Volume 6 No. Tahun 2026 Halaman 318 Ae 332 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Pengaruh Problem Based Learming (PBL) Berbantuan Smart Apps Creator (SAC) Terhadap Kemampuan Berfikir Kritis Pada Mata Pelajaran IPS Kelas Vi SMP Negeri 13 Surabaya Defitrianti Ahsana Fikanti . Ketut Prasetyo . Nasution . Sugiantoro . Program Studi S1 Pendidikan IPS. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya Abstrak Berdasarkan kondisi SMP Negeri 13 Surabaya memiliki kelemahan metode pembelajaran konvensional, serta relevansi teori dengan strategi yang diusulkan apakah memiliki pengaruh. Sehingga, penelitian ini penting untuk membuktikan penerapan pembelajaran berbasis masalah berbantuan aplikasi Smart Apps Creator (SAC) pada mata pelajaran IPS kelas Vi dalam Kurikulum Merdeka (Kurme. , khususnya pada topik Nasionalisme dan Jati Diri Bangsa pada tema 03, dengan sub topik membahas konflik dan integrasi dengan tujuan mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik di SMP Negeri 13 Surabaya dengan tahun ajaran 2024/2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimen dengan desain Quansi Eksperimen dengan mengikutsertakan dua grub, yaitu grub kontrol dan grub eksperimen. Sampel penelitian berjenis purposive sampling sebanyak 60 sampel. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi tes . , angket, dan Analisis data menggunakan statistika deskriptif, uji normalitas, uji homogenitas, uji hipotesis, dan uji N-Gain. Hasil penelitian menunjukan bahwa mata pelajaran IPS materi AuKonflik dan IntegrasiAy tema 03 dengan pendekatan Problem Based Learning (PBL) berbantuan SAC terhadap kelompok eksperimen, yaitu Vi-G memiliki nilai rata Ae rata pre-test 60,57 dan post-test 93,30 lebih unggul dan efektif dari pada PBL berbantuan PPT dengan nilai rata-rata pre-test 51,33 dan posttest 81,73. Hal tersebut dapat diketahui bahwa pendekatan PBL berbantuan SAC terhadap kemampuan berfikir kritis pada mata pelajaran IPS kelas Vi di SMP Negeri 13 Surabaya berpengaruh. Kata Kunci: Media Pembelajaran. Smart Apps Creator. Pembelajaran IPS. Abstract Based on the conditions at SMP Negeri 13 Surabaya, there is a weakness in conventional teaching methods and a question about whether the relevance of theory to the proposed strategy has an effect. Therefore, this study is important to demonstrate the implementation of problem-based learning (PBL) supported by the Smart Apps Creator (SAC) application in Social Studies (IPS) for Grade Vi under the Merdeka Curriculum (Kurme. , specifically on the topic of Nationalism and National Identity in Theme 03, with the subtopic covering conflict and integration, with the aim of developing studentsAo critical thinking skills at SMP Negeri 13 Surabaya in the 2024/2025 academic year. This study uses an experimental approach with a quasi-experimental design involving two groups: the control group and the experimental group. The research sample was selected by purposive sampling with a total of 60 participants. The data collection techniques used include tests, questionnaires, and documentation. Data analysis was carried out using descriptive statistics, normality test, homogeneity test, hypothesis testing, and N-Gain test. The results show that for the IPS subject matter AuConflict and IntegrationAy in Theme 03, the PBL approach aided by SAC applied to the experimental group (Vi-G) achieved a pre-test mean score of 60. 57 and a post-test mean score of 93. 30, which was superior and more effective compared to PBL aided by PPT, which had a pre-test mean score of 51. 33 and a post-test mean score of 81. It can thus be concluded that the PBL approach supported by SAC has a significant effect on the critical thinking ability in the IPS subject for Grade Vi students at SMP Negeri 13 Surabaya. Keywords: Learning Media. Smart Apps Creator. Social Studies LearningThis How to Cite: Fikanti A D. Pengaruh Promblem Based Learning (PBL) Berbantuan Smart Apps Creator (SAC) Terhadap Kemampuan Berfikir Kritis Pada Mata Pelajaran IPS Kelas Vi SMP Negeri 13 Surabaya . Dialektika Pendidikan IPS. Vol. (No. : halaman 318-332 This is an open access article under the CCAeBY-SA Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 318-332 PENDAHULUAN Pendidikan saat ini menjalankan peran utama membentuk kualitas individu, terutama demi anak didik untuk mewujudkan arah dan kemajuan masa depan suatu bangsa. Mata pelajaran IPS termasuk bidang studi disiplin ilmu dengan menggabungkan gagasan mendasar dari mata pelajaran seperti aspek sosial, ekonomi, sejarah, dan geografi yang saling terkait membantu anak didik menghadapi berbagai permasalahan isu yang muncul dalam rutinitas harian dan menjadikan mereka lebih memahami sikap, perilaku, dan karakter yang positif. Pada pembelajaran tersebut, juga dapat membekali anak didik dengan pengetahuan, nilai-nilai, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Selain itu, juga dapat berfokus pada kemampuan bernalar dan berpikir secara kritis yang dibutuhkan agar dapat menganalisis isu-isu sosial yang kompleks (Ronny and Mahendra 2. Pendidikan