Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 5 No. February 2025, pp. ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346. DOI: 10. 57163/almuhafidz. Journal Homepage: https://jurnal. stiq-almultazam. id/index. php/muhafidz/index THE PARADIGM OF THE WORD HANIF IN THE QUR'AN: A STUDY OF MAWDU'I TAFSIR Abdullah Hadani,1 Sihabudin2* 1 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Indonesia 2 Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon. Indonesia Article Info ABSTRACT Article history: MawduAoi commentary is a method of Quranic interpretation that analyzes a specific surah or gathers verses with similar themes under one topic. This study employs a mawduAoi approach to examine the meaning of hanif in the QurAoan, focusing on verses that explicitly contain the word without including its derivations. The objective is to determine the criteria of the hanif religion practiced by Prophet Ibrahim while comparing interpretations from Meccan and Medinan period verses. Additionally, this research explores scholarly perspectives to contextualize the concept of hanif in Islamic theology. Using a qualitative mawduAoi approach, this study integrates linguistic, theological, and historical analyses. Its novelty lies in the contextual comparison of Quranic revelations, offering a dynamic interpretation of hanif. The findings reveal five key characteristics of the hanif religion: an inclination toward monotheism, sincerity in worship, belief in all messengers of Allah, orientation toward the Kaaba and Hajj, and a strong commitment to affirming AllahAos Oneness. This research highlights the Quranic legitimacy of Islam as the continuation of IbrahimAos millah, distinguishing it from Jewish and Christian claims. By providing a structured thematic analysis, this study enhances the understanding of hanif and its relevance in contemporary Islamic thought. It emphasizes hanif as a foundational principle of monotheism, guiding Muslims in faith and devotion to Allah. Received Dec 12, 2024 Revised Feb 4, 2025 Accepted Feb 4, 2025 Published Feb 25, 2025 Keywords: Hanif Interpretation MawduAoi How to Cite Hadani. Abdullah and Sihabudin. AuThe Paradigm of The Word Hanif in The Qur'an: A Study of Mawdu'i TafsirAy. Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsir, 5. , https://doi. org/10. 57163/almuha This is an open access article under the CC BY license. Corresponding Author: Sihabudin Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon. Jalan Perjuangan By-Pass Sunyaragi. Kecamatan Kesambi. Kota Cirebon. Jawa Barat, 45132. Indonesia Email: Syihabuddinachmad1000@gmail. Copyright . 2025 Abdullah Hadani. Sihabudin Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 PENDAHULUAN Membicarakan tentang agama, berarti memuat perbincangan agama secara kontinuitas baik di masa lalu, sekarang, maupun masa depan. Setiap agama, dalam hal ini adalah Islam, selalu memiliki ciri khas tersendiri. Islam misalnya, dalam al-QurAoan beberapa kali disebutkan klaim bahwa Islam adalah agama hanif. Dalam pada itu agama hanif selalu dikaitkan dengan keberadaan ajaran Ibrahim. Ibrahim diyakini sebagai sosok hanifan muslima yang secara primordial maupun perenial ajarannya tetap berpangkal pada Tuhan yang tunggal, dalam bahasa Al-QurAoan disebut al-din al-qayyim. Pada penelitian ini akan dikaji mengenai paradigma kata hanif dalam Al-QurAoan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif pustaka. Sebuah penelitian yang sumbernya mengacu kepada literatur yang berkaitan dengan tema Pengambilan sumber data dilakukan dengan memaparkan penafsiranpenafsiran terkait kata hanif dalam Al-QurAoan yang kemudian akan dikaji melalui kajian tafsir mawduAoi kontekstual milik Abdul Mustaqim. Dalam karyanya Abdul Mustaqim memaparkan bahwa ayat-ayat Al-QurAoan selalu bersifat dinamis dalam penafsiran, maka kemudian interpretasi yang dihadirkan melalui tema-tema tertentu diharapkan dapat memenuhi pemahaman secara kontekstual. Dalam literatur review yang dilakukan penulis setidaknya terdapat tiga buah penelitian yang membahas tema hanif dalam Al-QurAoan. Pertama. Mubarak Bakri yang menulis tentang konsep hanif dalam Al-QurAoan dan di dalamnya membahas tentang arti kata hanif disertai dengan pandangan ulama tanpa disertai adanya penggalan ayat-ayat yang menyebut terma hanif secara keseluruhan. 3 Kedua, tulisan milik Ridhoul Wahidi yang berjudul penafsiran kata hanif dalam Al-QurAoan yang di dalamnya fokus menyebutkan ayat-ayat terkait terma hanif serta sekilas menyebutkan penafsirannya tanpa disertai pemahaman kontekstual terhadap arti kata hanif. 4 Ketiga, skripsi milik Alfin Khusain yang membahas komparasi penafsiran kata hanif perspektif sunni dan syiAoah. Dalam penelitian terebut fokus kajian adalah mendeskripsikan penafsiran ulama sunni yang diwakili oleh kitab Tafsir al-Munir dan ulama syiAoah yang diwakili oleh kitab Tafsir al-Mizan. Kata hanif disebutkan beberapa kali dalam Al-QurAoan dan disertai pula penyebutan nama Ibrahim. Penyebutan ini bukan tanpa dasar, melainkan sebagai penyokong keberadaan agama Islam dalam ajarannya. 5 Klaim Al-QurAoan terhadap agama Islam sebagai penerus millah Ibrahim menjadi nyata karena keberhasilan Islam dalam pemeliharaan orisinalitas ajarannya yakni monoteis . jaran yang berpangkal pada ketauhidan satu Tuha. Kemudian Al-QurAoan sebagai rujukan utama umat muslim dalam perkembangannya dikaji oleh para ilmuwan muslim baik sejak masa nabi SAW sampai saat ini dengan model yang beragam. Ragam kajian Al-QurAoan ini kemudian terkenal 1 Nurcholish Madjid. Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi Dan Visi Baru Islam Indonesia (Jakarta: Paramadina, 1. , 184. 2 Abdul Mustaqim. Metode Penelitian Al-QurAoan Dan Tafsir (Yogyakarta: Idea Press, 2. , 31. 3 Mubarak Bakri. AuHanif Dalam Konsep Al-QurAoan,Ay Rausyan Fikr 15, no. : 63Ae83. 4 Ridhoul Wahidi. AuPenafsiran Kata Hanif Dalam Al-QurAoan,Ay Syahadah 1, no. : 1Ae11. 5 Klaim penerus Auagama IbrahimAy juga dicetuskan oleh agama samawi yang lain Yahudi dan Nasrani akan tetapi dalam perjalanan historisnya agama tersebut tidak memiliki daya juang dalam pemeliharaan orisinalitas ajarannya, utamanya secara normatif. Mereka juga mengenal Ibrahim sebagai seorang monoteis sejati. Lihat dalam Moinuddin Ahmed. Religions All Mankind (New Delhi: Kitab Bhavan, 1. ,102. The Paradigm of The Word HanifA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 dengan sebutan karya tafsir. Setidaknya hingga saat ini terdapat 4 bentuk sajian tafsir yang ada yakni tahlili, ijmali, muqaran, dan mawduAoi. Konsentrasi dalam penelitian ini berfokus pada model penyajian tafsir mawduAoi. Tafsir tematik dipahami sebagai sebuah penyajian tafsir yang fokus membahas tema tertentu dari ayat-ayat Al-QurAoan yang memiliki kesinambungan makna lalu kemudian di teliti dengan pedoman kaidah tafsir. 7 Maka kemudian dalam penelitian ini penulis akan membahas terkait terma hanif dalam Al-QurAoan untuk memperoleh makna yang relevan terhadap kriteria agama Islam yang hanif. TINJAUAN PUSTAKA Konsep hanif telah menjadi subjek kajian dalam berbagai penelitian sebelumnya. Secara etimologis, kata hanif berasal dari bahasa Arab yang berarti AulurusAy atau Auberpegang pada kebenaran,Ay khususnya dalam konteks ketuhanan. Al-QurAoan menggambarkan Nabi Ibrahim sebagai seorang hanif yang tidak menyekutukan Allah (QS. al-Baqarah 135. QS. 'Ali Imran 67, 95, dan QS. an-Nisa . Penelitian oleh al-Razi . dan al-Mawardi . menekankan bahwa konsep ini erat kaitannya dengan ajaran monoteisme Ibrahim, yang menolak penyembahan berhala dan hanya mengakui keesaan Allah. Selain itu, al-Suyuti . mengkaji penggunaan kata hanif dalam periode Makiyah dan Madaniyah, menunjukkan bahwa konsep ini berkembang dari penekanan pada keteguhan Ibrahim dalam monoteisme hingga menjadi acuan bagi umat Islam untuk mengikuti jalan yang lurus. Penelitian lain oleh al-ThaAolabi . menggunakan pendekatan tafsir mawdu'i . afsir temati. untuk menganalisis konsep-konsep teologi Islam, termasuk hanif. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menggali makna kontekstual dari kata hanif dalam berbagai ayat Al-QurAoan. Selain itu, al-Tabari . menegaskan bahwa konsep hanif tidak hanya merujuk pada keyakinan monoteistik Ibrahim, tetapi juga menjadi prinsip dasar dalam ajaran Islam yang mengajarkan penyerahan diri secara total kepada Allah. Meskipun banyak penelitian telah membahas konsep hanif, terdapat beberapa kesenjangan yang perlu diatasi. Pertama, penelitian sebelumnya cenderung fokus pada aspek teologis dan historis konsep hanif, tanpa banyak mengeksplorasi relevansinya dalam konteks kontemporer. Kedua, penggunaan pendekatan tafsir mawdu'i dalam menganalisis kata hanif masih terbatas, terutama dalam menghubungkan makna kontekstualnya dengan tantangan modern seperti pluralisme agama dan sekularisme. Ketiga, penelitian sebelumnya kurang mengeksplorasi aspek universalitas konsep hanif sebagai agama yang lurus dan non-sektarian, yang dapat memberikan wawasan baru tentang ketulusan beragama dalam masyarakat multikultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan tafsir mawdu'i untuk menganalisis konsep hanif dalam Al-QurAoan. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi pola-pola tematik yang muncul dalam teks Al-QurAoan, serta menghubungkan ayat-ayat yang mengandung kata hanif untuk memahami maknanya secara holistik. Menurut al-ThaAolabi . , tafsir mawdu'i membantu peneliti memahami ajaran-ajaran penting dalam Islam, termasuk konsep hanif, dengan melihat konteks historis dan teologisnya. 6 Yunan Yusuf. AuMetode Penafsiran Al-QurAoan: Tinjauan atas Penafsiran Al-QurAoan secra TematikAy. Syamil 2, no. 01, . , 59. Lihat pula dalam Nasruddin Baidan. Metodologi Penafsiran Al-QurAoan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 65. 7 Syaeful Rokhim dan Rumba Triana. AuTafsir Maudhui: Asas Dan Langkah Penelitian Tafsir Tematik,Ay Al-Tadabbur 6, no. : 416. Vol. 5 No. February 2025, pp. Abdullah Hadani. Sihabudin Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Analisis terhadap penggunaan kata hanif dalam periode Makiyah dan Madaniyah menunjukkan perkembangan makna yang signifikan. Pada periode Makiyah, kata hanif digunakan untuk menggambarkan keteguhan Ibrahim dalam monoteisme, sementara pada periode Madaniyah, konsep ini berkembang menjadi ajakan bagi umat Islam untuk mengikuti jalan yang lurus. Hal ini terlihat dalam QS. 'Ali Imran 67 dan 95, yang menekankan bahwa agama Ibrahim adalah agama yang lurus dan tidak terikat pada sekte Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi aspek universalitas konsep hanif. Sebagai contoh, riwayat al-Bukhari tentang Zayd bin AoAmr bin Nufail yang mencari agama hanif menunjukkan bahwa konsep ini tidak terbatas pada satu kelompok agama, melainkan mengandung nilai universal yang mendorong ketulusan dalam beragama. Hal ini relevan dalam konteks modern, di mana pluralisme agama dan sekularisme menjadi tantangan besar bagi umat Islam. Konsep hanif memiliki relevansi yang besar dalam teologi Islam karena menyentuh aspek ketulusan dalam ibadah dan keyakinan. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Tabari . , konsep ini tidak hanya merujuk pada keyakinan monoteistik Ibrahim, tetapi juga menjadi prinsip dasar dalam ajaran Islam yang mengajarkan penyerahan diri secara total kepada Allah. Dalam konteks kontemporer, konsep hanif dapat menjadi landasan untuk memahami ketulusan beragama dalam menghadapi tantangan modern seperti pluralisme dan sekularisme. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain tafsir mawduAoi . untuk menganalisis kata hanif dalam Al-QurAoan, khususnya dalam konteks monoteisme . dan ajaran Nabi Ibrahim. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dengan mengidentifikasi ayat-ayat terkait seperti QS. al-Baqarah 135. QS. 'Ali Imran 67 dan 95, serta QS. al-Nisa 125, yang menggambarkan Ibrahim sebagai figur lurus yang tidak menyekutukan Allah. Peneliti juga merujuk pada riwayat al-Bukhari tentang Zayd bin AoAmr bin Nufail untuk menggali makna praktis hanif sebagai agama lurus yang hanya menyembah Allah tanpa terikat agama tertentu. Analisis dilakukan secara sinkronik dan diakronik, menunjukkan bahwa makna kata hanif konsisten dalam menggambarkan ketulusan dan penyerahan diri kepada Allah, baik dalam periode Makiyah maupun Madaniyah. Tafsir-tafsir seperti Tafsir al-Munir dan Tafsir al-Mizan digunakan untuk memahami interpretasi historis dan teologis, serta relevansi konsep hanif dalam menghadapi keragaman agama dan penerapannya dalam kehidupan umat Islam masa HASIL DAN DISKUSI Kata Hanif Dalam al-QurAoan Kajian mengenai kata hanif ini menggunakan model telaah tafsir mawdui. Dalam hal ini peneliti akan memaparkan terlebih dahulu ayat-ayat dalam al-QurAoan yang mengandung kata hanif sesuai urutan mushafinya sebagai berikut: QS. al-Baqarah ayat 135 . a a AOA U AaOCaEaO aEOIaO aNA a AA a O aea aO Ca eE a eE IEaca uae aN aOI aIO UA aOaI aE aI I aI Ee aI e aEA a aAO eaO IA Dan mereka berkata: AuHendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjukAy. Katakanlah: AuTidak, melainkan . ami mengikut. agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahi. dari golongan orang musyrikAy The Paradigm of The Word HanifA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 QS. AoAli Imran ayat 67 dan 95 . a a aAO UcO OaE IA AOA a aIO aOEaEI aE aI aIO UA acI eE UI aOaI aE aI I aI Ee aI e aEA e a AaI aE aI uae aN aOI Oa aNA Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan . seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri . epada Alla. dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. a a AOA ca AA a aCA a AacEEa acaaO IEaca uae aN aOI aIO UA aOaI aE aI I aI Ee aI e aEA a ACa eEA Katakanlah: AuBenarlah . pa yang difirmanka. AllahAy. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. QS. al-Nisa ayat 125 . a a AacEEa uae a aN aOI aEa UOEA ca AaEa aI aO e aNNa aacacEEa aO aN aO aIe a UI aOaca a aIEaca uae a aN aOI aIaO UA aO acaca aA e Aa a aI OIU acI eacI A e AaOaI eI A Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. QS. al-AnAoam ayat 79 dan 161 . a A OeEaA a ca AuaacI O acN O aNO EaEac aO a AOA a A aIO UA n aOaI a aaI I aI Ee aI e aEA a e a AE aI aOA a ea a e a a Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orangorang yang mempersekutukan Tuhan. a a a a a a s a AOA a ACa eE uaIacaI aN a acI ac ua aE Aa acI eaCO sI OIU COa UI aIEaca uae aN aOI aIO UA o aOaI aE aI I aI Ee aI e aEA Katakanlah: AuSesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, . agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrikAy. QS. Yunus ayat 105 . a a a a AOa eI aCaI ONA AOA a AE EE aO aI aIO UA aOaE a aEOIa acI I aI Ee aI e aEA ae a e a Dan . ku telah diperinta. : AuHadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. QS. al-Nahl ayat 120 dan 123 . a a Aua acI ua aNOI aE aI acaIU CaIaU aacacEEa IaO UA OaaE OA AOA a AE I aI Ee aI e aEA a ea a a a ae Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuha. , a a a a ac aOO Ia uaEaOA AOA a AE aI aca e IEaca uae aN aOI aIO UA n aOaI aE aI I aI Ee aI e aEA e ea e Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhamma. : AuIkutilah agama Ibrahim seorang yang hanifAy dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. QS. al-Rum ayat 30 . a acEEa o aEA a a a a aCaI ONA ca aca AA AOI Ee aCOaa aI aOEaEa acI a eEa aA ca AOE aaEaeE aCA a ae a e a AE EE aO aI aIO UA o AeaA a AE E aA a AacEE Ea a EIA a Aac aEaeO aN o aE a eA a AEIA Aac aE Oa eEa aIO aIA Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah. etaplah ata. fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan Vol. 5 No. February 2025, pp. Abdullah Hadani. Sihabudin Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 pada fitrah Allah. (Itula. agama yang lurus. tetapi kebanyakan manusia tidak Ayat yang dipaparkan oleh penulis di atas merupakan penelusuran memakai kata AuA AyIOAAtanpa mengikutsertakan derivasi kata yang lain. Dari beberapa ayat yang telah dipaparkan, penulis akan meninjau ulang pemaknaan kata hanif untuk mengetahui relevansi kata tersebut dalam terma agama Islam sebagai agama yang hanif. Pengelompokan ayat yang berkaitan pembahasannya atau terdapat kata yang sama menurut Gusmian tergolong bentuk tematik modern. 