http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Artikel Penelitian Accuracy of the Trauma and Injury Severity Score (TRISS) in the Predicting Mortality of Emergency Patients: Focus on Evaluation at Three Critical Time Intervals Fenny Tianda1. Syahrun2. Kumboyono3. Suryanto4 Abstrak Pendahuluan: Trauma merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas global, termasuk di Indonesia. Sistem skoring trauma seperti Trauma and Injury Severity Score (TRISS) dan Injury Severity Score (ISS) digunakan untuk memprediksi mortalitas pasien trauma, namun efektivitasnya perlu dievaluasi di berbagai rentang waktu Tujuan: Menilai akurasi TRISS dalam memprediksi mortalitas pasien trauma di Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada jam ke-6, 24, dan 48 setelah kejadian trauma, dengan ISS sebagai gold standard. Metode: Penelitian uji diagnostik cross-sectional dilakukan di RSUD IA Moeis Samarinda (JanuariAeMaret 2. dengan sampel 166 pasien trauma . riteria inklusi: usia >16 tahun, data lengkap. eksklusi: Death On Arrival, penyakit penyert. Data dianalisis menggunakan uji SpearmanAos rho, kurva ROC, serta par TRISS menunjukkan sensitivitas sangat tinggi . ,9%) di semua rentang waktu, dengan nilai AUC optimal . ,973Ae0,. , mengindikasikan kemampuan prediktif yang sangat Spesifisitas TRISS meningkat dari 77,1% . am ke-. menjadi 85,7% . am ke-. Akurasi TRISS juga tinggi . ,7Ae93,3%), melebihi ISS . ,5%). Korelasi signifikan ditemukan antara skor trauma dengan mortalitas . <0,. ameter sensitivitas, spesifisitas. Positive Predictive Value (PPV). Negative Predictive Value (NPV), dan Hasil: TRISS menunjukkan sensitivitas sangat tinggi . ,9%) di semua rentang waktu, dengan nilai AUC optimal . ,973Ae0,. , mengindikasikan kemampuan prediktif yang sangat baik. Spesifisitas TRISS meningkat dari 77,1% . am ke-. menjadi 85,7% . am ke-. Akurasi TRISS juga tinggi . ,7Ae93,3%), melebihi ISS . ,5%). Korelasi signifikan ditemukan antara skor trauma dengan mortalitas . <0,. Kesimpulan: TRISS unggul dalam memprediksi mortalitas pasien trauma di IGD, terutama pada evaluasi jam ke-48, dengan sensitivitas dan akurasi yang Rekomendasikan penggunaan TRISS untuk triase awal dan manajemen pasien trauma di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas Kata kunci: TRISS. ISS, mortalitas, trauma. IGD. Abstract Introduction: Trauma is the leading cause of global morbidity and mortality, including in Indonesia. Trauma scoring systems such as the Trauma and Injury Severity Score (TRISS) and Injury Severity Score (ISS) are used to predict the mortality of trauma patients, but their effectiveness needs to be evaluated across various critical time frames. Objective: To assess the accuracy of TRISS in predicting mortality of trauma patients in the Emergency Department (IGD) at the 6th, 24th, and 48th hours after the trauma event, with ISS as the gold standard. Methods: A crosectional diagnostic test study was conducted at IA Moeis Samarinda Hospital (JanuaryAeMarch 2. with a sample of 166 trauma patients . nclusion criteria: age >16 years, complete data. exclusion: Death On Arrival, comorbiditie. Data analyzed using Spearman's rho test. ROC curve, and TRISS par showed very high sensitivity . 9%) across all time ranges, with optimal AUC values . 973Ae0. , indicating excellent predictive ability. The specificity of TRISS increased from 77. 1% . th hou. 7% . th hou. The accuracy of TRISS is also high . 7Ae93. 3%), outperforming ISS . 