seharusnya diwujudkan melalui suasana belajar yang sesuai dengan perkembangan zaman, berfungsi untuk meningkatkan potensi anak didik dengan menekankan kemampuan mereka terhadap ilmu pengetahuan, keterampilan praktis, serta pembentukan karakter dan sikap yang sesuai. Namun, praktik pembelajaran di dalam kelas berjalan menggunakan pendekatan konvensional dan dinominasi guru, sehingga kurang mendorong keterlibatan aktif siswa (Rahman et al. Berdasarkan pengamatan pertama di SMP Negeri 13 Surabaya menujukkan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial cenderung monoton dan masih mengandalan hafalan serta mencatat buku. Mengakibatkan siswa tampak pasif, keterlibatan dalam diskusi rendah serta kemampuan berpikir kritis masih lemah. Sehingga siswa mengalami hambatan dalam menelaah masalah sosial secara nyata dan hanya menerima informasi tanpa mengolahnya secara mendalam. Menjadikan kondisi tersebut, terdapat kesenjangan antara tuntutan kurikulum yang menekankan kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan situasi nyata yang terjadi di lapangan. Kondisi ini disebabkan karena terbatasnya sumber belajar tidak bervariasi, yang mengurangi pengalaman belajar mengajar anak didik, serta minimnya keterlibatan mereka dalam aktivitas pembelajaran akibatnya keterlibatan peserta didik di dalam proses belajar tidak mencapai potensi penuh. Sebagai solusi atas permasalahan yang ada, strategi pembelajaran harus dirancang agar siswa aktif berperan dan berpikir kritis. Metode belajar dengan Problem Based Learning tergolong sebagai strategi pengajaran bagi anak didik dengan pendekatan tersebut, menjadi salah satu pendekatan yang mampu menumbuhkan kacakapan analitis dan berpikir tingkat tinggi anak didik dalam menyelesaikan permasalahan yang autentik (Prihono and Khasanah 2. Namun, tidak hanya model pembelajaran penggunaan media pembelajaran interaktif juga dibutuhkan agar suasana belajar lebih menarik. Salah satu media yaitu Smart Apps Creator, memungkinkan guru menciptakan pengajaran interaktif yang berisikan materi, kuis, dan simulasi bentuk interaktif digital. Media ini berbentuk software atau perangkat lunak dapat dijalankan di perangkat android atau komputer bertujuan untuk mempermudah pemahaman siswa terhadap materi Proses menyatukan Problem Based Learning dengan Smart Apps Creator dapat memfasilitasi siswa dalam memahami konsep materi melalui penyajian visual, kuis interaktif, serta simulasi yang mendukung pembelajaran kontekstual (Rezeki and Susanti 2. Keterkaitan strategi ini dapat dijelaskan melalui teori kontruktivisme Vygotsky. Dimana perkembangan kognitif siswa yang berkembang melalui interaksi sosial dan pengalaman dalam Zone of Proximal Development (ZPD), dimana siswa memerlukan adanya bantuan sementara atau Scaffolding kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. Dalam proses Problem Based Learning, guru dan teman sebaya memberikan Scafflding melalui diskusi, bimbingan, dan pemecahan masalah kelompok. Sementara itu, media Smart Apps Creator dapat berfungsi sebagai Scaffolding digital dengan menyediakan panduan, contoh dan latihan interaktif yang dapat membantu siswa memahami permasalahan. Dengan demikian, penerapan PBL berbantuan SAC selaras dengan teori Vygotsky karena keduanya Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 318-332 menekankan pada pentingnya bantuan sementara untuk mencapai kemandirian berpikir kritis (Amahorseya and Mardliyah 2. Beberapa proses belajar melalui metode pengajaran PBL, terbukti melalui berbagai studi yang membuktikan keberhasilannya dalam peningkatan berpikir kritis siswa. Penelitian oleh Nurlaeli . menunjukkan tercapainya berpikir analitis peserta didik kelas Vi di SMP Bakti Nusantara 666 Bandung dari 44% menjadi 88%. Selain itu. Pambudi et al . menemukan penerapan Problem Based Learning (PBL) juga efektif dalam meningkatkan berpikir siswa kelas Vi SMP Hang Tuah 1 Surabaya, dengan nilai persentase N-Gain score mencapai 57,2%. Adapun penelitian lanjut, oleh Azizah et al . menunjukkan bahwa implementasi metode Problem Based Learning (PBL) berbantuan Smart Apps Creator (SAC) berpengaruh mendukung argumen bahwa pendekatan tersebut berpengaruh signifikan terhadap kemampuan computational thinking siswa. Berdasarkan uraian diatas, bahwa kondisi nyata di SMP Negeri 13 Surabaya memiliki kelemahan metode pembelajaran konvensional, serta relevansi teori dengan strategi yang diusulkan apakah memiliki pengaruh. Sehingga, penelitian ini penting untuk bertujuan membuktikan penerapan Problem Based Learning berbantuan Smart Apps Creator (SAC) pada mata pelajaran IPS kelas Vi dalam Kurikulum Merdeka (Kurme. , khususnya pada topik Nasionalisme dan Jati Diri Bangsa pada tema 03, dengan sub topik membahas konflik dan integrasi dengan tujuan untuk mengembangkan berpikir kritis siswa di SMP Negeri 13 Surabaya tahun pelajaran 2024/2025. Sehingga, berdasarkan landasan latar belakang diatas, penulis terarah untuk melakukan penelitian yang berjudul AuPengaruh Problem Based Learning (PBL) Berbantuan Smart Apps Creator (SAC) Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Pada Mata Pelajaran IPS Kelas Vi SMP Negeri 13 SurabayaAy. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan pendekatan eksperimen dengan model desain yakni Quasi Eksperiment yang melibatkan dua grub dengan perlakuan yang berbeda, yakni grub kontrol dan grub eksperimen (Creswell Sampel penelitian berjenis purposive sampling dengan jumlah total 60 peserta didik di SMP Negeri 13 Surabaya, masing-masing kelas berisikan 30 siswa. Dengan memilih kelas Vi_G . dan Vi-J . Desain penelitian dengan model nonquivalent control group. Dimana kedua kelompok sama Ae sama menggunakan model pembelajaran PBL untuk perbedaan terletak pada perlakukan dimana jenis eksperimen menggunakan media SAC sedangkan jenis kontrol menggunakan media PPT. Dengan variabel independent yakni model pengajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) berbantuan Smart Apps Creator dan variabel dependen yakni kemampuan berpikir kritis. Pengumpulan data mencakup instrument tes, pengisian angket, dokumentasi. Dalam tahap pengembangan instrument dilakukan pengujian validitas, reliabilitas, tingkar kesukaran dan uji pembeda. Pengolahan data menggunakan statistik deskriptif, pengujian normalitas, homogenitas, dan hipotesis serta uji N-Gain dengan dukungan SPSS versi 25 HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Lokasi Penelitian SMP Negeri 13 Surabaya menjadi salah satu institusi pendidikan tingkat menengah pertama negeri di Surabaya yang didirikan di Jalan Jemursari II. Surabaya. Jemur Wonosari. Kecamatan Woncolo. Kota Surabaya. Provinsi Jawa Timur. SMP Negeri 13 Surabaya ini memiliki lokasi cukup strategis berada pada wilayah selatan bersebelahan dengan Kantor Kecamatan Wonocolo berdekatan dengan SMA Negeri 10. SD Negeri Margerejo II. Perumahan Pertamina, dan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Sekolah ini memiliki karakteristik serupa dengan Sekolah Menengah Pertama, dimana durasi pendidikan di SMPN 13 Surabaya berlangsung selama tiga tahun ajaran, dimulai dari kelas VII. Vi dan IX. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 318-332 Sekolah ini juga menerapkap program Sistem Kredit Semester (SKS). Selain itu, sekolah ini juga termasuk sekolah adiwiyata. SMP Negeri 13 Surabaya menganut kurikulum merdeka, dimana dalam integrasinya terdapat kegiatan Proyek Penguatan Kompetensi dan Pelajar Pancasila (P. SMP ini juga melaksanakan SAS (Sekolahe Arek Suroboy. dalam menunjang peningkatan kemampuan peserta Berikut beberapa uji analisa sebagai berikut : Hasil Uji Instrument Berdasarkan hasil uji validitas soal di kelas Vi I SMP Negeri 13 Surabaya dengan 30 peserta didik. Tabel 1. Temuan Validasi Soal Nomor Soal Pearson Correlation (Rhitun. Nilai Sigifikansi (Si. Keterangan 0,144 0,448 Tidak Valid 0,091 0,632 Tidak Valid 0,298 0,110 Tidak Valid -0,025 0,894 Tidak Valid 0,508 0,004 Valid 0,451 0,012 Valid 0,458 0,011 Valid 0,459 0,011 Valid 0,417 0,022 Valid 0,729 0,000 Valid 0,652 0,000 Valid 0,442 0,014 Valid 0,614 0,000 Valid 0,529 0,003 Valid 0,306 0,100 Tidak Valid Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Diketahui nilai R tabel yaitu 0,361 dengan sampel 30 siswa artinya apabila R hitung Ou 0,361 maka soal dinilai valid sedangkan apabila rhitung O 0,361 maka soal dinilai tidak valid. Maka hasil diatas, menujukkan bahwa 15 soal yang dinyatakan telah valid adalah 10 soal. Disisi lain terdapat hasil uji validitas angket pada kelas Vi I SMP Negeri 13 Surabaya, sebanyak 30 peserta didik dengan hasil dibawah ini: Tabel 2. Temuan Validasi Angket Nomor Pernyataan Pearson Correlation (Rhitun. Nilai Sig Keterangan Pertanyaan 1 0,397 0,030 Valid Pertanyaan 2 0,700 0,000 Valid Pertanyaan 3 0,374 0,042 Valid Pertanyaan 4 0,543 0,002 Valid Pertanyaan 5 0,392 0,032 Valid Pertanyaan 6 0,633 0,000 Valid Pertanyaan 7 0,612 0,000 Valid Pertanyaan 8 0,466 0,009 Valid Pertanyaan 9 0,731 0,000 Valid Pertanyaan10 0,368 0,046 Valid Pertanyaan 11 0,960 0,000 Valid Pertanyaan 12 0,887 0,000 Valid Pertanyaan 13 0,532 0,002 Valid Pertanyaan 14 0,748 0,000 Valid Pertanyaan15 0,636 0,000 Valid Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 318-332 Berdasarkan tabel uji validitas angket tersebut, diketahui bahwa 15 pernyataan nilai R hitung (>0,. lebih dari pada nilai rtabel (<0,. Pernyataan ini, dapat dibilang valid. Serta nilai Sig yang menunjukkan bahwa kurang dari 0,05 . %). Uji Reliabilitas Soal dan Angket Adapun pengelompokkan tingkat dalam kategori indeks realibilitas pertayaan ujian dalam soal yaitu: Tabel 3. Indeks Reliabilitas Indeks Reliabilitas Kategorisasi 0,90-1,00 Sangat Kuat 0,80-0,89 Kuat 0,70-0,79 Sedang 0,60-0,69 Cukup <0,60 Sangat Rendah Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Melalui perhitungan reliabilitas soal mengunakan dukungan aplikasi SPSS, dibawah ini terdapat hasilnya yaitu: Tabel 4. Temuan Tingkat Reliabilitas Soal Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Pada tingkat reliabel menujukkan angka 0,755 dengan keterangan realibel. Dapat diketahui CronbachAos Alpha lebih besar dari 0,70 dengan jumlah 10 soal dikategorikan