Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) Vol. 7 No. 3 Juli 2023 e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 DOI: 10. 58258/jisip. 5450/http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Film Dokumenter Gumbeng Sebagai Media Pelestarian Kesenian Gong Gumbeng Muchlis Eka Royani1. Eli PurwatiA Universitas Muhammadiyah Ponorogo Article Info Article history: Received : 17 Juny 2023 Publish : 07 July 2023 Keywords: Gumbeng Film Dokumenter Info Artikel Article history: Diterima : 17 Juni 2023 Publis : 07 Juli 2023 Abstract This research aims to find out how the documentary film Gumbeng portrays the art of Gong Gumbeng. The research method used is descriptive qualitative research method. The results of this study found that there are 4 stages in the process of making a Gumbeng documentary film, namely research, pre-production, production, and post-production. Then the dramatization ladder uses a three-act structure, namely the introduction, middle and final In the introductory act, the storytelling focuses on the history and entry of Gong Gumbeng art into Wringinanom village. In the middle act, the story focuses on the village cleansing ritual with the art of Gong Gumbeng and the problem of the existence of the art of Gong Gumbeng which is increasingly disappearing. In the final act, the story focuses on the speaker's hopes for the art of Gong Gumbeng. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana film dokumenter Gumbeng dalam menggambarkan kesenian Gong Gumbeng. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa ada 4 tahap dalam proses pembuatan film dokumenter Gumbeng yaitu riset, pra produksi, produksi, dan pasca Kemudian tangga dramatisasi menggunakan struktur tiga babak yaitu babak pengenalan, babak tengah dan babak akhir. Pada babak pengelanan penceritaan menitikberatkan pada sejarah dan masuknya kesenian Gong Gumbeng ke desa Wringinanom. Pada babak tengah penceritaan menitikberatkan pada ritual bersih desa dengan kesenian Gong Gumbeng dan permasalahan eksistensi kesenian Gong Gumbeng yang semakin hilang. Pada babak akhir penceritaan menitikberatkan pada harapan narasumber terhadap kesenian Gong Gumbeng. This is an open access article under the Lisensi Creative Commons AtribusiBerbagiSerupa 4. 0 Internasional Corresponding Author: Muchlis Eka Royani Universitas Muhammadiyah Ponorogo Email : muchlis643@gmail. Email : eli_purwati@umpo. PENDAHULUAN Gong Gumbeng merupakan salah satu kesenian yang berada di Kabupaten Ponorogo, tepatnya di Desa Wringinanom. Kecamatan Sambit. Kesenian ini lahir dari pertikaian politik antara Panembahan Senopati dengan Ki Ageng Mangir. Pada saat itu Panembahan Senopati mendapatkan cara untuk mengalahkan Ki Ageng Mangir dengan menjadikan Angrong Sekar atau putri Panembahan Senopati sebagai kledhek yang berkeliling kampung dengan iringan musik dari bambu (Murdianto, 2. Kemudian dibuatlah seperangkat alat musik dari bambu oleh Ki Ageng Pemanahan yang merupakan ayah dari Panembahan Senopati. Alat musik tersebut terdiri atas gumbeng, gong bonjor, kendang, dan siter yang kemudian dikenal sebagai kesenian Gong Gumbeng. Kesenian Gong Gumbeng berkembang di seputaran kekuasaan Mataram Islam di Yogyakarta, namun kesenian Gong Gumbeng ini tidak begitu populer di pusat-pusat keraton (Murdianto, 2. Seiring dengan berjalannya waktu. Gong Gumbeng mulai banyak digunakan sebagai kesenian untuk properti ritual di dalam pedesaan di Jawa, salah satunya adalah di Desa Wringinanom Kabupaten Ponorogo. Masuknya kesenian Gong Gumbeng ke Ponorogo berawal dari Irogiri yang bermigrasi dari Mataram ke Wringinanom tepatnya pada tahun 1837 M. Pada saat itu Desa Wringinganom mengalami kekeringan yang mengakibatkan matinya sumber mata air untuk warga. Kemudian atas saran dari Irogiri diadakanlah ritual bersih desa yang dilaksanakan di bulan Selo dengan menampilkan kesenian Gong Gumbeng dan juga kledhek. 