Calvaria Medical Journal : 139-151, Desember 2025 e-ISSN 3031-092X Review Article Tinjauan Pustaka: Peran Budaya. Adat dan Tradisi dalam Pola Asuh sebagai Faktor Penyebab Beban Gizi Ganda pada Ibu Hamil Risma Putri Nur Salsabilla1*. Ridzkiya Karimatus Sholeha1. Septa Indra Puspikawati1 Program Studi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Ilmu Kesehatan. Kedokteran dan Ilmu Alam. Universitas Airlangga *Corresponding e-mail: risma. nur-2021@fkm. Abstrak Latar belakang: Beban gizi ganda pada ibu hamil masih menjadi permasalahan serius di Indonesia. Faktor sosial budaya, adat, dan tradisi berperan penting dalam membentuk pola asuh, perilaku makan, serta akses gizi dalam keluarga, yang secara tidak langsung memengaruhi kejadian stunting. Metode: Artikel ini menggunakan metode Systematic Literature Review dengan penelusuran pada database Google Scholar dan ResearchGate menggunakan kata kunci AuStuntingAy. AuBudayaAy. AuTradisiAy. AuAdatAy. AuPola AsuhAy, dan AuBeban Gizi GandaAy. Seleksi dilakukan berdasarkan kriteria inklusiAeeksklusi, sehingga dari 340 artikel awal diperoleh 9 artikel yang dianalisis lebih lanjut. Hasil: Hasil tinjauan menunjukkan bahwa budaya patriarki menyebabkan ketidaksetaraan distribusi pangan dan keterbatasan peran perempuan dalam pengambilan keputusan gizi, pantangan makanan pada ibu hamil dan menyusui membatasi asupan nutrisi penting, sementara praktik pernikahan dini dan rendahnya literasi gizi memperkuat risiko beban gizi ganda dalam rumah tangga. Keterlibatan ayah dalam pola asuh dan pengambilan keputusan terbukti berperan positif terhadap status gizi anak. Kesimpulan: Peran budaya, adat, dan tradisi terbukti menjadi faktor penting penyebab beban gizi ganda pada ibu hamil. Oleh karena itu, strategi pencegahan stunting perlu memperhatikan konteks sosial budaya lokal, memberdayakan perempuan, meningkatkan literasi gizi keluarga, serta mendorong keterlibatan ayah dalam pola asuh berbasis kesetaraan gender. Kata Kunci: Adat. Beban Gizi Ganda. Budaya. Ibu hamil. Pola Asuh. Stunting. Tradisi Literature Review: The Role of Culture. Customs, and Traditions in Parenting as Factors Contributing to Double Nutritional Burden in Pregnant Women Abstract Background: The double burden of malnutrition among pregnant women remains a critical public health issue in Indonesia. Cultural values, traditions, and patriarchal norms strongly influence caregiving practices, food distribution, and dietary intake within households, thereby shaping maternal nutritional status and contributing to stunting in children. Methods: This study employed a Systematic Literature Review approach by searching Google Scholar and ResearchGate databases using the keywords AuStunting,Ay AuCulture,Ay AuTradition,Ay AuCustoms,Ay AuParenting,Ay and AuDouble Burden of Malnutrition. Ay Articles were screened according to inclusion and exclusion criteria, resulting in nine eligible studies from an initial 340 and 9 article in analyze. Results: The review revealed that patriarchal culture leads to unequal food distribution and limited decision-making power for women, increasing the risk of micronutrient deficiencies despite excess caloric intake. Food taboos during pregnancy and postpartum further restrict Literature Review: The Role of Culture. Customs, and Traditions in Parenting as Factors Contributing toA Risma Putri Nur Salsabilla. Ridzkiya Karimatus Sholeha. Septa Indra Puspikawati protein and micronutrient consumption. Moreover, early marriage practices and low parental nutrition literacy exacerbate intergenerational malnutrition, where obese mothers coexist with stunted children. On the other hand, evidence highlights the positive role of fathersAo involvement in caregiving and household food decisions, which contributes to improved child nutritional Conclusion: The double burden of malnutrition among pregnant women is not merely a biomedical problem but a socio-cultural construct shaped by patriarchal norms, food taboos, and early marriage practices. Addressing this issue requires culturally sensitive nutrition interventions that empower women, promote gender equality, enhance parental nutrition literacy, and strengthen fathersAo roles in childcare and food management to break the cycle of malnutrition across generations. Keywords: Culture. Custom. Double Burden of Malnutrition. Parenting. Pregnant Women. Stunting. Tradition A R T I C L E H I S T O R Y: Received 31-07-2025 Revised 13-10-2025 Accepted 15-12-2025 PENDAHULUAN Beban ganda malnutrisi (Double Burden of Malnutritio. merupakan