8 Penulis juga menemukan riwayat yang ada dalam karya al-Bukhari yang berkaitan membahas terma hanif yakni: ca A AA: Aac aaN a aI e aI a aIaA AaI aOe a e aI a eI aO e aI Ia aAeO sE aa aA a aACA a A aOaE eaEa aINa uaacaE aUaA a acaaI aaEa e aI ae a NEEA: AOOA a AE aIA a a a A Aa aCAUAO aEaN I aOIa aNIA a a a a ca AuaaEA AOI aOIa aE eIA e a a a A AaEaC aO aE UI I aI EeOa aNAUaA Oa e aaE a aI E aO aI aOOae a aNAUAEeIA a A uaacI Ea aEaO a eI aA:AEA a aA ac ae a aIAUA aE a aEO aI EaO aOIaIaA:AEA a a A aOaEAUaA NEEA a aA CAUaA NEEA a A Aa aCAUa eaacIA a aOA a A aI ac uaacaE aI eI aA:AE aOe UA a AE aI eI aA e a a a a a AaeE aII aA :AE aOe UA a aA CAUA aI eaEa aINa uaacaE a eI Oa aEO aI aIaO UAA:AEA a a aOaNa Aa aN eE a aEacaaI aEaO a eaeONa CA a e a ae AA e A aOaacI AUA NEE a eO U aa UA a a aAeEIaOA CA a a a a aAO UcO OaE IA AacA aOA a ae AaOaIA e a A aaEe Oa aE eI Oa aNAUAOI uae aN aOIA a A Aa aa a aOe U AaEaC aO aE UI I aI EIA. aIO aOaE Oa ea a uaacaE NEEA a A A:AEA a a a a aOA ae A OaE AUaA I ac uaacaE aII EaIa a NEEA:AEA a aA EaI a aEO aI EaO aOIaIa ac ae a aIA:AEA Aae aEA e e a a aA CAUAE I eI Ea eIa NEEA e a A Aa aCAUa a aEa IeEaNA a a a a A OaacI AUAa aN aO U a UA UA aI eaEa aINa uaacaE a eI Oa aEO aI aIaO UAA:AEA a aA Aa aN eE a aEacaaI aEaO a eaeONa CAUAOA e a a e a A aOaE I eI aAUAI eI Ea eIa NEEA a a a a aA OI eIaOA CA:AEA A AaEa acI aaO aOe U Ca eOaaEaeI a uae a aN aOIA. aIaO aOaE Oa ea a uaacaE NEEA a a a a a aACA e aA aaEe Oa aE eI Oa aNO UcO aOaE IAUAOI uae aN aOIA a A A:AEA a a a ANOIA a A Aa aCAUA AaEa acI a a a Oa aOeaNAUAE aE aI aa aA ca AaEaeO aNA a EEac aN acI uacI a e aN a A:AEA a AacI aEaO O aI ue aA Zaid Ibn AoAmr Ibn nufail pergi ke Syam untuk mencari tahu kondisi agama dan para pengikutnya. Lalu ia bertemu dengan seorang alim dari kalangan Yahudi dan bertanya tentang agamanya. Zaid berkata Aumungkin aku bisa menerima agama kalian, beritahukanlah padakuAy. Yahudi tersebut menjawab Aukamu tidak akan bisa menerima agamaku sehingga kamu mengambil bagianmu dari kemurkaan Allah SWTAy. lalu Zaid berkata Auaku tidak bisa melarikan diri dari murka Allah SWT, dan aku tidak membawa kemurkaan Allah SWT sama sekali, apakah aku mampu, maka tunjukkanlah kepadaku selain kemurkaan ituAy. Yahudi menjawab Auaku hanya mengetahui bahwa kamu harus menjadi seorang hanifAy. Zaid bertanya Auapa itu hanif?Ay. Yahudi menjawab Auitu adalah agama Ibrahim yang bukan Yahudi maupun Nasrani dan tidak menyembah kecuali pada Allah SWTAy. Kemudian Zaid bertemu dengan seorang alim dari kaum Nasrani dan menanyakan hal yang sama dan dijawab pula dengan jawaban yang sama. Setelah mendengar pendapat mereka kemudian Zaid berdoa AuYa Allah, aku bersaksi bahwa aku mengikuti agama IbrahimAy. 8 Islah Gusmian. Khazanah Tafsir Indonesia: Dari Hermeneutika Hingga Ideologi (Yogyakarta: LkiS, 2. , 114. 9 Muhammad Ibn Ismail Al Bukhari. Sahih Al-Bukhari (Boulaq: Matbaah al-Kubra al-Amiriyah, 1. The Paradigm of The Word HanifA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Analisis Makna Kata Hanif Dalam bagian ini penulis akan memaparkan makna asal kata Au A AyIOAAguna memperoleh hasil makna yang komprehensif dan berkesesuaian dengan tema. Menurut Sahiron pengetahuan terhadap makna suatu kata perlu diperoleh sebab terkadang kata itu memiliki makna yang sinkronik maupun diakronik. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan kontekstualisasi ayat yang relevan. 10 Dalam pemaparan ayat di atas pada periode makiyah pemaknaan kata AuA AyIOAAdihadirkan dengan makna yang lurus, benar, dan sebagai kata sifat bagi keberadaan Ibrahim AS. kemudian pada periode madaniah keberadaan makna kata AuA AyIOAAjuga tidak mengalami perubahan. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa kata AuA AyIOAAsejak awal digunakan tidak memiliki perkembangan makna yang signifikan. Selanjutnya dalam Maqayis al-Lughah dipaparkan bahwa makna kata AuAAyIOAA adalah al-maAoil ila aldin al-mustaqim . eorang yang condong terhadap agama yang benar/ 11 Sedangkan dalam Lisan al-AoArab kata AuA AyIOAAdiartikan dengan al-muslim al-ladhi yatahannafa Aoan al-adyan ay yamilu ila al-haqq . eorang muslim yang menjunjung tinggi nilai keagamaan yakni yang condong terhadap kebenara. 12 Kemudian Raghib alAsfihani menjelaskan derivasi kata AuA AyIOAAyang berasal dari hanafa (A )IOAAyang artinya adalah kecondongan dari yang semula sesat menuju jalan yang benar. Maka kemudian kata AuA AyIOadalah subjek atau pelaku kecondongan tersebut. Dinamika Penafsiran Ayat-ayat Hanif Penafsiran QS. al-Baqarah ayat 135 Secara historis mikro . sbab al-nuzu. ayat ini turun berkaitan dengan perkataan Ibn Suriya kepada nabi SAW tentang ajakan untuk mengikutinya agar mendapatkan petunjuk. Ajakan ini juga diucapkan oleh para penganut agama Nasrani sehingga kemudian Allah SWT menurunkan ayat tersebut. 14 Menurut Ibn Kathir riwayat ini dikeluarkan oleh Muhammad Ibn Ishaq bukan dari jalur Ibn Abi Hatim. Menurut Ibn Kathir ayat ini adalah sebagai penentangan terhadap ajakan kaum Yahudi dan Nasrani dan memilih untuk mengikuti millah Ibrahim yang hanif. Menurut Mujahid hanif maksudnya adalah seorang yang mengikuti lalu Abu Qilabah menambahkan bahwa hanif adalah seorang yang beriman kepada keseluruhan utusan Allah SWT dari awal hingga akhir. 