Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Volume 9. No 1. Mei 2025 e-ISSN 2580-0531, p-ISSN 2580-0337 DOI: : https://10. 32696/ajpkm. v%vi%i. Sosialisasi Keamanan. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B. Suherman Jaksa,2 Hardiansyah, 3 Ervani Sultoni, 4 Suhartono 1,2,3,4 Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Muhammadiyah Jakarta. Jakarta. Indoensia *Korespondensi : . rdiahmad941@gmail. ABSTRAK Pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B. di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, khususnya dalam aspek edukasi dan sosialisasi yang belum merata dan efektif. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas program edukasi dalam meningkatkan pemahaman dan kepatuhan masyarakat serta pekerja terhadap prosedur pengelolaan limbah B3. Menggunakan pendekatan kualitatif, data diperoleh melalui pre-test dan post-test, observasi, terhadap peserta sosialisasi dari berbagai sektor. Hasil kegiatan pengabdian menunjukkan bahwa metode pelatihan berbasis partisipatif dan kontekstual, seperti Focus Group Discussion (FGD) dan simulasi lapangan, mampu meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan peserta secara signifikan. Namun, keberhasilan program sangat bergantung pada ketersediaan sumber daya, media edukasi yang sesuai, serta keterlibatan lintas sektor. Oleh karena itu, pemerintah dan instansi terkait disarankan untuk menyusun program edukasi berkelanjutan yang disesuaikan dengan tingkat literasi peserta dan konteks lokal, guna memperkuat sistem pengelolaan limbah B3 yang berorientasi pada perlindungan kesehatan dan lingkungan. Kata kunci: Limbah B3, edukasi lingkungan, pelatihan partisipatif, sosialisasi, pengelolaan limbah ABSTRACT Management of Hazardous and Toxic Waste (B. in Indonesia still faces various challenges, especially in the aspects of education and outreach which are not yet evenly distributed and effective. This service activity aims to assess the effectiveness of educational programs in increasing the understanding and compliance of the community and workers with B3 waste management procedures. Using a qualitative approach, data was obtained through pre-test and post-test, observation of socialization participants from various sectors. The results of service activities show that participatory and contextual-based training methods, such as Focus Group Discussions (FGD) and field simulations, are able to increase participants' knowledge and compliance significantly. However, the success of the program is highly dependent on the availability of resources, appropriate educational media, and cross-sector involvement. Therefore, the government and related agencies are advised to develop sustainable education programs that are adapted to the literacy level of participants and the local context, in order to strengthen the B3 waste management system that is oriented towards protecting health and the environment. Keywords: Hazardous and Toxic Materials waste. Environmental Education. Participatory Training. Socialization. Waste Management Submit: Mei 2025 Diterima: Mei 2025 Publish: Mei 2025 Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC-BY-NC-ND 4. Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) PENDAHULUAN Dalam era industrialisasi yang terus berkembang, pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B. menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh berbagai negara, termasuk Indonesia. Peningkatan industri, fasilitas layanan kesehatan, dan sektor transportasi telah berkontribusi volume limbah B3 yang dihasilkan Limbah mengandung zat kimia berbahaya yang dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan manusia dan lingkungan jika tidak dikelola dengan benar. Misalnya, di Indonesia, pengelolaan limbah B3 masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga rendahnya kesadaran dan pengetahuan pelaksana lapangan terhadap peraturan pengelolaan yang berlaku (Yurnalisdel. Gustav et al. , 2. Secara global. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa sekitar 15% dari seluruh limbah yang dihasilkan oleh fasilitas kesehatan dikategorikan sebagai limbah berbahaya yang berpotensi menular, beracun, atau Di Indonesia sendiri. RS Abdul Moeloek menghasilkan rata-rata 285 kg limbah infeksius per hari dan hanya 65% pengelolaannya yang sesuai standar operasional prosedur (Hasiany et , 2. Fakta ini menunjukkan masih adanya celah dalam pengelolaan limbah medis yang seharusnya menjadi menyebabkan pencemaran tanah, air, dan udara, serta meningkatkan risiko penularan penyakit. Ketidaksesuaian antara praktik di lapangan dan ketentuan regulatif menunjukkan adanya urgensi untuk mengkaji efektivitas sistem pengelolaan limbah B3 yang telah Sejumlah penelitian menyoroti pentingnya edukasi dan sosialisasi Vol. 9 No. Mei 2025 meningkatkan efektivitas pengelolaan limbah B3. Di Puskesmas Sirnajaya, signifikan dalam prosedur pengelolaan limbah B3 yang berdampak pada rendahnya kesadaran tenaga kesehatan (Setyaningtyas & Hartono, 2. Hal serupa juga terjadi di RSUD Dr. Kumpulan Pane, di mana faktor pendanaan menjadi kendala utama dalam penerapan sistem pengelolaan limbah yang sesuai standar (Pulungan et , 2. Sementara itu, evaluasi di sektor industri seperti kilang minyak dan menunjukkan bahwa meskipun regulasi telah ada, implementasinya masih belum merata dan konsisten (Yusnan & Priyambada, 2023. Sapta & Aulia, n. Masalah diidentifikasi dalam konteks ini adalah adanya kesenjangan antara regulasi yang telah diterbitkan oleh pemerintah dan pelaksanaan di lapangan. Permasalahan ini mencakup kurangnya pemahaman infrastruktur pendukung, dan rendahnya Selain itu, kurangnya integrasi antara berbagai pemangku kepentinganAibaik pemerintah, industri, masyarakatAimenghambat terwujudnya sistem pengelolaan limbah B3 yang efektif dan berkelanjutan (Permana & Hardiana, 2024. Dewi et al. Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk pengelolaan limbah B3 di berbagai sektor, mengidentifikasi kendala utama yang dihadapi, serta menawarkan rekomendasi strategis yang relevan berdasarkan temuan-temuan terkini. Secara teoretis, artikel ini berkontribusi Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) dalam pengayaan literatur tentang manajemen limbah B3 di Indonesia. Secara praktis, artikel ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi para pengambil kebijakan, praktisi industri, serta lembaga pelayanan publik dalam memperkuat sistem pengelolaan limbah B3 yang aman, sesuai regulasi, dan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Vol. 9 No. Mei 2025 Bapak. Suherman Jaksa. Pi. SKM. MKM. Ph. D selaku pengajar terkait dengan K3 FKM UMJ. Tempat Pengabdian Adapun kegiaan pengabdian di ikuti oleh karyawan dari PT. Serasi Autoraya. PT Bungasari Flour Mills Indonesia Klinik PKU Muhammadiyah Kitamura yang sebelumnya sudah kami undang. Penyuluhan. Sebelum terlebih dahulu dilakukan kegiatan pretest untuk mengukur pemahaman awal peserta terhadap materi yang akan disampaikan, lalu materi utama disampaikan oleh narasumber yang memiliki latar belakang di bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K. Topik yang dibahas meliputi: Definisi Bahan Berbahaya dan Beracun (B. dan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B. Regulasi yang mengatur tentang Bahan Berbahaya dan Beracun (B. Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B. Klasifikasi Bahan Berbahaya dan Beracun (B. dan klasifikasi limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B. Simbol Bahan Berbahaya dan Beracun (B. dan symbol limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B. Dampak Bahan Berbahaya dan Beracun (B. dan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B. Langkah pencegahan paparan bahan kimia. Tanya Jawab. Peserta diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau berbagi pengalaman terkait Bahan Berbahaya dan Beracun METODE PELAKSANAAN Kegiatan menggunakan metode edukasi dan efektivitas sosialisasi pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B. serta limbah B3 terhadap peningkatan pengetahuan Mengingat pentingnya efisiensi waktu dan keterjangkauan seluruh peserta dari berbagai divisi, metode pelaksanaan dilakukan secara daring melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk webinar interaktif yang memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah antara pemateri dan peserta. Sumber data utama dalam kegiatan pengabdian ini adalah peserta sosialisasi yang terdiri dari masyarakat, petugas kebersihan, atau pegawai instansi yang bersinggungan langsung dengan pengelolaan limbah B3. Kriteria pemilihan peserta meliputi keterlibatan langsung dalam aktivitas yang berpotensi menghasilkan atau mengelola limbah B3 serta kesediaan mengikuti kegiatan sosialisasi secara Jumlah peserta disesuaikan dengan kapasitas kegiatan dalam pengabdian ini. Webinar dilaksanakan selama A2 jam dan terdiri dari beberapa tahapan, yaitu: Pembuka. Acara dimulai dengan sambutan dari tim pengabdian masyarakat, yang menjelaskan tujuan serta urgensi kegiatan pengabdian ini, kemudian dilanjurkan dengan sambutan dari Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) (B. Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B. Interaksi ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman dan mendorong partisipasi aktif. Selanjutnya dilakukan kegiatan posttest untuk mengetahui sejauh mana peserta memahami materi yang telah disampaikan setelah proses penyuluhan. Penutup. Di akhir sesi, webinar kemudian ditutup dengan kesimpulan dan pengetahuan yang diperoleh dalam praktik kerja sehari-hari. Vol. 9 No. Mei 2025 Tingkat Pemahaman dan Kepatuhan Karyawan/Masyarakat. Hasil Pre-Test dan Pos-Test menunjukkan peningkatan signifikan dalam tingkat pemahaman peserta terhadap klasifikasi bahan B3, risiko paparan, dan tata cara pembuangan limbah B3. Rata-rata skor pre-test adalah 61,8 sementara post-test meningkat menjadi 94,5 menunjukkan peningkatan sebesar 32,7 poin. Selain itu, hasil survei peningkatan kepatuhan prosedural penggunaan APD (Alat Pelindung Dir. dan pelabelan limbah. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk Sosialisasi yang Diterapkan. Dari hasil kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa bentuk sosialisasi yang diterapkan dalam pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B. serta limbah B3 mencakup kombinasi pendekatan visual, lisan, dan Metode digunakan adalah pelatihan langsung melalui webinar, diseminasi informasi visual seperti poster dan leaflet, serta media digital berbentuk video edukatif. Selain itu, kegiatan Focus Group Discussion (FGD) diterapkan untuk membangun kesadaran partisipatif dan menyerap umpan balik langsung dari Gambar 2. Hail Pre tes dan Pos tes yang di lakukan oleh Responden Peningkatan ini menunjukkan bahwa sosialisasi yang dilakukan berhasil memperkuat pemahaman terhadap risiko lingkungan dan kesehatan akibat limbah B3. Kendala Sosialisasi Selama proses sosialisasi, terdapat sejumlah kendala yang menghambat Kendala utama adalah minimnya anggaran, yang membatasi frekuensi dan kualitas penyuluhan, serta rendahnya literasi lingkungan di kalangan peserta, terutama pada Gambar 1. Proses Penyampaian Materi dan Diskusi Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) pendidikan dasar. Resistensi internal, terutama dari kalangan pegawai senior atau pekerja lama, juga menjadi hambatan karena mereka merasa sudah memiliki cukup pengalaman dan enggan mengikuti prosedur baru. Jenis Kendala Persentase Teridentifikasi (%) Minim Anggaran 42. Rendahnya Literasi Resistensi Internal 31. Keterbatasan Medi 24. Untuk