Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 179 Ae 193 Ritual Fek Nono Hau Ana dalam Sistem Pertanian Masyarakat Miomaffo Timur: Kajian Wacana Kritis Teun van Dijk Joni Soleman Nalenan1*. Yanuarius Seran1 Universitas Timor. Indonesia Article info ABSTRACT Article history: Received: 10-09-2024 Revised : 07-11-2024 Accepted: 25-11-2024 Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur makro dan superstruktur dalam wacana ritual Fek Nono Hau Ana berdasarkan pendekatan analisis wacana kritis Teun Van Dijk. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Temuan menunjukkan bahwa wacana ritual Fek Nono Hau Ana dilakukan beberapa lokasi, yakni tola, pintu pertama Oename, pintu kedua Oename, puncak Oename, dan mesbah utama, tetapi masih merupakan satu-kesatuan yang tidak terpisahkan. Tema global wacana ritual Fek Nono Hau Ana adalah religiusitas yang merupakan suatu proses pencarian jalan kebenaran atau petunjuk oleh masyarakat Tun Tun kepada leluhur untuk membuka lahan baru dalam bercocok tanam. Secara skematik, wacana ritual Fek Nono Hau Ana terdiri dari pendahuluan, isi, dan Bagian pendahuluan merupakan sapaan kepada leluhur, bagian isi merupakan permohonan izin kepada leluhur, dan bagian penutup merupakan harapan dari masyarakat kepada leluhur keempat suku besar. Maun Ufa. Bana Mnasi, dan sang pemberi berkat untuk memberikan petunjuk perizinan membuka lahan. Penelitian ini berimplikasi langsung pada masyarakat Timur secara khusus, yakni pengantisipasian kepunahan ritual Fek Nono Hau Ana. Kata kunci: analisis wacana kritis. fek nono hau ana. sistem pertanian Fek Nono Hau Ana Ritual in the Agricultural System of the East Miomaffo Community: Teun Van Dijk's Critical Discourse Study Keywords: critical discourse fek nono hau ana. the agricultural system This study uses Teun Van Dijk's critical discourse analysis approach to describe the macrostructure and superstructure in the Fek Nono Hau Ana ritual discourse discourse. This study uses a qualitative descriptive method. The findings show that the Fek Nono Hau Ana ritual discourse is carried out in several locations, namely tola, the first door of Oename, the second door of Oename, the peak of Oename, and the main altar, but it is still an inseparable whole. The global theme of the Fek Nono Hau Ana ritual discourse is religiosity, a process of searching for the path of truth or guidance by the Tun Tun community to their ancestors to open new land for farming. Schematically, the Fek Nono Hau Ana ritual discourse consists of an introduction, content, and closing. The introduction is a greeting to the ancestors, the content is a request for permission to the ancestors, and the closing is the community's hope for the ancestors of the four major tribes. Maun Ufa. Bana Mnasi, and the giver of blessings to provide guidance for permission to open land. This research has direct implications for Eastern society, namely as a form of documentation to anticipate the extinction of the Fek Nono Hau Ana ritual. Copyright A 2024 Indonesian Language Education and Literature Corresponding author: Joni Soleman Nalenan. Universitas Timor. Indonesia E-mail address: joninalenan07@gmail. Joni Saleman Nalenan dkk (Ritual Fek Nono Hau Ana A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 179 Ae 193 PENDAHULUAN Fek Nono Hau Ana . elanjutnya disingkat FNHA) merupakan ritual yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Tun Tun di Kecamatan Miomaffo Timur. Kabupaten Timor Tengah Utara. Ritual ini dilakukan menjelang pembukaan lahan baru untuk bercocok tanam. Ritual FNHA dilakukan sebagai permohonan izin kepada leluhur sebelum musim kiulele dalam perhitungan musim pertanian