16 Dari keterangan tersebut dapat dipahami bahwa klaim hanif yang ada dalam Al-QurAoan berbeda dengan 10 Sahiron Samsudin. AuMetode Penafsiran dengan Pendekatan MaAona Cum MaghzaAy dalam Asosiasi Ilmu Al-QurAoan & Tafsir Se-Indonesia. Pendekatam MaAona-Cum-Maghza atas Al-QurAoan dan Hadis: Menjawab Problematika Sosial Keagamaan di Era Kontemporer (Yogyakarta: Lembaga Ladang Kata, 2. , 9-13. 11 Ahmad Ibn Faris Quzwayni . MuAojam Maqayis al-Lughah (Beirut: Dar al-Fikr, 1. , 110. 12 Jamaluddin Ibn Manzur Anshari . Lisanul AoArab (Beirut: Dar Shadir, 1. , 57. 13 Raghib Asfihani . Al-Mufradat Fi Gharib al-QurAoan (Beirut: Dar al-Qalam, 1. , 260. 14 Jalal al-Din Suyuti . Lubab Al-Nuqul Fi Asbab al-Nuzul (Beirut: Dar al-Kitab al-AoIlmiyah, n. ), 19. 15 Abu al-FidaAo Ismail Qurashiy . Tafsir Al-QurAoan al-AoAzim (Beirut: Dar al-Kitab al-Ilmiyyah, 1. , 16 Al Qurashiy, 321. Vol. 5 No. February 2025, pp. Abdullah Hadani. Sihabudin Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 keberadaan agama Yahudi dan Nasrani yang mayoritas tidak kenabian Muhammad SAW. Selanjutnya menurut Ibn al-Jawzi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa setidaknya terdapat dua makna asal kata hanif yaitu . seseorang yang condong untuk melakukan ibadah dan . seorang yang tulus dan istikamah. Dikutip pula oleh Ibn al-Jawzi bahwa kata hanif terkadang juga disifati sebagai pribadi yang ikhlas, sekelompok orang yang mengesakan Tuhan, seorang yang berhaji, dan seseorang yang menghadap KaAobah. Penafsiran QS. AoAli Imran ayat 67 dan 95 Dalam tafsirnya al-Tabari menjelaskan bahwa QS. AoAli Imran ayat 67 merupakan legitimasi Allah SWT untuk mengalahkan pengakuan dari kaum Yahudi dan Nasrani terhadap millah Ibrahim yang hanif. Sedangkan maksud dari kata hanif yakni seorang yang menaati perintah dengan taat kepada Allah SWT secara benar . juga disebut sebagai seorang yang muslim yang artinya adalah memasrahkan diri kepada Allah SWT. Menurut Wahbah Zuhaili terdapat dua pendapat terkait sebab turunnya QS. AoAli Imran ayat 67 yaitu: pertama, terdapat sekelompok orang Yahudi yang mencela kepada nabi Muhammad SAW bahwa mereka lebih berhak meneruskan agama Ibrahim dengan klaim bahwa Ibrahim adalah seorang Yahudi, maka kemudian Allah SWT menurunkan ayat tersebut. Kedua, riwayat yang menceritakan bahwa nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Ausetiap nabi memiliki seorang pemimpin dari kalangan para nabi. Pemimpinku adalah ayahku IbrahimAy kemudian beliau membacakan ayat tersebut sampai ayat selanjutnya. 20 Mengenai arti kata hanif Wahbah Zuhaili juga memberikan pemaknaan yakni maAoilan Aoan al-Aoaqaid al-zaifah al-batilah ila al-din al-haqq al-qayyim . enderung menjauhi keyakinan palsu dan batil, untuk menuju agama yang lurus dan bena. Kemudian dalam QS. AoAli Imran ayat 95 secara tersurat menunjukkan klaim Allah bahwa agama Islam secara de facto adalah agama yang mengikuti millah Ibrahim. Ibn Kathir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan manifestasi perintah untuk mengikuti millah Ibrahim yang hanif yang telah disyariatkan Allah SWT dalam Al-QurAoan melalui nabi Muhammad SAW. 22 Senada dengan Ibn Kathir, alRazi juga memberikan penjelasan bahwa perintah dalam hal ini untuk mengikuti apa yang diajakkan oleh nabi Muhammad SAW yakni millah Ibrahim. Wahbah Zuhaili juga menjelaskan dalam tafsirnya bahwa millah Ibrahim yang dimaksud adalah yang dalam bertuhan masih bersifat esa . eyakini Allah SWT sebagai Tuhan yang tungga. Yakni agama yang disyariatkan al-QurAoan yang 17 Amaliyah. AuSatu Tuhan Tiga Agama (Yahudi. Nasrani. Islam Di Yerusale. ,Ay Religious 1, no. : 189. 18 Abu al-Farraj Abdurrahman Al Jawzi. Zad Al-Masir Fi AoIlmi al-Tafsir (Beirut: Dar al-Kitab al-AoArabi, 1. , 116. 19 Ibn Jarir juga menampilkan sebuah riwayat yang menceritakan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani mengklaim bahwa Ibrahim adalah bapak keagamaan mereka maka kemudian Allah SWT menurunkan ayat tersebut. Lihat dalam Abu JaAofar Muhammad Ibn Jarir al-Tabari. JamiAo al-Bayan AoAn TaAowili Ayy Al-QurAoan (Kairo: Dar Hijr, 2. , 485. 20 Wahbah Zuhaili. Al-Tafsir Munir Fi al-AoAqidah Wa al-ShariAoAh Wa al-Manhaj, vol. 3 (Beirut: Dar alFikr, 1. , 251. 21 Zuhaili, vol. 3, 251. 22 Al Qurashiy. Tafsir Al-QurAoan al-AoAzim, vol. 2, 66. 23 Fakhruddin Al Razi. Mafatih Al-Ghayb, vol. 8 (Beirut: Dar Ihya al-Turath, 1. , 294. The Paradigm of The Word HanifA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 mana nabi Muhammad SAW mengajak manusia untuk menuju millah Ibrahim hanifa tersebut. Penafsiran QS. al-Nisa ayat 125 Ibn AoAbbas sebagaimana dikutip al-Baghawi maksud dari kata hanif dalam ayat ini berarti seorang yang pasrah atau ikhlas. Ibn AoAbbas melanjutkan bahwa termasuk ciri dari agama Ibrahim adalah salat menghadap KaAobah, tawaf, dan Agama hanif disebutkan khusus kepada Ibrahim karena Ibrahim diterima oleh semua umat. Kemudian al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan maksud dari QS. Al-Nisa ayat 125 sebagai bentuk deskripsi terhadap orang yang benar-benar berada di jalan Allah. Al-Maraghi menyebutkan bahwa tidak ada kebaikan kecuali bagi seorang yang menjadikan hatinya pasrah bergantung kepada Allah SWT dan tidak Lebih lanjut mengenai perintah mengikuti agama Ibrahim alMaraghi berpendapat bahwa yang dimaksud adalah mengikuti Ibrahim dalam ketekunan dan keteguhan Ibrahim dalam bertuhan yang diwujudkan