Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 E-ISSN: 2865-6583 P -ISSN: 2868-6298 Analisis Lean Manajemen Untuk Menurunkan Waktu Tunggu Pasien Jkn Rawat Jalan Pada Layanan Farmasi Di Rumah Sakit Umum Medimas Cirebon Mutmainnah1. Alih Germas Kodyat2. Sonya Dewi Wulandari3 Rumah Sakit Umum Medimas Cirebon mutmainnahkamil@gmail. Abstrak Waktu tunggu pelayanan farmasi merupakan salah satu indikator penting dalam menilai kualitas layanan rumah sakit. Rumah Sakit Umum Medimas Cirebon menghadapi tantangan dalam memenuhi standar waktu tunggu pelayanan resep obat, yang berdampak pada tingkat kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Lean Management dalam menurunkan waktu tunggu pasien JKN rawat jalan pada layanan farmasi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan analisis Value Stream Mapping (VSM) untuk mengidentifikasi pemborosan dalam alur pelayanan farmasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat berbagai faktor yang berkontribusi terhadap tingginya waktu tunggu, termasuk keterbatasan sumber daya manusia, sistem antrian yang kurang efisien, serta tidak optimalnya distribusi resep antara pasien JKN dan non-JKN. Penerapan Lean Management melalui strategi 5S. Visual Management, dan perbaikan alur kerja dengan Kanban berhasil mengurangi pemborosan, meningkatkan efisiensi pelayanan, serta menurunkan waktu tunggu pasien secara signifikan. Dengan demikian, implementasi Lean Management dapat menjadi solusi efektif dalam meningkatkan kualitas layanan farmasi di rumah sakit. Kata Kunci: Lean Management, waktu tunggu, layanan farmasi. Value Stream Mapping, efisiensi Abstract Pharmacy service waiting time is a key indicator in assessing hospital service quality. Medimas General Hospital. Cirebon, faces challenges in meeting the standard waiting time for prescription services, which affects patient satisfaction levels. This study aims to analyze the implementation of Lean Management in reducing the waiting time for JKN outpatient services in the pharmacy department. This research employs a qualitative approach using observation techniques, in-depth interviews, and Value Stream Mapping (VSM) analysis to identify inefficiencies in the pharmacy service flow. The findings reveal several factors contributing to prolonged waiting times, including limited human resources, inefficient queue management systems, and suboptimal prescription distribution between JKN and nonJKN patients. The implementation of Lean Management through 5S. Visual Management, and workflow improvement using Kanban successfully reduced inefficiencies, enhanced service efficiency, and significantly decreased patient waiting times. Thus. Lean Management can serve as an effective solution for improving the quality of hospital pharmacy services. Keywords: Lean Management, waiting time, pharmacy services. Value Stream Mapping, service Efficiency Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 PENDAHULUAN tahun 2004 merupakan Rumah Sakit Khusus Pelayanan kesehatan adalah layanan yang merawat, dan memulihkan kesehatan individu Sistem kesehatan yang baik membutuhkan koordinasi antara berbagai sektor, seperti pelayanan medis, sosial, dan pencegahan, untuk menciptakan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, pelayanan kesehatan modern lebih menekankan pada aksesibilitas, ketersediaan Model pelayanan kesehatan terdiri dari tiga aspek utama: struktur, proses, dan hasil. Struktur berhubungan dengan sumber daya dan fasilitas yang mendukung pelayanan kesehatan, proses pelayanan, dan hasil mengacu pada dampak yang Bedah, namun bertransformasi menjadi Rumah Sakit Umum pada tahun 2017. Visi dari Rumah Sakit Umum Medimas yaitu menjadi Rumah Sakit unggulan