Menggugat Simbol-Simbol Kekerasan Di Ruang Moderasi Agama Valensius Ngardi STAKat Negeri Pontianak flavingardi@gmail. Abstrak Masih ternyiang di telinga umat Paroki St. Paulus Pringgolayan saat ini, adalah perbincangan tentang sebuah kasus yang cukup menggelisahkan perasaan sesama warga di Kota Gede Bantul. Yogyakarta. Dimana, sekelompok oknum memotong sebuah nisan AuSalibAy di makam umum atas nama Albertus Slamet Sugihardi. Almarum adalah bagian dari warga RT 53 RW 13. Purbayan. Kotagede Yogyakarta. Peristiwa ini terjadi tanggal 17 Desember 2018. Banyak orang kecewa karena mencoreng nilai persaudaraan dan humanis antar warga budaya Yogyakarta. Fenomena sosial yang menggiring opini diskrimasi sosial dan agama ini, cukup menohok perasaan antar umat beragama saat itu. Berita ini pun cepat viral di media Rupa-rupanya peristiwa chaos ini, semakin memancing emosi sesama umat dan menjadi hangat di kalangan warga ketika fenomena yang sangat sesentif ini diangkat ke ruang publik dengan mengecam arogansi oknum yang tidak manusiawi dan tidak bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya tanpa alasan yang mendasar dan elegan. ttps://tirto. id/intoleransi-di-yogyakarta-meningkat-5-tahun diakses, 26 Oktober 2. Kasus berikutnya, lagi-lagi penodaan simbol, terjadi penutupan Patung Bunda Maria yang terletak di Rumah Doa Sasana Adhi Rasa St Yakobus. Kulon Progo. Yogyakarta 23 Maret 2023. Patung ini menggunakan kain terpal berwarna biru, atas dasar suruhan sekelompok orang yang tidak senang dengan pemandangan patung tersebut di mata mereka. Kata Kunci: Simbol, kekerasan,Moderasi Abstract Still ringing in the ears of St. Paulus Pringgolayan is currently discussing a case that is quite disturbing to the feelings of fellow residents in Kota Gede Bantul. Yogyakarta. Where, a group of individuals cut a "Cross" headstone in a public grave in the name of Albertus Slamet Sugihardi. The deceased was part of the residents of RT 53 RW 13. Purbayan. Kotagede Yogyakarta. This incident occurred on December 17 2018. Many people were disappointed because it tarnished the values of brotherhood and humanism among Yogyakarta cultural residents. This social phenomenon, which led to opinions of social and religious discrimination, was quite touching on feelings between religious communities at that time. This news quickly went viral in the mass media. It seems that this chaotic event increasingly provoked the emotions of fellow believers and became warm among citizens when this very sensitive phenomenon was brought into the public sphere by criticizing the arrogance of individuals who were inhumane and irresponsible for what they did without a basic and elegant reason. ttps://tirto. id/intolerance-di-yogyakartameningkat-5-tahun accessed, 26 October 2. The next case, again desecration of symbols, occurred when the Virgin Mary Statue was closed at the Sasana Adhi Rasa St Yakobus Prayer House. Kulon Progo. Yogyakarta. March 23 2023. This statue was covered using a blue tarpaulin, based on orders from a group of people who were not happy. with the sight of the statue in their eyes. Key Words: Symbol. Violence. Moderation A. PENDAHULUAN Dua kasus di atas, merupakan representatif contoh-contoh pengrusakan simbolsimbol agama tertentu di Indonesia di era moderasi agama saat ini. Sampai saat ini, mungkin masih dilematis bagi kita, ketika kasus ini mencoreng perasaan antar umat beragama, bahkan masih menjadi simpang siur di wajah tentang toleransi umat beragama di Indonesia. Muncul pertanyaan yang menggelitik di hati kita. Apakah fenomena-fenomena yang menoda agama tertentu, merupakan bentuk resisten atas simbol-simbol agama dimana mengganggu pemandangan yang berbeda keyakinan di ruang publik di negeri tercinta kita ini? Ataukah ada segumpal perasaan yang menyelubungi akal dan pikiran tentang agama lain, dan strategi