COGNITIVE-BEHAVIOR MODIFICATION: KEMANJURAN TEKNIK SELF-INSTRUCTION SEBAGAI MEDIA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BERPRESTASI PESERTA DIDIK Fiki Prayogi1. Prio Utomo2 STKIP PGRI Bandar Lampung, 2UIN Fatmawati Soekarno Bengkulu fikiprayogi45@gmail. com, 2prio. um1990@gmail. How to cite . n APA Styl. : Prayogi. Utomo. Cognitive-Behaviour Modification: Kemanjuran Teknik Self-Instruction sebagai Media untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Peserta didik. LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 14 . , pp. Abstract: This research is motivated by the phenomenon of the problem that shows the low achievement motivation of students in school. The purpose of this study was to examine the effectiveness of using self-instruction techniques as a medium to increase student achievement motivation. The research design used preexperimental design, the research method used one group pretest and posttest The research subjects were students of class XI SMA Adiguna Bandar Lampung with a total of 10 students, subjects were selected using purposive sampling technique. The research instrument uses. treatment materials, . achievement motivation scale, and . observation guidelines. Data analysis used nonparametric analysis with Wilcoxom Signed Rank Test statistical test. The results of hypothesis testing show that H0 is rejected and H1 is accepted, this result indicates that there is an increase in students' achievement motivation after being given self-instruction techniques. The conclusion of the research shows that the self-instruction technique is effective and can be used as a medium to increase students' achievement motivation. Keywords: Cognitive-Behavior Modification. Self-Instruction Technique. Achievement Motivation. Students Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena masalah yang menunjukkan motivasi berprestasi peserta didik rendah di sekolah. Tujuan penelitian ini untuk menguji efektivitas penggunaan teknik self-instruction sebagai media untuk meningkatkan motivasi berprestasi peserta didik. Rancangan penelitian menggunakan pre-experimental design, metode penelitian menggunakan one grup prestest and posttest design. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas XI SMA Adiguna Bandar Lampung dengan jumlah 10 peserta didik, subjek dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan. bahan perlakuan, . skala motivasi berprestasi, dan . pedoman observasi. Analisis data menggunakan analisis nonparametrik dengan uji statistik Wilcoxom Signed Rank Test. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan H0 ditolak dan H1 diterima, hasil ini menandakan terdapat peningkatan motivasi berprestasi peserta didik setelah diberi teknik self-intruction. Simpulan hasil dari Cognitive-Behavior Modification: Kemanjuran Teknik Self-Instruction sebagai Media untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Peserta Didik penelitian menunjukkan bahwa teknik self-intruction efektif dan dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan motivasi berprestasi peserta didik. Kata kunci: Cognitive-Behavior Modification. Teknik Self-Instruction. Motivasi Berprestasi. Peserta didik PENDAHULUAN Tingkat prestasi akademik peserta didik Indonesi masih rendah dan masih di bawah rata-rata skor Internasional. Hasil survei Programme for International Studendt Assesment (PISA) tahun 2018 yang diadakan tiga tahun sekali melaporkan hasil capaian peringkat prestasi peserta didik Indonesia masih di bawah rata-rata di bandingkan dengan peserta didik negara lain, pada kemampuan literasi peserta didik Indonesia berada pada urutan 66, kemampuan matematika peserta didik Indonesia urutan 65 dan kemampuan sains peserta didik Indonesia urutan 64 dari 72 Negara. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa skor prestasi peserta didik Indonesia masih dominan berada dalam level di bawah rata-rata . , dapat diindikasikan penyebab prestasi indonesi masih dibawah rata-rata ditengarai masih rendahnya motivasi berprestasi peserta didik Indonesia dibandingkan dengan peserta didik internasional yang mencapai prestasi di atas rata-rata. Pertanyaannya adalah, apa yang menyebabkan motivasi berprestasi peserta didik masih rendah?. Beberapa hasil penelitian mengungkap bahwa penyebab motivasi berprestasi peserta didik rendah dikarenakan beberapa faktor meliputi . Model pembelajaran yang diberikan guru (Suryawan et al. , 2. Regulasi diri . Pola asuh orang tua. Self-esteem (Baldin & Hoffmann, 2. Gender/jenis kelamin (Utomo & Zubaidah, 2. Perihal masalah fenomena motivasi berprestasi peserta didik rendah disebabkan oleh kurangnya kesadaran diri sebagai salah satu faktor internal mengapa motivasi berprestasi mereka rendah, salah satu faktor internal diri adalah faktor psikologis, peran faktor psikologis dapat mengantarkan individu dalam meraih prestasi akademik. Ketika peserta didik memiliki hasrat keinginan diri yang tinggi . aktor interna. , tentu mereka akan mengarahkan dirinya untuk aktif dan tekun menyelesaikan tugas-tugas belajarnya. Seegers, et. al, mengemukakan ketika peserta didik diberi tugas akademik, mereka akan merujuk pada beberapa sumber daya untuk menentukan bagaimana mampu mempelajari dari tugas itu, bagaimana mereka dapat memperkirakan keberhasilan mereka, berapa banyak usaha dan waktu yang akan mereka gunakan pada tugas, dimana hasil dari proses evaluasi ini akan bergantung pada kognisi peserta didik dan keyakinan motivasi akademiknya (Sukariyah & Assaad, 2. Mendorong dan memberikan sebuah pemahaman kepada peserta didik akan pentingnya motivasi berprestasi di dalam belajar sangatlah penting (Utomo et al. , hal ini didasari bahwa motivasi berprestasi adalah keinginan atau sikap untuk mencapai prestasi diri, motivasi berprestasi merupakan pola perencanaan tindakan dan perasaan terhubung dengan perjuangan untuk mencapai standar yang internalisasi dari keunggulan, kekuasaan serta persahabatan (Chetri, 2. Fiki Prayogi. Prio Utomo LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 209-218 Menurut (Singh, 2. mendefinisikan motivasi berprestasi sebagai kecenderungan individu untuk mendapatkan kesuksesan dan memilih keberhasilan atau kegagalan dalam menentukan tujuan akademiknya. Dapat dimaknai bahwa, motivasi berprestasi adalah hasrat keinginan dan harapan capaian yang kemudian menggerakkan diri untuk memperoleh keberhasilan atau prestasi diri melalui perilaku berprestasi. Upaya membantu dan mengatasi motivasi berprestasi peserta didik rendah, strategi treatment yang dapat diberikan yaitu menggunakan pendekatan cognitivebehavior modification dengan teknik self-intruction. Pendekatan ini dirancang untuk mengelola peran kognitif dalam memodifikasi perilaku. Penggunaan teknik self-intruction didasari bahwa pendekatan ini menekankan pembelajaran diri dalam bentuk self-verbalization, proses bantuan tersebut berupa melatih diri dalam bentuk memodifikasi pembelajaran pada diri, mereka nantinya dapat mengatasi masalah yang mereka hadapi lebih efektif (Corey, 2. Teknik self-intruction merupakan sebuah pendekatan yang mana menitikberatkan pada peran kognitif dalam memodifikasi perilaku baru, pendekatan ini lebih menekankan pada upaya memahami suatu peristiwa perilaku kognitif diperlukan perhatian khusus berupa self-talk. Pada penelitian ini, peserta didik akan diberi pelatihan teknik selfinstruction untuk meningkatkan motivasi berprestasinya yang rendah, mereka akan dilatih bagaimana cara memodifikasi pembelajaran diri melalui proses verbalisasi terkait motivasi berprestasinya yang rendah . dan bagaimana membentuk perilaku baru . Pertimbangan penggunaan teknik ini didasari hasil penelitian terdahulu oleh (Putu & Lestari, 2. (Fatimah & Setiawati, 2. (Lotfi et al. , 2. mengungkap temuan bahwa penggunaan eknik self-instruction dapat mengatasi permasalahan yang terjadi pada peserta didik seperti masalah pribadi, belajar, sosial dan karir. Pada penelitian ini, penelitian menggunakan teknik self-instruction untuk menguji seberapa efektifkan teknik self-instruction dalam meningkatkan motivasi berprestasi peserta didik. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah diungkap, ranah tujuan penelitian ini adalah untuk menguji seberapa efektifkan penggunaan teknik selfinstruction sebagai media dalam meningkatkan motivasi berprestasi peserta didik. Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah teknik self-intruction efektif dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan motivasi berprestasi peserta didik SMA. METODE Fokus sasaran subjek penelitian adalah peserta didik SMA Adiguna yang memiliki motivasi berprestasi rendah. Pertimbangan pemilihan subjek penelitian didasari pertimbangan bahwa peserta didik SMA memasuki periode transisi dari masa perkembangan remaja menuju dewasa, pada masa/periode perkembangan tersebut sering kali dijumpai permasalahan belajar salah satunya adalah masalah Cognitive-Behavior Modification: Kemanjuran Teknik Self-Instruction sebagai Media untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Peserta Didik motivasi berprestasi rendah. Rancangan penelitian menggunakan pre-experimental design dengan one grup prestest and posttest design di adaptasi dari (Creswell, (Lodico et al. , 2. Prosedur penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan tes awal atau pre-test . ebelum perlakua. dan tes akhir atau post-test . etelah perlakua. Selanjutnya dari hasil pre-test dan ost-test kemudian dibandingkan, hasil perbandingan itu nanatinya dapat diketahui ada tidaknya perbedaan hasil pre-test dan post-test. Subjek penelitian ini Peserta didik kelas XI SMA Adiguna Bandar Lampung yang berjumlah 10 peserta didik, penentuan subjek penelitian melalui purposive sampling atau berdasarkan pada ciri dan sifat tertentu yaitu peserta didik yang teridentifikasi dan memiliki motivasi berprestasi rendah. Instrumen penelitian . bahan perlakuan, . skala motivasi berprestasi, dan . pedoman observasi . embar pantau diri self-instructio. Pengumpulan data menggunakan skala motivasi berprestasi. Analisis data mengunakan analisis non parametrik, hal ini ditengarai jumlah sampel yang digunakan kecil . umlah sampel sebanyak 10 subje. sehingga tidak dapat dilakukan uji asumsi dari populasi yang diuji apakah terdapat distribusi normal dan ragam. Analisis non parametrik menggunakan uji statistik bebas sebaran dimana analisis ini tidak mensyaratkan sebaran parameter dari populasi apakah normal atau tidak. Proses analisis data menggunakan Wilcoxom Signed Rank Test (WSRT). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil penelitian memaparkan tiga tinjauan temuan penelitian. Pertama, pengujian hipotesis penelitian. Berdasarkan pengujian WSRT, hasil hitung menghasilkan nilai Z sebesar -2. 813 dengan nilai probabilitas sebesar 0. ilai probabilitas < 0,05 maka H0 ditola. Hasil hitung menunjukkan H0 ditolak dan H1 diterima (F hitung asym. Sig. -taile. 0,005 < 0,05 maka H0 ditola. , hal ini berarti teknik self-intruction efektif dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan motivasi berprestasi peserta didik SMA. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan (H1 diterim. teknik self-intruction efektif dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan motivasi berprestasi peserta didik SMA. Kedua, peningkatan motivasi berprestasi peserta didik melalui lembar pantau diri self-instruction menunjukkan . Pada kemampuan merencanakan perilaku baru, terdapat enam subjek berada dalam kategori mampu dalam menginstruksikan diri, dan terdapat empat subjek berada dalam kategori sangat baik/mampu dalam menginstruksikan diri. Pada Kemampuan membimbing diri, tedapat enam subjek berada dalam kategori baik/mampu dalam menginstruksikan diri, dan terdapat empat subjek berada dalam kategori sangat mampu/baik dalam menginstruksikan diri. Pada kemampuan merealisasikan tindakan dari