sedang. Sehingga soal diatas, dianggap konsisten dan mempunyai tingkat reliabilitas yang cukup serta bermanfaat dalam proses pengambilan data dalam pembelajaran. Adapun reliabilitas angket sebagai berikut : Tabel 5. Temuan Tingkat Reliabilitas Angket Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Hal ini disimpulkan bahwa pertanyaan angket yang diberikan sangat konsisten dan memiliki tingkat reliabel yang cukup kuat. Artinya 0,852 > dari 0,80 berkategori kuat untuk 15 pertanyaan. Tingkat Kesukaran Soal Berdasarkan pengujian indeks kesulitan soal yang diberikan kepada 30 siswa di kelas Vi I sebanyak 15 soal dengan hasil, yakni: Tabel 6. Hasil Tingkat Kesukaran Soal No. Soal Mean Tingkat Kesukaran Kategori 1,60 0,32 Sedang 2,47 0,41 Sedang 2,80 Sedang 3,13 0,44 Sedang 3,17 0,63 Sedang 3,07 0,61 Sedang 2,70 0,54 Sedang 2,30 0,46 Sedang 1,20 Sedang Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 318-332 No. Soal Mean 2,10 2,30 1,33 1,63 0,87 0,47 Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Tingkat Kesukaran 0,42 0,46 0,26 0,23 0,21 0,23 Kategori Sedang Sedang Sukar Sukar Sukar Sukar Didasarkan pada uji tingkat kesukaran menggunakan SPSS maka terdapat 11 soal yang tergolong sedang, dan terdapat 4 soal tergolong sukar. Hasil ini, dapat digunakan peneliti untuk penelitian di kelas Daya beda Soal Pada pengujian soal dengan dianalisis menggunakan daya pembeda soal yakni total soal 15. Tabel 7. Temuan Pembeda Soal No. Soal Corrected Item-Total Correlation Keterangan 0,017 Tidak Baik -0,069 Tidak Baik 0,111 Tidak Baik -0,197 Tidak Baik 0,382 Cukup Baik 0,272 Cukup Baik 0,323 Cukup Baik 0,339 Cukup Baik 0,332 Cukup Baik 0,614 Baik 0,517 Baik 0,305 Cukup Baik 0,450 Baik 0,415 Baik 0,227 Cukup Baik Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Penentuan daya pembeda soal dengan memakai dukungan SPSS dapat ditemukan pada Korelasi Itemm-Kumulatif. Merujuk pada daya beda, ditarik kesimpulan ditemukan 6 soal berkategori cukup baik, dan 4 soal berkategori baik, total soal yang dapat digunakan yakni 10 soal ujian. Dikarenakan rhitung Ou Tersisa hanya 5 soal yang tidak dapat digunakan karena nilai yang didapatkan rhitung O rtabel. Dengan taraf signifikansi 5% N = 30 siswa yakni 0,361. Analisis Data Statistik Deskriptif Melalui analisisa statistik deskriptif pada angket berpikir kritis setelah dberikan treatment berjumlah 15 pertanyaan kepada siswa, sebagai berikut: Tabel 8. Deskripsi Angket Berpikir Kritis Kelompok Kontrol (Vi-J) dan Eksperimen (Vi-G) Nilai Statistik Statsitik Deskriptif Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Jumlah Sampel Nilai Minimum Nilai Maksimum Rata-rata (Mea. 60,37 64,13 Jangkauan (Rang. Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 318-332 Berdasarkan data diatas, melalui perolehan rata-rata respon dari kedua kelompok. Rata-rata kelas VII G yaitu 64,13 lebih unggul dibanding kelas Vi J yaitu 60,37. Jangkuan selisih nya yaitu lebih besar sedikit kelas Vi G yakni 23, dan kelas Vi J yakni 22. Berdasarkan nilai standar deviasi juga bahwa kelas Vi G memiliki 5,494 lebih tinggi dibanding kelas Vi J yang mempunyai 5,411. Bahwasannya kelima nilai statistik yakni nilai minim, maks, mean, range dan deviasi kelompok Vi G memiliki respon berpikir kritis lebih unggul dibandingkan kelompok Vi J yang masih dibawahnya. Uji Prasyarat Analisis Data Uji Normalitas Data Hasil analisis normalitas dengan uji Shapiroo Wilk disajikan sebagai berikut: Tabel 9. Hasil Pengujian Distribusi Normalitas Data Kelompok Statistik Signifikansi Pretest . es awa. Kontrol 0,945 0,123 Post-test . es akhi. Kontrol 0,965 0,421 Pre-test . es awa. Eksperimen 0,951 0,175 Post-test . es akhi. Eksperimen 0,942 0,105 Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Melalui tabel diatas, didapatkan kesimpulan bahwa data yang diperoleh berdistribusi normal menujukkan bahwa data post-test yang menerapkan metode berbasis masalah berbantuan SAC siswa Vi G mendapat nilai signifikansi . 0,105 > 0,05. Selain itu, adanya signifikansi . 0,421 > 0,05 pada pembelajaran PBL berbantuan PPT siswa Vi-J. Maka data dapat dianggap berdistribusi normal dan model regresi . emiliki hubunga. Uji Homogenitas Peneliti, menggunakan SPSS dalam uji homogen ini, berikut hasil uji homogenitasnya: Tabel 10. Hasil Uji Kesamaan Distribusi Varians Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Melalui hal diatas, based on mean atau rata-rata hasil siswa dalam belajar menggunakan penerapan berbasis masalah berbantuan SAC Vi-G dan berbantuan PPT Vi-J mendapatkan signifikansi 0,259. Artinya varians keduanya homogen karena Ou 0,05. Uji Hipotesis Uji hipotesis dilaksanakan dengan Paired Sample T-Test guna menjawab rumusan masalah pertama, yakni : H01 : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test pada siswa kelas Vi dalam mengukur kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 13 Surabaya setelah penerapan model PBL berbantuan SAC Ha1: Terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test pada siswa kelas Vi dalam mengukur kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 13 