lahan Masyarakat Tun Tun meyakini bahwa setiap wilayah telah dihuni oleh leluhur sebagai pemiliknya. Oleh karena itu, lahan baru yang akan ditebas sebagai tempat bercocok tanam harus melalui ritual FNHA. Dalam kepercayaan dan tradisi masyarakat Tun Tun, jika ritual FNHA tidak dilaksanakan, maka akan menimbulkan malapetaka seperti kecelakaan yang berujung pada kematian pada saat menebas hutan atau lahan baru dan gagal panen. FNHA merupakan suatu keharusan yang mengawali segala aktivitas pertanian lahan kering masyarakat Tun Tun. Pada ritual FNHA terdapat properti yang digunakan seperti ayam, baik jantan maupun betina, sopi, sirih, dan pinang. Semua properti ini digunakan saat menjelang ritual FNHA yang dipimpin oleh tobe . etua suku atau wilaya. Berhasil atau tidaknya ritual ini sangat bergantung pada kemampuan komunikasi si tobe kepada leluhur melalui media bahasa serta ketulusan hati para petani yang Dalam pelaksanaan ritual FNHA, tuturan yang disampaikan oleh tobe membentuk pola yang paten layaknya sebuah wacana menurut konsep wacana kritis Teun Van Dijk, yakni terdiri dari pendahuluan, isi, dan penutup. Analisis wacana kritis merupakan salah satu bagian dari analisis wacana, tetapi wacana tidak dipahami semata sebagai studi bahasa (Mardikantoro, 2. Analisis wacana kritis juga melihat pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial (Kartikasari, 2020. Silaswati, 2. Setiap wacana memiliki tiga dimensi, yakni teks bahasa lisan maupun tertulis, suatu interaksi antar-orang yang melibatkan proses produksi dan interpretasi teks dan merupakan bagian dari suatu praktik atau tindak sosial (Cenderamata & Darmayanti, 2. Analisis wacana kritis mengungkap fakta penting melalui bahasa tentang penggunaan bahasa sebagai alat kekuasaan dalam masyarakat (Firmansyah, 2. Analisis wacana kritis digunakan sebagai cara untuk menjelaskan teks yang akan dikaji, yakni mengungkapkan hubungan antara bahasa, masyarakat, kekuatan, dan ideologi (Syaifullah. Herdi & Abbas, 2. Analisis wacana kritis bertujuan untuk mengembangkan asumsi-asumsi yang bersifat ideologis yang terkandung dibalik kata-kata dalam teks atau ucapan dalam berbagai bentuk kekuasaan (Kurniasari. Wahyusari & Habiba, 2. Teun Van Dijk melihat dan membagi suatu teks atas tiga struktur atau tingkatan yang saling mendukung, yakni struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro. Struktur makro merupakan makna global dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang diutamakan dalam suatu teks (Saadillah. Haeniah & Jumairah. Struktur makro merujuk pada makna keseluruhan yang dapat dicermati dari tema atau topik (Pramitasari & Khofifah, 2. Tema merupakan gambaran umum mengenai pendapat atau gagasan yang disampaikan seseorang dalam sebuah teks yang menunjukkan konsep dominan, sentral, dan hal yang utama (MusyafaAoah. Topik direpresentasikan ke dalam suatu atau beberapa kalimat yang merupakan gagasan utama atau ide pokok wacana (Yunus, 2. Joni Saleman Nalenan dkk (Ritual Fek Nono Hau Ana A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 179 Ae 193 Superstruktur merupakan kerangka suatu teks bagaimana struktur dan elemen wacana itu disusun dalam teks secara utuh yang menggambarkan bentuk umum dari suatu teks (Muhammad dkk. , 2. Superstruktur mengarah kepada struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka teori teks serta bagian yang tersusun dalam teks (Mita. Karman & Akhiruddin, 2. Teks atau wacana secara global akan selalu memiliki skema yang dimulai dari pendahuluan, isi, akhir, dan kesimpulan (Rufaidah & Sayekti, 2021. Sudding & Gunawan, 2. Skema-skema tersebut merupakan indikasi dari setiap bagian yang ada di dalam teks dan memiliki