Tahun . Vol. Nomor . Bulan (Novembe. Halaman . https://doi. org/10. 53544/sapa/v10i2. Relasi Agama dan Masyarakat dalam Transformasi Sosial Indonesia: Dari Masyarakat Tradisional. Masyarakat Transisi, ke Masyarakat Modern, konteks Sosiologi Agama Rosalia Enny Astuti1* Herkulana Mekarryani Soeryamassoeka2 Shirley Saputra3 Irena Balawala4 Petrus APasalima5 Priscilla Mulyati Suganda6 STAKAT Negeri Pontianak. Pontianak, indonesia Abstrak Penulis koresponden Nama : Rosalia Enny Astuti Surel : rosalia. enny@gmail. ManuscriptAos History Submit : September 2025 Revisi : Oktober 2025 Diterima : November 2025 Terbit : November 2025 Kata-kata kunci: Kata kunci 1 Agama Kata kunci 2 Masyarakat Kata kunci 3 Transformasi Sosial Kata kunci 4 Sosiologi Agama Copyright A 2025 STP- IPI Malang Penelitian ini bertujuan menganalisis relasi antara agama dan masyarakat dalam konteks transformasi sosial Indonesia, dengan fokus pada bagaimana Gereja Katolik berinteraksi dengan perubahan sosial dari masyarakat tradisional, masyarakat transisi, hingga masyarakat modern Penelitian menggunakan metode literature review. Analisis dilakukan melalui pembacaan mendalam, kategorisasi tematik, dan sintesis konseptual berdasarkan kerangka sosiologi agama klasik dan Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam masyarakat tradisional. Gereja Katolik berperan sebagai institusi integratif yang menyatu dengan adat melalui inkulturasi dan praktik komunal. Dalam masyarakat transisi. Gereja berfungsi sebagai agen mediasi sosial yang menjembatani nilai tradisional dan modern, sekaligus memperkuat pendidikan dan pemberdayaan awam. Sementara itu, di masyarakat modern perkotaan. Gereja mengalami transformasi digital, diferensiasi institusional, dan perluasan peran dalam ruang publik plural. Kesimpulannya, relasi agama dan masyarakat bersifat dinamis, adaptif, dan terus berubah mengikuti struktur sosial yang berkembang. Abstract Corresponding Author Name : Rosalia Enny Astuti E-mail : rosalia. enny@gmail. ManuscriptAos History Submit : September 2025 Revision : October 2025 Accepted : November 2025 Published : November 2025 Keywords: Keyword 1 Religion Keyword 2 Social Transformation Keyword 3 Society Keyword 4 Sociology of religion Copyright A 2025 STP- IPI Malang This study aims to analyze the relationship between religion and society in the context of social transformation in Indonesia, focusing on how the Catholic Church interacts with social changes from traditional societies, transitional societies, to modern urban societies. The study uses a literature review method. The analysis is conducted through in-depth reading, thematic categorization, and conceptual synthesis based on classical and contemporary sociology of religion frameworks. The results of the study show that in traditional societies, the Catholic Church acts as an integrative institution that blends with customs through inculturation and communal practices. In transitional societies, the Church functions as a social mediation agent that bridges traditional and modern values, while strengthening education and lay empowerment. Meanwhile, in modern urban societies, the Church is undergoing digital transformation, institutional differentiation, and expansion of its role in the pluralistic public sphere. In conclusion, the relationship between religion and society is dynamic, adaptive, and constantly changing in line with evolving social structures. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Enny Astut. Relasi Agama dan Masyarakat dalam Transformasi Sosial Indonesia Pendahuluan Dalam beberapa dekade terakhir. Indonesia mengalami transformasi sosial yang signifikan sebagai akibat modernisasi, urbanisasi, perkembangan teknologi komunikasi digital, serta intensifikasi arus globalisasi. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada dimensi ekonomi dan politik, tetapi juga memengaruhi pola hubungan sosial, cara masyarakat memaknai tradisi, serta praktik keberagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk secara agama dan budaya, memahami relasi antara agama dan masyarakat menjadi penting untuk membaca dinamika perubahan sosial kontemporer (Atok, 2025. Yuswanto, 2. Sosiologi agama memandang agama bukan sekadar kumpulan ajaran normatif, tetapi sebagai fenomena sosial yang beroperasi dalam struktur, relasi, dan dinamika masyarakat. Studi-studi mutakhir menunjukkan bahwa praktik keagamaan di Indonesia terus bertransformasi seiring perubahan konteks sosial, termasuk meningkatnya keterlibatan agama dalam wacana publik serta adaptasinya terhadap teknologi digital (Buru, 2. Agama tetap menjadi elemen penting bagi keamanan simbolik masyarakat, tetapi bentuk dan ekspresi keberagamaannya berkembang mengikuti konteks sosial yang berubah (Payong. Gokok & Atasoge, 2. Penelitian antropologis dan sosiologis terkini juga menegaskan bahwa batas antara agama dan budaya dalam masyarakat tradisional masih kerap kabur. Melalui studi-studi tentang praktik keagamaan lokal seperti slametan, ziarah, dan ritual komunal, para peneliti menemukan bahwa tradisi lokal berkelindan dengan doktrin keagamaan, membangun identitas dan harmoni sosial dalam komunitas (Sugiarto et al. , 2022. Laksono & Lelono. Agama berfungsi sebagai perekat sosial yang memperkuat kohesi komunitas, terutama dalam masyarakat agraris, pesisir, dan masyarakat adat di berbagai wilayah Nusantara (Acin et al. , 2. Namun, struktur sosial Indonesia tidaklah statis. Modernisasi, industrialisasi, urbanisasi, serta perluasan akses pendidikan telah menghasilkan masyarakat yang semakin kompleks dan heterogen. Studi sosiologi kontemporer menunjukkan adanya pergeseran dari pola hubungan sosial komunal yang bercirikan kedekatan emosional menuju pola yang lebih rasional, individual, dan fungsional sebagaimana umum dalam masyarakat modern (Kurniawan, 2024. Kandu & Bito, 2. Dalam konteks ini, pengalaman keberagamaan menjadi semakin subjektif, beragam, dan dipengaruhi oleh pasar, teknologi digital, serta dinamika identitas global (Leki et al. , 2. Agama tidak lagi menjadi satu-satunya sumber makna sosial, tetapi berinteraksi dengan berbagai sistem pengetahuan, institusi, dan wacana Meski demikian, modernitas tidak secara otomatis menggeser agama dari ruang publik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa agama justru mengalami revitalisasi dan memainkan peran lebih aktif dalam kehidupan publik melalui gerakan sosial, wacana moral, kampanye digital, dan keterlibatan dalam isu-isu kebangsaan (Papay et al. , 2020. Yuswanto, 2. Dalam konteks Indonesia, sejumlah pemikir menekankan pentingnya menjadikan agama https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Enny Astut. Relasi Agama dan Masyarakat dalam Transformasi Sosial Indonesia sebagai sumber nilai etis yang mendukung demokrasi, pluralisme, dan keadilan sosial, bukan sekadar simbol identitas yang rawan dipolitisasi (Hang et al. , 2024. Viktorahadi et al. , 2. Dengan menyoroti tiga tipologi social masyarakat tradisional, masyarakat transisi, dan masyarakat modern artikel ini mengkaji bagaimana agama berinteraksi dengan perubahan sosial di Indonesia. Dalam masyarakat tradisional, agama biasanya menyatu dengan adat dan struktur komunal. dalam masyarakat transisi, agama menjadi arena tarik-menarik antara nilai-nilai modern dan warisan budaya lokal. sedangkan dalam masyarakat modern, agama lebih dipahami sebagai identitas pilihan, gaya hidup religius, sekaligus aktor aktif dalam ruang publik digital. Oleh karena itu, pertanyaan sentral yang perlu dijawab adalah bagaimana agama membentuk, merespons, dan memengaruhi pergeseran sosial dari masyarakat tradisional menuju masyarakat transisi hingga masyarakat modern menurut perspektif sosiologi agama. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan . ibrary researc. dengan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menelaah konsep, teori, dan temuan penelitian terkait hubungan agama dan masyarakat dalam konteks transformasi sosial Indonesia. Seluruh data diperoleh dari sumber tertulis seperti buku akademik, tulisan pemikir Indonesia, serta artikel jurnal nasional dan internasional terbitan 2021Ae2025 yang relevan dengan tema sosiologi agama dan perubahan sosial. Literatur dipilih berdasarkan relevansi, kebaruan, dan kredibilitas Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran sistematis pada basis data akademik. Proses ini awalnya mengidentifikasi sejumlah artikel yang dianggap relevan. Setelah melalui proses penyaringan ketat berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, hanya 12 artikel yang ditetapkan sebagai literatur utama yang akan dianalisis secara mendalam. Data yang terkumpul diolah melalui proses pembacaan mendalam, pencatatan tematik, dan kategorisasi berdasarkan tipologi masyarakat tradisional, transisi, dan modern. Analisis data dilakukan dengan teknik deskriptif-analitis melalui tahapan analitik Tahapan ini meliputi: membaca secara menyeluruh . untuk memahami dilanjutkan dengan koding untuk memberi label pada unit data yang relevan. kemudian dilakukan kategorisasi dengan mengelompokkan kode-kode tersebut menjadi pola atau tema utama. dan diakhiri dengan sintesis konsep untuk mengidentifikasi pola hubungan serta menafsirkan temuan. Hasil sintesis ini bertujuan menghasilkan pemahaman komprehensif mengenai dinamika interaksi antara agama dan masyarakat dalam perubahan sosial di Indonesia. Perlu ditegaskan, metode library research ini memiliki keterbatasan karena hanya berfokus pada analisis data sekunder yang sudah dipublikasikan, sehingga tidak mencakup pengumpulan data empiris lapangan secara langsung. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Enny Astut. Relasi Agama dan Masyarakat dalam Transformasi Sosial Indonesia Hasil dan Pembahasan Literatur yang dikaji mencakup artikel jurnal nasional dan internasional yang membahas tema-tema seperti modernisasi agama, digitalisasi praktik keberagamaan, dinamika identitas religius, relasi agamaAebudaya, serta pergeseran nilai dalam masyarakat tradisional, transisi, dan modern. Berikut adalah artikel yang dipilih untuk di analisis pada penelitian ini. Author (Yea. (Binawan, (Mcdaniel & Mcdaniel, (Borgias, 2. (Stevanus & Iswandir, 2. (Berutu, 2. (M & Derung, (Kandu & Bito, (Krisdiyanti et , 2. (Zai et al. Tabel 1. Artikel Terpilih Focus / Variable Main Findings Sikap Gereja Uskup Katolik Indonesia bersikap Katolik terhadap adaptif terhadap modernitas, politik, hukum, dan memperkuat peran gereja dalam perubahan sosial pendidikan, etika publik, dan advokasi sosial. Kajian Modernitas. Agama-agama resmi . ermasuk organisasi agama. Katoli. menyesuaikan diri dengan relasi agamaAe tuntutan negara, modernisasi, dan ekspresi religius masyarakat. Studi kasus. Pertumbuhan Gereja berperan sebagai agen Katolik di transformasi sosial melalui Manggarai. pendidikan, pendampingan gerejaAebudaya ekonomi, dan inkulturasi