kondisi dimana anak-anak mengalami dua permasalahan gizi secara bersamaan seperti kekurangan dan kelebihan gizi. Salah satu beban ganda malnutrisi adalah stunting . ekurangan giz. dan kelebihan gizi terjadi secara bersamaan dalam satu rumah tangga atau individu (Helmyati et al. , 2. Stunting didefinisikan sebagai masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan nutrisi dalam kurun waktu yang lama, sehingga mengganggu pertumbuhan pada anak yang ditandai dengan tinggi badan tidak sesuai dengan usia pada umumnya. Stunting menjadi salah satu masalah mendesak dan prioritas pemerintahan dalam pembangunan kesehatan anak (Kementerian Kesehatan, 2. Menurut World Health Organization (World Health Organization, 2. , prevalensi stunting pada balita di dunia tahun 2021 mencapai 22% atau sebanyak 149,2 juta. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (Kementerian Kesehatan RI, 2. , prevalensi balita yang mengalami stunting pada tahun 2023 mencapai 21,5%, yang sedikit mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2022 yang mencapai 21,6%. Target Pemerintah pada tahun 2024 yaitu menurunkan prevalensi stunting menjadi 14% pada tahun 2024 yang menjadi tantangan besar untuk dihadapi bersama. Akan tetapi, pada tahun 2024 target tersebut masih belum mencapai target dengan prevalensi stunting 19. 8% mengalami penurunan 1,7% dibandingkan tahun 2023 (SSGI, 2. Stunting menggambarkan kegagalan pertumbuhan yang terjadi sejak sebelum dan sesudah kelahiran yang disebabkan oleh kekurangan nutrisi (Helmyati et al. , 2. Faktor penyebab terjadinya stunting sangat beragam dan kompleks, mencakup berbagai faktor. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa pengaruh sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat adalah salah satu faktor penyebab stunting. Beberapa penelitian menjelaskan tentang kepercayaan atau budaya di Indonesia seperti tradisi menikahkan anak pada usia dini dimana wanita yang menikah di usia muda cenderung memiliki tingkat pendidikan rendah dan tidak memiliki kesadaran yang cukup tentang resiko kehamilan (Sekarayu & Nurwati, 2. Faktor tersebut sudah menjadi kebiasaan turun temurun di masyarakat yang sangat memengaruhi pola asuh orang tua terhadap kejadian stunting. Berdasarkan uraian di atas, permasalahan stunting di Indonesia masih ada kaitannya dengan masalah sosial budaya. Namun, masalah sosial budaya ini masih kurang diperhatikan Calvaria Medical Journal : 139-151, Desember 2025 e-ISSN 3031-092X oleh pembuatan program stunting. Dengan demikian, perlu dianalisis lebih lanjut mengenai macam-macam sosial budaya, adat atau tradisi yang masih berkembang di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran budaya, adat, dan tradisi dalam pola asuh sebagai faktor penyebab kejadian stunting di Indonesia. BAHAN DAN METODE Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini yaitu tinjauan pustaka dari berbagai jurnal Data basis yang digunakan yakni Google Scholar dan Researchgate. Pencarian dilakukan dengan menggunakan kata kunci AuStuntingAy. AuBudayaAy. AuTradisiAy. AuAdatAy. AuPola AsuhAy, dan AuBeban Gizi GandaAy. Studi ini fokus untuk mengetahui peran adat, tradisi, dan budaya dalam pola asuh anak yang berhubungan dengan stunting sebagai salah satu fenomena beban gizi Kriteria yang digunakan untuk inklusi dan eksklusi artikel dalam tinjauan pustaka ini sebagai berikut. Tabel 1. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Inklusi Eksklusi Artikel yang dipublikasikan pada tahun Artikel yang mengulas isu yang tidak relevan 2019- 2024 dengan pola asuh, seperti gangguan absorbsi nutrisi, penyakit infeksi, atau genetika sebagai penyebab beban gizi ganda. Artikel berfokus membahas peran adat. Artikel yang membahas pola asuh tanpa memuat tradisi dan budaya dalam pola asuh aspek budaya, adat, atau tradisi. yang mempengaruhi kejadian stunting Artikel dapat diakses secara full text Artikel yang hanya tersedia dalam bentuk abstrak atau tidak dapat diakses secara full text Artikel yang menggunakan metode Artikel yang membahas metode sistematika yang tidak relevan, seperti ulasan opini tanpa metodologi ilmiah Artikel yang berbeda . idak terduplika. Artikel yang merupakan duplikasi atau versi prapublikasi dari artikel lain yang sudah PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Review & Meta Analysi. merupakan metode sistematis yang digunakan dalam proses penelusuran dan seleksi literatur, yang terdiri dari tahap identifikasi, penyaringan, penilaian kelayakan, dan tahap akhir yaitu pemilihan studi yang akan dimasukkan . ke dalam