EFEKTIFITAS MATAKULIAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBINAAN MORAL MAHASISWA (Studi Diskriptif-Analitis di Universitas Madur. Suhaimi Fakultas Hukum Universitas Madura Pamekasan dorez@gmail. Agustri Purwandi Fakultas Hukum Universitas Madura Pamekasan a3purwandi@yahoo. Abstrak Universitas Madura adalah salah satu perguruan tinggi umum yang menerapkan matakuliah Pendidikan Agama Islam. Matakuliah ini bertujuan untuk memberbaiki dan menyempurnakan moral mahasiswa sehingga menjadi generasi yang islami, sebagai modal dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta sebagai upaya preventif terhadap dekadensi moral yang seringkali terjadi dalam dunia mahasiswa. Adapun rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini yaitu: . Bagaimana eksistensi matakuliah Pendidikan Agama Islam di Universitas Madura? . Bagaimana efektifitas matakuliah Pendidikan Agama Islam di Universitas Madura? Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang bertujuan mengungkap sebuah gejala yang terjadi di lapangan dan kontekstual dalam mencari dan memahami tentang efektifitas matakuliah Pendidikan Agama Islam melalui pengumpulan data dengan memanfaatkan diri peneliti, dosen dan Mahasisiswa sebagai instrumen utama dan disajikan secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa eksistensi Matakuliah Pendidikan Agama Islam di Universitas Madura dijadikan sebagai matakuliah dasar umum (MKDU) yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa semester satu dan dua, dengan penerapan sebagai berikut: Pertama, kurikulum menggunakan kurikulum berbasis isi. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan kurikulum yang sampai sekarang tetap digunakan Kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Kedua, metode pembelajarannya beraneka ragam, tetapi yang paling efektif digunakan yaitu pembelajaran berbasis laboratorium dan sistem mentoring. Ketiga, fasilitas pendukung perkuliahan untuk pendidikan agama Islam dapat dikatakan sudah memadahi. Matakuliah Pendidikan Agama Islam sangat efektif dalam membina moral mahasiswa, baik secara kognitif, afektif dan psikomotorik mahasiswa. Kata kunci: Pendidikan Agama Islam, moral mahasiswa Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Efektifitas Matakuliah Pendidikan Agama Islam Abstrct Madura University is one of the public universities that applies Islamic Education This course aims at improving and perfecting the morale of students so that they become an Islamic generation, as the main asset in facing society, nation and state, and as a preventive effort towards moral decadence that often occurs in the students' world. The formulation of problems in this study are: . How is the existence of Islamic Education course at Madura University? . How is the effectiveness of Islamic Education course at Madura University? The approach of this research is a qualitative approach that aims to uncover a symptom that occurs in the field and context in seeking and understanding the effectiveness of Islamic Education course through collecting data by utilizing the researchers, lecturers and students themselves as the main instruments and presented descriptively. The results of this study shows that the existence of Islamic Education at Madura University was used as a Matakuliah Dasar Umum (MKDU) which must be followed by all first and second semester students, with the following application: First, the curriculum uses a content-based curriculum. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) and curricula that until now have been used by the Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) curriculum. Second, the various learning methods, but the most effective one are laboratory-based learning and mentoring Third, supporting facilities for lectures for Islamic religious education ciurse can be said to be adequate. Islamic Education course is considered very effective in fostering student morale, either cognitively, affectively, and psychomotor. Keyword: Islamic education, student morale Pendahuluan Pengaruh era globalisasi tidak hanya menciptakan wahana dan suasana keilmuan saja, melainkan pula membawa pengaruh nilai budaya yang memiliki dua sisi secara diametral. Adakalanya membawa pada efek positif dan tidak sedikit juga akan membawa pengaruh 1 Pengaruh positif yang didapati melakukan aktifitas apapun yang terkait dengan penggunaan tegnologi dan 2 Manusia dapat terbantu 1Shindhunata. Menggagas Pendidikan Baru Pendidikan Demokratisasi. Otonomi. Civil Society Globalisasi (Yogyakarta : Tiara Wacana, 2. , 106 Ae 107. 2Suhaimi,AyIslamisasi Ilmu Pengetahuan Telaah Kritis Pemikiran Ismail Raji al-FaruqiAy, dalam untuk secara simultan dalam waktu yang relatif singkat dapat menyelesaikan aktifitasnya tanpa terdapat kendala Di samping perwujudan efek positif dari globalisasi dan modernisasi maka akan menimbulkan pengaruh negatif yang sangat memungkinkan untuk menimbulkan pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan dampak positifnya, diantaranya adanya penggeseran budaya atau gaya hidup yang kerapkali tidak sesuai dengan perspektif Islam dan kurang sesuai dengan ideologi budaya Bangsa yang sudah tertanam dengan baik sebagai warisan adiluhung budaya Bangsa Jurnal Al-Ulum. Jurnal Pemikiran dan Penelitian ke-Islaman (Vol. No. 2, 2. , hlm. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Suhaimi. Agustri Purwandi Indonesia. Ditambah lagi, munculnya masyarakat masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Setelah mendalam ternyata pengaruh negatif yang telah disebutkan di atas telah merasuk dan sudah terjadi dalam masyarakat, bahkan sebagian merambat pada dunia kemahasiswaan dalam lingkup Perguruan Tinggi. Tidak sedikit kerusakan Akhlak. Oleh karenanya fenomena tersebut harus ada upaya antisipatif untuk membendung adanya efek negatif dari pengaruh globalisasi. Perguruan Tinggi yang menjadi sentral pembahasan dalam tulisan ini adalah Universitas Madura Pamekasan. Perguruan Tinggi merealisasikan Tridarma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan. Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Dalam hal pendidikan. Unira telah melakukan pengelolaan kurikulum yang mengacu sistem pendidikan nasional. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya matakuliah yang sudah ditentukan jumlah SKS-nya, termasuk di dalamnya matakuliah Pendidikan Agama Islam sebagai Matakuliah Dasar Umum (MKDU) dan bersifat wajib untuk ditempuh oleh semua mahasiswa. Adapun rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini yaitu: . Bagaimana Pendidikan Agama Islam di Universitas Madura Pamekasan? . Bagaimana Pendidikan Agama Islam di Universitas Madura Pemekasan? Lestari & Ngatini. Pendidikan Islam Kontekstual (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2. , hlm. Diskursus Pendidikan Agama Islam Pendidikan Agama Islam merupakan hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan khususnya bagi orang-orang Islam yang menekuni ilmuilmu ke-Islaman masyarakat Islam secara umum. Karena di dalamnya termaktub berbagai ajaran penting yang menjadi pedoman hidup . ay of lif. dan menjadi dasar pijakan dalam berbagai ranah kehidupan, baik kehidupan di dunia yang fana ini maupun kehidupan akhirat yang kekal dan abadi. Pendidikan Islam4 didefinisikan bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. 5 Setidaknya ada beberapa hal terkait dengan pendidikan Islam. Pertama, pendidikan Islam dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada al-Khalik. Kedua, prioritas utama yang menjadi orientasi kedepan pendidikan Islam adalah keseimbangan antara urusan duniawiyah dan ukhrawiyah. Ketiga, pendidikan Islam manusia seutuhnya untuk menjadi manusia sempurna. Keempat, pendidikan Islam tidak hanya mengacu pada tujuan kognitif semata, melainkan pada aspek afektif dan psikomotorik. Kelima, secara substantif dalam pendidikan Islam 4 Dalam perspektif Islam, pendidikan diistilahkan dengan tarbiyah, taAodhib dan taAolim yang tentunya akan mengerucut pada pendidikan Islam. Pendidikan Islam pada endingnya akan berbicara konteks pendidikan akhlaq, karena salah satu tujuan pendidikan Islam adalah tercapainya akhlak mulia. Muhaimin. Nuansa Baru Pendidikan Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2. , hlm. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Efektifitas Matakuliah Pendidikan Agama Islam terfokus pada pembentukan anak didik yang bermoral dan berakhlaq al-Karimah sehingga menjadi manusia yang ideal dalam segala lingkup kehidupan. Terminologi Etika. Moral dan Akhlak Etika dapat dinyatakan ukuran baik dan buruknya didasarkan pada sudut pandang rasio atau filsafat. Ukuran baik dan buruknya Moral Sedangkan dalil-dalil tardapat dalam Al-QurAoan dan hadis. Dengan kata lain meminjam istilah AlGhazali ketetapan baik dan buruk ditentukan berdasarkan ajaran syariah. Secara bahasa akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu isim masdar yaitu Aoakhlaqa-yukhliqu-ikhlaqan yang berarti altabiAoat . abiat, watak, kelakua. , al-Sajiyah . , al-Aoadat . ebiasaan, adat, al-muruAoah . eradaban yang bai. dan al-din . Apabila dilihat dari bentuk susunan kalimat bentuk masdar dari kata akhlaq adalah ikhlaqan, bukan akhlaqan. Hal ini menunjukkan ketidaksesuaian dengan kata akhlaq yang dibentuknya. Sehingga terdapat versi pendapat yang berbeda bahwa kata akhlaq bukan berasal dari isim masdar, melainkan berasal dari isim jamid, yaitu bentuk isim yang tidak memiliki akar kata . sim ghairu musRudi Haryanto,AyMoralis: Paradigma Baru dalam Etika Bisnis ModernAy, dalam Al-Ihkam jurnal Hukum dan Pranata Sosial (Vol. IV, No. 1,2. , hlm. Suhaimi,AyKandungan Pendidikan Akhlak dalam Kitab Bidayah Al-hidayahAy, dalam Tadris Jurnal Pendidikan Islam Jurusan Tarbiyah STAIN Pamekasan (Vol. 10 No. 2, 2. , hlm. 8 Abi Hamid Al-Ghazali. MaAoarij al-Quds (Kairo: Muhyidin Sabri Al-Kurdi,1. , hlm. hanya saja terbentuk dengan kata itu Oleh karenanya akhlak berasal dari kata khuluq, jamak dari kata khuluqun yang berarti perangai, tabiAoat dan budi pekerti. Ditilik kebahasaan, akhlak memiliki pengertian Menurut ensiklopedi Islam, akhlak diartikan suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah, pertimbangan atau penelitian. Jika keadaan . tersebut melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji menurut pandangan akal dan syaraAo . ukum Isla. , disebut akhlak yang baik. Jika perbuatan-perbuatan yang timbul itu tidak baik, maka dinamakan akhlak yang 10 Senada dengan apa yang disampaikan oleh Ibnu Maskawaih menjelaskan bahwa akhlak merupakan suatu keadaan jiwa yang mendorong seseorang untuk bertindak tanpa dipikir Al-Ghazali memberikan pengertian akhlak. AuAl-Khuluq ialah ibarat . ifat atau keadaa. dari pelaku yang konstan . dan meresap dalam jiwa, daripadanya tumbuh perbuatanperbuatan dengan mudah dan wajar Ay Dari beberapa pengertian akhlak di atas tersirat makna bahwa akhlak Syarifudin Anwar. Kamus al-Misbah (Jakarta: Bulan Bintang, 1. , hlm. 10 Kafrawi Ridwan . Ensiklopedi Islam (Jakarta: tp, tt. ), hlm. 11 Ibnu Maskawaih. Tahdzib al-Akhlak (Beirut: Mansyurat Dar al-Maktabah, 1. , hlm. 12Abdul Kholik dkk. Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik Dan Kontemporer (Semarang: Pusataka Pelajar, 1. , hlm. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Suhaimi. Agustri Purwandi merupakan suatu perbuatan, prilaku, tabiat atau sifat yang sudah terpatri pada diri seseorang sehingga tidak bisa lagi dirubah dan dilakukan upaya untuk Apabila sifatnya buruk maka akan tetap dengan keburukannya tersebut, tidak akan pernah mengalami perubahan pada sifat yang baik. Sebaliknya, apabila sifatnya baik maka berpindah menjadi buruk, dan tidak akan menjadi lebih baik lagi. Jika terjadi pertentangan secara paradoksal dengan misi dakwah Islam yang notabene memiliki nilai fungsi amar maAoruf nahi munkar, memberikan peringatan menuju pada jalan Allah dengan melakukan kebaikan dan kesabaran, serta mencegah melakukan kejelekan dan sifat-sifat yang Tidak hanya itu namun juga bertentangan dengan tujuan pendidikan akhlak yaitu untuk memperbaiki moral, watak, sifat dan prilaku seseorang. Senada dengan karakteristik pendidikan akhlak yang dihembuskan oleh Ibnu Maskawaih yaitu tentang karakter atau Menurutnya watak itu ada yang bersifat alami dan ada watak yang diperoleh melalui kebiasaan atau 13 Kedua watak tersebut menurut Ibnu Miskawaih bahwa watak itu pada hakekatnya tidak alami, walaupun kita diciptakan dengan menerima watak, akan tetapi watak tersebut dapat diusahakan melalui pendidikan dan Terminologi etika berasal dari bahasa yunani AuEthosAy yang berarti kebiasaan, adat dan kehendak baik yang Fauzan Saleh,AyRevitalisasi Nilai-nilai Moral Keagamaan dalam Merespon Realitas Zaman Ay, dalam Islamica Jurnal Studi Keislaman. Progragram Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya (Vol. No. 1, 2. , hlm. Secara terminologis etika diartikan sebagai ilmu yang mempersoalkan tentang hidup manusia dilihat dari arah baik dan buruknya berdasarkan akal 14 Etika merupakan suatu penilaian baik dan buruk suatu prilaku seseorang dengan pandangan akal. Hal ini menandakan bahwa etika lebih pada tataran teoritis dan berpijak pada kebenaran filsafat. Adapun berasal dari bahasa latin AyMoresAy yang berarti adat-istiadat, kebiasaan, susila, cara, tingkah laku, watak dan akhlak. Secara istilah moral adalah kaidahkaidah atau cara seseorang bertingkah laku hubungannya dengan orang lain yang terdapat penilaian baik atau buruk, tepat atau tidak tepat, pantas atau tidak pantas, sesuai dengan standarisasi yang umum diterima dalam masyarakat Secara gamblang dapat dijabarkan perbandingan atau perbedaan antara etika, moral dan akhlak. Pertama, standar penentuan baik dan buruk ketiganya Etika bersandar pada pendapat akal pikiran . , moral berpatokan pada kebiasaan yang berlaku umum dalam komonitas masyarakat tertentu, dan akhlak berdasarkan pada al-QurAoan dan hadis. Kedua, sifat dan keluasan Etika lebih pada aspek teoritis, sedangkan moral dan akhlak lebih pada tataran praktis. Ketiga, ruang lingkup ketiganya terdapat ketidak Etika dan akhlak cakupannya sangat luas atau memandang tingkah laku manusia secara umum, sedangkan moral bersifat lokal atau cakupannya Kahar Masyhur. Membina Moral dan Akhlak (Jakarta: PT. Rennika Cipta, 1. , hlm. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Efektifitas Matakuliah Pendidikan Agama Islam Profil Universitas Madura Universitas Madura (UNIRA) yang berlokasi di jalan raya Panglegur KM 3,5 Pamekasan ini merupakan Perguruan tertua di pulau Madura yang berstatus sebagai perguruan tinggi swasta, didirikan oleh para sesepuh Madura yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pendidikan warga yang ada di Madura, khususnya para generasi penerus bangsa. Unira didirikan pada tanggal 2 Mei 1978 berdasarkan Surat Keputusan Yayasan Perguruan Tinggi Madura (YPTM) Nomor: 18/YPTM/1978 tanggal 2 Mei 1978 dengan nama Universitas Madura yang disingkat UNMAD. Pada tanggal 9 Juli 1985 singkatan Universitas Madura diubah menjadi UNIRA, sesuai dengan Surat Keputusan Rektor Universitas Madura Nomor: 588/ H. 08/ VII/ 1985. Universitas Madura memperoleh ijin penyelenggaraan program pendidikan jenjang Strata 1 (S. berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 0395/O/1986 tanggal 23 Mei 1986. Pertama kali di Unira hanya terdapat dua Fakultas saja yaitu Fakultas Hukum (FH) dan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA). Kemudian membuka beberapa Program Studi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Madura. Sampai saat Unira sudah memiliki enam Fakultas yang terdiri dari sepuluh Program Studi, delapan Prodi telah memperoleh predikat akreditasi B dan dua Prodi memperoleh akreditasi C. Rinciannya sebagai berikut: Eksistensi Matakuliah Pendidikan Agama Islam di Universitas Madura Pamekasan Matakuliah pendidikan agama Islam bukan merupakan hal yang tabu lagi apabila berada dalam perguruan tinggi yang notabene berbasis ke-Islaman yang secara familier disebut dengan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), misalnya: Universitas Islam Negeri (UIN). Universitas Islam Swasta. Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Institut Agama Islam Swasta. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) dan Sekolah Tinggi Agama Islam lainnya Perguruan Tinggi Agama Islam. Bahkan beberapa perguruan tinggi tersebut secara spesifik lebih berorientasi pada Ilmu-ilmu ke-Islaman, seperti: Syariah (Hukum Isla. Ilmu Tafsir. Ilmu Ushuluddin. Ilmu Dakwah. Ilmu AlQurAoan dan sebagainya. Namun di lingkup Perguruan Tinggi Umum (PTU), matakuliah pendidikan agama Islam terkadang dianggap hal yang tabu Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Suhaimi. Agustri Purwandi seakan menjadi ilmu yang begitu terasing atau termarjinalkan. Perguruan Tinggi Agama Islam bagaimana untuk mengintegrasikan15 keilmuan, antara ilmu keagamaan dengan ilmu umum, sebagai bentuk usaha supaya PTAI tidak hanya berkutat pada ilmu-ilmu ke-Islaman saja akan tetapi juga dimasukkan ilmu-ilmu umum sesuai dengan kebutuhan pada masamasa akan datang. Hal ini dimaksudkan keagamaan tidak ditinggalkan oleh masyarakat secara mayoritas karena tidak memiliki daya tawar yang sesuai Oleh karenanya diskursus tentang integrasi keilmuan tidak hanya dihaturkan dalam tataran wacana saja akan tetapi telah dipraktikkan dalam tataran empiris. Perguruan Tinggi Umum (PTU) sebagai lembaga yang notabene berbasis keilmuan non keagamaan . lmu umu. juga harus mampu untuk melakukan integrasi keilmuan. Disamping secara mayoritas materi yang diajarkan bersifat umum, juga menyertakan materi-materi keagamaan agar tidak menghilangkan kiprah pendidikan Islam di bumi ini, terutama bagi para cendikiawan muslim supaya mereka mempunyai sandaran agama dalam kehidupannya. Memasukkan ilmu-ilmu keagamaan ke dalam lembaga pendidikan umum merupakan hal positif yang 15 Integrasi keilmuan ini menurut Ismail Raji Al- Faruqi dapat pula disebut dengan Islamisasi Ilmu Pengetahuan disiplin-disiplin menghasilkan buku-buku pegangan pada level Universitas dengan menuang kembali disiplin ilmu modern dengan wawasan . Islam. Dapat dilihat pada Ismail Raji Al-Faruqi. Islamization of Knowledge. Terjemahan Anas Wahyudin (Bandung: Pustaka, 1. , hlm. berimplikasi pada: pertama, menghilangkan adanya dikotomi antara pendidikan agama dengan pendidikan umum. Kedua, sebagai dasar ilmu yang menjadi pedoman agar ilmu umum yang ditekuni tidak melenceng dari ajaran agama. Ketiga, supaya dapat menghasilkan cendikiawan muslim yang tidak hanya handal dalam bidang sains, akan tetapi juga mumpuni dalam bidang agama, dengan kata lain menjadi seorang ilmuan yang Islami. Keempat, sebagai ciri yang bersifat spesifik yaitu bangsa yang lebih menekankan pendidikan karakter, dan pendidikan tersebut banyak terdapat dalam pendidikan agama Islam. Eksistensi pendidikan agama sangat urgen keberadaannya karena pengajarannya menyangkut akidah, syariah dan akhlak. Tiga dimensi ini menjadi hal terpenting dalam ajaran Islam dan merupakan esensi dari ajaran Islam, baik yang terdapat dalam alQurAoan maupun dalam Hadis Nabi Muhammad saw. Setiap orang Islam hukumnya wajib untuk mengetahui dan memahaminya sebagai pijakan dalam menjalani kehidupannya. Pendidikan agama dalam ranah perguruan tinggi memang menjadi kewajiban yang harus ada dalam Dalam Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 pasal 37 ayat . , menyatakan bahwa kurikulum pendidikan sarjana wajib memuat . Pendidikan agama, . Pendidikan kewarganegaraan, dan . Bahasa. Hal 16 Dalam istilah Azyumardi Azra dikotomi antar madrasah dan sekolah umum akan mulai memudar artinya tidak ada sekat pemisah secara tajam keduanya mulai menyatu. Azyumardi Azra. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Rekonstruksi Demokratisasi (Jakarta: Kompas, 2. , hlm. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Efektifitas Matakuliah Pendidikan Agama Islam mencapai target dari tujuan pendidikan nasional yaitu menjadikan manusia Indonesia seutuhnya dan seluruhnya, baik lahir maupun batin. Artinya hasil akhir yang dicapai adalah insan kamil, manusia sempurna dari segala sisi yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Sistem kurikulum matakuliah pendidikan agama yang diberlakukan di Universitas Madura mengacu pada kurikulum yang berlaku pada sistem Indonesia, diantaranya: Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi. Undang-Undang Sikdiknas Nomor 20 tahun 2003. Peraturan Presiden Nomor 8 tahun 2012 tentang KKNI dan UndangUndang Peraruran mengenai pengelolaan perguruan tinggi ditambah lagi peraturan secara khusus yaitu Statuta Unira Tahun 2017. Sesuai dengan hasil wawancara dengan Bapak Nadir: AuSecara umum kurikulum yang digunakan di Universitas Madura mengikuti kurikulum yang berlaku pada pendidikan tinggi yang berlaku selama ini di Indonesia, misalnya: Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi. Undang-Undang Sikdiknas Nomor 20 tahun 2003. Peraturan Presiden Nomor 8 tahun 2012 tentang KKNI dan Undang-Undang serta Peraruran perguruan tinggi ditambah lagi peraturan secara khusus yaitu Statuta Unira Tahun Mengenai Pendidikan Agama memang diharuskan keberadaannya untuk mencetak mahasiswa yang bertakwa kepada Tuhan yang maha esa dan memiliki moralitas yang Ay 17 Mengkilas kurikulum pada Universitas Madura memang acapkali mengalami pergantian atau perubahan sesuai ketentuan yang Awalnya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), kemudian beralih pada Kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Peralihan ini dilakukan sesuai dengan ketentuan perubahan kurikulum Disamping itu juga disesuaikan dengan kebutuhan pada Universitas supaya pendidikan menjadi relevan sesuai dengan tuntutan zaman dan sosiokultur yang berkembang di masyarakat agar pendidikan agama tidak ditanggalkan oleh masyarakat Islam. Sebelum tahun 2017 Unira menggunakan sistem Kurikulum KBK, kemudian setelah tahun 2017 beralih pada kurikulum KKNI dan acuannya tetap pada pendidikan berbasis karakter Seluruh matakuliah pendidikan agama untuk dapat digembleng moralnya supaya berakhlak karimah, mengerti akan jati dirinya sebagai seorang manusia, yaitu sebagai abdi Tuhan dan berbuat baik dengan sesama. Hasil wawancara dengan beberapa dosen sebagai Unira: AuPada tahun sebelum tahun 2017 di Unira Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), namun setelah tahun 2017 beralih memakai Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang 17 Wawancara dengan Dr. Nadir. SH. MH. Pada tanggal 13 Mei 2019 Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Suhaimi. Agustri Purwandi sama-sama pendidikan berbasis karakter atau moral, karena pada kurikulum tersebut Perguruan Tinggi harus menyertakan matakuliah pendidikan agama sebagai matakuliah wajibAy. AuSaya sebetulnya kurang begitu memahami tentang sistem kurikulum yang pendidikan agama di Universitas Madura tapi yang jelas yang saya tahu KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesi. adanya matakuliah pendidikan agama yakni agama Islam dan wajib diikuti beragama IslamAy. Perjalanan perubahan kurikulum Indonesia memenuhi tuntutan global baik dalam skala nasional maupun internasional dan kebutuhan masyarakat yang beragam terutama menyangkut ilmu pengetahuan dan tegnologi. Kurikulum di Indonesia sudah mulai sejak tahun 1994 melalui keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 056/U/1994 Pedoman Penyusunan Kurikulum Perguruan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa, mengutamakan ketercapaian penguasaan IPTEK dan disebut kurikulum berbasis isi. Wawancara dengan Bapak Marsum. Pd. Pd. I pada tanggal 15 Mei 2019 19 Wawancara dengan Bapak M. Fahrur Rozi. Pd. Pd. I pada tanggal 09 Mei 2019 20 Tim Penyusun. Pedoman Penyusunan Kurikulum KKNI Pendidikan Tinggi (Pamekasan: Fakultas Hukum, 2. , hlm. Pada tahun 2000 Indonesia merekonstruksi konsep kurikulumnya dari berbasis isi menuju kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Kurikulum kompetensi sebagai wujud usaha untuk mendekatkan pendidikan pada kondisi pasar kerja dan industri. Kemudian pada tahun 2012 diberlakukan kurikulum KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesi. sebagai wahana persiapan dalam menghadapi tantangan global berlevel internasional. Adanya perubahan kurikulum memang suatu hal yang sangat diperlukan karena kurikulum merupakan ruhnya pendidikan, terutama sekali berkaitan dengan masalah afektif yaitu sikap, akhlak dan moral peserta didik . harus lebih diperioritaskan. Karena pembangunan karakter individu sangat menentukan pada pembangunan karakter suatu bangsa. Oleh karena itu sangat relevan pendidikan berbasis karakter diaplikasikan pada ranah perguruan tinggi. Matakuliah pendidikan agama termasuk dalam kategori Matakuliah Dasar Umum (MKDU). Eksistensinya wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa beragama Islam dari semua program studi . yang ada pada masingmasing kelulusan minimal memperoleh nilai C. Apabila kurang dari ketentuan nilai minimal maka wajib bagi mahasiswa untuk mengulang kembali pada semester yang telah ditentukan. Sesuai dengan hasil wawancara dengan Ibu Win Yuli Wardani: AuMatakuliah pendidikan agama Islam di Universitas Madura merupakan Matakuliah Dasar Umum (MKDU), 21 Ibid. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Efektifitas Matakuliah Pendidikan Agama Islam disana dibentuk organisasi profesi agama, anggotanya terdiri dari unsur dosen pendidikan agama dari seluruh fakultas yang ada di Unira. Materi yang diberikan kepada seluruh matakuliah tersebut di setiap fakultas diseragamkan dan dosen-dosennya disebar sesuai dengan kesepakatan dalam organisasi profesi tersebutAy. Terdapat organisasi profesi yang dinamakan Asosiasi Dosen Pendidikan Agama Islam (ADPAIS). Peran organisasi ini adalah sebagai berikut: Pertama, melibatkan semua unsur dosen yang berafiliasi di bidang agama . osen agam. untuk mengatur pendistribusian jadwal perkuliahan pada masing-masing fakultas, sehingga semua dosen agama memperoleh pembagian jadwal secara adil dan merata. Kedua, perkuliahan sesuai kesepakatan dari anggota asosiasi. Kesepakatan ini diperoleh atas berbagai pertimbangan dari semua pihak yang berkompeten dalam penyusunan materi perkuliahan. Ketiga. Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Rencana Pembelajaran Perminggu (RPP), dan Kontrak Kuliah. Keempat, menyusun pedoman pembelajaran atau buku ajar sesuai kurikulum yang belaku. Semua yang dihasilkan dari organisasi profesi melaksanakan proses pembelajaran bagi dosen pengampu matakuliah pendidikan agama Islam. Wawancara dengan Ibu Win Yuli Wardani. SH. Hum. pada tanggal 14 Mei 2019. Jumlah sistem kredit semester (SKS) matakuliah pendidikan agama berjumlah 4 SKS ditempuh dalam dua semester, yaitu 2 SKS pada semester satu dan 2 SKS pada semester dua. Pembagian ini berlaku untuk semua program studi yang ada di Unira. Awalnya hanya dimasukkan sebanyak 2 SKS dalam satu semester. Akan tetapi setelah melalui pertimbangan yang mendalam akan pentingnya pendidikan Islam, penambahan sebanyak 2 SKS untuk memperkuat keilmuan dalam bidang keagamaan bagi mahasiswa, sehingga dapat memiliki moralitas yang baik dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Berikut hasil wawancara dengan Bapak Harsono: AuKurikulum di Universitas Madura mengacu pada kurikulum KKNI pada setiap Fakultas diwajibkan untuk memberikan matakuliah pendidikan agama sebanyak empat SKS dalam dua semester atau satu tahun, ditempuh dalam semester satu . SKS) dan semester dua . SKS), matakuliah ini termasuk dalam kategori MKDU yaitu Matakuliah Dasar Umum akan tetapi wajib lulus bagi mahasiswa dengan ketentuan nilai minimal harus CAy. Sebelum tahun 2017 semua prodi memasukkan kurikulum pendidikan agama sebanyak 4 SKS dalam satu tahun. Namun setelah tahun 2017 ketika Unira menggunakan sistem kurikulum KKNI, terdapat perubahan pada prodi hukum terkait dengan jumlah SKS matakuliah pendidikan agama. Awalnya berjumlah 4 SKS dalam satu tahun, berubah menjadi Wawancara dengan Bapak Harsono. Pd. Pd. pada tanggal 16 Mei 2019. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Suhaimi. Agustri Purwandi 2 SKS yang ditempuh dalam satu semester yaitu pada semester satu saja. Dengan alasan bahwa pada prodi hukum sudah terdapat matakuliah Hukum Islam pada semester dua, hukum waris Adat dan Islam pada semester empat, hukum ekonomi syariah pada semester enam. Disamping itu juga untuk lebih efektif perkuliahan, karena 2 SKS-nya dapat digantikan dengan matakuliah lain yang secara substansif terkait dengan wilayah ilmu hukum untuk menopang kapasitas mahasiswa sebagai calon sarjana hukum. Matakuliah pendidikan agama Pendidikan Agama 1 berjumlah 2 SKS ditempuh dalam 14 kali tatap muka ditambah 2 kali tatap muka untuk ujian tengah semester (UTS) dan ujian akhir semester (UAS). Sedangkan pada semester dua dinamakan Pendidikan Agama 2 dengan frekuensi tatap muka Pendidikan Agama 1. Adapun untuk prodi hukum hanya terdapat satu matakuliah saja Pendidikan Agama, ditempuh dalam 16 kali pertemuan. Sebanyak 14 kali pertemuan digunakan biasanya, sedangkan 2 kali pertemuan untuk ujian UTS dan UAS. Sedangkan materi perkuliahannya dikolaborasikan antara pendidikan agama 1 dengan pendidikan agama 2. Materi perkuliahan matakuliah pendidikan agama 1 diorientasikan pada materi yang bersifat dasar dan bersifat Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat memahami dan dasar-dasar keislaman terkait dengan persoalan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Untuk matakuliah pendidikan agama 2 materinya lebih berafiliasi pada artinya lebih bersifat kontekstual. Karena peserta didik dituntut tidak hanya pada keilmuan saja akan tetapi harus mampu berdialektika dengan sosiokultur yang berkembang dalam kehidupan. Adapun matakuliah pendidikan agama pada fakultas hukum . rodi huku. mengambil dari yang paling substansi dari materi kedua matakuliah tersebut . endidikan agama 1 dan Jadi, materinya disatukan antara yang bersifat tekstual dengan kontekstual dan disesuaikan juga dengan relevansi keilmuan yang dibutuhkan dalam prodi hukum sehingga dapat diperoleh relevansi dan linearitas keilmuan yang berbasis keislaman. Berikut adalah tabel materi perkuliahan pendidikan agama yang Universitas Madura Pamekasan: Matakuliah Pendidikan Agama 1 Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Efektifitas Matakuliah Pendidikan Agama Islam Matakuliah Pendidikan Agama 2 Matakuliah Pendidikan Agama pada Prodi Hukum Berkenaan pembelajaran yang diterapkan dalam mengajarkan matakuliah pendidikan agama dipasrahkan kepada dosennya masing-masing yang terpenting capaian pembelajaran sudah tercapai dengan mahasiswa telah memperoleh kemampuan dalam ranah kognitif. Sistem menggunakan metode pembelajaran yang relevan dengan materi yang Metode yang dapat diantaranya: metode ceramah, interaktif lecturing, curah pendapat . rain stormin. pembelajaran berbasis laboratorium. Sesuai dengan hasil wawancara sebagai AuSebenarnya kalau bertanya persoalan itu dikembalikan kepada dosennya masing-masing yang terpenting tujuan pembelajaran tercapai dengan baik dan masiswa terdapat perubahan seara signifikan dalam pengamalan Berbicara masalah Sangat Diantaranya bisa dengan memakai metode ceramah, interaktif lecturing, curah pendapat . rain stormin. atau pembelajaran berbasis laboratorium yaitu dengan menggunakan sarana dan prasarana ibadah yang terdapat di lingkungan Unira PamekasanAy. AuSaya dosen-dosen pendidikan agama di Unira lebih banyak menggunakan praktek yang keagamaan, hal ini menurut saya sangat relevan untuk digunakan karena agama itu sangat indentik dengan pengamalan. Disamping itu tidak kalah pentingnya lagi yaitu menggunakan metode diskusi sebagai wahana pengembangan berfikir bagi mahasiswaAy. Wawancara Bapak Harsono. Pd. ,M. Pd. pada tanggal 16 Mei 2019. 25 Wawancara dengan Bapak Dr. Nadir. SH. MH. pada tanggal 13 Mei 2019. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Suhaimi. Agustri Purwandi Dalam pandangan penulis, sistem pembelajaran yang digunakan dalam mengajarkan matakuliah pendidikan agama Islam, dapat menggunakan semua metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang disampaikan. Namun harus lebih menitikberatkan pada sisi pengamalan atau praktek. Pendidikan matakuliah yang sangat berbeda dengan matakuliah lainnya. Karena hanya sedikit mengulas dari sisi teoritis, untuk kemudian lebih berafiliasi dalam ranah Inti dari agama adalah pengamalan, maka mahasiswa dibina untuk memiliki pengamalan keagamaan dengan baik. Oleh karena itu sangat Lebih relevan lagi diterapkan sistem pembelajaran yang berbasis Mentoring artinya metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara langsung dan seorang mentor yang berindak sebagai evaluator Dalam hal ini mahasiswa diminta untuk melakukan praktek materi perkuliahan secara langsung kemudian disaksikan oleh seorang mentor . osen Kemudian dosen melakukan tindak evaluasi terhadap praktek yang dilakukan tersebut untuk kemudian dilakukan perbaikan bilamana terdapat kesalahan atau kekurang sempurnaan. Praktek ini biasanya dilakukan di tempat khusus, misalnya: Masjid, musholla, perpustakaan dan tempat lainnya yang berbasis laboratorium. Sistem seperti ini telah banyak