di wilayah 3 Cirebon yang diakui profesionalisme nya serta dapat bersaing di era Untuk dapat mewujudkannya maka sangat Manajemen pelayanan farmasi yang baik di rumah sakit bertujuan untuk dan efisien. Untuk mencapai visi Rumah Sakit Umum Medimas menentukan standar maksimal non racik, sedangkan 60 menit untuk obat racik. Berdasarkan hasil survei kepuasan pelanggan rawat jalan terhadap layanan obat racik dan nonracik di unit farmasi, tingkat kepuasan yang tercatat hanya mencapai 68,8%. Sementara itu, berdasarkan data mutu pada instalasi farmasi tahun 2024, diperoleh informasi mengenai non-racik, yaitu: Tabel 1. Capaian dan target waktu tunggu di RSU Medimas Cirebon Dalam menghadapi tuntutan pelayanan kesehatan yang persediaan obat yang baik, sesuai standar, aman ketersediaan obat yang efektif, aman, serta waktu tunggu pelayanan resep obat racik dan masyarakat . waktu tunggu obat yakni 30 menit untuk obat pelayanan di berbagai Tingkat . E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 mengimplementasikan sistem tata kelola farmasi yang dapat beradaptasi dengan kebutuhan tersebut dan memenuhi standar regulasi yang ada . Rumah Sakit Umum Medimas adalah rumah sakit yang terletak di kota Cirebon, merupakan Rumah Sakit Swasta yang awalnya berdiri pada Bulan Capaian waktu Target Obat Obat non Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Sumber : Data RSU Medimas- Cirebon, 2024 Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 Berdasarkan E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 Metode penelitian kualitatif dengan menunjukan capaian tidak ada yang mencapai pendekatan yang target yang ditentukan yaitu 100%. Hal ini Penelitian ini akan dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Medimas bersifat konstruktivisme. Cirebon. Penelitian terhadap pelayanan farmasi. Beberapa kendala menggunakan instrumen penelitian kuesioner yang dihadapi oleh instalasi farmasi antara lain seluruh pelayanan resep yang masih terpusat di intervie. dan menggunakan alat stopwatch, farmasi rawat jalan, serta jumlah SDM yang meteran, taperecorder, resep pasien untuk belum memenuhi standar. Selain itu, belum adanya pemisahan antara resep pasien JKN dan Menggunakan non-JKN, ketidakpatuhan dokter poli terhadap Informan pada penelitian ini. Kepala bidang farmasi 1 orang. Petugas farmasi 6 orang . Upaya dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Umum Medimas, langkah-langkah . ndepth Pengumpulan data dengan pengamatan dan observasi selama enam hari dengan lima diambil, hasil yang diperoleh belum menunjukkan resep per harinya. Total pengumpulan data efektivitas yang optimal. untuk pengamatan waktu tunggu alur resep Hasil dari data mutu di layanan Farmasi yakni 30 resep. Proses pengamatan dan dalam pengelolaan obat diperoleh bahwa untuk observasi ini menggunakan stopwatch untuk obat racikan waktu yang dibutuhkan lebih dari 60 menghitung sub proses dimulai dari alur resep menit sedangkan untuk obat non racik melebihi diterima oleh farmasi sampai obat selesai dari 30 menit. Hal ini dikarenakan semua pelayanan resep terpusat di farmasi rawat jalan. HASIL DAN PEMBAHASAN jumlah SDM belum sesuai dengan standar, tidak Proses Pelayanan Obat di Farmasi Rumah ada pemisahan resep pasien non JKN dan JKN. Sakit Umum Medimas dokter poli tidak patuh terhadap formularium Alur nasional dan dokter poli masih ada yang serangkaian proses yang dilakukan untuk menggunakan resep manual. memastikan pasien mendapatkan obat yang Penelitian sesuai dengan resep dokter, aman digunakan, dan efektif dalam pengobatan. menurunkan waktu tunggu pasien JKN rawat Penerimaan Resep (Pasien menyerahkan jalan pada layanan farmasi di Rumah Sakit Umum resep dari dokter ke bagian