budaya. Kualitatif Ae Praktik Terdapat sinkretisme. Gereja penyembuhan lokal menanggapi dengan pendekatan vs ajaran Katolik pastoral dan pendidikan iman untuk menjaga ortodoksi dalam konteks lokal. Studi Peran gereja Gereja mendorong transformasi sebagai agen sosial melalui pendidikan, komunitas basis, advokasi lingkungan, dan pelayanan sosial. Survei Peran Orang Muda OMK memiliki potensi kuat dalam Katolik (OMK) advokasi sosial, pelayanan sebagai agen komunitas, dan peran digital dalam misi gereja modern. Studi Katolik. Ajaran Katolik berdialog dengan modernitas, dan era modernitas. digitalisasi membantu pewartaan tetapi memunculkan tantangan etis dan relasional. Kualitatif Peran gereja di Gereja (Katolik & Kriste. masyarakat plural mempromosikan dialog lintas agama dan terlibat dalam penyelesaian masalah sosial seperti kemiskinan & intoleransi. Kualitatif Ae Tantangan sosialGereja merespons isu kemiskinan, politik bagi gereja polarisasi politik, dan krisis nasional melalui pastoral sosial dan pendidikan. Method Kualitatif Ae Analisis https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Enny Astut. Relasi Agama dan Masyarakat dalam Transformasi Sosial Indonesia (Wuli, 2. Kajian Peran kerasulan awam dalam (Saragih et al. Studi Relasi agamaAe budaya di Indonesia (Qurtuby, 2. Analisis Katolik & Muslim di Asia Tenggara. Umat awam memainkan peran strategis dalam membangun kesejahteraan komunitas, partisipasi politik, dan pelayanan Agama memengaruhi praktik budaya, dan sebaliknya budaya lokal memengaruhi bentuk ekspresi religius masyarakat, termasuk Katolik. Katolik Indonesia memainkan peran signifikan dalam dialog antaragama, stabilitas politik, dan pembangunan sosial dalam masyarakat modern. Telaah terhadap 12 artikel dalam tabel menunjukkan bahwa modernisasi dan digitalisasi telah membawa perubahan signifikan terhadap cara masyarakat memahami, mempraktikkan, dan mengekspresikan agama. Berbagai penelitian menemukan bahwa ruang digital menciptakan bentuk keagamaan baru yang lebih personal, fleksibel, dan cair, namun juga meningkatkan fragmentasi otoritas dan potensi polarisasi. Dari analisis literatur, diperoleh 5 tema utama yang menggambarkan agama dan masyarakat dalam transformasi sosial Indonesia, yaitu: Kerangka Sosiologi Agama dalam Menganalisis Relasi Agama dan Masyarakat Analisis relasi agama dan masyarakat dalam konteks Gereja Katolik Indonesia memerlukan kerangka sosiologi agama yang komprehensif, karena hubungan keduanya terus berubah mengikuti dinamika sosial, politik, budaya, dan teknologi. Artikel Binawan . dan Zai et al. menunjukkan bagaimana struktur kepemimpinan Gereja, dokumen sosial Gereja, dan keputusan para uskup berfungsi sebagai mekanisme institusional dalam merespons perubahan sosial-politik. Gereja tampil sebagai lembaga yang memiliki otoritas moral, pengatur nilai, serta aktor yang berinteraksi dengan negara, hukum, dan masyarakat, sejalan dengan teori klasik Durkheim bahwa agama merupakan pilar solidaritas sosial dan penjaga ketertiban moral masyarakat. Mcdaniel & Mcdaniel . dan Kandu & Bito . , dalam pandangan sosiologi modern, modernisasi memunculkan diferensiasi antara institusi agama, politik, dan ekonomi. Temuan McDaniel menunjukkan bahwa Gereja Katolik Indonesia harus melakukan penyesuaian struktural terhadap birokratisasi negara dan perubahan pola keberagamaan modern, seperti meningkatnya rasionalitas, pendidikan, dan digitalisasi. Sementara itu, artikel dari Magistra menegaskan bahwa modernitas tidak membuat agama kehilangan relevansi, tetapi memaksa Gereja bertransformasi, termasuk melalui penggunaan media digital, pelayanan online, dan adaptasi teologis terhadap isu-isu kontemporer seperti etika digital dan disrupsi teknologi. Kerangka ini sejalan dengan teori Berger tentang pluralisasi ruang publik dan transformasi otoritas keagamaan. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Enny Astut. Relasi Agama dan Masyarakat dalam Transformasi Sosial Indonesia Dari artikel Borgias . Borgias . , dan Wuli . terlihat bahwa Gereja Katolik memainkan peran strategis dalam pendidikan, pemberdayaan ekonomi, advokasi lingkungan, serta pembentukan modal sosial komunitas. Gereja tidak hanya memelihara kehidupan spiritual, tetapi juga menggerakkan transformasi sosial melalui komunitas basis, keterlibatan kaum muda, dan kerasulan awam. Temuan ini sejalan dengan teori Weber tentang hubungan antara etika agama dan perubahan sosial, serta teori-teori kontemporer tentang peran civil society dalam pembangunan masyarakat. Relasi Agama dan Masyarakat dalam Masyarakat Tradisional Dalam masyarakat tradisional Indonesia, relasi antara agama dan masyarakat memiliki karakter yang sangat berbeda dibandingkan masyarakat modern. Masyarakat tradisional dicirikan oleh kuatnya ikatan komunal, dominannya nilai-nilai adat, serta keterpaduan antara sistem kepercayaan, struktur sosial, dan praktik budaya. Pertumbuhan Gereja Katolik di Borgias . dan Stevanus & Iswandir . , tampak bahwa agama, khususnya Gereja Katolik, hadir sebagai bagian dari jaringan sosial-budaya yang telah lama tertanam dalam kehidupan masyarakat. Relasi ini tidak bersifat konfrontatif, tetapi lebih bersifat integratif melalui proses inkulturasi dan interaksi simbolik antara ajaran Katolik dan tradisi lokal. Dalam masyarakat tradisional, agama memiliki kedudukan sebagai sumber makna, moralitas, dan tatanan sosial. Sebagaimana dijelaskan Durkheim dalam teori sosiologi agama, agama berfungsi mengikat masyarakat melalui ritual kolektif, simbol, dan solidaritas Temuan Borgias . memperlihatkan bagaimana Gereja Katolik menyesuaikan diri dengan struktur adat yang sudah mapan melalui penggunaan bahasa lokal, simbol-simbol budaya, dan penerapan pendekatan pastoral berbasis komunitas. Gereja tidak hadir sebagai institusi eksternal, tetapi sebagai bagian dari perkembangan sosial-budaya setempat (Qurtuby, 2. Hal ini tampak dalam proses inkulturasi liturgi, perayaan keagamaan yang menyatu dengan ritus adat, serta bahasa simbolik yang diformulasikan ulang mengikuti nilai Relasi Agama dan Masyarakat dalam Masyarakat Transisi Masyarakat transisi merupakan fase ketika struktur sosial tidak sepenuhnya tradisional, tetapi juga belum sepenuhnya modern. Dalam konteks Indonesia, fase ini ditandai oleh munculnya pendidikan formal, mobilitas sosial yang meningkat, kontak antarbudaya yang semakin intens, penetrasi lembaga keagamaan yang lebih terstruktur, dan interaksi baru antara nilai adat dengan nilai religius yang dibawa institusi modern seperti Gereja Katolik. Dalam masyarakat transisi, hubungan agama dan masyarakat mengalami pergeseran dari integrasi total menuju diferensiasi fungsional (Saragih et al. , 2. Jika dalam masyarakat tradisional agama melekat penuh pada adat dan struktur sosial komunal, pada fase transisi agama mulai berdiri sebagai lembaga sosial yang memiliki fungsi yang lebih jelas, terstruktur, dan formal. Artikel Binawan . dan Zai et al. menunjukkan bahwa Gereja Katolik di Indonesia pada fase perkembangan sosial ini mulai memperkuat institusionalisasi, misalnya melalui pendidikan pastoral, konsolidasi keuskupan, dan penekanan pada ajaran sosial Gereja. Gereja tidak lagi hanya menyatu dengan adat lokal, https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Enny