INTERFERENSI BAHASA SUNDA DALAM BAHASA INDONESIAPADA ANAK USIA 11 S. 16 TAHUN Arum Gati Ningsih1. Nurfadilah2. Rahmawati3. Masyunita Siregar4 Universitas Jambi1 2,3,4 *Corresponding author Email: arumgatin@unja. Abstrak Latar belakang penelitian ini adalah penggunaan dua bahasa dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Sehingga terjadinya interferensi bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Sunda. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui serta mendata bentuk-bentuk interferensi bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Sunda bidang fonologi dan morfologi pada anak usia 11 s. 16 tahun di Desa Karang Endah. Kecamatan Semendawai Suku i. Kabupaten OKU Timur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dari hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat 14 kata bahasa Sunda yang sering digunakan pada anak usia 11 s. 16 tahun saat mereka melakukan percakapan. Dari semua ujaran yang disampaikan oleh sampel, kata yang sering digunakan oleh anak yang menggunakan bahasa Indonesia yaitu sapuluh, limak, tigak, karenak, sangaja ngagambar, doAoak, orangtuana, temen-temenna, ngalawak, nggak, nanya, dan kaceplosan. Kata kunci: interferensi, bahasa sunda, anak Abstract The heritage of this lookup is the use of two languages in speaking both orally and in writing. So that there is interference from Sundanese into Indonesian and Indonesian into Sundanese. The purpose of this study is to pick out and record varieties of Sundanese interference into Indonesian and Indonesian into Sundanese in the fields of phonology and morphology in teens aged eleven to. sixteen years historic in Karang Endah Village. Semendawai Suku i. Kabupaten OKU. This research uses a descriptive method, from the outcomes of the lookup that has been completed there are 14 Sundanese phrases that are often used in teenagers aged 11 to. 16 years as they had a conversation. Of all the utterances conveyed with the aid of the sample, the phrases that had been often used through adolescents who used Indonesian : sapuluh, limak, tigak, karenak, sangaja ngagambar, doAoak, orangtuana, temen-temenna, ngalawak, nggak, nanya, dan kaceplosan. Keywords: interference, sundanese, child PENDAHULUAN Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh masyarakat untuk berkerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Dengan bahasa seseorang dapat menerima dan memberikan informasi, baik secara lisan maupun tulisan kepada orang Dengan demikian, bahasa dapat disebut sebagai alat komunikasi dengan orang lain dalam suatu sistem sosial atau masyarakat. Indonesia adalah masyarakat multilingual atau masyarakat yang menguasai lebih dari dua bahasa. Selain bahasa Indonesia yang digunakan secara nasional, terdapat pula e-ISSN 2963-2978 Vol. 2 No. : Lintang Aksara ratusan bahasa daerah dari 34 provinsi di Indonesia yang sering digunakan oleh masingmasing daerah asal bahasa tersebut. Keberagaman bahasa tersebut menjadikan masyarakat Indonesia sebagai Masyarakat Bahasa. Menurut (Susanto, 2. penggunaan dua bahasa yang digunakan oleh masyarakat bahasa yang terletak pada proses pembentukan bahasa yang digunakannya. Masuknya unsur atau aturan-aturan bahasa pertama dalam bahasa kedua sering terjadi dalam proses belajar bahasa kedua. Penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pertama dan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua secara bergantian dapat menimbulkan kontak bahasa. Kontak bahasa pertama dengan bahasa