analisis. Berikut merupakan strategi yang digunakan dalam proses seleksi dokumen : Literature Review: The Role of Culture. Customs, and Traditions in Parenting as Factors Contributing toA Risma Putri Nur Salsabilla. Ridzkiya Karimatus Sholeha. Septa Indra Puspikawati Gambar 1. SLR dengan Metode Prisma Sumber: Diolah oleh penulis . HASIL Berdasarkan hasil penelusuran literatur yang dilakukan dengan metode Systematic Literature Review, diperoleh total 340 artikel dari database Google Scholar dan ResearchGate dengan menggunakan kata kunci AuStuntingAy. AuBudayaAy. AuTradisiAy. AuAdatAy. AuPola AsuhAy, dan AuBeban Gizi GandaAy. Setelah disaring menggunakan kriteria inklusi berupa rentang waktu publikasi tahun 2019 Ae 2024, serta kelengkapan full text, diperoleh 43 artikel yang memenuhi kelayakan untuk ditelaah lebih lanjut. Namun, setelah dilakukan penelaahan yang mendalam terhadap isi dan relevansi substansi masing-masing artikel, hanya 9 artikel yang secara komprehensif membahas peran budaya, adat, dan tradisi dalam pola asuh sebagai faktor penyebab beban gizi ganda pada ibu hamil. Artikel yang lainnya meskipun layak secara administratif, namun tidak secara spesifik menyertakan dan menyoroti keterkaitan antara faktor budaya dan beban gizi ganda, atau hanya membahas salah satu variabel secara umum tanpa kedalaman analisis yang memadai. Pemilihan terbatas ini juga didasarkan pada pertimbangan validitas dan kualitas metodologi, di mana hanya artikel dengan desain penelitian yang sesuai yakni kualitatif, etnografi, atau review kualitataif dan memiliki data yang lengkap serta dapat dipertanggung jawabkan yang dipilih, sehingga analisis berfokus pada literatur yang benar-benar relevan, mutakhir, dan mendukung tujuan kajian ini. Tabel 2. Hasil Tinjauan Pustaka Referensi (Triratnawati & Yuniati, 2. Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian Tujuan dari penelitian penghalang penurunan Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan studi etnografi dan teknik Hasil penelitian dilakukan dengan observasional dan wawancara 18 orang tua yang memiliki balita stunting menunjukkan bahwa ada beberapa penyebab stunting pada balita adalah budaya patriarki yang Calvaria Medical Journal : 139-151, Desember 2025 e-ISSN 3031-092X angka stunting di Desa Labotan Kandi. melalui observasi dan menempatkan peran laki-laki lebih dominan di ranah publik dan rumah tangga seperti keputusan Selanjutnya, faktor penyebab Pernikahan dini dan denda pacaran, keterbatasan ekonomi yang bertumpu pada ekonomi subsistem, memprioritas pesta daripada pendidikan dikarenakan kondisi ekonomi rendah dan fasilitas yang kurang memadai, relasi gender yang timpang di mana kekuasaan berada di tangan laki-laki dan pemberian makanan tambahan . sejak bayi. Hal Ini menyebabkan masalah stunting di Desa Labotan Kandi belum Peten et al. , 2. hambatan dan dampak dari budaya patriarki Lamaholot. Adonara, terhadap keberhasilan program Gerobak Cinta Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan menggunakan kerangka analisis gender Moser Program Gerobak Cinta dirancang untuk merawat anak dengan memberikan makanan bergizi, pemberian makanan tambahan . dan kebutuhan perempuan. Program ini belum memenuhi kebutuhan strategis gender jangka panjang, belum mengubah desain inovasi, kekuatan dan dampak Keputusan partisipasi pada program ini masih di dominasi oleh suami yang memiliki pengetahuan minim membuat suami kurang responsif terhadap pengambilan keputusan untuk berpartisipasi dalam upaya menurunkan stunting. Program Gerobak Cinta menambahkan beban ganda kepada perempuan untuk menurunankan stunting dan program ini perlu keterlibatan stakeholders untuk kelancaran penurunan stunting. (Wotok Penelitian ini bertujuan Neno BoAoha dalam pengasuhan ibu dan anak di Kabupaten timor Tengah Selatan (TTS). Nusa Tenggara Timur. Tujuan didasari oleh tingginya prevalensi stunting di daerah tersebut, serta adanya praktik budaya yang diwariskan secara turun-temurun dalam merawat ibu pasca melahirkan bayinya. Penelitian pendekatan kualitatif menafsirkan nilai-nilai budaya Neno BoAoha. Peneliti sekaligus pewawancara Subjek Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik budaya Neno BoAoha, yang mencakup tradisi seAoi . , tatobi . ompres air pana. , serta pantangan makanan, memberikan dampak signifikan terhdap kesehatan ibu dan bayi. Masyarakat meyakini bahwa budaya panggang memperkuat daya tahan ibu dan bayi, meskipun dari sudut pandang kesehatan modern praktik ini berisiko menimbulkan ISPA dan gangguan pernapasan karena paparan asap. Tradisi