Astut. Relasi Agama dan Masyarakat dalam Transformasi Sosial Indonesia tetapi mulai memainkan peran publik yang lebih luas, termasuk dalam pendidikan, kesehatan, dan advokasi sosial. Hal ini sejalan dengan teori Parsons tentang diferensiasi sosial, di mana agama menjadi salah satu subsistem yang bekerja alongside sistem pendidikan, politik, dan ekonomi. Dalam konteks sosial yang sedang berubah. Gereja juga mulai berperan sebagai agen mobilitas dan pemberdayaan sosial, sebagaimana terlihat dalam artikel-artikel tentang peran Orang Muda Katolik (M & Derung, 2. dan penguatan kerasulan awam (Wuli, 2. Pada fase transisi, pendidikan menjadi kunci penting, dan Gereja menjadi salah satu lembaga yang menyediakan akses pendidikan formal yang mempercepat transformasi masyarakat pedesaan menuju masyarakat yang lebih terbuka dan mobil. Gereja bukan hanya tempat ritual, tetapi juga pusat literasi, organisasi sosial, dan pembentukan kesadaran kritis. Peran komunitas basis Gereja (KBG) yang berkembang pada masa ini menunjukkan bahwa keberagamaan menjadi lebih partisipatif dan reflektif, tidak lagi hanya mengikuti pola adat, tetapi mulai melibatkan proses diskusi, pendampingan, dan pengambilan keputusan bersama. Relasi Agama dan Masyarakat dalam Masyarakat Modern Perkotaan Masyarakat modern perkotaan ditandai oleh diferensiasi sosial yang tinggi, rasionalitas, mobilitas individu, perkembangan teknologi digital, pluralisme budaya, serta pola hidup yang cepat dan kompleks. Dalam konteks ini, relasi agama dan masyarakat mengalami transformasi yang signifikan dibandingkan dengan masyarakat tradisional maupun masyarakat transisi. Berdasarkan penelitian Mcdaniel & Mcdaniel . Kandu & Bito . , yang meneliti mengenai peran Gereja Katolik di ruang publik plural, serta kajian tentang digitalisasi kehidupan beragama Gereja Katolik di Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang baru dalam menjalankan peran dan misinya di tengah masyarakat urban yang terus berubah. Relasi agama dan masyarakat urban juga dipengaruhi oleh seku-larisasi fungsional. Dalam masyarakat modern, agama tidak otomatis memengaruhi sistem politik, ekonomi, atau pendidikan, sebagaimana dikemukakan Casanova dan Luhmann. Namun, sekularisasi tidak selalu berarti hilangnya religiusitas. Artikel Kandu & Bito . menunjukkan bahwa kehidupan beragama justru mengalami transformasi, terutama melalui penggunaan media digital, pelayanan online, dan pengembangan komunitas virtual. Kehadiran Gereja Katolik dalam ruang digital melalui misa streaming, katekese online, konten refleksi harian, dan platform pastoral modern menunjukkan bahwa agama tidak hilang, tetapi berubah bentuk mengikuti struktur masyarakat. Inilah fase yang disebut desekularisasi digital, ketika agama beradaptasi dengan teknologi dan tetap berfungsi sebagai sumber makna dalam dunia digital. Sintesis Konseptual Relasi Agama dan Masyarakat Relasi agama dan masyarakat pada konteks Indonesia, khususnya Gereja Katolik menunjukkan bahwa agama bukan hanya sistem kepercayaan, tetapi sebuah institusi sosial yang terus bertransformasi mengikuti dinamika masyarakat tradisional, transisi, hingga masyarakat modern. Dalam masyarakat tradisional, seperti yang ditunjukkan dalam studi https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Enny Astut. Relasi Agama dan Masyarakat dalam Transformasi Sosial Indonesia Borgias . mengenai pertumbuhan Gereja Katolik di Manggarai, agama hadir sebagai otoritas normatif yang menyatu dengan struktur budaya lokal. Dalam konteks ini, relasi masyarakatAeagama bersifat integratif dan komunal. agama memberikan legitimasi moral terhadap