kedua mengakibatkan hubungan timbalbalik dan saling mempengaruhi antarbahasa. Penggunaan unsur atau aturan-aturan bahasa pertama dalam penggunaan bahasa kedua menyebabkan terjadinya interferensi. Interferensi berarti adanya saling pengaruh Pengaruh itu dalam bentuk yang paling sederhana berupa pengambilan suatu unsur dari satu bahasa dan digunakan dalam hubungannya dengan bahasa lain. AuInterferensi pertama kali digunakan untuk menyebut adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya penutur yang bilingualAy. Weinreich dikutip (Chaer. Penutur yang bilingual adalah penutur yang menggunakan dua bahasa secara dan penutur multilingual, kalau ada, tentu penutur yang dapat menggunakan banyak bahasa secara bergantian. Interferensi bahasa yang ditemukan di Desa Karang Endah. Kecamatan Semendawai Suku i. Kabupaten OKU Timur yang mayoritas warganya adalah orang sunda yaitu interferensi bahasa yang dianggap sebagai gejala tutur dalam berbahasa. Kebanyakan anak usia 11 s. 16 tahun keturunan Sunda menggunakan dua bahasa secara bersamaan saat Mereka bingung untuk membedakan penggunaan kedua bahasa tersebut dalam siatuasi formal dan nonformal, sehingga berpengaruh terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik saat komunikasi berlangsung. Peristiwa sepertiini masih dianggap sebagai penyimpangan berbahasa. Peristiwa yang terjadi pada anak baik di lingkungan tempat tinggal maupun sekolah dasar yang mengalami interferensi bahasa hendaknya lebih mempelajari bahasa sesuai dengan konteksnya. Ketika mengucapkan sebuah bahasa hendaknya bahasa tersebut tetap utuh tanpa ada bahasa campuran. Weinrich . alam Fauziati, 2. mengungkapkan terjadinya interferensi dalam suatu bahasa, antara lain, disebabkan oleh faktor sebagai berikut: . kedwibahasaan para peserta . tipisnya kesetiaan pemakai bahasa penerima. tidak cukupnya kosakata bahasa penerima dalam menghadapi kemajuan dan pembaruan. menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan. kebutuhan akan sinonim. prestise bahasa sumber dan gaya METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang penting untuk memahami suatu fenomena sosial dan perspektif individu yang diteliti. Tujuan pokoknya adalah menggambarkan, mempelajari, dan menjelaskan fenomena itu. Pemahaman mengeksplorasikannya dalam sebuah narasi (AR. Syamsudin, 2. Data dalam penelitian ini adalah keterwakilan populasi penelitian. Titik fokus penelitian ini adalah interferensi tuturan bidang fonologi dan morfologi bahasa Sunda dalam pemakaian bahasa Indonesia anak usia 11 s. 16 tahun di Desa KarangEndah Kecamatan Semendawai Suku i. Kabupaten OKU Timur Teknik pengumpulan data dengan cara observasi dan wawancara. Wawancara dilakukan dengan cara teknik rekam, simak, dan catat. Analisis data dalam penelitian ini diperoleh dari teknik rekam, teknik simak, kemudian dicatat dan diinterferensikan dengan menganalisis isi berdasarkan prosedur yang telah dibuat. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Interferensi Morfologi Bahasa Sunda Transkrip rekaman 1 Peneliti : Berapa soalnya? Objek : Ada sapuluh Peneliti : Elsa kegiatannya apa saja tadi di sekolah?? Objek : Volly, belajar, beli jajan terus dapat nilai IPS tujuh koma limak. Peneliti : Selama remaja, sudah bisa menggunakan berapa bahasa untuk dapat berkomunikasi di lingkungan rumah? Objek : Tigak bahasa. Dalam morfologi bahasa Sunda kata Aulimak, tigakAy memiliki sebuah penekanan yang tidak terjadi di dalam bahasa Indonesia. Kata-kata tersebut dalam