melancarkan sirkulasi darah dan membersihkan rahim, namun juga berpotensi menimbulkan luka Literature Review: The Role of Culture. Customs, and Traditions in Parenting as Factors Contributing toA Risma Putri Nur Salsabilla. Ridzkiya Karimatus Sholeha. Septa Indra Puspikawati tokoh adat, pamong desa, ibu-ibu pelaku budaya Neno BoAoha, dan petugas kesehatan Teknik analisis data (Azza et al. , 2. Penelitian ini bertujuan pernikahan dini dalam perspektif budaya dan Metode yang digunakan kualitatif dengan desain Retrospective Case Study serta teknik pengumpulan datanya interview dan observasi secara langsung (Hermayani et al. Penelitian ini bertujuan stunting pada balita di Puskesmas Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran tahun 2020 Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus bakar dan infeksi bila tidak dilakukan secara higienis. Selain nutrisimisalnya ibu hanya diperbolehkan makan jagung bose tanpa sayur, protein, atau garam yang dapat mengakibatkan defisit gizi bayi. Penelitian menyimpulkan bahwa mempraktikkan budaya Neno BoAoha memiliki angka stunting lebih tinggi dibanding keluarga yang mulai meninggalkan praktik tersebut dan mengikuti saran dari petugas kesehatan. Penelitian ini menemukan tiga tema utama dalam penelitian yang dilakukan yaitu pernikahan dini terbentuk karena anak merasa harus taat kepada orang tuanya akibat kondisi ekonomi keluarga yang kurang memadai, pernikahan dini dianggap sebagai cara untuk mencegah terjadinya dosa agar tidak terjadi kehamilan di luar Selain itu, pernikahan dini dianggap sebagai budaya turun temurun yang sudah lama diterapkan oleh masyarakat terkait pandangan jika anak perempuan tidak segera menikah, maka dianggap tidak laku. Hal tersebut berdampak pada anak perempuan mengalami kekerasan dalam rumah tangga, stunting atau Hasil penelitian menunjukkan Puskesmas Gedongtataan yaitu adanya penyakit infeksi saat hamil, setelah melahirkan, dan saat anak masih balita. Namun, responden tidak mengetahui bahwa infeksi dapat menyebabkan stunting. Sebagian besar responden tidak memberikan ASI eksklusif kepada anak dan memberikan makanan tambahan . yang tidak sesuai dengan anjuran. Ditemukan juga ketersediaan makanan keluarga hanya di rumah, tetapi terdapat Kondisi kesehatan lingkungan di rumah tangga seperti air sudah memadai. Meski demikian, pengetahuan responden tentang stunting saat hamil dan melahirkan masih rendah, serta Calvaria Medical Journal : 139-151, Desember 2025 e-ISSN 3031-092X mereka masih mempercayai aspek sosial dan budaya saat hamil dan (Kartika Siwie et , 2. Penelitian ini bertujuan berbagai faktor yang terjadinya perkawinan upayaupaya yang dilakukan oleh dinas DP3AKB agar perkawinan anak tidak terjadi lagi yang ketentuan dalam UU No. 16 Tahun 2019 tentang perkawinan di Kabupaten Bojonegoro Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif (Olajide Penelitian ini bertujuan untuk meninjau dan budaya serta sumber informasi gizi pada perempuan hamil dan pasca-persalinan yang berasal dari negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMIC. tetapi tinggal di negara berpenghasilan tinggi. Metode yang digunakan Pencarian literatur pada april 2024 di tiga basis data utama: Global Health. CINAHL, dan MEDLINE dengan makanan, kehamilan, imigran, serta klasifikasi negara LMIC dan negara berpenghasilan tinggi. Total 17 studi yang memenuhi kriteria . kuantitatif kemudian deskriptif, tanpa metaanalisis heterogenitas hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi UndangUndang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan di Kabupaten Bojonegoro sudah berjalan cukup lancar, meskipun ada beberapa implementasi belum begitu efektif. Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya perkawinan dini yaitu rendahnya sumber daya seperti kurangnya akses pendidikan, serta kondisi ekonomi yang rendah karena sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani. Selain itu, masyarakat masih menganggap perempuan di usia muda bisa menjadi perawan tua. Selama masa pandemi, situasi lockdown memengaruhi orang tua untuk mendorong anaknya menikah di usia muda dikarena selama masa menjadi lebih terbuka. Selain itu, masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang negatif menikahkan anak di usia yang sangat muda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan menengah tetap mempertahankan selama kehamilan dan masa postpartum, termasuk pantangan terhadap makanan bergizi seperti telur, daging, susu, atau buah tertentu dengan alasan budaya mencegah keguguran, menjaga keseimbangan