praktik adat, sekaligus menjadi pendorong transformasi sosial melalui inkulturasi, pendidikan, dan pendampingan komunitas (Krisdiyanti et al. , 2. Praktik-praktik simbolik dan upacara keagamaan menjadi mekanisme kohesi sosial yang mengikat komunitas dalam identitas bersama. Memasuki masyarakat transisi, hubungan agama dan masyarakat menjadi lebih Etnografi pastoral mengenai praktik penyembuhan Katolik di Indonesia menunjukkan adanya negosiasi antara tradisi lokal, modernitas, dan otoritas gerejawi. Pada tahap transisi ini, agama berfungsi sebagai agen mediasi sosial, menjembatani perubahan nilai, munculnya individualitas, serta dinamika ekonomiAepolitik yang berkembang (Berutu. Gereja Katolik dalam konteks ini juga menguatkan peran pastoral sosial untuk meredam ketegangan akibat perubahan sosial yang cepat, termasuk isu kemiskinan, ketimpangan, dan pluralisme. Kondisi ini menegaskan bahwa agama berperan sebagai stabilisator sekaligus katalis perubahan sosial. Memasuki masyarakat transisi, hubungan agama dan masyarakat menjadi lebih Etnografi pastoral mengenai praktik penyembuhan Katolik di Indonesia menunjukkan adanya negosiasi antara tradisi lokal, modernitas, dan otoritas gerejawi (Krisdiyanti et al. , 2. Pada tahap transisi ini, agama berfungsi sebagai agen mediasi sosial, menjembatani perubahan nilai, munculnya individualitas, serta dinamika ekonomiAe politik yang berkembang. Gereja Katolik dalam konteks ini juga menguatkan peran pastoral sosial untuk meredam ketegangan akibat perubahan sosial yang cepat, termasuk isu kemiskinan, ketimpangan, dan pluralisme. Kondisi ini menegaskan bahwa agama berperan sebagai stabilisator sekaligus katalis perubahan sosial. Simpulan Kajian terhadap dua belas artikel mengenai relasi Gereja Katolik dan masyarakat dalam konteks transformasi sosial Indonesia menunjukkan bahwa agama dan masyarakat memiliki hubungan yang dinamis, saling membentuk, dan terus berkembang mengikuti perubahan struktur sosial dari masyarakat tradisional, transisi, hingga masyarakat modern perkotaan. Secara umum, penelitian-penelitian tersebut menegaskan bahwa modernisasi, globalisasi, dan digitalisasi tidak menghapus pengaruh agama, tetapi justru memunculkan bentuk-bentuk keberagamaan yang baru, lebih personal, fleksibel, dan terfragmentasi. Gereja Katolik tampil sebagai aktor sosial yang adaptif, yang tidak hanya berfungsi sebagai institusi spiritual, tetapi juga lembaga yang memainkan peran penting dalam pendidikan, advokasi sosial, pembentukan moral publik, dan penguatan modal sosial masyarakat. Dalam masyarakat tradisional, agama bersifat integratif dan menjadi pilar budaya komunitas, sebagaimana tampak dalam penelitian tentang inkulturasi dan integrasi simbolik di Manggarai. Pada fase masyarakat transisi, relasi agama dan masyarakat menunjukkan pola https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Enny Astut. Relasi Agama dan Masyarakat dalam Transformasi Sosial Indonesia negosiasi antara nilai adat, nilai modern, dan otoritas keagamaanAidan Gereja berperan sebagai agen mediasi sosial yang memperkuat pendidikan, mobilitas sosial, dan pemberdayaan awam. Sementara itu, dalam masyarakat modern perkotaan, agama mengalami diferensiasi institusional dan transformasi digital. Gereja Katolik merespons perkembangan teknologi, pluralisme, serta rasionalitas modern melalui pelayanan daring, katekese digital, dan pembentukan komunitas virtual. Temuan-temuan ini memperlihatkan bahwa relasi agama dan masyarakat tidak bersifat linier, tetapi mengalami proses transformasi berlapis yang dipengaruhi oleh konteks sosial masing-masing periode. Ucapan Terima Kasih