pelafalannya memiliki sebuah penekanan tersendiri yang menimbulkan penambahan huruf pada kata bahasa Sunda adalah huruf AukAy. Sedangkan di dalam bahasa Indonesia kata Aulima dan tiga Ay tidak ada akhiran atau sufiks huruf AukAy seperti yang terdapat pada bahasa Sunda. Sedangkan kata AusapuluhAy merupakan kata dari bahasa Sunda, dalam bahasa Indonesia penulisan yang benar kata tersebut adalah AusepuluhAy. Transkrip Rekaman 1 Peneliti : Kenapa bisa sampai mencampuradukkan? Objek : Buru-buru terus terganggu. Kata Auburu-buruAy merupakan dialek bahasa Sunda yang artinya memiliki persamaan dengan bahasa Indonesia yaitu Autergesa-gesaAy. Kata buru-buru dalam bahasa Sunda tidak memiliki imbuhan awalan, sedangkan dalam bahasa Indonesia memiliki imbuhan awalan termaka artinya akan sama tergesa-gesa. Namun, jika hanya kata buru saja memiliki makna yang berbeda, yaitu mengejar atau mencari . inatang dalam hutan dan sebagainy. Transkrip Rekaman 2 Peneliti Objek :Apa tugas keseniannya? : Disuruh Ngagambar. Kata AungagambarAy seharusnya ditulis AumenggambarAy, karena dalam bahasa Indonesia tidak ada awalan atau afiks ng- melainkan awalan me-, dan awalan ng- adalah bentuk awalan dalam bahasa Sunda. Kata dasar AumenggambarAy dalam bahasa Indonesia dan AungagambarAy dalam bahasa Sunda mempunyai bentuk yang sama, yaitu kata AugambarAy. Muncul variasi pengucapan pada kata tersebut disebabkan oleh pengaruh bahasa Sunda. Transkrip Rekaman 2 Peneliti : Kenapa kumpul? Objek : Kumpul mau doAoak gitu Kata AudoAoakAy yang diakhiri dengan fonem /k/ pada kosakata di atas, merupakan dialek yang terdapat di dalam bahasa Sunda, yang seharusnya ditulisAydoaAy dengan tidak menambahkan fonem AukAy. Pada proses penambahan fonem pada kata tersebut mengakibatkan kekeliruan dalam pengucapan atau pelafalannya, ini terjadi karena adanya pengaruh pemerolehan bahasa pertama terhadap bahasa kedua. Transkrip Rekaman 3 Peneliti : Kalau pernah, apa faktor atau penyebab yang membuat Titim itu mencampuradukkan bahas ibu dengan bahasa kedua? Objek : Karena orang tuana juga kalau di rumah ngomongna pakai bahasa Sunda. Kata Auorang tuanaAy seharusnya ditulis Auorang tuanyaAy, karena dalam bahasa Indonesia tidak ada imbuhan akhiran atau sufiks -na melainkan akhiran Aenya. Namun makna yang terkandung adalah sama-sama menunjukkan sebuah objek ketiga dari sebuah kalimat. Akhiran Aean adalah bentuk akhiran dalam bahasa Sunda. Kata dasar Auorang tuanyaAy dalam bahasa Indonesia dan Auorang tuanaAy dalam bahasa Sunda mempunyai bentuk yang sama, yaitu kata AuorangtuaAy. Muncul variasi pengucapan pada kata tersebut disebabkan oleh pengaruh bahasa Sunda. Transkrip Rekaman 3 Peneliti : Kenapa sembilan? Objek : Yaa itu, temen-temenna lebih pinter. Dari pada temen-temen SD gitu. Kata Autemen-temennaAy merupakan kosakata yang terdapat di dalam bahasa Sunda. Sedangkan penulisan yang benar dalam penulisan bahasa Indonesia yaitu AutemantemannyaAy, kesalahan yang terjadi pada kata Autemen-temennaAy itu terletak pada fonem /a/ menjadi fonem /e/ dan akhiran Aean, yang tidak terdapat akhiran itu pada bahasa Indonesia. Transkrip Rekaman 3 Peneliti : Ganteng yah Pak Suryadi? Objek : Ya luculah, suka ngalawak. Kata AungalawakAy seharusnya ditulis AumelawakAy, karena dalam bahasa Indonesia tidak ada awalan atau afiks ng- melainkan awalan me-, dan awalan ng- adalah bentukawalan dalam bahasa Sunda. Kata dasar AumelawakAy dalam bahasa Indonesia dan AungalawakAy dalam bahasa Sunda mempunyai bentuk yang