panasdingin, kesehatan dan penampilan bayi. Keyakinan mengenai makanan AupanasAy AudinginAy mendominasi, di mana kehamilan dianggap sebagai kondisi panas sehingga dianjurkan mengonsumsi makanan dingin, sedangkan masa postpartum dipandang sebagai kondisi dingin yang membutuhkan makanan panas untuk pemulihan Sumber informasi gizi utama berasal dari keluarga, khususnya ibu, nenek, dan kerabat dekat yang dinilai lebih dipercaya Literature Review: The Role of Culture. Customs, and Traditions in Parenting as Factors Contributing toA Risma Putri Nur Salsabilla. Ridzkiya Karimatus Sholeha. Septa Indra Puspikawati (Nurbaya et al. Penelitian bertujuan tradisional dan praktik makanan tabu pada Ammatoa Kajang dan kaluppini di Sulawesi Selatan yang berkaitan dengan kesehatan ibu hamil dan menyusui. Penelitian menggunakan metode wawancara mendalam terhadap 58 ibu dan fgd dengan 48 ibu serta tokoh adat, bidan, dan dukun anak. Analisis menggunakan dedoose. (Laksono Wulandari, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pantangan makanan pada suku muyu di Papua, menyusui, serta ritual adat yang berkaitan Penelitian kasus etnografis dengan observasi partisipatif, in-depth interview, dan penelusuran dokumen. Peneliti menggunakan terhadap sekitar 40 informan yang meliputi tokoh adat, tokoh agama, ibu rumah tangga, remaja, pekerja masyarakat yang tinggal di tengah komunitas selama dua bula untuk live in. dibanding tenaga kesehatan. Namun, terhadap makanan tradisional, proses alkuturasi, dan minimnya dukungan keluarga sering menjadi Secara keseluruhan, berdampakn pada rendahnya asupan nutrisi ibu hamil yang berimplikasi pada meningkat risiko gestasional, pre-eklampsia, dan menimbulkan konsekuensi jangka panjang bagi kesehatan anak. Hasil pada penelitian menunjukkan mempraktikkan tabu makanan bagi ibu hamil dan menyusui, misalnya larangan mengonsumsi bunga pisang, buah asam, bayam air, sayuran bersantan, serta udang dan cumi. Keyakinan ini didasari pad anggapan bahwa makanan tersebut bisa menyebabkan bayi lahir kecil, keguguran, tulang lunak, hingga diare pada bayi. Akibatnya, ibu kehilangan akses pada makanan bergizi yang penting untuk kehamilan dan masa mengganggu status gizi ibu dan Hasil menunjukkan suku muyu memiliki pantangan makanan yang luas, berlaku bagi laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Untuk ibu hamil, tabu meliputi ikan sembilang, kurakura, buaya, kaluang, burung kasuari dan telurnya, kuskus, ular, hingga beberapa jenis sayuran seperti pandan, mentimun, dan kacang panjang. Pantangan ini diyakini dapat mempengaruhi fisik atau kondisi bayi, misalnya lahir dengan kepala besar, bisu, sulit keluar dari kandungan, atau sakit. Kepercayaan tersebut membatasi asupan gizi ibu hamil dan menyusui, yang berujung dengan naiknya potensi kekurangan gizi dan berdampak pada status gizi ibu PEMBAHASAN Budaya patriarki memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pola asuh, distribusi pangan dalam keluarga, serta kondisi gizi ibu dan anak. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Triratnawati & Yuniati, 2. , praktik patriarki di Desa Labotan ditandai dengan pembagian makanan yang tidak adil, di mana suami diutamakan dalam memperoleh makanan bergizi. Calvaria Medical Journal : 139-151, Desember 2025 e-ISSN 3031-092X sedangkan istri dan anak hanya mendapatkan sisa. Ketidakadilan ini memperparah masalah gizi keluarga, terlebih ketika perempuan juga memikul peran ganda sebagai pekerja sekaligus Beban ganda tersebut membatasi waktu untuk pengasuhan dan berdampak pada kualitas pemenuhan gizi anak, yang pada akhirnya meningkatkan risiko stunting. Kondisi ini sejalan dengan konsep time-income trade-off di mana meningkatnya partisipasi kerja ibu justru menurunkan intensitas perawatan anak, termasuk pemberian makan, pemantauan gizi, dan stimulasi tumbuh kembang. Temuan serupa dilaporkan di Indonesia dan negara berkembang lain, menunjukkan hubungan negatif antara partisipasi kerja ibu di sektor informal dengan pertumbuhan linier anak (Kyanjo et al. , 2. Penelitian lain juga menegaskan bahwa keterlibatan ibu dalam pekerjaan agraris sering kali berdampak pada penurunan kualitas pola asuh dan konsumsi pangan anak, meskipun peningkatan pendapatan rumah tangga dapat sedikit mengompensasi risiko tersebut (Debela et al. , 2. Lebih jauh, angapan bahwa peran pengasuhan, kehamilan, dan pemenuhan kebutuhan anak sepenuhnya merupakan tanggung jawab ibu rumah tangga memperkuat dominasi laki-laki dalam pengambilan keputusan, termasuk dalam pengelolaan pangan keluarga. Padahal, dalam