apa lagi yang dilakukan sehingga tidak ada lagi ruang perdamaian dan harmonis di antara kita umat beragama di Indonesia? Atau dialog semacam apa yang diimpelementasikan untuk mencari titik temu tentang perbedaan dalam keberagaman simbol-simbol keyakinan di masyarakat kita. Beragam pertanyaan pun yang menguak dari dalam diri kita, belum tentu menemukan akariah dari persoalan-persoalan atau masalah agama yang sedang atau selalu terjadi di negeri Indonesia ini. Sampai saat inipun, di kalangan warga masih bingung untuk melaporkan kasus yang merusak simbol-simbol agama tersebut. Kita juga sebagai masyarakat awam pun tidak paham dengan hukum, bagaimanakah penerapan hukum di negara kita, agar hal-hal itu tidak menjadi kebahaya konflik sosial yang laten dan paten. Kerap kali ada kelompok tertertentu, menciptakan konflik dengan mudah membungkusnya atas nama agama atau keyakinan tertentu di masyarakat kita. Beragam Paham Tentang Simbol Kita tahu bahwa, akhir-akhir ini para ilmuwan secara materialis menjadi dominan dalam mengejar hasrat-hasrat yang ada dalam diri manusia di masyarakat postmoderen. Merebut segala upaya di pelbagai bidang kehidupan. Baik bidang ekonomi, sosial, politik, budaya dan lain sebagainya tidak dibisa dibendung lagi bagi para penguasa atau otoritas dalam sebuah wilayah di negeri ini. Sikap superioritas terhadap kalangan masyarakat bawah semakin kuat dan tajam. Bahkan ada yang terbuka dan terang-terangan bagaimana hegemoni agama pun terjebak di dalam arena tersebut untuk meretas nilai-nilai humanis dalam relasi antar umat agama. Pada sisi lain, jarang sekali orang berbicara bagaimana penggambaran dunia kita saat ini. yang secara khusus mendiskusikan tentang berbau mistis, supranatural, simbol, misteri alam dalam setiap keyakinan atau agama tertentu. Barangkali dengan memotret simbol-simbol agama, justru semakin membentuk spiritualitas dalam ke-Ilahian manusiawi kita masing-masing yang sedang bertumbuh dan berkembang menuju pribadi insani dan sejati dalam moderasi agama saat ini. Jika kita melukiskan historis simbol dalam agama asli, tentu kita tidak bisa menolak dan melawan, ketika muncul dalam masyarakat primitif . aca: tingkat pengetahuannya renda. kehidupan mereka lebih banyak ditentukan oleh sistem kepercayaan . elief syste. daripada sistem yang rasional . ational syste. Perilaku mereka lebih banyak diatur oleh sistem kepercayaan yang didasarkan pada pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungan alam sekitarnya salah satunya lewat tanda, lambang atau simbol. Berbagai fenomena alam yang mereka lihat sehari-hari tidak semuanya bisa dijelaskan atau mereka pahami. Simbol memberi pencerahan bagi jalan kerohanian seseorang dengan cara-cara yang tidak lazim untuk agama moderen saat ini. Ketidakmampuan . eterbatasan pengetahua. mereka menjelaskan berbagai fenomena alam menyebabkan mereka mengambil sikap bahwa semua itu termasuk manusia telah ditentukan oleh suatu kekuatan yang berada di luar dirinya. Maka membutuhkan ruang simbol untuk membantu, menjelaskan untuk melihat apa yang terjadi dalam diri seseorang. Masing-masing individu dan masyarakat mempunyai pengetahuan dan daya nalar yang berbeda-beda. Pada titik akhir pengetahuan dan nalarnya . ltimate goa. tersebut merupakan titik awal dari kepercayaan mereka. Oleh karena itu, kepercayaan . nimisme meminjam istilah Tylo. yang menjadi esensi dari setiap agama, sebenarnya juga merupakan hasil dari akal . Ketidakmampuan untuk menjelaskan apa yang diyakininya dihadirkan sebuah simbol yang dekat dengan kehidupan harian manusia itu sendiri. Warsono dalam Artha Sekelompok orang yang fanastisme dengan simbol sebagai bentuk ekspresi iman akan berisiko dianggap gila. Mungkinkah di ruang moderasi agama berupaya hadir untuk menerangkanya, guna meminimalisir paham-paham yang dianggap keliru bila simbol-simbol itu justru