5%). A significant correlation was found between trauma scores and mortality . <0. sensitivity ameters, specificity. Positive Predictive Value (PPV). Negative Predictive Value (NPV), and Results: TRISS exhibits very high sensitivity . 9%) across all time frames, with optimal AUC values . 973Ae0. , indicating excellent predictive capabilities. The specificity of TRISS increased from 77. 1% . th hou. to 7% . th hou. The accuracy of TRISS is also high . 7Ae93. 3%), outperforming ISS . 5%). A significant correlation was found between trauma scores and mortality . <0. Conclusions: TRISS excels in predicting mortality of trauma patients in the emergency room, especially at the 48th hour evaluation, with stable sensitivity and Recommend the use of TRISS for early triage and trauma patient management in resourced healthcare Keywords: TRISS. ISS, mortality, trauma, emergency room Submitted : 24 April 2025 Revised: 13 June 2025 Affiliasi penulis : 1 RSUD. Moeis. Samarinda, 2 Laboratorium Gadar Kritis Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. Samarinda, 3,4 Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Brawijaya. Malang Korespondensi : AuSyahrunAy nerssamarinda@gmail. Telp: 6285878000003 Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Accepted: 25 June 2025 PENDAHULUAN Trauma merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di berbagai negara. Di seluruh dunia tiga perempat kematian karena kecelakaan Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 pembunuhan, dua pertiga karena perang. Dampak dari trauma tidak hanya terbatas pada angka kematian, tetapi juga mencakup cacat jangka panjang serta beban keuangan yang signifikan. Oleh karena itu, penerapan penilaian trauma yang efisien dan sesuai dengan pedoman yang ada sangat penting dalam upaya mengurangi angka kematian dan morbiditas yang terkait dengan trauma. Skor trauma dapat berfungsi mengevaluasi keparahan cedera, dengan memanfaatkan pengetahuan dan metode penilaian yang tepat, yang pada gilirannya dapat memandu pengobatan yang sesuai dan meningkatkan hasil bagi pasien trauma . Tingginya angka kematian dan morbiditas pada pasien trauma disebabkan oleh berbagai faktor yang meningkatkan risiko komplikasi dan prognosis yang buruk. Keparahan cedera berpengaruh signifikan terhadap prognosis. cedera yang lebih parah, terutama yang melibatkan sistem saraf pusat atau kehilangan darah yang besar, memiliki risiko kematian yang lebih tinggi. Selain itu, penundaan dalam penanganan medis, seperti keterlambatan mempengaruhi hasil akhir. Untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas pada pasien trauma, penting untuk melaksanakan penilaian trauma yang efisien dan menyeluruh. Salah satu alat yang digunakan dalam penilaian ini adalah sistem skoring trauma, yang dirancang untuk membantu dalam pengambilan keputusan . Penelitian menunjukkan bahwa sistem skoring trauma mengevaluasi keparahan trauma dan memilih manajemen yang tepat. Namun, sebagian besar penelitian ini dilakukan di negara-negara dengan pendapatan tinggi, sepenuhnya dapat diterapkan di negaraFakultas Kedokteran Universitas Mulawarman negara dengan keterbatasan sumber daya . Penelitian yang dilakukan oleh Mehmood et al. , . menunjukkan adanya hampir 60 ukuran keparahan atau sistem skor yang dikembangkan untuk penelitian cedera dan trauma. Hal ini mengukur tingkat keparahan cedera dan kebutuhan untuk memiliki penilaian yang Kompleksitas dalam penilaian mengharuskan pengembangan berbagai sistem penilaian atau skor yang didasarkan pada pola cedera anatomi, data fisiologis, . Beberapa contoh