mengatasi hal ini, pendekatan yang fleksibel dan responsif kapasitas fasilitator dan adaptasi bahasa/media. Strategi Efektif Sosialisasi Berdasarkan analisis lapangan, strategi sosialisasi yang paling efektif adalah yang bersifat partisipatif, di mana peserta tidak hanya menerima informasi tetapi juga dilibatkan dalam simulasi dan diskusi kasus nyata. Pendekatan berbasis kecelakaan kerja dan pencemaran akibat B3 terbukti membangun kesadaran secara lebih mendalam. Selain itu, kolaborasi lintas sektor, misalnya antara Dinas Lingkungan Hidup, instansi kesehatan, dan perusahaan, memperkuat penyampaian materi karena memberikan pandangan holistik dan otoritatif. Pendekatan ini juga sesuai dengan rekomendasi dari jenis kegiatan pengabdian sebelumnya (Creswell. Sugiyono, program edukasi lingkungan sangat bergantung pada keterlibatan aktif semua pemangku kepentingan dan keberlanjutan upaya penyadaran. Vol. 9 No. Mei 2025 Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama akibat kesenjangan antara regulasi yang ada dan implementasi di lapangan. Kendala rendahnya literasi lingkungan, dan resistensi internal menjadi faktor penghambat utama dalam efektivitas pengelolaan limbah B3. Melalui kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi yang dirancang secara partisipatif dan interaktif, seperti pelatihan tatap muka dan Focus Group Discussion (FGD), terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan peserta terhadap prosedur pengelolaan limbah B3. Hal ini dibuktikan oleh peningkatan skor post-test yang signifikan serta perbaikan dalam kepatuhan lapangan. Meskipun demikian, keberhasilan sosialisasi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya, pemilihan media yang sesuai dengan karakteristik peserta, serta keterlibatan lintas sektor. Oleh karena itu, strategi edukasi yang berbasis konteks lokal dan kolaboratif antar pemangku kepentingan sangat disarankan untuk memperkuat sistem berkelanjutan dan berorientasi pada UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya Suherman Jaksa. Pi. SKM. Sc. MKM. Ph. D dan Nurnalia Lusida. SKM. MKM atas segala bentuk bimbingan, nasihat, dan dukungan yang telah diberikan selama proses penyusunan jurnal ini. Ucapan terima kasih juga Universitas Muhammadiyah Jakarta, khususnya Program Studi Magister Fakultas Kesehatan Masyarakat, atas penyediaan KESIMPULAN Kegiatan menegaskan bahwa pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B. di Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) fasilitas ruang belajar dan berbagai bantuan yang sangat mendukung pengabdian ini. Kami juga memberikan penghargaan kepada rekan-rekan tim penulis: Suhartono. Hardiansyah, dan Ervani Sultoni, atas kerja sama yang solid serta dedikasi tinggi dalam menyelesaikan jurnal ini. Semoga hasil dari kegiatan pengabdian ini dapat memberikan kontribusi positif dalam masyarakat, dan menjadi rujukan bagi kegiatan pengabdian berikutnya. Vol. 9 No. Mei 2025 Analysis influencing management of medical solid waste of hazardous and toxic materials (B. at RSUD. Dr. Kumpulan Pane. Tebing Tinggi City on 2024. Jurnal Kesmas dan Gizi, 7. Sapta, & Aulia. Analysis of the management of hazardous and toxic waste (B. in a dairy processing company. Jurnal Geografi dan Sains Ekologi, 6. Setyaningtyas. , & Hartono. Juni . Analysis of hazardous and toxic (B. management at Puskesmas Sirnajaya. International Journal of Science and Society, 6. Yurnalisdel. Februari . Analisis pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B. di Indonesia. Jurnal Syntax Admiration, 4. Yusnan. , & Priyambada. November Evaluasi berbahaya dan beracun (B. pada TPS limbah B3 PT. Kilang Minyak X. Jurnal Pengelolaan Teknologi Lingkungan, 2. , 75Ae Yustina. Juli . Aspek hukum pengelolaan limbah medis pada fasilitas pelayanan kesehatan dan perlindungan terhadap kesehatan lingkungan. Paradigma, 6. REFERENSI