Agro Bali: Agricultural Journal Vol. 3 No. 2: 202-209. December 2020 e-ISSN 2655-853X DOI: 10. 37637/ab. MODEL PENGEMBANGAN PETANI DALAMMENGENDALIKAN GULMA SECARA BIOHERBISIDA DAN HERBISIDA KIMIA PADA AREAL TANAMAN JAGUNG Fitria1C. Juita Damanik1. Koko Tampubolon2. Aisar Novita1. Rini Susanti1 1Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Medan 20238. Sumatera Utara. Indonesia 2Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian dan Peternakan. Universitas Tjut Nyak Dhien. Medan 20123. Sumatera Utara. Indonesia CEmail korespondensi: fitria@umsu. Abstract. The research was aimed to determine the development model of farmer in weed control on the bioherbicides and chemical herbicides on maize in the Langkat District. The research was conducted in the area maize growing in the Stabat sub-District. Langkat District from April until June 2020. The research using the methods of qualitative and quantitative for 34 samples of maize-farmers. Data collection methods used by observation and questionnaires. The data analysis technique used by statistical and classical assumption testing within the SPSS v. 25 software. The results showed that the use of bioherbicides and chemical herbicides significantly affected on the model development of farmer to weed control for maize in Langkat. The effect of bioherbicides could be decrease, meanwhile chemical herbicides could be increase the response of farmers in controlling weeds for area maize in Langkat District. Farmers development model for chemical herbicides was more dominant compared to bioherbicides. Keywords: bioherbicides, chemical herbicides, farmers, weed control. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pengembangan petani dalam pengendalian gulma terhadap bioherbisida dan herbisida kimia pada tanaman jagung di Kabupaten Langkat. Penelitian dilakukan pada daerah penanaman jagung di Kecamatan Stabat. Kabupaten Langkat dari April sampai Juni 2020. Metode penelitian ini menerapkan metode kualitatif dan kuantitatif pada 34 sampel petani. Metode pengumpulan data dengan observasi dan kuisioner. Teknik analisis data menggunakan pengujian asumsi klasik dan statistik menggunakan software SPSS v. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bioherbisida dan herbisida kimia berpengaruh nyata terhadap model pengembangan petani dalam mengendalikan gulma pada pertanaman jagung di Kabupaten Langkat. Pengaruh bioherbisida dapat menurunkan sedangkan herbisida kimia dapat meningkatkan respon petani dalam mengendalikan gulma pada pertanaman jagung di Kabupaten Langkat. Model pengembangan petani terhadap herbisida kimia lebih dominan dibandingkan bioherbisida. Kata kunci: bioherbisida, herbisida kimia, pengendalian gulma, petani. PENDAHULUAN Model pengembangan menggunakan bioherbisida merupakan pendekatan kepada petani agar dapat menerima penggunaan bioherbisida yang bertujuan secara perlahanlahan mengurangi penggunaan pestisida sintesis/kimiawi. Di Indonesia, ketergantungan petani akan pestisida mengalami peningkatan 587,2 ton pada tahun 1998 menjadi 977,2 ton pada tahun 2000. Aplikasi pestisida yang paling banyak ditemukan pada areal pertanaman hortikultura dan pangan (Hasibuan, 2. Peran meningkatkan kualitas dan produksi komoditas pertanian diberbagai negara masih dominan. Penggunaan herbisida secara bijaksana dapat meningkatnya produksi tanaman dikarenakan keberlanjutan pasokan makanan dan pakan, serta meningkatnya kesehatan, kualitas dan harapan hidup manusia akibat tersedianya kesehatan lingkungan. Di sisi lain, dampak negatif penggunaan herbisida yang tidak tepat terhadap kesehatan dan lingkungan telah banyak dilaporkan sehingga diperlukan upaya untuk meminimalkan dampak negatifnya dan penggunaan pestisida