skor menggunakan pola anatomi yaitu: AIS (Abbreviated Injury Scal. ISS (Injury Severity Scor. Modified ISS. Anatomic Profile. ICISS (International Classification of Diseases-based Injury Severity Scor. Sedangkan mengunakan skor pola fisiologis yaitu : RTS . evised Trauma Scor. APACHE (Acute Physiology and Chronic Health Evaluatio. GCS (Glasgow Coma Scal. and PGCS (Paediatric Glasgow Coma Scal. Prognostic Index Trauma Score. Acute Trauma Index. Triage Index. Contoh yang menggunakan kombinasi keduanya TRISS (Trauma and Injury Severity Scor. Polytrauma-Schussel. Trauma Index, dan ASCOT (A Severity Characterization of Traum. Studi yang dilakukan oleh Mehmood et al. , . mengungkapkan bahwa di Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan sumber daya kesehatan terbatas, dan menggunakan beberapa sistem penilaian trauma/cedera yang pragmatis dan efektif telah digunakan. Sistem penilaian yang dilaporkan meliputi ISS. AIS. TRISS. GCS. REMS. ISS selama ini banyak digunakan sebagai baku emas . old standar. dan umum digunakan dibanyak negara untuk mengevaluasi status pasien trauma dan hidup. Meskipun ISS efektif dalam Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 memberikan informasi mengenai tingkat keparahan cedera, ada kendala dalam menerapkannya pada pasien saat survei primer di unit gawat darurat. Proses perhitungan skor ISS membutuhkan waktu dan rincian yang mungkin tidak tersedia atau praktis untuk sebagian besar pasien dengan trauma berat. Oleh karena itu, disarankan untuk menghitung skor ISS dalam 24 jam setelah pasien masuk ke unit trauma untuk membatasi potensi mereka dalam utilitas triase. Berbeda dengan ISS. TRISS menyintesis mekanisme cedera, faktor fisiologis, dan faktor anatomi dalam penilaian tingkat keparahan cedera . TRISS melibatkan faktor-faktor seperti usia pasien, respons fisiologis, dan skor ISS dalam menghasilkan prediksi prognosis yang lebih holistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TRISS seringkali menjadi pilihan utama dengan nilai prediksi yang sangat tinggi, seperti AUC (Area Under the Curv. sekitar 785 untuk memprediksi kematian dan AUC 856 untuk memprediksi kebutuhan pasca-operasi. Penelitian lain mengukuhkan peran TRISS sebagai prediktor yang sangat efektif dalam memprediksi kematian, dengan AUC 972, menjadikannya salah satu skor paling akurat dalam penilaian risiko kematian pada pasien trauma. Beberapa pandangan berbeda dalam penelitian, seperti yang dilakukan oleh Mohammed . dan Vorbeck et al . , menyatakan bahwa skor trauma tersebut tidak memiliki perbedaan signifikan dalam memprediksi kematian pasien trauma. Pandangan menurut pandangan mereka, pemilihan skor trauma menjadi lebih fleksibel karena ketiganya dapat digunakan dengan hasil yang serupa. Namun, mereka juga menyoroti pentingnya mempertimbangkan keterbatasan masing-masing skor dan faktor-faktor tambahan dalam memprediksi Namun, pandangan yang berbeda, seperti yang dinyatakan oleh Indurkar et al. , . , yang Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman menganggap bahwa meskipun TRISS sangat mendukung dalam memprediksi kematian. ISS kurang mendukung hal Oleh karena itu, pemilihan indeks yang paling sesuai dan terpercaya harus dipertimbangkan dengan saksama dalam penanganan dan luaran yang lebih baik bagi pasien cedera . Data dari RSUD IA Moeis di Samarinda urgensi penerapan sistem penilaian trauma yang andal. Pada tahun 2022. RSUD IA Moeis menerima 33. 