An-Nadzir : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. No. Mei 2026 P-ISSN : . E-ISSN : . MODEL MANAJEMEN PENGUATAN KARAKTER BERBASIS NILAI ISLAM MULTIKULTURAL MELALUI PARTISIPASI KELUARGA DAN KOMUNITAS DI SEKOLAH DASAR Sismanto1. Luis Ignacio Silva Neira2. Sri Andriani3. Yusnia Binti Khalifah4 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Indonesia University of Chile. Chili Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. Indonesia Email : 1sirilwafa@gmail. com, 2lusilva@fen. cl, 3sriandriani@akuntansi. uin-malang. yusnia3003@uinsi. Received Article Info Accepted Published 04 Mei 2026 20 Mei 2028 31 Mei 2026 Keywords: ABSTRACT Character strengthening multicultural Islamic values family participation community participation elementary school. This study aims to describe the management of character education grounded in multicultural Islamic values, analyze the implementation of character strengthening through family and community participation, and formulate a character-strengthening management model for SD YPPSB 3 Sangatta. The study employed a qualitative case study design. Research participants included foundation representatives, education directors, principals, vice principals, teachers, school committee members, parents, and students, selected purposively based on their involvement in the characterstrengthening program. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation, then analyzed using data condensation, thematic categorization, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that character strengthening was developed through three main dimensions: love, intellectuality, and leadership, which were integrated into the school culture, classroom learning, daily habits, and social activities. Character strengthening was reinforced through family and community involvement, including school-parent communication, parenting programs, social activities, and community collaboration. This study proposes a multicultural. Islamic values-based characterstrengthening management model that positions schools, families, and communities as an integrated ecosystem for character education. The theoretical contribution of this study lies in the development of a social-ecosystem-based character education management approach that is not solely centered on the formal curriculum but also on social relationships and studentsAo lived experiences within multicultural ABSTRAK Kata Kunci: Penguatan karakter nilai-nilai Islam multicultural partisipasi keluarga Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pengelolaan karakter berbasis nilai Islam multikultural, menganalisis implementasi penguatan karakter melalui partisipasi keluarga dan komunitas, serta merumuskan model manajemen penguatan karakter di SD YPPSB 3 Sangatta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/An-Nadzir/index Dipublikasikan oleh Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) STAI Sangatta Kutai Timur. Jl. Soekarno-Hatta. Teluk Lingga. Sangatta Utara. Kutai Timur. partisipasi komunitas sekolah dasar strategi studi kasus. Partisipan penelitian terdiri atas pihak yayasan, direktur pendidikan, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, komite sekolah, orang tua, dan siswa yang dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan dalam program penguatan karakter. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik kondensasi data, kategorisasi tema, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan karakter dikembangkan melalui tiga dimensi utama, yaitu cinta, cendekia, dan kepemimpinan yang diintegrasikan dalam budaya sekolah, pembelajaran, pembiasaan harian, serta kegiatan sosial. Implementasi penguatan karakter diperkuat melalui keterlibatan keluarga dan komunitas melalui komunikasi sekolah dengan orang tua, parenting, kegiatan sosial, dan kolaborasi komunitas. Penelitian ini menghasilkan model manajemen penguatan karakter berbasis nilai Islam multikultural yang menempatkan sekolah, keluarga, dan komunitas sebagai satu ekosistem pendidikan karakter. Kontribusi teoritis penelitian ini terletak pada pengembangan pendekatan manajemen pendidikan karakter berbasis ekosistem sosial yang tidak hanya bertumpu pada kurikulum formal, tetapi juga pada hubungan sosial dan pengalaman hidup siswa dalam lingkungan multikultural. Copyright and License: Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal. PENDAHULUAN Pendidikan karakter menjadi salah satu isu penting dalam pengembangan pendidikan di masyarakat multikultural karena sekolah tidak hanya dituntut menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga mampu hidup harmonis dalam keberagaman sosial, budaya, dan agama. 1 Dalam konteks Indonesia yang pluralistik, persoalan intoleransi, konflik identitas, dan melemahnya solidaritas sosial masih menjadi tantangan yang memerlukan perhatian serius dalam dunia pendidikan. 2 Karena itu, pendidikan multikultural dipandang penting sebagai pendekatan yang dapat membangun sikap saling menghargai dan memperkuat kehidupan sosial yang inklusif. 3 Pada level sekolah dasar, penguatan karakter berbasis nilai Islam multikultural menjadi semakin MD Nelson JC Christopher. T Nelson. AuCulture and Character Education: Problems of Interpretation in a Multicultural Society,Ay Journal of Theoretical and Philosophical Psychology 23, no. : 81Ae101, https://doi. org/10. 1037/h0091229. TS Shin R White. AuIntegrative Character Education (ICE): Grounding Facilitated Prosocial Development in a Humanistic Perspective for a Multicultural World,Ay Multicultural Education Review, 2017, https://doi. org/10. 1080/2005615X. Sismanto Sismanto. Maskuri Bakri, and Achmad M. Huda. AuImplementation of Multicultural Islamic Education Values,Ay Proceedings of the International Conference on Madrasah Reform 2021 (ICMR 2. , https://doi. org/10. 2991/assehr. Tuti Budirahayu and Muhammad Saud. AuThe Promotion of Multicultural Education in Schools: A Study of Teaching Multidisciplinary Courses in Indonesian Schools,Ay International Journal of Innovation. Creativity Change . 