sama, yaitu kata AulawakAy. Muncul variasi pengucapan pada kata tersebut disebabkan oleh pengaruh bahasa Sunda. Analisis Interferensi Fonologi Bahasa Sunda Transkrip Rekaman 1 Peneliti : Elsa kegiatannya apa saja tadi di sekolah?? Objek : Volly, belajar, beli jajan terus dapat nilai IPS tujuh koma limak. Peneliti : Selama remaja, sudah bisa menggunakan berapa bahasa untuk dapat berkomunikasi di lingkungan rumah? Objek : Tigak bahasa. Di dalam interferensi fonologi, berakibat juga kesalahan penulisan lafal dan dialek yang menjadi titik beratnya. Hal ini terjadi pula pada interferensi bahasa Sunda dalam menggunakan bahasa Indonesia seperti pada kata Aulimak, tigak, dan sapuluhAy. Kata Aulimak dan tigak,Ay yang diakhiri dengan fonem /k/ pada kosakata di atas, merupakan dialek yang terdapat di dalam bahasa Sunda, yang seharusnya di tulis Aulima dan tigaAy dengan tidak menambahkan akhiran atau afiks AukAy. Pada proses penambahan huruf pada kata tersebut mengakibatkan kekeliruan dalam pengucapan atau pelafalannya, ini terjadi karena adanya pengaruh pemerolehan bahasa pertama terhadap bahasa kedua. Transkrip Rekaman 1 Peneliti : Berapa soalnya? Objek : Ada sapuluh Kata AusapuluhAy yang menggunakan fonem /a/ pada kata di atas, merupakan kosakata dialek yang terdapat di dalam bahasa Sunda, yang seharusnya di tulis dalam bahasa Indonesia AusepuluhAy yaitu menggunakan fonem /e/, pada proses tersebut sudah terjadi pergantian bunyi fonem /e/ menjadi /a/ yang mengakibatkan terjadinya kekeliruan dalam pengucapan atau Pergantian fonem /a/ menjadi fonem /e/ pada kata Au sepuluhAy menjadi AusapuluhAy, ini terjadi karena adanya pengaruh bahasa Sunda dalam menggunakan bahasa Indonesia. Transkrip Rekaman 2 Peneliti : Menggambar apa? Objek : Iya kaligrapi. Kata AukaligrapiAyyang menggunakan fonem /p/ pada kata di atas, merupakan kosakata yang terdapat pada bahasa Sunda, yang seharusnya ditulis AukaligrafiAy yaitu menggunakan fonem /f/, pada proses tersebut sudah terjadi pergantian bunyi fonem /f/ menjadi /p/ yang mengakibatkan kekeliruan dalam pengucapan atau pelafalan. Pergantian forem /f/ menjadi /p/ pada kata AukaligrafiAy menjadi AukaligrapiAy, ini terjadi karena adanya pengaruh bahasa Sunda. Transkrip Rekaman 2 Peneliti : Faktor atau penyebabnya yang membuat Mega mencampuradukkan bahasa pertama . dengan bahasa kedua yang bahasa Indonesia? Objek : Itu nggak sangaja suka kaceplosan Kata AusangajaAy yang menggunakan fonem /a/ pada kata di atas, merupakan kosakata yang terdapat pada bahasa Sunda, yang seharusnya ditulis AusengajaAy yaitu menggunakan fonem AueAy, pada proses tersebut sudah terjadi pergantian bunyi fonem /e/ menjadi /e/ yang mengakibatkan kekeliruan dalam pengucapan atau pelafalan. Pergantian pelafalan fonem /e/ menjadi /a/ pada kata AusengajaAy menjadi kata AusangajaAy, ini terjadi karena adanya pengaruh bahasa Sunda. Transkrip Rekaman 2 Peneliti : Kenapa kumpul? Objek : Kumpul mau doAoak gitu Kata AudoAoakAy yang diakhiri dengan fonem /k/ pada kosakata di atas, merupakan dialek yang terdapat di dalam bahasa Sunda, yang seharusnya ditulisAydoaAy dengan tidak menambahkan akhiran atau sufiks AukAy. Pada proses penambahan huruf pada kata tersebut mengakibatkan kekeliruan dalam pengucapan atau pelafalannya, ini terjadi karena adanya pengaruh pemerolehan bahasa pertama terhadap bahasa kedua. Transkrip Rekaman 3 Peneliti : Kenapa sembilan? Objek : Yaa itu, temen-temenna lebih pinter. Dari pada temen-temen SD gitu Kata Autemen-temennaAo yang