UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MENGGUNAKAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE INSTANT ASSESSMENT PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 04 KAMPUNG OLO ASRA YARSI Asrayarsi@gmail. Guru SD Negeri 04 Kampung Olo Abstract : In the process of learning and teaching, teachers experience various problems in the classroom. This research is motivated because there are still students who are less active and do not pay attention to the materials provided by the teacher, students are often cheated when training and examinations and student discount is still a lack of confidence and fear of performing in front of the class. The use of active learning strategies Asessment type Instant expected to improve understanding of the mathematical concept of sixth grade students and have a positive impact on learning outcomes for mathematics. This research is a classroom action research (CAR) conducted in two cycles. The subjects were students of class VI totaling 30 people. Data collection techniques gained by observation, field notes and tests. Observation and field notes made when the learning process and the tests performed at the end of the cycle. Based on observations showed increased activity of students in the learning process that impact on increasing understanding of mathematical concepts. This is shown in the results of learning mathematics in pre-cycle, the first cycle and the second cycle. Students' understanding of mathematics concepts in pre-cycle was 23. 33%, increasing to 40% in the first cycle and to 80% in the second cycle. Based on these results it can be concluded that the application of active learning strategies Assessment of type Instant can improve the understanding of mathematical concepts sixth grade students of SD Negeri 04 Kampung Olo. Keywords: Instant Assessment. Concept Comprehension. Mathematical PENDAHULUAN Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru akan menentukan berhasil atau tidaknya tujuan belajar itu. Guru harus bisa menjelaskan konsep-konsep yang abstrak dengan benda atau objek yang konkret agar mudah dipahami oleh siswa. Sejalan dengan hal itu menurut teori Piaget, siswa sekolah Dasar . -12 tahu. berada pada fase operasional Siswa SD masih terikat pada objek konkret yang ditangkap panca indera. Kemampuan yang tampak pada fase ini adalah kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika, meskipun masih terikat dengan objek yang bersifat Mata pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari salah satunya adalah matematika. Matematika dapat menyiapkan individu dalam meningkatkan taraf hidup dan memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 Matematika telah diberikan sejak siswa di Sekolah Dasar. Matematika merupakan ilmu dasar yang memiliki struktur dan ketertarikan yang kuat dan jelas antar konsepnya. Struktur dan keterkaitan yang kuat tersebut dimungkinkan untuk terampil berfikir rasional. Cara berfikir seperti ini dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika bertujuan untuk membentuk pola pikir peserta didik menjadi logis, kritis, dan sistematis serta mampu memecahkan masalah-masalah yang sering timbul dalam kehidupan sehari-hari. Muliyardi . 2: . mengemukakan bahwa : Aupembelajaran matematika adalah upaya membantu siswa untuk mengkonstruksikan konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep atau prinsip itu terbangun kembaliAy. Maksudnya adalah bahwa pembelajaran bertujuan untuk membangkitkan inisiatif dan peran siswa dalam belajar. Pembelajaran lebih menekankan pada bagaimana upaya guru mendorong dan memfasilitasi siswa belajar bukan pada apa yang dipelajari siswa. Pada prinsipnya strategi yang digunakan dalam pembelajaran matematika adalah memberikan kemungkinan seluas-luasnya kepada para siswa untuk berpartisipasi aktif dalam belajar. Kenyataannya pembelajaran matematika selama ini belum berhasil meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep matematis. Pemahaman konsep siswa yang rendah berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hal ini dapat diketahui dari persentase jumlah siswa yang memperoleh hasil belajar di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) pada Ujian Semester 1 Siswa Kelas VI SD Negeri 04 Kampung Olo Padang Tahun Pelajaran 2015/2016. Sebanyak 22 orang siswa . ,33%) memperoleh nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada Kelas VI SD Negeri 04 Kampung Olo Padang, diketahui bahwa aktivitas yang terjadi selama pembelajaran matematika cenderung berlangsung satu arah. Guru memulai dengan menjelaskan materi, memberikan contoh soal, memberikan latihan dan meminta beberapa siswa untuk mengerjakan latihan tersebut didepan kelas sehingga siswa kurang menanggapi atau memberikan respon mengenai materi yang sudah diberikan guru. Akibatnya aktivitas siswa hanya mendengar, memperhatikan dan mencatat. Pada saat guru memberikan latihan sebagaian kecil siswa yang mengerjakan, sebagian siswa ribut dan siswa lainnya mencontek pada temannya yang dianggap paham dan mengetahui. Ketika disuruh kedepan mempresentasikan jawabannya siswa tidak mau atau takut dikarenakan kurangnya rasa percaya diri siswa. Untuk itu diperlukan suatu strategi pembelajaran yang mampu menciptakan suasana kelas yang aktif. Strategi pembelajaran aktif merupakan cara yang digunakan oleh guru untuk mempermudah dalam penyampaian materi pelajaran yang melibatkan siswa untuk berperan aktif sehingga menciptakan suatu pengalaman belajar yang bermakna. Kusnadi . 