36Ae47, https://w. net/images/vol_13/Iss_3/13309_Budirahayu_2020_E_R. Triyo Supriyatno and Ubabuddin Ubabuddin. AuInternalization of Multicultural Values in Learning Islamic Education,Ay Library Philosophy and Practice 2019 . : 1Ae7, https://api. com/content/abstract/scopus_id/85089352841. Model Manajemen Penguatan Karakter Berbasis Nilai Islam Multikultural melalui Partisipasi Keluarga dan Komunitas di Sekolah Dasar (Sismanto. Luis Ignacio Silva Neira. Sri Andriani. Yusnia Binti Khalifa. relevan karena fase ini merupakan tahap awal pembentukan nilai, kebiasaan, dan cara pandang sosial peserta didik. 4 Persoalannya, penguatan karakter tidak cukup dilakukan hanya melalui pembelajaran di kelas, tetapi memerlukan pengelolaan program dan budaya sekolah yang mampu melibatkan berbagai lingkungan pendidikan secara berkelanjutan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter di Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan, terutama karena pelaksanaannya sering berhenti pada kegiatan formal dan administratif. 5 Banyak sekolah telah memiliki program penguatan karakter, tetapi pengelolaannya belum sepenuhnya terintegrasi dengan lingkungan keluarga dan komunitas sehingga internalisasi nilai berjalan tidak konsisten. Dalam praktiknya, hubungan antara sekolah, orang tua, dan masyarakat sering kali bersifat insidental dan belum dibangun dalam pola kerja sama yang terorganisasi. Akibatnya, program karakter lebih banyak bergantung pada aktivitas sekolah tanpa dukungan sistem sosial yang berkelanjutan. Selain itu, keterlibatan orang tua juga dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi, dan pemahaman yang berbeda terhadap pendidikan karakter dan 7 Padahal, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk sikap anak terhadap perbedaan sosial sejak usia dini. 8 Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan substansi nilai yang diajarkan, tetapi juga bagaimana sekolah mengelola kolaborasi antaraktor pendidikan dalam satu sistem yang saling mendukung. Dalam konteks pendidikan Islam multikultural, penguatan karakter tidak hanya berkaitan dengan penanaman nilai religius, tetapi juga bagaimana sekolah membangun budaya sosial yang menghargai toleransi, kerja sama, dan penghormatan terhadap 10 Karena itu, penguatan karakter memerlukan pendekatan manajemen pendidikan yang tidak berhenti pada penyusunan program, tetapi juga mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi yang melibatkan sekolah, keluarga, komunitas, dan yayasan secara terpadu. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter akan lebih efektif ketika nilai-nilai tersebut diintegrasikan dalam budaya sekolah, pembiasaan sehari-hari, serta dukungan lingkungan sosial peserta didik. Dalam perspektif Islam, relasi sosial tersebut tercermin melalui konsep ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariah yang menempatkan hubungan Muhajir Muhajir et al. AuIntegrating Multicultural Values to Foster Tolerance and Inclusivity in Islamic Religious Education,Ay Jurnal Pendidikan Islam . 17Ae32, https://doi. org/10. 15575/jpi. Raihani. AuEducation for Multicultural Citizens in Indonesia: Policies and Practices,Ay Compare 48, no. : 992Ae1009, https://doi. org/10. 1080/03057925. J Pattnaik. AuMulticultural Literacy Starts at Home: Supporting Parental Involvement in Multicultural Education,Ay Childhood Education . 18Ae24, https://doi. org/10. 1080/00094056. D Eliyahu-Levi. AuParental Involvement of African Migrants in Multicultural Israeli Education Settings,Ay Education Sciences 14, no. , https://doi. org/10. 3390/educsci14040348. LG Matee PG Tlali. AuParental Involvement in Language Education in Multilingual and Multicultural Contexts,Ay Handbook of Research on Teaching in Multicultural and Multilingual Contexts, 2022, https://doi. org/10. 4018/978-1-6684-5034-5. C McKinney C Soudien. AuThe Character of the Multicultural Education Discussion in South Africa,Ay Multilingual Education, 2016, https://doi. org/10. 1007/978-3-319-26880-4_7. Amirullah Abduh et al. AuVoices of English Department Students on Multicultural Values in an Indonesian Islamic Higher Education,Ay International Journal of Language Education 4, no. 3 (December 30, 2. 459Ae68, https://doi. org/10. 26858/ijole. Sismanto Sismanto. Sri Wahyuni, and Sri Andriani. AuCurriculum Model of Multicultural Islamic Religious Education,Ay ICE-TPD, 2021. Sismanto Sismanto et al. AuEnhancing School Literacy through Multicultural Islamic Education: An Evidence From a Mining School,Ay Multicultural Education 9, no. https://doi. org/10. 5281/zenodo. An-Nadzir : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. No. Mei 2026 Hal. antarmanusia sebagai bagian penting dari praktik keagamaan. 12 Dengan demikian, tantangan utama penguatan karakter bukan hanya pada implementasi program, tetapi pada bagaimana sekolah mengelola ekosistem pendidikan yang mampu menjaga keberlanjutan nilai dalam kehidupan peserta didik sehari-hari. Penelitian ini tidak hanya berupaya mendeskripsikan penguatan karakter berbasis nilai Islam multikultural, tetapi juga melihat bagaimana proses tersebut dikelola dalam lingkungan sekolah dasar yang melibatkan banyak aktor pendidikan. Selama ini, sebagian penelitian lebih banyak menekankan integrasi nilai karakter dalam pembelajaran atau budaya sekolah, sedangkan aspek pengelolaan kolaborasi antara sekolah, keluarga, komunitas, dan yayasan masih belum banyak dibahas secara mendalam. Padahal, keberhasilan penguatan karakter tidak hanya ditentukan oleh program yang dijalankan sekolah, tetapi juga oleh kemampuan lembaga pendidikan dalam membangun koordinasi, pembagian peran, komunikasi, dan keberlanjutan program antarlingkungan pendidikan. Dalam konteks ini, penelitian sebelumnya memang menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga berpengaruh terhadap pembentukan karakter peserta didik13, sementara komunitas sosial dapat menjadi ruang praktik nilai