tidak menjadi keindahan dan keharmonisan dalam warna-warni agama di masyarakat postmoderen ini. Namun, kita tidak perlu pesimis karena ada banyak orang cerdas secara pengetahuan dan jujur dengan keberadaan di lingkungan sekitarnya mulai tertarik tentang hal simbol dalam lingkaran kehidupan manusia di muka bumi ini, ketika mereka mengkontemplasikan diri tentang makna simbol yang membuat dia sangat menikmati Black . dalam buku Sejarah Dunia yang Disembunyikan mendeskripsikan bahwa sejak peradaban dalam lingkungan budaya maju, generasi pioner telah diajarkan turun temurun, bertahun-tahun dalam perkumpulan rahasia tertentu tentang simbol-simbol dalam agama yang merupakan bagian dari sejarah hidup manusia mulai dari kelahiran, kehidupan hingga kematian. Narasi-narasi yang dibangun tidak luput mengisahkan tentang perang antara manusia sampai pada titik kemenangan dengan simbol kegelapan. Dan simbol titik terang sampai manusia menyatukan diri dalam wujud tertinggi menjadi simbol yang sempurna dalam keyakinan tertentu. Maka dari sini kita bisa mereduksi bahwa setiap rekam jejak dalam simbol menjadi cerita yang kuat untuk menjelaskan kepada orang lain dari waktu ke waktu. Dalam kajian agama mutakhir, justru simbol dalam agama tertentu sebagai praktik yang partikular yang tidak lagi dicari intisari atau esensi, struktur dan sifat-sifat umum Akan tetapi, setiap peribadi memaknai simbol sebagai lahir dari pengalaman religinya ketika menghadirkan mengkontemplasikan simbol tersebut. Maka pendekatan modern yang amat esensalis, untuk mengkaji simbol dengan mencari esensinya dan menganggap unsurunsur lain tidak penting dan sebagainya dalam menempatkan simbol sebagai pusat ritual dalam keyakinan agama lain di masyarakat dewasa ini . Blacburn 2. Dengan kata lain dalam menafsirkan simbol sudah begitu cair dalam ruang dan lingkungan yang sedang berkembang ketika kita hidup dalam masyarakat multikulturalisme dan pluralisme . Parek 2008 & Barker, 2. Gagasan tersebut, sepadan dengan semiotika simbol dalam kultur masyarakat Saya meminjam teori Roland Bartes 1967 dalam (Lustyantie, 2. Dalam terminologi sastra, teori semiotik sangat penting karena sistem bahasa dalam sastra merupakan lambang atau tanda. Simbol yang disajikan bukan bahasa biasa tetapi bahasa yang sarat dengan penanda dan petanda. Pendekatan semiotik ini merupakan sebuah pendekatan yang memiliki sistem sendiri, berupa sistem tanda. Simbol akan memiliki makna yang luas tergantung kepada orang yang memaknai simbol ketika ia membacanya dari daya tangkap panca indranya. Menurut Barthes, dalam menafsir semiotika sebuah simbol dapat dikaji dalam tiga Masing-masing ruang memiliki karasteristiknya. Tiga ruang inilah yang harus dikuasai oleh kita manusia baik dari segi kecerdasan kognitif, afektif maupun spiritual. Pertama, semua orang bisa melihat simbol secara material, bentuk, gesture, warna dan lain sebagainya. Pandangan yang muncul di area masyarakat diterima oleh semua orang. Kercedasan intelektual dan ilmiahnya bisa pertanggungjawabkan. Di bagian pertama ini, makna denotasi dari simbol masih bisa diperdebatkan atau diskusikan. Karena semua argumen bisa diterima secara umum. Kedua, dalam semiotika simbol, masing-masing diberi ruang untuk memaknai secara Orang tidak bisa menafsirkannya dengan memaksa orang lain untuk menerima tafsiran simbol-simbol dalam keyakinannya. Karena setiap pribadi memiliki nilai kontemplasi diri yang lahir dari pengalaman relasi dengan alam atas simbol tersebut. Maka tidak ada ruang untuk diperdebatkan. Bagian kedua ini sebagai makna konotasi dari hasil refleksi dalam diri Ketiga, dalam semiotika simbol mempunyai wilayah otoritas seseorang yang menciptakan simbol tersebut. Hanya dia yang mengetahui makna terdalam dari simbol Pada bagian tingkatan ketiga ini, akan menjangkau di luar akal manusia. Di sinilah kita mengakui nilai-nilai supranatural, spiritualitas ke-Ilahian dalam diri seseorang yang penuh misteri. Ricard King . 