melalui penolakannya terhadap sesembahan kaumnya dan memproklamirkan kemerdekaan diri dari keyakinan ayah dan kaumnya yang sesat. Penafsiran QS. al-AnAoam ayat 79 dan 161 Ibn Kathir menjelaskan bahwa QS. Al-AnAoam ayat 79 merupakan lanjutan dari rangkaian proses ketauhidan yang dialami oleh Ibrahim. Lebih lanjut Ibn Kathir menjelaskan dalam ayat ini yang dimaksud adalah pernyataan Ibrahim yang menyembah pencipta segala sesuatu, penemu, pengendali, penentu yang mutlak dalam kekuasaan-Nya. Dalam QS. Al-AnAoam ayat 79 al-Tabari juga menjelaskan bahwa ayat ini memberitakan keteguhan iman seorang Ibrahim. Al-Tabari menjelaskan bahwa Ibrahim tidak pernah merasa asing dengan pengucilan kaumnya sebab dia menyembah Allah SWT. Ayat ini juga menegaskan penolakan Ibrahim terhadap kesesatan yang dilakukan oleh kaumnya. 28 Quraish Shihab dalam tafsirnya memaparkan bahwa yang dimaksud kata wajjahtu mencakup sifat totalitas yang ada pada diri Ibrahim. Maksudnya adalah totalitas dalam mengesakan Allah SWT dalam keadaan hanifan . enderung terhadap kebenara. serta menegaskan penolakan Ibrahim pada sesembahan kaumnya. Kemudian penafsiran QS. Al-AnAoam ayat 161 menurut Ibn Kathir merupakan perintah kepada nabi Muhammad SAW untuk mengikuti agama Ibrahim. Hal ini dikarenakan Ibrahim telah diberikan pertolongan dan kemuliaan untuk menjalankan agama hanif dengan keteguhan yang luar biasa. Totalitas ketauhidan Ibrahim menjadi tonggak kesempurnaan iman. Hal inilah yang menjadikan nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi sekaligus pemimpin kaum adam 24 Zuhaili. Al-Tafsir Munir Fi al-AoAqidah Wa al-ShariAoAh Wa al-Manhaj, vol. 4, 9. 25 Abu Muhammad Ibn MasAoud Al Baghawi. MaAoalim al-Tanzil Fi Tafsir al-QurAoan, vol. 2 (T. t: Dar Tayyibah Li Nasyr wa TauziAo, 1. , 291Ae92. 26 Ahmad Ibn Mustafa Al Maraghi. Tafsir Al-Maraghi, vol. 5 (Mesir: Maktabah wa MatbaAoah Musafa, 1. , 166Ae67. 27 Al Qurashiy. Tafsir Al-QurAoan al-AoAzim, vol. 3, 261Ae62. 28 Al Tabari. JamiAo al-Bayan AoAn TaAowili Ayy al-QurAoan, vol. 9, 362Ae63. 29 Quraish Shihab juga mengemukakan bahwa kata uanf biasa diartikan lurus atau cenderung kepada sesuatu. Dalam hal ini kemudian disimpulkan bahwa ajaran Ibrahim adalah hanif maksudnya tidak bengkok atau tidak memihak pada pandangan hidup yang hanya memenuhi kebutuhan jasmani dan tidak semata mencukupi kebutuhan rohani. Quraish Shihab. Tafsir al-Misbah: Pesan. Kesan, dan Keserasian AlQurAoan, vol. 4 (Jakarta: Lentera Hati, 2. , 168-169. Vol. 5 No. February 2025, pp. Abdullah Hadani. Sihabudin Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 karena beliau merupakan penyempurna agama hanif yang kesempurnaannya belum pernah dicapai sebelumnya. Menurut al-Maraghi agama hanif adalah agama yang semata-mata hanya menyembah kepada Allah SWT. Agama inilah yang disampaikan oleh semua utusan-Nya dan dalam semua kitab-Nya. Agama ini bertumpu pada nabi Ibrahim karena beliau adalah nabi yang diakui oleh semua pihak perihal keutamaan dan kesahihan agamanya. Pengakuan itu baik dari mereka yang menyekutukan Allah SWT dari kalangan Arab maupun ahli kitab seperti Yahudi dan Nasrani. Kaum Quraish maupun kelompok Arab lainnya mengklaim diri mereka sebagai alhanifun dengan klaim mereka mengikuti agama Ibrahim. Penafsiran QS. Yunus ayat 105 Pada QS. Yunus ayat 105 Ibn Kathir berpendapat bahwa ayat tersebut memerintahkan untuk ikhlas beribadah seraya mengesakan Allah SWT secara Maksud hanif dalam hal ini adalah berpaling dari kesyirikan agar kita tidak terindikasi sebagai golongan musyrikin. 32 Kemudian menurut Ibn al-Jawzi maksud dari kata Auaqim wajhakaAy terdapat dua makna yaitu ikhlas dalam beramal . elakukan perintah dan menjauhi laranga. dan atau perintah istikamah secara serius dalam melakukan sesuatu yang diperintahkan. Al-Razi melalui Mafatih al-Ghayb menjelaskan bahwa maksud dari kata hanif dalam ayat ini adalah cenderung total dalam menghindar dari selain-Nya sehingga menimbulkan keikhlasan yang sempurna dan meninggalkan segala bentuk pengakuan dari selain Allah SWT. 34 Kemudian al-Qasimi juga berpendapat bahwa kecenderungan yang dimaksud adalah menghindar dari agama-agama yang Penafsiran QS. al-Nahl ayat 120 dan 123 Al-Jawzi menjelaskan bahwa maksud kata AuummahAy dalam QS. Al-Nahl ayat 120 menurut para mufasir terdapat tiga pendapat yaitu: . Ibrahim sebagai seseorang yang mengajarkan kebaikan dan kebajikan dikemukakan oleh Ibn MasAoud, al-Farraj, dan Ibn Qutaybah, . Ibrahim sebagai satu-satunya orang yang beriman pada masanya dikemukakan oleh al-Dahak dari Ibn AoAbbas begitu juga Mujahid, . Ibrahim adalah pemimpin yang membimbing umatnya dikemukakan oleh Qatadah. Muqatil, dan Abu Ubaydah. 36 Kemudian pada kata AuqanitanAy menurut Ibn MasAoud artinya adalah seseorang yang taat. Menurut Quraish Shihab yang mengutip Ibn AoAshur menjelaskan bahwa ayat ini merupakan pengantar bagi ayat selanjutnya maksudbya ayat ini memiliki kesesuaian tema dengan ayat selanjutnya yaitu QS. Al-Nahl ayat 122-123. Dalam tafsirnya Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan pengukuhan bahwa Ibrahim adalah sosok yang penuh keteladanan serta patuh kepada Allah. 30 Al Qurashiy. Tafsir Al-QurAoan al-AoAzim, vol. 4, 342. 31 Al Maraghi. Tafsir Al-Maraghi, vol. 8, 90. 32 Al Qurashiy. Tafsir Al-QurAoan al-AoAzim, vol. 4, 261. 