347 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 Tasamuh: Jurnal Studi Islam Volume 17. Nomor 2. Oktober 2025 . Hal 347-363 ISSN 2086-6291 . 2461-0542 . https://e-jurnal. id/index. php/Tasamuh Penerapan Metode Jigsaw Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Akidah Akhlak Ambo Bengnga MTs AsAoadiyah Uloe Email: angga. skg72@gmail. Nursanti MTs AsAoadiyah Uloe Email: nursantiskg45@gmail. Sumarni MTs AsAoadiyah Uloe Email: sumarnitpa@gmail. Diterima: . 5-04-. Direvisi: [ 2025-05-. Disetujui: . 5-11-. Abstract This study aims to analyze the application of the Jigsaw method to improve student learning outcomes in Akidah Akhlak learning in class IX B MTs As'adiyah Uloe. This type of research is a class action research (PTK) using a sequential design explanatory approach. The data collection methods used in this study are test, observation, and documentation methods. Data processing and analysis techniques using descriptive statistics by presenting data in the form of tables / graphs, calculating averages, and percentages using Ms. Excel. The research subjects in this study were class IX B students totaling 32 people with details of 13 men and 19 women. The results showed that the percentage of completeness of student learning outcomes in the pre-cycle was 41%, cycle I was 63%, and cycle II was 100%. The percentage of noncompletion of student learning outcomes in the pre-cycle was 59%, cycle I was 37%, and cycle II was 0%. Keywords: Jigsaw Method. Improved Learning Outcomes. Akidah Akhlak. Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 | 348 PENDAHULUAN Seorang guru, atau pendidik dalam definisi yang paling luas, adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menginspirasi dan mendorong orang lain untuk mencapai standar keunggulan yang tinggi, sehingga dapat meningkatkan kualitas manusia. Menurut pendekatan ini, siapa pun, di mana pun, kapan pun, dapat dianggap sebagai pendidik. Kehadiran seorang instruktur memiliki dampak yang signifikan terhadap cara belajar siswa. Oleh karena itu, seorang pengajar yang memiliki kualitas yang baik . dalam proses pendidikan sangat dihargai. Guru adalah penebar rahmat . 2 Sebagaimana firman Allah dalam QS. al-AnbiyaAo/21: 107 bahwa AuDan Kami tidak mengutus engkau (Muhamma. melainkan untuk . rahmat bagi seluruh alamAy. 3 Makna ayat ini memberikan gambaran yang sangat jelas tentang kepribadian Nabi Muhammad. Ia adalah orang yang penuh belas kasihan yang tidak hanya memberikan kebijaksanaan, tetapi juga memberikan berkat dan karunia kepada semua orang di sekitarnya yang dapat menerimanya. 4 Guru disebut-sebut sebagai penebar kebaikan sebab ia tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mencontohkan akhlak yang baik, bagi peserta didik dan Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan pengetahuan peserta didik, khususnya dalam pembelajaran Akidah Akhlak yang menjadi pondasi bagi pembentukan moral dan etika siswa. Pembelajaran Akidah Akhlak adalah proses pendidikan yang berfokus pada pengajaran dan penanaman nilai-nilai keimanan . dan perilaku yang baik . berdasarkan ajaran Islam. Mata pelajaran ini merupakan salah satu bagian penting dalam kurikulum pendidikan agama Islam di sekolah, yang bertujuan untuk membentuk siswa menjadi individu yang beriman, berakhlak mulia, dan mampu menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal merawat dan membina karakter siswa, guru PAI adalah yang terbaik di bidang pendidikan. Kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh Muhammad Yusron Maulana El-Yunusi. Amalia Salsabilla, and Nurul Arifin. AuGuru Profesional Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam,Ay Jurnal Pendidikan dan Konseling 5, 1 . : 4204Ae4212. Mujib Ridlwan and Zakariyah. AuRelevansi Kompetensi Guru Menurut Uu No 14 Tahun 2005 Dengan Ayat-Ayat Al-QurAoan Tentang Guru Dan Dosen,Ay THE JOER: Journal Of Education Research 1, no. : 108Ae119. Kementerian Agama. Al-Jumanat Al-AoAli: Al-QurAoan Dan Terjemahnya (Bandung: JArt, 2. Quraish Shihab. Wawasan Al-QurAoan: Tafsir MaudhuAoi Atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1. 349 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 guru PAI, dan pembelajaran berjalan lebih lancar ketika instruksi diberikan oleh guru yang mahir dan efektif. 5 Oleh sebab itu, guru wajib memiliki beberapa aspek kecakapan diantaranya pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. 