melalui Menteri Pertanian no. 39/permentan/SR. 330/7/2015. Indonesia, pestisida telah memusnahkan jenis hama . %) dan agen hayati . %). Pestisida adalah senyawa khusus yang digunakan untuk mengendalikan atau mencegah gangguan serangga, nematoda, binatang pengerat, gulma, cendawan, bakteri, dan jasad renik, dan virus (Parwiro, 2. Agro Bali: Agricultural Journal Vol. 3 No. 2: 202-209. December 2020 Penggunaan herbisida kimia berlebihan dalam bidang pertanian dapat menimbulkan kerusakan lingkungan sekitar dan manusia, terganggunya keseimbangan alam dengan munculnya gulma resisten dan parasit, serta adanya residu herbisida didalam tanah yang dapat membunuh organisme non-target, bahkan sampai terbawa ke aliran sungai dan sumber air. Diperlukan subtitusi herbisida sintetik yang aman bagi lingkungan, seperti hayati/mikroorganisme/biologis (Singh et al. , tumbuhan liar atau gulma (Sihombing et al. , 2012. Pebriani et al. , 2013. Isda et al. Tampubolon et al. , 2018. Alridiwirsah et al. , 2020. , tanaman semusim (Batish et al. , residu tanaman (Jung et al. , 2. , dan tanaman berkayu (Reigosa et al. , 2. Pengendalian gulma secara biologis mengacu pada introduksi organisme ke dalam ekosistem untuk mengendalikan satu atau lebih spesies yang tidak diinginkan (Bailey et , 2. Pengendalian gulma secara biologis ini semakin berfokus pada bakteri dan jamur dalam lima dekade terakhir (Li et al. , 2. meskipun virus telah dipertimbangkan dapat mengendalikan gulma (Diaz et al. , 2. Penggunaan pengganti herbisida kimia memiliki manfaat bagi pengelola sistem ekologi, produsen pestisida, dan masyarakat umum. Telah dilaporkan McNeil et al. , . melalui survei terhadap konsumen di Kanada, diperoleh 70% partisipan menunjukkan preferensi untuk makanan yang diproduksi menggunakan agen pengendali biologis dibandingkan sintetis. Cimmino et al. , . juga melaporkan bahwa jamur Phoma chenopodicola memiliki senyawa diterpen dan chenopodolin yang menyebabkan nekrotik pada gulma Cirsium arvense. Chenopodium album. Mercurialis annua, danSetaria viridis. Penggunaan mengendalikan gulma di Indonesia masih sedikit dan diperlukan pengembangan Hal ini dikarenakan tingkat efektifitas bioherbisida ini masih tergolong rendah dan mekanisme yang sangat lama. Hal inilah yang membuat petani agak susah e-ISSN 2655-853X DOI: 10. 37637/ab. menerima model pengendalian gulma secara biologis diareal pertanamannya. Telah ditemukan beberapa petani yang menggunakan pengendalian gulma secara bioherbisida di Kecamatan Stabat. Kabupaten Langkat. Sumatera Utara. Dengan demikian diperlukan pengkajian model pengembangan penerimaan petani bioherbisida dan herbisida kimia pada areal Tujuan penelitian ini adalah mengetahui model pengembangan penerimaan petani dengan bioherbisida dan herbisida kimia pada areal tanaman jagung di Kabupaten Langkat. METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian Penelitian ini menggunakan sampel petani jagung di Dusun Pantai Gemi. Kecamatan Stabat. Kabupaten Langkat. Provinsi Sumatera Utara pada April-Juni 2020. Metode Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan 34 sampel petani dengan metode pengumpulan data berupaobservasi dan kuisioner. Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi penggunaan bioherbisida yang terjadi melalui penerapan model pengembangan penerimaan petani dalam pengendalian gulma. Kemudian dilakukan wawancara dengan mengisi kuisioner untuk memperoleh data tentang bioherbisida dan herbisida kimia serta memperoleh informasi tentang penerimaan petani dalam pengendalian gulma. Jawaban atas pertanyaan pada kuisioner diberikan dalam bentuk skala 1 . angat tidak setuj. , 2 . idak setuj. , 3 . urang setuj. , 4 . , dan 5 . angat setuj. Penelitian ini dilaksanakan melalui . pendahuluan/survey . tudi literatur, studi lapangan, mengumpulkan dat. , . analisis data, . desain model wawancara, . analisis model wawancara, . uji coba Teknik Analisis Data Penelitian ini menggunakan data kualitatif yang diperoleh dari observasi dan data kuantitatif yang diperoleh dari kuisioner. Data Agro Bali: Agricultural Journal Vol. 3 No. 2: 202-209. December 2020 kualitatif akan dinalisis dengan menerapkan model Miles dan Huberman, . melalui kegiatan reduksi data, penyajian data, kesimpulan/verifikasi. Data kuantitatif dianalisis melalui uji asumsi klasik . utokorelasi, normalitas, heteroskedastisitas, multikolinearita. dan uji statistik . ji F, uji t, koefisien determinasi,koefisien korelas. serta persamaan regresi linier berganda. Pengolahan data menggunakan software SPSS versi 25. Uji Asumsi Klasik Pengujian asumsi klasik berguna untuk mengetahui apakah data yang digunakan telah memenhui ketentuan dalam model regresi. Pengujian ini meliputi uji normalitas, multikolinearitas, autokorelasi dan pengujian Pengujian normalitas untuk mengetahui apakah variabel bebas dan variabel terikat berdistribusi normal atau tidak. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah terdapat korelasi antar variable independen pada model regresi. Uji ketentuan: jika nilai tolerance lebih besar dari 0,1 dan value inflation factor (VIF) lebih kecil dari 10 maka dapat disimpulkan tidak terjadi Autokolerasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada kolerasi antara kesalahan penggunaan pada periode ke1 dengan kesalahan pada periode sebelumnya. Pengujian autokolerasi dilakukan dengan melihat nilai Durbin Watson (D-W). Model regresi yang baik adalah bebas autokolerasi dengan nilai 1,65 < D-W < 2,35 (Cornelius, e-ISSN 2655-853X DOI: 10. 37637/ab. Uji kesamaan varian dari residual dari satu Heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat penyebaran titik-titik yang menyebar secara acak, tidak membentuk sebuah pola tertentu yang jelas, serta tersebar baik di atas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Syarat yang baik pada model regresi yaitu tidak terjadi Uji Statistik Koefisien korelasi . digunakan untuk mengetahui kuat-lemahnya hubungan antara variabel bebas dan terikat serta hubungan antar Hubungan koefisien korelasi menurut Helmi, . terdiri dari sangat rendah . ,000,. ,20-0,. cukup kuat . ,400,. ,60-0,. dan sangat kuat . ,801,. Koefisien determinasi (R) mengetahui seberapa besar perubahan atau variasi suatu variabel yang dijelaskan oleh perubahan atau variasi pada variabel lainnya. Uji t mengetahui berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel Jika sig < 0,05 maka variabel independen berpengaruh nyata terhadap dependen dan H1 diterima. Jika sig > 0,05 maka X tidak berpengaruh nyata terhadap Y dan H0 diterima. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Penelitian Berdasarkan data yang telah dikumpulkan maka diperoleh diskripsi data penelitian pada Tabel 1. Diperoleh bahwa rataan skor responden untuk petani jagung yang menggunakan bioherbisida di Kecamatan Stabat. Kabupaten Langkat sebesar 47,53 dan herbisida kimia sebesar 48,24. Tabel 1. Deskripsi petani jagung dalam penggunaan bioherbisida dan herbisida kimia di Kabupaten Langkat Sampel Minimum Maksimum Rataan Standar Deviasi Bioherbisida 47,53 1,328 Herbisida kimia 48,24 1,678 Uji Normalitas Uji normalitas respon petani jagung dalam penggunaan bioherbisida dan herbisida kimia di Kabupaten Langkat dapat dilihat pada Gambar 1. Agro Bali: Agricultural Journal Vol. 3 No. 2: 202-209. December 2020 e-ISSN 2655-853X DOI: 10. 