33 Al-Jawzi juga menambahkan terkait maksud kata uanf dalam ayat tersebut terdapat tiga pendapat yaitu: pengikut atau mengikuti . endapat Mujahi. , ikhlas atau berikhlas . endapat AoAtaA. , dan orang yang istikamah . endapat al-Quraz. Abu al-Farraj Abdurrahman al-Jawzi. Zad al-Masir Fi AoIlmi al-Tafsir, vol. 34 Al Razi. Mafatih Al-Ghayb, vol. 17, 309. 35 Jamaluddin Ibn Muhammad Al Qasimi. Mauasin Al-TaAowil (Beirut: Dar al-Kitab al-Ilmiyyah, 1. , 36 Al Jawzi. Zad Al-Masir Fi AoIlmi al-Tafsir, vol. 2, 591. 37 Al Jawzi. Zad Al-Masir Fi AoIlmi al-Tafsir, vol. 2, 591. The Paradigm of The Word HanifA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Senada dengan al-Jawzi. Quraish Shihab juga memaparkan bahwa ulama memahami kata AuummahAy sebagai sosok imam atau pemimpin yang diteladani. Ibrahim adalah umat itu sendiri, dan Ibrahim satu-satunya yang mengesakan Allah SWT pada zamannya. Kemudian QS. Al-Nahl ayat 123 menurut al-Tabari ayat ini menjelaskan tentang pernyataan Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW untuk mengikuti agama Ibrahim yang hanif. Maksudnya adalah berserah diri pada agama yang telah dijalani oleh Ibrahim . dan menjauhi segaal bentuk berhala yang disembah oleh kafir Quraisy sebagaimana Ibrahim melakukan hal tersebut. Al-Qurtubi menjelaskan ayat ini dengan mengutip beberapa pendapat yaitu: pertama, menurut Ibn AoUmar ayat ini menjelaskan tentang perintah mengikuti agama Ibrahim dalam ritual haji sebagaimana diajarkan Jibril kepada Ibrahim. Kedua, menurut al-Tabari Allah memerintahkan untuk mengikuti agama Ibrahim dengan berpaling dari berhala dan berpedoman pada Islam. Ketiga, menurut ashab al-shafiAoi yang dikutip oleh al-Mawardi bahwa perintah ini mencakup seluruh aspek agama Ibrahim kecuali yang dilarang oleh Allah SWT. kemudian alQurtubi menambahkan bahwa maksud dari mengikuti agama Ibrahim adalah mengikuti ajaran pokoknya . bukan cabang-cabangnya. Penafsiran QS. al-Rum ayat 30 Maksud dari kata AuaqimAy menurut al-Jawzi adalah upaya penegasan terhadap agama Islam sebagai komitmen tauhid. Beberapa ulama mendeskripsikan kata AuwajhakaAy menghadap pada keberadaan tauhid yang difirmankan Allah SWT. perintah Aufa aqim wajhakaAy berusaha menjelaskan bahwa fokus utama kehidupan adalah ketauhidan. 41 Kemudian al-Mawardi juga menjelaskan hal serupa serta menjelaskan makna kata fitrah dapat dipahami sebagai dua bentuk. Pertama, maksud dari fitrah adalah sunnatullah berupa aturan, ketentuan alam yang diciptakan oleh Allah SWT. maksudnya yakni berkaitan dengan penciptaan Kedua, fitrah adalah dinullah yakni agama yang diciptakan Allah SWT untuk manusia. Maksudnya manusia secara fitrah cenderung menuju keagamaan atau kesadaran akan keberadaan Allah SWT. Menurut Wahbah Zuhaili secara balaghah kalimat Aufa aqim wajhakaAy memiliki faidah itlaqu al-juzAoi wa iradatu al-kull maksudnya adalah perintah menghadap atau berserah kepada Allah SWT secara total. Selanjutnya Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa ayat ini berisi perintah mengikuti agama yang sudah dilegislasikan kepada nabi Muhammad SAW yaitu agama hanif atau agama Ibrahim. Perintah ini mencakup perintah kepada nabi Muhammad SAW sekaligus para pengikutnya. 38 Shihab. Tafsir Al-Misbah: Pesan. Kesan. Dan Keserasian al-QurAoan, vol. 7, 380Ae81. 39 Al Tabari. JamiAo al-Bayan AoAn TaAoWili Ayy al-QurAoan, vol. 14, 398. 40 Muhammad Ibn Ahmad al-Ansori Al Qurtubi. Al-JamiAo Li Ahkam al-QurAoan, vol. 10 (Kairo: Dar al- Kitab al-Mishriyyah, 1. , 198. 41 Al Jawzi. Zad Al-Masir Fi AoIlmi al-Tafsir, vol. 3, 422. 42 Abu al-hasan AoAli Ibn Muhammad Al Mawardi. Tafsir Al-Mawardi al-Nakt Wa al-AoUyun, vol. (Beirut: Dar al-Kitab al-Ilmiyyah, n. ), 312. 43 Zuhaili. Al-Tafsir Munir Fi al-AoAqidah Wa al-ShariAoAh Wa al-Manhaj, vol. 21, 82. Vol. 5 No. February 2025, pp. Abdullah Hadani. Sihabudin Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Kriteria Agama Hanif Dari pemaparan yang telah disebutkan baik melalui analisa makna maupun penafsiran ayat dapat dipahami bahwa terma hanif dalam Islam merupakan legitimasi dari Allah SWT untuk menentang anggapan kaum Yahudi dan Nasrani yang juga mengaku mengikuti agama hanif dari Ibrahim. Kemudian mengenai arti kata hanif menurut para ulama sebagaimana dikutip Azmi yakni sebagai berikut: KaAob al-Qurazi dan Ais Ibn Jariyah: Lurus. Ibn AoAbbas, al-Dahak. Ibn Atiyyah, al-Hasan: Hajjan . ang berhaj. Mujahid: Ikhlas. RabiAo Ibn Anas: orang yang diikuti tuntunannya Abu al-AoAliyah: seorang yang menghadap baitullah dalam salatnya dan beranggapan bahwa pergi haji hanya diperuntukkan bagi yang mampu. Qilabah: orang yang mengimani keseluruhan rasul baik dari awal hingga akhir. Qatadah: suatu kesaksian yang menyatakan keesaan Allah SWT, termasuk pula dalam ajaran ini adalah keharaman menikahi ibu, anak perempuan, serta termasuk pula ajaran agama hanif adalah berkhitan. Konsep hanif dalam hal ini mengacu pada bentuk teologi monoteis dengan meletakkan Ibrahim sebagai tonggak keberadaannya. Ketauhidan yang dibawa oleh Ibrahim pada masanya mampu menyingkirkan para penyembah berhala. Kata hanif pada mulanya dipruntukkan sebagai gelar bagi Ibrahim yang telah melakukan perjalanan teologis mencari Tuhannya. Kemudian setelah hadirnya Ismail dan Ibrahim menerima perintah untuk menyembelih barulah digunakan istilah Islam. Menurut Ghafur istilah Islam pertama kali digunakan oleh Ibrahim untuk menyebut agama Tuhan serta penganutnya disebut muslim. Bentuk ajaran monoteistik yang dibawa oleh Ibrahim adalah menyembah hanya kepada pencipta langit dan bumi, yakni meyakini dan mengesakan Allah SWT sebagai sang Pencipta dan Penguasa segala sesuatu. 