Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA KELAS INKLUSI DI SD IT AL-AUFA KOTA BENGKULU Delta Novita Putri1. Syukri Amin2 Fakultas Agama Islam. Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Bengkulu. Indonesia deltanovp@gmail. com 2aminsyukri@umb. Abstract The background to this research is the Islamic Religious Education learning model in the inclusion class at SD IT Al-Aufa. Bengkulu City. In reality, the choice of learning model used is not in accordance with the needs of students. The aim and formulation of the problem in this research is to determine the Islamic Religious Education Learning Model in the Inclusion Class in the VB class of SD IT Al-Aufa. Bengkulu City. In this research, researchers used qualitative research. Data collection techniques use observation, interviews and documentation. With data sources from primary data, secondary data and tertiary data. Data analysis techniques consist of data collection, data reduction, data presentation, and data conclusions, as well as data validity. The results of this research show that: . The application of the learning model carried out by the Islamic Religious Education Teacher in the inclusion class in the VB class of SD IT Al-Aufa. Bengkulu City with a contextual model using an individual approach to ABK. Application of the second learning model, namely Problem Based Learning, which is suitable for use in inclusion classes. Implementation of inclusive class learning for normal and ABK children is integrated in one class without a special accompanying teacher. The implementation of contextual learning models and Problem Based Learning models in inclusion classes has not run optimally because there are no shadow teachers to accompany children with special needs. Keywords: Inclusion Classes. Learning Models. Islamic Religious Education. Abstrak Latar belakang penelitian ini adalah model pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada kelas inklusi di SD IT Al-Aufa Kota Bengkulu. Pada kenyataannya pemilihan model pembelajaran yang digunakan belum sesuai dengan kebutuhan peserta didik. tujuan dan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Kelas Inklusi di kelas VB SD IT Al-Aufa Kota Bengkulu. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dengan sumber data dari data primer, data sekunder, dan data tersier. Teknik analisis data terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan data, serta keabsahan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: . Penerapan model pembelajaran yang dilakukan oleh Guru Pendidikan Agama Islam pada kelas inklusi di kelas VB SD IT Al-Aufa Kota Bengkulu dengan model konstektual dengan menggunakan pendekatan secara individual terhadap ABK. Penerapan model pembelajaran kedua yaitu Problem Based Learning yang cocok digunakan pada kelas inklusi. Pelaksanaan pembelajaran kelas inklusi untuk anak normal dan ABK terintegrasi dalam satu kelas tanpa guru pendamping khusus. Implementasi model pembelajaran kontekstual dan model pembelajaran Problem Based Learning pada kelas inklusi belum berjalan dengan maksimal karena tidak ada shadow teacher untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus. Kata kunci: Kelas Inklusi. Model Pembelajaran. Pendidikan Agama Islam. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu hak asasi manusia yang dilindungi dan dijamin oleh berbagai instrumen hukum internasional maupun nasional. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Oleh karena itu pendidikan harus diberikan kepada setiap orang tanpa memandang perbedaan etnik/suku, kondisi sosial, kemampuan ekonomi, politik, keluarga, bahasa, geografis . tempat tinggal, jenis kelamin, agama/ kepercayaan, dan perbedaan kondisi fisik atau mental. Dalam dunia pendidikan semua orang berhak untuk belajar dan mendapatkan ilmu Pendidikan merupakan awal dari mencapai keberhasilan. Anak diajarkan membaca, menulis, berhitung, berfikir, serta mengembangkan kemampuan yang telah dimiliki dengan bimbingan pendidik yang profesional dan tidak membandingkan satu sama lainnya. Setiap anak yang terlahir di muka bumi ini adalah anugerah dan amanah yang Allah SWT titipkan dan didalam dirinya melekat harkat dan martabat manusia yang sesungguhnya dan seutuhnya. Dalam hal ini, termasuk juga anak yang berkebutuhan khusus mereka juga memiliki hak yang sama seperti anak-anak normal Dalam dunia pendidikan anak berkebutuhan khusus juga memiliki hak yang sama dalam pendidikan, mereka berhak untuk belajar, diajarkan, mendapatkan ilmu pengetahuan, dan menjadi generasi emas Indonesia. Sehingga dengan adanya kesempatan