farmasi. Petugas Medimas Cirebon tahun 2025. METODE termasuk nama pasien, dosis obat, aturan pakai, dan tanda tangan dokte. Verifikasi Resep Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 (Apoteker mengecek keabsahan resep dan Tahapan yang Paling Lama: "Penyiapan Obat" memastikan tidak ada interaksi obat yang . menit rata-rat. Ini merupakan tahapan berbahaya. Jika ada ketidaksesuaian, apoteker paling memakan waktu dalam proses farmasi. dapat menghubungi dokter untuk klarifikas. Terdapat variasi yang cukup besar . tandar Peracikan atau Pengambilan Obat (Jika obat 2 meni. , yang berarti beberapa resep membutuhkan waktu lebih lama dibanding yang menyiapkan sesuai prosedur. & Jika obat sudah Faktor yang mungkin mempengaruhi dalam bentuk siap pakai, petugas mengambilnya seperti kompleksitas obat, jumlah bahan racikan, (Apoteker atau antrean panjang. Tahapan yang Paling melakukan pengecekan ulang terhadap obat Cepat: "Input Resep" . 79 menit rata-rat. yang akan diberikan memastikan kesesuaian Waktu ini relatif lebih pendek dibanding tahap dengan rese. Penyerahan Obat kepada Pasien lainnya, tetapi masih cukup bervariasi . tandar (Petugas farmasi memberikan obat kepada 8 meni. Bisa dipercepat dengan pasien. Pasien diberikan edukasi mengenai cara otomatisasi input resep dari dokter ke sistem penggunaan, dosis, efek samping, dan hal-hal Tahapan "Validasi" dan "Serahkan yang perlu diperhatika. Administrasi dan Obat" Juga Signifikan. Validasi . 71 meni. Dokumentasi (Pencatatan obat yang diberikan menjadi tahap penting karena melibatkan ke pasien dalam sistem farmasi. Penyimpanan pengecekan ulang obat sebelum diberikan ke resep sebagai dokumen rekam medi. Serahkan Obat . 79 meni. mungkin Hasil Pengamatan Waktu Resep Obat Non memakan waktu lebih lama karena ada Pemeriksaan Akhir Racik penjelasan penggunaan obat kepada pasien. Tabel 2. Rata-Rata Waktu Pada Setiap Tahapan Obat Non Racik Waktu Waktu Minimum Maksimum . yang penting tetapi bisa dioptimalkan. Tahapan Proses Rata-rata Waktu . Input Resep Penyiapan Obat Cetak Etiket Validasi Serahkan Obat Input Resep dan Racik Obat Cetak Etiket Validasi Hasil Pengamatan Waktu Resep Obat Racikan Tabel 3. Rata-Rata Waktu Pada Setiap Tahapan Obat Racikan Tahapan Proses Rata-rata Waktu Waktu Minimum . Waktu Maksimum . Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 Tahapan Proses Rata-rata Waktu Waktu Minimum Waktu Maksimum Serahkan Obat Total Waktu Tunggu E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 Kompetensi dari petugas farmasi belum merata karena kurang nya pelatihan. Material = Pengelolaan stok obat yang tidak Resep Formularium belum di sosialisasikan. Stok obat di logistic yang belum diinput. Tahapan yang Paling Lama: "Racik Obat" . Methode = Jaringan SIM RS tidak stabil, menit rata-rat. Ini adalah tahap bottleneck Kompetensi petugas kurang. utama dalam pemrosesan resep racikan. Rentang Environtment = Ruang kerja apotek sempit, waktu sangat luas, dari 18 menit hingga 60 menit. Belum ada pemisahan loket JKN dan Non JKN. Faktor yang mempengaruhi: jumlah bahan. Unit farmasi tercentral, belum terbentuk depo kompleksitas racikan, atau antrian panjang. Tahapan Input Resep Juga Cukup Lama . PEMBAHASAN Rata-rata waktu input cukup tinggi Analisis Value Stream Mapping (VSM) dalam dibandingkan dataset sebelumnya . 79 meni. Pelayanan Farmasi Non Racik Ini menunjukkan bahwa sistem pencatatan untuk Penyiapan Obat :Terjadi waktu tunggu karena resep racikan lebih kompleks. Bisa dipercepat tata letak penyimpanan obat yang berjauhan dengan sistem input digital yang lebih efisien. dari tempat penyiapan obat, sehingga petugas Waktu Cetak Etiket dan Serah Obat Relatif Singkat harus bolak balik. Berdasarkan teori Just-in-Time . -4 meni. Waktu cetak etiket sangat cepat . (JIT) Inventory Management, sistem distribusi menit rata-rat. Waktu serah obat juga cukup stok obat yang optimal harus mengurangi waktu cepat . 