574 pasien dengan 906 di antaranya merupakan kasus trauma. Dari kasus-kasus tersebut, distribusi jenis trauma merupakan luka terbuka, 11% reaksi alergi, 5% fraktur, 9% kasus lainnya yang terkait dengan kondisi khusus, 5% luka superfisial, 7% memar, 2% luka bakar, dan 13% termasuk kategori lain. Angka kematian ratarata mencapai 2Ae3 per 1000 pasien, yang mana melebihi standar SPM (Standar Pelayanan Minima. yang ditetapkan kurang dari 2 per 1000 pasien. Evaluasi Net Death Rate (NDR) yang dilakukan dalam 48 jam pertama pasca penerimaan mengindikasikan layanan dan manajemen trauma di IGD. Dalam studi ini keunikannya pada evaluasi yang dengan multi-waktu TRISS, dengan sumber daya terbatas dan rekomendasi spesifik untuk triase awal. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk melihat efektivitas TRISS sebagai alat prediksi angka kematian pasien trauma di Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang diperoleh pada pengukuran jam ke-6, 24, dan 48. Tujuan penelitian adalah menelusuri sensitivitas, spesifisitas, nilai duga, dan akurasi skor traumaAiterutama TRISSAidalam kematian pasien trauma di Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada tiga titik waktu, yaitu pada jam ke-6, jam ke-24, dan jam ke-48 pasca perawatan. Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Tabel 1 Tabulasi Silang 2 kategori: METODE Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian uji diagnostik dengan pendekatan studi cross-sectional. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan pada periode Januari 2024 sampai dengan Maret 2024 dan waktu evaluasi terbagi dalam 6 jam, 24 jam dan 48 jam di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Inche Abdul Moeis Samarinda. Populasi dan Sampel Peneliti mengamati total 199 pasien, namun terdapat 33 data yang tidak dimasukkan dengan rincian yaitu data pasien trauma dengan penyakit penyerta . , tidak lengkap dokumentasi tandatanda vital . , tidak lengkap dokumentasi kondisi cedera . , tidak terdokumentasi No. RM rekam medis . Sehingga jumlah data yang masuk dalam kriteria inklusi penelitian berjumlah 166 pasien. Tehnik sampling yang non-probability menggunakan convenience / accidental Dengan kriteria inklusi: pasien trauma dengan data lengkap. usia di atas 16 dan kritera eksklusi: pasien dengan Death On Arrival (DOA). pasien trauma dengan penyakit penyerta. Instrumen Untuk mengumpulkan data primer dari TRISS peneliti menggunakan lembar observasi yang telah berisi informasi mengenai pasien yang telah di isi oleh peneliti/enumerator. Data yang terkumpul selanjutnya dimasukkan dalam kalkulator online, yaitu http://w. Analisis data univariat dilakukan pada karakteristik responden dan skoring trauma. Analisis SpearmanAos rho. Untuk menganalisis sensitivitas, spesifisitas, akurasi, nilai duga positif dan negatif menggunakan rumus uji Menurut Putra et al. , . dalam penelitian uji diagnostik dan skrining dimana test uji berskala data nominal 2 kategori maka hasil pengamatan disajikan dalam bentuk tabulasi silang 2 kategori sebagai berikut: Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Berdasarkan tabulasi silang tersebut maka dapat didefinisikan terlebih dahulu arti dari tiap sel sebagai berikut: TP= jumlah yang dinyatakan positif oleh test dan baku emas menyatakan sakit. FP= jumlah yang dinyatakan positif oleh test tetapi baku emas menyatakan tidak sakit. FN = jumlah yang dinyatakan negatif oleh test tetapi baku emas meyatakan sakit. TN = jumlah yang dinyatakan negatif oleh test dan baku emas juga menyatakan tidak sakit. TP FN = adalah keseluruhan jumlah orang yang sakit. FP TN = adalah keseluruhan