anak yang berkebutuhan khusus untuk sekolah di sekolah terdekat dan akan membantu mereka untuk membentuk kepribadian yang mandiri, berani, percaya diri, dan menjadi orang yang berhasil. Pendidikan inklusi telah menjadi gagasan yang telah dipayungi oleh kebijakan pemerintah yaitu Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Peraturan menteri tersebut memuat dengan lengkap rambu-rambu mengenai pendidikan inklusif mulai dari perencanaan hingga 2 Sehingga dengan adanya peraturan pemerintah tentang pendidikan inklusimemberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk sekolah bersama anak normal lainnya. Sekolah inklusi memiliki perbedaan dengan sekolahsekolah lainnya, dimana pendidikan khusus dibedakan menjadi 2 yaitu. Sekolah Luar Biasa (SLB) dan sekolah inklusi yang sesuai dengan kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah menteri pendidikan. Menurut Staub dan Pack sebagaimana diungkapkan kembali oleh Budiyanto, mengemukakan bahwa pendidikan inklusi adalah penempatan anak berkelainan tingkat ringan, sedang, dan berat secara penuh di regular. Hal ini menunjukkan bahwa kelas regular merupakan tempat belajar yang relevan bagi anak berkelainan, apapun jenis kelaminnya dan bagaimanapun gradasinya. 3 Dengan demikian dapat di pahami bahwa tidak ada perbedaan antara anak normal dan berkebutuhan khusus, semua memiliki hak Moch Fadhli Zhafir Maftuh. AuPendidikan Agama Islam Dalm Setting Pendidikan Inklusi,Ay Banjarbaru: Grafika Wangi Kalimantan, no. : 1Ae111. Aini Mahabbati. Pendidikan Inklusif untuk Anak Dengan Gangguan Emosi dan Perilaku (Tunalara. , (Jurnal Pendidikan Khusus. Vol. 7 No. 2, tahun 2. , h. Budiyanto, dkk. Modul Pelatihan Pendidikan Inklust. (Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional, 2. Hal 04 Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 yang sama sehingga pembelajaran inklusi ini sangat ideal karena mengajarkan anakanak untuk saling menghargai perbedaan, dari pendidikan inklusi anak-anak dapat belajar toleransi dan tidak membandingkan satu sama lainnya serta peduli terhadap Meskipun pada penempatan anak berkebutuhan khusus saat ini sudah berjalan dengan efektif atau belum efektif. Hal ini membutuhkan waktu untuk membuktikannya. Pada umumnya masih ada stigma masyarakat yang menganggap bahwa anak yang berkebutuhan khusus menjadi penghalang dan tidak layak untuk belajar dan mendapatkan ilmu pengetahuan di bangku sekolah reguler. Anak berkebutuhan khusus juga memiliki kemampuan yang sama dengan anak normal lainnya dengan diberikan pendidikan yang layak serta mereka mendapatkan bimbingan sejak awal tidak menutup kemungkinan anak berkebutuhan khusus dapat berkembang sesuai dengan potensi yang Salah satu bagian penting bagi pendidikan anak berkebutuhan khusus tersebut adalah pendidikan agama Islam. Pendidikan agama islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan siswa untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, ajaran agama islam, dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa. Oleh karena itu pendidikan agama berarti juga pembentukan manusia yang bertakwa. Di samping itu, pendidikan agama juga bertujuan agar siswa mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaranajaran agama Islam agar siswa mampu menginternalisasikan nilai-nilai ajaran agama Islam dalam pribadinya, sehingga menjadi filter dan selektor, sekaligus penangkal terhadap segala hal negatif dari kemajuan zaman dan teknologi. Dalam proses pembelajaran kelas inklusi memiliki perbedaan dengan kelas pada Sehingga dibutuhkan komponen yang mampu menunjang keberhasilan Cara mengajar kelas inklusi tentu berbeda dengan kelas regular. Dibutuhkan tenaga pendidik yang professional dan berkompeten sehingga mampu mengiringi terwujudnya visi dan misi pendidikan. Dalam kelas inklusi memiliki 2 guru yaitu guru kelas dan guru pendamping khusus untuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Antara guru kelas dan guru pendamping khusus harus mampu berkolaborasi agar bisa mewujudkan tujuan pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan. Namun pada kenyataan di lapangan masih terdapat berbagai permasalahanpermasalahan yang di alami oleh guru dalam mengajar di kelas inklusi yaitu kurangnya pemahaman guru terhadap pendidikan inklusi, sehingga dalam pembelajaran di kelas belum menggunakan model-model pembelajaran yang dapat membantu proses belajar mengajar pada kelas inklusi. Tenaga pendidik masih kurang menyesuaikan antara anak normal dan berkebutuhan khusus. Hal ini membuat peserta didik cenderung mengalami kesulitan untuk memahami materi sehingga proses pembelajaran tidak berjalan dengan efektif dan efisien. Masalah-masalah yang dihadapi siswa-siswa anak berkebutuhan khusus (ABK) mengikuti pembelajaran disekolah pada umumnya, sulit mendapatkan pelayanan pembelajaran yang bermutu oleh guru yang bermutu, bergaul, dan bekerja sama dengan teman sebayanya, kesulitan mencapai tugas-tugas perkembangannya yang seusianya Jauhar Fuad M. Maftuhin. Au502-Articles-1283-3-10-20180922Ay 3, no. : 76Ae90. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 memerlukan perbaikan layanan pendidikan, perhatian, komitmen, tindakan nyata serta dukungan penuh dari semua kalangan. Dengan demikian, sekolah penyelenggara pendidikan inklusif harus memiliki kemauan, kemampuan, dan kesiapan dalam merespon perbedaan atau keberagaman serta memahami keberadaan masingmasing siswanya salah satunya kompetensi seorang guru. Dalam proses pembelajaran, guru memerlukan wawasan-wawasan yang cukup dan utuh yang harus dipersiapkan untuk belajar mengajar. Salah satu wawasan yang harus dimiliki guru adalah model pembelajaran. Dengan demikian guru harus mengupayakan terciptanya kondisi lingkungan belajar yang dapat membelajarkan peserta didik, serta guru akan mampu melaksanakan tugasnya dengan professional sehingga pembelajaran mampu berjalan dengan baik. Pemilihan model pembelajaran harus dipertimbangkan agar dapat tercipta model pembelajaran yang baik dan tepat digunakan dalam proses pembelajaran pada kelas inklusi. Karena dalam mengajarkan anak normal dan berkebutuhan khusus sudah jelas memiliki perbedaan sehingga dibutuhkan model yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan oleh peserta SD IT Al-Aufa Kota Bengkulu merupakan salah satu sekolah yang telah menerapkan kelas inklusi di kota Bengkulu. Sebagai salah satu lembaga pendidikan yang telah menerapkan kelas inklusi yang artinya menerima anak berkebutuhan khusus dan menggabungkan dengan anak lainnya . nak norma. dalam kelas yang sama tanpa membeda-bedakan dan memandang latar belakang mereka. Melalui kelas inklusi anakanak mendapatkan hak yang sama untuk belajar, mendapatkan pendidikan yang layak, dan perhatian yang sepantasnya didapatkan di lingungan formal. SD IT Al-Aufa sudah memberikan pelayanan yang baik terhadap anak-anak berkebebutuhan khusus dengan memberikan fasilitas dan kenyamanan bagi peserta didik agar mampu belajar dengan Di samping pelayanan yang baik yang telah diberikan oleh sekolah, tentu ada beberapa permasalahan yang dihadapi di SD IT Al-Aufa yaitu masih ada guru yang belum terlalu paham dengan kelas inklusi, sehingga membuat guru kesulitan dalam mengembangkan model pembelajaran. Dari permasalahan tentang model pembelajaran yang kurang tepat digunakan dalam proses pembelajaran kelas inklusi ,maka dibutuhkan model pembelajaran yang tepat dalam mengajarkan mereka agar mampu mencapai tujuan pendidikan. Terlebih lagi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang sangat berguna bagi kehidupan mereka untuk kedepannya baik di dunia maupun di akhirat. Berdasarkan dari latar belakang masalah diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul AuModel Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Kelas Inklusi Di SD IT Al-Aufa Kota BengkuluAy. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yaitu mendeskripsi data-data yang diperoleh di lapangan. Subyek penelitian ini adalah guru Syirwana Mayasari HB and Nahdatul Hazmi. AuModel Pembelajaran Inklusi Pada Mata Pelajaran Ips Terpadu Di Smp Negeri 4 Payakumbuh,Ay HISTORIA Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah 6, no. : 161, Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 Pendidikan Agama Islam. Guru Kelas VB. Guru Wakil Kurikulum, dan Kepala Sekolah, yaitu SD IT Al-Aufa Kota Bengkulu. Teknik pengumpulan data pertama observasi langsung di kelas inklusi pada kelas VB untuk menyaksikan Guru pendidikan Agama Islam mengajar dalam kelas. Kedua, wawancara kepada kepala sekolah untuk informasi awal, guru kelas untuk melihat pendapat tentang terhadap anak berkebutuhan khusus dalam belajar, guru Pendidikan Agama Islam untuk mengetahui Model Pembelajaran yang digunakan, guru Wakil Kurikulumuntuk mengetahui kurikulum yang dirancang, serta mengetahui penilaian terhadap anak berkebutuhan khusus. Ketiga. Dokumentasi digunakan sebagai data penunjang dalam penelitian ini, meliputi data jumlah siswa, gambar kegiatan dan lain Penelitian ini mengunakan teknik purposive sampling. Karena sampel yang diambil untuk mengetahui tentang masalah yang akan diteliti oleh peneliti. Sedangkan sumber data peniliti menggunakan data primer, data sekunder, dan data tersier. Selanjutnya