PENINGKATAN KEMAMPUAN MENDESKRIPSIKAN SISTEM PEMERINTAHAN TINGKAT PUSAT MELALUI PEMBELAJARAN YURISPRUDENSI SISWA KELAS IV SDN WUNGU 01 KECAMATAN WUNGU MADIUN TAHUN PELAJARAN 2015/2016 Nining Tri Widiastuti SD Negeri Wungu 01 Kabupaten Madiun Email: niningtriwidiastuti62@gmail. Abstract Research and development are done because there is no increase in the ability to describe the system of central government level through learning Jurisprudence. Research and development carried out by using the stages of the implementation of the action research consisted of planning, administration action, observation, analysis and reflection. The research subject is the fourthgrade students of SDN 01 District Wungu Wungu Madiun in the second semester 2015/2016 on Citizenship Education Subjects. The instrument of this study is the observation of student activity sheets, documentation, taping data and tests. Based on the results of classroom action research obtained and of the study of theory in this study it can be concluded as follows: . there is an increased ability affective fourth grade students of SD Negeri Wungu 01 District Wungu Madiun after applied learning cycle model Jurispudensi Teaching Model . earning Jurisprudenc. , . with increased skills and abilities affective process there will be increased interest in teaching citizenship education elementary school fourth grade students Wungu 01 District Wungu Madiun after learning applied learning cycle model Jurisprudence Teaching Model . earning Jurisprudenc. Keywords: The ability to describe the system, learning jurisprudence students Abstrak Penelitian pengembangan dilakukan karena belum ada peningkatan kemampuan mendesA kripsikan sistem pemerintahan tingkat pusat melalui pembelajaran Yurisprudensi. Penelitian pengemAbangan dilakukan dengan menggunakan tahap-tahap pelaksanaan penelitian tindakan kelas terdiri dari perencanaan, pemberian tindakan, observasi, analisis dan refleksi. Subjek Penelitian adalah siswa kelas IV SDN Wungu 01 Kecamatan Wungu Madiun pada semester II tahun 2015/2016 pada Mata Pelajaran PKn. Instrumen penelitian ini adalah lembar observasi aktivitas siswa, dokumentasi, perekaman data dan tes. Bardasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang diperoleh dan dari kajian teori dalam penelitian ini maka dapat disimpulkan sebagai berikut: terdapat peningkatan kemampuan afektif siswa kelas IV SD Negeri Wungu 01 Kecamatan Wungu Madiun setelah diterapkan pembelajaran model siklus belajar Jurispudensi Teaching Model . embelajaran Yurisprudens. , . dengan meningkatnya keterampilan proses dan kemampuan afektif maka akan terdapat peningkatan minat belajar pendidikan kewarganegaraan siswa kelas IV SD Negeri Wungu 01 Kecamatan Wungu Madiun setelah diterapkan pembelajaran model siklus belajar Jurispudensi Teaching Model . embelajaran Yurisprudens. Kata Kunci: Kemampuan mendeskripsikan sistem, pembelajaran yurisprudensi siswa Jurnal Penelitian LPPM IKIP PGRI Madiun. Volume 5. Nomor 1. Januari 2017: 37-45 PENDAHULUAN Pendidikan Pancasila mengarahkan perA hatian pada moral yang diharapkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu perilaku yang memancarkan iman dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri dari berbagai golongan agama, perilaku yang bersifat kemanusiaan yang adil dan beradab, perilaku yang mendukung persatuan bangsa dalam masyarakat yang beraneka ragam kebudayaan dan beraneka ragam kepentingan, perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan perseorangan dan golongan sehingga perbedaan pemikiran, pendapat ataupun kepentingan diatasi melalui musyaAwarah dan