Vol 6 No 1 . P ISSN 2615-160X || E ISSN 2987-5501 DOI: 10. 54180/joeces. Diagnostik Dini Gangguan Kecemasan pada Anak Usia Dini dengan Perilaku Penakut: Studi Kasus di Indonesia Juleha Ashari1. Wita Susanti2. Helma Sufrika3. Putri Syakirah Mawaddah4. Rosalia Cahya Utama5. Faizatul Faridy6 asharijulle@gmail. com1 , witasusanti2005@gmail. com, helmasufrikahelma@gmail. com, psyakirah@gmail. rosalicahya9@gmail. Faizatul. faridy@ar-raniry. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Nanggroe Aceh Darussalam. Indonesia ABSTRAK Gangguan kecemasan pada anak usia dini sering muncul melalui perilaku penakut berlebih, namun diagnostik dini masih sulit di Indonesia karena kurangnya kesadaran dan sumber daya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi indikator diagnostik dini gangguan kecemasan pada anak prasekolah yang menunjukkan ketakutan persisten, mengembangkan alat skrining yang disesuaikan secara budaya untuk konteks Indonesia, dan mengevaluasi efektivitasnya melalui analisis kasus. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif berbasis analisis data sekunder dan sintesis literatur dari rekam klinis serta laporan psikologis yang ada di Indonesia. Data diperoleh dari kasus terdokumentasi anak usia tiga hingga enam tahun, dianalisis melalui wawancara orang tua dan guru yang tersimpan di basis data kesehatan, menggunakan Preschool Anxiety Scale versi Indonesia, serta penilaian klinis ahli. Analisis tematik dilakukan untuk mengidentifikasi pola perilaku tanpa terjun ke lapangan. Hasil menunjukkan anak penakut umumnya menampilkan gejala inti seperti kecemasan pemisahan, penghindaran situasi baru, dan keluhan somatik seperti sakit perut. Penanda diagnostik dini mencakup tangisan berkepanjangan di lingkungan baru dan gangguan pola tidur. Alat skrining yang disesuaikan terbukti andal dan efektif membedakan kasus kecemasan dari ketakutan normal. Intervensi seperti terapi bermain secara nyata mengurangi gejala pada kasus follow-up Temuan ini menekankan perlunya skrining rutin di pendidikan anak usia dini Indonesia untuk memungkinkan intervensi tepat waktu dan mengurangi risiko kesehatan mental jangka panjang. Kata Kunci: Diagnostik Dini. Gangguan Kecemasan. Anak Usia Dini. Perilaku Penakut ABSTRACT Anxiety disorders in early childhood often manifest through excessive fearful behaviors, yet early diagnosis remains challenging in Indonesia due to limited awareness and resources. This study aims to identify early diagnostic indicators of anxiety disorders in preschool-aged children exhibiting persistent fearfulness, develop a culturally adapted screening tool for Indonesian contexts, and evaluate its effectiveness through case analysis. The research employed a qualitative case study approach based on secondary data analysis and literature synthesis from existing clinical records and psychological reports in Indonesia. Data were derived from documented cases of children aged three to six years, analyzed through parent and teacher interviews archived in health databases, using the Indonesian-adapted Preschool Anxiety Scale, and expert clinical assessments. Thematic analysis was conducted to identify behavioral patterns without fieldwork. Results revealed that fearful children commonly displayed core symptoms such as separation anxiety, avoidance of new situations, and somatic complaints like stomachaches. Early diagnostic markers included prolonged crying in novel environments and disrupted sleep patterns. The adapted screening tool proved reliable and effectively differentiated anxiety cases from normative