Surabaya setelah penerapan model PBL berbantuan SAC Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 318-332 Dalam uji hipotesis pertama dengan menggunakan uji Paired Sample T-test, peneliti memakai dukungan SPSS, yakni: Tabel 11. Temuan Statistik Paired Sample T-test Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Dapat diketahui bahwa ketentuan uji hipotesis rumusan masalah pertama, yakni: Jika nilai signifikansi (Si. > 0,05 artinya H0 diterima. H1 ditolak. Jika nilai signifikansi (Si. < 0,05 artinya H0 ditolak. H1 diterima. Merujuk pada tabel diatas, hasil statistik menujukkan signifikansi 0,000 O 0,05. Artinya hipotesis pertama ini adanya perbedaan yang nyata antara pengujian tes awal dan pengujian akhir siswa Vi SMPN 13 Surabaya setelah penerapan model PBL berbantuan SAC. Maka hipotesis H01 ditolak sedangkan Ha1 diterima. Sedangkan rumusan masalah kedua, dilakukan perhitungan statistik melalui Independent Sample T- Test, berikut hipotesisnya: H02 : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil nilai post-test siswa kelas eksperimen yang menggunakan motode PBL berbantuan SAC dan post-test siswa kelas kontrol menggunakaan metode berbasis PBL berbantuan PPT dalam mengukur kemampuan berpikir kritis kelas Vi pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 13 Surabaya. Ha2 : Terdapat yang signifikan antara hasil nilai post-test siswa kelas eksperimen yang menggunakan penerapan PBL berbantuan SAC dan post-test siswa kelas kontrol menggunakaan PBL berbantuan PPT dalam mengukur kemampuan berpikir kritis kelas Vi pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 13 Surabaya. Tabel 12. Temuan Independent Sample T-test Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Merujuk pada tabel diatas, hasil temuan menunjukkan signifikansi 0,000 O 0,05. Bahwasannya, kedua kelompok memiliki perbedaan yang dihasilkan melalui signifikansi hasil post-test dengan metode pengajaran PBL berbantuan SAC . dan berbantuan PPT . pada tingkat berpikir kritis siswa kelas Vi dalam mata pelajaran IPS di SMPN 13 Surabaya. Maka hipotesis H02 ditolak sedangkan Ha2 diterima. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 318-332 Uji N-gain Setelah melakukan pengujian diatas, dilanjutkan tahapan terakhir yaitu dengan uji N-Gain untuk dapat mengetahui efektivitas atau mengukur keberhasilan penggunaan pembelajaran berbasis masalah berbantuan media SAC, sebagai berikut: Tabel 13. Tabel Indeks Peningkatan Hasil Belajar Kelompok Skor Tinggi Skor Rendah Mean (Rata-rat. Kontrol 62,23 Eksperimen 82,62 Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Berdasarkan pada tabel ini, terdapat menghasilkan mean hasil belajar kelas kontrol (Vi J) yakni 62,23%, pada hasil tersebut dinyatakan kategori sedang karena < 0,70. Dengan dinyatakan kategori tersebut menujukkan bahwa siswa mengalami peningkatan hasil belajar. Sedangkan hasil uji dengan mean N-Gain yang dimiliki kelas eksperimen (Vi G) yakni 82,62%, pada hasil tersebut dinyatakan kategori tinggi karena > 0,70. Dengan dinyatakan kategori tersebut menunjukkan bahwa siswa mengalami kemajuan hasil belajar pada kelas Vi G setelah mendapatkan penerapan PBL berbantuan SAC. Melalui hal diatas, bahwasannya penerapan pembelajaran siswa Vi-G berbasis masalah berbantuan SAC lebih membuahkan hasil, dari pada penerapan PBL berbantuan PPT di kelas Vi-J. Paparan Hasil Belajar Penerapan Pendekatan Berbasis Masalah berbantuan SAC Siswa Vi-G Dari hasil penelitian yang diperoleh, kelas Vi-G yang mendapatkan perlakuan melalui pengajaran PBL berbantuan media belajar SAC yang berjumlah 30 peserta didik mendapatkan nilai pre-tes awal dengan nilai mean 60,57, standar deviasinya 5, nilai paling rendah 50 dan nilai paling tinggi 68. Sementara itu pada nilai tes akhir memperoleh nilai rata-rata mencapai 93,30, standar deviasi 3,4, nilai rendah 88 dan nilai unggul mencapai 100. Paparan Hasil Belajar Siswa Vi-J Metode Pengajaran PBL berbantuan PPT Dari hasil penelitian yang diperoleh Vi J yang memperoleh perlakuan pendekatan pembelajaran PBL berbantuan PPT berjumlah 30 siswa memiliki nilai pre-test pada nilai rata-rata 51,33, standar deviasi 4,8, nilai terkecil 40 dan nilai terbesar 61, sementara itu untuk nilai post-test nilai rata-ratanya 81,73, standar deviasi 4,2, nilai paling rendah 72 dan paling besar mendapatkan nilai 89. Paparan Hasil Instrumen Angket Berpikir Kritis Vi-G dan Vi-J Dari hasil penelitian berdasarkan tabel 4. 8, kedua sampel berjumlah 30 siswa. Respon siswa dapat dilihat melalui skor minim dan maks kelas Vi G sedikit lebih besar 52 dan 74, sedangkan Vi J 47 dan 70. Selanjutanya skor mean pada tingkat 64,13 dibandingkan dengan skor 60,37. Selain itu, nilai jangkauan dan standar deviasi di kedua kelompok menujukkan variasi skor yang relative sebanding 22 dan 23. Disimpulkan, tingkat kemampuan yang cukup berbeda antara keduanya. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 318-332 Deskripsi Penerapan Pengajaran PBL berbantuan SAC Tabel 14. Deskripsi Uji Paired Sample T-Test Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Terkait informasi diatas, diterima dari pengujian uji hipotesis pertama menujukkan AuTerdapat perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test siswa kelas Vi dalam mengukur kompetensi berpikir kritis pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 13 Surabaya setelah penerapan model PBL berbantuan SACAy. Didasarkan pada hasil uji Paired Sample T-Test Sig. -taile. menunjukkan Thitung -27. 689, dengan Ttabel pada df 29 dan alfa 0,05 sebesar 2. Karena nilai absolut Thitung 27. 689 > 2. 045, dapat ditarik kesimpulan H01 ditolak dan Ha1 diterima. Deskripsi Pembelajaran PBL berbantuan SAC dan berbantuan PPT Tabel 15. Hasil Uji Independet Sample T-Test Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Berdasarkan informasi yang diterima dari pengujian hipotesis kedua menujukkanAyTerdapat hasil yang berbeda antara nilai post-test siswa kelas eksperimen yang menggunakan model PBL berbantuan SAC dan post-test siswa kelas kontrol yang menggunakaan model PBL berbantuan PPT dalam mengukur keterampilan berpikir kritis siswa kelas Vi pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 13 SurabayaAy. Merujuk pada hasil pengujian Independent Sample T-Test indikasi signifikansi . -taile. menujukkan T 474. Ttabel dengan df 58 dan alfa 0,05 sebesar 2. Karena nilai absolut Thitungnya ialah 474 > 2. Disimpulkan H02 ditolak dan Ha2 diterima. HASIL BELAJAR KELOMPOK EKSPERIMEN DAN KONTROL Hasil Belajar Kelas Eksperimen (Vi-G) Sebelum diberikan penerapan pengajaran PBL berbantuan SAC, eksperimen menerima soal tes awal (Pretes. Langkah ini digunakan guna untuk memperoleh kompetensi awal anak didik pada materi pelajaran AuKonflik dan IntegrasiAy. Jumlah soal tes 10 butir soal essai yang akan diberikan. Penilaian Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 318-332 dengan skala 100. Dimana masing-masing soal diberikan bobot 10. Setelah mengetahui dari adanya kompetensi awal peserta didik. Kelas Vi G menerima treatment pembelajaran yakni pembelajaran berbasis PBL berbantuan SAC. Kelas eksperimen Vi G berjumlah 30 siswa. Pada pertemuan ini siswa membuat masing-masing kelompok berisikan 4 anggota. Pada kelompok tersebut, peserta didik diberikan masing-masing akses terhadap media SAC, terdapat beberapa isi materi tentang konflik sosial yaitu: . pengertian konflik sosial dan integrai, . penyebab konflik, . penanganan konflik, . dampak konflik, . bentuk integrasi, . proses, . syarat integrasi. Selain itu, didalamnya juga terdapat kuis dan juga studi kasus. Selanjutnya, setelah peserta didik diberikan beberapa tutorial dalam cara penggunaan nya dan pemahaman materi tersebut. Peserta didik dipersilahkan untuk melakukan diskusi dan mengerjakan kuis serta studi kasus dengan kelompoknya. Kemudian pada sesi terakhir peserta didik mengerjakan soal tes akhir (Post-tes. berjumlah 10 soal dengan nilai skala maksimum 100. Peserta didik juga diberikan selembar angket berpikir kritis yang berjumlah 15 pertanyaan. Melalui hal tersebut, peneliti dapat mengetahui hasil belajar dan respon anak didik setelah diberikan adanya treatment. Nilai pre- test yang yang diperoleh kelas eksperimen (Vi G) memiliki hasil tertinggi sebesar 68 pada 2 peserta didik dan nilai terendah 50 pada 2 peserta didik. Dalam hal ini KKM terdapat pada nilai 80. Melalui hasil pre-test kelas eksperimen bahwasannya kelas tersebut tidak ada seorangpun yang lulus dari nilai KKM. Sementara itu, pada siswa Vi G mendapatkan posttest sempurna yakni 100 oleh 2 peserta didik, serta diraih oleh 2 siswa skor rendah 88. Melalui ini, dinyatakan bahwa nilai seluruh peserta didik dinyatakan lulus dengan KKM 80. Bahwasannya persentase siswa setelah diberikan posttest yang mencapai nilai KKM yakni Tabel 16. Ringkasan Nilai Kelas Eksperimen Statistik Pre-Test (Tes Awa. Post-Test (Tes Akhi. Banyak Peserta Didik Banyak Soal Rata-Rata 60,57 93,30 Standar Deviasi 5,056 3,466 Variasi 25,564 12,010 Nilai minimum Nilai Maksimum Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Didasarkan pada tabel 4. 15, hasil rata-rata . nilai pre-test dan post-test menujukkan nilai rata-rata pretest siswa kelas Vi_G . adalah 60,57 dengan standar deviasi 5,056, sedangkan ratarata posttest yang didapatkan melalui metode pembelajaran berbasis masalah berbantuan SAC mencapai 93,30, standar deviasi 3,466. Hasil Belajar Kelas Kontrol (Vi J) Sebelum diberikannya perlakuan (Treatmen. metode berbasis masalah berbantuan PPT, kontrol menerima soal tes awal (Pre-tes. Menjadi salah satu langkah mendapatkan wawasan awal siswa pada pelajaran AuKonflik dan IntegrasiAy. Diberikan dengan sejumlah soal 10 essai untuk dikerjakan. Masing-masing soal diberi bobot 10, sehingga skala nilainya yaitu 100. Setelah kompetensi awal siswa ini diketahui. Tahap selanjutnya kelas kontrol (Vi J) mendapatkan treatment yang sama dengan media yang berbeda yaitu pendekatan berbasis masalah, kelas Vi J yang terdiri dari 30 peserta didik. Siswa diberikan waktu membentuk masing-masing anggota terdiri dari 4. Pada kelompok tersebut, peserta didik diberikan masing-masing akses untuk media pembelajaran Power Point (PPT). Dalam media tersebut, terdapat beberapa isi materi tentang konflik dan integrasi. Selain itu, didalamnya juga terdapat studi kasus. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 318-332 Selanjutnya, setelah peserta didik diberikan pemahaman materi. Peserta didik dipersilahkan untuk melakukan diskusi dan mengerjakan studi kasus dengan kelompoknya. Kemudian pada sesi terakhir peserta didik mengerjakan soal tes akhir (Post-tes. berjumlah 10 soal dengan nilai skala maksimum Peserta didik juga diberikan selembar angket berpikir kritis yang berjumlah 15 pertanyaan. Seperti halnya pada kelas sebelumnya, peserta didik menerima nilai tersebut agar dapat mengetahui capaiannya selama proses pembelajaran melalui treatment. Skor pre-test yang yang diperoleh kelas kontrol yaitu kelas Vi J memiliki hasil tertinggi 61 yang telah dicapai oleh 1 anak didik dan nilai terendahnya 40 dengan 2 yang diraih sebanyak 2 anak didik. Pacuan KKM yang diberikan juga sama yakni Ternyata, hasil yang didapatkan dari pre-test kelas Vi J ini dalam satu kelas tidak ada yang mampu mencapai nilai KKM. Sementara itu, pada nilai yang diperoleh dari post-test di kelas kontrol diketahui bahwa kelas Vi J memiliki hasil tertinggi sebanyak 89 diperoleh dari 2 siswa dan nilai terendah 72 didapatkan oleh 1 siswa. Dalam hal ini siswa yang dapat nilai KKM 80 adalah 21 siswa. Bahwasannya kelas tersebut, mendapatkan persentase siswa setelah diberikan posttest yang mencapai nilai KKM yakni 70%. Tabel 17. Ringkasan Nilai Kelas Kontrol Statistik Pre-Test (Tes Awa. Post-Test (Tes Akhi. Banyak Siswa Banyak Soal Rata-Rata 51,33 81,73 Standar Deviasi 4,809 4,299 Variasi 23,126 18,478 Nilai minimum Nilai Maksimum Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Diketahui bahwa nilai rata-rata tes awal . re-tes. kelas kontrol yakni 51,33 pada standar deviasi 4,809. Metode pengajaran PBL berbantuan PPT didapatkan nilai rata-rata tes akhir yaitu 81,73 dengan standar deviasi 4,299. Hasil Belajar Kedua Kelas Vi-G dan Vi-J Terdapat perhitungan dilakukan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar keduanya, sebagai berikut: Tabel 18. Hasil Belajar Kelas Eksperimen (Vi-G) dan Kelas Kontrol (Vi-J) Hasil Belajar Kedua Kelompok Kelas/ Kelompok Rata-rata (Mea. Standar Deviasi Pretest Eksperimen 60,57 5,056 Posttest Eksperimen 93,30 3,466 Pretest Kontrol 51,33 4,809 Posttest Kontrol 81,73 4,299 Sumber : Diolah oleh Penulis, 2025 Melalui tabel 4. 17 dapat dilihat bahwasannya terdapat perbedaan dari kedua kelas. Terdapat skor ratarata pre-test 60,57, standar deviasi 5,056 dan nilai rata-rata post-test 93,30 serta standar deviasi 3,466 dari kelas Vi G . Sedangkan kelas Vi J (Kontro. mempunyai rata-rata pre- test 51,33 dengan standar deviasi 4,809 dan nilai rata-rata post-test 81,73 dengan standar deviasi 4,299. Maka dapat disimpulkan bahwa terjadi perbaikan hasil evaluasi siswa setelah diberikan treatmen. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 318-332 Pembahasan Hasil studi yang dilakukan oleh peneliti di SMP Negeri 13 Surabaya mengungkapkan hasil yaitu siswa kelas eksperimen di Vi G mendapatkan perlakuan dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah dengan bantuan media SAC mendapatkan data tes awal memiliki rata-rata 60,57 dengan nilai terkecil 50 dan nilai terbesar 68. Selain itu tes akhir nilai rata-ratanya mencapai 93,30 dengan nilai paling rendahnya 88 dan tertingginya sampai memperoleh 100. Sebaliknya, hasil dari kelas kontrol di VII J yang mendapatkan treatment menggunakan PBL berbantuan PPT memperoleh nilai rata-rata 51,33 dengan nilai paling sedikit 40 dan nilai paling banyak 61. Akan tetapi, hasil pada test akhir-nya bernilai rata-rata 81,73 dengan nilai rendahnya 72 dan nilai tingginya 89. Hasil angket berpikir kritis juga menujukkan bahwa nilai batas bawah dan nilai batas atas dari kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol, yakni kelompok eksperimen dengan nilai 52 dan 74, rata-rata 64,13, sedangkan kelompok kontrol dengan nilai 47 dan 70, rata-rata 60,37. Berdasarkan perolehan nilai IPS pada siswa kelas Vi-G dan Vi-J, pengajaran PBL berbantuan SAC terbukti lebih unggul dibandingkan kelas dengan menggunakan metode berbasis masalah Berbantuan Power Point (PPT) mendapatkan nilai yang lebih rendah. Selain itu, hasil angket berpikir kritis juga menujukkan bahwa respon peserta didik di kelas Vi-G . lebih unggul dibandingkan di kelas Vi-J . Dengan hal ini, menujukkan bahwa peserta didik lebih unggul melalui adanya proses perlakuan pada model Problem Based Learning (PBL) berbantuan Smart Apps Creator (SAC) dibanding dengan berbantuan media Power Point (PPT). Temuan ini sesuai pada teori kontruktivisme Vygotsky, khususnya gagasan ZPD menegaskan bahwasannya perkembangan kognitif siswa dapat ditingkatkan melalui aktivitas kolaboratif dan bimbingan dari guru maupun teman sebaya. Dalam penelitian ini. PBL mampu memberikan ruang bagi siswa untuk mengatasi masalah yang berada pada zona perkembangan terdekat siswa, sedangkan penggunaan SAC berfungsi sebagai Scaffolding atau alat bantu yang mendukung proses