dalam kehidupan sehari-hari. 14 Namun, hubungan antarelemen tersebut umumnya masih dipahami secara terpisah dan belum ditempatkan dalam satu model manajemen pendidikan yang terintegrasi. Oleh sebab itu, penelitian ini menawarkan perspektif bahwa penguatan karakter berbasis nilai Islam multikultural perlu dipahami sebagai bagian dari pengelolaan ekosistem pendidikan yang melibatkan sekolah, keluarga, komunitas, dan yayasan secara kolaboratif serta berkelanjutan. Berangkat dari konteks tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan karakter berbasis nilai Islam multikultural di SD YPPSB 3 Sangatta. menganalisis implementasi manajemen penguatan karakter melalui partisipasi keluarga dan dan merumuskan model manajemen penguatan karakter berbasis nilai Islam multikultural di sekolah dasar. Fokus penelitian diarahkan tidak hanya pada bentuk program karakter yang dijalankan sekolah, tetapi juga pada bagaimana fungsi manajemen pendidikan mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga evaluasi dilakukan dalam mendukung penguatan karakter peserta didik. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan model manajemen pendidikan karakter berbasis ekosistem, sekaligus memberikan kontribusi praktis bagi sekolah dalam membangun sistem penguatan karakter yang lebih kolaboratif, kontekstual, dan berkelanjutan di lingkungan pendidikan multikultural. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus untuk memahami bagaimana manajemen penguatan karakter berbasis nilai Islam multikultural dijalankan di SD YPPSB 3 Sangatta melalui keterlibatan keluarga dan komunitas. Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada proses, pengalaman, dan dinamika Sismanto and Riswadi. AuForms of Cooperation Between Religions. A Tafsir Perspective,Ay SYAMIL: Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Educatio. 9, no. 1 (June 23, 2. : 21Ae38, https://doi. org/10. 21093/sy. Irnie Victorynie. M Husnaini, and Noor Amili. AuModel of Religious Character Education: A Case Study in Al-Hilal Islamic Primary School Bekasi. Indonesia,Ay Journal of Social Studies (JSS) 16, no. : 103Ae A Markarma HAB Malla. M Misnah. AuImplementation of Multicultural Values in Islamic Religious Education Based Media Animation Pictures as Prevention of Religious Radicalism in Poso. Central Sulawesi. Indonesia,Ay International Journal of Criminology and Sociology 10 . : 51Ae57, https://doi. org/10. 6000/1929-4409. Robert K. Yin. Case Study Research: Design and Methods, 5th ed. (California: SAGE Publications Inc. Model Manajemen Penguatan Karakter Berbasis Nilai Islam Multikultural melalui Partisipasi Keluarga dan Komunitas di Sekolah Dasar (Sismanto. Luis Ignacio Silva Neira. Sri Andriani. Yusnia Binti Khalifa. sosial yang terjadi dalam praktik pendidikan sehari-hari. SD YPPSB 3 dipilih sebagai lokasi penelitian karena sekolah ini memiliki karakteristik multikultural dan mengembangkan berbagai program penguatan karakter yang melibatkan sekolah, keluarga, komunitas, dan yayasan dalam satu sistem pendidikan. Informan penelitian ditentukan secara purposive berdasarkan keterlibatan mereka dalam pengelolaan dan pelaksanaan program karakter di sekolah. Informan terdiri atas unsur yayasan, direktur pendidikan, manajer pendidikan, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, komite sekolah, orang tua, dan siswa SD YPPSB 3 Sangatta. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur untuk menggali pengalaman informan terkait pengelolaan program karakter, pola kerja sama sekolah dengan keluarga dan komunitas, serta tantangan implementasinya. Observasi dilakukan pada kegiatan pembelajaran, pembiasaan karakter, program literasi, kegiatan sosial, dan aktivitas parenting sekolah. Sementara itu, dokumentasi digunakan untuk menelaah renstra sekolah, laporan kegiatan, panduan program, dan arsip kebijakan yang berkaitan dengan penguatan karakter. Analisis data dilakukan secara bertahap sejak proses pengumpulan data berlangsung dengan menggunakan model interaktif Miles. Huberman, dan Saldaya yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. 16 Peneliti melakukan open coding terhadap hasil wawancara dan catatan lapangan untuk mengidentifikasi tema-tema utama, kemudian mengelompokkannya ke dalam kategori yang berkaitan dengan nilai Islam multikultural, partisipasi keluarga dan komunitas, serta praktik manajemen sekolah dalam penguatan karakter. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu, disertai member checking kepada informan agar interpretasi data sesuai dengan kondisi lapangan. Selain itu, peneliti juga melakukan peer debriefing dan keterlibatan lapangan secara intensif untuk memperkuat kedalaman analisis. Seluruh proses penelitian dilakukan dengan memperhatikan etika penelitian melalui persetujuan informan, menjaga kerahasiaan identitas, dan memastikan data digunakan hanya untuk kepentingan akademik. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengelolaan Karakter Berbasis Nilai Islam Multikultural di SD YPPSB 3 Sangatta Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan karakter berbasis nilai Islam multikultural di SD YPPSB 3 Sangatta dikembangkan melalui pembiasaan nilai dalam kehidupan sehari-hari siswa, bukan hanya melalui penyampaian materi pembelajaran secara formal. Dalam observasi penelitian, suasana sekolah terlihat cukup terbuka terhadap keberagaman agama, budaya, dan latar sosial siswa. Aktivitas keagamaan dilaksanakan sesuai keyakinan masing-masing siswa melalui program seperti Ummi. Superbook, dan Katolisitas, tetapi interaksi sosial antar siswa tetap berlangsung secara inklusif dalam kegiatan belajar maupun aktivitas sekolah lainnya. Pada waktu istirahat maupun kegiatan kelompok, siswa tampak berbaur tanpa adanya pemisahan berdasarkan identitas agama atau etnis tertentu. Salah satu guru menjelaskan: AuAnak-anak di sini terbiasa belajar bersama tanpa melihat latar belakang agamanya. Jadi toleransi itu bukan hanya diajarkan, tetapi memang dijalani setiap hari di sekolah. Ay (Wawancara Guru, 2. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa sekolah membangun karakter religius dengan pendekatan yang lebih sosial dan humanis. Nilai religius tidak diposisikan sebagai identitas yang eksklusif, tetapi dihubungkan dengan penghormatan terhadap sesama. Johnny Saldaya Matthew B. Miles. Michael Huberman. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook, third (London: SAGE Publications Ltd, 2. An-Nadzir : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. No. Mei 2026 Hal. kepedulian sosial, dan kehidupan bersama dalam keberagaman. Temuan ini sejalan dengan penelitian Muhajir et al. yang menjelaskan bahwa integrasi nilai multikultural dalam pendidikan Islam dapat memperkuat sikap toleransi dan membangun lingkungan belajar yang lebih inklusif. 17 Hasil penelitian ini juga mendukung temuan penelitian yang menunjukkan bahwa pendidikan Islam multikultural lebih efektif ketika nilai-nilainya diintegrasikan dalam budaya sekolah dan pembiasaan sehari-hari siswa. 18 Dalam konteks SD YPPSB 3 Sangatta, penguatan karakter tidak berhenti pada kurikulum tertulis, tetapi muncul melalui interaksi sosial yang berlangsung secara alami di lingkungan sekolah. Meskipun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter berbasis nilai Islam multikultural tidak selalu berjalan tanpa dinamika. Beberapa guru mengakui bahwa masih terdapat perbedaan pemahaman orang tua terhadap praktik pendidikan multikultural di sekolah. Dalam beberapa kasus, sekolah perlu menjelaskan kembali kepada keluarga bahwa kegiatan lintas agama yang dilakukan siswa tidak bertujuan mencampurkan keyakinan, tetapi membangun sikap menghargai Salah satu guru menyampaikan: AuAda orang tua yang awalnya khawatir anak terlalu bebas bergaul lintas agama. Jadi sekolah harus menjelaskan bahwa yang dibangun adalah sikap saling menghormati, bukan mengurangi keyakinan agama anak. Ay (Wawancara Guru, 2. Temuan ini menunjukkan bahwa pengelolaan karakter di sekolah multikultural tidak terlepas dari negosiasi nilai antara budaya sekolah dan pandangan keluarga siswa. Kondisi tersebut berbeda dengan kecenderungan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa internalisasi nilai multikultural dapat berjalan lebih harmonis melalui pembiasaan dan Dalam penelitian ini, praktik di lapangan memperlihatkan bahwa proses internalisasi nilai masih menghadapi resistensi kecil pada sebagian keluarga yang memiliki pemahaman religius lebih eksklusif. Hal ini memperlihatkan bahwa pendidikan karakter multikultural tidak hanya berkaitan dengan strategi pembelajaran, tetapi juga berkaitan dengan proses membangun kesepahaman sosial antara sekolah dan lingkungan keluarga. Karakter cinta yang dikembangkan sekolah juga terlihat melalui kegiatan sosial, kepedulian lingkungan, dan penghargaan terhadap budaya lokal. Dalam observasi penelitian, siswa terlihat aktif mengikuti program berbagi, bakti sosial, kegiatan lingkungan sekolah, serta penggunaan atribut budaya daerah dalam kegiatan tertentu. Sekolah tampak berusaha menghubungkan pendidikan karakter dengan pengalaman sosial yang dekat dengan kehidupan siswa. Salah satu orang tua menjelaskan: AuAnak sekarang lebih peduli kalau ada kegiatan sosial. Kadang di rumah dia cerita soal berbagi atau kerja kelompok dengan teman-temannya. Ay (Wawancara Orang Tua. Temuan ini memperlihatkan bahwa pembentukan karakter menjadi lebih mudah diterima siswa ketika dihubungkan dengan pengalaman nyata dibandingkan sekadar penyampaian nilai secara verbal. Kondisi tersebut mendukung penelitian yang menekankan pentingnya integrasi nilai budaya dan pengalaman sosial dalam membangun karakter dan wawasan multikultural siswa20. Namun demikian, hasil penelitian ini juga menunjukkan Muhajir et al. AuIntegrating Multicultural Values to Foster Tolerance and Inclusivity in Islamic Religious Education. Ay Sismanto Sismanto. Maskuri Bakri, and Achmad M Huda. AuImplementation of Multicultural Islamic Education Values,Ay in International Conference on Madrasah Reform 2021 (ICMR 2. (Atlantis Press, 2. , 323Ae30, https://doi. org/10. 2991/assehr. Triyo Supriyatno and Ubabuddin Ubabuddin. AuInternalization of Multicultural Values in Learning Islamic Education,Ay Library Philosophy and Practice 2019 . : 1Ae7. R Titin Setiartin. AuRevitalization of Oral Traditions in Tasikmalaya District as a Learning Media to Plant Character Education Values and Multicultural Insights of Students,Ay Journal of Language and Linguistic Studies 17, no. : 1379Ae91, https://doi. org/10. 52462/jlls. Model Manajemen Penguatan Karakter Berbasis Nilai Islam Multikultural melalui Partisipasi Keluarga dan Komunitas di Sekolah Dasar (Sismanto. Luis Ignacio Silva Neira. Sri Andriani. Yusnia Binti Khalifa. bahwa keterlibatan siswa dalam kegiatan sosial masih dipengaruhi oleh karakter personal dan dukungan keluarga. Dalam beberapa kegiatan, guru terlihat perlu memberi dorongan tambahan kepada siswa yang kurang percaya diri atau kurang aktif dalam interaksi sosial. Selain karakter cinta, sekolah juga mengembangkan karakter cendekia melalui budaya literasi, pembelajaran aktif, dan penggunaan teknologi dalam proses belajar. Dalam observasi penelitian, guru memberi ruang kepada siswa untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan mempresentasikan hasil kerja kelompok. Situasi kelas terlihat lebih komunikatif dibandingkan pembelajaran satu arah. Salah satu guru menjelaskan: AuKami ingin anak-anak tidak hanya disiplin, tetapi juga berani berpikir dan menyampaikan pendapat dengan baik. Ay (Wawancara Guru, 2. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang menegaskan bahwa pendidikan karakter di era modern perlu diintegrasikan dengan literasi digital dan pembelajaran aktif agar siswa mampu berkembang secara intelektual dan sosial21. Akan tetapi, hasil observasi menunjukkan bahwa kemampuan partisipasi siswa belum sepenuhnya merata. Beberapa siswa terlihat aktif dalam diskusi dan presentasi, sementara sebagian lainnya masih cenderung diam dan menunggu arahan guru. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan karakter cendekia membutuhkan proses pendampingan yang berkelanjutan serta lingkungan belajar yang mendukung rasa percaya diri siswa. Karakter kepemimpinan dikembangkan melalui pembiasaan disiplin, tanggung jawab, dan keterlibatan siswa dalam berbagai aktivitas sekolah. Guru lebih banyak menggunakan pendekatan persuasif dan keteladanan dibandingkan hukuman formal dalam membangun disiplin siswa. Dalam pengamatan penelitian, relasi antara guru dan siswa terlihat cukup dekat sehingga proses pembinaan karakter berlangsung lebih dialogis. Salah satu guru menjelaskan: AuKalau anak melakukan kesalahan biasanya diajak bicara dulu. Kami lebih fokus membangun kesadaran daripada memberi hukuman. Ay (Wawancara Guru, 2. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa sekolah memaknai kepemimpinan sebagai kemampuan mengelola diri dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial. Temuan ini mendukung penelitian White yang menjelaskan bahwa pendidikan karakter di masyarakat multikultural perlu dibangun melalui pendekatan humanistik, bukan kontrol perilaku yang bersifat kaku. 22 Namun, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pembiasaan disiplin belum selalu berjalan konsisten ketika kebiasaan di sekolah tidak diperkuat di rumah. Dalam beberapa situasi, guru harus melakukan penguatan berulang terhadap kedisiplinan dan tanggung jawab siswa. Kontribusi ilmiah utama dari temuan ini adalah penguatan model konseptual karakter berbasis nilai Islam multikultural yang operasional dan kontekstual pada jenjang sekolah dasar. Model ini tidak hanya mengintegrasikan nilai religius dan multikultural, tetapi juga mengaitkannya dengan pengembangan kompetensi abad ke-21 seperti literasi, kreativitas, dan kepemimpinan. Hal ini memperluas kajian pendidikan karakter yang sebelumnya lebih banyak berfokus pada aspek moral normatif menjadi pendekatan yang lebih holistik dan adaptif terhadap tantangan zaman. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk mengembangkan studi komparatif atau mixed methods guna menguji efektivitas model karakter ini dalam konteks yang lebih luas dan beragam, serta Sismanto. AuDigital Transformation of Character Education Model and Its Implementation for Diverse Students,Ay in Education Technology in the New Normal: Now and Beyond (London: Routledge, 2. , 53Ae 66, https://doi. org/10. 1201/9781003353423-6. Sismanto et al. AuEnhancing School Literacy through Multicultural Islamic Education: An Evidence From a Mining School. Ay R White. AuIntegrative Character Education (ICE): Grounding Facilitated Prosocial Development in a Humanistic Perspective for a Multicultural World. Ay An-Nadzir : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. No. Mei 2026 Hal. mengeksplorasi hubungan antara karakter multikultural dengan capaian akademik dan sosial siswa dalam jangka panjang. Implementasi Penguatan Karakter melalui Program Partisipasi Keluarga dan Komunitas Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi penguatan karakter berbasis nilai Islam multikultural di SD YPPSB 3 Sangatta berkembang melalui keterlibatan keluarga dan komunitas sebagai bagian dari ekosistem pendidikan siswa. Sekolah tidak memposisikan pendidikan karakter sebagai tanggung jawab guru semata, tetapi sebagai proses bersama yang membutuhkan dukungan lingkungan rumah dan masyarakat sekitar. Dalam praktiknya, keterlibatan keluarga terlihat melalui komunikasi rutin antara sekolah dan orang tua, kegiatan parenting, pelaporan perkembangan siswa melalui aplikasi bina karakter, serta keterlibatan orang tua dalam berbagai kegiatan sekolah. Salah satu pihak manajemen sekolah menjelaskan: AuKalau karakter hanya dibangun di sekolah, hasilnya tidak akan kuat. Karena anak lebih banyak berada di rumah dan lingkungan sosialnya. Jadi sekolah harus bekerja sama dengan orang tua. Ay (Wawancara yayasan, 2. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa sekolah berusaha membangun penguatan karakter melalui pendekatan kolaboratif. Komunikasi dengan keluarga tidak hanya dilakukan ketika muncul masalah siswa, tetapi juga menjadi bagian dari proses pemantauan pembiasaan karakter sehari-hari. Dalam observasi penelitian, beberapa guru terlihat cukup aktif berkomunikasi dengan orang tua terkait kedisiplinan, kebiasaan ibadah, penggunaan media digital, dan perkembangan perilaku siswa di rumah. Situasi ini menunjukkan bahwa penguatan karakter dipahami sebagai proses yang perlu dijaga secara berkelanjutan antara lingkungan sekolah dan keluarga. Hasil penelitian ini sejalan dengan pandangan Pattnaik yang menegaskan bahwa keterlibatan orang tua merupakan bagian penting dalam keberhasilan pendidikan multikultural karena keluarga memiliki pengaruh besar terhadap cara anak memahami keberagaman social. 23 Temuan penelitian ini juga mendukung penelitian PG Tlali yang menjelaskan bahwa perkembangan karakter dan sikap sosial anak sangat dipengaruhi oleh hubungan antara lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga dalam konteks pendidikan 24 Dalam konteks SD YPPSB 3 Sangatta, keterlibatan keluarga membantu sekolah menjaga kesinambungan pembiasaan nilai yang telah dibangun di sekolah agar tetap berlangsung di rumah. Namun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga tidak selalu berjalan secara merata. Dalam wawancara, beberapa guru mengakui bahwa terdapat perbedaan tingkat partisipasi orang tua dalam mendukung program sekolah. Sebagian orang tua cukup aktif mengikuti kegiatan parenting dan komunikasi sekolah, sementara sebagian lainnya masih terbatas karena faktor pekerjaan, waktu, maupun pola pengasuhan keluarga. Salah satu guru menjelaskan: AuAda orang tua yang sangat aktif memantau perkembangan anak dan sering komunikasi dengan guru, tetapi ada juga yang jarang terlibat karena kesibukan kerja. Ay (Wawancara Guru, 2. Temuan ini menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter berbasis partisipasi keluarga menghadapi tantangan sosial yang cukup kompleks. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan program karakter tidak hanya bergantung pada desain sekolah, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi dan budaya keluarga siswa. Pattnaik. AuMulticultural Literacy Starts at Home: Supporting Parental Involvement in Multicultural Education. Ay PG Tlali. AuParental Involvement in Language Education in Multilingual and Multicultural Contexts. Ay Model Manajemen Penguatan Karakter Berbasis Nilai Islam Multikultural melalui Partisipasi Keluarga dan Komunitas di Sekolah Dasar (Sismanto. Luis Ignacio Silva Neira. Sri Andriani. Yusnia Binti Khalifa. Situasi ini berbeda dengan kecenderungan penelitian Eliyahu-Levi yang menggambarkan bahwa hambatan partisipasi keluarga lebih banyak dipengaruhi faktor bahasa dan keterbatasan akses social. 25 Dalam penelitian ini, hambatan partisipasi justru lebih banyak berkaitan dengan konsistensi pendampingan anak dan variasi pola pengasuhan dalam Selain keluarga, implementasi penguatan karakter juga diperkuat melalui keterlibatan komunitas dan lingkungan sosial sekitar sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah menjalin kerja sama dengan komite sekolah, lembaga sosial, perusahaan, dan beberapa institusi pendidikan dalam mendukung kegiatan siswa berbasis sosial dan kepedulian lingkungan. Dalam observasi penelitian, siswa terlihat cukup aktif mengikuti kegiatan berbagi, bakti sosial, kegiatan lingkungan, dan aktivitas lintas agama yang melibatkan masyarakat sekitar. Salah satu guru menjelaskan: AuAnak-anak perlu belajar langsung dari masyarakat. Jadi mereka tidak hanya tahu teori toleransi, tetapi juga mengalami bagaimana bekerja sama dan peduli dengan lingkungan sekitar. Ay (Wawancara Guru, 2. Temuan tersebut menunjukkan bahwa komunitas diposisikan sekolah sebagai ruang belajar sosial bagi siswa. Penguatan karakter tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dibangun melalui pengalaman nyata siswa dalam berinteraksi dengan masyarakat yang beragam. Kondisi ini mendukung penelitian Sismanto et al. yang menjelaskan bahwa pendidikan karakter berbasis literasi dan pengalaman sosial dapat membangun karakter inklusif serta memperkuat nilai multikultural siswa. 26 Di sisi lain, hasil penelitian ini juga memperlihatkan bahwa keterlibatan komunitas membuat siswa lebih mudah memahami nilai kepedulian sosial karena mereka mengalami langsung praktik berbagi dan kerja sama di lingkungan masyarakat. Meskipun program kolaborasi sekolah dan komunitas berjalan cukup aktif, hasil observasi menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam kegiatan sekolah masih cenderung bersifat programatik dan belum sepenuhnya terintegrasi dalam aktivitas pendidikan sehari-hari. Dalam beberapa kegiatan, keterlibatan komunitas lebih terlihat ketika sekolah mengadakan program sosial atau kegiatan tertentu, sementara pada aktivitas rutin pembelajaran peran komunitas masih relatif terbatas. Situasi ini menunjukkan bahwa penguatan karakter berbasis komunitas masih memerlukan pengelolaan yang lebih berkelanjutan agar hubungan antara sekolah dan lingkungan sosial tidak hanya berlangsung pada kegiatan seremonial. Dari perspektif manajemen pendidikan, hasil penelitian memperlihatkan bahwa implementasi penguatan karakter di SD YPPSB 3 Sangatta dibangun melalui koordinasi antara sekolah, keluarga, dan komunitas dalam mendukung pembiasaan nilai siswa. Sekolah tidak hanya menyusun program karakter, tetapi juga mengembangkan mekanisme komunikasi, pemantauan, dan evaluasi melalui wali kelas, kegiatan parenting, aplikasi bina karakter, dan keterlibatan komite sekolah. Temuan ini memperlihatkan bahwa penguatan karakter lebih efektif ketika sekolah mampu mengelola hubungan sosial antar lingkungan pendidikan siswa secara kolaboratif. Kondisi tersebut memperkuat pandangan Raihani bahwa implementasi pendidikan multikultural sangat dipengaruhi oleh konsistensi praktik Eliyahu-Levi. AuParental Involvement of African Migrants in Multicultural Israeli Education Settings. Ay Sismanto. AuDigital Transformation of Character Education Model and Its Implementation for Diverse StudentsAy. Sismanto et al. AuEnhancing School Literacy through Multicultural Islamic Education: An Evidence From a Mining School. Ay An-Nadzir : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. No. Mei 2026 Hal. sosial dan budaya sekolah dalam membangun relasi dengan lingkungan pendidikan yang lebih luas. Kontribusi penelitian ini terletak pada penguatan kajian manajemen pendidikan karakter berbasis ekosistem sosial dalam konteks sekolah dasar multikultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter berbasis nilai Islam multikultural tidak hanya dipengaruhi oleh kurikulum dan pembelajaran formal, tetapi juga oleh kualitas hubungan antara sekolah, keluarga, dan komunitas dalam membangun pembiasaan nilai secara bersama. Temuan ini memperluas kajian sebelumnya yang cenderung menempatkan keluarga dan komunitas sebagai faktor pendukung, sementara dalam penelitian ini keduanya terlihat menjadi bagian yang terintegrasi dalam proses penguatan karakter siswa. Implikasi praktis dari penelitian ini menunjukkan bahwa sekolah dasar multikultural memerlukan sistem pengelolaan pendidikan karakter yang lebih partisipatif dan adaptif terhadap kondisi sosial keluarga siswa. Sekolah tidak cukup hanya menyediakan program karakter, tetapi juga perlu membangun komunikasi yang intensif dengan keluarga, menciptakan ruang keterlibatan komunitas, serta menjaga kesinambungan pembiasaan karakter antara sekolah dan lingkungan rumah agar nilai-nilai yang dibangun dapat berkembang secara lebih konsisten dalam kehidupan sehari-hari Model Manajemen Penguatan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Islam Multikultural Hasil penelitian menunjukkan bahwa model manajemen penguatan karakter berbasis nilai Islam multikultural di SD YPPSB 3 Sangatta berkembang melalui keterhubungan antara budaya sekolah, sistem pengelolaan pendidikan, pembiasaan nilai, serta keterlibatan keluarga dan komunitas. Dalam praktiknya, sekolah tidak menempatkan pendidikan karakter sebagai program tambahan yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari keseluruhan proses pendidikan yang berlangsung dalam aktivitas sehari-hari siswa. Nilai karakter dirancang sejak tahap perencanaan program sekolah, diterapkan dalam pembelajaran dan budaya sekolah, lalu diperkuat melalui keterlibatan keluarga dan lingkungan sosial siswa. Salah satu pihak yayasan menjelaskan: AuKarakter itu sebenarnya dibangun dari kebiasaan yang terus diulang. Jadi bukan hanya kegiatan tertentu, tetapi bagaimana semua lingkungan sekolah ikut membentuk cara berpikir dan perilaku anak. Ay (Wawancara Yayasan, 2. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan karakter di sekolah berkembang melalui pendekatan yang lebih menyatu dengan kehidupan sosial siswa. Dalam observasi penelitian, pembiasaan karakter tidak hanya terlihat saat proses pembelajaran berlangsung, tetapi juga muncul dalam interaksi sehari-hari siswa, cara guru membangun komunikasi, kegiatan sosial sekolah, hingga keterlibatan orang tua dalam aktivitas pendidikan. Situasi ini menunjukkan bahwa penguatan karakter di sekolah berjalan sebagai budaya bersama, bukan sekadar instruksi formal dari sekolah kepada Model yang ditemukan dalam penelitian ini bertumpu pada tiga karakter inti, yaitu cinta, cendekia, dan kepemimpinan. Karakter cinta menjadi dasar dalam membangun sikap religius, toleransi, kepedulian sosial, nasionalisme, serta penghargaan terhadap budaya Dalam pengamatan penelitian, siswa terlihat terbiasa berinteraksi dengan teman yang berbeda agama dan latar belakang sosial tanpa adanya sekat yang terlalu terlihat di lingkungan sekolah. Program berbagi, kegiatan sosial lintas agama, pembiasaan menjaga Raihani. AuEducation for Multicultural Citizens in Indonesia: Policies and Practices,Ay Compare: A Journal of Comparative and International Education 48, no. 6 (November 2, 2. : 992Ae1009, https://doi. org/10. 1080/03057925. Model Manajemen Penguatan Karakter Berbasis Nilai Islam Multikultural melalui Partisipasi Keluarga dan Komunitas di Sekolah Dasar (Sismanto. Luis Ignacio Silva Neira. Sri Andriani. Yusnia Binti Khalifa. lingkungan, dan penggunaan budaya lokal dalam kegiatan sekolah menjadi bagian dari proses pembentukan karakter tersebut. Salah satu guru menjelaskan: AuAnak-anak dibiasakan supaya bisa hidup bersama dalam perbedaan. Jadi mereka tidak hanya belajar menghormati orang lain dari teori, tetapi langsung dipraktikkan dalam kegiatan sehari-hari. Ay (Wawancara Guru, 2. Temuan tersebut mendukung penelitian Budirahayu dan Saud yang menjelaskan bahwa pendidikan multikultural akan lebih efektif ketika siswa mengalami langsung praktik hidup harmonis dalam keberagaman social. 28 Hasil penelitian ini juga memperkuat temuan Sismanto et al. yang menunjukkan bahwa pendidikan Islam multikultural perlu diintegrasikan dalam budaya sekolah dan pembiasaan harian agar nilai karakter dapat berkembang secara lebih kontekstual. 29 Namun demikian, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa praktik penguatan karakter tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Dalam beberapa wawancara, guru mengakui bahwa terdapat perbedaan tingkat pemahaman keluarga terhadap praktik pendidikan multikultural di sekolah. Beberapa orang tua mendukung penuh program sekolah, tetapi sebagian lainnya masih memandang interaksi lintas agama secara lebih hati-hati sehingga sekolah perlu membangun komunikasi yang lebih intensif dengan keluarga. Karakter cendekia dikembangkan melalui budaya literasi, pembelajaran aktif, dan penggunaan teknologi dalam proses belajar. Dalam observasi penelitian, guru terlihat memberi ruang kepada siswa untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan bekerja sama dalam kelompok selama pembelajaran berlangsung. Situasi kelas terlihat lebih komunikatif dibandingkan pembelajaran satu arah. Salah satu guru menyampaikan: AuKami ingin anak-anak tidak hanya disiplin, tetapi juga berani berpikir dan menyampaikan pendapatnya dengan baik. Ay (Wawancara Guru, 2. Temuan ini sejalan dengan penelitian Sismanto yang menegaskan bahwa pendidikan karakter di era digital perlu dikembangkan melalui penguatan literasi dan pembelajaran aktif agar siswa mampu berkembang secara sosial dan intelektual. 30 Akan tetapi, hasil observasi menunjukkan bahwa tingkat partisipasi siswa dalam kegiatan literasi dan diskusi belum sepenuhnya merata. Beberapa siswa terlihat aktif dan percaya diri, sedangkan sebagian lainnya masih pasif dan membutuhkan pendampingan guru secara lebih intensif. Situasi tersebut menunjukkan bahwa pembentukan karakter cendekia memerlukan proses yang bertahap dan dipengaruhi oleh pengalaman sosial siswa baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga. Sementara itu, karakter kepemimpinan dikembangkan melalui pembiasaan disiplin, tanggung jawab, dan keterlibatan siswa dalam aktivitas sekolah. Dalam pengamatan penelitian, guru lebih banyak menggunakan pendekatan komunikasi dan pembiasaan dibandingkan hukuman formal ketika menghadapi pelanggaran siswa. Relasi antara guru dan siswa terlihat cukup dekat sehingga pembinaan karakter berlangsung lebih dialogis. Salah satu guru menjelaskan: AuBiasanya anak diajak memahami kenapa aturan itu penting. Jadi mereka belajar bertanggung jawab, bukan hanya takut dihukum. Ay (Wawancara Guru, 2. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan dipahami sekolah sebagai kemampuan mengelola diri dan membangun tanggung jawab sosial sejak usia dasar. Temuan ini mendukung penelitian White yang menjelaskan bahwa pendidikan karakter di Budirahayu and Saud. AuThe Promotion of Multicultural Education in Schools: A Study of Teaching Multidisciplinary Courses in Indonesian Schools. Ay Sismanto. Bakri, and Huda. AuImplementation of Multicultural Islamic Education Values,Ay 2022. Sismanto. AuDigital Transformation of Character Education Model and Its Implementation for Diverse StudentsAy. Sismanto et al. AuEnhancing School Literacy through Multicultural Islamic Education: An Evidence From a Mining School. Ay An-Nadzir : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. No. Mei 2026 Hal. masyarakat multikultural perlu dikembangkan melalui pendekatan humanistik dan relasional, bukan sekadar kontrol perilaku siswa. 