67 menit rata-rat. , tetapi ada beberapa tunggu dengan memastikan ketersediaan obat sampel yang memakan waktu hingga 10 menit. secara real-time. Peneliti menilai bahwa Total Waktu Tunggu Pasien Relatif Lama . optimalisasi tata letak penyimpanan obat dan menit rata-rat. Rentang waktu bervariasi dari penerapan sistem barcode scanning dalam 36 menit . hingga 104 menit . pengambilan obat dapat mengurangi waktu Semakin kompleks racikan, semakin lama pasien pencarian dan meningkatkan akurasi dalam harus menunggu. penyiapan obat. Membuat system antrian obat Hasil Indepth Interview fish bone rawat jalan. IGD, rawat inap. OK/VK, internsif Kemungkinan penyebab masalah, yaitu : atau dengan membuat depo-depo atau dengan Man = Kurangnya jumlah tenaga teknis pengadaan fix stok dibeberapa unit tertentu. kefarmasian yang bertugas di unit farmasi. Validasi Obat : Farmasi melakukan validasi Kepatuhan kesesuaian obat dengan resep dan ketepatan formularium RS dan retriksi obat pasien JKN. Tahapan ini dilakukan oleh petugas Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 farmasi yang bertugas, sering kali mengalami memadai ( sempi. juga sebagai factor penyebab keterlambatan jika terjadi antrean panjang atau saat peracikan memakan waktu lama, sehingga jika informasi resep tidak lengkap. Berdasarkan jika ada SDM yang akan membantu tidak bisa teori Six Sigma, verifikasi obat yang efektif harus masuk dalam ruang racik tersebut. Input Verifikasi Terdapat menerapkan prosedur standar yang konsisten keterlambatan pada tahap ini jika SIMRS . Menurut pendapat Peneliti: penggunaan mengalami gangguan atau jika terdapat obat teknologi double-check scanning sebelum serah yang harus diverifikasi ke dokter. Berdasarkan obat dapat mengurangi risiko kesalahan dalam Lean Healthcare, keterlambatan dalam input pemberian obat kepada pasien. resep dapat dikurangi dengan penggunaan Serah Obat : Waktu serah obat sering kali teknologi yang lebih efisien seperti integrasi meningkat akibat keterbatasan loket pelayanan SIMRS yang lebih stabil. Peneliti menilai bahwa atau kurangnya sistem antrean yang efisien. peningkatan stabilitas jaringan SIMRS dapat Menurut Patient-Centered Care Model, komunikasi antara farmasi dan pasien harus mengurangi risiko kesalahan pencatatan. optimal agar pasien memahami aturan konsumsi obat. Peneliti Penerapan Lean Manajemen Untuk Menangani mendapatkan edukasi langsung dari farmasis. Waste Selain itu, penerapan sistem antrean berbasis Penerapan Lean Manajemen di Rumah Sakit digital dapat mengurangi waktu tunggu di loket Umum Medimas Cirebon dapat mengidentifikasi pelayanan farmasi. dan mengurangi berbagai jenis waste dalam proses pelayanan farmasi, seperti waste of time. Analisis Value Stream Mapping (VSM) dalam motion, inventory, dan defects. Dengan langkah- Pelayanan Farmasi Racik langkah seperti Value Stream Mapping, 5S. Just- Racik Obat : Tahap ini mencakup proses in-Time, peracikan obat berdasarkan resep dokter yang dipersingkat, proses pelayanan menjadi lebih memerlukan formulasi khusus. Keterlambatan sering terjadi akibat keterbatasan jumlah tenaga farmasi yang kompeten dalam meracik obat. pengorganisasian ruang kerja yang lebih baik. Berdasarkan teori Pharmaceutical Compounding serta pelatihan SDM yang berkelanjutan akan mempercepat implementasi prinsip Lean dan peracikan obat harus diikuti untuk memastikan meningkatkan efisiensi pelayanan farmasi di keamanan dan efektivitas obat yang diracik. rumah sakit. Dispensing. Peningkatan Menurut peneliti Ruang racik