meggunakan fonem /e/ dan akhiran Aena pada kata di atas, merupakan kosakata yang terdapat pada bahasa Sunda, yang seharusnya ditulis AutemantemannyaAy yaitu menggunakan fonem /a/ dan akhiran Aenya, pada proses tersebut sudah terjadi pergantian bunyi fonem /a/ menjadi /e/ yang mengakibatkan kekeliruan dalam pengucapan atau pelafalan. Pergantian pelafalan fonem /a/ menjadi /e/ pada kata AutemantemannyaAy menjadi kata Autemen-temennaAy, ini terjadi karena adanya pengaruh bahasa Sunda. Transkrip Rekaman 3 Peneliti : Ganteng yah Pak Suryadi? Objek : Ya luculah, suka ngalawak. Kata AungalawakAy yang menggunakan fonem /a/ dan mendapatkan imbuhan awalan ng- merupakan kosakata yang terdapat pada bahasa Sunda, seharusnya ditulis AumelawakAy, yaitu karena dalam bahasa Indonesia tidak ada awalan ng- melainkan awalan me-, dan awalan ng- adalah bentuk awalan dalam bahasa Sunda. Kata dasar AumelawakAy dalam bahasa Indonesia dan AungalawakAy dalam bahasa Sunda mempunyai bentuk yang sama, yaitu kata AulawakAy. Muncul variasi pengucapan pada kata tersebut disebabkan oleh pengaruh bahasa Sunda. Transkrip Rekaman 4 Peneliti : Faktor atau penyebabnya yang membuat Mega mencampuradukkan bahasa pertama . dengan bahasa kedua yang bahasa Indonesia? Objek : Itu nggak sengaja suka kaceplosan Kata Aukaceplosan Ao yang meggunakan fomen /a/ pada kata di atas, merupakan kosakata yang terdapat pada bahasa Sunda, yang seharusnya ditulis AukeceplosanAy yaitu menggunakan fonem /e/, pada proses tersebut sudah terjadi pergantian bunyi fonem /e/ menjadi /a/ yang mengakibatkan kekeliruan dalam pengucapan atau pelafalan. Pergantian pelafalan fonem /e/ menjadi /a/ pada kata AukeceplosanAy menjadi kata AukaceplosanAy, ini terjadi karena adanya pengaruh bahasa Sunda Sunda. Transkrip Rekaman 4 Peneliti : Kenapa seperti itu? Objek : Nggak tahu. Bapaknya kalau nanya suka pakai bahasa Indonesia. Tapi kalau sama mamah bahasa Sunda, tapi kadang-kadang pakai bahasa Sunda. Kata AunggakAy adalah kosakata bahasa Sunda, dan kata yang ada di dalam bahasa Indonesia adalah AutidakAy. Kata AutidakAy merupkan partikel untuk menyatakan pengingkaran, penolakan, penyangkalan. Sementara kata AunanyaAy yang meggunakan fomen /n/ pada kata di atas, merupakan kosakata yang terdapat pada bahasa Sunda, yang seharusnya ditulis AutanyaAy yaitu menggunakan fonem /e/, pada proses tersebut sudah terjadi pergantian bunyi fonem /t/ menjadi /n/ yang mengakibatkan kekeliruan dalam pengucapan atau pelafalan. Pergantian pelafalan fonem /t/ menjadi /n/ pada kata AutanyaAy menjadi kata AunanyaAy, ini terjadi karena adanya pengaruh bahasa Sunda Sunda. Transkrip Rekaman 4 Peneliti : Ngabantuan naon? (Bantuin apa?) Objek : Ngabantuan ngiris bawang merah sama bawang putih. Bayam na mamah anu motongan (Bantuin ngiris bawang merah sama bawang putih. Ibu yang motongin Kata Aubawang merah bawang putihAy ini merupakan terjadi interferensi dalam bahasa Indonesia ketika menggunakan bahasa Sunda. Jadi selain terjadi interferensi pada bahasa Sunda, terkadang mereka juga mengalami interferensi bahasa Indonesia dalam menggunakan bahasa Sunda. Kata Aubawang merah bawang putihAy dalam pengucapan dan penggunaan bahasa Sunda seharusnya Aubawang berem bawang bodasAy yang menjadi perbedaannya adalah Aumerah = beremAy dan Auputih = bodasAy. Pada kata tersebut memiliki perbedaan tulisan dan bunyi, tetapi memiliki makna yang sama. Hasil Analisis Data Berdasarkan transkrip dan deskripsi data hasil rekaman, mengenai penggunaan bahasa