keteraturan hingga membentuk satu kesatuan arti (Rodiah & Suryadi, 2. Struktur mikro melihat unsur-unsur intrinsik sebuah teks atau wacana yang meliputi unsur semantik, sintaksis, stilistik, dan retoris (Sobur, 2. Elemen analisis unsur semantik dalam analisis wacana kristis Teun Van Dijk meliputi: latar, detail, maksud, dan pra-anggapan (Syakur & Sumarlam, 2. Elemen analisis unsur sintaksis dalam analisis wacana kritis Teun Van Dijk meliputi: bentuk kalimat, koherensi, dan kata ganti (Juwita dkk. , 2. Pada unsur stilistik hanya akan membahas leksikon dalam teks. Elemen leksikon menandakan cara seseorang melakukan pemilihan kata atas berbagai kemungkinan kata yang tersedia (Bakri. Mahyudi & Mahsun. , 2. Unsur retoris mencakup grafis dan Elemen grafis merupakan bagian untuk memeriksa apa yang ditekankan atau ditonjolkan oleh seseorang yang dapat diamati dari teks. Metafora dalam kajian analisis wacana kristis Teun Van Dijk menjadi petunjuk utama untuk mengerti makna suatu teks. Selain metafora, ada juga beberapa gaya bahasa lainnya seperti ironi, perbandingan, dan lain-lain. Penggunaan berbagai jenis gaya bahasa tersebut bertujuan untuk memberikan penekanan terhadap sebuah topik dalam suatu teks (Fateah & Sintani, 2. Ritual FNHA sudah membudaya dan yang mengawali semua rangkaian pertanian lahan kering bagi masyarakat Miomaffo Timur, tetapi hingga saat ini belum ada satu penelitian pun yang difokuskan pada ritual ini. Hal ini akan berdampak pada minimnya pengetahuan generasi muda di Miomaffo Timur dan masyarakat luas terkait ritual FNHA sehingga akan berujung pada kepunahan jika tidak dilestarikan. Oleh karena itu, ritual FNHA urgen untuk diteliti karena . faktor penentu keberhasilan ritual terletak pada kemampuan bertutur si tobe kepada leluhur melalui bahasa yang digunakan. ritual FNHA dipandang sebagai suatu teks atau wacana sehingga sangat penting dan perlu dikaji secara komprehensif melalui pendekatan analisis wacana kritis Teun Van Dijk. sebagai salah satu bentuk pendokumentasian untuk mengantisipasi kepunahan serta sebagai bentuk informasi kepada masyarakat luas mengenai keberadaan ritual FNHA. Penelitian terdahulu yang relevan adalah penelitian yang berjudul AuAnalisis Wacana Kritis Teun A. Van Dijk pada Iklan YouTube Bear Brand Tahun 2023Ay oleh Mita. Karman & Akhiruddin, . Penelitian relevan berikutnya dengan judul AuAnalisis Wacana Kritis Teori Teun A. Van Dijk pada Video Iklan di Akun YouTube Ramayana Berjudul AuMarga PelariAy oleh Herman. Muarifin & Sadjono . Penelitian selanjutnya adalah AuAnalisis Wacana Kritis Model Teun A. Van Dijk pada pemberitaan Kompas dengan judul AuDi Balik Kasus Penusukan Wiranto dan Penangkapan Sejumlah Terduga TerorisAy oleh Wirahyuni . Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu yang relevan tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian-penelitian yang berhubungan dengan ritual FNHA melalui analisis Joni Saleman Nalenan dkk (Ritual Fek Nono Hau Ana A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 179 Ae 193 wacana kritis Teun Van Dijk belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, ritual FNHA dan analisis wacana kritis model Teun Van Dijk merupakan novelty yang akan diungkapkan dalam penelitian ini. Dengan demikian, dipandang perlu melakukan penelitian untuk mengetahui dan mendeskripsikan struktur makro dan superstruktur dalam ritual FNHA berdasarkan pendekatan analisis wacana kritis Teun Van Dijk. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif artinya menganalisis bentuk deskripsi, tidak berupa angka atau koefisien tentang hubungan antar-variabel (Nugraha, 2018. Ramadhani, 2. Metode deskriptif merupakan metode yang membicarakan beberapa kemungkinan untuk memecahkan berbagai masalah secara aktual dengan: mengumpulkan data, mengklasifikasikan dan menggeneralisasikan, serta menganalisis dan menginterpretasikan data. Metode deskriptif kualitatif juga digunakan untuk menafsirkan dan menjabarkan suatu objek dengan menggunakan kata-kata atau kalimat (Humaira, 2018. Yuanita. Sugono & Suendarti, 2. Penelitian ini dilakukan pada Juni 2024 di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Kecamatan Timor, tepatnya di Desa Tun Tun. Alasan pemilihan lokasi ini adalah masyarakat Tun Tun merupakan salah satu pengguna dan sering melaksanakan ritual FNHA sesuai musimnya. Sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat Tun Tun sebagai penutur asli FNHA. Dalam pelaksanaanya informan diminta untuk menuturkan FNHA kemudian merekam tuturan dan mentranskripsikan ke dalam bentuk tulisan sebagai data. Instrumen yang digunakan adalah daftar pertanyaan terkait struktur makro dan superstruktur ritual FNHA dibantu dengan alat berupa kamera dan digital recorder. Hasil transkripsi dalam bentuk wacana kemudian dianalisis menurut pendekatan analisis wacana kritis Teun Van Dijk. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi dan simak libat cakap, yaitu wawancara. Implementasi teknik observasi dalam penelitian ini adalah peneliti mengobservasi lokasi penelitian untuk mendapatkan informasi terkait data riil yang diteliti. Teknik simak libat cakap melalui wawancara kepada informan dengan sejumlah pertanyaan yang sudah disiapkan agar mendapatkan data terkait tuturan FNHA. Teknik simak libat cakap digunakan dengan tujuan peneliti juga ikut terlibat dalam proses penggalian data. Tahapan analisis data yang dilakukan, yaitu: . peneliti mendengar kembali rekaman data hasil penelitian, . peneliti mentranskripsi data rekaman ke dalam bentuk teks atau wacana, . peneliti menganalisis data teks hasil transkripsi dengan pendekatan analisis wacana kritis Teun Van Dijk, . peneliti menarik simpulan dan verifikasi (Wahyudi. Anshori, & Nurhadi, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Ritual FNHA dilakukan pada musim kiuAolele, yakni musim yang mengawali seluruh rangkaian musim dalam sistem pertanian lahan kering masyarakat Timur, khususnya masyarakat Desa Tun Tun. Ritual FNHA dilakukan dengan melibatkan setiap tobe . epala suk. dari suku-suku besar yang mendiami wilayah Tun Tun serta perwakilan masyarakat. Kesukuan di wilayah Tun Tun terbentuk dari hubungan persaudaraan empat bersaudara, yakni suku Kaba yang merupakan lakilaki besar, suku Sait sebagai perempuan besar, suku Kofi sebagai laki-laki kecil, dan suku Kolo sebagai perempuan kecil. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan Joni Saleman Nalenan dkk (Ritual Fek Nono Hau Ana A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 179 Ae 193 FNHA, orang yang memimpin ritual adalah tobe dari suku Kaba, tetapi harus dihadiri oleh ketiga tobe lainnya. Penentuan pemimpin ritual ini atas kesepakatan bersama ketiga tobe lainnya sebagai bentuk penghargaan kepada saudara laki-laki Ritual FNHA diawali dengan pemberitahuan kepada leluhur keempat suku besar di Tola AoLopo lumbung adatAo. Tola ini merupakan tempat bersemayam para leluhur, yakni leluhur suku Kaba, suku Sait, suku Kofi, dan suku Kolo. Atribut yang dibutuhkan untuk ritual di Tola adalah ayam, sirih, pinang, dan sopi. Ayam, sirih, dan pinang diletakkan di atas mesbah, kemudian tobe Kaba melangsungkan ritual dengan bertutur kepada leluhur. Setelah tobe selesai bertutur dengar leluhur, ayam disembelih oleh salah satu pelibat. Darah ayam diteteskan sebanyak tiga tetes di atas mesbah. Selanjutnya, ayam dibakar dan dimasak untuk makan bersama di