jumlah yang tidak sakit. TP FP= keseluruhan jumlah yang hasil testnya FN TN = adalah keseluruhan jumlah yang hasil testnya negative. Total = adalah jumlah total sampel yang diteliti. Sensitifitas adalah proporsi hasil test positif diantara orang-orang yang sakit = (TP/(TP FN )) x100 % Spesifisitas adalah proporsi hasil test negatif diantara orang orang yang tidak sakit Spesifisitas = (TN/(FP TN )) x100 %. Akurasi, adalah proporsi hasil test benar . rue valu. diantara semua yang diperiksa = ((TP TN)/Tota. x100 %. Positive Predictive Value (PPV) atau nilai ramal positif (NRP). NDP Adalah proporsi pasien yang tes nya positif dan betul menderita sakit. Dengan kata lain AuJika tes seseorang positif, berapa probabilitas dia betul-betul menderita penyakit?Ay Rumus: PPV = TP/(TP FN). Negative Predictive Value (NPV) atau nilai ramal negatif (NRN). NDN adalah proporsi pasien yang tes nya negatif dan betul-betul tidak menderita sakit. Bisa juga dikatakan AuJika tes seseorang negatif, berapa probabilitas dia betul-betul tidak menderita penyakit?Ay Rumus: NDN = TN/(FP TN). Analisis ROC adalah analisis yang digunakan juga untuk menilai kemampuan Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 pengukurannya berskala kontinu untuk menggunakan kurva yang disebut kurva ROC. Penilaian terhadap kemampuan suatu test dilakukan dengan menggunakan luas Area Under the Curve (AUC). AUC meliputi keseluruhan area di bawah curva yang terbentuk dari semua koordinat sensitifitas dan 1-spesifisitas. Menurut Corbacioglu & Aksel, . untuk menggambarkan hasil dari nilai AUC dapat menggunakan tabel dibawah ini: Tabel 2 Nilai Area Under The Curve (AUC) Nilai AUC 9 O AUC 8 O AUC < 0. 7 O AUC < 0. 6 O AUC < 0. 5 O AUC < 0. Interpretasi Sangat baik Baik Cukup Buruk Gagal Gambar 1 : Gambaran Kurva Receiver Operating Characteristic (ROC) . Uji Etik Penelitian 583/UN10. F17. 4/TU/2024 Universitas Brawijaya HASIL Responden berjumlah 166 pasien sesuai kriteria insklusi dan ekslusi, data sebanyak 4 orang perawat dengan hasil uji interreter KrippendorffAos alpha yaitu 0,8 dengan makna baik. Data pasien diambil melalui observasi langsung dan melalui SIMRS yang terintegrasi pada akun masingmasing. Analisis Receiver Operating Characteristics (ROC) untuk mendapatkan nilai cut-off point dengan membaca titik potong koordinat dari Injury Severity Score (ISS) dan TRISS pada jam ke-6, 24, dan 48. Dengan ISS sebagai Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman standar emas, data TRISS akan disesuaikan berdasarkan titik potong yang telah ditentukan agar dapat diolah dalam tabel Dari sini, akan dihitung parameter diagnostic sensitivitas, spesifisitas. Akurasi. PPV, dan NPV. Rata-rata usia yang tercatat adalah 12 tahun, dengan nilai median sebesar 5 tahun, dan modus tertinggi terletak pada usia 17 tahun. Deviasi standar yang signifikan, yaitu sebesar 18. 42 tahun, mengindikasikan variasi yang cukup besar dalam data usia. Rentang usia, yang berkisar dari 16 hingga 89 tahun. jenis kelamin laki-laki 114 pasien . ,7%) dan perempuan 52 pasien . ,3%). Distribusi jenis trauma menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami trauma tumpul . %), yang mencakup 145 kasus, sementara trauma tembus terjadi pada 21 kasus . %). Tabel 3. Karakteristik Responden berdasarkan Kondisi Pasien Dari tabel 3 diketahui mayoritas pasien dalam kondisi hidup dari ketiga waktu terbanyak di 48 jam dari waktu evaluasi. Tabel 4. Nilai Frekuensi Skor Trauma Kondisi Hidup Meninggal Total pasien Mean Median Mode Std. Deviation Skewness Kurtosis Minimum Maximum 6 jam 24 jam Nilai ISS 22,23 23,43 1,204 0,313 48 jam Nilai TRISS 0,80 0,989 0,996 0,274 -1,197 0,145 0,106 0,998 Rata-rata ISS tercatat sebesar 22. dengan median 10 dan modus 4, menunjukkan adanya variasi yang signifikan dalam tingkat keparahan cedera, yang didukung oleh nilai skewness positif . dan kurtosis yang sedikit meruncing . TRISS menunjukkan rata-rata 0. 