mufakat, serta perilaku yang mendukung upaya untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (PenA jelasan Pasal 39 ayat . Undang-Undang No 2 Tahun 1. Berdasarkan Kurikulum 2006 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yyang digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada buA daAya bangsa Indonesia. Untuk siswa SD nilai luhur dan moral tersebut diharapkan dapat diaplikasikan dalam wujud perilaku kehiA dupan sehari-hari siswa, baik sebagai individu maupun sebagai anggota keluarga, anggota masayarakat dan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Di sini tampak bahwa PKn memA punyai aspek pokok berupa pengemAbangan dan pelestarian nilai luhur budaya bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Nilai luhur budaya Indonesia sangat beragam terganAtung di daerah mana nilai itu berada. Benturan nilai vang berdasarkan budaya daerah yang satu dengan yang lainnya harus diketahui oleh siswa. Hal ini disebabkan nilai, budaya dan norma yang berlaku di satu daerah akan lain dengan nilai, budaya dan norma yang berlaku di daerah lain. SelayakA nya dalam pengajaran PKn dilakukan suatu Jika dalam pembelajaran yang terjadi sebaAg ian besar dilakukan oleh masingmasing siswa, maka dalam penelitian ini akan diupayakan peningkatan pemahaman siswa melalui pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pendekatan pengajaran yang efektif dalam pencaAp aian tujuan pendidikan khususnya dalam keterampiln interpersonal siswa. Diharapkan melalui pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan pemahaman, semangat kebersamaan dan saling membantu dalam menguasai materi PKn. Sehingga siswa dapat meningkatkan pemahaman yang optimal terhadap mata pelajaran PKn. Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat membentuk dm yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil dan berkarakter yang dilandasi oleh WD 1945. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Depdiknas . Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang secara umum bertujuan untuk mengemAbangkan potensi individu warga negara Indonesia, sehingga memiliki wa. wasan, sikap, dan keterampilan kewarganegaraan yang memadai dan memungkinkan untuk berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab dalam berbagai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Berdasarkan pendapat di atas jelas bagi kita bahwa PKn bertujuan mengembangkan potensi inAd iAv idu warga negara, dengan demikian maka seorang guru PKn haruslah menjadi guAru yang berkualitas dan profesional, sebab jika guru tidak berkualitas tentu tujuan PKn itu sendiri tidak tercapai. Secara garis besar Widiastuti. Peningkatan Kemampuan Mendeskripsikan Sistem PemeArintahan . mata pelajaran Kewarganegaraan memiliki 3 dimensi yaitu: . Dimensi Pengetahuan KewarAgaAnegaraan (Civics Knowledg. yang menAcakup bidang politik, hukum dan moral, . Dimensi Keterampilan Kewarganegaraan (Civics Skill. meliputi keterampilan partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, . Dimensi Nilai-Nilai Kewarganegaraan (Civics Value. mencakup antara lain percaya diri, penguasaan atas nilai religius, norma dan moral luhur. (Depdiknas, 2003:. Sesuai dengan Depdiknas . yang menyatakan bahwa tujuan PKn untuk setiap jenjang pendidikan yaitu mengembangkan kecerdasan warga negara yang diwujudkan melalui pemahaman, keterampilan sosial dan intelektuan, serta berprestasi dal memecahkan masalah di lingkungannya. Untuk mencapai tujuan Pendidikan Kewarganegaraan tersebut, maka guru berupaya melalui kualitas pembeA lajaran yang dikelolanya, upaya ini bisa dicapai jika siswa mau belajar. Dalam belajar inilah guru berusaha mengarahkan dan membentuk sikap serta perilaku siswa sebagai mana yang dikehendaki dalam pembelajaran PKn. Sebelum peneliti meninjau lebih jauh tentang aktivitas belajar, terlebih dahulu dijeA laskan tentang Aktivitas dan Belajar. Menurut Anton M. Mulyono . Aktivitas artinya Aukegiatan/ keaktivanAy. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun nonfisik, merupakan suatu Belajar menurut Oemar Hamalik . 1: . , adalah AuSuatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkunganAy. Aspek tingkah laku tersebut adalah: pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keteArampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap. Jika seseorang telah belajar maka akan terlihat terjadinya perubahan pada salah satu atau beberapa aspek tingkah laku tersebut. Selanjutnya Sardiman A. menyatakan: AuBelajar sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkuA ngannya yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teoriAy. Dalam proses interaksi ini terkandung dua maksud yaitu: . Proses Internalisasi dari sesuatu ke dalam diri yang belajar, . Proses ini dilakukan secara aktif dengan segenap panca indera ikut berperan. Dari uraian tentang belajar di atas peneliti berpendapat bahwa dalam belajar terjadi dua proses yaitu . perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang sedang belajar,. interaksi dengan lingkungannya, baik berupa pribadi, fakta, dsb. Berdasarkan pendapat diatas disimpulkan bahwa aktivitas belajar adalah segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi . uru dan sisw. dalam rangka mencapai tujuan Aktivitas yang dimaksudkan di sini peneAk anannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembeAlajaran terciptalah situasi belajar aktif, seperti yang dikemukakan oleh Rochman Natawijaya dalam Depdiknas, 2005:31, belajar aktif adalah AuSuatu sistem belajar mengaAjar yang menekankan keaktivan siswa secara fisik, mental intelektual dan emoA sional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorAy. Berkaitan dengan uraian diatas, peneliti menggunakan model pemAbelajaran Jurisprudensi Teaching Model (Model Pembelajaran Yurisprudens. dalam melaksanakan KBM yang dilakukan sesuai jadwal terstruktur pada jam kerja. Jurnal Penelitian LPPM IKIP PGRI Madiun. Volume 5. Nomor 1. Januari 2017: 37-45 METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Wungu 01 Kecamatan Wungu Madiun kelas IV yang terletak di luar kota dan rata-rata meAmiAliki kemampuan atau prestasi belajar seA dang, kurang minat belajar dan kurang terAmoA tivasi untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Penelitian ini dilaksanakan pada Semester II tahun 2015/2016 pada Mata Pelajaran PKn. Kelas yang diteliti adalah kelas IV SD Negeri Wungu 01 Kecamatan Wungu Madiun dengan jumlah siswa 20 siswa, karena di kelas tersebut Mata Pelajaran PKn disajikan. Penelitian ini dilaksanakan oleh dua orang guru PKn dari SD Negeri Wungu 01 Kecamatan Wungu Madiun. Persiapan yang dilakukan untuk peneAlitian ini meliputi: . menerangkan secara umum tentang indikator materi yang akan dicapai. mempersiapkan instrumen penelitian angket respon, siswa saat KBM. mempersiapkan rencana pembelajaran dengan model pembelajaran simulasi sosial. Pengumpulan data yang digunakan dalam peneAlitian ini adalah observasi, dokumentasi, pereAk aman data, dan tes. Tahapan siklus peneAlitian tindakan kelas terdiri dari refleksi, perencanaan, pemberian tindakan, observasi, dan analisis. Adapun alur tahap pelaksanaan tindakan dalam penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut: Gambar 1. Siklus Penelitian Tindakan Kelas (Sumber: Kemmis dan Taggart