yang terjadinya interferensi tuturan bahasa Sunda dalam pemakaian bahasa Indonesia. Maka peneliti menganalisis data tersebut, dan setelah di analisis berdasarkan ilmu morfologi dan fonologi ternyata dalam berkomunikasi sehari-hari memang sebagian anak usia 11 s. 16 tahun masih terjadi interferensi atau masuknya unsur bahasa pertama dalam penggunaan bahasa kedua. Hanya saja mereka mengerti apa maksud dari yang menjadi lawan bicaranya, sehingga hasil analisis data tersebut dapat dilihat sebagai berikut. Penggunaan kosakata sapuluh Kata sapuluh merupakan kosakata bahasa Sunda, di dalam bahasa Indonesia penulisannya adalah AusepuluhAy. Kata sepuluh merupakan sebuah angka yang memiliki arti tanda atau lambang sebagai pengganti bilangan nomor. Kata sapuluh mendapat perubahan huruf vokal dalam bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia, huruf AoaAo di dalam bahasa Sunda dan huruf AoeAo dalam bahasa Indonesia. Jadi hanya sedikit perubahannya yaitu penggantian huruf vokalnya saja dari kata sepuluh menjadi Penggunaan kosakata limak Kata limak merupakan kosakata bahasa Sunda, di dalam bahasa Indonesia penulisannya adalah AulimaAy. Kata lima merupakan sebuah angka yang memiliki arti tanda atau lambang sebagai pengganti bilangan nomor. Kata limak mendapatkan imbuhan K di dalam pengucapan bahasa Sunda. Penggunaan kosakata tigak Kata tigak merupakan kosakata bahasa Sunda, di dalam bahasa Indonesia penulisannya adalah AutigaAy. Kata tiga merupakan sebuah angka yang memiliki arti tanda atau lambang sebagai pengganti bilangan nomor. Sama halnya kata limak , kata tigak mendapatkan imbuhan K di dalam pengucapan bahasa Sunda. Penggunaan kosakata ngagambar Kata ngagambar merupakan kosakata bahasa Sunda, di dalam bahasa Indonesia penulisannya adalah AumenggambarAy. Kata menggambar merupakan kata dasar dari kata AugambarAy yang mendapatkan imbuhan me-. Kata ngagambar mendapat perubahan huruf vokal dalam bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia, huruf AoaAo di dalam bahasa Sunda dan huruf AoeAo dalam bahasa Indonesia. Jadi hanya sedikit perubahannya yaitu penggantian huruf vokal dan imbuhannya saja dari kata ngagambar menjadi menggambar. Penggunaan kosakata kaligrapi Kata kaligrapi merupakan kosakata bahasa Sunda, di dalam bahasa Indonesia penulisannya adalah AukaligrafiAy. Namun pada dasarnya kata kaligrapi mapun kaligrafi sama-sama memiliki makna yaitu seni menulis indah dengan pena. Interferensi atau kesalahan pelafalan dan penulisannya hanya terjadi pada huruf /p/ dan /f/ saja. Penggunaan kosakata sangaja Kata AusangajaAy merupakan kosakata bahasa Sunda, di dalam bahasa Indonesia penulisannya adalah AusengajaAy. Kata AusengajaAy maupun AusangajaAy pada dasarnya memiliki makna yang sama yaitu di rencanakan, memang di niatkan begitu. Hanya saja terjadi kesalahan pelafalan dan pengucapan pada huruf /e/ menjadi huruf /a/ pada kosakata bahasa Sunda. Penggunaan kosakata doAoak Kata doAoak merupakan kosakata bahasa Sunda, di dalam bahasa Indonesia penulisannya adalah AudoaAy. Kata doa merupakan kata permohonan atau harapan, permintaan, pujian kepada Tuhan. Sama halnya kata limak, tigak, karenak dan kata doAoak mendapatkan imbuhan AukAy di dalam pengucapan bahasa Sunda. Penggunaan kosakata orang tuana Kata Auorangt uanaAy merupakan kosakata bahasa Sunda, di dalam bahasa Indonesia artinya adalah AuorangtuanyaAy. Kata dasar dari orangtua sendiri merupakan berkaitan dengan status bukan dengan usia orang yang bersangkutan, sedangkan