yang kurang Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 Analisis Fishbone mengurangi kesalahan dan pemborosan Analisis Fishbone untuk menggali lebih dalam akar penyebab dari pemborosan . yang Kepatuhan dokter spesialis dan retriksi obat terjadi dalam proses pelayanan farmasi di : masalah kepatuhan dokter spesialis Rumah Cirebon. terhadap formularium yang disediakan juga Penerapan Fishbone Diagram pada Waste di berkontribusi pada keterlambatan layanan Pelayanan Farmasi. Masalah Utama: Waktu Fishbein & Ajzen . dalam teori tunggu pasien yang Planned Behavior kepatuhan profesional Sakit Umum Medimas terlalu lama dalam dipengaruhi oleh persepsi manfaat dan signifikan, mempengaruhi kepuasan pasien dan konsekuensi dari tindakan yang diambil. efisiensi operasional. Berdasarkan pengamatan Peneliti menekankan bahwa perlu ada kami, waktu tunggu lebih dari 30 menit untuk regulasi yang lebih ketat dan sosialisasi resep non-racik dan lebih dari 60 menit untuk berkelanjutan kepada dokter spesialis agar resep racikan menunjukkan adanya pemborosan mereka lebih patuh terhadap formularium yang perlu diatasi. yang ditetapkan. Manusia (Peopl. Metode (Method. Sistem informasi manajemen rumah sakit Kurangnya jumlah SDM. jumlah SDM yang (SIMRS) yang sering mengalami gangguan tidak sesuai dengan beban kerja menjadi jaringan menyebabkan keterlambatan dalam salah satu penyebab utama keterlambatan input resep dan pencatatan stok obat secara pelayanan farmasi. Hal ini sejalan dengan real-time. Workforce Planning . Petugas farmasi yang kurang berkompeten dalam melakukan peracikan obat akan antara jumlah tenaga kerja dan volume pekerjaan akan berdampak pada efisiensi mengidentifikasi bahan yang diperlukan, menimbang, mencampur, dan memverifikasi Kurangnya pelatihan atau keterampilan dosis obat. Lean thinking menekankan petugas farmasi: . Armstrong's Handbook pentingnya keterampilan dan pelatihan Management, sebagai bagian dari efisiensi dalam sistem pengembangan kompetensi SDM sangat . Oleh karena itu, untuk meningkatkan kompetensi ini, pelatihan berkelanjutan. Pelatihan yang tepat dan standarisasi prosedur, dan pemanfaatan peningkatan keterampilan karyawan akan teknologi menjadi solusi yang efektif. Human Resource Material (Material. Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 Pengelolaan stok obat yang tidak efisien: sehingga membutuhkan waktu tambahan Ketidakteraturan dalam pengelolaan stok untuk substitusi obat. Diffusion of Innovation . , adopsi inovasi dalam sistem kesehatan Just-in-Time (JIT) adalah salah memerlukan proses edukasi yang intensif. satu prinsip Lean yang sangat relevan dalam Peneliti berpendapat bahwa sosialisasi pengelolaan stok obat. , dalam Supply formularium harus dilakukan secara berkala Chain Management menjelaskan bahwa JIT melalui workshop atau diskusi ilmiah agar bertujuan untuk mengelola persediaan seluruh dokter memahami dan menerapkan dengan efisien, menghindari kelebihan atau formularium dengan lebih konsisten. kekurangan stok yang dapat menghambat Lingkungan (Environmen. alur kerja. Penggunaan sistem manajemen Ruang kerja apotek sempit : : Pengaturan ruang kerja yang tidak efisien menyebabkan petugas farmasi memiliki ruang gerak memantau stok secara real-time dan terbatas untuk mengambil obat dikarenakan mengoptimalkan pengadaan obat Resep datang bersamaan : Akumulasi resep jam-jam Operations Management, fasilitas yang baik sangat penting untuk meningkatkan efisiensi alur kerja . Peneliti Menurut teori Queueing System . , pola melihat bahwa penerapan prinsip 5S akan kedatangan pelanggan yang tidak terjadwal sangat membantu dalam mengorganisasi akan meningkatkan waktu tunggu jika tidak ruang apotek dengan lebih efisien. diimbangi