dalam Hartatiek, 2002:. Widiastuti. Peningkatan Kemampuan Mendeskripsikan Sistem PemeArintahan . Refleksi Awal Refleksi awal dilaksanakan dengan meA lakukan pengamatan dan diskusi tentang peAlakAsanaan proses pembelajaran konAtrukA Hasil analisis refleksi awal diguAnakan untuk rnenetapkan dan merumuskan renAcana tindakan selanjutnya untuk menyusun straA tegi pembelajaran. Selanjutnya refleksi atau pemaknaan terhadap perilaku siswa tersebut berAdasarkan hasil refleksi dapat disimpulkan bahwa siswa kurang termotivasi dalam mengiA kuti proses belajar mengajar Siklus I Rencana Tindakan I Rencana tindakan I adalah: Pembuatan skenario dan latihan kerja . Menentukan aspek-aspek kemampuan afektif dan keterampilan proses yang akan diamati . Mempersiapkan perangkat dan bahan yang diperlukan dalam pelaksanaan . Mempersiapkan lembar pengamatan dan perekaman data beserta cara . Mempersiapkan soal tes yang diguA nakan untuk mengukur kemampuan afektif siswa Pelaksanan Tindakan I Berdasarkan rencana tindakan I yang telah tersusun, maka pelaksanaan tindakan I adalah sebagai berikut. Sebelum melakukan tindakan, siswa meAngerAjakan tes yang bertujuan unA tuk mengukur keterampilan proses . Guru menjelaskan materi yang skeA narionya diset dalam pembelajaran Jurispudensi Teaching Model . emA belajaran Yurisprudens. Selama siklus I, siswa melakukan kegiA atan antara lain: praktikum, diskusi, dan mengerjakan latihan kerja siswa . Selama proses pembelajaran, dilaA kukan pengamatan oleh peneliti yang dapat menghasilkan pemantauan yang berupa rekaman kegiatan. Observasi I Observasi bertujuan untuk: Mengetahui peningkatan kemampuan keteArampilan proses dilakukan pemA berian tes setelah tindakan pada siklus . Mengetahui perkembangan kemamA puan afektif dilakukan pemantauan mei_alui lembar observasi. Mengetahui jalannya proses pembeA lajaran dilakukan pemantauan yang berupa jalannya tindakan. Mengolah dan Menafsirkan Data (Analisis dan Refleks. I . Mendeskripsikan data-data yang dipeA . Diskusi tentang jalannya tindakan, keteArampilan proses, kemampuan afekAtif, dan data-data . Hasil refleksi digunakan untuk menyuA sun rencana berikutnya Siklus II Rencana tindakan II adalah: Pembuatan skenario dan latihan kerja . Menentukan aspek-aspek kemampuan afektif dan keterampilan proses yang akan diamati. Jurnal Penelitian LPPM IKIP PGRI Madiun. Volume 5. Nomor 1. Januari 2017: 37-45 . Mempersiapkan perangkat dan bahan yang diperlukan dalam pelaksanaan . Mempersiapkan lembar pengamatan dan perakaman data beserta cara . Mempersiapkan soal tes yang diguA nakan untuk mengukur kemamApuan afektif siswa. Pelaksanaan Tindakan II Pelaksanaan tindakan II berdasarkan rencana Iindakan II adalah sebagai berikut: Sebelum melakukan tindakan, siswa mengerjakan tes yang bertujuan unA tuk mengukur keterampilan proses . peneliti menjelaskan materi yang skeA narionya diset dalam pembelajaran JurisApudensi Teaching Model . emA belajaran Yurisprudens. Selama siklus II, siswa melakukan kegiatan antara lain: praktikum, disA kusi, dan mengerjakan latihan kerja . Selama proses pembelajaran, dilaA kukan pengamatan oleh peneliti yang dapat menghasilkan pemantauan yang berupa rekaman kegiatan. Observasi II Tujuan observasi adalah untuk: Mengetahui peningkatan kemampuan keterampilan proses dilakukan pembeA rian tes setelah tindakan pada siklus . Mengetahui perkembangan kemamA puan afektif dilakulcan pemanAtauan melalui lembar observasi . Mengetahui jalannya proses pembelaA jaran dilakukan pemantauan yang berupa jalannya tindakan Mengolah dan Menafsirkan Data (Analisis dan Refleks. II . Mendeskripsikan data-data yang . Diskusi