|ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: HTTPS://DOI. ORG/10. 38215/VRPVWZ69 PERILAKU PASIEN DALAM PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI MENGGUNAKAN HEALTH BELIEF MODEL DI PUSKESMAS PUHJARAK KABUPATEN KEDIRI Krisogonus Ephrino Seran1*. Yogi Bhakti Marhenta2. Salsha Amelia3 *123 Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri Email :krisogonus. seran@iik. ABSTRAK Kepatuhan penderita dalam penggunaan obat antihipertensi dapat mengontrol tekanan darah dan mengurangi resiko komplikasi dalam jangka panjang. Health Belief Model (HBM) merupakan salah satu model dan kerangka kerja konseptual yang paling banyak digunakan dalam penelitian perilaku dan promosi kesehatan. Model ini dapat mengurangi resiko keparahan sebagai dampak dari komplikasi dari suatu penyakit melalui perubahan perilaku yang merupakan salah satu indikator keberhasilan pelaksanaan pengobatan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah ada pengaruh persepsi dalam HBM terhadap perilaku pasien di Puskesmas Puhjarak Kabupaten Kediri. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, jumlah sampel yang digunakan sebanyak 93 responden, pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan analisa data menggunakan uji regresi linear berganda. Hasil penelitian dengan nilai p value 0,000 < 0,05 yang artinya terdapat pengaruh antara variabel vaiabel bebas . ersepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, efikasi diri dan isyarat untuk bertinda. terhadap variabel terikat . erilaku pasien hipertensi dalam penggunaan obat antihipertens. dan nilai R Square . oefisien determinas. 526 artinya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat adalah sebesar 52,6. Kata kunci : health belief model, hipertensi, obat antihipertensi, perilaku kesehatan PATIENT BEHAVIOR IN THE USE OF ANTIHYPERTENSION DRUGS USING THE HEALTH BELIEF MODEL AT PUHJARAK HEALTHCENTER KEDIRI REGENCY ABSTRACT Compliance of hypertension sufferers in using antihypertensive drugs can control blood pressure and reduce the risk of long-term organ damage. Health Belief Model is one of the most widely used conceptual models and frameworks in behavioral research and health This model can reduce the risk of severity as a result of complications from a disease through behavioral changes which are one of the indicators of successful treatment The purpose of this study was to determine whether there was an influence of patient behavior in the use of antihypertensive drugs at the Puhjarak Health Center. Kediri Regency. The research method is analytical observational with a cross-sectional approach, the number of samples used was 93 respondents, data collection was carried out using a questionnaire and data analysis using multiple linear regression tests. The results have been found, namely with a p value of 0. 000 <0. 05, which means that there is an influence between the independent variable . erceived susceptibility, perceived severity, perceived benefit, perceived barrier, self-efficacy and cues to actio. on the dependent variable . ehavior of hypertensive patients in using antihypertensive drug. and the R Square value . etermination Jurnal Teras Kesehatan - 19 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: HTTPS://DOI. ORG/10. 38215/VRPVWZ69 526, meaning that the influence of the HBM variable on the Behavior variable Keyword : Antihypertensive Medication. Health Behavior. Health Belief Model. Hypertension PENDAHULUAN Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi serius secara medis yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, otak, ginjal, dan penyakit lainnya secara signifikan (Khorsandi et al. , 2. , prediksi pada tahun 2021 penderita hipertensi sebesar sebanyak 1,28 miliar pada orang dewasa usia 30-79 tahun di dunia, sebagian besar tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah (Wulandari, et al. , 2. Prevalensi hipertensi di Indonesia 447 penduduk berusia kurang lebih 55 tahun (Praningsih, et al. , 2. , sedangkan penderita hipertensi di Kabupaten Kediri sendiri sejumlah 24. 