teknik analisa data menggunakan konsep Miles. Matthew B. dan A. Michael Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi. Untuk menguji kesahihan data peneliti menggunakan teknik triangulasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Wawancara dilakukan bersama guru Pendidikan Agama Islam, guru kelas VB, dan guru Wakil Kurikulum untuk mendapatkan data-data mengenai masalah yang diteliti. Model pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Kelas Inklusi di Kelas VB SD IT Al-Aufa Kota Bengkulu Model pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan Model pembelajaran yang diterapkan pada kelas inklusi di kelas V di SD IT Al-Aufa Kota Bengkulu dalam proses pembelajaran yang menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Karena di dalam satu kelas ada anak yang berkebutuhan khusus dan anak normal, maka guru harus dapat memilih model yang tepat. Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada kelas inklusi kelas VB guru sudah menerapkan model pembelajaran kontekstual dan Problem Based Learning. Model yang digunakan disesuaikan dengan kemampuan dan potensi peserta didik. Dengan memperhatikan kemampuan dan potensinya tersebut diharapkan siswa berkebutuhan khusus memiliki pemahaman yang baik terhadap materi yang diajarkan guru di dalam kelas sama halnya dengan anak normal lainnya. Dengan adanya pemilihan model pembelajaran, tujuan dari pembelajaran akan mudah tersampaikan dan dipahami oleh peserta didik. Model Pembelajaran Konstektual Dari hasil wawancara dengan Guru Pendidikan Agama Islam kelas VB. Bapak Divta Fatrhoni diperoleh data dalam pembelajaran pada kelas inklusi kelas VB di SD IT Al-Aufa Kota Bengkulu guru Pendidikan Agama Islam telah menjelaskan bahwa dalam proses pembelajaran menggunakan model pembelelajaran konstektual. Dari model pembelajaran tersebut memiliki beberapa dasar teori yang menjadi acuan dan pedoman dalam menggunakan model tersebut. Mengenai dasar teori, peneliti menanyakan teori siapa yang dipakai oleh guru Pendidikan Agama Islam. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti, teori pembelajaran yang digunakan Bapak Roni selaku guru Pendidikan Agama Islam kelas V di SD IT Al-Aufa Kota Bengkulu yaitu teori dari Peaget dan Vygotsky. Dari penelitian ini, guru PAI belum terlalu mengetahui terlalu dalam tentang teorinya sehingga belum dapat terlaksana dengan baik. Gagasan penting lain dalam pembelajaran yang diangkat dari teori Vygotsky memberikan sejumlah bantuan kepada anak pada tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian menguranginya sedikit demi sedikit, dan memberi kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab tersebut saat mereka dinilai telah Bantuan tersebut berupa petunjuk, peringatan dorongan, menguraikan masalah pada langkah-langkah pemecahan, memberi contoh, atau hal-hal lain yang memungkinkan peserta didik tumbuh mandiri. Menurut teori ini pengetahuan tidak hanya sekadar dipindahkan secara verbal tetapi harus dikonstruksi dan direkonstruksi oleh peserta didik. Sebagai realisasi teori ini, maka dalam kegiatan pembelajaran peserta didik haruslah bersifat aktif. 6 Oleh karena itu, dalam model pembelajaran konstektual berdasarkan teori ini guru PAI dalam upaya meningkatkan kualitas kognitif peserta didik kelas inklusi di kelas V SD IT Al-Aufa Kota Bengkulu, maka pendidik dalam melaksanakan pembelajaran harus lebih ditujukan pada kegiatan pemecahan masalah atau latihan meneliti dan menemukan. Pembelajaran Kontekstual (CTL) adalah suatu pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata. 7 Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni kontruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian Dalam penerapan model pembelajaran konstektual Pendidikan Agama Islam pada kelas inklusi kelas VB meliputi 7 komponen diantaranya: Kontrukstivisme Konstruktivisme merupakan landasan kontekstual, yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba. Sehingga guru PAI di SD IT Al-Aufa Kota Bengkulu tidak hanya mengajar sebatas formalitas tapi harus tersampaikan dan dipahami oleh peserta didik. sehingga dengan adanya landasan filosofis kontrukstivisme, peserta didik akan belajar dengan mengalami bukan menghafal. Nurdyansyah and Eni Fariyatul Fahyuni. Inovasi Model Pembelajaran (Nizamia Learning Center. Mazrur. Contextual Teaching and Learning Dan Gaya Belajar. Implikasi Pada Hasil Belajar Mata Pelajaran Fikih (CV. Media Edukasi Indonesia, 2. Nani Aprilia Sasi Meiyani. AuEvaluasi Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual Oleh Guru Pada Mata Pelajaran Biologi Kelas VII Tahun Ajaran 2013 / 2014 Di SMP Muhammadiyah 8 Yogyakarta,Ay JUPEMASI-PBIO 1, no. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 Dari hasil wawancara diperoleh bahwa guru PAI menjelaskan ke peserta didik lalu memberikan contoh nyata ke mereka. Dan mengupayakan peserta didik terlibat aktif baik itu anak normal maupun berkebutuhan khusus supaya mereka bisa membangun pengetahuan di dalam dirinya Menemukan . Menemukan . merupakan inti bahwa suatu pengetahuan didapat tidak hanya melalui mengingat atau hafalan tetapi bersumber dari menemukan sendiri dengan pengalaman peserta didik. sehingga dari hasil penelitian guru PAI memberikan ilustrasi kepada peserta didik agar mereka mampu memahami materi yang disampaikan oleh guru. Bertanya Berdasarkan wawancara dan penilitian guru PAI berusaha melibatkan peserta didik. sehingga dalam proses pembelajaran berlangsung, guru PAI sering melontarkan pertanyaan dan di jawab oleh peserta didik. Tanya jawab yang dilakukan bukan hanya antara pendidik dan peserta didik, tapi juga antara peserta didik dan peserta didik. Pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik bermula dari bertanya. Guru PAI pada kelas inklusi berusaha membuat pembelajaran yang aktif dengan kegiatan yang mendorong dan membimbing peserta didik untuk bertanya. Dengan demikian, pembelajaran jadi lebih hidup, berproses, dan hasil pembelajaran menjadi lebih luas dan Masyarakat Belajar . earning communit. Masyarakat belajar yang menjadi wadah untuk peserta didik saling berkomunikasi. Dan menanamkan kerjasama dengan teman. Untuk menanamkan kerjasama guru PAI membuat kelompok kecil untu mereka berdiskusi. anak berkebutuhan khusus dikelompokkan dengan anak yang memiliki pengetahuan dan kemampuan lebih dalam memahami materi supaya bisa saling membantu. Peserta didik yang pandai akan mengajari peserta didik slow learned, peserta didik yang sudah tahu akan memberi tahu pada yang belum mengetahui. Pemodelan atau modeling Pemodelan adalah acuan dalam mencapai kompetensi yang dapat dijadikan sebagai contoh yang dapat di tiru. Konsep ini berhubungan dengan materi yang disampaikan oleh pendidik agar peserta didik dapat mencontohnya. Dalam hal ini guru PAI kelas VB SD IT Al-Aufa Kota Bengkulu merancang dengan melibatkan peserta didik sebagai model untuk mencontohkan kepada teman sekelasnya, seperti shalat sehingga peserta didik dalam melihat dan memahami gerakan shalat yang benar. Refleksi . Berdasarkan hasil penelitian refleksi telah dilakukan pada saat awal dan akhir Terkadang, pelaksanaan refleksi menghadapi hambatan dan tidak dapat dilakukan, terutama saat melakukan refleksi setelah memberikan materi karena keterbatasan waktu pelajaran. Refleksi berarti melihat kembali suatu kegiatan, pengalaman dan kejadian yang telah dipelajari dengan apa yang baru dipelajari. Penilaian yang sebenarnya . uthentic assessmen. Komponen terakhir dari model pembelajaran konstektual yaitu penilaian. Yang dimana penilaian dilakukan dengan cara keseluruhan. Sebagaimana hasil wawancara diperoleh bahwa dalam proses penilaian guru PAI bukan hanya dilihat ketika UTS dan Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 UAS. Tapi juga dari keaktifan mereka ketika belajar, kemampuan, keterampilan dan pengetahuan yang mereka miliki. Dalam pelaksanaan pembelajaran pendidik harus memiliki kemampuan merumuskan tujuan pembelajaran, seperti meningkatkan kemampuan akademik dan lebih-lebih meningkatkan kemampuan bekerja sama. Selain itu pendidik dituntut mempunyai keterampilan mengatur tempat duduk, pengelompokan anak dan besarnya anggota kelompok. Langkah pembelajaran dilaksanakan dengan sistematis dan Dari hasil penelitian dan wawancara. Sintak atau langkah pembelajaran guru PAI pada model pembelajaran konstektual diantaranya adalah: Langkah awal dalam pembelajaran pendidikan agama islam adalah pemodelan atau Pada langkah ini pendidik menyampaikan apersepsi, tujuan, dan motivasi untuk belajar. Langkah berikutnya adalah inquiry. Pada langkah ini terdiri dari pengidentifikasian, analisis, observasi, serta hipotesis yang akan dilakukan oleh peserta didik. Pendidik akan membimbing peserta didik untuk berfikir kritis. Setelah langkah inquiry selanjutnya adalah bertanya . dengan mengembangkan sifat ingin tahu peserta didik. Kegiattan bertanya ini biasanya dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik terkait materi yang dipelajari. Langkah selanjutnya yaitu masyarakat belajar. Pendidik membuat kelompok. Dalam tahap ini, peserta didik saling bekerja sama dan membantu anak slow learned. Sehingga semuanya mampu aktif dalam kelas. Langkah berikutnya