6 Terkhusus guru PAI, wajib juga memiliki kecakapan leadership . Elliot Aronson menciptakan metode pembelajaran kooperatif yang dikenal dengan nama Jigsaw. Metode Jigsaw adalah salah satu metode pembelajaran kooperatif di mana siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk mempelajari dan mengajarkan bagian tertentu dari materi pelajaran kepada rekan-rekan mereka. 8 Metode ini dirancang untuk mendorong kolaborasi, tanggung jawab bersama, dan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Istilah jigsaw . ang berarti puzzle dalam bahasa Inggri. yaitu menggambarkan cara kerja metode ini, di mana setiap bagian informasi yang dipelajari oleh kelompok berbeda saling melengkapi, seperti potonganpotongan puzzle yang membentuk gambaran utuh. 10 Berikut adalah sintaks metode Jigsaw. Pertama, pembentukan kelompok asal. Kedua, pembentukan kelompok ahli. Ketiga, kembali ke kelompok asal. Keempat, diskusi kelompok dan penutup. Pada Kurikulum Merdeka, pembelajaran sangat diharapkan dapat berpusat pada siswa dan pengembangan kompetensi secara holistik, metode Jannata Anhar. Rani Darmayanti, and Usmiyatun. AuPengaruh Kompetensi Guru Agama Islam Terhadap Implementasi Manajemen Sumber Daya Manusia Di Madrasah Tsanawiyah,Ay Assyfa Journal of Islamic Studies 1, no. : 13Ae23. Nurbiah. Ahmad SyafiAoi, and Fahril. AuImplementasi Model Problem Based Learning (PBL) Berbantuan Alef Education Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Matematika Tema Himpunan Di MTs AsAoadiyah Uloe,Ay Educandum 9, no. : 126Ae134. Ahmad SyafiAoi and Sahri Bulan. AuMeningkatkan Hasil Belajar Fikih Pada Siswa Kelas VII D Di MTs AsAo Adiyah Uloe Melalui Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think. Pair, and Shar. ,Ay Bacaka: Jurnal Pendidikan Agama Islam 2, no. https://w. ejournal-bacaka. org/index. php/jpai/article/view/78. Edida Pinta Ito. Lili Herawati Parapat, and Nur Afifah. AuPengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap Kemampuan Mengkritik Cerpen Siswa Kelas XI MAN 4 Mandailing Natal,Ay JURNAL ALFA: Penelitian. Pendidikan, dan Bahasa 1, no. : 32Ae42. Nikmatul Musayadah and Devy Habibi Muhammad. AuUpaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Aqidah Akhlaq Dengan Menggunakan Metode Jigsaw Pada Siswa Kelas X IPS MA Ummul Quro Kropak-Bantaran,Ay Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) 4, no. : 184Ae194. Anis Sukmawati. Novi Aghata Nur Khamalia, and Nur Elvinatuz Zuhroh. AuEfektivitas Metode Jigsaw Pada Peserta Didik Abad 21,Ay TSAQOFAH 3, no. : 568Ae Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 | 350 pembelajaran yang berorientasi pada siswa, seperti Jigsaw. Metode ini menjadi sangat relevan dan dibutuhkan. Kurikulum Merdeka memberikan ruang yang lebih besar bagi guru untuk mengembangkan proses belajar yang adaptif dan sesuai dengan kebutuhan serta potensi siswa, sehingga metode seperti Jigsaw cocok diterapkan. Berikut beberapa alasan metode ini efektif diterapkan pada kurikulum saat ini. Pertama, pembelajaran berpusat pada siswa . tudent-centered Kedua, pengembangan keterampilan kolaboratif. Ketiga, pembelajaran inklusif dan diferensiasi. Keempat, peningkatan pemahaman dan retensi. Kelima, membangun kemandirian dan tanggung jawab. Keenam, mendorong inovasi dalam pembelajaran. Penelitian ini didasarkan pada penelitian terdahulu yang relevan. Pertama. Nikmatul Musayadah dan Devy Habibi Muhammad dengan judul penelitian "Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Aqidah Akhlaq Dengan Menggunakan Metode Jigsaw Pada Siswa Kelas X IPS MA Ummul Quro Kropak-Bantaran". Temuan penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar Akidah Akhlak siswa dapat ditingkatkan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran jigsaw. Nilai hasil belajar pada tes akhir dan keaktifan siswa siklus I adalah 75% siswa mendapatkan nilai Ou 75 dan nilai rata-rata keaktifan siswa adalah 1,9. pada tes akhir dan keaktifan siswa siklus II, 80% siswa mendapatkan nilai Ou 75 dan nilai rata-rata keaktifan siswa adalah 2,3. dan pada siklus i, 95% siswa mendapatkan nilai Ou 75 dan nilai rata-rata keaktifan siswa adalah 3,4. Peningkatan hasil belajar dan keaktifan siswa ini menjadi bukti nyata bahwa metode Jigsaw mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Kedua. Qurrotul Aini dan Khoirun Nisa dengan judul PTK "Implementasi Pembelajaran Aqidah Akhlak Menggunakan Metode Jigsaw dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa di MA Al-Chodidjah Jatirejo Diwek Tebuireng Jombang". Temuan penelitian menunjukkan bahwa para pengajar di MA Al-Chodidjah Jatirejo Diwek Tebuireng Jombang menggunakan pendekatan