236 orang yang tersebar di 37 Puskesmas dan penderita hipertensi Puskesmas Puhjarak sebanyak 19,3 % (Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, 2. Penderita hipertensi sangat diharapkan untuk patuh dalam penggunaan obat, hal tersebut terbukti dalam jangka panjang mampu mengontrol tekanan darah sehingga efek yang dihasilkan maksimal (Lo et al. , 2. Hasil observasi awal dari peneliti dengan metode wawancara dengan salah satu tenaga farmasi di puskesmas ditemukan bahwa kesadaran masyarakat akan kepatuhan dalam penggunaan obat masih tergolong rendah. Salah satu indikator rendahnya kesadaran akan kesehatan yaitu ketika seseorang baru akan bertindak setelah menderita penyakit serius (Marhenta, et al. , 2. Health Belief Model (HBM) berfokus pada persepsi individu tentang penyakit, persepsi ini mempengaruhi tindakan dalam menyikapi suatu kondisi penyakit untuk memperoleh Kesehatan terutama pada kepatuhan dalam penggunaan obat (Megawaty & Syahrul, 2. (Pakpahan, et , 2. Penerapan HBM pada penderita hipertensi (Sumiyem et al. , 2. , akan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi, mencegah, dan mengontrol kondisi kesehatan berdasarkan 6 indikator dari HBM (Wahyuni, et al. , 2. , sehinnga diharapkan mampu menurunkan tingkat keparahan dan komplikasi melalui perubahan perilaku yang merupakan salah satu indikator keberhasilan terapi (Batlajery dan Soegijono, 2. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perilaku pasien dalam penggunaan obat antihipertensi dengan menggunakan HBM di Puskesmas Puhjarak Kabupaten Kediri. Penelitian ini diharapkan menjadi kerangka pemikiran utama dalam penelitian tentang perilaku kesehatan, baik untuk menjelaskan bagaimana perilaku kesehatan berubah atau tetap sama, maupun sebagai pedoman dalam mengembangkan upaya intervensi untuk memengaruhi METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik. Lokasi penelitian dilaksanakan di Puskesmas Puhjarak Jl. Papar Pare. Gebyaran. Puhjarak. Kec. Plemahan. Kabupaten Kediri, waktu penelitian tanggal 20 Desember- 18 Januari 2025. Populasi : seluruh pasien hipertensi di Puskesmas Puhjarak. Kriteria inklusi yang ditentukan oleh peneliti dalam teknik purposive sampling yaitu pasien hipertensi yang bersedia menjadi responden, pasien yang mendapatkan peresepan obat antihipertensi di Puskesmas Puhjarak Kabupaten Kediri, pasien hipertensi umur diatas 18 tahun. Uji hipotesis menggunakan regresi linier berganda dengan memperhatikan asumsi-asumsi regresi linier berganda seperti asumsi normalitas, asumsi heteroskedastisitas, asumsi linieritas, dan asumsi autokorelasi untuk memastikan validitas hasil analisis regresi (Iba dan Wardhana, 2. Kuesioner yang digunakan telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas pada 30 responden dengan nilai : Jurnal Teras Kesehatan - 20 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: HTTPS://DOI. ORG/10. 38215/VRPVWZ69 Tabel 1. Hasil uji validitas Indikator Manfaat Hambatan Efikasi diri Isyarat untuk Pernyataan r hitung 0,566 0,823 0,873 0,546 0,574 0,738 0,825 0,867 0,777 0,729 0,716 0,636 0,764 0,734 0,857 0,869 0,867 0,658 0,769 0,632 0,728 0,857 0,867 0,773 0,776 0,851 0,666 0,720 0,637 0,535 0,735 0,640 0,856 0,859 r tabel 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Nilai CronbachAos Alpha Keterangan 0,677 0,853 0,856 0,848 0,845 0,630 0,640 Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Tabel 2. Hasil uji validitas Variabel Kerentanan Keparahan Manfaat Hambatan Efikasi diri Isyarat untuk bertindak Perilaku Jurnal Teras Kesehatan - 21 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: HTTPS://DOI. ORG/10. 