kontruksivisme. Tahap ini peserta didik membuat pengertian atau definisi sendiri dari materi yang telah mereka pelajari. Sehingga dari langkah kontruksivisme, peserta didik membangun pemahamannya sendiri dan mengonstruksi konsep yang ada. Kegiatan akhir dalam pembelajaran yaitu melakukan refleksi. Pada model konstektual pendidik membimbing anak normal dan berkebutuhan khusus untuk melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Siswa diberikan kesempatan untuk mencerna, menilai, membandingkan, menghayati pelajaran yang telah dilakukan. Selanjutnya adalah penilaian yang disesuaikan dengan model konstektual yang bukan hanya menilai hasil belajarnya saja tetapi juga proses. Maka penilaian yang dilakukan oleh guru PAI yaitu penilaian sikap, keaktifan ketika materi berlangsung, keterampilan dan juga pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik. Selanjutnya dari hasil penelitian yang dilakukan ditemukan adanya langkah pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik dan tidak boleh ada yang tertinggal selama proses pembelajaran. Agar pembelajaran berjalan dengan sempurna maka guru PAI mengurutkan langkah pembelajaran yang telah ditentukan. Hasil yang diperoleh oleh peneliti, bahwa langkah pembelajaran yang digunakan oleh guru PAI belum berjalan dengan maksimal karena keterbatasan waktu dalam mengajarkan materi kepada keseluruhan peserta didik dan kembali menjelaskan kepada ABK agar mereka memahami materi. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 Model Pembelajaran Problem Based Learning Dari penelitian dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti, model pembelajaran yang kedua yaitu model pembelajaran Problem Based Learning. Guru PAI tidak hanya fokus ke satu model pembelajaran tapi juga menggunakan model pembelajaran yang menyesuaikan dengan materi pembelajaran. Problem Based Learning adalah konsep pembelajaran yang membantu guru menciptakan lingkungan pembelajaran yang dimulai dengan masalah yang penting dan relevan . ersangkut-pau. bagi peserta didik, dan memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih realistik . 9 Pembelajaran Problem Based Learning menekankan keterlibatan peserta didik, mengharuskan mereka untuk secara aktif memecahkan masalah kehidupan nyata. Model ini menonjolkan pemanfaatan isu-isu dunia nyata sebagai komponen pembelajaran penting, yang bertujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik secara bersamaan. Pada Model Pembelajaran Problem Based Learning, peserta didik mencari berbagai macam solusi dari suatu masalah yang berkaitan dengan materi pembelajaran atau yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Ciri khas dari Model Pembelajaran Problem Based Learning yaitu pada kegiatan pembelajarannya peserta didik melaksanakannya secara berkelompok yang jumlah kelompoknya disesuai dengan materi pembelajaran yang akan dipelajari pada saat itu. Dari hasil wawancara yang dilakukan bersama guru Pendidikan Agama Islam dalam model pembelajaran Problem Based Learning di dukung oleh teori-teori belajar dan perkembangan. Teori yang menjadi landasan pengembangan Model Pembelajaran Problem Based Learning Peaget yang mana pendidik melibatkan peserta didik bereksperimen, memanipulasi sesuatu, mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban sendiri, membandingkan hasil temuan dengan pengalamannya serta membandingkan hasil temuannya dengan hasil temuan peserta didik yang lain. Menurut juwantara pada jurnal Resti Ardianti, dkk. Teori perkembangan kognitif Piaget menyimpulkan bahwa manusia bukanlah mahluk hidup yang pasif dalam perkembangan genetik. Namun, perkembangan genetik menjadi aktif karena adanya penyesuaian terhadap lingkungan dan interaksinya dengan lingkungan. Teori perkembangan Piaget meliputi konsep skema, asimilasi, akomodasi, organisasi, dan ekuilibrasi. Selanjutnya hasil dari wawancara bersama Bapak Rhoni yang telah merancang langkah pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara langkah pembelajaran yang dilakukan oleh Bapak Rhoni sejalan dengan Ibrahim dan Nur pada buku Model-Model Pembelajaran Inovatif, yaitu:11 . Orientasi siswa kepada masalah Menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menjelaskan logistik yang dibutuhkan, serta memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilihnya. Siswa merumuskan masalah yang akan dipecahkan. Mengorganisasi siswa untuk belajar Herminato Sofyan. Problem Based Learning Dalam Kurikulum 2013 (UNY Press, 2. Resti Ardianti. Eko Sujarwanto, and Endang Surahman. AuProblem-Based Learning: Apa Dan Bagaimana,Ay Diffraction 3, no. : 27Ae35, https://doi. org/10. 