rencana yang dibuat, terdapat lima subjek berada dalam kategori baik/mampu dalam menginstruksikan diri, dan terdapat lima subjek berada dalam kategori sangat Fiki Prayogi. Prio Utomo LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 209-218 baik/mampu dalam menginstruksikan diri. Pada kemampuan merumuskan dan mencapai target yang diinginkan, terdapat enam subjek berada di dalam kategori baik/mampu dalam menginstruksikan diri, dan terdapat empat subjek berada dalam kategori sangat baik/mampu dalam menginstruksikan diri. Pada kemampuan mengatasi hambatan yang muncul, terdapat enam subjek . erada dalam kategori baik/mampu dalam menginstruksikan diri, dan terdapat empat subjek berada dalam kategori sangat baik/mampu dalam menginstruksikan diri. Pada kemampuan membuat alternatif tindakan baru, terdapat enam subjek berada dalam kategori mampu dalam menginstruksikan diri, dan terdapat empat subjek berada dalam kategori sangat baik/mampu dalam menginstruksikan diri. Pada kemampuan merefleksikan diri . elf-verbalizatio. , terdapat tujuh subjek dan terdapat tiga subjek berada dalam kategori sangat baik/mampu dalam menginstruksikan diri. Seluruh peserta didik dapat dengan baik meningkatkan kemampuannya dalam hal . Kemampuan merencanakan perilaku baru. Kemampuan membimbing diri. Kemampuan merealisasikan tindakan dari rencana yang dibuat. Kemampuan merumuskan dan mencapai target yang diinginkan. Kemampuan mengatasi hambatan yang muncul. Kemampuan membuat alternatif tindakan baru. Kemampuan merefleksikan diri . elf-verbalizatio. Ketiga, peningkatan motivasi berprestasi peserta didik melalui pengukuran skala instrumen. Setelah diberi intervensi teknik self-intruction, pengukuran kembali dilakukan . ost-tes. untuk mengetahui seberapa besar peningkatan motivasi berprestasi peserta didik. Hasil pre-test dan post-test dipaparkan pada grafik di bawah ini. Pretest Tinggi = 94-124 Postest Sedang = 62-93 Rendah = 31-61 Grafik 1. Perbandingan Peningkatan Motivasi Berprestasi Peserta didik Pada grafik perbandingan peningkatan motivasi berprestasi peserta didik menunjukkan: . subjek DF, mengalami peningkatan dari rendah dengan skor 60 . re-tes. naik menjadi tinggi dengan skor 94 . ost-tes. subjek AC, mengalami peningkatan dari rendah dengan skor 61 . re-tes. naik menjadi tinggi dengan skor Cognitive-Behavior Modification: Kemanjuran Teknik Self-Instruction sebagai Media untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Peserta Didik 98 . ost-tes. subjek BH, mengalami peningkatan dari rendah dengan skor 60 . re-tes. naik menjadi sedang dengan skor 109 . ost-tes. subjek FR, mengalami peningkatan dari rendah dengan skor 60 . re-tes. naik menjadi tinggi dengan skor 99 . ost-tes. subjek CA, mengalami peningkatan dari rendah dengan skor 60 . re-tes. naik menjadi tinggi dengan skor 96 . ost-tes. subjek AB, mengalami peningkatan dari rendah dengan skor 59 . re-tes. naik menjadi sedang dengan skor 91 . ost-tes. subjek JK, mengalami peningkatan dari rendah dengan skor 61 . re-tes. naik menjadi tinggi dengan skor 104 . ost-tes. subjek GF, mengalami peningkatan dari rendah dengan skor 61 . re-tes. naik menjadi tinggi dengan skor 98 . ost-tes. subjek RY, mengalami peningkatan dari rendah dengan skor 60 . re-tes. naik menjadi tinggi dengan skor 100 . subjek HL, mengalami peningkatan dari rendah dengan skor 61 . re-tes. naik menjadi tinggi dengan skor 92 . ost-tes. Hasil rekapitulasi secara keseluruhan menunjukkan terdapat delapan peserta didik (DF. AC. BH. FG. CA. AB. GK DAN RY) mengalami peningkatan motivasi berprestasi dari kategori rendah menjadi tinggi, dan terdapat dua peserta didik mengalami peningkatan motivasi berprestasi dari kategori rendah menjadi sedang (GF dan HL). Dari hasil perbandingan menunjukkan terdapat peningkatan motivasi berprstasi peserta didik sebelum dan sedudah diberi perlakuan. Pembahasan Hasil temuan penelitian mengungkap bahwa motivasi berprestasi peserta didik meningkat setelah