38215/VRPVWZ69 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Tabel 3. Karakteristik Pasien Usia Karakteristik Jenis Kelamin Lama Penyakit Lama Pengobatan Terapi Obat >65 Pria Perempuan <5 Tahun >5 Tahun <5 Tahun >5 Tahun Amlodipin 5mg Amlodipin 10mg Captropil 12,5mg Captropil 25mg Nifedipin 10mg HCT 25mg Total Frekuensi Persentase 3,5% 17,6% 24,7% 34,2% 20,0% 18,8% 81,2% 80,0% 20,0% 80,0% 20,0% 29,4% 60,0% 1,2% 7,0% 1,2% 1,2% Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kusioner dengan cara membagikan kusioner secara langsung kepada responden. Sebanyak 93 responden yang terdata selama pengambilan data tetapi sampel yang digunakan dan sesuai kriteria didapatkan sebanyak 85 responden. Pada tabel 3 menunjukan bahwa total responden sebanyak 85 orang. Berdasarkan tabel 1 kelompok usia adalah 56Ae65 tahun . 1%), usia 46Ae55 tahun . 7%). Semakin meningkat usia maka resiko menderita hipertensi semakin tinggi (Sari et al. , 2. (Pratiwi et al. , 2. , dikarenakan terjadi perubahan struktur dan fungsional pada sistem pembuluh darah perifer. Pasien hipertensi di Puskesmas Puhjarak Kabupaten Kediri mayoritas berjenis kelamin perempuan . 2%), sedangkan laki-laki hanya . 8%). Perempuan memiliki resiko lebih tinggi sebanyak 63% (Helmanu, & Ulfa, 2. , bahwa hipertensi memiliki kecendrungan lebih banyak dijumpai pada Perempuan (Nuratiqa et al. , 2. Perempuan memiliki hormon esterogen, jika dalam kondisi normal hormon ini membantu pembuluh darah sehingga tidak mengalami kerusakan namun seiring bertambahnya usia dan memasuki siklus menopause terjadi penurunan kadar esterogen yang meningkatkan risiko hipertensi (Tumanduk, et all, 2019 dalam Marhenta et , 2. Lama penyakit pasien di Puskesmas Puhjarak Kabupaten Kediri Sebagian besar responden . %) telah menderita penyakit kurang dari 5 tahun. Hanya 20% yang mengalami penyakit lebih dari 5 Hasil penelitian Cheristina & Ramli . penelitian lama penyakit paling banyak pada rentang < 5 tahun. Pasien dengan lama penyakit <5 tahun memiliki persepsi kerentanan yang lebih rendah dan mudah terganggu oleh hambatan kecil seperti efek samping obat. Lama pengobatan pasien di Puskesmas Puhjarak Kabupaten Kediri sebanyak 89. 4% responden <5 tahun. Hasil penelitian lama penyakit paling banyak pada rentang <5 tahun. Semakin lamanya terapi dapat memunculkan perasaan bosan dan jenuh, sehingga dalam menjalani pengobatan menjadi salah satu faktor penyebab ketidakpatuhan terutama untuk menjalani terapi (Massa and Manafe, 2. Jurnal Teras Kesehatan - 22 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: HTTPS://DOI. ORG/10. 38215/VRPVWZ69 Jumlah pasien hipertensi yang menggunakaan Obat yang paling banyak digunakan adalah Amlodipin 10 mg . %), diikuti oleh Amlodipin 5 mg . 4%). Obat lain seperti Captopril dan Nifedipin hanya digunakan oleh sebagian kecil responden . urang dari 10%). Terapi Tunggal sering ditemukan karena pasien hipertensi mayoritas termasuk kedalam hipertensi stage 1 (Diwati and Sofyan, 2. Amlodipine . olongan Calsium Channel Blocke. yang termasuk dalam first line terapi yang memiliki efek samping rendah (Haldi et al. , 2. dan tidak mempengaruhi metabolisme tubuh sehingga sering ditemukan Obat dengan frekuesi tertinggi (Tutoli. Rasdiana and Tahala, 2. Uji Asumsi Klasik Tabel 4. Uji Asumsi Klasik Uji Asumsi Klasik Sig Normalitas Residual Linieritas Kerentanan dengan Perilaku 121 >0. 