dengan kapasitas pelayanan yang Belum adanya pemisahan loket JKN dan Menurut pendapat peneliti, perlu Non-JKN : Ketidakterpisahan antara loket adanya sistem antrean untuk mengelola pasien JKN dan non-JKN menyebabkan kedatangan resep antrean yang panjang dan memperlambat sehingga tidak terjadi Menurut pengaturan jadwal dinas untuk petugas kesehatan, sistem pemisahan alur pelayanan farmasi dengan keterampilan kerja yang baik dalam proses pelayanan obat di jam sibuk mengurangi bottleneck dalam antrian dan atau di jam ramai perlu dilakukan. mempercepat pelayanan obat. Menurut Formularium belum di sosialisasikan : Rumah Minimnya sosialisasi mengenai formularium pemisahan loket pelayanan untuk pasien meresepkan obat yang tidak tersedia. Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 JKN dan non-JKN guna mengoptimalkan obat, pengecekan akhir, dan penyerahan waktu pelayanan farmasi. obat kepada pasien. Namun, beberapa Unit farmasi tercentral dan belum ada depo : Saat ini, unit farmasi di RSU Medimas masih tersentral, tanpa adanya sistem depo farmasi di setiap unit layanan kendala masih terjadi, terutama dalam waktu tunggu yang belum memenuhi Analisis Fishbone sebagai alat identifikasi seperti rawat inap dan IGD. Hal ini menyebabkan semua permintaan obat harus Fishbone diproses melalui farmasi utama, sehingga waktu tunggu pasien. Diagram, faktor-faktor Menurut teori Decentralized Pharmacy kurangnya pelatihan tenaga farmasi, jumlah System . , sistem farmasi yang lebih SDM yang belum sesuai, kepatuhan dokter spesialis dan retiksi obat, pengelolaan stok obat yang tidak efisien, resep datang meningkatkan efisiensi pelayanan. Pendapat peneliti: Pembangunan depo farmasi di unit disosialisasikan, jaringan SIM RS yang tidak rawat inap. IGD, dan unit layanan lainnya stabil, ruang kerja apotek sempit, belum ada dapat mengurangi beban farmasi sentral dan pemisahan loket JKN dan Non-JKN, belum ada depo farmasi. Hal ini memberikan Implementasi ini akan sangat wawasan yang lebih mendalam untuk berkontribusi dalam mempercepat proses merancang solusi yang lebih tepatsasaran. distribusi obat, terutama untuk kasus Penerapan Lean Manajemen sebagai solusi penerapan prinsip-prinsip Lean Manajemen seperti Value Stream Mapping (VSM), 5S. KESIMPULAN Just-in-Time (JIT), dan penerapan JIT dalam Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pengelolaan stok obat dapat mengurangi mengenai penerapan Lean Manajemen untuk pemborosan persediaan yang menyebabkan menurunkan waktu tunggu pasien JKN rawat Tingginya Waste dalam jalan pada layanan farmasi di Rumah Sakit proses pelayanan farmasi. Berdasarkan Umum Medimas Cirebon, beberapa kesimpulan temuan dalam penelitian ini, pemborosan dapat ditarik sebagai berikut: dalam proses pelayanan farmasi di Alur pelayanan farmasi terdiri dari beberapa Rumah Sakit Umum Medimas Cirebon tahapan utama, yaitu penerimaan resep, terbagi dalam beberapa kategori utama, validasi resep, peracikan atau pengambilan yaitu waste of time . , waste of motion Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol. 9 No 2. April 2025 E-ISSN: 2865-6583 P-ISSN: 2868-6298 , waste of inventory . Pharmacy Times. Patient-Centered Care Pharm Pract Pharm Times. Pemborosan waktu, khususnya obat non racik pada tahap penyiapan obat, verifikasi . ):65Ae73. Amstrong. , & OAoKane P. Principles of resep, serah obat. Sedangakan untuk obat Pharmaceutical Compounding. Journal of racik pada tahap peracikan obat dan input Clinical Pharmacy and Therapeutics,. Princ Hal ini menjadi faktor utama yang Pharm Compd J Clin Pharm Ther. menghambat kelancaran proses pelayanan . ):45Ae52. Sullivan J. Workforce Planning and Talent Management: Managing Labor for DAFTAR PUSTAKA