belajar melalui fitur interaktif, isi materi dan mempermudah pemahaman (Amahorseya and Mardliyah 2. Adapun hasil uji T yang telah diperoleh, yaitu pengujian hipotesis pertama, yaitu diketahui nilai sig . bernilai 0,000 < 0,05 yang artinya H01 ditolak dan Ha1 diterima. Bahwasannya terdapat perbedaan signifikan antara nilai pre-test dan post-test kelas Vi dalam mengukur kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 13 Surabaya setelah penerapan model PBL berbantuan SAC. Sedangkan pengujian hipotesis kedua, mendapatkan nilai signifikansinya . -taile. bernilai 0,000 < 0,05, dapat diartikan Ha2 diterima. H02 ditolak. Adanya ketidaksamaan antara hasil post-test siswa kelas eksperimen yang menggunakan model PBL berbantuan SAC dengan post-test siswa kelas kontrol yang menggunakaan model PBL berbantuan PPT dalam mengukur kompetensi berpikir kritis kelas Vi pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 13 Surabaya. Jika pada Uji N-Gain melalui rata-rata pada kelas Vi G sebasar 82,62% dinyatakan dalam kategori tinggi yang menyatakan siswa mengalami peningkatan pretasti belajarnya setelah mendapatkan penerapan PBL berbantuan SAC. Sedangkan kelas kontrol mendapatkan skor rata-rata sebesar 62,23% dinyatakan dalam kategori sedang yang menujukkan juga mengalami peningkatan capaian belajar setelah mendapatkan pengajaran berbasis masalah berbantuan media Power Point (PPT). Namun, pencapaian akademik pada kedua kelas tersebut tidak sebanding disebabkan output kelas Vi G lebih unggul. Dari hasil uji tersebut diperkuat dengan penelitian oleh N. Azizah dkk, dalam penerapan motode dan media yang sama dengan judul AuPengaruh Model Problem Based Learning (PBL) Berbantuan Smart Apps Creator (SAC). Terhadap Kemampuan Computational Thinking SiswaAy. Berdasarkan hasil penelitian tersebut terdapat pengaruh dari adanya penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Berbantuan Smart Apps Creator (SAC) dengan nilai uji hipotesis Sig 0,000 < 0,05 menujukkan ada perbedaan kemampuan Computational Thinking yang signifikan dari kedua kelas tersebut. Melalui hal ini, penelitian ini tidak hanya menguatan teori kontruktivisme, tetapi juga mendukung hasil penelitian terdahulu mengenai efektivitas PBL berbasis teknologi interaktif dalam Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 318-332 meningkatkan berpikir kritis siswa. Pernyataan oleh Diggs menyatakan bahwa pengajaran berbasis masalah dengan menyajikan beragam situasi melalui isu yang autentik dan bermakna (Ramadhani et al. Memungkinkan meneliti siswa lebih lanjut agar mendapatkan berbagai solusi atas permasalahan yang Sehingga sejalan juga dengan pendapat Beyer dalam (Saputra 2. mengatakan bahwa keterampilan berpikir kritis ini mampu melibatkan proses kognitif dan mendorong peserta didik agar dapat menganalisis suatu objek atau permasalahan dengan lebih mendalam yang dalam penelitian ini difasilitasi melalui peran SAC sebagai media interaktif sekaligus sarana Scaffolding. Dengan menjadikan pembelajaran berbasis masalah yang dikombinasikan dengan dukungan media digital interaktif sejalan dengan teori kontruktivisme dan terbukti dalam upaya mengembangkan berpikir kritis siswa kelas Vi pada mata pelajaran IPS. KESIMPULAN Hasil simpulan dapat diketahui bahwa mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Soaial materi AuKonflik dan IntegrasiAy pada tema 03 dengan pendekatan pengajaran PBL dan berbantuan media belajar SAC terhadap kelompok eksperimen yaitu Vi G dengan jumlah peserta didik 30 memperoleh hasil rata- rata pre-test 60,57 dan nilai rata-rata post-test 93,30. Persentase dari kedua tes tersebut, mendapatkan rata-rata 54,05% dinyatakan naik. Berdasarkan hasil kelompok kontrol, memakai metode berbasis masalah berbantuan PPT pada materi yang sama yakni Vi J dengan jumlah 30 peserta didik mendapatkan nilai tes awal rata-rata 51,33 dan nilai tes akhir rata-rata 81,73. Menujukkan adanya nilai rata-rata keduanya yaitu 59,25% mengalami peningkatan. Selain itu, hasil angket berpikir kritis juga menujukkan bahwa Vi G mencapai 64,13 dan kelompok kontrol Vi-J memperoleh 60,37. Hal ini menujukkan respon peserta didik menerima perlakuan berbasis masalah berbantuan SAC dalam mata pelajaran IPS sangat optimal. Hasil pengujian hipotesis pertama mendapatkan signifikansinya 0,000 < 0,05. Menujukkan H01 ditolak dan Ha1 diterima, dimana, adanya perbedaan skor awal dan akhir dari kelompok yang Sementara itu pengujian hipotesis kedua yang diketahui signifikansinya 0,000 < 0,05, menujukkan bahwa H02 ditolak dan Ha2 diterima, nilai dua kelompok bebas ini terdapat perbedaan. Sedangkan pada hasil uji N-Gain juga menyatakan bahwa penerapan pengajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) berbantuan Smart Apps Creator (SAC) di kelas Vi-G . nilainya lebih unggul dan efektif. Dengan demikian, penelitian ini bersifat kuantitatif dalam menjawab kedua rumusan masalah, dengan temuan bahwa penerapa metode pembelajaran PBL dibantu SAC memberikan pengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas Vi IPS di SMP Negeri 13 Surabaya. DAFTAR PUSTAKA