37637/ab. Kabupaten Langkat dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 1. Uji normalitas respon petani jagung dalam penggunaan bioherbisida dan herbisida kimia di Kabupaten Langkat Diperoleh bahwa titik-titik menyebar disekitar garis diagonal sehingga dapat disampaikan bahwa model regresi telah memenuhi asumsi normalitas sehingga data dalam model regresi cenderung normal. UJi Multikolinieritas Uji multikolinieritas respon petani jagung dalam penggunaan bioherbisida dan herbisida kimia di Kabupaten Langkat dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil uji multikolinieritas respon bioherbisida dan herbisida kimia di Kabupaten Langkat Collinearity Statistics Model Tolerance VIF (Constan. Bioherbisida 0,849 1,179 Herbisida kimia 0,849 1,179 Diperoleh nilai tolerance pada variabel bioherbisida dan herbisida kimia adalah 0,849 dan nilai value inflation factor (VIF) sebesar 1,179. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tolerance lebih besar dari 0,1 dan nilai VIF lebih kecil dari 10, maka penelitian ini tidak terjadi multikolinieritas diantara variabel penelitian. Uji Heteroskedastisitas Pengujian heteroskedastisitas respon bioherbisida dan herbisida kimia di Gambar 2. Uji heteroskedastisitas respon bioherbisida dan herbisida kimia di Kabupaten Langkat. Dipeoleh bahwa model regresi tidak dikarenakan data menyebar secara acak. Uji Autokolerasi Pengujian autokorelasi respon petani jagung dalam penggunaan bioherbisida dan herbisida kimia di Kabupaten Langkat dapat dilihat pada Tabel 3. Diperoleh nilai D-W diperoleh sebesar 2,313 artinya model regresi yang digunakan telah memenuhi syarat yaitu bebas dari autokorelasi. Pengujian Statistik Pengujian statistik dan persamaan regrei linier berganda respon petani jagung dalam penggunaan bioherbisida dan herbisida kimia di Kabupaten Langkat dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4. Diperoleh koefisien korelasi respon bioherbisida dan herbisida kimia di Kabupaten Langkat sebesar 0,986. Hal ini bioherbisida dan herbisida kimia tergolong sangat kuat terhadap respon petani jagungdalam pengendalian gulma di Kabupaten Langkat. Tabel 3 menunjukkan bahwa koefisien determinasi (R-squar. respon petani jagung dalam penggunaan bioherbisida dan herbisida kimia di Kabupaten Langkat sebesar 0,973. Hal ini menunjukkan bahwa Agro Bali: Agricultural Journal Vol. 3 No. 2: 202-209. December 2020 pengaruh respon petani jagung dalam penggunaan bioherbisida dan herbisida kimia sebesar 97,30% dan sisanya 2,70% dipengaruhi oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan uji t diperoleh bahwa nilai signifikan bioherbisida dan herbisida kimia sebesar 0,000 dan lebih kecil dari sig 5%, hal ini menunjukkan bahwa penggunaan bioherbisida dan herbisida kimia secara parsial berpengaruh nyata terhadap respon petani jagung dalam pengendalian gulma di Kabupaten Langkat. Berdasarkan Tabel 4 diperoleh bahwa persaman regresi linier berganda respon e-ISSN 2655-853X DOI: 10. 37637/ab. bioherbisida dan herbisida kimia sebagai Y = -24,867 Ae 0,492 bio 1,000 kimia Diperoleh nilai bioherbisida pada persaman regresi sebesar -0,492. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu menurunkan respon petani jagungdalam mengendalikan gulma di Kabupaten Langkat. Nilai herbisida kimia sebesar 1,000. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu kali penggunaan herbisida kimia akan meningkatkan respon petani jagung dalam mengendalikan gulma di Kabupaten Langkat. Tabel 3. Hasil pengujian autokolerasi dan statistik respon petani jagung dalam penggunaan bioherbisida dan herbisida kimia di Kabupaten Langkat R-square Adjusted R Square Std. Error oF the Estimate Durbin-Watson 0,986 0,973 0,969 0,218 2,313 Tabel 4. Hasil pengujian t dan persamaan regresi linier berganda respon petani jagung dalam penggunaan bioherbisida dan herbisida kimia di Kabupaten Langkat