jigsaw dengan baik dan semakin meningkat. Menurut penelitian ini, teknik jigsaw dalam penerapan aqidah akhlak merupakan strategi Anissa Salsa Billa. Meirza Nanda Faradita, and Ishmatun Naila. AuAnalisis Aktifitas Siswa Dalam Pembelajaran IPAS Dari Perspektif Model Kooperatif Tipe Jigsaw Pada Kurikulum Merdeka,Ay Jurnal Ilmiah Mandala Education 9, no. : 1642Ae1650. Ibid. Musayadah and Muhammad. AuUpaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Aqidah Akhlaq Dengan Menggunakan Metode Jigsaw Pada Siswa Kelas X IPS MA Ummul Quro Kropak-Bantaran. Ay 351 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 pembelajaran yang mengutamakan aktivitas dan interaksi belajar siswa untuk membantu mereka menguasai materi dan membuahkan hasil yang Ketiga. Muhammad Akhi Yusuf dengan penelitian tindakan kelas "Upaya Peningkatan Hasil Belajar Akidah Akhlak Melalui Metode Jigsaw Learning Pada Siswa Kelas XI IPA MAS Terpadu Ushuluddin Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2020/2021". Temuan penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar Akidah Akhlak siswa dapat ditingkatkan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran jigsaw. Data menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan hasil belajar dan keaktifan siswa pada siklus I. II, dan i. Secara spesifik, pada siklus I, 80% siswa mendapatkan nilai minimal 75, dan nilai rata-rata keaktifan siswa adalah 1,9. Pada siklus II, 82,5% siswa mendapat nilai minimal 75, dan nilai rata-rata keaktifan siswa adalah 2,3. Pada siklus i, 95% siswa mendapat nilai minimal 75, dan nilai rata-rata keaktifan siswa adalah 3,4. Ini mengisyaratkan bahwa metode Jigsaw mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Lain halnya, dengan siswa di MTs AsAoadiyah Uloe. Tantangan yang dihadapi oleh guru dalam mengajarkan mata pelajaran Akidah Akhlak adalah rendahnya hasil belajar siswa. Hal ini dipengaruhi oleh partisipasi dan motivasi belajar siswa yang kurang. Berikut data hasil belajar siswa kelas IX B pada materi Akhlak Terpuji pada Diri Sendiri. Data Hasil Pra Siklus Tuntas Tidak Tuntas Rata-rata Rata-rata Ketuntasan Ketidak Qurrotul Aini and Khoirun Nisa. AuImplementasi Pembelajaran Aqidah Akhlak Menggunakan Metode Jigsaw Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Di MA Al-Chodidjah Jatirejo Diwek Tebuireng Jombang,Ay Nashr al-Islam: Jurnal Kajian Literatur Islam 6, no. : 88Ae103. Muhammad Akhi Yusuf. AuUpaya Peningkatan Hasil Belajar Akidah Akhlak Melalui Metode Jigsaw Learning Pada Siswa Kelas XI IPA MAS Terpadu Ushuluddin Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2020/2021,Ay SKULA: Jurnal Pendidikan Profesi Guru Madrasah 1, 1 . : 81Ae90. Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 | 352 Gambar 1. Grafik Data Hasil Pra Siklus Gambar 1 di atas menjelaskan bahwa hasil belajar siswa kelas IX B MTs As'adiyah Uloe masih tergolong rendah. Hanya 13 siswa-dengan rata-rata ketuntasan 41% dianggap tuntas dari total 32 siswa. Namun, 19 siswa-dengan rata-rata ketidaktuntasan 59% dianggap tidak tuntas. Hal ini menunjukkan bahwa 19 siswa belum memenuhi persyaratan untuk mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Oleh karena itu, diperlukan inisiatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui strategi pembelajaran yang lebih Diperkirakan bahwa penggunaan strategi pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini bertujuan agar siswa dapat lebih mudah memahami dan menguasai pelajaran yang sedang dipelajari. Metode pembelajaran yang efektif mampu menyesuaikan proses pembelajaran dengan tuntutan, karakteristik, dan gaya belajar siswa. Dari data dan fakta di atas, jelaslah bahwa penelitian tindakan kelas diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan cara memperbaiki pengajaran di kelas. Dengan melakukan hal ini, peneliti berharap dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan memanfaatkan teknik Jigsaw. Teknik Jigsaw bertujuan untuk menanamkan rasa tanggung jawab yang lebih besar kepada siswa baik untuk pengetahuan mereka sendiri maupun pengetahuan orang lain. Siswa perlu dipersiapkan tidak hanya untuk menguasai materi yang dibutuhkan tetapi juga untuk mengajar kelompok mereka. Dengan membentuk kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga sampai lima orang, partisipasi siswa sangat penting dalam strategi pengajaran ini. Kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga sampai lima orang membentuk kelompok asal dan kelompok ahli. Peneliti mengkaji penelitian yang berjudul AuPenerapan Metode Jigsaw dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran Akidah AkhlakAy berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas. Dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran Akidah Akhlak di kelas IX B di MTs As'adiyah Uloe, maka penelitian ini akan mengkaji bagaimana pendekatan Jigsaw diterapkan. METODE PENELITIAN Sitti Aminah. Penelitian Tindakan Kelas Bagi Guru Dan Best Practice Bimbingan PTK Bagi Pengawas Sekolah/Madrasah (Sidoarjo: Nizamia Learning Center, 2. Moch. Agus Krisno Budiyanto. Sintaks 45 Model Pembelajaran Dalam Student Centered Learning (SCL) (Malang: UMM Press, 2. 