80 dengan keparahan cedera, dengan skewness . yang menunjukkan ekor distribusi yang lebih panjang di sisi kiri dan nilai kurtosis . Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Tabel Analisis SpearmenAos rho Skor Trauma ISS TRISS Nilai Koofisien Korelasi Sig. Koofisien Korelasi Sig. Bivariat 0,729 0,748 0,803 <0,001 <0,001 <0,001 -0,734 -0,737 -0,808 <0,001 <0,001 <0,001 Hasil uji korelasi pada tabel 5 menunjukkan adanya korelasi signifikan antara skor trauma (ISS dan TRISS) dengan waktu pada jam ke-6, ke-24, dan ke-48. Koefisien korelasi Spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang kuat antara skor ISS dan waktu, dengan nilai korelasi berturut-turut adalah 0,729 pada jam ke-6, 0,748 pada jam ke-24, dan 0,803 pada jam ke-48. Sementara itu, skor TRISS menunjukkan hubungan negatif yang kuat dengan waktu, dengan koefisien korelasi masing-masing berkisar dari -0,734 hingga 0,808 untuk TRISS pada ketiga waktu yang Selain itu, nilai p-value yang diperoleh pada ketiga waktu . value <0,. menunjukkan bahwa hasil ini memiliki signifikansi statistik yang tinggi. Gambar 2. Kurva ROC 6 Jam Gambar 3. Kurva ROC 12 Jam Tabel 6. Cut-off points Instrumen Instrumen ISS TRISS Pada tabel 6. Instrumen TRISS memiliki cutoff points pada setiap rentang waktu, dengan nilai cenderung menurun dari 34. 5, dan 22. Sementara itu. ISS memiliki cut-off points yang tetap pada setiap rentang waktu, yaitu 40. Gambar 4. Kurva ROC 48 Jam Tabel 7. AUC ISS dan TRISS ISS TRISS 0,956 0,973 AUC . am k. 0,961 0,977 0,982 0,994 Pada tabel 7. menampilkan nilai Area Under the Curve (AUC) untuk instrumen ISS dan TRISS pada tiga rentang waktu yang berbeda, yaitu 6 jam, 24 jam, dan 48 jam setelah kejadian trauma. Instrumen TRISS Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 mencatat AUC tertinggi pada semua rentang waktu, dengan nilai berturut-turut sebesar 973, 0. 977, dan 0. Kinerja TRISS sensitivitas, spesifisitas, akurasi dan nilai . ositif/negati. pada rentang 6 jam, 24 jam, 48 jam dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 8. Hasil Silang ISS dan TRIS rentang waktu 6 jam TRISS 6 Jam Hidup Meninggal Total ISS 6 Jam Hidup Meninggal Total Tabel 8. terlihat hasil pada jam ke-6 setelah kejadian trauma 95 pasien secara akurat diprediksi bertahan hidup . rue positive/TP) dan 54 pasien secara tepat diprediksi meninggal . rue negative/TN). Terdapat juga 16 pasien yang salah diprediksi hidup . alse positive/FP) dan 1 pasien yang salah diprediksi meninggal . alse negative/FN) Tabel 9. Hasil Silang ISS dan TRIS rentang waktu 24 jam TRISS Hidup Meninggal Total ISS 24 jam Hidup Meninggal Total Tabel 9. menunjukkan hasil pada jam ke-24 setelah kejadian trauma ada 95 pasien secara akurat diprediksi bertahan hidup . rue positive/TP) dan 55 pasien secara tepat diprediksi meninggal . rue negative/TN) berdasarkan kedua skor ini. Terdapat juga 15 pasien yang salah diprediksi hidup . alse positive/FP) dan 1 pasien yang salah diprediksi meninggal . alse negative/FN). Tabel 10. Hasil Silang ISS dan TRIS rentang waktu 48 jam TRISS Hidup Meninggal Total ISS 48 jam Hidup Meninggal Total Tabel 10. terlihat hasil pada