Tola. Setelah ritual di Tola, tobe dari keempat suku bersama pelibat lainnya menuju ke tempat inti pelaksanaan FNHA, yakni batu Oename. Oename merupakan bukit batu besar tempat berlangsungnya ritual inti FNHA. Oename terdiri tiga bagian, yakni kaki bukit, tengah bukit, dan puncak bukit. Setiap bagian bukit Oename diyakini memiliki penjaga dan penghuni. Pada bagian kaki bukit dihuni oleh Maun Ufa yang dalam konteks FNHA disebut sebagai penjaga pintu 1. Pada bagian tengah bukit dihuni oleh Bana Mnasi yang disebut sebagai penjaga pintu 2, sedangkan pada bagian puncak dihuni oleh sang pemberi kehidupan dan sumber segala berkat. Penghuni pada bagian puncak tidak berwujud manusia, tetapi dipercayai oleh masyarakat Tun-Tun sebagai supranatural pemberi berkat. Pada batu Oename, para tobe bersama pelibat melakukan ritual di kaki bukit, tengah bukit, dan puncak bukit. Pada ritual yang dilakukan di kaki bukit, para tobe dan pelibat membawa atribut berupa ayam, sirih, dan pinang. Ritual ini merupakan permohonan izin kepada Maun Ufa untuk mendampingi tobe dan pelibat lainnya menuju ke puncak Oename. Ayam, sirih, dan pinang diletakkan di atas mesbah di bagian kaki bukit Oename. Selanjutnya para tobe dan pelibat lainnya melakukan ritual kepada Maun Ufa yang dipimpin oleh tobe dari suku Kaba. Setelah tobe bertutur dengan Maun Ufa, ayam disembelih oleh salah satu pelibat. Darah ayam diteteskan tiga tetes di atas mesbah. Selanjutnya, ayam tersebut dibakar untuk makan bersama. Setelah ritual pada pintu pertama, para tobe bersama pelibat lainnya menuju ke puncak Oename, melalui pintu kedua atau penjaga kedua di bagian tengah bukit. Pada pintu kedua, para tobe dan pelibat lainnya harus melakukan ritual untuk meminta izin kepada Bana Mnasi sebagai penjaga pintu kedua untuk mengantarkan mereka ke puncak Oename. Atribut, tata cara, dan tuturan ritual pada pintu kedua ini sama seperti yang digunakan pada pintu pertama. Namun, pada bagian sapaan tuturan pada pintu kedua, nama Maun Ufa diganti nama penjaga pintu kedua, yakni Bana Mnasi. Ritual selanjutnya dilakukan di puncak bukit Oename. Para tobe dan pelibat lainnya menuju ke puncak Oename untuk melangsungkan ritual FNHA. Atribut dan tata cara yang digunakan untuk ritual di bagian puncak sama seperti atribut yang digunakan untuk ritual pada pintu pertama dan pintu kedua, namun tuturan yang dituturkan berbeda. Setelah tobe bertutur dengan leluhur . puncak Oename, ayam disembelih oleh satu pelibat. Darah ayam diteteskan tiga tetes di mesbah ritual. Selanjutnya ayam dibakar dan tim FNHA melakukan sea teke Aomakan bersamaAo. Setelah sea teke, salah satu pelibat memberikan informasi kepada tim FNHA yang berada pada mesbah utama berupa kode teriakan. Kode ini Joni Saleman Nalenan dkk (Ritual Fek Nono Hau Ana A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 179 Ae 193 memberikan informasi bahwa ritual pada puncak Oename sudah selesai sehingga tim yang berada pada mesbah utama sudah bisa memulai ritual. Selanjutnya tim FNHA yang yang berada di bagian puncak turun untuk bersama-sama dengan di bagian mesbah utama dan bersama-sama melangsungkan ritual. Ritual terakhir dari semua rangkaian FNHA dilakukan di mesbah utama di bawah bukit Oename. Pada mesbah utama ada dua buah batu bulat yang sudah tersematkan secara adat. Sebelum ritual dimulai, para tobe dari keempat suku besar mengambil kedua batu tersebut dan dilingkari muti . alung tradisional masyarakat Tun Tu. Atribut yang digunakan untuk ritual di mesbah utama adalah seekor babi atau kambing, sirih, pinang, dan sopi. Atribut-atribut ini diletakkan di atas mesbah dan selanjutnya tobe dari suku Kaba melakukan ritual dan bertutur dengan leluhur. Setelah