353 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian tindakan kelas (PTK). PTK adalah jenis penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelas mereka sendiri untuk meningkatkan dan memperbaiki strategi pembelajaran. PTK merupakan upaya sistematis untuk mengidentifikasi masalah atau tantangan yang dihadapi dalam proses pembelajaran, kemudian merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi tindakan yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. PTK berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa melalui intervensi langsung yang dilakukan oleh guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kolaborasi . ix method. Pendekatan mix methods adalah pendekatan penelitian yang menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif dalam satu penelitian. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk memeroleh gambaran yang lebih komprehensif dengan memanfaatkan keunggulan dari kedua metode tersebut. Dalam penelitian mix methods, data kuantitatif dan data kualitatif dikumpulkan dan dianalisis untuk saling melengkapi. Model desain pendekatan mix methods yang digunakan dalam penelitian ini ialah Explanatory Sequential Design Mix Methods. Explanatory Sequential Design Mix Methods adalah salah satu bentuk desain dalam penelitian mix methods di mana penelitian dilakukan dalam dua fase utama: kuantitatif diikuti oleh kualitatif. Desain ini disebut explanatory . karena data kualitatif digunakan untuk menjelaskan atau memperdalam hasil yang diperoleh dari data kuantitatif. Dengan kata lain, data kuantitatif dikumpulkan dan dianalisis terlebih dahulu, kemudian data kualitatif dikumpulkan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut atau interpretasi yang lebih mendalam mengenai hasil tersebut. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode tes, observasi, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan berupa soal pilihan ganda, catatan lapangan, dan list dokumentasi. Metode tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa, sedangkan catatan lapangan dan list dokumentasi digunakan untuk mengamati dan merekam potret pelaksanaan tindakan di dalam kelas. Teknik pengolahan dan analisis data menggunakan statistik deskriptif dengan menyajikan data dalam bentuk tabel/grafik, perhitungan rata rata, dan persentase menggunakan Ms. Excel. KKM adalah batas minimal yang harus dicapai oleh siswa untuk dinyatakan tuntas dalam suatu mata pelajaran. KKM merupakan salah satu alat yang digunakan dalam penilaian hasil belajar siswa di sekolah. Penentuan KKM dilakukan oleh masing-masing sekolah atau satuan pendidikan berdasarkan sejumlah pertimbangan tertentu, dan ini menjadi acuan untuk Aminah. Penelitian Tindakan Kelas Bagi Guru Dan Best Practice Bimbingan PTK Bagi Pengawas Sekolah/Madrasah. Rian Vebrianto et al. AuMixed Methods Research: Trends and Issues in Research Methodology,Ay Bedelau: Journal of Education and Learning 1, no. : 63Ae73, https://ejournal. org/index. php/bedelau/article/view/35. Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 | 354 menilai apakah siswa telah mencapai kompetensi yang diharapkan dalam Adapun KKM yang ditetapkan ialah 78. Subjek penelitian dalam penelitian ini ialah siswa kelas IX B yang berjumlah 32 orang dengan rincian 13 laki-laki dan 19 perempuan. Penelitian dilakukan selama tiga pekan, terhitung mulai dari 22 Juli 2024 hingga 12 Agustus 2024. Penelitian ini dilaksanakan di MTs AsAoadiyah Uloe yang beralamat di Jalan AsAoadiyah Desa Uloe Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan. PEMBAHASAN Tahap Perencanaan (Planin. Tahap persiapan dalam PTK, sangat krusial untuk menentukan keberhasilan penelitian. Guru merancang tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah yang telah diidentifikasi. Perencanaan ini mencakup beberapa hal. Pertama, metode atau strategi pembelajaran yang akan pada penelitian ini, guru menggunakan