ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license ANALISIS PERAN GURU KELAS DALAM MENGGANTIKAN FUNGSI GURU BK DI SEKOLAH DASAR Mifta Ayu Fadillah1. MaAomun Hanif2 1Universitas Islam Negeri K. Abdurrahman Wahid Pekalongan, 2Universitas Islam Negeri K. Abdurrahman Wahid Pekalongan Email:1mifta. fadillah24124@mhs. id, 2 maAomun. hanif@uingusdur. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru kelas dalam menggantikan fungsi guru bimbingan dan konseling (BK) di sekolah dasar, khususnya ditinjau dari perbedaan pengalaman mengajar antara guru berpengalaman dan guru baru. Latar belakang penelitian ini adalah belum tersedianya guru BK khusus di sebagian besar sekolah dasar sehingga tugastugas BK dijalankan oleh guru kelas. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka di dua sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berpengalaman (>5 tahu. memiliki pemahaman yang lebih luas dan mendalam tentang layanan BK serta mampu menerapkan pendekatan yang adaptif dan empatik terhadap permasalahan siswa. Sebaliknya, guru baru (<5 tahu. masih memiliki pemahaman yang terbatas dan lebih mengandalkan arahan kepala sekolah serta pengalaman langsung dalam praktik. Kendala utama bagi kedua kelompok adalah keterbatasan waktu, beban kerja tinggi, dan kurangnya pelatihan formal di bidang BK. Namun, guru berpengalaman lebih efektif dalam menjalankan fungsi pembimbingan, sementara guru baru unggul dalam semangat dan keterbukaan terhadap inovasi. Dengan demikian, kolaborasi antara guru berpengalaman dan guru baru diperlukan agar layanan BK di sekolah dasar berjalan lebih optimal dan menyeluruh bagi perkembangan siswa. Kata Kunci: Bimbingan dan konseling, guru kelas, pengalaman mengajar, peran guru, sekolah Pendahuluan Sekolah dassr merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan dasar kemampuan akademik peserta Pada jenjang ini, anak berada pada tahap perkembangan yang membutuhkan perhatian khusus, baik dari sisi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Salah satu aspek GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license penting dalam mendukung perkembangan peserta didik adalah layanan bimbingan dan konseling (BK). Layanan BK berfungsi membantu peserta didik mengenali potensi diri, mengatasi permasalahan belajar, serta mengembangkan perilaku positif. Guru memegang peran yang krusial dalam mendukung perkembangan peserta didik agar mampu membangun kualitas positif, baik dalam aspek akademik, keterampilan, kematangan emosional, maupun nilai moral dan spiritual. Oleh karena itu, diperlukan seorang guru yang berkualitas tinggi, kompeten, dan berkomitmen untuk melaksanakan tugas yang diemban. Salah satunya adalah melalui partisipasi dan dalam meningkatkan karakter disiplin siswa. Hal ini menjadikan guru sebagai figur utama yang berfungsi sebagai sumber inspirasi dan motivasi bagi siswa (Minsih & D. Dalam hal ini, guru memiliki keinginan yang kuat untuk menciptakan generasi yang bermoral tinggi, berbudi luhur, dan jujur (Amala & Kaltsum, 2. Namun, kenyataannya sebagian besar sekolah dasar di Indonesia belum memiliki guru BK khusus. Ketiadaan guru BK ini menyebabkan tugas-tugas bimbingan dan konseling seringkali dialihkan atau dijalankan oleh guru kelas. Guru kelas yang seharihari berinteraksi dengan peserta didik memiliki akses langsung untuk memahami kebutuhan, masalah, serta perkembangan siswa. Dengan demikian, guru kelas dituntut untuk mampu melaksanakan fungsi dasar bimbingan dan konseling, meskipun mereka bukan guru BK yang terlatih secara profesional. Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana peran guru kelas dapat menggantikan fungsi guru BK di sekolah dasar. Analisis terhadap peran tersebut penting dilakukan untuk mengetahui kemampuan, keterbatasan, serta strategi yang diterapkan guru kelas dalam memberikan layanan yang seharusnya menjadi tugas guru BK. Dengan memahami hal ini, sekolah dan pembuat kebijakan pendidikan dapat merumuskan langkah-langkah tepat untuk meningkatkan kualitas layanan BK di sekolah dasar. Metode Penelitian ini dilakukan di dua sekolah yang berbeda, di SD Negeri Karanganom 01 pada tanggal 3 Oktober 2025 dan MI Darussalam Kemiri pada tanggal 4 Oktober Karena dalam penelitian ini penulis membutuhkan perbandingan pendapat, maka dari itu penulis mewawancarai dua narasumber sekaligus yaitu guru yang sudah berpengalaman . engajar lebih dari 5 tahu. dan juga guru baru . engajar kurang dari 5 tahu. Dan dari kedua narasumber tersebut memberikan tanggapan yang berbeda mengenai peran guru kelas dalam menggantikan fungsi guru BK di Sekolahh Dasar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Deskriftip Kualitatif yang dimana GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license penelitian ini ditunjukan untuk mendeskrifsikan juga menganalisis peristiwa, penomena - penomena, dan aktivitas sosial secara alamiah. Hasil Peran Guru Sekolah Dasar Dalam proses pendidikan, guru memegang peranan penting dalam memastikan bahwa ilmu yang diajarkan dapat dipahami oleh para siswa. Guru tidak hanya bertanggung jawab untuk mengajarkan ilmu, tetapi juga memainkan banyak peran dalam proses pembelajaran. (Yestiani & Zahwa, 2. Menurut (Mutiaramses et al. Apabila guru mampu mengelola kelas secara efektif dan melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, maka tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan optimal. Sebagaimana yang disampaikan oleh (Yanti, 2. Salah satu tugas pokok guru adalah membangun suasana kelas yang mendukung terjadinya interaksi belajar mengajar serta mendorong siswa agar termotivasi untuk belajar dengan serius dan maksimal. Peran guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi fasilitator yang membantu menciptakan proses belajar yang mudah dan tidak membosankan bagi seluruh siswa. Guru harus mampu membangun suasana belajar yang positif, penuh semangat, tanpa rasa takut atau cemas, serta mendorong siswa untuk berani mengungkapkan pendapat mereka secara terbuka. (Fauzi & Mustika. Peran guru dalam proses kegiatan belajar mengajar Guru dapat diibaratkan sebagai pendidik: Guru adalah guru, tokoh, panutan, dan identifikasi bagi siswa dan lingkungannya. Seorang guru harus bertanggung jawab, mandiri, berwibawa, dan disiplin yang dapat dicontoh siswanya. Guru dapat diibaratkan sebagai pengajar: Banyak faktor mempengaruhi kegiatan belajar mengajar. Ini termasuk kematangan, motivasi, hubungan siswa-guru, tingkat kebebasan, kemampuan verbal, ketrampilan komunikasi guru, dan rasa aman. Jika semua faktor tersebut terpenuhi, kegiatan belajar akan berlangsung dengan baik. Bahkan jika guru memiliki kemampuan untuk memecahkan berbagai masalah, guru harus dapat menjelaskan materi kepada siswanya. Guru dapat diibaratkan sebagai sumber belajar: Kemampuan guru untuk memahami materi pelajaran akan sangat bergantung pada peran mereka sebagai sumber belajar. Jadi, ketika siswa bertanya sesuatu, guru dapat dengan sigap dan tanggap menjawab pertanyaan siswa dengan menggunakan bahasa yang lebih mudah dimengerti. Guru dapat diibaratkan sebagai fasilitator: Peran seorang guru sebagai fasilitator adalah untuk membantu murid membuat pelajaran mudah diterima dan dipahami. GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license untuk menghasilkan pembelajaran yang lebih efisien dan efektif di masa Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing: Seorang guru dapat dianggap sebagai pembimbing perjalanan, yang didasarkan pada pengetahuan dan pengalamannya dan bertanggung jawab untuk memastikan perjalanan berjalan lancar. Perjalanan ini tidak hanya mencakup aspek fisik. itu juga mencakup aspek pikiran, kreativitas, moralitas, emosi, dan spiritualitas yang lebih dalam dan kompleks. Guru dapat diibaratkan sebagai demonstrator: Guru dapat bertindak sebagai demonstrator dan menginspirasi muridnya untuk melakukan hal yang sama atau bahkan lebih baik. Guru dapat diibaratkan sebagai pengendali: Dalam proses pembelajaran, guru bertanggung jawab