fear. Interventions like play therapy notably reduced symptoms in documented follow-up cases. These findings underscore the need for routine screening in Indonesian early childhood education to enable timely interventions and reduce long-term mental health risks. Keywords: Early Diagnosis. Anxiety Disorders. Early Childhood. Fearful Behavior PENDAHULUAN Gangguan kecemasan pada anak usia dini telah menjadi isu kesehatan mental yang semakin mencolok dan mengkhawatirkan di Indonesia, di mana perilaku penakut sering kali dianggap sebagai bagian normal dari proses perkembangan anak. Banyak anak prasekolah, khususnya berusia tiga hingga enam tahun, menunjukkan ketakutan berlebih terhadap berbagai situasi baru seperti bertemu orang asing, pemisahan sementara dari orang tua, atau menghadapi lingkungan sosial yang ramai, yang jika tidak segera didiagnosis secara dini dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan kronis dengan konsekuensi serius(Kendall & Hedtke, 2. Prevalensi gangguan kecemasan pada anak usia dini secara global telah mencapai tingkat yang signifikan. Perilaku penakut yang persisten, seperti menghindari interaksi dengan teman sebaya, tangisan berkepanjangan saat menghadapi perubahan rutinitas, atau menolak aktivitas bermain kelompok, sering kali menjadi sinyal awal yang diabaikan. Kondisi ini diperburuk oleh faktor budaya di Indonesia, di mana ekspresi emosi negatif pada anak kadang direspons dengan pendekatan tradisional daripada intervensi profesional berbasis bukti. Perkembangan penelitian terkini menunjukkan kemajuan signifikan dalam diagnostik gangguan kecemasan anak usia dini. Penelitian (Wichstrom & others, 2. menemukan bahwa prevalensi gangguan kecemasan pada anak prasekolah mencapai 4,4% dengan instrumen yang dikalibrasi secara kultural, sementara penelitian (Orgilys & others, 2. menegaskan bahwa deteksi dini berbasis skrining adaptif mampu mengurangi risiko gangguan kecemasan jangka panjang hingga 35%. Di Asia Tenggara, (Rapee & others, 2. mengembangkan model intervensi berbasis komunitas yang terbukti efektif dalam konteks budaya kolektif, serupa dengan nilai-nilai sosial di Indonesia. Pendekatan digital juga semakin berkembang. (Creswell & others, 2. menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi skrining berbasis smartphone mampu meningkatkan deteksi dini kecemasan anak sebesar 48% di negara berkembang. Di Indonesia, (Wulandari & Pratiwi, 2. telah mengadaptasi Preschool Anxiety Scale (PAS) ke dalam versi lokal (PAS-ID) dengan nilai validitas dan reliabilitas yang memadai, menjadi landasan metodologis penting bagi penelitian ini. Meskipun studi-studi tersebut memberikan kontribusi berharga, terdapat beberapa celah penelitian yang belum terjawab. Pertama, sebagian besar penelitian diagnostik kecemasan anak usia dini di Asia Tenggara masih mengandalkan observasi langsung di lapangan yang mahal dan memerlukan waktu lama, sehingga sulit direplikasi secara luas di daerah dengan keterbatasan sumber daya seperti banyak wilayah di Indonesia (Haryanti & Sari, 2. Kedua, kajian-kajian lokal Indonesia cenderung berfokus pada pendekatan kuantitatif statistik dan belum mengeksplorasi narasi kualitatif mendalam berbasis data sekunder terdokumentasi, padahal rekam klinis dan arsip psikologis yang ada menyimpan informasi kaya tentang konteks perilaku penakut anak. Ketiga, belum ada penelitian yang secara spesifik mengintegrasikan kerangka skrining adaptif budaya Indonesia dengan analisis kasus retrospektif yang mencakup dimensi intervensi dan tindak Kesenjangan inilah yang menjadi landasan dilakukannya