Unstandardized Coefficients Uji t-statistic Model Std. Error Sig (Constan. -24,867 -80748870,7 0,000 Bioherbisida -0,492 0,000 -76664484,9 0,000 Herbisida kimia 1,000 0,000 0,000 Pembahasan Penggunaan bioherbisida secara parsial berpengaruh nyata, namun pengaruhnya mengendalian gulma pada pertanaman jagung di Kabupaten Langkat. Hal ini disebabkan beberapa petani masih aktif meramu bioherbisida sendiri demi menjaga ekosistem dan hemat biaya produksi, namun dampak penggunaan bioherbisida sangat lama dirasakan. Hal ini sesuai penelitian Alawiyah Cahyono, . bahwapersepsi keuntungan relatif dari penggunaan agens hayati tergolong tinggi . ,7%) dikarenakan agen hayati diyakini dapat mengurangi biaya produksi karena pengurangan penggunaan pupuk kimia dan Sari et al. , . menyatakan bahwa tingkat pemanfaatan musuh alami sebesar 53,05% dan tergolong kategori Beberapa agen hayati juga sudah dilaporkan efektif mengendalikan gulma. Evans et al. , . melaporkan bahwa jamur Phoma macrostoma strain 94-44B dapat mengendalikan gulma berdaun lebar di Kanada dan Amerika Serikat. Hahn et al. melaporkan bahwa aktinomisetes Streptomyces AM3672 memiliki senyawa benzaquinoid ansamycin dengan potensi aktivitas herbisida spektrum . fektif monokotil dan dikoti. Laosinwattana et al. sianobakteria Phormidium angustissium memiliki senyawa dihydroactiniodiolide dan dapat menghambat aktivitas perkecambahan biji dan pertumbuhan bibit gulma Agro Bali: Agricultural Journal Vol. 3 No. 2: 202-209. December 2020 Amaranthus tricolor dan Echinocloa crusgalli. Penggunaan herbisida kimia secara parsial berpengaruh nyata dan pengaruhnya dapat meningkatkan respon petani dalam mengendalian gulma pada pertanaman jagung di Kabupaten Langkat. Hal ini disebabkan petani jagung mengatakan bahwa penggunaan herbisida kimia lebih praktis, efektif dan lebih mudah ditemukan di toko-toko pertanian, namun herganya lebih mahal dan petani menyadari penggunaan herbisida kimia berdampak tidak aman pada lingkungan jika menggunakan dosis yang tinggi dan dilakukan secara terus-menerus. Hal ini sesuai dengan penelitian Ameriana, . bahwa persepsi petani terhadap harga dan efektifitas pestisida kimia sebesar 35,26%. Affandi et al. , . melaporkan bahwa pengetahuan tentang persepsi harga dan spesifikasi memiliki korelasi masing-masing sebesar 0,46 dan 0,36 serta tergolong kuat terhadap kompleksitas penggunaan pestisida Beberapa laporan efektifitas herbisida kimia dalam mengendalikan gulma, seperti Ambarwati et al. , . aplikasi herbisida atrazine 3 ml/l efektif menekan populasi gulma pada pertanaman jagung. Sembiring Sebayang, . penggunaan herbisida glifosat dosis 1 liter dalam 13 liter air efektif mengendalikan gulma total hingga 14 hari setelah aplikasi. Alridiwirsah et al. , . melaporkan herbisida kalium glifosat dosis 1 liter/ha efektif mengendalikan gulma berdaun lebar dan sempit masing-masing sebesar 79,90% dan 84,40%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa respon petani jagung di Kabupaten Langkat dalam menggunakan herbisida kimia lebih efektif dan respon dibandingkan bioherbisida. SIMPULAN Penggunaan bioherbisida dan herbisida kimia berpengaruh nyata terhadap model e-ISSN 2655-853X DOI: 10. 37637/ab. pertanaman jagung di Kabupaten Langkat. Pengaruh bioherbisida dapat menurunkan mengendalian gulma pada pertanaman jagung di Kabupaten Langkat. Model penerimaan petani terhadap herbisida kimia lebih dominan dibandingkan bioherbisida. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengucapkan terima kasih Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) yang telah mendanai riset ini melalui Program Penelitian Dasar (PD) Dana APB UMSU Tahun Anggaran 2019/2020 dengan No: 03/II. 3-AU/UMSU-LP2M/C/2020. DAFTAR PUSTAKA