1:28-. menjelaskn bagaimana realitas ruang ketiga ini, sebagai representatif kesatuan diri di luar dunia manusia dan di alam semesta ini. Manusia perlu memahami asal mula konsep-konsep mistik dalam simbol secara rasional maupun irasional, tanpa diintervensi dan dipancing oleh karena kesombongan inteletual dan kerohanian kita yang berlebihan menunjukan sikap super atau angkuh di ruang publik. HASIL DAN PEMBAHASAN Salib: Simbol Kekerasan Versus Keselamatan? Selaras dengan awal tulisan ini dengan contoh nisan Salib yang rusak oleh oknum di Kota Yogyakarta, maka muncul pertanyaan yang menggelitik apakah salib itu simbol kekerasan atau keselamatan dalam agama Kristiani? Jika kita menguliti dan menelisik dari pertanyaan ini munculah sebuah narasi sebagai ingatan kolektif dan gugatan simbol atas peristiwa kelam yang terjadi di masa lalu dalam merebut perang kesucian. Perang demi kesucian atau kekudusan diri justru menjadi dendam yang tidak pernah berakhir sampai saat ini . Foucault dalam Carrette 1. Mengingat sejarah, bahwa perang salib berlangsung selama kurang lebih dua abad, dimulai dari perang salib I sampai perang salib IX yaitu dari tahun 1095-1291. Perang Salib adalah penyerangan dari kefanatikan Kristen yang dikoordinir oleh Paus yang mempunyai tujuan untuk merebut Kota suci Palestina dari tangan kaum Muslimin . ttps://w. com/search?q=perang salib tahun berapa&oq diakses, 27 Oktober 2. Sejarah itu sendiri terbukti dan terjadi dalam relasi agama Muslim dan Kristen saat itu. Kita bersama-sama menerima peristiwa tersebut, sebagai bahan refleksi bersama dan harus mengetahui bahkan mengakui bersama, bahwa AuPerang SalibAy yang berlangsung September 1219, sebagai Auperang agamaAy antara Dunia Kekristenan (Bara. dan melawan Dunia Islam (Timur Tenga. , menjadi tapak sejarah kelamnya relasi agama Katolik dan Islam zaman tersebut . Prakoso dkk 2. Bukan kita mengungkit kembali atau melupakan sejarah masa lalu. Akan tetapi, kisah ini adalah frame realitas agama yang harus kita terima sebagai pengetahuan umum dan dasariah dalam mengenal jejak historis hubungan agama Islam dan Kristen saat ini. Bolehlah saat ini kita melupakanya, sebagai cara kita untuk menciptakan oase kedamaian, namun sebagai sejarah tetap merupakan bagian dinamika relasi agama Islam dan Kristen saat itu. Meminjam kata-kata Yenny wahid dalam buku Yesuit dan Muslim 2023: . , bahwa setiap jejak historis itu bisa saja sebagai rasa takut yang diimajinasikan . magined fea. , bagi mereka yang tidak mau berdamai dengan diri dan orang Bahkan sering kali kita mempunyai ketakutan sendiri dalam hidup berdampingan dengan agama lain. Narasi perang salib inilah menjadi sebuah kisah yang mungkin sampai saat ini menjadi phobia bagi agama ketika simbol itu muncul di abad postmodern ini. Maka ketika masalah di Kota Gede dengan pemotongan salib sebenarnya kesempatan untuk bisa berdiskusi tentang sejarah yang terlanjur menjadi stereotip dan stigma yang menakutkan bagi komunitas agama tertentu di masyarakan kita saat ini. Dengan kata lain, bahasa sosial ikut bisa setuju kalau diberi ruang pendapat salib adalah semacam kekerasan simbolik . Edukasi volume IV, no. 1 Maret 2007 hal. Meskipun semiotika salib oleh komunitas Katolik sebagai simbol pengorbanan dan keselamatan dari sang nabi yang disebutnya Yesus Kristus, tidak kita memaksa kepada yang berkeyakinan lain sepakat dengan penghayatan iman kita. Dalam Teologi Salib dijelaskan secara tekstual dari biblis bahwa kita diselamatkan dalam pengharapan (Rm 8:. Pengharapan kita bukan tak berdasar sebab dasarnya adalah wafat dan kebangkitan Kristus yang dilambangkan dengan salib . Dister, 2004:. Sebaliknya tentang Maria oleh Dister menjelaskan bahwa soal penghayatan tentang Maria dalam iman Katolik. Tempat