tentang jalannya tindakan, keteArampilan proses, kemampuan afekAtif, dan data-data. Hasil refleksi digunakan untuk menyuA sun rencana berikutnya. Untuk mengetahui keaktifan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisa deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersikap menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang di peroleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang di capai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktifitas siswa selama proses belajar mengajar. Analisis data dengan menggunakan metode kualitatif yang berupa angket, nilai dan skala sikap. Untuk menganalisis tingkat kebehasilan atau prosentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran. Analisa ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yang digunaan untuk menilai ulangan atau tes formatif, ketuntasan belajar dan lembar Observasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Siklus I Analisis dan Refleksi I Berdasarkan observasi yang dilakukan selama pembelajaran, diperoleh hasil penguA asaan kemampuan afektif yang dipaparkan pada tabel berikut ini: Widiastuti. Peningkatan Kemampuan Mendeskripsikan Sistem PemeArintahan . Tabel 1. Hasil Observasi Penguasaa. n Kemampuan Afektif Siklus I Jumlah Siswa Yang Memenuhi Aspek Aspek Kemampuan Afektif Keberanian mengemukakan pendapat Keaktifan/Peran Kemampuan beitanya Kerjasama dalam kelompok Inisiatif/Kreatif Rasa ingin tahu Jumlah Persentase Rata-Rata Berdasarkan tabel di atas, secara umum aspek kemampuan afektif masih belum Dari observasi tersebut diperoleh prosentase rata-rata dari jumlah siswa yang memenuhi aspek adalah 35,71%. Hal tersebut berarti bahwa penguasaan kemampuan afektif belajar siswa perlu ditingkatkan untuk memenuhi tujuan pembelajaran berikutnya. Sehingga semua aspek yang dikaji pada siklus ini, akan dikaji ulang pada siklus selanjutnya. Siklus II Analisis dan Refleksi II Dari hasil observasi yang telah dilakukan selaAma berlangsungnya pembelajaran, dipeA roleh hasil penguasaan kemampuan afektif yang terdapat pada tabel berikut ini: Tabel 2. Hasil Observasi Penguasaan Kemampuan Afektif Siklus II Jumlah Siswa Yang Memenuhi A,spek Aspek Kemampuan Afektif Keberanian mengemukakan pendapat KeaktifanlPeran Kemampuan bertanya Kerjasama dalam kelompok InisiatiflKreatif Rasa ingin tahu Jumlah Persentase Rata-Rata Berdasarkan hasil data di atas, secara umum penguasaan aspek kemampuan afektif pada siklus II cukup optimal. Hal tersebut, ditunjukkan dengan perolehan persentase rata-rata dari jumlah siswa yang memenuhi aspek, yaitu 94,05%. Berdasarkan data prosentase hasil observasi penguasaan kemampuan afektif yang di amati pada siklus I dan siklus II, maka dibuatlah tabel sebagai berikut: Jurnal Penelitian LPPM IKIP PGRI Madiun. Volume 5. Nomor 1. Januari 2017: 37-45 Tabel 3. Tabel Perbandingan Persentase Jumlah Siswa Yang Memenuhi Aspek Kemampuan Afektif Siswa Siklus I dengan Siklus II Aspek Kemampuan Afektif Siklus I Siklus II Keberanian mengemukakan pendapat Keaktifan/Peran Kemampuan bertanya Kerjasama dalam kelompok 71Afo 00Afo InisiatiflKreatif Rasa ingin tahu Jumlah Persentase Rata-Rata Dari tes penguasaan keterampilan proses siswa, secara umum terjadi peningkatan aspekaspek yang dikaji dengan penerapan siklus belajar Jurispudensi Teaching Model . emA belajaran Yurisprudens. Hal tersebut dapat dilihat dari perolehan rata-rata dari pretes ke postes selalu ada kenaikan yaitu pada pretes siklus I memperoleh 48 ke postes mencapai 72. Untuk pretes siklus II memperoleh 65 ke postes Sedangkan kenaikan ketuntasan belajar terdapat kenaikan yang signifikan. Namun secara