jam ke48 setelah kejadian trauma di mana 95 pasien secara akurat diprediksi bertahan hidup . rue positive/TP) dan 60 pasien Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman secara tepat diprediksi meninggal . rue negative/TN) berdasarkan kedua skor ini. Terdapat juga 10 pasien yang salah diprediksi hidup . alse positive/FP) dan 1 pasien yang salah diprediksi meninggal . alse negative/FN). Nilai sensitivitas untuk instrument TRIISS pada tiga rentang waktu yang berbeda, yaitu 6 jam, 24 jam, dan 48 jam adalah pada TRISS adalah 0,989. ,9%) pada semua rentang waktu. Nilai tersebut diperoleh dari nilai TP/TP FN masingmasing instrumen pada masing-masing Nilai spesifisitas untuk instrument TRIISS, pada tiga rentang waktu yang berbeda, yaitu 6 jam, 24 jam, dan 48 jam 0,771. ,1%), 0,786. ,6%), 0,857. ,7%) pada TRISS. Nilai tersebut diperoleh dari nilai TN/TN FP masingmasing instrumen pada masing-masing Nilai Duga Positif (PPV) untuk instrument TRISS pada tiga rentang waktu yang berbeda, yaitu 6 jam, 24 jam, dan 48 jam yaitu 0,855. ,5%), 0,864. ,7%), 0,904. ,4%) pada TRISS. Nilai tersebut diperoleh dari nilai TP/TP FP masingmasing instrumen pada masing-masing Nilai Duga Negatif (NPV) untuk instrument TRISS pada tiga rentang waktu 0,981. ,1%), 0,982. ,2%), 0,983. ,3%), pada TRISS. Nilai tersebut diperoleh dari nilai TN/TN FN masing-masing instrumen pada masingmasing Nilai Akurasi instrumen, yaitu TRISS pada tiga rentang waktu yang berbeda, yaitu 0,897. ,7%), 0,903. ,3%), 0,933. ,3%) pada TRISS. Nilai TN TP/TP FP TN FN masing-masing instrumen pada masing-masing waktu PEMBAHASAN Prediksi angka kematian merujuk pada penilaian atau skor yang dibuat untuk biasanya dalam jangka waktu tertentu setelah kejadian tertentu, seperti trauma berat atau polytrauma . Ini menggaris bawahi pentingnya sistem penilaian trauma seperti TRISS. Selain itu penggunaan TRISS dapat di andalkan dalam prediktor mortalitas dalam 24 jam pertama walaupun dengan sumber daya terbatas di rumah sakit. Hasil justifikasi bahwa TRISS pada jam ke 6 Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 memiliki sensitivitas tertinggi . ,9%) dan sangat akurat dalam mengindetifikasi pasien trauma yang berisiko buruk, dimana nilai AUC mendekati sempurna . yang mengindikasikan kemampuan prediktif yang sangat baik. Sesuai dengan temuan Roy et al . skor AUC 0,82 dan memiliki kemampuan prediksi mortalitas yang lebih baik di banding Injury Severity Score (ISS). New Injury Severity Scale (NISS) score, the Kampala Trauma Score (KTS). Revised Trauma Score (RTS). Sensitivitas TRIS sangat baik dalam mendeteksi resiko pasien meninggal pada jam ke-6, 24, 48 setelah trauma, sensitivitas yang tinggi penting untuk menghindari false negative . asien beriesiko tinggi tetapi tidak terdeteks. yang sejalan dengan temuan. Gold standard skor trauma ISS memiliki spesifisitas 90,8% dalam memprediksi angka kematian . Hasil penelitian ini menunjukkan spesifisitas RTS pada semua periode waktu . am ke 6, 24, . memiliki nilai melebihi diatas ISS yang bermakna sangat tinggi. Sedangkan TRISS memiliki nilai lebih rendah daripada ISS dengan nilai 83,1% pada jam ke 6, 84,6% pada jam ke 24 dan sama dengan RTS pada jam ke 48. Pada penelitian sebelumnya, seperti yang dilaporkan oleh Javali et al . , menemukan bahwa ISS memiliki tingkat spesifisitas yang lebih tinggi yaitu sebesar 89,8%, sementara RTS dan TRISS memiliki tingkat spesifisitas yang lebih rendah yaitu 80,1% dan 88% berturut-turut. Hasil ini menyoroti perbedaan dalam penilaian spesifisitas