metode Jigsaw. Kedua, materi pembelajaran yang akan digunakan. Materi yang dipaparkan ialah materi Akhlak Terpuji kepada Diri Sendiri. Ketiga, media dan sumber belajar yang diperlukan. Keempat, instrumen penilaian yang akan digunakan untuk mengukur hasil tindakan. Instrumen yang digunakan ialah instrumen tes dengan model pilihan ganda. Untuk mengefisiensi penilaian, guru menggunakan google form sebagai media tes dan evaluasi. Selain itu, guru juga menentukan indikator keberhasilan atau yang biasa disebut dengan KKM. Hal ini digunakan untuk menilai efektivitas tindakan. Adapun KKM yang ditetapkan ialah 78. Tahap Tindakan (Actin. Tahap tindakan dalam Siklus I dan II PTK yang menggunakan metode Jigsaw melibatkan pelaksanaan rencana pembelajaran yang telah disusun pada tahap persiapan. Berikut Langkah-langkah pembelajarannya. Pertama, pembagian kelompok awal . ome group. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok kecil yang heterogen, yang disebut kelompok asal atau home groups. Setiap kelompok terdiri dari 5-6 siswa dengan kemampuan yang beragam. Setiap anggota kelompok akan diberikan bagian materi yang berbeda untuk dipelajari secara mendalam. Kedua, pembagian materi. Jumlah siswa dalam setiap kelompok menentukan bagaimana guru membagi materi pembelajaran ke dalam beberapa bagian. Setiap anggota kelompok asal bertanggung jawab untuk menguasai bagian tertentu dari materi pembelajaran. Materi Akhlak terpuji pada Diri Sendiri terbagi kepada lima bagian yakni berilmu, kerja keras, kreatif, produktif, dan inovatif. Materi ini akan dibagikan kepada masingmasing kelompok untuk dipelajari. 355 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 Ketiga, pembentukan kelompok ahli . xpert group. Siswa yang memiliki subtopik yang sama dari berbagai kelompok asal kemudian berkumpul membentuk kelompok ahli. Dalam kelompok ahli ini, siswa mendiskusikan subtopik mereka secara mendalam, bertukar informasi, dan memastikan bahwa semua anggota menguasai materi tersebut dengan baik. Guru berperan sebagai fasilitator, memantau diskusi, memberikan bimbingan, dan memastikan bahwa semua siswa memahami materi dengan benar. Keempat, pembelajaran di kelompok asal . ome group. Setelah diskusi di kelompok ahli selesai, siswa kembali ke kelompok asal mereka. Di sini, setiap siswa bertanggung jawab untuk mengajarkan materi yang telah dipelajari di kelompok ahli kepada anggota kelompok asal lainnya. Setiap siswa berperan sebagai guru bagi subtopiknya, sementara anggota lainnya belajar dari penjelasan tersebut. Tujuan tahap ini adalah agar semua anggota kelompok asal menguasai seluruh materi secara komprehensif. Kelima, diskusi dan tanya jawab. Setelah semua siswa berbagi informasi, guru memfasilitasi sesi diskusi kelas atau tanya jawab untuk memperjelas konsep-konsep yang kurang dipahami. Guru juga bisa memberikan contoh soal, kasus, atau situasi yang terkait dengan materi untuk memastikan bahwa siswa dapat mengaplikasikan pengetahuan mereka. Keenam, penilaian hasil belajar. Guru melakukan evaluasi terhadap hasil belajar siswa. Pada penelitian ini, guru menggunakan tes berupa pilihan ganda yang disajikan dalam bentuk google form. Penilaian ini bertujuan untuk mengukur seberapa baik siswa memahami materi setelah penerapan metode Jigsaw. Tahap Pengamatan (Observin. Pada tahap pengamatan dalam penelitian ini, guru memiliki peran penting dalam mengumpulkan data yang akan digunakan untuk mengevaluasi efektivitas tindakan yang dilakukan. Pertama, guru mengamati proses pembelajaran. Guru melakukan observasi langsung terhadap jalannya proses pembelajaran. Fokus utama adalah melihat siswa dalam merespons tindakan yang telah diterapkan, seperti penerapan metode pembelajaran baru atau perubahan strategi pengajaran. Guru mencatat perilaku siswa, interaksi antar siswa, partisipasi, dan keterlibatan dalam kegiatan pembelajaran. Observasi ini bisa dilakukan secara langsung oleh guru atau dengan bantuan rekan sejawat. Kedua, guru mencatat data hasil belajar. Guru mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa, baik berupa data kualitatif . eperti partisipasi siswa dalam diskus. maupun data kuantitatif . eperti nilai te. Data ini penting untuk mengukur dampak tindakan yang telah diambil. Pengumpulan data dapat dilakukan melalui berbagai instrumen, seperti tes, catatan lapangan, dan list Ketiga, guru menggunakan lembar observasi. Guru menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan sebelumnya untuk mencatat secara Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 | 356 sistematis berbagai aspek yang diamati selama proses pembelajaran. Lembar observasi ini biasanya mencakup indikator-indikator spesifik yang relevan dengan tujuan PTK. Indikator yang bisa dicatat meliputi tingkat keaktifan siswa, pemahaman materi, kemampuan bekerja sama dalam kelompok, dan respons terhadap metode pembelajaran yang digunakan. Keempat, guru mendokumentasikan proses pembelajaran. Guru dapat mendokumentasikan proses pembelajaran melalui foto, video, atau rekaman audio untuk mendapatkan data yang lebih detail dan mendukung catatan Dokumentasi ini juga berguna sebagai bukti pelaksanaan tindakan. Dokumentasi visual dapat membantu guru melakukan analisis lebih lanjut, terutama ketika meninjau ulang interaksi siswa dan dinamika kelas. Kelima, guru mendengarkan dan mencatat umpan balik siswa. Selama proses pengamatan, guru meminta umpan balik langsung dari siswa terkait dengan pembelajaran yang mereka alami. Umpan balik dari siswa memberikan wawasan tambahan tentang efektivitas tindakan dari perspektif siswa. Keenam, guru mencatat faktor penghambat dan pendukung. Guru mencatat faktor-faktor yang mendukung atau menghambat pelaksanaan tindakan, seperti kesiapan siswa, kondisi lingkungan belajar, atau ketersediaan sarana dan prasarana. Faktor-faktor ini penting untuk dianalisis agar dapat diatasi pada siklus berikutnya. Identifikasi faktor penghambat membantu guru merencanakan tindakan perbaikan untuk siklus selanjutnya. Ketujuh, guru menganalisis data sementara. Meskipun analisis utama dilakukan setelah pengumpulan data, guru bisa mulai melakukan analisis sementara terhadap data yang diperoleh selama pengamatan. Ini membantu dalam mengidentifikasi pola atau temuan awal yang mungkin relevan untuk tindakan selanjutnya. Analisis sementara juga memungkinkan guru untuk melakukan penyesuaian langsung jika diperlukan, terutama jika terdapat masalah yang perlu segera ditangani. Tahap Refleksi (Reflectin. Refleksi bertujuan untuk menilai efektivitas tindakan yang telah dilaksanakan dan menentukan langkah selanjutnya. Berikut adalah beberapa aktivitas guru pada tahap refleksi dalam PTK. Pertama, guru menganalisis hasil observasi dan data. Guru memeriksa dan menganalisis semua data yang telah dikumpulkan selama pengamatan, termasuk catatan observasi, hasil tes, dan umpan balik. Analisis ini membantu guru memahami dampak tindakan terhadap proses dan hasil belajar siswa. Guru mengidentifikasi apakah tujuan yang telah ditetapkan tercapai, serta menganalisis kesenjangan antara hasil yang diharapkan dengan kenyataan yang terjadi. Kedua, guru mengidentifikasi keberhasilan dan kegagalan. Guru mengevaluasi aspek-aspek yang berhasil dalam tindakan yang telah dilakukan. Keberhasilan ini dicatat sebagai praktik baik yang bisa dipertahankan atau diperluas pada siklus berikutnya. Di sisi lain, guru juga mengidentifikasi kegagalan atau hambatan yang terjadi, seperti kurangnya pemahaman siswa 357 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 terhadap materi tertentu atau metode yang kurang efektif. Ini menjadi fokus untuk perbaikan pada siklus selanjutnya. Ketiga, guru membandingkan hasil dengan tujuan. Guru membandingkan hasil tindakan dengan tujuan yang telah ditetapkan Jika tujuan belum tercapai, guru menganalisis penyebabnya dan mempertimbangkan strategi lain yang mungkin lebih efektif. Perbandingan ini juga membantu guru dalam menilai sejauh mana tindakan yang dilakukan telah mendekati hasil yang diinginkan. Keempat, guru diskusi dengan rekan sejawat atau tim. Guru dapat berdiskusi dengan rekan sejawat atau tim PTK untuk mendapatkan perspektif lain mengenai hasil tindakan. Diskusi ini membantu memperkaya refleksi dan memastikan bahwa analisis dilakukan secara objektif. Rekan sejawat dapat memberikan masukan, saran, atau kritik yang konstruktif terkait dengan tindakan yang telah dilakukan. Kelima, guru merumuskan kesimpulan. Berdasarkan analisis data, guru merumuskan kesimpulan mengenai efektivitas tindakan yang telah Kesimpulan ini mencakup apa yang berhasil, apa yang tidak, dan alasan di baliknya. Kesimpulan yang diambil menjadi dasar untuk menentukan apakah perlu dilakukan tindakan perbaikan, modifikasi strategi, atau melanjutkan ke siklus berikutnya dengan tindakan baru. Keenam, guru menentukan tindakan lanjutan. Guru merencanakan tindakan lanjutan berdasarkan refleksi yang dilakukan. Jika tindakan pada siklus pertama kurang berhasil, guru merancang tindakan baru yang lebih sesuai untuk mengatasi masalah yang diidentifikasi. Jika