bertutur, babi atau kambing tersebut disembelih. Darah hewan kurban itu diteteskan tiga tetes di atas mesbah. Selanjutnya hewan kurban dibakar dan diambil hati dan empedunya untuk diterawang sebagai pencarian jawaban atas ritual yang Berikut tuturan pada saat melakukan ritual. Data Tuturan Ritual FNHA di Tola HoiA. au uis ina afoan naek ma afoan ana. Feto naek feto ana al ala kit ma lala kit (Lala Neno I hai emam te hit ta tola ma hita Misaeb pua ha manus tua funan tua MiAosine kit leko-leko mi tonan kit lekoleko. Kana tuin fa molok sa. I hetaAonua on hit noenli ma oename he, t,masine ma t,mantonan he tafek hit nono ma hit hau ana. Me natuin hita tola ma hita nikut lof utonanki leko leko ma usineki leko leko. he himsa mit main ma he tanua teu hita tola mahita niku hi mihahunbaha haim konom mitatunaha. Terjemahan Data Bahasa Indonesia Selamat pagi semuanya, leluhurku baik lakilaki besar maupun laki-laki kecil. Baik perempuan besar maupun perempuan kecil kita sama- sama. Hari ini kami datang di pondok lumbung adat kita, tempat kita bersemayam dan duduk bersama. Kami datang membawa sirih, pinang, dan sopi. Kami memberitahukan kepada bai dan nenek . secara baikbaik. Kami datang sekarang bermaksud untuk kita bersama-sama pergi ke batu Oename untuk meminta izin supaya kami bisa memulai menebas ladang ini. Melalui kebersamaan kita di Tola ini, kami meminta izin secara baik-baik. Supaya leluhur kami melihat dan mengetahui. Kami mengundang leluhur semuanya untuk menuntun kami turun ke mesbah Oename. Pencarian jawaban leluhur terkait pemberian izin dalam menggunakan lahan, dilakukan oleh tobe melalui penerawangan hati dan empedu hewan kurban yang Fokus penerawangan pada bagian hati adalah selaput yang membentuk bangun ruang segi tiga. Jika pertemuan kedua garis pada ujung selaput pada hati hewan tersebut membentuk garis lurus dan tajam, maka dipahami bahwa para leluhur mengizinkan masyarakat untuk menebas hutan tersebut sebagai lahan bercocok tanam. Jika pertemuan kedua garis pada ujung selaput pada hati hewan tersebut tidak membentuk garis lurus atau tumpul, maka informasi yang dipahami bahwa para leluhur belum mengizinkan untuk menggunakan lahan tersebut karena kesalahan tertentu. Oleh karena itu, tim FNHA harus berkumpul dan masingmasing merefleksikan kesalahan. Setelah itu, tim FNHA harus menyembelih seekor ayam lagi untuk diterawang sebagai bagian dari pencarian jawaban atas ritual yang telah dilakukan. Untuk kurban berupa ayam, bagian yang diterawang adalah usus besarnya. Fokus penewarangan adalah bagian selaput yang menutupi usus besar ayam. Jika selaput itu menutupi semua bagian usus besar dan berwarna bening, maka informasi yang dipahami adalah para leluhur mengizinkan masyarakat untuk menggunakan lahan Joni Saleman Nalenan dkk (Ritual Fek Nono Hau Ana A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 179 Ae 193 Jika selaput itu tidak menutupi semua bagian usus besar ayam dan tidak berwarna bening, maka informasi yang dipahami adalah para leluhur belum mengizinkan karena ada kesalahan yang dilakukan oleh masyarakat. Jika pada ayam pertama dan leluhur belum mengizinkan, maka akan dilakukan refleksi yang dilanjutkan dengan penyembelihan ayam hingga mendapat izin dari leluhur. Struktur makro merupakan salah satu unit analisis dalam kerangka analisis wacana kritis model Teun Van Dijk. Struktur makro menyoroti makna umum teks yang dipahami dengan melihat topik teks (Lestarini, 2. Struktur makro juga diartikan sebagai struktur makna, topik, atau tema global yang diturunkan atau disimpulkan dari makna lokal wacana (Novita & Hudiyono, 2. Dalam wacana, topik menjadi ukuran kejelasan dari sebuah wacana (Prihartono & Suharyo, 2. Ritual FNHA dilakukan di beberapa tempat sehingga terdapat teks ritual dengan judul yang berbeda. Dari sisi produksi, teks-teks yang dihasilkan berdasarkan tuturan yang dituturkan pada setiap lokasi ritual. Dari sisi kebermaknaan, ritual-ritual itu merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari kebermaknaannya (Setiawan. Prasetya, & Putra, 2. Ritual pada Tola merupakan pintu masuk bagi tim FNHA untuk menuju dan melanjutkan ritual di pintu pertama (Maun Uf. Ritual pintu pertama merupakan jalan bagi tim FNHA untuk menuju ke pintu kedua (Bana Mnas. Ritual pintu kedua merupakan pintu masuk bagi tim FNHA untuk menuju dan melangsungkan ritual pada sang pemberi berkat di puncak bukit Oename. Tema yang diangkat dalam ritual FNHA ini adalah religiusitas masyarakat Timur, khususnya masyarakat Desa Tun Tun. Religiusitas merupakan sebuah proses untuk mencari sebuah jalan kebenaran yang berhubungan dengan sesuatu yang sakral (Sitompul. Mirza & Yulinda, 2. Religiusitas berkaitan dengan tingkah laku manusia yang sepenuhnya dibentuk oleh kepercayaan kepada kegaiban atau alam gaib, yaitu kenyataan-kenyataan supra-empiris (Mahdayeni. Alhaddad & Saleh, 2019. Rahmi, 2. Manusia yang memiliki religiusitas meletakkan harga dan makna tindakan empirisnya dibawah supra-empiris. Religiusitas yang digambarkan dalam ritual FNHA merupakan suatu proses pencarian jalan kebenaran atau petunjuk oleh masyarakat Tun Tun kepada leluhur untuk membuka lahan baru dalam bercocok tanam. Dalam kepercayaan masyarakat Tun Tun, setiap wilayah telah memiliki penghuni yang dikaitkan dengan keberadaan leluhur. Masyarakat Tun Tun percaya bahwa peran leluhur sangat penting dalam keberhasilan membuka lahan baru untuk bercocok tanam. Proses pencarian petunjuk atau jalan kebenaran untuk membuka lahan baru dalam ritual FNHA, dilakukan secara bertahap dan bersistem dengan latar tempat yang berbeda. Proses pertama yang mengawali ritual FNHA dilakukan di Tola . opo lumbung ada. Proses ini menggambarkan betapa masyarakat Tun Tun memercayai leluhur sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Masyarakat meyakini bahwa leluhur sebagai perantara atau mediator (Supriyanti & Sanusi, 2. yang akan mempertemukan tim ritual FNHA dengan sang pemberi berkat yang bersemayam di puncak bukit Oename. Proses pencarian kebenaran tahap kedua dan ketiga secara berturut-turut dimaknai melalui ritual yang dilakukan di kaki bukit Oename . enjaga pintu pertam. dan bagian tengah bukit Oename . enjaga pintu Penggambaran keberadaan penjaga pintu pertama dan pintu kedua, yakni Maun Ufa dan Bana Mnasi merepresentasi kepercayaan masyarakat Tun Tun akan keagungan wujud yang dipercayai pada puncak Oename. Rangkaian ritual pada Joni Saleman Nalenan dkk (Ritual Fek Nono Hau Ana A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 179 Ae 193 Tola hingga pada Maun Ufa. Bana Mnasi, dan ritual pada puncak Oename yang berkesinambungan inilah yang menggambarkan tema atau makna global religiusitas yang disampaikan oleh masyarakat Tun Tun melalui wacana FNHA. Analisis superstruktur dalam analisis wacana kritis Teun Van Dijk, difokuskan pada pendahuluan, isi, dan penutup dalam wacana (Payuyasa, 2. Oleh karena itu, analisis tiap komponen superstruktur wacana FNHA akan dilihat secara menyeluruh berdasarkan teks yang diproduksi pada setiap lokasi. Pendahuluan merupakan sesuatu yang mula-mula dilakukan sebagai pembukaan atau pengantar dari sebuah pidato, buku, karangan, dan sebagainya (KBBI darin. Pendahuluan dalam sebuah wacana adalah bagian pengantar yang berisi latar belakang dan awal ide dari sebuah teks (Painingsih, 2017. Subakti. Dalam kaitannya dengan wacana FNHA, pendahuluan