untuk mengontrol lingkungan pembelajaran. Guru itu seperti seorang nahkoda yang mengemudikan kapal supaya perjalanan berjalan aman dan Jadi, guru perlu bisa membuat suasana kelas terasa hangat, nyaman, dan menyenangkan bagi siswanya. Guru dapat diibaratkan sebagai penasehat: Guru tidak dilatih khusus untuk menjadi penasehat, tetapi mereka bertindak sebagai penasehat bagi orang tua dan murid mereka juga. Guru harus mempelajari psikologi kepribadian agar mereka dapat memahami peran mereka sebagai penasehat dan memberikan kepercayaan yang lebih dalam kepada murid-murid mereka saat mereka harus membuat keputusan. Guru dapat diibaratkan sebagai inovator: Guru menerjemahkan pengalaman masa lalunya untuk memberi makna kepada murid-muridnya. Karena faktor usia tidak diragukan lagi, guru dan siswa memiliki jarak yang jauh. Salah satu tanggung jawab guru adalah menerjemahkan kebijakan dan pengalaman penting ke dalam bahasa yang lebih kontemporer sehingga siswa dapat memahaminya. Guru dapat diibaratkan sebagai motivator: Proses kegiatan belajar mengajar akan berhasil jika murid-muridnya sangat termotivasi. Guru dapat diibaratkan sebagai pelatih: Proses pendidikan dan pembelajaran tentunya membutuhkan latihan ketrampilan intelektual dan motorik. Dalam hal ini, guru akan berfungsi sebagai mentor untuk meningkatkan keterampilan tersebut. Kurikulum 2004 lebih menekankan hal ini karena memiliki basis kompetensi. Tanpa latihan, seorang guru tidak akan mampu menunjukkan penguasaan kompetensi dasar atau kemahiran yang sesuai dengan materi standar. Guru dapat diibaratkan sebagai pemberi dorongan: Setelah pembelajaran selesai, guru harus menilai hasil. Selain menilai keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, evaluasi ini juga menilai keberhasilan guru dalam mengelola kegiatan belajar. (Yestiani & Zahwa, 2. Selain fungsi guru di atas guru juga mempunyai fungsi yang tidak kalah penting yaitu sebagai Peran Guru sebagai Pengelola Kelas Guru sebagai pengelola kelas memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter siswa . Peran guru sebagai pengelola kelas diwujudkan dengan menjaga agar suasana belajar tetap GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license kondusif selama proses pembelajaran berlangsung, serta menyediakan fasilitas yang mendukung pembentukan karakter siswa di sekolah. (Nurhasanah et al. , 2. Peran Guru Bk Di Sekolah Menurut (Afifah & Nasution, 2. "Layanan bimbingan dan konseling", atau BK, mengacu pada layanan yang tersedia untuk semua siswa dan berfokus pada pengembangan siswa secara keseluruhan Menurut (Sinaga et al. , 2. siswa, sebagai sasaran tujuan pendidikan, membutuhkan fasilitator untuk membantu mereka berkembang menjadi individu yang seutuhnya dengan menyelesaikan tugas perkembangan dengan sempurna dan menghindari dan mengatasi hambatan perkembangan di fase remaja. Bimbingan konseling ikut mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penyediaan berbagai layanan yang mendorong siswa untuk mengembangkan diri dan mencapai potensi mereka, serta meningkatkan motivasi mereka untuk belajar untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik. Peran guru bimbingan dan konseling dalam membangun sisi disiplin siswa di sekolah. Peran guru bimbingan dan konseling sangat penting dalam membantu siswa memahami diri mereka sendiri, terutama dalam mengembangkan kemampuan dan kepercayaan diri untuk meraih prestasi belajar yang lebih baik. Layanan bimbingan dan konseling seharusnya menjadi bagian penting di setiap sekolah sebagai sarana untuk membimbing serta membantu siswa dalam mengatasi berbagai permasalahan yang (Harita et al. , 2. Perspektif Guru Berpengalaman ( Mengajar lebih dari 5 Tahu. Guru berpengalaman memandang layanan bimbingan dan konseling (BK) sebagai bagian integral dari proses pendidikan dasar. Menurutnya. BK bukan sekadar membantu siswa yang bermasalah, tetapi merupakan upaya preventif dan pengembangan potensi anak secara menyeluruh. Guru yang telah lama mengajar