Maria dalam sejarah keselamatan dunia sangat penting, namun kita juga tidak memaksa orang lain untuk masuk dalam pemahaman pengetahuan Mariologi yang nyata dan jelas telah melahirkan sabda itu sendiri. Bagaimana dengan simbol Patung Bunda Maria? Dalam kajian ilmu religi dan budaya, kehadiran patung orang kudus . aca Mari. sebagai tanda yang dipertandakan bahwa. Ia begitu jauh mampu hadir secara dekat dalam diri kita oleh sebuah lambang . Sunardi dalam rhetotic of the image, 2. Dikatakan bahwa manusia membutuhkan lambang atau simbol sebagai bentuk ekspresi pancaindra seni dan keilahian diri dalam diri manusia. Oleh karena kita tidak heran bahkan kaget, bila ada kelompok tertentu, secara serampangan menafsir simbol salib dan patung Maria dalam Gereja Katolik. Yang menurut kita, tafsiran mereka dapat merusak nilai-nilai iman dan ruang bathin kita. Kita mempunyai hak utama dalam menghayati dan memeluknya dengan tidak berprasangka negatif cara pandang orang lain di luar iman kita. Apa lagi yang menafsirkan adalah tokoh agama yang berpengaruh di ranah publik atau artis yang terkenal dalam dunia sosial media . https://w. com/watch?v=ZzwKj12X7GU&t=65. , diakses, 26 Okober 2. Apa lagi mereka membuat program khusus dalam program podcast yang memancing dan mengundang para followers-nya bertanya atau mendukung dalam acara tersebut. Di sinilah kita hadir secara kritis apakah gagasan itu melemah atau menguat iman kita. Dari sini saja kita bisa menyadari ada perbedaan pandangan dalam dialog teologis yang bisa menjadi perdebatan dan akhirnya bersifat paradox dalam memahami agama orang Maka sangat mengganggu dari segi material dan formal ketika salib itu sebagai simbol dan menjadi traumatis bagi yang tidak seiman. Menurut Magnis Suseno . , penghayatan keagamaan seperti itu memperlihatkan bahwa kehidupan beragama memang berada dalam budaya digerogoti oleh paham-paham dan perkembangan neurotis. Itu terjadi apabila penghayatan individual atau tekanan dalam agama itu sendiri terlalu ditentukan oleh perasaan takut dan stereotip yang berlebihan. Budaya ikatan emosi dalam satu keyakinan tidak bisa diingkari bahwa reaksi dan reaktif berlebihan menjadi solidaritas semu ketika membaca fenomena tersebut dengan penuh Maka sering kali tidak disadari atas nama mayoritas dan kekudusan dalam penghayatan iman bisa menghambat dialog kehidupan dan tergoda untuk merusak tatanan nilai-nilai sosial yang sudah bangun bersama dengan berbagai pendekatan yang dapat menghasilkan wilayah humanis yang bersahaja dan ramah dengan alam sekitarnya . Ngardi dalam Artha, dkk 2. Simbol-Sombol Agama: Bentuk Kebebasan Beragama Meskipun simbol sebagai salah satu bentuk ekspresi iman dalam kebebasan agama di Indonesia, namun tetap ada kendala dan hambatan terhadap kebebasan tersebut. Kita beda tetapi sama, atau kita sama tetapi berbeda adalah sebuah konsep anak muda dengan gaya satirnya mengeritik atas relasi selama ini dibatasi simbol-simbol dalam agama tertentu. Kontradiktif masalah simbol ini hampir senada dengan gagasan Singgih ( 2007: . bahwa bangunan sebagai simbol melayani agama dan masyarakat tetap menjadi sebuah pertanyaan yang mendasar apakah ini sangat membantu realitas atas keberagaaman agama di Indonesia. Ruang bagi kemajemukan agama belum maksimal sediakan oleh pemerintah untuk melihat semua perbedaan itu sebagai suatu khazanah agama tertentu dan akan menciptakan identitas semua agama di Indonesia lewat sebuah simbol. Identitas inipun yang dihadirkan dalam simbol belum tentu dirasa aman bagi orang yang menjalaniya. Alasanya karena sudah terpolarisasi dalam diri bahwa simbol sebagai identitas agama akan merusak keharmonisan beragama. Maka, walaupun kita mengetahui bahwa kebebasan simbol dalam agama sebagai ekspresi keimanan atau keyakinan seseorang . reedom of religion and belie. merupakan salah satu bagian penting Hak Asasi Manusia (HAM) di muka bumi ini. Meski hampir tidak ada lagi perdebatan subtantif tentang esensialnya subjek ini, jelas pula kebebasan simbol dalam agama atau keyakinan masih menghadapi masalah dan kendala tertentu di banyak bagian dunia, termasuk di tanah air kita Indonesia. Karena itu, kebebasan simbol-simbol yang hadir dalam agama dan keyakinan masih perlu diperjuangkan secara terus menerus pada bagian level kehidupan beragam dalam diskusi wilayah moderasi agama. Mendukung tulisan Lindholm . 