46 Pemahaman terhadap kata hanif dari kebanyakan mufasir adalah sama. Secara eksplisit dapat dipahami bahwa agama hanif mengajarkan untuk cenderung dari agama lain pada ajaran ketauhidan menyembah Allah SWT yang tunggal. Berikut ini dipaparkan ciri-ciri agama hanif yang diperoleh melalui pemaparan beragam penafsiran hanif dan analisis makna melalui pemahaman penafsiran periode makiah dan madaniah serta mencari makna asalnya yaitu: Cenderung pada ketauhidan Beribadah dan mengamalkan agama secara Ikhlas Mengimani semua utusan Allah SWT Menghadap ke baitullah dalam salatnya serta berkeyakinan bahwa ibadah haji diwajibkan bagi yang mampu melakukan. Totalitas dalam mengesakan Allah SWT serta mematuhi segala bentuk perintah dan menjauhi larangan-Nya. 44 Kamarul Azmi Jasmi. AuHakikat Sebenar Agama Nabi Ibrahim AS: Surah al-Baqarah . : 130-. Ay dalam Program Budaya Al-QurAoan di Kolej Tun Fatimah Universiti Teknologi Malaysia, . , 14. Lihat pula dalam Abu al-hasan AoAli Ibn Muhammad al-Mawardi. Tafsir al-Mawardi al-Nakt wa al-AoUyun, 453. 45 Muhammad Alwi HS. AuIslam Nusantara Sebagai Upaya Kontekstualisasi Ajaran Islam Dalam Menciptakan Moderasi BeragamaAy Al-Adyan 16, no. 1, . , 78-79. Lihat pula dalam Waryono Abdul Ghafur. Millah Ibrahim dalam al-Mizan Fi Tafsir Al-QurAoan Karya Muhammad Husein al-TabTabaAoi (Yogyakarta: Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2. , 196. 46 Ummu Safiah. AuSeruan Nabi Ibrahim Terhadap Kaumnya Dalam Menanamkan Aqidah Tauhid Dalam Surat Al-AnAoam Ayat 74-79,Ay Al-Misykah 2, no. : 73. 47 Kamarul Azmi Jasmi. AuHakikat Sebenar Agama Nabi Ibrahim AS: Surah al-Baqarah . : 130-. BT - Program Budaya al-QurAoan Di Kolej Tun Fatimah Universiti Teknologi Malaysia,Ay 2019, 16. The Paradigm of The Word HanifA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 KESIMPULAN Penelitian ini membahas konsep hanif dalam Al-QurAoan melalui pendekatan tafsir mawduAoi, dengan fokus pada analisis ayat-ayat yang mengandung kata hanif untuk memahami makna dan kriteria agama hanif yang dianut Nabi Ibrahim dan menjadi landasan ajaran Islam. Secara linguistik, hanif bermakna kecenderungan berpaling dari keburukan menuju kebaikan dan kelurusan dalam menyembah Allah. Dari analisis ayatayat periode Makiyah dan Madaniyah, ditemukan bahwa makna hanif tetap konsisten sebagai ciri agama yang lurus, berorientasi pada tauhid, dan bebas dari kesyirikan. Kontribusi setiap ayat menunjukkan bahwa agama hanif mengandung prinsipprinsip berikut: kecenderungan kepada tauhid (QS. al-Baqarah . , keikhlasan dalam beribadah (QS. Yunus 105 dan QS. al-Nisa . , penolakan terhadap keyakinan batil (QS. 'Ali Imran 67 dan QS. al-AnAoam . , serta pelaksanaan ibadah yang sempurna seperti menghadap KaAobah dan berhaji (QS. al-Nahl . Ibrahim digambarkan sebagai teladan dalam totalitas penyerahan diri kepada Allah, menempatkan agama hanif sebagai landasan teologi monoteistik yang inklusif. Dalam konteks modern, konsep hanif memberikan panduan yang relevan untuk membangun harmoni dalam keberagaman agama, meneguhkan tauhid sebagai inti spiritualitas, dan mendorong keikhlasan dalam beribadah. Agama hanif juga menawarkan model kepemimpinan yang jujur dan adil berdasarkan nilai-nilai tauhid, serta memperkuat kesadaran fitrah manusia untuk mengarahkan hidupnya kepada Allah. Secara keseluruhan, agama hanif adalah agama yang lurus, murni, dan berserah diri kepada Allah SWT. Hal ini tercermin dalam kriteria utamanya: keimanan yang tulus, komitmen kepada tauhid, penolakan terhadap kesyirikan, pelaksanaan ibadah dengan ikhlas, dan pengakuan terhadap seluruh utusan Allah. Konsep ini tidak hanya memperkokoh ajaran monoteisme Islam tetapi juga menjadi solusi spiritual dan sosial dalam menghadapi tantangan keberagaman dunia masa kini. BATASAN Penelitian ini memiliki beberapa batasan. Pertama, analisis hanya mencakup ayatayat yang secara eksplisit mengandung kata hanif, tanpa membahas derivasi kata atau konsep yang memiliki keterkaitan makna secara lebih luas. Kedua, pendekatan yang digunakan adalah tafsir mawduAoi . , sehingga belum membandingkan secara mendalam dengan metode tafsir lainnya, seperti tafsir bil maAotsur atau tafsir bil raAoyi. Ketiga, penelitian ini berfokus pada aspek linguistik, teologis, dan historis, namun belum membahas secara mendalam penerapan konsep hanif dalam kehidupan sosialkeagamaan di era kontemporer. KONTRIBUSI PENULIS Kontribusi utama penelitian ini terletak pada analisis tematik yang menyoroti kesinambungan makna hanif dalam ayat-ayat Makiyah dan Madaniyah. Studi ini juga mengkonfirmasi bahwa hanif bukan sekadar konsep teologis, tetapi juga memiliki relevansi dalam membangun identitas keislaman yang autentik, meneguhkan tauhid, serta memperkokoh spiritualitas dan keikhlasan dalam beribadah. Selain itu, penelitian ini memberikan perspektif baru dalam memahami hubungan Islam dengan millah Ibrahim, serta menegaskan bahwa Islam merupakan kelanjutan dari agama tauhid yang Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi kajian lebih lanjut mengenai monoteisme Islam dalam konteks teologi dan praktik Vol. 5 No. February 2025, pp. Abdullah Hadani. Sihabudin Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 REFERENSI