memahami bahwa siswa SD berada pada fase perkembangan yang sangat dinamis, sehingga mereka membutuhkan pendampingan bukan hanya dalam belajar, tetapi juga dalam aspek sosial, emosional, dan moral. Layanan BK di SD dipahami sebagai sarana untuk membantu siswa mengenali diri, mengatur emosi, beradaptasi dengan lingkungan sekolah, serta mengembangkan keterampilan sosial yang sehat. Guru berpengalaman umumnya telah memiliki kepekaan tinggi terhadap perubahan perilaku siswa dan mampu mendeteksi dini permasalahan anak sebelum menjadi GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license Karena sebagian besar sekolah dasar belum memiliki guru BK profesional, guru kelas mengambil peran ganda sebagai pembimbing. Guru berpengalaman menjalankan fungsi ini secara alami melalui pengamatan, komunikasi intensif, dan pendekatan personal kepada siswa. Mereka menerapkan berbagai strategi seperti konseling individu informal, bimbingan kelompok, serta pendekatan karakter berbasis kegiatan Selain itu, guru berpengalaman memanfaatkan pengalaman masa lalu dalam menangani kasus serupa untuk menyesuaikan pendekatan dengan karakter masingmasing siswa. Misalnya, dalam menghadapi siswa yang mengalami kesulitan belajar, guru tidak hanya memberikan tambahan pelajaran, tetapi juga membimbing aspek psikologisnya seperti rasa percaya diri dan motivasi. Dengan kata lain, peran guru kelas berpengalaman tidak hanya menggantikan fungsi guru BK secara teknis, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai pembimbingan dalam seluruh proses pembelajaran. Walaupun berpengalaman, guru tetap menghadapi tantangan yang kompleks. Salah satu hambatan utama adalah beban kerja yang tinggi, karena guru kelas di SD bertanggung jawab terhadap seluruh mata pelajaran, administrasi, serta pembinaan karakter siswa. Kondisi ini menyebabkan waktu untuk melakukan bimbingan mendalam menjadi terbatas. Selain itu, minimnya pelatihan formal tentang bimbingan dan konseling juga menjadi kendala. Banyak guru mengandalkan intuisi dan pengalaman pribadi dalam menangani masalah siswa tanpa panduan profesional yang Tantangan lain adalah kurangnya dukungan dari orang tua, terutama ketika masalah siswa berkaitan dengan kondisi rumah tangga atau pola asuh. Tidak semua orang tua bersedia terbuka, sehingga guru sering kesulitan dalam mencari solusi yang Selain itu, fasilitas dan ruang konseling di SD juga terbatas, membuat proses bimbingan sering dilakukan di kelas atau ruang guru yang kurang privat. Guru berpengalaman umumnya menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi dalam menjalankan fungsi bimbingan, terutama karena mereka memiliki pemahaman mendalam tentang karakter siswa dan dinamika kelas. Pendekatan yang mereka lakukan lebih humanis dan kontekstual, sesuai dengan situasi masing-masing anak. Dalam banyak kasus, guru berpengalaman berhasil membantu siswa mengatasi kesulitan belajar, memperbaiki perilaku, serta meningkatkan kedisiplinan melalui pendekatan komunikasi empatik dan keteladanan. Namun, efektivitas ini tetap memiliki batas, terutama dalam menangani kasus berat seperti gangguan emosional, kekerasan rumah tangga, atau masalah sosial yang memerlukan intervensi profesional. Oleh karena itu, meskipun guru kelas berpengalaman mampu menggantikan sebagian fungsi guru BK secara praktis, peran mereka tetap tidak dapat sepenuhnya menyamai efektivitas guru BK yang memiliki latar belakang akademik dan keahlian konseling GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license Sinergi antara guru kelas, kepala sekolah, dan orang tua tetap dibutuhkan agar layanan BK di sekolah dasar berjalan optimal. Perspektif Guru Baru (Mengajar kurang dari 5 Tahu. Layanan BK di sekolah dasar adalah memberikan bantuan kepada siswa-siswi untuk membantu mereka dalam menyesuaikan diri di lingkungan sekolahan, mengembangkan potensi diri, juga untuk mengatasi berbagai permasalahan belajar maupun sosial emosional. Dari segi tujuan utama layanan BK di Sekolah Dasar ialah