antara penelitian ini dan penelitian sebelumnya, yang mungkin disebabkan oleh perbedaan karakteristik sampel, metodologi, atau faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil penelitian . Gold standard dari ISS menujukkan nilai duga positif (PPV) yaitu 70,3 % dalam memprediksi kematian pasien trauma . Hasil penelitian ini menunjukkan nilai duga positif RTS dan TRISS pada semua periode waktu . am ke 6, 24, . memiliki nilai yang melebihi diatas ISS dan bermakna sangat Meskipun dari nilai skor PPV RTS Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman lebih tinggi di jam ke 6 dan 24 dan sama pada jam ke 48. Gold standard dari ISS menujukkan nilai duga negatif (NPV) yaitu 95,6 % dalam memprediksi kematian pasien trauma . Hasil penelitian ini menunjukkan nilai duga negatif RTS pada jam ke 6 dan ke 24 berada dibawah nilai NPV dari ISS walaupun masih dalam kategori sangat tinggi. Sedangkan TRISS pada semua periode waktu . am ke 6, 24, . memiliki nilai yang melebihi diatas ISS dan bermakna sangat tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh . menghasilkan temuan yang agak berbeda terkait nilai duga Dalam penelitiannya. ISS. RTS, dan TRISS cenderung memiliki nilai duga negatif yang setara, yaitu masing-masing sebesar 88,70%, 88,49%, dan 92,85%. Perbedaan ini menunjukkan variasi dalam hasil penelitian terkait kinerja indeks trauma sebenarnya tidak mengalami kondisi yang Gold standard dari ISS menujukkan nilai akurasi yaitu 87,5 % dalam memprediksi kematian pasien trauma . Hasil penelitian ini menunjukkan nilai akurasi RTS dan TRISS pada jam ke 6, 24 dan ke 48 berada di atas dari akurasi ISS walaupun masih dalam kategori sangat tinggi. Sedangkan TRISS pada semua periode waktu . am ke 6, 24, . memiliki nilai yang melebihi diatas ISS dan bermakna sangat tinggi. Dengan demikian. TRISS dan RTS menunjukkan kinerja yang sebanding dalam hal akurasi, terutama pada jam ke 24, menunjukkan kemampuan yang sangat tinggi dan konsisten dalam menilai keparahan trauma. TRISS memiliki korelasi yang signifikan terhadap kondisi rawat inap yang lebih lama dalam hal perawatan di rumah sakit. Namun demikian TRISS angka prediksi mortalitinya kurang akurat pad apasien usia lajut . Implikasi Klinis Penerapan skor trauma diharapkan dapat membantu meminimalkan angka Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 kematian melalui penilaian awal terhadap tingkat keparahan trauma di IGD. Dengan jam ke-6, dampaknya terkait dengan layanan di IGD sesuai dengan standar durasi perawatan di IGD . ength of sta. Pada jam ke-24, dampaknya berkaitan dengan kemampuan menangani pasien dalam stabilisasi selama di ruang rawat. Sementara pada jam ke-48, hal ini berhubungan dengan angka kematian rumah sakit secara umum. Penggunaan prediktor atau instrumen skor trauma pada waktu-waktu ini akan memberikan implikasi yang bersifat antisipatif bagi tenaga kesehatan dalam menangani pasien trauma Keterbatasan Meski masih terdapat perbedaan pendapat terkait gold standard untuk skor trauma, hasil dari berbagai penelitian sebelumnya seringkali menganggap Injury Severity Score (ISS) sebagai gold standard karena kinerja yang baik dari skor trauma ini SIMPULAN TRISS spesifisitas, akurasi dan PPVdan NPV yang stabil di jam ke 6, 24, dan 48 jam dalam memprediksi angka kematian di IGD. Hasil penelitian ini dapat direkomendasikan untuk digunakan pada layanan IGD, dan untuk penelitian selanjutnya dapat melakukan penelitian pada area tubuh khusus seperti kepala, dada/perut untuk mendapatkan hasil DAFTAR PUSTAKA