2437 | Film Dokumenter Gumbeng Sebagai Media Pelestarian Kesenian Gong Gumbeng (Muchlis Eka Royan. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Kegiatan tersebut bertahan hingga saat ini dan dilaksanakan rutin setiap satu tahun sekali di hari Jumat terakhir di bulan Selo. Seiring perkembangan jaman, kesenian Gong Gumbeng tidak hanya tampil pada acara bersih desa saja, namun juga tampil pada acara seperti Grebeg Suro dan acara lainnya di luar acara bersih desa. Namun saat ini, pagelaran-pagelaran Gong Gumbeng di luar acara bersih desa sudah mulai berkurang drastis. Hal ini menyebabkan popularitas dan eksistensi Gong Gumbeng sebagai sebuah kesenian mulai hilang. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk melestarikan kesenian Gong Gumbeng yang mulai hilang adalah dengan melakukan promosi dan pengenalan kesenian ini kepada masyarakat luas dan generasi muda khususnya. Saat ini banyak sekali media yang dapat dijadikan sebagai sarana pengenalan dan promosi kesenian daerah, salah satunya adalah melalui film dokumenter. Film dokumenter merupakan sebuah film yang merekam suatu peristiwa atau kejadian yang sebenarnya terjadi (Kadek dkk. , 2. Kemampuan film dokumenter dalam merekam kejadian yang sebenernnya dinilai cocok untuk mengenalkan dan mempromosikan kesenian Gong Gumbeng. Sebuah produk film yang berkualitas, idealnya harus memiliki fungsi edukasi dan penerangan kepada khalayak luas (Luthfi, 2. Muatan konten dan pesan dari sebuah film haruslah berkualitas, baik dari segi edukasi maupun informasi agar semua lapisan masyarakat mendapatkan maanfaat. Film dokumenter Gumbeng merupakan sebuah film dokumenter pendek yang berhasil diproduksi oleh mahasiswa llmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Film ini menceritakan tentang sejarah kesenian Gong Gumbeng serta menampilkan proses ritual bersih desa di Wringinanom yang menampilkan kesenian Gong Gumbeng. Berdasarkan permasalahan di atas yang menjadi rumusan masalah penelitan ini adalah bagaimana film dokumenter Gumbeng dalam menggambarkan kesenian Gong Gumbeng dan ritual bersih desa yang menampilkan kesenian Gong Gumbeng. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana film dokumenter Gumbeng dalam menggambarkan kesenian Gong Gumbeng dan ritual bersih desa yang menampilkan kesenian Gong Gumbeng. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dimana objek penelitian dideskripsikan atau digambarkan sesuai dengan kondisi yang terjadi. Metode ini dirasa sesuai untuk menjawab rumusan masalah dari penelitian ini yaitu bagaiamana film dokumenter Gumbeng dalam menggambarkan kesenian Gong Gumbeng. Data yang diperoleh ditampilkan apa adanya tanpa perlakuan-perlakuan khusus ataupun proses manipulasi (Rusandi & Rusli, 2. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumen. Dimana yang menjadi data primer dalam penelitian ini adalah wawancara dan observasi terhadap paguyuban kesenian Gong Gumbeng di desa Wringinanom serta sutradara dan crew film dokumenter Gumbeng. Kemudian yang menjadi data sekunder dalam penelitian ini adalah dokumen-dokumen yang didapat selama proses produksi film dokumenter Gumbeng. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Tahapan Produksi Film Terdapat beberapa tahapan dalam proses produksi film dokumenter yaitu riset, praproduksi, produksi, dan pasca produksi (Kochberg, 2. Tahap riset film dokumenter pendek Gumbeng dilakukan selama kurang lebih 2 bulan. Selama proses riset dilakukan wawancara juga observasi kepada kelompok kesenian Gong Gumbeng desa Wringinanom dan juga penggalian data melalui literatur tentang Gong Gumbeng. Dari data yang telah didapat kemudian dapat ditentukan akan seperti apa arah penceritaan dan bentuk dari film dokumenter yang akan di buat. Setelah tahap riset selesai, maka selanjutnya adalah tahap pra produksi. Dalam tahap praproduksi dilakukan pemilihan bentuk dokumenter yang akan ditampilkan dan menyusun Bentuk ekspository dipilih untuk film dokumenter Gumbeng dalam menyampaikan pesan kepada penonton. Bentuk ekspository menggunakan presenter ataupun narasi berupa teks untuk menyampaikan pesan secara langsung (Tanzil dkk. , 2. Setelah proses riset selesai 2438 | Film Dokumenter Gumbeng Sebagai Media Pelestarian Kesenian Gong Gumbeng (Muchlis Eka Royan. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 dilakukan dan bentuk dokumenter yang akan ditampilkan telah dipilih maka selanjutnya adalah menyusun semua ke dalam skenario agar nantinya terbentuk susunan cerita yang utuh. Nantinya skenario yang telah disusun akan menjadi panduan bagi pembuatan film (Arya dkk. , 2. Selanjutnya adalah tahap produksi, dimana pada tahap ini dilakukan pengambilan gambar sesuai dengan skenario yang telah dibuat pada tahap pra produksi. Pada tahap produksi ini dilakukan pengambilan gambar pentas kesenian Gong Gumbeng dalam upacara bersih desa. Selain itu juga dilakukan pengambilan gambar prosesi upacara bersih desa. Pada tahap produksi ini juga dilakukan pengambilan gambar wawancara terhadap narasumber film dokumenter Gumbeng yaitu Darmanto sebagai ketua paguyuban kesenian Gong Gumbeng desa Wringinanom dan Murdianto sebagai dosen sekaligus peneliti dari Institut Sunan Giri Ponorogo. Setelah tahap produksi selesai dilakukan maka selanjutnya adalah tahap pasca produksi. Pada tahap ini ada beberapa proses yang harus dilakukan antara lain logging, transkrip wawancara, menyusun editing script, dan editing. Setelah gambar selesai di ambil pada tahap produksi maka selanjutnya dilakukan logging pada gambar yang telah diambil. Logging dilakukan dengan memberikan keterangan visual dari gambar yang diambil serta memberikan time code. Selain logging, pada tahap pra produksi juga dilakukan transkrip dari hasil wawancara yang telah Tujuan dari membuat transkrip ini adalah untuk menentukan perkataan atau statement apa dari narasumber yang akan ditampilkan dalam film dokumenter. Setelah proses logging dan transkrip wawancara selesai dilakukan maka selanjutnya dilakukan penyusunan editing script. Setelah selesai disusun kemudian editing script diserahkan kepada editor sebagai panduan dalam proses editing. Tangga Dramatisasi Untuk memudahkan penonton dalam memahami isi cerita sebuah film maka perlu adanya sebuah tangga dramatisasi. Tangga dramatisasi ini sangat penting dalam mempengaruhi tingkat emosional dan reaksi penonton (Syam dkk. , 2. Dalam film dokumenter Gumbeng ini tangga dramatisasi yang digunakan adalah struktur tiga babak. Babak tersebut antara lain adalah babak perkenalan, babak tengah, dan babak akhir. Babak pengenalan film dokumenter Gumbeng di awali dengan scene yang memperlihatkan pentas kesenian Gong Gumbeng. Kemudian narator menjelaskan tentang kesenian Gong Gumbeng yang ada di desa Wringinanonm Kabupaten Ponorogo. Pada