diterapkan oleh dosen agama di Unira. Sebagaimana hasil AuSistem materi pembelajaran, apabila terkait dengan masalah ibadah, maka lebih melakukan praktek ibadah secara langsung untuk kemudian dilakukan koreksi agar dapat diperbaiki hal-hal yang masih kurang sempurna. Disamping itu juga menggunakan sistem pembelajaran konvergensi seluruh metode pembelajaran yang ada supaya mahasiswa tidak bosan perkuliahanAy. AuKalau saya pribadi lebih pada pengajaran yang berbasis kepada mahasiswa (SCL) agar mereka memahami dengan benar tentang materi agama Islam dan mereka dapat mempraktekkan dengan baik, menggunakan diskusi kelas dan lain Pokoknya mahasiswa menginternalisasikan ajaran agama Islam dengan baikAy. Terdapat dua strategi dalam berbasis pada guru/dosen disebut dengan Teacher Centered learning (TCL) murid/mahasiswa Student Centered Learning (SCL). TCL maksudnya dalam sistem pembelajaran guru menjadi sumber informasi dalam melakukan transfer ilmu, sedangkan murid hanya bertindak pasif dengan mendengarkan Wawancara dengan Bapak Marsum. Pd. Pd. I pada tanggal 15 Mei 2019. 27 Wawacara dengan Bapak M. Fakhrur Rozi. Pd. Pd. I pada tanggal 09 Mei 2019. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Efektifitas Matakuliah Pendidikan Agama Islam dan menyimak apa yang diajarkan oleh Tidak kesempatan sama sekali bagi murid untuk berkreasi dalam proses pembelajaran, sehingga murid menjadi kaku yang pada akhirnya menimbulkan Dengan demikian apa yang menjadi capaian pembelajaran tidak diperoleh secara maksimal. Sistem pembelajaran seperti dalam metode pembejaran dinamakan dengan metode Adapun SCL yaitu pembelajaran melibatkan murid secara maksimal, mencoba menggali potensi yang dimiliki murid dan diberikan kesempatan untuk bertindak kreatif dalam pembelajaran. Guru hanya sebagai fasilitator dalam Sistem seperti ini sangat menyenangkan bagi peserta didik karena selalu ada kreasi baru dalam proses belajar, sehingga dapat membantu secara maksimal dalam mencapai tujuan pembelajaran. Metode SCL ini sangat relevan diterapkan pada matakuliah pendidikan agama Islam. Dalam diperlukan adanya fasilitas pendukung untuk membantu secara maksimal Perguruan mengusahakan pengadaan fasilitas yang diperlukan oleh masing-masing elemen kepentingan matakuliahnya. Adapun matakuliah pendidikan agama yaitu tempat ibadah, perpustakaan berisi literatur berbasis keislaman, media AlQurAoan keagamaan dan lain-lain. Universitas Madura Pamekasan telah menyediakan fasilitas yang sangat pendidikan agama. Hal ini dapat dibuktikan dengan berbagai sarana pendukung berupa fasilitas media pembelajaran, tempat ibadah yang digunakan untuk tempat praktek keagamaan, dan fasilitas lain yang pendidikan agama Islam. Namun berkenaan dengan literatur atau bukubuku pembenahan untuk bisa dikatakan Hasil wawancara dengan Bapak Fahrur Rozi sebagai berikut: AuSaya kira menurut pendapat saya pengajaran pendidikan agama sudah terfasilitasi dengan baik yaitu dengan adanya media pembelajaran yang dapat digunakan dengan dalam mengajar, termasuk juga tempat berbagai macam praktek ibadah, namun dalam hal referensi di mendukungAy. Suatu hal yang patut dimaklumi untuk sekelas perguruan tinggi umum (PTU) yang bukan berbasis ke-Islaman (UIN atau IAIN) bilamana bahan bacaan yang terdapat di perpustakaan kurang begitu lengkap keberadaannya, karena mayoritas literatur yang ada berkutat pada ilmu-ilmu umum sesuai dengan program studi yang dibuka. Namun hal ini tidak perlu dirisaukan secara namanya proses pembenahan semuanya membutuhkan waktu dan perlu usaha maksimal untuk melengkapi fasilitas bahan bacaan. Hal ini termasuk salah satu tantangan bagi perguruan tinggi umum agar tidak hanya mengembangkan ilmu-ilmu umum saja, akan tetapi 28 Wawancara dengan Bapak Moh. Fakhrur Rozi. Pd. I pada tanggal 09 Mei 2019. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Suhaimi. Agustri Purwandi juga sangat perlu memperhatikan pendidikan keagamaan walaupun kadar prosentasenya tidak sebesar pada pendidikan umum. Paling tidak sebagai penyeimbang antara kebutuhan duniawi dengan kepentingan ukhrawi. Dalam hemat penulis, pendidikan merupakan sistem yang terdiri dari berbagai macam bagian, antara bagian membutuhkan dalam rangka untuk mencapai tujuan pendidikan, dalam istilah yang lebih fenomenal yaitu capaian pembelajaran (CP). Sistem tersebut meliputi: pertama, kurikulum. Kurikulum merupakan sistem yang paling substansial dalam pendidikan, dapat dikatakan pula merupakan ruhnya Kurikulum sebagai acuan bagaimana pendidikan akan diarahkan, mulai dari awal permulaan, proses Semuanya rangkaian tersebut tidak terlepas dari pedoman kurikulum yang diberlakukan. Oleh karenanya tidak heran apabila Negara ini acapkali terjadi perubahan format kurikulum pada pendidikan tinggi, mulai dari Kurikulum Berbasis Isi (KBI). Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Perubahan ini terjadi dalam rangka untuk mencari format baku model kurikulum sesuai Nasional Internasional. Kedua, kemampuan peserta didik . Kemampuan dalam hal mengikuti proses pendidikan, yaitu mengetahui, memahami dan mengaplikasikan. Dalam istilah taksonomi bloom, terdapat tiga hal yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga, daya dukung yang meliputi dukungan dari banyak faktor. Dukungan dari stake holder, pemerintah, masyarakat umum termasuk didalamnya orang tua peserta didik, serta fasilitas yang berupa sarana dan prasarana yang terdapat pada sebuah perguruan tinggi. Ketiga hal yang disebutkan di muka merupakan sistem yang saling berpengaruh satu dengan lainnya untuk mencapai keberhasilan dalam pendidikan. Efektifitas Pendidikan Agama Islam di Universitas Madura Pemekasan Dalam kamus ilmiah popular kata efektifitas berasal dari kata AuefekAy yang berarti pengaruh yang timbul, akibat atau dampak yang mucul. Sedangkan kata efektif berarti berhasil, tercapai sesuai tujuan. Efektifitas dapat diartikan ketepatgunaan, menunjang tujuan dan hasil guna. 29 Adapula yang mengartikan efektifitas menunjukkan ketercapaian sasaran atau tujuan yang telah 30 Misalnya: suatu lembaga pendidikan dapat dikatakan efektif pendidikan yang telah tertulis dalam capaian pendidikan. Standarisasi keefektifan suatu kegiatan yaitu dilihat dari tujuan akhir . yang Dalam hal ini terdapat keseimbangan atau keterpaduan antara apa yang direncanakan dengan hasil yang dicapai. Suatu kegiatan dikatakan keberhasilan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Apabila terjadi Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry. Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola, 2. , 30 Aan Komariyah dan Cepi Triatna. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , hlm. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Efektifitas Matakuliah Pendidikan Agama Islam sebaliknya, maka tidak dapat dikatakan Terkait dengan perkuliahan yang berlangsung di Universitas Madura perlu adanya penelitian secara mendalam untuk dapat mengetahui efektifitas perkuliahan tersebut. Beberapa langkah konperehensif yang harus dilakukan untuk dapat mengidentifikasi apakah perkuliahan yang telah berlangsung efektif atau sebaliknya. Maka perlu mengukur standarisasi keterpaduan antara capaian pembelajaran dengan hasil pembelajaran yang diperoleh. Apabila hasil yang diperoleh sesuai pembelajaran, maka dapat dikatakan bahwa perkuliahan tersebut efektif. Apabila justru sebaliknya, maka dapat dijustifikasi bahwa perkuliahan tersebut tidak efektif. Salah satu matakuliah yang menjadi pembahasan sentral pada pendidikan agama. Telah diuraikan di muka mengenai eksistensi matakuliah pendidikan agama Islam di Unira dari berbagai macam sudut pandang, mulai sistem kurikulum, sistem atau metode pembelajaran dan fasilitas pendukung dalam pengajaran. Pada bagian ini akan dipaparkan tentang output mahasiswa setelah perkuliahan berlangsung. Peneliti telah mengetahui secara langsung melalui observasi secara pengalaman mengajar di Unira selama pengalaman terhadap rekan-rekan dosen yang mengajar pendidikan agama pada institusi yang sama. Dari sini dapat mengetahui secara langsung hasil pembelajaran yang diperoleh mahasiswa Secara umum hasilnya sangat memuaskan sesuai dengan target pembelajaran yang direncanakan. Adapun yang menjadi capaian pendidikan agama yaitu: AyMahasiswa mengenai dasar-dasar Agama Islam secara komperehensif dan mampu mengamalkan dengan baik dan benar serta menjadi pedoman hidup. Ay Dari sini dapat dimaknai bahwa yang menjadi tujuan menyangkut tiga hal yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil yang diperoleh setelah pendidikan agama dilihat dari sisi kognitif, afektif dan psikomotorik. Secara kognitif mahasiswa mampu memahami dengan baik materi perkuliahan yang diberikan dan sebagian besar mahasiswa dapat mengamalkan ajaran Islam dengan Mahasiswa juga mampu menunjukkan sikap yang baik dalam Sehingga memberikan keteladanan bagi orang lain. Sesuai dengan hasil wawancara: AuHasil yang diperoleh Alhamdulilah sebagaimana yang telah tercantum mahasiswa dapat memahami dengan baik materi pendidikan agama Islam, dan juga sebagian besar sudah menunjukkan perubahan sikap yang baik, akhlaqnya semakin bagus dan sebagainya yang dapat dijadikan contoh teladan yang baik bagi orang Ay31 AuBerdasarkan pengalaman yang saya alami dan pengamatan saya selama ini Wawancara dengan Bapak M. Fakhrur Rozi. Pd. I pada tanggal 09 Mei 2019. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Suhaimi. Agustri Purwandi bahwa terkait dengan keberhasilan dalam mengajar matakuliah pendidikan agama Islam secara umum sudah dapat dikatakan berhasil. Dilihat secara kognitif, afektif dan psikomotorik mengalami perubahan secara maksimal sesuai harapan. Mereka telah mengetahui secara maksimal materi-materi keagamaan, mereka mengalami perubahan moral yang tidak baik menjadi baik. Ay32 Dari hasil wawancara dan observasi yang dilakukan telah jelas bahwa setelah menerima matakuliah pendidikan agama Islam mahasiswa mengalami perubahan baik secara kognitif, afektif maupun secara psikomotorik. Secara kognitif mahasiswa terdapat beberapa macam bagian sesuai kemampuannya dalam menerima materi kuliah. Ada yang sangat memahami materi yang disampaikan, ada yang setengah paham, dan ada yang sedikit memahami. Akan tetapi secara umum mahasiswa sudah dapat dikatakan memahami materi pembelajaran dengan baik. Secara afektif, mahasiswa dapat menunjukkan perubahan sikap, diantaranya: pertama, perubahan tata cara ibadah yang semakin istiqamah dan sempurna sesuai dengan ketentuan syariah. Kedua, perubahan sikap atau moral mahasiswa yang semakin Hal ini dapat ditunjukkan dari cara mereka bersikap dengan dosen, teman sejawat bahkan dengan masyarakat sekitar menunjukkan moralitas semakin baik. Kemudian secara motorik, sebagian besar mahasiswa telah mampu menjadi contoh teladan baik bagi orang lain. wawancara dengan Bapak Harsono: Wawancara dengan Bapak Marsum. Pd. pada tanggal 15 Mei 2019. AyAlhamdulillah sangat menuai hasil yang maksimal, mahasiswa dapat mengetahui, memahami dan mengamalkan ilmu keagamaannya dengan sangat baik. Penekanannya adalah disamping dilihat dari sisi pemahamaan akan tetapi juga dari sisi pengamalan, prilaku, sikap. Mereka rata-rata sudah memiliki akhlaq dan moral yang baik, sikapnya terhadap dosen sudah dapat menunjukkan sikap yang baik dan sopan, begitu juga terhadap teman-temannya, mereka sudah dapat menempatkan sikap yang Ay33 Inti dari pendidikan agama Islam disamping pemahaman, juga yang paling penting adalah internalisasi dan pengamalan ajaran agama. Adapun ajaran agama yang wajib dipahami dan diamalkan meliputi tiga dimensi yaitu akidah, syariah dan akhlak. Akidah menyangkut masalah keyakinan, tauhid dan keimanan kepada Allah SWT. , meyakini akan kemutlakan sifat yang dimiliki Allah SWT. Syariah berkenaan dengan hukumhukum agama yang menjadi landasan dalam melakukan ibadah, baik ibadah mahdhah maupun ibadah ghairu mahdhah. Sedangkan akhlak merupakan sikap, prilaku, perangai, dan adab dalam melaksanakan ketentuan syariah. Kategori Allah terbagi dalam tiga macam: pertama, akhlak kepada Allah. Akhlak ini mengajarkan bagaimana tatakrama atau adab ketika menghadap Allah SWT. Kedua, akhlak kepada sesama manusia. Hal ini mengajarkan tatacara berhubungan baik dengan sesama hamba Allah supaya tercipta kehidupan rukun, damai, saling menghargai satu sama lain dan Wawancara dengan Bapak Harsono. Pd. pada tanggal 16 Mei 2019. Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Efektifitas Matakuliah Pendidikan Agama Islam penuh pengampunan Allah. Ketiga, akhlak kepada makhluk Allah yang lain seperti: hewan, tumbuhan dan lingkungan sekitar. Tiga kategori ini sudah termuat dalam ajaran Islam. Kategori yang disebutkan terakhir merupakan fokus dalam penelitian ini berkenaan dengan moralitas mahasiswa, dikaitkan dengan matakuliah pendidikan agama yang diprogramkan di Unira. Istilah akhlak merupakan term yang terdapat dalam al-QurAoan dan al-Hadis. Secara etimologis berasal dari bahasa Arab . khlaqa-yakhluqu-ikhlaaqa. , diderivasi menjadi kata akhlaq. Dalam bahasa Arab, akhlak berarti: pertama. A( EAal-ThabAo. artinya tabiat, perangai, sifat, watak dan prilaku. Tabiat yaitu sifat yang terpatri pada jiwa manusia baik direncanakan atau tidak direncanakan. Sifat ini senantiasa sudah tertanam secara fitrah dan menjadi watak konstan pada diri manusia, sehingga rekayasa sikapnya. Kedua. A( EAal-AoAda. artinya kebiasaan. Dalam istilah kitab fiqh, kebiasaan ini dinamakan Aourf berarti kebiasaan sering kali dilakukan dalam masyarakat dalam waktu yang lama sehingga menjadi hukum yang berlaku dalam masyarakat. Dikatakan dalam sebuah qaidah fiqih AE EIEIA, adat/kebiasaan menjadi sebuah hukum. Seseorang yang hidup di lingkungan baik-baik dan terbiasa melakukan kebaikan-kebaikan maka dapat dipastikan orang tersebut memiliki perangai baik Sebaliknya, jikalau seseorang dibesarkan di lingkungan yang penuh dengan kebiasaan buruk, maka boleh jadi orang tersebut memiliki sifat buruk Dari sini dapat diterka bahwa pendidikan akhlak dapat dilakukan dengan melalui kebiasaan. Ketiga, derivasi dari kata akhlak adalah A( EAal-Raasihat. bermakna sifat yang langgeng, ajek, tetap yang sudah menjiwa pada diri manusia dengan tanpa dikehendaki. Senada dengan istilah akhlak yaitu moral dan etika. Sebenarnya ketiga term ini mengandung kesamaan yaitu sama-sama menyentuh pada wilayah prilaku manusia. Akan tetapi letak perbedaannya pada sisi ukuran kebenaran yang digunakan. Akhlak ukuran kebenarannya terdapat dalam al-QurAoan dan Hadis. Etika ukuran kebenarannya terdapat pada rasio atau akal, dan moral ukuran kebenarannya terdapat pada ketentuan yang ada dalam masyarakat. Perbaikan moral menjadi hal utama yang menjadi tujuan terpenting dalam dunia pendidikan, apabila lagi dalam ranah pendidikan tinggi. Karena didalamnya terdapat peserta didik yang berada dalam usia efektif dan potensial yaitu para pemuda . Pemuda merupakan harapan masa depan suatu bangsa, karena generasi pemuda sebagai pengganti bagi generasi tua. Bangsa menjadi bermartabat jikalau pemudanya di didik dengan moral yang baik. Sebaliknya bangsa menjadi hancur peradabannya bilamana para pemudanya tidak memiliki moral yang baik. Oleh karenanya sangat pantas bila seorang proklamator bangsa (Ir. menyatakan Auberikan aku seribu orang tua niscaya aku dapat mencabut semeru dan akar-akarnya, berikan aku sepuluh pemuda maka aku dapat menggoncangkan dunia. Ay Untuk menjadikan generasi bangsa yang bermoral maka sangat urgen jikalau mahasiswa diberikan penanaman moral yang baik melalui proses perkuliahan dengan mewajibkan untuk mengikuti matakuliah pendidikan agama Islam di tingkat perguruan tinggi. Utamanya perguruan tinggi umum yang notabene Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Suhaimi. Agustri Purwandi kajiannya keilmuannya lebih banyak pada ilmu umum. Penulis sangat mendukung manakala pemerintah menerapkan pendidikan berbasis karakter34. Pendidikan ini tidak hanya menekankan pada sisi kemampuan kognitif saja akan tetapi secara substantif lebih pada penekanan nilai-nilai moral atau akhlak. Karena prinsip pendidikan karakter yaitu berpedoman pada ajaran agama, merujuk pula pada nilainilai yang terkandung dalam UndangUndang Dasar 1945 dan sosial-kultural yang berkembang dalam masyarakat. Sehingga relevansinya tidak perlu dipertanyakan kembali. Diakui atau tidak memang tidak mudah untuk mencetak moralitas mahasiwa karena dipastikan ada tantangan yang menjadi aral melintang, apalagi pada masa sekarang terkenal era revolusi 0 semakin banyak godaan yang berpengaruh terhadap karakteristik Oleh karena itu sangat perlu maksimalisasi upaya untuk membendung pengaruh negatif yang menyebabkan dekadensi moral mahasiswa. Salah satu cara efektif yaitu dengan memperkuat pendidikan agama melalui bangku perkuliahan. Hal ini sudah dapat dibuktikan dengan melalui observasi secara mendalam dan berkesinambungan ditambah lagi dengan hasil wawancara bersama dosen dan civitas akademika pada Universitas Madura, bahwa matakuliah pendidikan agama sangat efektif dalam membina moral 34 Karakter berarti adat-istiadat, sopan satun dan Lihat Pupuh Fathurrahman. Pengembangan Pendidikan Karakter (Bandung: Rafika Aditama, 2. , hlm. Penutup Dari paparan penelitian yang telah disampaikan di muka tentang Efektifitas Matakuliah Pendidikan Agama Islam di Universitas Madura Pamekasan dapat ditarik kesimpulan: . Eksistensi Matakuliah Pendidikan Agama Islam di Universitas Madura: Pertama, dalam hal kurikulum menggunakan kurikulum pendidikan tinggi yang berlaku di Indonesia yaitu kurikulum berbasis isi. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Kurikulum yang disebutkan terakhir ini sampai sekarang tetap digunakan. Kedua, sistem menggunakan metode pembelajaran beraneka ragam sesuai dengan relevansi materi perkuliahan, akan tetapi yang paling efektif digunakan yaitu pembelajaran berbasis laboratorium dan sistem mentoring. Ketiga, fasilitas pendukung perkuliahan pada matakuliah pendidikan agama Islam dapat dikatakan sudah . Matakuliah Pendidikan Agama Islam sangat efektif dalam membina moral mahasiswa. Secara kognitif mahasiswa memahami dengan baik materi pendidikan agama Islam. Ditilik dari segi afektif, mahasiswa mengalami perubahan sikap, akhlak dan moral secara signifikan menuju pada perubahan lebih Dan dalam sisi psikomotoriknya mahasiswa mampu menjadi contoh teladan yang baik bagi orang lain. Adapun saran yang dapat penulis berikan berkaitan dengan matakuliah Pendidikan Agama Islam sebagai berikut: Pertama. Kurikulum yang diberlakukan pada pendidikan tinggi seyogyanya lebih berorientasi pada pendidikan karakter, terutama pada perguruan tinggi umum. Kedua. Untuk matakuliah pendidikan agama, sekalipun termasuk Tadris. Volume. Nomor 1. Juni 2019 Efektifitas Matakuliah Pendidikan Agama Islam matakuliah umum (MKDU), selayaknya untuk diadakan penambahan jumlah SKS-nya agar mahasiswa dapat lebih memahami ilmu-ilmu agama dan mampu mengamalkannya dengan baik, terutama masalah akhlak atau moral. Ketiga. Sekarang telah memasuki era revolusi 0 menuntut adanya digitalisasi dan modernisasi dalam segala lini kehidupan yang kerap kali banyak terdapat pengaruh negatif untuk para generasi Oleh karenanya perlu adanya langkah preventif untuk menjaga moralitas mahasiswa supaya tetap baik. Salah satu cara yang paling efektif untuk mewujudkan hal tersebut dengan melalui pendidikan agama. Kholik. Abdul dkk. Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik Dan Kontemporer. Semarang: Pusataka Pelajar, 1999. Komariyah. Aan dan Cepi Triatna. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. Jakarta: Bumi Aksara, 2005. Lestari. & Ngatini. Pendidikan Islam Kontekstual. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010. Maskawaih. Ibnu. Tahdzib al-Akhlak. Beirut: Mansyurat Dar alMaktabah, 1398. Masyhur. Kahar. Membina Moral dan Akhlak. Jakarta: PT. Rennika Cipta. Moleong. Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Karya. Daftar Pustaka