075 >0. Linieritas Keparahan dengan Perilaku Linieritas Manfaat dengan Perilaku 077 >0. 052 >0. Linieritas Hambatan dengan Perilaku Linieritas Efikasi Diri dengan Perilaku Linieritas Isyarat Untuk Bertindak dengan Perilaku Heteroskedastistas Kerentanan dengan Perilaku Heteroskedastistas Keparahan dengan Perilaku 060 >0. 072 >0. Heteroskedastistas Manfaat dengan Perilaku 072 >0. Heteroskedastistas Hambatan dengan Perilaku Heteroskedastistas Efikasi Diri dengan Perilaku Heteroskedastistas Isyarat Untuk Bertindak dengan Perilaku Autokorelasi 110 >0. 059 >0. 054 >0. 060 >0. 052 >0. 953 >0. 000 <0. Berdasarkan tabel 4 pada uji normalitas residual yang didapatkan nilai Asymp. Sig 2-tailed 0. > 0. 05 sehingga nilai residual data berdistribusi normal. Pada uji linieritas masing masing variabel bebas terhadap variabel terikat dengan nilai Deviation from Linearity > 0. 05 sehingga secara signifikan ada hubungan yang liniear antara dua varibel. Uji heteroskedastistas didapatkan hasil dari keseluruhan variabel diperoleh nilai Sig > 0. 05 sehingga tidak terjadi gejala Uji autokorelasi di atas didapatkan hasil nilai sig 0. 000 < 0. 05 sehingga ada pengaruh variabel bebas (HBM) terhadap variabel Terikat (Perilak. Uji Regresi Linier Berganda Tabel 5. Uji Regresi Linier Berganda Regresi Constant Kerentanan Keparahan Manfaat Hambatan Efikasi diri Isyarat untuk bertindak Sig t Sig F Square Persepsi kerentanan merupakan keyakinan tentang kemungkinan mengalami risiko dari suatu penyakit. Seseorang akan mengambil tindakan jika seseorang tersebut menganggap dirinya rentan Jurnal Teras Kesehatan - 23 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: HTTPS://DOI. ORG/10. 38215/VRPVWZ69 terhadap suatu kondisi (Narsih and Hikmawati, 2. Pada hasil uji regresi berganda pada table 5 dapat diketahui bahwa hasil uji pada persepsi kerentanan didapatkan nilai t = 1. 45 (Sig 151>0,. sehingga tidak ada pengaruh persepsi kerentanan dengan perilaku pasien dalam penggunaan obat antihipertensi. Tidak adanya pengaruh dapat dijelaskan berdasarkan data karakteristik jawaban responden, kerentanan yang dirasakan pasien terhadap suatu penyakit masuk dalam kategori sedang ke arah tinggi, yang artinya meskipun ada sebagian besar pasien tetap meminum obat setiap hari, mereka melakukannya lebih karena kebiasaan atau anjuran tenaga kesehatan, bukan karena kesadaran akan risiko kerentanan terhadap komplikasi hipertensi. Mereka tidak menyadari bahwa kondisi hipertensi yang mereka alami dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup, komplikasi serius, atau kematian dini. Banyak dari mereka tidak mengaitkan gejala seperti pusing, stres, atau sulit tidur sebagai tanda bahwa tubuh mereka sedang berada dalam kondisi rentan. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan mereka belum sepenuhnya dilandasi oleh pemahaman akan risiko yang sebenarnya, sehingga persepsi kerentanan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku minum obat. Jika pasien yang yang memiliki persepsi bahwa dirinya rentan mereka terus menjalani terapi secara teratur, hal tersebut menjelaskan bahwa adanya pengaruh antara persepsi kerentanan terhadap perilaku pasien hipertensi (Marhenta et al. , 2. Persepsi keparahan merupakan keyakinan tentang seberapa serius suatu kondisi sakit. Keparahan yang dirasakan mendorong seseorang untuk mencari pengobatan atas penyakit yang dideritanya. Persepsi keparahan didapatkan nilai t = -0. ig 0,563 >0,. yang artinya tidak ada pengaruh antara persepsi keparahan dengan perilaku pasien dalam penggunaan obat antihipertensi. Tidak adanya pengaruh dapat dijelaskan berdasarkan data karakteristik jawaban responden, keparahan yang dirasakan pasien terhadap suatu penyakit masuk dalam