0: . dalam buku Facilitating Fredoom of Religion or Belief, menegaskan bahwa hak kebebasan beragama dan keyakinan yang di dalamnya dihadirkan simbol-simbol sebagai ekspresi iman baik dalam kebebasan secara internal maupun eksternal. Pertama, kebebasan internal. Kebebasan jenis ini adalah kebebasan mutlak setiap individu untuk mempunyai, mempertahankan, menganut dan pindah agama atau keyakinan. Kebebasan ini mengimplikasikan pilihan yang bisa berubah dari setiap individu untuk menganut suatu agama atau keyakinan tertentu, yang dibuat dalam ranah bathin dan pribadi seorang individu, yang bisa dinyatakan/ diungkapkan kepada orang lain secara pribadi atau khalayak umum Kedua, kebebasan ekternal. Kebebasan ini didefinisikan sebagai kebebasan pribadi baik seacara individu ataupun dalam masyarakat bersama orang lain, di depan umum atau di ruang yang bersifat pribadi, untuk menyatakan agama atau keyakinanya lewat jalan, simbol, tanda, ajaran-ajaranya, pengamalan, ibadat dan ketaatatnya terhadap aturan-aturan agama. Dialog Dan Simbol Dalam Wilayah Pluralitas Berdasarkan kasus-kasus yang terjadi selama ini apakah simbol-simbol agama perlu dikaji ulang di tengah pluralitas saat ini? Suatu dialog agama yang AukorelasionalAy merupakan penegasan mengenai pluralitas agama-agama, bukan karena pluralitas itu baik dalam dirinya sendiri melainkan karena merupakan kenyataan hidup dan merupakan unsur dalam hubungan . Knitter,2005: . Agar dialog korerasional semacam itu dapat terjadi, pertemuan dalogis harus diadakan dalam suatu masyarakat yang egalitarian dan bukan hierarkis. Fenomena konflik sosial yang kerap kali muncul, menjadi pertaruhan bagi tokohtokoh yang berpengaruh di dalamnya. Peran tokoh agama sangat diuji kemampuannya untuk melihat secara jernih dengan narar kritis bagaimana setiap persoalan di masyarakat yang sangat rentan dengan bahaya laten, menciptakan ruang dialog bersama. Ruang dialog ini, sebagai salah satu cara untuk meretas sifat- sifat superior dalam hidup bersama. Hal ini terkait dengan relasi manusia dengan keberagaman hidup untuk bisa berjalan bersama, tanpa harus menunjukan sifat-sifat keegoisan dan kesombongan satu sama lain atau superitas sosial. Dengan demikian, jalan bersama melalui dialog kehidupan merupakan sebuah ruang atau tempat teduh bagi manusia untuk menemukan hal-hal yang sungguh penting dalam kenyataan hidup ini, yang tidak hanya melihat realitas pluralitas saja. Akan tetapi, manusia harus mau menerima secara realitas dan logika, bahwa memang perbedaan dan keberagaman itu adalah indah dan harmonis apabila dibentuk oleh wacana dan praktik yang nyata dalam hidup berdampingan satu sama lain secara humanis dan elegan. Masalah kemudian muncul, ketika orang tidak siap menerima perbedaan sebagai sesuatu mutiara indah dari Sang Pencipta kehidupan ini. Hal ini bisa jadi mengenai hal-hal yang tidak perlu diperdebatkan dalam dialog kehidupan, bila hal-hal yang berbau pluralisme masih menjadi perdebatan sengit satu sama lain. Untuk itu kita pahami secara betul bagaimana sebenarnya makna, visi dan misi pluralitas menjadi bingkai masyarakat Indonesia yang nota bene salah satu negara yang unik dan khas dengan negara lain di dunia dalam hal toleransi beragama. Penulis meminjam gagasan Diana L. Eck dalam (Joko Lelono, 2022: 53-. , yang dikutip dari buku On Common Ground: Word Religius