8: . menyatakan bahwa strategi pembelajaran aktif adalah suatu strategi belajar mengajar yang lebih menekankan pada keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar baik secara fisik, mental, intelektual maupun emosional. Pembelajaran aktif . ctive learnin. dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif . ctive ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 learnin. juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran (Hartono, 2012:. Strategi pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif. Ketika siswa belajar dengan aktif, berarti mereka mendominasi aktivitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari kedalam persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Mendengar dan menilai saja dalam proses pembelajaran akan membuat siswa tidak aktif dan kurang merasa terlibat secara fisik maupun mentalnya terhadap materi yang sedang dipelajari. Jika siswa mampu mencari informasi-informasi sendiri dalam proses belajar dan memperolah umpan balik dari pemahamannya baik dari teman atau guru pasti siswa mampu mengembangkan ide-idenya dalam materi yang sedang dipelajari tersebut. Salah satu strategi pembelajaran aktif adalah strategi pembelajaran instant assessment. Strategi pembelajaran aktif tipe Instant Assessment merupakan strategi yang dapat digunakan untuk melihat latar belakang siswa, pengalaman, sikap, harapan siswa secara Tipe ini sangat baik digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dan sejauh mana siswa menguasai pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya. Silberman . 9: . mengatakan bahwa langkah-langkah pembelajaran Instant Assessment adalah sebagai . Buatlah kartu responden untuk masing-masing siswa. Kartu bisa berisi huruf A. C untuk pertanyaan pilihan ganda. B atau S untuk pertanyaan Betul atau Salah. Kembangkan sejumlah pertanyaan yang mana siswa dapat merspons salah satu dari kartu mereka. Baca pertanyaan pertama dan mintalah mereka menjawab dengan memegang kartu piliham mereka. Mintalah respons peserta didik dengan cepat. Panggilah beberapa peserta didik dengan cepat. Panggilah beberapa peserta untuk berbagi alasan untuk pilihan mereka. Lanjut dengan pertanyaan tersisa. Langkah-langkah pembelajaran aktif tipe Instant Assessment ini adalah siswa dibagi dalam beberapa kelompok berdasarkan kemampuan akademik siswa yang heterogen. Guru membuat empat kartu responden berisi huruf A. C dan D untuk pertanyaan pilihan ganda yang akan diberikan pada masing-masing kelompok. Selanjutnya, guru menjelaskan pembelajaran dan memberikan sejumlah pertanyaan pilihan ganda serta meminta siswa berdiskusi dengan teman sekelompoknya. Guru meminta siswa menjawab pertanyaan dengan mengangkat kartu pilihan jawaban dan memilih satu orang siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok sesuai dengan kartu yang diangkat. Setelah itu guru melanjutkan dengan pertanyaan tersisa. Pada pembelajaran aktif tipe Instant Assessment ini, siswa menyelesaikan masalah secara berkelompok. Pengelompokkan dilakukan secara heterogen. Berdasarkan permasalahan yang dihadapi dalam pengajaran Matematika di SD Negeri 04 Kampung Olo dan pendapat para ahli tentang strategi pembelajaran aktif tipe Instant Assessment maka Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana aktivitas siswa Kelas VI SD Negeri 04 Kampung Olo Padang selama ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 pembelajaran matematika dengan menerapkan pembelajaran aktif tipe Instant Assessment dan mengetahui pemahaman konsep siswa kelas VI SD Negeri 04 Kampung Olo Padang dengan menerapkan pembelajaran aktif tipe Instant Assessment. Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai alternatif strategi pembelajaran guru yang dapat membuat siswa mudah dalam memahami konsep-konsep matematika yang diajarkan sehingga hasil belajarnya dapat meningkat, masukan bagi guru khususnya guru matematika kelas VI SD Negeri 04 Kampung Olo Padang dalam memilih alternatif strategi pembelajaran matematika yang efektif untuk diajarkan disekolah dan bahan sumbangan pemikiran untuk SD Negeri 04 Kampung Olo Padang tentang strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya pembelajaran METODE PENELITIAN Sesuai dengan permasalahan penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya, maka jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Arikunto . 