prespektif kesehatan masyarakat, peran ayah dapat berupa keterlibatan langsung dalam pengasuhan, pemberian makanan, pengambilan keputusan terkait makanan sehat yang dibeli, serta pemberian waktu luang bagi ibu agar dapat fokus menyusui atau menyiapkan makanan keterlibatan ini penting karena penelitian menunjukkan bahwa pola pengasuhan yang responsif dari kedua orang tua terhubung dengan status gizi anak yang lebih baik, baik dalam mencegah stunting maupun obesitas. (Savc & Yalyn, 2. menegaskan bahwa gaya pengasuhan yang kurang responsif dapat meningkatkan risiko salah persepsi terhadap kebutuhan gizi anak, sementara studi yang dilakukan oleh (Atika & Dedy, 2. membuktikan bahwa praktik modeling dan environment control dalam pengasuhan berpengaruh signifikan terhadap status gizi anak sekolah. Studi lain oleh Prasetya et al. menegaskan bahwa keterlibatan ayah dalam praktik pemberian makanan pada anak terbukti meningkatkan asupan gizi harian dan kualitas pola asuh gizi keluarga. Oleh karena itu, pemberdayaan peran ayah dalam pengasuhan berbasis kesetaraan gender menjadi strategi penting dalam upaya pencegahan stunting. Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul AuPenanganan Stunting Dalam Budaya Patriarki: Analisis Gender Program Gerobak Cinta di Kabupaten Flores TimurAy dari (Palan Peten et al. , budaya patriarki yang masih kuat di wilayah tersebut menyebabkan ketimpangan peran antara laki-laki dan perempuan, khususnya dalam pola asuh anak, pola makan keluarga, serta pengelolaan sumber daya pangan. Laki-laki memegang kendali atas akses dan pengambilan keputusan terkait pangan bergizi, sehingga ibu dan anak sering kali tidak mendapatkan porsi gizi yang mencukupi. Hal ini diperkuat oleh temuan (Lolan & Sutriyawan, 2. , yang menujukkan bahwa budaya Patriarki di Masyarakat Lamaholot (Flores Timu. memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian stunting pada balita, dengan nilai p-value sebesar 0,017. Padahal, sebagaimana disampaikan (Al adawiyah & Priyanti, 2. , peran ayah seharusnya tidak hanya terbatas sebagai pencari nafkah, melainkan juga turut terlibat dalam perkembangan sosial dan pemenuhan kebutuhan dasar anak, termasuk gizi anak. Studi longitudinal menunjukkan bahwa interaksi ayah yang sensitif terhadap anak membentuk pola regulasi hormon stres, khususnya menurunkan kortisol anak, sementara pengasuhan negatif justru meningkatkan respon kortisol (Mills-Koonce et al. , 2. Penurunan kortisol amat penting karena hormon ini jika berlebihan dapat menghambat pertumbuhan anak dengan menekan kerja Insulin-like Growth factor-1 (IGF. yang vital dalam proliferasi sel dan pembentukan tulang. Selain itu, tinjauan sistematis menunjukkan bahwa keterlibatan ayah juga mengatur respon hormonal dan aktivitas saraf induktif, termasuk sistem oksitosin dan proklatin yang dikenal mendukung ikatan dan pengaturan emosional yang pada akhirnya turut mempengaruhi konsumsi makanan dan metabolisme anak (Giannotti et al. , 2. Dengan demikian, peran ayah yang aktif bukan hanya mitigasi terhdap overnutrition atau undernutrition melalui perilaku, namun juga untuk Literature Review: The Role of Culture. Customs, and Traditions in Parenting as Factors Contributing toA Risma Putri Nur Salsabilla. Ridzkiya Karimatus Sholeha. Septa Indra Puspikawati memperkuat sistem hormonal anak agar nutrisi yang diterima dapat dimanfaatkan secara Fenomena budaya patriarki yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat tidak hanya berdampak pada anak, tetapi juga berimplikasi serius terhadap status gizi ibu. Ketika perempuan memiliki beban ganda yaitu bekerja di luar rumah sambil tetap memikul tanggung jawab utama dalam rumah tangga, waktu dan energinya menjadi terbatas untuk memenuhi kebutuhan gizi dirinya sendiri. Hal ini berisiko menyebabkan beban gizi ganda, yaitu kondisi dimana seseorang mengalami kelebihan energi . namun kekurangan mikronutrien penting seperti zat besi, asam folat, atau kalsium. Pada ibu hamil, kondisi ini sangat berbahaya karena dapat menghambat pertumbuhan janin, menurunkan kualitas ASI, dan meningkatkan risiko stunting pada anak. Dalam keluarga dengan dominasi laki-laki, perempuan kerap tidak memiliki kendali atas pemilihan makanan, sehingga asupan pangan bergizi seimbang menjadi Penelitian di Rwanda menunjukkan bahwa struktur patriarki dalam rumah tangga berhubungan dengan meningkatnya prevalensi stunting, karena perempuan tidak memiliki kuasa dalam menentukan konsumsi makanan bergizi untuk keluarga(Utumatwishima et al. Hal ini sejalan dengan temuan (Peten et al. , 