diberi teknik self-intruction, hal ini berarti teknik selfintruction efektif dapat digunakan sebagai media dalam meningkatkan motivasi berprestasi peserta didik. Peningkatan motivasi berprestasi peserta didik diperoleh berdasarkan . pengujian hipotesis penelitian. lembar pantau diri selfinstruction. pengukuran skala instrumen. Pada proses pelaksanaan teknik self-intruction, selama mengikuti mengikuti proses overt external self-guidance, overt self guidance, faded over sefl-guidance, dan covert self-guidance peserta didik laki-laki dan perempuan dapat menunjukkan perkembangan dan kemajuan dalam hal . merencanakan perilaku baru. membimbing diri. merumuskan dan mencapai target yang diinginkan. mengatasi hambatan yang muncul. membuat alternatif tindakan baru. merefleksikan diri . elf-verbalizatio. Pada proses penggunaan teknik selfinstruction, peserta didik diajarkan bagaimana mengganti negative self-statement menjadi positive self-statement melalui verbalisasi diri. Secara rinci, teknik selfinstruction dilakukan dengan cara konselor menjadi contoh atau model dalam melakukan self-talk yaitu berbicara pada diri sendiri . secara lantang dan dalam hati, selanjutnya peserta didik diminta untuk melakukan self-talk yaitu berbicara pada diri sendiri . secara lantang dan kemudian peserta didik membisikkan dalam hati, selanjutnya peserta didik melakukan tugas yang Fiki Prayogi. Prio Utomo LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 209-218 dibuatnya dengan cara memerintahkan diri secara tersembunyi atau dalam hati (Cormier et al. , 2. Pada usaha meningkatkan motivasi berprestasi, peserta didik diajarkan bagaimana mengarahkan jalan pikirannya melalui perencanaan baru melalui proses self-talk, kemudian mengganti pikiran negatif menjadi positif melalui verbalisasi Pada prosesnya, teknik self-instruction sebagai model pembelajaran dengan tujuan untuk mengganti pikiran maladaptif yang mengganggu melalui pembelajaran baru yang telah direncanakan melalui proses restrukturisasi kognitif, kemudian diinternalisasikan dalam bentuk verbalisasi diri. Meichenbaum. Clore dan Gaynor mengemukakan teknik self-intruction sebagai bentuk dasar restrukturisasi kognitif yang memfokuskan perubahan verbalisasi diri (Meichenbaum, 1. atas tingkah laku maladaptif yang muncul dari adanya pengaruh pikiran disfungsional, fikiran disfungsional cenderung dipengaruhi negative self-statement, kemudian pikiran tersebut dapat dimodifikasi dengan positive self-statement melalui modifikasi kognitif perilaku dengan teknik selfinstruction (Clore & Gaynor, 2. Melalui proses verbalisasi diri, peserta didik nantinya dapat dengan baik melakukan self-talk dalam membuat self-statement. Teknik self-instruction diajarkan kepada peserta didik dengan tujuan agara mereka dapat melakukan verbalisasi dari kemudaian membentuk perilaku baru, melalui self-instruction mereka dapat belajar bagaimana individu dapat mengorganisirr pikirannya . spek kogniti. dalam merencanakan tindakan baru. Struktur kognitif ini pada dasarnya sebagai aspek pengorganisasian jalan pikiran yang mengorganisir orang dalam memilih jalan pikirannya (Corey, 2. Teknik self-instruction merupakan model pembelajaran yang mengarahkan individu belajar mengganti negative self-statement menjadi positive self-statemen melalui proses verbalisasi diri kemudian hasilnya diinternalisasikan dalam bentuk perilaku Teknik self-instruction sebagai proses pembelajaran individu agar dapat mengubah distorsi-distorsi kognitif dengan cara menguji ulang pada keyakinan diri, proses ini melalui berbagai bentuk persuasi verbal dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang sampai mampu melakukan untuk diri sendiri (Cormier et al. , 2. Uji keefektifan teknik self instruction untuk meningkatkan motivasi berprestasi peserta didik dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Ranks Test, hasil hitung menunjukkan H0 ditolak dan H1 diterima (F hitung asym. Sig. -taile. 