in America, menjelaskan tentang konsep pluralisme dalam 4 . Pertama, pluralisme bukan sekedar keanekaragaman, melainkan kehendak untuk terlibat dalam keanekarakagaman. Melihat pluralisme sekadar sebagai keanekaragaman bisa menciptakan ghetto . elompok-kelompok yang terpisah satu dengan yang lain. Dalam arti ini, keragaman tanpa perjumpaan dan hubungan yang nyata hanya akan menghasilkan ketegangan yang meningkat dalam Kedua, pluralisme bukan sekedar toleransi, melainkan upaya saling memahami satu sama lain melintasi perbedaan. Toleransi memang penting sebagai langkah awal untuk menerima keberadaan yang lain, tetapi tidak mengharuskan seorang Kristen. Muslim. Hindu. Yahudi, maupun sekularis untuk mengenal satu sama lain. Toleransi hanya memberi fondasi yang tipis dalam realitas perbedaan antaragama. Di sana tidak ada upaya untuk menghilangkan ketidaktahuan satu sama lain sehingga sering kali kita berbagai prasangka, stereotip, ketakutan pihak lain, ketidaktahuan akan pihak lain ini, bisa menjadi akar konflik Ketiga, pluralisme bukanlah relativisme, melainkan sebuah perjumpaan penuh Dengannya, orang tidak diharuskan untuk meninggalkan identitas dan komitmen kepada agama atau budayanya. Dengan cara ini, kita sadar bahwa pluralisme adalah upaya untuk tetap memegang perbedaan kita, bukan sebagai bentuk isolasi diri melainkan dalam kesadaran akan pihak-pihak lain yang hidup dan berelasi dengan kita. Empat, pluralisme berdasarkan dialog. Di dalamnya ada proses dialog dan pertemuan, saling memberi dan menerima, saling menerima kritikan. Di dalam dialog, terjadi pembicaraan dan upaya saling Proses ini memungkinkan orang saling mengenal persamaan dan perbedaan. Kita tahu bahwa dalam dialog, tidak akan ditemukan kata sepakat seutuhnya dengan yang Dari keempat gagasan di atas, menjadi material yang sangat kuat bagi penulis untuk mengkaji kembali persoalan dialog selama ini. Mana kala di dunia yang sedang dilanda konflik sosial dan agama bahwasanya di antara berbagai realitas pluralitas yang ada, saat ini dunia sedang bergulat yang tidak hanya masalah agama tetapi bisa juga sikap power peradaban masyarakat tertentu menjadi sebuah akar persoalan. Misalnya konflik antara negara Rusia dan Ukraina dan yang sedang bergulat sekarang adalah masalah Israel dan Palestina. Ketika masalah ini diihat satu aspek saja maka saat ini dunia kita sedang bergulat dan bergumul dengan permasalahan yang mudah diciptakan yakni karena perbedaan keyakinan atau agama. Konflik antarkomunitas agama, atau bahkan kelompok dalam satu agama yang sama mengisi ruang hidup bersama di tengah -tengah masyarakat kita untuk menakar sejauh mana implementasi mutu agama dan iman seseorang dapat diimplementasikan dalam kehidupan yang nyata. Belajar Dari Tokoh Keterkaitan di awal tulisan ini, tentang kasus penodaan agama lewat pengrusakan Salib dan penutupan Patung Maria, saya tertarik untuk berkiblat dalam legenda Floretti . yaitu perjumpaan dua tokoh Fransiskus dan Sultan menjadi sebuah tanda persaudaraan untuk menyingkir segala kejahatan perang yang membuat martabat manusia tidak saling menghargai sebagai citra dari ciptaan Allah satu. Fransikus mulai terbuka pandangan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah dan teman-teman muslim merupakan saudara yang harus dipeluk dan memaafkan akibat perang salib yang memakan korban yang tak bersalah dimasa itu (Doornik 1977:. Legenda ini ternyata di rawat dan dilakukan dengan totalitas oleh Paus Fransiskus saat ini. Haryadi, 2. Saat ini kita bersyukur ada Dokumen terjemahan KWI Tentang Persaudaraan Manusia Untuk Perdamaian Dunia Dan Agama. Dokumen ini adalahPerjalanan Apostolik Bapa Suci Paus Fransiskus Ke Uni Emirat Arab (UEA) 3-5 Februari 2019 atau sering disebut Dokumen Abu Dhabi. Paus Fransiskus telah mengadakan kunjungan bersejarah ke Uni Emirat Arab (UEA) pada 3 Februari 