penelitian ini. 2 Ae JOECES Penelitian ini secara spesifik bertujuan untuk: . mengidentifikasi dan menguraikan indikator diagnostik dini gangguan kecemasan pada anak usia dini yang menunjukkan perilaku penakut melalui analisis kasus kualitatif berbasis data sekunder. mengembangkan kerangka skrining diagnostik yang disesuaikan secara budaya dengan nilai-nilai lokal Indonesia. mengevaluasi efektivitas kerangka tersebut dalam membedakan kecemasan patologis dari ketakutan normal pada anak prasekolah. Kebaruan . dari penelitian ini terletak pada pengembangan kerangka empat tingkat risiko kecemasan berbasis data sekunder arsip klinis Indonesia yang belum pernah dilaporkan sebelumnya, serta integrasi dimensi budaya lokal seperti norma 'manja' dan ikatan keluarga besar ke dalam instrumen skrining, yang menjadikan kerangka ini lebih sensitif dan aplikabel dibandingkan adaptasi sebelumnya. Teori perkembangan kecemasan John Bowlby dalam konsep attachment theory menekankan peran penting ikatan aman antara anak dan pengasuh utama sebagai fondasi perkembangan Sementara itu, model kognitif-behavioral dari Philip Kendall menggambarkan bagaimana pola pikir negatif sejak dini dapat memperkuat perilaku penakut melalui siklus penguatan avoidance. Studi Egger dan Angold pada anak prasekolah menunjukkan bahwa gejala somatik seperti keluhan perut sakit dan penghindaran sosial merupakan prediktor kuat gangguan kecemasan, sementara adaptasi lokal di Asia Tenggara oleh (Rapee & others, 2. membuktikan efektivitas skala skrining yang dimodifikasi secara budaya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: . Klasifikasi Pola Perilaku Penakut sebagai Indikator Diagnostik . Efektivitas Alat Skrining Adaptif (PAS-ID) . Integrasi Temuan ke Praktik Pendidikan PAUD . Kerangka Diagnostik untuk Pengambilan Keputusan Dini. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang mendalam, sepenuhnya berbasis pada analisis data sekunder dari rekam klinis, laporan psikologis, dan arsip wawancara yang terdokumentasi di berbagai lembaga kesehatan mental anak dan basis data pendidikan di Indonesia, khususnya wilayah Jakarta dan Yogyakarta. Sumber data berasal dari kasus terdokumentasi anak berusia tiga hingga enam tahun yang menunjukkan perilaku penakut persisten, dikumpulkan dari rekam medis rumah sakit anak, laporan konseling PAUD, serta arsip wawancara semi-struktural dengan orang tua dan guru yang telah dianonimkan. Preschool Anxiety Scale versi adaptasi Indonesia (PAS-ID) digunakan untuk mengklasifikasikan gejala seperti kecemasan pemisahan, penghindaran situasi baru, dan keluhan Proses analisis data dilakukan melalui pendekatan tematik sistematis menggunakan software NVivo untuk mengkode dan mengelompokkan pola perilaku. Tahapan mencakup familiarisasi data, generasi kode awal berbasis teori attachment dan kognitif-behavioral, pencarian tema utama, review tema untuk validitas, serta definisi akhir tema. Triangulasi sumber data dari berbagai kasus dilakukan untuk meningkatkan kredibilitas temuan. Validitas dan reliabilitas dijaga melalui peer debriefing oleh dua psikolog anak independen yang mereview proses pengkodean, 3 Ae JOECES serta penerapan member checking retrospektif pada ringkasan kasus arsip. Etika penelitian mematuhi prinsip kerahasiaan data sekunder dengan tidak melibatkan subjek baru. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis tematik dari data sekunder mengungkapkan tiga tema utama perilaku penakut sebagai indikator gangguan kecemasan anak usia dini. Berikut adalah rangkuman temuan yang diperoleh dari analisis kasus arsip klinis Jakarta dan Yogyakarta: Tabel 1. Ringkasan Indikator Diagnostik Dini Gangguan Kecemasan pada Anak Usia Dini Tema/Gejala Manifestasi Perilaku Frekuensi Kasus Tingkat Risiko Kecemasan Pemisahan Tangisan >15 menit saat keringat dingin berulang 87% kasus . BeratAePatologis Penghindaran Baru Freeze response, bermain aktivitas kelompok 75% kasus . SedangAeBerat Keluhan Somatik Sakit perut tanpa sebab medis, pusing berulang, mimpi buruk 67% kasus . SedangAeBerat Gangguan Pola Tidur Sulit tidur, terbangun malam hari, takut gelap 58% kasus . RinganAeSedang Isolasi Sosial Menolak kelompok, diam total di lingkungan baru 50% kasus . Sedang Situasi Sumber: Analisis tematik data sekunder arsip klinis Jakarta & Yogyakarta, 2024 Klasifikasi Pola Perilaku Penakut sebagai Indikator Diagnostik Pengenalan pola perilaku penakut yang spesifik menandakan gangguan kecemasan memerlukan pemahaman mendalam tentang manifestasi gejala yang melampaui ketakutan normal Anak berusia tiga hingga enam tahun dalam kasus arsip PAUD Jakarta dan Yogyakarta menunjukkan respons emosional berlebih seperti tangisan berkepanjangan saat pemisahan dari orang tua yang bukan sekadar reaksi sementara, melainkan pola persisten. Klasifikasi pola dimulai dengan identifikasi tema kecemasan pemisahan sebagai indikator Analisis tematik mengungkapkan bahwa anak dengan gangguan kecemasan secara konsisten menolak kehadiran di lingkungan PAUD tanpa pengasuh utama, disertai gejala fisik berulang seperti gemetar atau keringat dingin. Selaras dengan teori attachment Bowlby, ketidakstabilan ikatan aman akibat pola asuh Indonesia yang sering melibatkan kontak fisik intensif memperburuk kondisi ini. Klasifikasi memerlukan pengamatan pola selama minimal dua 4 Ae JOECES minggu. Analisis menghasilkan kerangka empat tingkat: . ringan/adaptif, . sedang/waspada, . berat/intervensi diperlukan, dan . patologis/referral profesional, berdasarkan frekuensi, durasi, dan dampak fungsional perilaku. Kerangka ini mempertimbangkan variasi regional urban vs. dan norma budaya seperti 'manja' yang sering menormalkan perilaku penakut di Indonesia (Coplan & others, 2. Efektivitas Alat Skrining Adaptif (PAS-ID) Efektivitas Preschool Anxiety Scale versi Indonesia (PAS-ID) dalam konteks analisis data sekunder terbukti tinggi melalui kemampuannya mengklasifikasikan gejala kecemasan dari arsip rekam klinis dan wawancara orang tua tanpa memerlukan observasi lapangan baru. Sensitivitas kontekstual yang kuat ditemukan dalam deteksi dini pada anak usia dini di tengah keterbatasan akses langsung. Dalam analisis tematik menggunakan NVivo. PAS-ID adaptif mendemonstrasikan reliabilitas internal melalui konsistensi pengkodean gejala avoidance pada lebih dari sepuluh kasus Item-item budaya seperti 'takut ditinggal di posyandu' atau 'penghindaran acara keluarga besar' secara akurat menangkap nuansa Indonesia yang absen di versi asli. Tingkat akurasi interpretasi tinggi antar-koder independen mengkonfirmasi validitasnya. Dibandingkan dengan adaptasi (Rapee & others, 2. di Asia Tenggara. PAS-ID menunjukkan peningkatan efektivitas melalui penyesuaian item lokal yang menangkap norma 'malu' dalam interaksi sosial, sehingga mengurangi false positive pada kasus penakut adaptif. Secara keseluruhan, alat skrining ini terbukti sebagai instrumen yang actionable, efisien, dan sensitif budaya untuk konteks Indonesia. Integrasi Temuan ke Praktik Pendidikan PAUD Integrasi temuan analisis kasus ke praktik pendidikan PAUD dimulai dengan implementasi checklist skrining sederhana berbasis pola penakut, di mana guru mencatat frekuensi tangisan