat kepiting bakau (Scylla serrat. Dapat dikatakan juga dari hasil uji statistik makan pada hipotesis terima H0 dan tolak H1. Hasil uji Anova menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan . > 0,. antar perlakuan terhadap pertambahan berat kepiting bakau (Scylla serrat. selama masa pemeliharaan. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan penambahan vitamin C maupun vitamin A dalam pakan belum memberikan pengaruh yang cukup kuat secara statistik terhadap pertumbuhan berat kepiting dalam kurun waktu pemeliharaan dengan jumlah sampel P-value F crit kepiting bakau, menunjukkan hasil yang dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Nilai kisaran pengamatan kualitas air selama penelitian Parameter Satuan Suhu Salinitas TDS Kecerahan Kisaran Nilai 25,9 - 30 7,78 Ae 9,15 25 - 30 4,7 Ae 5,1 6738 Ae 8813 40 - 45 Pengaruh Penambahan Vitamin C Dan Vitamin A Dalam Pakan Terhadap Pert. Amaro Kampus Soars et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :30-40 Manajemen kualitas air merupakan aspek penting dalam budidaya kepiting bakau (Scylla serrat. karena sangat pertumbuhan, dan kesehatan kepiting. Dalam kegiatan praktik budidaya yang dilakukan di CV Elitism. Kupang, pengelolaan kualitas air dilakukan secara rutin dan sistematis. Selama masa parameter kualitas air setiap hari pada pagi dan sore hari. Parameter yang diukur yaitu, suhu pH, salinitas. DO, kecerahan, dan TDS. Suhu Suhu merupakan salah satu parameter fisika perairan yang dapat memengaruhi berbagai parameter fisika dan kimia Kepiting bakau tergolong hewan poikilotermal, yaitu hewan yang suhu tubuhnya mengikuti suhu lingkungan sekitarnya (Hastuti et al. , 2. Oleh sebab itu, suhu air menjadi faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup kepiting bakau. Selama penelitian, suhu perairan tercatat berada pada kisaran 25,9Ae30AC pada pagi hari dan 27Ae31AC pada sore hari, yang masih berada dalam rentang suhu optimal. Menurut Fajar . , suhu termasuk salah satu faktor abiotik yang berperan penting dalam memengaruhi aktivitas, nafsu makan, konsumsi oksigen, serta kecepatan Suhu optimal untuk budidaya kepiting bakau berkisar antara 24 -35AC (Njuruhapa et al. , 2. pH merupakan parameter kimia air yang menunjukkan tingkat asam atau kebasaan suatu perairan ( Pinontoan et al. Nilai pH yang ideal sangat penting karena memengaruhi proses fisiologis dalam tubuh organisme akuatik, termasuk kepiting bakau. Selama penelitian, nilai pH tercatat berada dalam kisaran 7,78Ae9,15 pada pagi hari dan 8Ae9,5 pada sore hari, yang umumnya masih dalam batas optimal. Menurut Hastuti et al. , . Kepiting bakau dapat hidup pada kisaran pH 7,0Oe9,0. Nilai pH di luar kisaran tersebut dapat menyebabkan stres fisiologis, menurunkan daya tahan tubuh, dan memperlambat Salinitas Salinitas adalah konsentrasi garam yang terlarut dalam air dan merupakan parameter penting dalam budidaya di lingkungan pesisir atau tambak. Kepiting bakau termasuk organisme euryhaline, yaitu mampu beradaptasi dengan kisaran salinitas yang luas. Namun demikian, salinitas yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat memengaruhi proses osmoregulasi dan berdampak buruk terhadap pertumbuhan Selama penelitian, salinitas air berkisar antara 25Ae 30 ppt . dan 26Ae29,1 ppt . , yang berada dalam batas toleransi optimal. Menurut Katiandagho . , salinitas optimal untuk budidaya kepiting bakau berkisar antara 15-30 ppt. Selain itu, perubahan salinitas yang drastis dapat menyebabkan stres dan meningkatkan mortalitas (Njuruhapa et al. , 2. Dissolved Oxygen (DO) Oksigen terlarut (DO) merupakan parameter penting dalam perairan budidaya karena berhubungan langsung dengan proses respirasi organisme akuatik. Kepiting bakau memerlukan oksigen untuk metabolisme, pertumbuhan, dan aktivitas Kadar DO yang rendah dapat menyebabkan kepiting menjadi lemas, menyebabkan kematian. Pada penelitian ini, nilai DO berkisar antara 4,7Ae5,1 mg/L pada pagi hari dan 4,6Ae6 mg/L pada sore hari. Kisaran tersebut tergolong baik untuk Pengaruh Penambahan Vitamin C Dan Vitamin A Dalam Pakan Terhadap Pert. Amaro Kampus Soars et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :30-40 mendukung aktivitas hidup kepiting bakau. Menurut Triyanto et al. , . nilai DO optimal untuk budidaya kepiting bakau berada dalam kisaran 4Ae6 mg/L. Nilai DO di bawah 3 mg/L sudah termasuk kritis dan berisiko tinggi bagi kelangsungan hidup. Total Dissolved Solids (TDS) TDS adalah jumlah total zat padat terlarut dalam air, seperti garam mineral, logam, dan bahan organik. Selama penelitian. TDS berada pada kisaran 6738Ae 8813 ppm . dan 7018Ae8771 ppm . Nilai ini masih dalam batas toleransi. Menurut Indriani et al. , kisaran TDS yang dapat diterima dalam budidaya kepiting bakau adalah 5000Ae10000 ppm. Namun, nilai TDS yang mendekati ambang atas dapat menjadi indikator akumulasi bahan terlarut yang perlu diwaspadai. Menurut Issa . , kadar TDS yang tinggi dapat mengganggu sistem osmoregulasi, penglihatan, serta menurunkan kualitas penetrasi cahaya ke dalam kolom air. Menurut Issa . TDS yang terlalu tinggi dapat mengganggunya sistem osmoregulasi yaitu pernapasan dan daya lihat dan menghambat intesitas cahaya yang masuk ke perairan. Kecerahan Kecerahan adalah parameter fisika yang menggambarkan seberapa dalam cahaya matahari dapat menembus ke dalam Kecerahan sangat dipengaruhi oleh fitoplankton, dan bahan organik lainnya. DAFTAR PUSTAKA