0,005 < 0,05 maka H0 ditola. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan (H1 diterim. teknik self-intruction efektif dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan motivasi berprestasi peserta didik SMA. Hasil penelitian ini memiliki relevansi dan signifikasi terhadap penelitian terdahulu, jika dihubungkan dengan beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa teknik self-instruction teruji efektif dan signifikan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi peserta didik maupun peserta didik. Bebarapa penelitian terdahulu menghasilkan kesimpulan bahwa teknik self-instruction terbukti efektif meningkatkan self- Cognitive-Behavior Modification: Kemanjuran Teknik Self-Instruction sebagai Media untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Peserta Didik regulation peserta didik (Setiawan et al. , 2. terdapat perbedaan peningkatan disiplin diri sisiwa sebelum dan sesudah diberi teknik self-instruction (Nawantara et al. , 2. model konseling teknik self-instruction efektif meningkatkan selfconfident dan memberikan dampak positif bagi Peserta didik (Habiba et al. , 2. terdapat peningkatan percaya diri pada SE . setelah diberi teknik selfinstructional (Indrawati et al. , 2. terdapat peningkatan efikasi diri sosial Peserta didik setelah diberikan treatment (Dewi et al. , 2. Hasil/temuan penelitian ini memiliki relevansi dengan hasil/temuan penelitian terdahulu yaitu adanya perubahan peningkatan sikap dan perilaku lebih baik antara sebelum dan sesudah diberi intervensi . Relevansi yang dapat diungkap dalam penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu capaian hasil perubahan subjek penelitian. Relevansi yang dimaksud adalah. Pertama, relevansi tentang fokus serta target teknik self-instruction sebagai pendekatan yang Kedua, subjek dapat mengidentifikasi dan mengenali masalah dalam dirinya. Ketiga, subjek dapat menganalisis masalah dan faktor penyebabnya. Keempat, subjek dapat memberikan prognosis yaitu solusi dan penyelesaian masalah yang dialami. Kelima, subjek dapat merefleksikan diri melalui proses verbalisasi dalam membentuk perilaku baru. Berdasarkan hasil temuan penelitian, tinjauan teoritik, dan hasil/temuan penelitian terdahulu menunjukkan bahwa teknik self-intruction efektif dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan motivasi berprestasi peserta didik SMA dan dapat dijadikan layanan bimbingan dan konseling. Disamping itu, penggunaan teknik self-instruction dapat digunakan sebagai bahan evaluasi layanan yang telah diberikan di sekolah. Menurut (Utomo. Mahanani. , & Prayogi, 2. mengatakan melalui evaluasi terhadap pelayanan yang diberikan, dapat diterapkan baik di lingkungan sekolah dasar, sekolah menengah, maupun sekolah menengah pertama. Hasil dan temuan penelitian ini menawarkan teknik selfinstruction dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif . dan solusi dalam mengatasi masalah pada individu maupun peserta didik. Tujuan penelitian ini sesuai dengan temuan penelitian dimana menunjukkan teknik self-intruction secara signifikan teruji efektif meningkatkan motivasi berprestasi. SIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian, hasil dan temuan menunjukkan . Teknik self-intruction efektif dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan motivasi berprestasi peserta didik SMA (H0 ditolak dan H1 . Hasil pengukuran skala instrumen menunjukkan terdapat peningkatan motivasi berprestasi . asil pre-test dan . ost tes. Peningkatan motivasi berprestasi peserta didik melalui lembar pantau diri self-instruction menunjukkan seluruh peserta didik dapat dengan baik meningkatkan kemampuannya dalam hal . merencanakan perilaku baru. membimbing diri. merumuskan dan Fiki Prayogi. Prio Utomo LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 209-218 mencapai target yang diinginkan. mengatasi hambatan yang muncul. membuat alternatif tindakan baru. merefleksikan diri . elf-verbalizatio. DAFTAR PUSTAKA