37058/diffraction. Ismet Basuki. Model Model Pembelajaran Inovatif (Surabaya: Unesa University Press, 2. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 Membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan kegiatan pembelajaran yang berhubungan dengan masalah tersebut. Siswa merancang pemecahan masalah sesuai permasalahan yang telah dirumuskan. Membimbing penyelidikan Individual maupun kelompok yaitu mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan observasi/eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Siswa berdiskusi berbagi informasi setelah mencari dan mengumpulkan informasi yang diperlukan dari berbagai sumber untuk memecahkan masalah. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Yaitu membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, poster, puisi dan model yang membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya. Siswa menampilkan karyanya/menjelaskan hasil kegiatan pemecahan masalahnya. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. Siswa melakukan refleksi/evaluasi terhadap kegiatan pemecahan masalah yang telah dilakukan. Berdasarkan langkah-langkah tersebut tentunya akan membuat peserta didik mampu memecahkan permasalahan yang terjadi pada setiap proses pembelajaran, memudahkan peserta didik dalam menerima materi dan proses pembelajaran menjadi menyenangkan. pendidik mampu menerapkan Model Pembelajaran Problem Based Learning dengan efektif dan efisien dengan melakukan beberapa alur atau langkah yang harus dilakukan oleh seorang pendidik khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Pelaksanaan Pembelajaran Selanjutnya dari penelitian dan wawancara yang dilakukan dengan guru PAI. Metode pembelajaran yang digunakan guru Pendidikan Agama Islam pada kelas Inklusi menyesuaikan dengan taraf kemampuan kognitif peserta didik. Adapun metode pembelajaran yang digunakan Bapak Roni dalam pembelajaran PAI di kelas inklusi diantaranya yaitu: metode ceramah, diskusi, komunikasi, dan pemberian Pemilihan metode pembelajaran ini cukup efektif diterapkan dikelas inklusi. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa guru PAI dalam pemilihan metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru PAI menurut peneliti sudah tepat. Ketika pendidik menjelaskan materi menggunakan metode ceramah dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak berkebutuhan khusus dan anak normal. Akan tetapi dari hasil penelitian ketika pendidik menggunakan metode ceramah masih banyak siswa yang rebut dan tidak memperhatikan. Setelah itu pendidik menggunakan metode diskusi. Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang oleh suatu keterkaitan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau masalah dimana. para peserta diskusi berusaha untuk mencapai suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama maupun pemecahan terhadap suatu. dengan mengemukakan sejumlah data dan argumentasi. Sehingga dalam kelas Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 inklusi metode ini sangat cocok diguanakan dan membuat peserta didik kelas VB menjadi aktif. Selanjutnya metode pemberian tugas yang digunakan guru PAI dengan tujuan untuk mengetahui pengetahuan yang mereka miliki terkait materi yang telah dijelaskan dan dipelajari. Berikutnya berdasarkan hasil penelitian dan wawancara, pelaksanaan pembelajaran di SD IT Al-Aufa Kota Bengkulu anak normal dan berkebutuhan khusus disatukan dalam satu kelas yang sama. Di kelas inklusi tidak ada guru pendamping khusus . hadow teache. Anak berkebutuhan khusus hanya didampingi oleh guru kelas dan guru mata pelajaran. Pelaksanaannya sama dengan pada umumnya dimulai dari pembukaan, inti, dan penutup. Pada kegiatan awal yaitu pembukaan, pendidik mengajak peserta didik untuk membaca doAoa. kemudian pendidik melakukan apersepsi. Apersepsi dalam proses pembelajaran ialah ide psikologi dan pendidikan yang fokus pada pemahaman awal atau pengetahuan sebelumnya yang dimiliki oleh seseorang, terutama peserta didik, sebelum memasuki suatu materi pelajaran. Pada tahap pengantar ini, guru kelas menyampaikan pertanyaan pengetahuan yang terkait dengan materi sebelumnya dan materi yang akan dibahas, baik untuk siswa reguler maupun ABK. Meskipun jenis pertanyaan yang diberikan sama untuk siswa reguler dan ABK, namun untuk ABK akan diberikan bimbingan atau petunjuk dalam menjawab pertanyaan, dibantu oleh guru pendamping kelas, dan pertanyaannya sedikit dimodifikasi agar lebih mudah dipahami oleh anak. Selain itu, guru PAI juga mengkomunikasikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan menjelaskan kegunaan