kategori sedang ke arah rendah, artinya mereka tidak benar-benar memahami atau menyadari seberapa serius penyakit hipertensi yang mereka derita. Pasien menganggap bahwa kondisi mereka bukanlah sesuatu yang gawat dan dapat diabaikan, mereka merasa masih bisa beraktivitas seperti biasa, meskipun sering mengalami keluhan seperti pusing, kelelahan, atau gangguan tidur. Minimnya kesadaran akan tingkat keparahan penyakit membuat mereka tidak terdorong untuk rutin menjalani terapi pengobatan. Pasien tidak merasakan gejala yang dirasakan. Hipertensi sering disebut Ausilent killerAy karena tidak ada gejala yang nyata, pasien tidak merasa kondisi ini serius (Boakye et al. , 2. Adanya pengaruh antara persepsi keparahan terhadap perilaku pasien hipertensi, jika persepsi keparahan tinggi pada pasien yang menderita hipertensi akan maka mereka akan terus menjalani terapi (Marhenta et al. , 2. Persepsi manfaat merupakan keyakinan terhadap suatu efek yang menguntungkan dalam mengurangi ancaman dalam upaya mencapai kesehatan. Nilai t = -1. 369 (Sig 0,175 >0,. menunjukan tidak ada pengaruh antara persepsi manfaat dengan perilaku pasien dalam penggunaan obat antihipertensi. Tidak adanya pengaruh dapat dijelaskan berdasarkan data karakteristik jawaban responden, manfaat yang dirasakan pasien terhadap suatu penyakit masuk dalam kategori sedang, ada sebagian besar pasien tidak memahami bahwa dengan rutin minum obat, tekanan darah mereka dapat lebih terkontrol, stres dapat berkurang, dan kualitas hidup Karena ketidaktahuan ini, mereka tidak melihat adanya manfaat langsung dari mengonsumsi obat, sehingga enggan untuk melakukannya secara teratur. Banyak dari mereka beranggapan bahwa hipertensi bisa sembuh sendiri atau cukup dikendalikan dengan pola makan tanpa perlu pengobatan. Akibatnya, meskipun manfaatnya besar, tidak adanya pemahaman yang kuat membuat persepsi manfaat tidak mendorong perubahan perilaku (Soesanto & Marzeli, penelitian Marhenta et al. , 2024 bahwa adanya pengaruh antara persepsi manfaat terhadap perilaku pasien hipertensi dalam menggunakan obat antihipertensi, responden percaya bahwa obat yang dikonsumsi memiliki manfaat yang sangat besar sehingga mereka akan patuh dalam melaksanakan terapi. Jurnal Teras Kesehatan - 24 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: HTTPS://DOI. ORG/10. 38215/VRPVWZ69 Persepsi hambatan merupakan keyakinan seseorang terhadap seberapa besar hambatan atau rintangan dalam upaya mencapai kesehatan. Persepsi hambatan didapatkan nilai t = -0. 634 (Sig 0,528>0,. menunjukan tidak ada pengaruh antara persepsi hambatan dengan perilaku pasien dalam penggunaan obat antihipertensi. Tidak adanya pengaruh dapat dijelaskan berdasarkan data karakteristik jawaban responden, hambatan yang dirasakan pasien terhadap suatu penyakit masuk dalam kategori sedang kearah rendah, yang artinya pasien pada dasarnya sudah tidak memiliki motivasi atau kesadaran untuk minum obat, bahkan sebelum mempertimbangkan hambatan yang ada, meskipun ada keluhan mengenai harga obat yang mahal, rasa obat yang tidak enak, efek samping yang ditakuti, atau jadwal minum yang membosankan, hambatan-hambatan ini tidak menjadi faktor utama karena keputusan untuk tidak minum obat sudah terjadi lebih dulu akibat kurangnya pemahaman akan risiko dan manfaat. Hambatan menjadi sekadar penguat dari keputusan yang sudah terbentuk sebelumnya, bukan faktor penentu utama perilaku. Adanya pengaruh persepsi hambatan dimana responden menganggap bahwa adanya hambatan dalam melaksanakan terapi, namun karena ada pengaruh dari manfaat yang dirasakan juga, responden dapat terus patuh dalam menjalani terapi (Marhenta et al. , 2. Persepsi Efikasi Diri merupakan keyakinan