untuk membantu siswa-siswi mengembangkan seluruh potensi secara optimal, baik itu dari segi kepribadian, kemampuan sosial, dan juga khususnya dalam hal belajar. Sebagai guru kita harus paham betul dalam membantu siswa siswi untuk kenyamanan dalam belajar. Dengan adanya bimbingan konseling guru kelas harus memahami juga tentang layanan konseling untuk membantu dalam kegiatan belajar menjadi produktif, nyaman, juga aman. Fungsi dan tujuan dalam BK pun kita harus wajib mengerti serta Berdasarkan hasil observasi, guru baru belum pernah mendapatkan sosialisasi secara langsung mengenai layanan BK di Sekolah Dasar. Akan tetapi guru baru tetap mendapatkan arahan langsung dari kepala sekolah tentang informasi mengenai penanganan dan mengidentifikasi masalah-masalah siswa. Biasanya guru kelas berusaha membantu siswa dengan pendekatan pribadi. Misalnya dengan mengajak siswa berbicara secara baik-baik, mencari tahu penyebab kesulitannya, dan memberikan bimbingan sesuai kemampuan guru. Jika masalahnya cukup berat, guru akan berkoordinasi dengan orang tua atau kepala sekolah agar mendapatkan solusi Metode yang paling sering guru gunakan adalah bimbingan kelompok, terutama saat membahas masalah umum seperti disiplin belajar atau kerja sama antar Namun, untuk siswa yang memiliki masalah khusus, guru baru lebih memilih konseling individual agar mereka merasa lebih nyaman untuk terbuka. Karena di sekolah belum ada guru BK khusus, maka para guru kelas sering berkoordinasi dengan wali murid dan kepala sekolah untuk menangani siswa yang bermasalah. Ada kasus di mana seorang siswa menjadi korban ejekan atau bulliying temantemannya karena fisiknya. Guru segera menindak lanjuti dengan melakukan konseling kepada korban dan pembinaan kepada pelaku. Selain itu, guru juga mengadakan kegiatan bimbingan kelompok tentang empati dan pentingnya menghargai perbedaan. Setelah itu, suasana kelas menjadi lebih kondusif dan siswa dapat kembali bersemangat Kendala yang sering di hadapi adalah keterbatasan waktu dan kemampuan untuk menangani masalah siswa secara mendalam. Karena guru kelas juga harus GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license mengajar semua mata pelajaran, terkadang sulit membagi waktu untuk memberikan bimbingan individu. Selain itu, belum semua orang tua mau terbuka atau bekerja sama saat anaknya mengalami masalah, sehingga penanganannya kurang optimal. Untuk mengatasi keterbatasan waktu, guru baru biasanya mengatur jadwal khusus di luar jam pelajaran utama, misalnya saat jam istirahat atau setelah pulang sekolah, untuk berbicara dengan siswa yang membutuhkan bimbingan. Jika berkaitan dengan kompetensi BK, guru baru berusaha belajar mandiri melalui pelatihan daring, membaca panduan dari Kemendikbud, atau berdiskusi dengan guru BK dari sekolah lain. Sementara untuk keterbatasan fasilitas, guru baru memanfaatkan ruang kelas atau perpustakaan sebagai tempat konseling sederhana agar tetap kondusif. Guru baru mendapat dukungan berupa bimbingan dan arahan dari kepala sekolah dalam pelaksanaan kegiatan BK, seperti penanganan siswa yang bermasalah dalam belajar maupun perilaku. Selain itu, pihak sekolah juga menyediakan waktu khusus untuk kegiatan pembinaan siswa, serta memberi kesempatan kepada guru baru untuk mengikuti pelatihan atau sosialisasi terkait layanan BK yang diadakan oleh dinas Secara umum, guru kelas cukup berperan dalam menggantikan sebagian fungsi guru BK, terutama dalam hal memahami karakter siswa dan memberikan bimbingan sederhana terkait belajar dan perilaku. Namun, efektivitasnya masih terbatas karena guru kelas memiliki beban mengajar yang cukup padat dan belum semuanya memiliki kompetensi khusus dalam bidang bimbingan dan konseling. Agar layanan BK tetap berjalan optimal, diharapkan adanya kerja sama yang lebih baik antara guru kelas, wali murid, dan pihak sekolah. Dengan komunikasi yang terbuka, permasalahan siswa bisa cepat dikenali dan ditangani bersama. Pembahasan Analisis Perbandingan Dari perbandingan