tindakan berhasil, guru dapat mempertimbangkan untuk menerapkan strategi tersebut secara lebih luas atau mengembangkan inovasi baru untuk siklus berikutnya. Berdasarkan pelaksanaan tindakan, hasil penelitian dapat dinyatakan pada tabel berikut. Tabel 1. Rata-rata Hasil Belajar Siswa Keterangan Pra Siklus Siklus I Siklus II Rata-rata Dari statistik yang disebutkan di atas, terlihat jelas bahwa ada variasi dalam nilai rata-rata. Untuk pembelajaran Akidah Akhlak di kelas IX B, nilai rata-rata ketuntasan hasil belajar siswa adalah 72 pada saat prasiklus. Pada siklus I, nilai rata-rata ketuntasan hasil belajar siswa meningkat menjadi 80. Pada siklus II, nilai rata-rata ketuntasan hasil belajar siswa meningkat menjadi Dengan kata lain, dari pra-siklus ke siklus I terjadi peningkatan sebesar 8 Selain itu, tindakan siklus II juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yang ditunjukkan dengan skor 87. Dengan kata lain, ada Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 | 358 peningkatan tujuh poin dari siklus I. Adapun distribusi frekuensinya ialah sebagai berikut. Tabel 2. Frekuensi Ketuntasan Hasil Belajar Keterangan Pra Siklus Siklus I Siklus II Tuntas Tidak Tuntas Dari tabel 2 di atas terlihat jelas bahwa untuk pembelajaran Akidah Akhlak di Kelas IX B, ketuntasan hasil belajar siswa mengalami peningkatan untuk kategori tuntas dan penurunan untuk kategori tidak tuntas. Tiga belas dari tiga puluh dua siswa pada pra siklus dinyatakan tuntas. Selanjutnya, pada siklus II, terjadi peningkatan dari siklus I yaitu jumlah siswa yang dinyatakan tuntas sebanyak 20 orang dan jumlah siswa yang dinyatakan tidak tuntas sebanyak 12 orang. Untuk terus berusaha meningkatkan hasil belajar siswa, pengajar melakukan penelitian lebih lanjut pada siklus II. Terdapat 32 siswa pada siklus II yang dinyatakan tuntas, dan terdapat 0 siswa yang dinyatakan tidak tuntas. Pada siklus II, dapat dikatakan bahwa semua siswa dinyatakan tuntas. Siswa yang mendapat nilai di atas KKM atau Ou 78 dianggap telah tuntas dalam pembelajaran, sedangkan siswa yang mendapat nilai di bawah KKM atau O 78 dianggap belum tuntas. Setelah ditentukan frekuensi ketuntasan hasil belajar siswa, maka dilakukan analisis terhadap persentase hasil belajar siswa. Berikut Tabel 3. Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Keterangan Pra Siklus Siklus I Siklus II Tuntas Tidak Tuntas Dari statistik pada tabel 3 di atas, terlihat jelas bahwa ada dua kelompok persentase ketuntasan hasil belajar siswa, yaitu tuntas dan tidak tuntas. Pada pra-siklus, 41% dari data tersebut tuntas, dan 59% tidak tuntas. Proporsi ketidaktuntasan lebih besar daripada persentase ketuntasan jika dibandingkan. Siklus I menunjukkan peningkatan persentase ketuntasan dari 41% menjadi 63% dan penurunan persentase ketidaktuntasan dari 59% menjadi 37%. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan Jigsaw merupakan alat yang sangat sukses. Namun, pendekatan ini belum dapat menjangkau setiap anak di kelas IX B. Oleh karena itu, penelitian siklus II dilakukan. Tingkat kelulusan meningkat drastis dari 63% pada siklus sebelumnya menjadi 100% pada siklus ini. Ada juga penurunan yang mencolok dalam persentase ketidaktuntasan, yaitu dari 359 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 37% pada siklus sebelumnya menjadi 0% pada siklus ini. Oleh karena itu, di kelas IX B MTs As'adiyah Uloe, pendekatan Jigsaw dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Akidah Akhlak. Berikut ini, peneliti menyajikan grafik persentase hasil belajar siswa. Persentase Hasil Belajar Pra Siklus Siklus I Tuntas Siklus II Tidak Tuntas Gambar 2. Grafik Persentase Hasil Belajar Berdasarkan gambar 2 di atas, dapat dipahami hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan. Tampak pada skor yang didapatkan pada kategori tuntas, diagram batang yang berwarna biru mengalami peningkatan yang signifikan yakni 41% ke 63%, dari 63% ke 100%. Seiring peningkatan yang signifikan terjadi pada persentase ketuntasan, persentase tidak tuntasan siswa mengalami penurunan. Tampak pada diagram batang yang berwarna merah mengalami penuruan yang signifikan yaitu 59% ke 37%, lalu ke 0%. Ini mengisyaratkan bahwa semua siswa di kelas IX B dinyatakan tuntas 100%. Mengacu pada paparan data di atas, dapat dipahami bahwa penerapan metode Jigsaw pada pembelajaran Akidah Akhlak tema Akhlak Terpuji pada Diri Sendiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa di kelas IX B MTs AsAoadiyah Uloe. Selain mampu meningkatkan hasil belajar siswa, metode Jigsaw juga mampu meningkatkan partisipasi aktif siswa dan meningkatkan pemahaman serta retensi. Hal ini terlihat pada aktivitas pemahaman konsep siswa pada pra siklus masih berfokus pada guru . eacher centere. , penyampaian materi juga masih terbilang konvensional, dan kaku, sehingga pembelajaran tidak menyasar siswa secara komprehensif. 