seseorang bahwa dia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu dalam upaya mencapai kesehatan. Persepsi efikasi diri didapatkan nilai t = 760 (Sig 0,007 <0,. yang artinya persepsi efikasi diri berpengaruh perilaku pasien hipertensi. Adanya pengaruh dapat dijelaskan berdasarkan data karakteristik jawaban responden, efikasi diri yang dirasakan pasien terhadap suatu penyakit masuk dalam kategori sedang kearah tinggi yang artinya pasien percaya minum obat secara teratur dapat menurunkan tekanan darah, mencegah komplikasi, memperpanjang harapan hidup, dan memperbaiki kualitas hidup secara umum, cenderung lebih disiplin dalam konsumsi obat. Keyakinan ini membentuk sikap positif dan meningkatkan motivasi untuk menjaga rutinitas minum obat, karena mereka merasa yakin akan hasil yang dicapai dari perilaku tersebut. Isyarat untuk bertindak merupakan dorongan yang dilakukan oleh seseorang untuk mengambil suatu tindakan. Isyarat untuk bertindak didapatkan nilai t = 4. 144 (Sig 0,001<0,. yang artinya isyarat untuk bertindak berpengaruh terhadap perilaku pasien, sejalan dengan penelitian (Marhenta et al. , 2. adanya pengaruh dapat dijelaskan berdasarkan data karakteristik jawaban responden, isyarat untuk bertindak yang dirasakan pasien terhadap suatu penyakit masuk dalam kategori sedang kearah tinggi yang artinya adanya alarm pengingat, dukungan keluarga dan teman, serta edukasi dari petugas kesehatan dan media elektronik membantu pasien untuk ingat dan termotivasi dalam mengonsumsi obat secara teratur. Faktor eksternal ini berperan besar dalam membentuk kebiasaan dan penguatan perilaku yang positif, khususnya bagi pasien yang memiliki kepatuhan rendah terhadap jadwal minum obat. Hasil uji regresi linier berganda untuk didapatkan nilai F 14. 436 (Sig 0,001 < 0,. menunjukan terdapat pengaruh antara variabel bebas (HBM) secara simultan terhadap variabel terikat . dengan persamaan regresi liniernya Y=5. 059X1 Oe 0. 015X2 Oe 0. 042X3 Oe 022X4 Oe 0. 024X5 0. 135X6 dan didapatkan nilai R Squere sebesar 0. 526 yang menujukan pengaruh variabel bebas sebesar 52,6%. Penelitian oleh (Marhenta et al. , 2. menunjukan bahwa dalam penggunaan obat antihipertensi HBM memiliki pengaruh pada perilaku pasien. KESIMPULAN Berdasarkan data dari uji regresi linier berganda dilihat nilai F 14. 436 (Sig 0,001 < 0,. dapat disimpulkan terdapat pengaruh antara variabel Health Belief Model (HBM) terhadap perilaku pasien hipertensi dalam penggunaan obat dengan persamaan regresi liniernya Y=5. Oe 0. 015X2 Oe 0. 042X3 Oe 0. 022X4 Oe 0. 024X5 0. 135X6 dan pengaruh variabel bebas (HBM) terhadap variabel terikat (Perilak. adalah sebesar 52,6%. Pentingnya persepsi tentang kerentanan, keparahan, manfaat, hambatan, efikasi diri dan isyarat untuk bertindak pada HBM dalam kasus penyakit hipertensi, seseorang penderita dan keluarga dapat mengambil pilihan yang lebih cerdas, memberikan motivasi dan melakukan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk Jurnal Teras Kesehatan - 25 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 2 | [Jul. DOI: HTTPS://DOI. ORG/10. 38215/VRPVWZ69 mengubah perilaku dalam mengkonsumsi obat dan bagi para profesional kesehatan dapat merancang intervensi yang lebih tepat sasaran. Peneliti selanjutnya agar melanjutkan penelitian dan menambah variabel kontrol sehingga dapat memahami lebih jauh mengenai alasan mengapa masih rendahnya perilaku kesehatan. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada Kepala Dinas Kesehatan dan Puskesmas Puhjarak Kabupaten Kediri yang memberikan ijin dalam pengambilan data serta Civitas Akademika IIK BHAKTA Kediri dalam memberikan dukungan sehingga penelitian ini bisa terselesaikan. DAFTAR PUSTAKA