0: . menyebutkan bahwa PTK merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerja guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Penelitian ini dilakukan pada semester II tahun ajaran 2015/2016. Waktu penelitian yaitu dimulai pada bulan Februari 2016 tepatnya tanggal 8 Februari 2016 sampai dengan tanggal 25 April 2016. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan. Penelitian dilakukan di kelas VI SD Negeri 04 Kampung Olo Padang dengan jumlah siswa 30 orang yang terdiri dari 13 orang siswa laki Ae laki dan 17 orang siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang terdiri dari empat tahap yaitu, perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan observasi dan tes. Observasi dilakukan selama proses pelaksanaan tindakan untuk melihat keaktifan siswa dan tes dilaksanakan setiap akhir siklus tindakan. Data penelitian dianalisis dengan membuat persentase dimana untuk menentukan kriteria penilaian tentang aktifitas siswa selama proses pembelajaran dengan penerapan strategi instant assessment, maka dikategorikan dalam 5 kriteria penilaian yaitu sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, dan sangat rendah. Sedangkan hasil tes dianalisa berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75. HASIL PENELITIAN Siklus I Hasil pengamatan kolaborator dan peneliti pada siklus I menunjukkan bahwa siswa masih belum aktif dalam pembelajaran matematika. Hal ini dilihat pada persentase aspek ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 kegiatan siswa yang diamati pada kegiatan visual, oral dan motorik. Aspek kegiatan visual dan motorik mendapat nilai sebesar 67% dan 60% yang dikategorikan tinggi, sedangkan pada aspek kegiatan oral, hasil observasi hanya menunjukkan persentase 55% yang dikategorikan cukup. Hal ini membuktikan bahwa pada siklus I ini, siswa masih belum aktif dan partisipatif selama proses belajar mengajar berlangsung. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 1. Hasil Observasi Aktifitas Siswa Siklus I Jumlah Nilai . Persentase (%) Visual Skor Oral Motorik Hasil pengamatan pada hasil belajar siswa diketahui bahwa siswa yang mencapai ketuntasan individual sebanyak 12 orang, sedangkan siswa yang belum tuntas sebanyak 18 orang, sehingga ketuntasan hanya mencapai 40% dengan nilai rata Ae rata 63,16. Ketuntasan yang harus dicapai adalah 75%, maka penelitian dilanjutkan ke siklus 2 agar rata-rata hasil belajar siswa mencapai ketuntasan yang diharapkan. Hasil belajar siswa disajikan pada tabel 2 berikut ini. Tabel 2. Hasil Belajar Siswa pada Siklus I Jumlah Rata Ae rata Persentase Tuntas Persentase Tidak Tuntas 63,16 Siklus II Pada siklus II ini terdapat peningkatan keaktifan siswa dan peningkatan hasil belajar siswa yang mengindikasikan bahwa pemahaman siswa tentang konsep matematika sudah Hal ini dapat dilihat pada tabel 3 tentang keaktifan siswa. Tabel 3. Hasil Observasi Aktifitas Siswa Siklus II Jumlah Nilai . Persentase (%) Visual 83,33 Skor Oral 77,78 Motorik 83,33 Berdasarkan pada tabel 3 diatas dapat dilihat bahwa, pada setiap aspek kegiatan siswa yang diamati. aspek visual, oral dan motorik, memperoleh nilai 83,33%, 77,78% dan 83,33% yang dikategorikan pada level tinggi dan sangat tinggi. Pada siklus I, aspek kegiata oral siswa masih berada pada level cukup, pada siklus II ini meningkat menjadi 77,78% atau pada level sangat tinggi. Berdasarkan pada hasil observasi diatas, dapat disimpulkan ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 bahwa keaktifan siswa pada proses belajar mengajar berlangsung sudah sangat baik. Hal ini mengindikasikan bahwa penerapan strategi pembelajaran aktif tipe Instant Assessment dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa. Tabel 4. Hasil Belajar Siswa pada Siklus I Jumlah Rata Ae rata Persentase Tuntas Persentase Tidak Tuntas Hasil belajar pada siklus II yang disajikan pada tabel 4, menunjukkan bahwa nilai rata Ae rata yang diperoleh siswa pada siklus II ini adalah 74,5 dengan persentase siswa tuntas sebanyak 80% atau 24 orang siswa dinyatakan tuntas dalam memahami konsep matematika dengan materi operasi hitung pecahan. Sedangkan masih ada 6 orang siswa lagi . %) belum mencukupi kriteria ketuntasan maksimal. Berdasarkan hasil keaktifan belajar dan hasil belajar siswa dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi pembelajaran aktif tipe Instant Assessment dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas VI SD Negeri 04 Kampung Olo pada pembelajaran konsep matematis. PEMBAHASAN Peningkatan keaktifan siswa ditandai dengan meningkatkan kegiatan siswa yang diamati berdasarkan tiga aspek yaitu aspek visual, oral dan motorik dari siklus I ke siklus II. Perbandingan antara