keseluruhan, aspek keteA ramAp ilan pmses siswa yang diamati dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan. Sehingga dapat dikatakan bahwa model sikA lus belajar Jurispudensi Teaching Model . embelajaran Yurisprudens. dapat meningA katkan keterampilan proses siswa. Aspek prediksi, tidak terjadi peningkatan yang signifikan. Faktor yang mempengaruhi tersebut adalah siswa belum terbiasa dalam melakukan kegiatan kelompok dan selama proses pembelajaran guru kurang memberi kesempatan pada siswa untuk memperkirakan apa yang terjadi, jika ada suatu peristiwa. Dari hasil observasi penguasaan kemamA puan afektif, secara umum terjadi peningkatan prosentase jumlah siswa yang memenuhi aspek-aspek yang di amati melalui penerapan model siklus belajar Jurispudensi Teaching Model . embelajaran Yurisprudens. Hal tersebut, dapat dilihat dari perolehan proA sentase rata-rata jumlah siswa yang memenuhi aspek mengalami peningkatan. Peningkatan yang paling menonjol terjadi pada aspek kemampuan bertanya, pada siklus I diperoleh prosentase jumlah siswa yang memenuhi aspek lebih sedikit dibandingkan dengan siklus II. Peningkatan tersebut disebabkan selama pembelajaran, guru membiasakan siswa untuk memaparkan hasil secara lisan maupun tulisan. Tetapi untuk aspek interpretasi mengalami Faktor yang mempengaruhi penuA runan tersebut adalah selama pembelajaran siswa tidak terbiasa melakukan kerja kelomA pok dan kurang terbiasa dalam pengolahan data yang diperoleh dari hasil diskusi. Aspek keaktifan/peran dan kerjasama dalam kelompok tidak terjadi peningkatan yang signifikan. Faktor yang mempengaruhi adalah sejak awal dimulainya pembelajaran melalui model siklus belajar Jurispudensi Teaching Model . embelajaran Yurisprudens. Aspek klasifikasi dan menyimpulkan terjadi peningkatan. Hal tersebut disebabkan dalam pembelajaran sebelumnya, siswa sudah terbiasa mengkiasifikasi dan menyimpulkan dengan metode ceramah dan diskusi. Widiastuti. Peningkatan Kemampuan Mendeskripsikan Sistem PemeArintahan . siswa telah tertarik dan menyukai model pembelajaran tersebut. Prosentase jumlah siswa yang memenuhi aspek kemampuan bertanya pada siklus I terdapat peningkatan pada II. Peningkatan jumlah siswa yang memenuhi aspek-aspek tersebut, dari siklus I ke siklus II disebabkan adanya pola pikir mereka untuk membangun pengetahuan mereka sendiri. Secara keseluruhan, aspek meningkatkan kemamAApuan mendeskripsikan sistem pemeA rintahan tingkat pusat siswa yang dikaji mengaA lami peningkatan. Dapat dikatakan bahwa model siklus belajar Jurispudensi Teaching Model . embelajaran Yurisprudens. dapat meningkatkan kemampuan afektif belajar KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Bardasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang diperoleh dan dari kajian teori daA lam penelitian ini maka dapat disimpulkan an sebagai berikut: Terdapat peningkatan kemampuan afektif siswa kelas IV SD Negeri Wungu 01 Kecamatan Wungu Madiun setelah diteArapkan pembelajaran model siklus belajar Jurispudensi Teaching Model . embelajaran Yurisprudens. Dengan meningkatnya keterampilan proA ses dan kemampuan afektif maka akan terdapat peningkatan minat belajar penA didikan kewarganegaraan siswa kelas IV SD Negeri Wungu Kecamatan Wungu Madiun setelah diterapkan pembelajaran model siklus belajar Jurispudensi Teaching Model . embelajaran Yurisprudens. Saran Saran yang dikemukan berdasarkan hasil penelitian adalah pembelajaran melalui peneA rapan pembelajaran model siklus belajar Jurispudensi Teaching Model . embelajaran Yurisprudens. harus lebih ditonjolkan dikelas lain agar hasil yang diperoleh bisa optimal. REFERENSI