materi yang akan disampaikan. Selanjutnya berdasarkan hasil penelitian pendidik memasuki kegiatan inti dengan menjelaskan materi pembelajaran. Dapat diketahui guru PAI menggunakan metode ceramah. Selanjutnya guru PAI memasuki kegiatan diskusi dengan melibatkan peserta didik. Pendidik memanfaatkan pertanyaan guna mengaktifkan pemikiran kritis dan reflektif peserta didik, mendorong mereka untuk menjelajahi materi pelajaran dengan lebih mendalam. Pendidik juga melakukan pendekatan terhadap anak berkebutuhan khusus secara individual untuk menjelaskan secara ulang agar anak tersebut mampu memahami materi. Setelah itu guru membentuk kelompok untuk peserta didik bekerja sama. Anak berkebutuhan khusus dikelompokkan dengan anak yang memiliki kemampuan pengetahuan yang lebih agar bisa saling menolong. Dan yang terakhir evasluasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada kelas inkusi di kelas V SD IT Al-Aufa Kota Bengkulu. Evaluasi merupakan tindakan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Pendidik dengan penuh kesadaran melaksanakan evaluasi untuk memastikan pencapaian keberhasilan belajar anak normal dan berkebutuhan khusus dan memberikan umpan balik mengenai apa yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran yang diterapkan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, evaluasi pembelajaran yang digunakan guru Pendidikan Agama Islam pada kelas inklusi di kelas VB di SD IT Al-Aufa Kota Bengkulu adalah tes tertulis dan tes lisan. Tes tertulis adalah serangkaian pertanyaan atau tugas yang menuntut jawaban atau Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 respon dalam bentuk tulisan atau tertulis untuk mengukur kecakapan peserta Dalam pelaksanaan tes tertulis, pendidik memberikan dalam 2 bentuk soal yaitu soal ganda dan essay. Soal yang diberikan kepada anak berkebtuhan khusus memiliki perbedaan, karena menyesuaikan dengn kemampuan yang mereka miliki. Sehingga soal bagi anak berkebutuhan khusus lebih mudah dibandingkan anak Sedangkan tes lisan merupakan suatu bentuk tes yang menuntut jawaban peserta didik dalam bentuk bahasa lisan. 13 Dalam bentuk tes lisan pendidik memberikan pertanyaan, yang dijawab oleh peserta didik dengan bahasanya sendiri. Bagi anak berkebutuhan khusus pendidik melakukan modifikasi soal sesuai dengan kemampuan anak. Pendidik seringkali mengajukan pertanyaan secara berulang sampai peserta didik tersebut mengerti dan memahami pertanyaan. KESIMPULAN Berdasarkan uraian dari pembahasan tiap bab diatas, skripsi dengan judul AuModel Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Kelas Inklusi di SD IT Al-Aufa Kota BengkuluAy yang berfokuskan meneliti di kelas VB. Maka dapat disimpulkan bahwa: Penerapan model pembelajaran yang dilakukan oleh Guru Pendidikan Agama Islam pada kelas inklusi di kelas VB SD IT Al-Aufa Kota Bengkulu dengan model konstektual, dapat memudahkan pendidik untuk lebih efektif mengajar dengan mengaitkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata peserta didik, sehingga meningkatkan pemahaman dan keterlibatan peserta didik kelas inklusi. Guru melakukan strategi dan pendekatan secara individual kepada peserta didik berkebutuhan khusus. Penerapan model pembelajaran pada kelas inklusi tidak hanya menggunakan satu model, tapi juga menggunakan model yang menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. seihngga jenis model pembelajaran kedua yang digunakan guru Pendidikan Agama Islam adalah Model Pembelajaran Problem Based Learning yang cocok digunakan dalam kelas inklusi untuk menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, baik itu anak normal maupun berkebutuhan Pelaksanaan pembelajaran kelas inklusi untuk anak normal dan berkebutuhan khusus terintegrasi dalam satu kelas tanpa guru pendamping khusus. Implementasi model pembelajaran kontekstual dan model pembelajaran Problem Based Learning pada kelas inklusi dalam pelaksanaannya belum maksimal karena tidak ada guru shadow teacher yang mendampingi anak berkebutuhan khusus sehingga keterbatasan waktu Guru Pendidikan Agama Islam dalam menjelaskan materi karena terbagi setelah menjelaskan kepada seluruh siswa dalam kelas, guru Pendidikan Agama Islam Juga harus menjelaskan ulang kepada anak-anak. Mindani. Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). PenerbitElmarkazi, 2022. Muhamad Mustaqim. AuModel Evaluasi Pembelajaran Stain Kudus (Studi Kasus Sistem Evaluasi Pembelajaran Dosen Prodi Manajemen Bisnis SyariAoAh Stain Kudu. ,Ay Quality 5, no. : 155, https://doi. org/10. 21043/quality. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 DAFTAR PUSTAKA