2. yang menyoroti bahwa dalam budaya patriarki, akses dan kontrol atas sumber pangan masih didominasi laki-laki, sehingga perempuan cenderung tersisih dari pengambilan keputusan. Faktor tambahan seperti beban kerja yang tinggi, konsumsi makanan instan karena keterbatasan waktu, serta rendahnya literasi gizi turut memperburuk kerentanan ini. Oleh karena itu, penanganan stunting perlu disertai strategi pengurangan beban gizi ganda pada ibu melalui edukasi gizi, keterlibatan suami dalam perencanaan konsumsi keluarga, serta penguatan dukungan sosial, yang sejalan dengan pendekatan gizi sensitif berbasis keluarga. Beban kerja yang tinggi, konsumsi makanan instan karena keterbatasan waktu, serta rendahnya literasi gizi turut memperburuk kondisi ini. Penanganan stunting perlu disertai strategi pengurangan beban gizi ganda pada ibu melalui eduaksi gizi, keterlibatan suami dalam perencanaan konsumsi keluarga, serta penguatan dukungan sosial, yang sejalan dengan pendekatan gizi sensitif berbasis keluarga. Dominasi laki-laki dalam pengendalian pangan keluarga turut mendorong terjadinya beban gizi ganda, terutama pada perempuan. Dalam keluarga patriarkal, perempuan sering kali memiliki keterbatasan dalam memilih makanan sehat, sehingga berisiko mengalami defisiensi mikronutrien meskipun mongunsumsi makanan tinggi kalori. Kondisi ini menjelaskan mengapa ibu dapat mengalami obesitas yang disertai kekurangan zat gizi esensial, sementara anak tetap berisiko mengalami stunting akibat kurang gizi kronis. Fenomena ini sejalan dengan hasil tinjauan di negara dengan pendapatan rendah dan sedang yang menemukan tingginya prevalensi malnutrisi ganda pada perempuan dan anak dalam konteks ketidaksetaraan gender (Alem et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian dari (Wotok et al. , 2. yang berjudul AuBudaya Neno BoAoha terhadap Kejadian Stunting di Desa Oekiu. Kabupaten Timor Tengah SelatanAy, ditemukan bahwa praktik budaya lokal yang masih kuat dipertahankan, seperti panggang . eAo. , tatobi . ompres pana. , dan berbagai pantangan makanan bagi ibu pascamelahirkan, berdampak negatif terhadap status gizi ibu dan anak. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dan diyakini dapat mempercepat pemulihan pasca persalinan, namun secara medis justru berisiko mengganggu kesehatan ibu dan membatasi asupan nutrisi yang dibutuhkan. Ibu yang menjalani budaya Neno BoAoha hanya diperbolehkan mengonsumsi makanan tertentu seperti jagung bose, padahal pangan ini meski tinggi karbohidrat, miskin protein berkualitas serta zat gizi mikro penting seperti zat besi, zinc, folat, dan vitamin B12, bahkan kandungan fitat di dalamnya dapat menghambat penyerapan dari mineral. Kondisi ini meningkatkan risiko anemia dan kekurangan gizi pada ibu hamil yang pada akhirnya berdampak pada hambatan pertumbuhan janin dan risiko stunting pada anak. Dampaknya, produksi ASI menjadi terganggu dan kebutuhan gizi bayi tidak tercukupi, yang pada akhirnya meningkatkan risiko stunting. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi pencegahan stunting di wilayah adat seperti Desa oekiu perlu memperhatikan aspek sosial budaya lokal yang berpengaruh terhadap praktik pengasuhan dan konsumsi pangan Calvaria Medical Journal : 139-151, Desember 2025 e-ISSN 3031-092X (Gonzylez-Fernyndez et al. , 2. Sejalan dengan temuan tersebut, penelitian yang dilakukan oleh (Hermayani et al. , 2. yang berjudul AuKejadian Stunting Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Gedongtataan kabupaten Pesawaran tahun 2020Ay juga menemukan bahwa masih terdapat kepercayaan atau pantangan yang dianut oleh ibu hamil maupun ibu pada masa nifas dengan alasan menjaga kesehatan ibu dan bayi. Misalnya, tidak diperbolehkan mengonsumsi pisang ambon, hanya diperbolehkan makan sayuran dalam jumlah banyak, serta diminta mengurangi konsumsi makanan beraroma amis seperti telur, yang jelas bertentangan dengan prinsip ilmu gizi. Penelitian ini diperkuat oleh (Suwandewi et al. , 2. yang menunjukkan bahwa ibu hamil dari suku banjar dilarang mengonsumsi buah dan makanan berprotein hewani seperti ikan saluang, ikan gabus, kepiting, telur, dan sayur rebung, serta hanya diperbolehkan makan tahu, tempe, bayam, atau daun katu. Sementara itu, pada masyarakat Suku Dayak, ibu nifas dibatasi hanya boleh makan nasi tanpa lauk tambahan dan hanya satu kali dalam sehari. Pembatasan ini berdampak serius terhadap asupan gizi ibu, yang seharusnya mendapatkan pola makan seimbang yang kaya akan makronutrien . arbohidrat, protein, lemak seha. serta mikronutrien seperti zat