kata orang tua bersangkutan dengan usia, yang sudah lanjut usianya. Orang tua pada umumnya adalah orangtua, tetapi tidak setiap orangtua adalah orang tua. Sama halnya dengan makna orangtuanna dengan orangtuanya yang memiliki penekanan kepada status untuk ayah-ibu. Penggunaan kosakata temen-temenna Kata Autemen-temennaAy merupakan kosakata bahasa Sunda, di dalam bahsa Indonesia pelafalan dan penulisan yang tepat adalah Auteman-temannyaAy. Kata teman memiliki makna orang yang bersama-sama bekerja . erbuat, berjala. , lawan bercakap-cakap. Jadi jika kalimatnya menggunakan teman-teman memiliki makna yang lebih dari satu orang, teman-temannya berarti makna yang terkandung adalah temanya si orang ketiga. Penggunan kosakata AungalawakAy Kata AungalawakAy merupakan kosakata bahasa Sunda, di dalam bahasa Indonesia pelafalan dan penulisan yang tepat adalah AumelawakAy. Kata dasar dari melawak yaitu AulawakAy artinya lucu, jenaka, sedangkan AumelawakAy adalah berbuat Namun pada dasarnya makna dari kata ngalawak dan melawak adalah samasama seseorang yang sedang berbuat lucu atau berjenaka. Penggunaan kosakata AuKaceplosanAy Kata AukaceplosanAy merupakan kosakata bahasa Sunda, di dalam bahasa Indonesia pelafalan dan penulisan yang tepat adalah AukeceplosanAy. Kata dasar dari keceplosan yaitu AuceplosAy artinya mengatakan dan sebagainya dengan terus terang, sedangkan AukeceplosanAy adalah tidak dengan sengaja terus terang. Namun pada dasarnya makna dari kata kaceplosan dan keceplosan adalah sama-sama unsur ketidak sengajaan yang subjek bicarakan. Penggunaan kosakata AuNanyaAy Kata AunanyaAy merupakan kosakata bahasa Sunda, sedangkan dalam bahasa Indonesia adalah AutanyaAy. Meskipun kata tersebut memiliki perbedaan antara fonem AunAy dan fonem AutAy, tetapi memiliki persamaan makna yaitu pertanyaan. Penggunaan kata AuNggakAy Kata AunggakAy merupakan kosakata bahasa Sunda, sedangkan dalam bahasa Indonesia adalah AutidakAy. Meskipun kata tersebut sangat berbeda antara tulisan dan Namun, arti dari kata tersebut sama-sama menjelaskan pernyataan Tabel Hasil Analisis No. Bahasa Sunda Bahasa Indonesia Sapuluh Sepuluh Limak Lima Tigak Tiga Ngagambar Menggambar Kaligrapi Kaligrafi Sangaja Sengaja DoAoak Doa Orangtuana Orangtuanya Temen-temenna Teman-temannya Ngalawak Melawak Kaceplosan Keceplosan Nanya Tanya Nggak Tidak Pembahasan Berdasarkan pengertian interferensi, interferensi meliputi penggunaan unsur yang masuk ke dalam suatu bahasa waktu berbicara dalam bahasa lain dan penerapan dua buah sistem bahasa secara serentak terhadap suatu unsur bahasa, serta akibatnya berupa penyimpangan dari norma tiap-tiap bahasa yang terjadi dalam tuturan dwibahasawan. Interferensi berarti adanya saling pengaruh antarbahasa. Pengaruh itu dalam bentuk yang paling sederhana berupa pengambilan suatu unsur dari satu bahasa dan digunakan dalam hubungannya dengan bahasa lain (Aslinda, 2. Berdasarkan analisis data ilmu fonologi dan morfologi ternyata dalam berkomunikasi sehari-hari memang sebagian anak usia 11 s. 16 tahun dan kemungkinan besar setiap manusia tidak bisa benar-benar terstruktur dalam berbicara yang harus sesuai fungsi kalimat. Hanya saja mereka mengerti apa maksud dari yang menjadi lawan bicaranya. Pengaruh antarbahasa itu dapat juga berupa pengaruh kebiasaan dari bahasa pertama . yang sudah dikuasai penutur ke dalam bahasa kedua. Adapun kosakata yang mereka ucapkan antara lain: sapuluh, limak, tigak, karenak, sangaja ngagambar, doAoak, orangtuana, temen-temenna, ngalawak, nggak, nanya, dan