2019. Hal ini menjadi tonggak sejarah dalam dialog antaragama dan membuka pintu untuk pembicaraan tentang toleransi yang perlu didengar oleh seluruh dunia. Hembusan angin segar sudah bisa kita hirupkan bersama bila di Indonesia dapat kita rawat dan tiru dari perjumpaan kedua tokoh di atas. Paus menegaskan bahwa Auiman kepada Allah mempersatukan dan tidak memecah Iman itu mendekatkan kita, kendatipun ada berbagai macam perbedaan, dan menjauhkan kita dari permusuhan dan kebencian. AuSelanjutnya, pada 4 Februari 2019 di Abu Dhabi Paus Fransiskus bersama Imam Besar Al-Azhar. Sheikh Ahmed el-Tayeb telah menandatangani AuThe Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together. Dokumen Abu Dhabi ini menjadi peta jalan yang sungguh berharga untuk membangun perdamaian dan menciptakan hidup harmonis di antara umat beragama, dan berisi beberapa pedoman yang harus disebarluaskan ke seluruh dunia. Paus Fransiskus mendesak agar dokumen ini disebarluaskan sampai ke akar rumput, kepada semua umat yang beriman kepada Allah. Meskipun dalam dokumen di atas tidak secara khusus membicarakan simbol-simbol dalam agama, namun secara umum bagaimana agama tetap hadir untuk menemukan perjalanan kerohanian kita menuju Ilahi surgawi. Agama menjadi kompas untuk mengarahkan perjalanan hidup kita di dunia hingga akhirat. KESIMPULAN Ketika kita berbicara moderasi agama maka di sana kita berjuma keanekaragaman budaya . dan agama . di dalam masyarakat moderen. Maka di akhir tulisan ini saya menempatkanya sebagao rekomendasi dan juga pengetahuan bagi kita dalam moderasi agama yang memiliki beberapa bentuk. Pertama, meskipun para anggotanya memiliki satu budaya umum yang luas, beberapa di antara mereka dengan wilayah kehidupan tertentu menjalankan keyakinan dan praktek yang berbeda. Hal ini berlaku dalam agama Kristen homogen yang didalam praktek dan perwudan relasi-relasinya tetap berbeda pula. Kedua, beberapa anggota masyarakat sangat kritis terhadap beberapa prinsip atau nilai-nilai pluralisme dengan menyebutkan keanekaragaman perspektif cara memandang agama dan kultural. yang berbeda dengannya. Penulis melihat untuk mencapai sebuah dialog kehidupan dalam hidup beragama, pendekatan dan relasi di ruang perjumpaan menjadi jembatan untuk bisa menerima semua perbedaan itu menjadi sarana untuk saling menghormati dan menerima dengan realitas yang ada. Budaya tandingan atas ketidakadilan dalam hidup keberagaman dapat belajar dari teori intelektual organik versi Gramsci, dimana kita sama-sama melawan yang menghancurkan nilai-nilai kebersamaan dalam perbedaan atas dasar produk dari moderasi agama . Gramsci dalam Peter Beiharz . 6: 201-. Persoalan yang menarik dalam teori Gramsci adalam melawan kaum berkuasa oleh kaum masyarakat tertindas dengan budaya tandingan tanpa dengan melakukan kekerasan. Sebagai catatan akhir, dalam lanskap relasi agama Islam dan Kristen sama-sama memotret bagaimaan persoalan keberagaaman di Indonesia saat ini, tidak hanya dilihat semata-mata simbol. Namun ada intrumen lainya yang tidak bersifat semu belaka tetapi fakta berbicara bahwa kepentingan politik dan ekonomi menciptakan konflik agama. Penyempitan pandangan beragamapun bisa menjadi bipolar manakala kebutuhan mendasar tidak terpenuhi oleh semua umat beragama di Indonesia. Pengrusakan simbol hanya segelintir kasus yang kita bahas dan bisa memakan energi Mungkinkan kita bicara masalah kemanusian yang lebih dekat dengan pola-pola kemanusiawian kita. Dan justru ini lebih nyata dari sekedar teori dialog yakni membicarakan masalah kemiskinan, pengangguran, perusakan alam, perdagangan orang, narkoba. HIV dan masih banyak hal-hal lain yang bisa kita kerjakan bersama-sama tanpa dikapling dengan identitas agama tertentu. Mari kita berkerja terus tanpa kenal lelah dalam ruang moderasi agama yang penuh persaudaraan dan humanis. *** Daftar Pustaka