20 mengungkapkan dalam penelitiannya bahwa pembelajaran yang berfokus pada guru dan menggunakan metode ceramah, akan menimbulkan kebosanan dan kejenuhan pada siswa, sehingga siswa enggan untuk berpartisipasi aktif dalam kelas Nurbiah et al. Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 | 360 karena tidak berminat. Siswa yang berminat dalam pembelajaran, akan tampak bersemangat dan aktif dalam kelas. Selain membantu siswa memahami materi pelajaran dengan lebih baik, gaya pengajaran Jigsaw juga sangat bermanfaat dalam membantu siswa membangun kerja sama tim dan keterampilan komunikasi. Dengan menggunakan teknik Jigsaw, siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan ditugaskan untuk mempelajari bagian tertentu dari mata pelajaran dan kemudian menyampaikannya kepada anggota kelompok lainnya. Ini memaksa siswa untuk menjelaskan konsep secara jelas dan efektif, yang secara langsung meningkatkan keterampilan komunikasi mereka. 22 Setiap siswa harus berkontribusi dan menyampaikan ide-ide mereka dengan cara yang dapat dipahami oleh teman-temannya. Proses ini membantu siswa mengembangkan kemampuan berbicara, mendengarkan, serta memberikan dan menerima umpan balik. 23 Metode Jigsaw juga mengharuskan setiap anggota kelompok untuk saling bergantung. Masukan dari setiap anggota menentukan keberhasilan kelompok, yang memotivasi siswa untuk berkolaborasi dan membantu satu sama lain dalam memahami materi pelajaran. Siswa belajar untuk lebih menghargai pendapat orang lain dan berkolaborasi secara damai dalam tim karena mereka harus berkolaborasi dengan teman sekelas yang memiliki latar belakang dan keahlian yang beragam. Hal ini juga menanamkan toleransi dan kesadaran akan kontribusi yang diberikan oleh setiap individu. PENUTUP Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan pendekatan Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada siklus I, persentase hasil belajar siswa yang tuntas naik dari 41% menjadi 63%, sedangkan persentase hasil belajar siswa yang tidak tuntas turun dari 59% menjadi 37%. Selain itu, pada siklus II, persentase hasil belajar siswa yang Nurhayati Nurhayati and Julita Sari Nasution. AuHubungan Antara Motivasi Belajar Dan Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar Bahasa Arab Pada Siswa Kelas Vi SMPIT Fajar Ilahi Batam,Ay Jurnal As-Said 2, no. : 100Ae115. Dona Putri Khaerunnisa. Imam Muhtarom, and Dewi Herlina Sugiarti. AuPenerapan Model JIGSAW Memanfaatkan Teknologi Smart TV Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Teks Ulasan Kelas Vi Di SMPIT Al-Irsyad Al-Islamiyyah Karawang,Ay Transformatika: Jurnal Bahasa. Sastra. Dan Pengajarannya 8, no. : 472Ae485. Linda Yani. Sadrina Sadrina, and Fathiah Fathiah. AuAnalisis Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Dalam Penerapan Metode Jigsaw,Ay UPITER (JURNAL PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO) 8, no. : 58Ae66. Aini and Nisa. AuImplementasi Pembelajaran Aqidah Akhlak Menggunakan Metode Jigsaw Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Di MA Al-Chodidjah Jatirejo Diwek Tebuireng Jombang. Ay 361 | Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 tuntas meningkat dari 63% menjadi 100%, sedangkan persentase hasil belajar yang tidak tuntas turun dari 37% menjadi 0%. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pada siklus II berhasil meningkatkan hasil belajar siswa ke tingkat yang lebih baik. Oleh karena itu, teknik Jigsaw dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar Akidah Akhlak pada materi Akhlak Terpuji terhadap Diri Sendiri di kelas IX B MTs As'adiyah Uloe. Implikasi metode Jigsaw dapat diterapkan dalam berbagai mata pelajaran, seperti sains, sejarah, bahasa, dan studi sosial, termasuk Akidah Akhlak. Dalam pembelajaran Akidah Akhlak, metode ini efektif untuk membahas tema-tema pembelajaran yang memiliki pembahasan yang cukup banyak seperti nilai-nilai akhlak atau prinsip-prinsip keimanan, di mana siswa dapat bekerja sama untuk memahami dan mengajarkan konsep-konsep Dengan demikian, penerapan metode Jigsaw mampu mengefektifkan dan mengefisiensi pembelajaran di kelas. Tasamuh. Volume 17 Nomor 2 Oktober 2025 | 362 DAFTAR PUSTAKA