babak ini Darmanto sebagai ketua paguyuban Gong Gumbeng desa Wringinanom menjelaskan tentang sejarah kesenian Gong Gumbeng. Ia menjelaskan bahwa kesenian ini merupakan hasil dari pertikaian antara Panembahan Senopati dan Ki Ageng Mangir. Selain itu pada babak ini juga menampilkan Murdianto yang menjelaskan tentang kesenian Gong Gumbeng yang pada saat itu digunakan sebagai alat konsolidasi politik oleh Panembahan Senopati. Pada babak ini juga kedua narasumber pada film dokumenter Gumbeng Murdianto dan Darmanto juga menjelaskan bagaiamana masuknya kesenian Gong Gumbeng ke desa Wringinanom. Secara garis besar, babak pengenalan pada film dokumenter Gumbeng menjelaskan tentang sejarah Gong Gumbeng serta masuknya kesenian Gong Gumbeng ke desa Wringinanom. Babak tengah merupakan klimaks dari film dokumenter Gumbeng dimana pada babak ini menjelaskan tentang kesenian Gong Gumbeng pada acara bersih desa di Wringinanom serta eksistensi kesenian Gong Gumbeng yang semakin hilang. Babak ini diawali dengan scene yang memperlihatkan kondisi telaga Mantili yang merupakan tempat acara bersih desa. Setelah itu dilanjut dengan scene yang memperlihatkan warga yang sedang menyembelih kambing untuk acara bersih desa serta terdapat scene yang memperlihatkan warga desa bergotong royong menyiapkan acara bersih desa termasuk menyiapkan peralatan Gong Gumbeng . Pada babak ini Darmanto dan Murdianto menjelaskan tentang bagaiamana prosesi ritual bersih desa serta bagaimana kesenaian Gong Gumbeng bisa menjadi bagian dalam ritual bersih desa. Kemudian scene dilanjut dengan narator yang menjelaskan eksistensi kesenian Gong Gumbeng yang semakin hilang. Setelah itu scene berpindah ke Murdianto yang menjelaskan mengapa kesenian Gong Gumbeng eksistensinya semakin berkurang dan juga kurang begitu populer di kalangan Pada babak ini Darmanto sebagai ketua paguyuban Gong Gumbeng juga 2439 | Film Dokumenter Gumbeng Sebagai Media Pelestarian Kesenian Gong Gumbeng (Muchlis Eka Royan. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 menjelaskan bagaiamana regenerasi yang dilakukan di paguyuban Gong Gumbeng desa Wringinanom. Babak akhir ini merupakan babak penutup dalam film dokumenter Gumbeng. Diawali dengan scene yang memperlihatkan pentas kesenian Gong Gumbeng pada acara bersih desa Wringinanom serta menampilkan scene para penari tayub yang sedang menari pada acara bersih desa yang diiringi dengan kesenian Gong Gumbeng. Pada babak ini Darmanto dan Murdianto juga menyampaikan harapan mereka terhadap kesenian Gong Gumbeng. Mereka berharap bahwa kesenian ini agar terus lestari dan tidak punah akibat perkembangan jaman. KESIMPULAN Film dokumenter berjudul Gumbeng menitikberatkan pada kesenian Gong Gumbeng dalam upacara bersih desa Wringinanom serta permasalahan eksistensi yang dialami oleh kesenian Gong Gumbeng. Terdapat empat tahapan dalam proses produksi film dokumenter Gumbeng yaitu tahap riset, pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Kemudian pada penceritaannya film dokumenter Gumbeng menggunakan struktur dramatisasi tiga babak yaitu babak pengenalan, babak tengah, dan babak akhir. Pada babak pengenalan secara garis besar menceritakan tentang sejarah dan masuknya kesenian Gong Gumbeng ke desa Wringinanom. Pada babak tengah yang merupakan babak klimaks dalam film ini menceritakan tentang ritual bersih desa yang menggunakan Gong Gumbeng dan juga permasalahan eksistensi yang semakin hilang. Pada babak akhir film dokumenter Gumbeng menceritakan tentang harapan narasumber terhadap kesenian Gong Gumbeng. DAFTAR PUSTAKA