Kosakata tersebut hanya sebagian kecil yang menjadi hasil dari penelitian interferensi bahasa Sunda dalam pemakaian bahasa Indonesia. Pada hasil penelitian di atas, kosakata tersebut memang memiliki kemiripan dengan bahasa Indonesia karena bahasa Sunda yang digunakan di desa Karang Endah, mayoritas dari semua kalangan tua muda tidak menggunakan bahasa Sunda yang lembut atau halus, namun sedang atau kasar. Contohnya pada kata AuorangtuanaAy dalam bahasa Sunda lembutnya adalah Auibu ramaAy. Autemen-temenna bahasa Sunda lembutnya adalah AurerencanganaAy, dan AungalawakAy bahasa Sunda lembutnya adalah AungabodorAy. Sedangkan kosakata seperti Aulimak, tiga, sapuluh, karenak, doAoak, dan kaceplosan adalah kosakata yang bisa di sebut sebagai perubahan dialek yang menyebabkan terjadinya interferensi pada fonologi dan morfologi. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam interferensi tuturan bahasa Sunda dalam pemakaian bahasa Indonesia anak usia 11 s. 16 tahun di Desa Karang Endah. Kecamatan Semendawai Suku i. Kabupaten OKU Timur, dapat disimpulkan bahwa interferensi merupakan kesalahan dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Nusantara berlaku bolak-balik, artinya, unsur bahasa daerah bisa memasuki bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia banyak memasuki bahasa-bahasa Interferensi berarti adanya saling pengaruh antarbahasa. Berdasarkan deskripsi dan analisis data, dapat diperoleh simpulan bahwa interferensi tuturan bahasa Sunda dalam pemakaian bahasa Indonesia terjadi di kalangan anak usia 11 s. 16 tahun di Desa Karang Endah. Kecamatan Semendawai Suku i. Kabupaten OKU Timur. Dalam hasil analisis dan deskripsi data tersebut terdapat 14 kata bahasa yang telah terjadi interferensi digunakan pada anak usia 11 16 tahun saat mereka melakukan percakapan. Hasil analisis data ilmu bahasa yang meliputi sintaksis, fonologi dnamorfologi ternyata dalam berkomunikasi sehari-hari memang sebagian anak usia 11 16 tahun dan kemungkinan besar setiap manusia tidak bisa benar-benar terstruktur dalam berbicara yang harus sesuai fungsi kalimat. Hanya saja mereka mengerti apa maksud dari yang menjadi lawan bicaranya. Adapun kosakata yang mereka ucapkan antara lain, sapuluh, limak, tigak, karenak, sangaja ngagambar, doAoak, orangtuana, temen-temenna, ngalawak, nggak, nanya, dan kaceplosan. Interferensi bahasa tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor: . ketidakpahaman anak dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, . bahasa yang digunakan anak dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa daerah sehingga terjadinya sebuah interferensi bahasa, . lingkungan masyarakat . isalnya anak tersebut berbahasa Sunda, ketika di lingkungan yang mayoritasnya berbahasa Indonesia anak tersebut akan terbawa dengan bahasa yang digunakan oleh sekitarnya. Namun, penggunaan bahasa Indonesia akan terpengaruh dengan bahasa daerah yang pertama kali dikuasainy. DAFTAR RUJUKAN AR. Syamsudin, dan D. Metode penelitian pendidikan bahasa. Remaja Rosdakarya. Aslinda, dan S. Pengantar Sosiolinguistik. Rafika Aditama. Chaer. & L. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Rineka Cipta. Fauziati. Interferensi Gramatikal Bahasa Indonesia dalam Bahasa Inggris: Kasus pada Buku LKS Bahasa Inggris untuk SLTP di Surakarta. Jurnal Penelitian Humaniora, 17. , 96Ae109. Susanto. Interferensi Integrasi Bahasa. https://bagawanabiyasa. com/2016/08/14/interferensi-danintegrasi-bahasa/