jumlah dan persentase kegiatan visual, oral dan motorik pada siklus I dan II dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 5. Hasil Observasi Aktifitas Siswa Siklus I dan II Siklus Siklus I Siklus II Visual ,33%) Kegiatan Oral ,78%) Motorik ,33%) Berdasarkan tabel 1. diatas dapat dilihat bahwa pada siklus I, pada aspek kegiatan visual siswa memperoleh persentase sebesar 67%, sedangkan pada aspek kegiatan oral siswa memperoleh persentase sebesar 55% dan aspek kegiatan motorik siswa sebesar 60%. Hal ini mengindikasikan bahwa keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar pada siklus I ini belum menunjukkan hasil yang maksimal dimana aspek kegiatan motorik masih dikategorikan cukup. Pada siklus II, hasil observasi menunjukkan bahwa pada ketiga aspek kegiatan yang diamati telah memenuhi indikator keberhasilan dimana masing Ae masing ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 aspek memperoleh persentase nilai sebesar 83,33% untuk aspek kegiatan visual, 77,78% pada aspek kegiatan oral dan 83,33% untuk aspek kegiatan motorik. Berdasarkan persentase tersebut dapat dilihat bahwa keaktifan siswa pada mata pelajaran matematika dengan menggunakan startegi pembelajaran aktif tipe instant assessment meningkat. Peningkatannya dapat dilihat pada grafik 4. 1 dibawah ini. Grafik 1 Hasil Observasi Aktifitas Siswa Siklus I Dan II Adapun peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 6. Hasil Belajar Siswa pada Siklus I dan Siklus II Aspek Diamati Siklus I Siklus II Jumlah Siswa 30 orang 30 orang Jumlah Siswa yang Tuntas 12 orang . %) 24 orang . %) Jumlah Siswa yang Tidak Tuntas 18 orang. %) 6 orang . %) Peningkatan hasil belajar siswa melalui strategi instant assessment pada proses pembelajaran juga dapat dilihat pada gambar grafik dibawah ini: Grafik 2. Hasil Belajar Siswa pada Siklus I dan Siklus II ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 Pada grafik tersebut, terlihat peningkatan hasil belajar siswa dari evaluasi yang telah Pada siklus I jumlah siswa yang tuntas sebanyak 12 orang siswa, pada siklus II sebanyak 24 orang siswa telah mencapai KKM yang ditetapkan atau dinyatakan telah Berdasarkan hasil yang diperoleh dari siklus II, dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa dan telah mencapai target yang diinginkan. Melalui stratrgi instant assessment yang digunakan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar dalam buku Melvin L. Silberman, bahwa strategi ini selalu melibatkan peserta anak didik sejak dari awal pelajaran sampai akhir pelajaran. Dengan sendirinya pembelajaran ini juga mendorong tumbuhnya sikap keterbukaan diantara siswa. Pola interaksi yang bersifat terbuka dan langsung sangat penting untuk memperoleh timbulnya semangat untuk meningkatkan hasil belajar. Jadi, dapat disimpulkan bahwa strategi instant assessment ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Proses belajar mengalami peningkatan juga karena adanya aktivitas guru dan aktivitas siswa yang seimbang dan seiring, sehingga mendapatkan antusias belajar yang tinggi dari siswa di KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan data tentang penerapan strategi pembelajaran aktif instant assessment untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika di kelas VI SD Negeri 04 Kampung Olo Semester II tahun ajaran 2015/2016, diketahui bahwa pelaksanaan strategi instant assessment pada siklus pertama dilaksanakan dengan baik dan pada siklus kedua dilaksanakan sangat baik, hal ini ISSN Online: 2549-4791iCCetak: 2549-4201 UNES Journal Of Education Vol 1 Issue 1. February 2017 dapat dilihat adanya peningkatan hasil belajar siswa sebelum tindakan, siklus I, dan siklus II. Pada sebelum tindakan ketuntasan siswa hanya mencapai 7 orang siswa yang tuntas atau sebesar 23,33%. Setelah diadakan tindakan siklus I meningkat menjadi 12 orang siswa atau ketuntasan mencapai 40%. Pada siklus II hasil belajar siswa meningkat lagi dengan 24 orang siswa memperoleh nilai sama dengan krtiteri ketuntas minimal atau sebesar 80%. Untuk nilai rata-rata kelas telah mencapai 74,5 dengan kategoriAuBagusAy karena berada pada rentang 50-75. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pemahaman konsep matematika pada siswa kelas VI SD Negeri 04 Kampung Olo dapat ditingkatkan melalui strategi instant assessment. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka diajukan saran sebagai berikut: Guru matematika khususnya guru Kelas VI SD Negeri 04 Kampung Olo Padang diharapkan dapat menggunakan pembelajaran aktif tipe Instant Assessment yang dapat dijadikan salah satu alternatif dalam pembelajaran. Karena penelitian ini hanya dilakukan pada pokok bahasan Operasi Hitung Pecahan, untuk itu disarankan pada pokok bahasan lain, serta dapat mengalokasikan waktu dengan baik agar hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan. REFERENSI