besi, asam folat, kalsium, vitamin A, dan yodium. Nutrisi tersebut sangat penting tidak hanya untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin dan anak secara optimal, tetapi juga untuk mencegah beban gizi ganda, yaitu kondisi dimana ibu mengalami kelebihan energi namun tetap kekurangan zat gizi penting. Kekurangan protein dan mikronutrien dapat menyebabkan gangguan pada sistem imun dan pertumbuhan anak, sementara kelebihan karbohidrat tanpa keseimbangan nutrisi lainnya meningkatkan risiko obesitas pada ibu. Oleh karena itu, praktik pantangan makanan berbasis budaya seperti ini perlu dikaji ulang secara kritis, agar intervensi gizi dapat dilakukan dengan tetap menghormati nilai lokal namun tidak mengorbankan kesehatan ibu dan anak (Hafiza et al. , 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Kartika Siwie et al. , 2. yang berjudul "Implementasi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perkawinan (Studi Kasus Perkawinan Anak di Kabupaten Bojonegor. Didapatkan bahwa faktor penyebab pernikahan dini di Kabupaten Bojonegoro yaitu adanya pengaruh rendahnya S di Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini didukung oleh penelitian (Khaerani, 2. yang menjelaskan bahwa Pernikahan yang belum matang akan menimbulkan dampak buruk baik dari sisi kesehatan, psikologis maupun sosial pada pihak perempuan seperti risiko terjadinya abortus atau keguguran, dikarenakan secara fisiologis rahim pada usia remaja belum cukup sempurna. Apabila pada saat remaja dan saat kehamilan seseorang ibu mengalami kekurangan nutrisi dapat berdampak negatif pada kondisi gizi anak yang dilahirkan (Martony, 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Azza et al. , 2. dengan judul "Pernikahan Dini Dalam perspektif Budaya dan Kesehatan (Studi Kasus pada masyarakat Madura-Jembe. " ditemukan bahwa di wilayah Jember-Madura masih ada permasalahan pernikahan dini. Pernikahan tersebut dilakukan sebagai bentuk ketaatan anak kepada orang tua dan mencegah terjadinya dosa. Pernikahan ini juga dilakukan sesuai dengan adat yang dianut oleh masyarakat Selain itu, pernikahan ini juga merupakan suatu perjanjian antara laki-laki dan perempuan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama yang berlaku. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Lubis & Nurwati, 2. yang menunjukkan bahwa masih banyak orang tua yang belum mengetahui mengenai bagaimana cara mendidik anak, termasuk dalam hal pemenuhan kebutuhan gizi sehingga berimplikasi pada munculnya beban gizi ganda dalam rumah tangga. Rendahnya literasi gizi orang tua mendorong pola pengasuhan dan konsumsi yang tidak seimbang yaitu orang dewasa kerap mengalami kelebihan asupan energi hingga obesitas, sementara anak justru mengalami kekurangan gizi kronis seperti stunting. Fenomena ini dibuktikan di Indonesia, misalnya pada rumah tangga miskin perkotaan di mana prevalensi ibu dengan obesitas dan anak stunting mencapai 27,5% (Lowe et al. , 2. , kondisi tersebut menegaskan bahwa celah pengetahuan orang tua bukan hanya menyangkut pola asuh secara umum, tetapi juga menjadi faktor penting yang memperkuat risiko terjadinya beban gizi ganda di tingkat keluarga. Literature Review: The Role of Culture. Customs, and Traditions in Parenting as Factors Contributing toA Risma Putri Nur Salsabilla. Ridzkiya Karimatus Sholeha. Septa Indra Puspikawati KESIMPULAN Kajian ini menegaskan bahwa beban gizi ganda pada ibu hamil merupakan konsekuensi langsung dari patriarki budaya, adat, dan tradisi yang tidak selaras dengan prinsip gizi seimbang. Budaya patriarki mendorong terjadinya ketidakadilan distribusi pangan dalam keluarga, membatasi peran perempyan dalam pengambilan keputusan gizi, dan menempatkan ibu pada kondisi rentan terhadap defisiensi mikronutrien meskipun mengalami kelebihan asupan energi. Praktik pantangan makanan selama masa kehamilan dan masa nifas memperburuk risiko ini karena konsumsi protein dan zat gizi esensial. Selain itu, pernikahan dini dan rendahnya literasi gizi orang tua memperkuat siklus malnutrisi antar generasi, yang ditandai dengan kombinasi ibu obesitas sekaligus kekurangan gizi mikro serta anak yang mengalami stunting. Dengan demikian, beban gizi ganda harus dipandang sebagai masalah multidimensi yang berakar pada faktor sosial Upaya pencegahan tidak cukup hanya melalui intervensi medis, tetapi memerlukan pendekatan gizi sensitif berbasis keluarga dengan edukasi gizi, penguatan kesetaraan gender, serta keterlibatan ayah dalam pola asuh untuk memutus rantai beban gizi ganda pada ibu hamil dan anak. DAFTAR PUSTAKA