berkepanjangan saat drop-off harian menggunakan lembar observasi mingguan yang diadaptasi dari PAS-ID. Temuan dari data sekunder Jakarta-Yogyakarta menjadi alat harian yang langsung actionable tanpa pelatihan rumit. Pada sesi bermain kelompok, pola avoidance diintegrasikan melalui modifikasi aktivitas dengan zona aman bertahap, seperti pengenalan mainan baru secara bertahap disertai dukungan verbal dari guru. Kasus arsip menunjukkan efektivitas pendekatan ini dalam mengurangi isolasi. Untuk gejala somatik, jurnal kesehatan harian yang dicatat orang tua dan dibagikan ke PAUD memungkinkan pelacakan korelasi dengan pemicu penakut (Pawestri & Widodo, 2. Pelatihan guru PAUD melalui workshop singkat berbasis temuan kasus memastikan integrasi berkelanjutan, menghasilkan panduan saku empat tingkat klasifikasi risiko untuk pengambilan keputusan harian. Kolaborasi dengan orang tua melalui pertemuan mingguan dan evaluasi berkala 5 Ae JOECES melalui logbook PAUD melengkapi sistem integrasi yang komprehensif namun hemat sumber Kerangka Diagnostik untuk Pengambilan Keputusan Dini Kerangka diagnostik mendukung pengambilan keputusan dini melalui lembar cetak sederhana atau aplikasi berbasis WhatsApp yang mengklasifikasikan pola penakut menjadi level Orang tua dapat menginput gejala harian seperti tangisan pemisahan untuk mendapatkan rekomendasi instan. Di tengah keterbatasan akses psikolog, kerangka ini berfungsi sebagai decision aid mandiri yang hemat biaya. Bagi pendidik PAUD dengan sumber daya minim, kerangka menyediakan flowchart pengambilan keputusan harian untuk kasus avoidance, memandu dari observasi awal ke rujukan komunitas jika level berat tercapai. Adaptasi ke grup WhatsApp komunitas PAUD memungkinkan dukungan daerah rural yang mengatasi keterbatasan transportasi ke klinik (Wulandari & Pratiwi. Integrasi dengan program posyandu nasional memungkinkan penggabungan kerangka dengan pemeriksaan rutin, sehingga keputusan rujukan dini diambil berdasarkan skor PAS-ID adaptif dari gejala rumah. Pelatihan daring gratis berbasis kerangka ini memberdayakan pendidik dan orang tua untuk keputusan mandiri, bahkan di wilayah terpencil melalui smartphone. Pada tingkat nasional, kerangka mendukung keputusan Kemdikbud melalui dashboard agregat data anonim dari ribuan PAUD (Hermanto & Nugroho, 2. KESIMPULAN Penelitian ini berhasil mengidentifikasi tiga indikator diagnostik dini utama gangguan kecemasan pada anak usia dini di Indonesia, yaitu kecemasan pemisahan persisten, penghindaran situasi baru, dan keluhan somatik tanpa dasar medis. Kerangka skrining empat tingkat risiko yang dikembangkan berbasis PAS-ID terbukti efektif membedakan kecemasan patologis dari ketakutan normal melalui analisis data sekunder arsip klinis, tanpa memerlukan observasi lapangan baru. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi dimensi budaya lokal Indonesia ke dalam kerangka skrining, yang secara signifikan meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas instrumen dibandingkan versi asli. Implementasi checklist harian di PAUD dan kolaborasi orang tua-guru terbukti menjadi strategi integrasi yang layak dalam konteks keterbatasan sumber daya. Intervensi terapi bermain yang dicatat dalam kasus follow-up menunjukkan pengurangan gejala yang terukur, memperkuat urgensi skrining rutin. Penelitian lanjutan disarankan untuk melakukan validasi longitudinal kerangka ini pada sampel yang lebih luas dengan variasi geografis, serta pengembangan platform digital nasional untuk skrining massal berbasis bukti di lembaga PAUD Indonesia. 6 Ae JOECES DAFTAR PUSTAKA