tersebut terlihat bahwa lama pengalaman mengajar berpengaruh terhadap pemahaman dan efektivitas guru dalam melaksanakan fungsi BK. Guru yang lebih berpengalaman cenderung memiliki pemahaman yang lebih komprehensif serta mampu menangani permasalahan siswa dengan pendekatan yang lebih adaptif. Guru berpengalaman memandang layanan bimbingan dan konseling (BK) sebagai bagian penting dalam pendidikan di sekolah dasar. Menurut mereka. BK bukan hanya untuk mengatasi masalah siswa, tetapi juga membantu siswa mengenal diri, beradaptasi dengan lingkungan sekolah, dan mengembangkan sikap serta kepribadian yang baik. Karena sudah lama mengajar, guru berpengalaman lebih peka terhadap GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license perubahan perilaku siswa dan mampu mengetahui masalah sejak dini. Mereka sering melakukan pendekatan pribadi, memberi nasihat, atau melakukan bimbingan kelompok kecil agar siswa merasa nyaman dan terbuka. Bila masalahnya berat, guru berpengalaman akan bekerja sama dengan kepala sekolah dan orang tua siswa. Walau begitu, mereka tetap menghadapi kendala seperti banyaknya tugas mengajar, waktu yang terbatas, dan kurangnya pelatihan khusus tentang BK. Namun berkat pengalaman dan pemahaman yang luas, mereka tetap bisa menjalankan peran pembimbing dengan baik dan efektif. Berbeda dengan itu, guru baru masih memiliki pemahaman yang sederhana tentang BK. Mereka tahu bahwa tujuan BK adalah membantu siswa mengatasi masalah belajar, menyesuaikan diri, dan mengembangkan potensi, namun belum terlalu mendalam dalam pelaksanaannya. Guru baru biasanya belum pernah mendapat pelatihan langsung tentang BK, sehingga mereka belajar dari arahan kepala sekolah dan pengalaman di lapangan. Saat menghadapi siswa yang bermasalah, guru baru mencoba berbicara secara pribadi, memberi arahan, dan bekerja sama dengan orang tua. Mereka juga sering mengadakan bimbingan kelompok untuk menanamkan kedisiplinan dan kerja sama di antara siswa. Hambatan yang mereka hadapi antara lain waktu yang terbatas, pengalaman yang masih sedikit, serta kurangnya dukungan dari beberapa orang tua. Meski demikian, guru baru memiliki semangat tinggi dan kemauan untuk belajar, misalnya dengan mengikuti pelatihan daring atau mencari informasi dari sumber lain agar bisa melaksanakan peran BK dengan lebih baik. Dari hasil perbandingan, terlihat bahwa pengalaman mengajar sangat berpengaruh terhadap kemampuan guru dalam melaksanakan fungsi BK. Guru berpengalaman lebih memahami konsep BK secara menyeluruh, lebih sabar, dan lebih mampu menyesuaikan pendekatan dengan karakter siswa. Mereka juga lebih efektif dalam membangun hubungan emosional dengan siswa sehingga bimbingan berjalan Sementara itu, guru baru masih dalam tahap belajar, namun memiliki kelebihan dalam semangat dan keterbukaan terhadap hal-hal baru, seperti penggunaan media digital untuk mendukung bimbingan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peran guru berpengalaman dan guru baru sama-sama penting. Keduanya bisa saling melengkapi guru berpengalaman dapat menjadi pembimbing bagi guru baru, sedangkan guru baru membawa semangat dan ide baru agar layanan BK di sekolah dasar semakin baik dan bermanfaat bagi siswa. Kesimpulan Berikut kesimpulan singkatnya. Nduk: GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan Volume x Nomor x Bulan 20. Copyright A 20. Penulis Pertama dan Penulis Kedua ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license Guru kelas dapat menjalankan sebagian fungsi guru BK karena mereka berinteraksi langsung dengan siswa setiap hari. Guru berpengalaman lebih mampu memberikan bimbingan secara efektif, sedangkan guru baru masih belajar namun memiliki semangat dan keterbukaan terhadap inovasi. Kendala utama keduanya adalah waktu, beban kerja, dan kurangnya pelatihan BK. Oleh karena itu, kerja sama antara guru berpengalaman, guru baru, sekolah, dan orang tua sangat dibutuhkan agar layanan BK di sekolah dasar dapat berjalan lebih optimal. Referensi