31 Namun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pembiasaan disiplin siswa masih menghadapi kendala ketika kebiasaan yang dibangun sekolah tidak selalu diperkuat di rumah. Dalam beberapa situasi, guru harus mengingatkan siswa secara berulang terkait kedisiplinan dan tanggung jawab Secara manajerial, model penguatan karakter di SD YPPSB 3 Sangatta berkembang melalui integrasi fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi program karakter. Pada tahap perencanaan, nilai karakter dirumuskan dalam visi sekolah, program yayasan, dan kegiatan strategis sekolah. Tahap pengorganisasian dilakukan melalui pembagian peran antara yayasan, kepala sekolah, guru, komite sekolah, dan orang tua dalam mendukung implementasi program karakter. Pada tahap pelaksanaan, penguatan karakter diintegrasikan dalam kurikulum, budaya sekolah, pembiasaan harian, kegiatan sosial, serta program seperti bina karakter. Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Pro-Guru, dan Propagantas. Sementara itu, evaluasi dilakukan melalui pengamatan perilaku siswa, komunikasi dengan keluarga, laporan guru, dan penggunaan aplikasi bina karakter untuk memantau perkembangan siswa di rumah maupun di sekolah. Gambar berikut menunjukkan model manajemen penguatan karakter berbasis nilai Islam multikultural yang dikembangkan melalui integrasi nilai dasar, dimensi karakter, strategi implementasi, ekosistem pendukung, evaluasi, dan hasil akhir pendidikan karakter. Gambar 1. Model Manajemen Penguatan Karakter Berbasis Nilai Islam Multikultural di SD YPPSB 3 Sangatta Model yang dihasilkan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penguatan karakter tidak berkembang secara linear, tetapi melalui hubungan yang dinamis antara R White. AuIntegrative Character Education (ICE): Grounding Facilitated Prosocial Development in a Humanistic Perspective for a Multicultural World. Ay Model Manajemen Penguatan Karakter Berbasis Nilai Islam Multikultural melalui Partisipasi Keluarga dan Komunitas di Sekolah Dasar (Sismanto. Luis Ignacio Silva Neira. Sri Andriani. Yusnia Binti Khalifa. sekolah, keluarga, dan komunitas sebagai bagian dari ekosistem pendidikan siswa. Dalam praktiknya, sekolah masih menghadapi beberapa tantangan seperti perbedaan tingkat keterlibatan orang tua, pengaruh media digital terhadap perilaku siswa, dan ketidakkonsistenan pembiasaan karakter di lingkungan rumah. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan karakter di sekolah dasar multikultural memerlukan proses pengelolaan yang adaptif dan berkelanjutan sesuai dengan kondisi sosial siswa. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada pengembangan model manajemen penguatan karakter berbasis nilai Islam multikultural yang menempatkan sekolah, keluarga, dan komunitas sebagai satu kesatuan ekosistem pendidikan karakter. Penelitian ini menunjukkan bahwa penguatan karakter tidak hanya dipengaruhi oleh kurikulum dan pembelajaran formal, tetapi juga oleh kualitas hubungan sosial, budaya sekolah, dan pengalaman sosial siswa dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini memperluas kajian sebelumnya yang lebih banyak menempatkan keluarga dan komunitas sebagai faktor pendukung, sementara dalam penelitian ini keduanya menjadi bagian yang terintegrasi dalam proses penguatan karakter siswa. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan model penguatan karakter berbasis nilai Islam multikultural pada konteks sekolah yang lebih beragam, baik di sekolah negeri maupun swasta dengan latar sosial yang berbeda. Selain itu, penelitian lanjutan juga dapat mengkaji efektivitas model melalui pendekatan longitudinal atau mixed methods untuk melihat perubahan karakter siswa dalam jangka waktu yang lebih panjang serta pengaruh perkembangan media digital terhadap pembentukan karakter di lingkungan sekolah multikultural. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan karakter berbasis nilai Islam multikultural di SD YPPSB 3 Sangatta dikembangkan melalui pengelolaan pendidikan yang mengintegrasikan budaya sekolah, pembelajaran, pembiasaan nilai, serta keterlibatan keluarga dan komunitas dalam satu ekosistem pendidikan karakter. Karakter cinta, cendekia, dan kepemimpinan tidak hanya dibangun melalui kurikulum formal, tetapi juga melalui pengalaman sosial siswa dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, rumah, dan lingkungan masyarakat. Implementasi penguatan karakter dilakukan melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, yayasan, dan komunitas melalui program pembiasaan, literasi, kegiatan sosial, serta komunikasi berkelanjutan antara guru dan orang tua. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa penguatan karakter di sekolah dasar multikultural memerlukan pendekatan manajerial yang partisipatif, kontekstual, dan berkelanjutan agar internalisasi nilai dapat berkembang secara konsisten dalam berbagai lingkungan pendidikan siswa. Kontribusi teoretis utama penelitian ini terletak pada pengembangan model manajemen penguatan karakter berbasis nilai Islam multikultural yang menempatkan keluarga dan komunitas bukan sekadar faktor pendukung, tetapi sebagai bagian yang terintegrasi dalam sistem pengelolaan pendidikan karakter. Kebaruan penelitian ini terletak pada model penguatan karakter berbasis ekosistem sosial yang menghubungkan nilai Islam multikultural, budaya sekolah, partisipasi keluarga, dan keterlibatan komunitas dalam satu kerangka manajemen pendidikan karakter di sekolah dasar multikultural. An-Nadzir : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. No. Mei 2026 Hal. REFERENCES