difokuskan pada bagian wacana yang dipahami sebagai pembuka atau pengantar. Bagian pendahuluan wacana FNHA ditampilkan seperti berikut. Pendahuluan Wacana FNHA pada Tola HoiA. au uis ina afoan naek ma afoan ana. Feto naek feto ana al ala kit ma lala kit (Lala ki. Neno I hai emam te hit ta tola ma hita nikut. (Selamat pagi semuanya, leluhurku baik laki-laki besar maupun lakilaki kecil. Baik perempuan besar maupun perempuan kecil kita samasama. Hari ini kami datang di pondok lumbung adat kita, tempat kita bersemayam dan duduk bersam. Pendahuluan Wacana FNHA pada Pintu Kedua HoeoA. hai usi nais a Maunu Ufa ho etam titum mam pao es eon a matamn ma nesba matan. Neno I emam te hit humak ma tit matak on usineko leko leko ma utonan ko leko leko. (Selamat pagi, leluhur kami, bai Bana Mnasi. Engkau yang menjaga pintu masuk ini. Hari ini kami datang ke hadapanmu, memberitahu secara baik-bai. Pendahuluan Wacana FNHA pada Puncak Oename HoeA. au uis a Bana Mnasi mok hai uis a maun ufa lelba usinekit ma utonankit ije het saet fin teu pupun ma latan on usine leko leko ma utonan leko leko. (Selamat pagi leluhur Bana Mnasi dan Maunu Ufa, tadi kami telah mengundang dan memberitahu. Sekarang kami akan menuju ke puncak untuk saling memberitahu secara baik-bai. Pendahuluan Wacana FNHA pada Mesbah Utama HeoA Hai uis ina afoan naek afoan ana, mok hi feto naek feto abaut allaki ma lallaki. Lelo tbi hita tola ma hita nikut on usinekit leko leko utonankit leko leko. Ije tema te hita tok a ben es noenli ma oename. (Selamat pagi leluhur kami afoan naek . aki Ae laki besa. afoan ana . aki-laki keci. bersama saudari besar dan saudari kecil semuanya. Tadi di lumbung adat kita tempat bersemayam, kami telah memberitahu secara baik-bai. Ritual FNHA dilakukan oleh masyarakat di beberapa lokasi yang merupakan satu kesatuan dan tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, analisis superstruktur yang berkenaan dengan pendahuluan wacana FNHA dilihat secara terpisah berdasarkan Joni Saleman Nalenan dkk (Ritual Fek Nono Hau Ana A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 179 Ae 193 Data di atas merupakan data bagian pendahuluan wacana FNHA. Secara keseluruhan, pendahuluan wacana FNHA berupa sapaan (Rahmah & Zamzani, 2. yang dipahami melalui penggunaan kata hoi, hoe, dan heo Aoselamat pagiAo. Sapaan pada ritual di Tola ditujukan kepada leluhur keempat suku besar yang mendiami wilayah Tun Tun, yakni leluhur suku Kaba, suku Sait, suku Kofi, dan suku Kolo. Hal ini teramati melalui kalimat Au uis ina afoan naek ma afoan ana. Feto naek feto ana al ala kit ma lala kit AoLeluhurku, baik laki-laki besar maupun laki-laki kecil. Baik perempuan besar maupun perempuan kecil kita sama-samaAo. Afoan naek Aolaki-laki besarAo dalam kalimat ini mengacu pada leluhur dari suku Kaba, afoan ana Aolaki-laki kecilAo mengacu pada leluhur suku Kofi, feto naek Aoperempuan besarAo mengacu pada leluhur suku Sait, dan feto ana Aoperempuan kecilAo mengacu pada leluhur suku Kolo. Sapaan pada pintu pertama ditujukan kepada Maun Ufa sebagai leluhur yang diyakini menjaga pintu pertama Oename. Referen sapaan ini dipahami melalui kalimat HoeoAhai usi nais a Maunu Ufa ho etam titum mam pao es eon a matamn ma nesba matan AoSelamat pagi, leluhur kami, bai Maunu Ufa. Engkau yang menjaga pintu masuk iniAo. Dalam kalimat ini, nama Maun Ufa disebutkan dengan sapaan AuMaunu UfaAy. Sapaan pada pintu kedua ditujukan kepada Bana Mnasi sebagai leluhur yang diyakini menjaga pintu kedua Oename. Referen sapaan ini dipahami melalui kalimat Hoeo. hai usi nais a Bana Mnasi ho etam titum mam pao es eon a matamn ma nesba matan AoSelamat pagi, leluhur kami, bai Bana Mnasi. Engkau yang menjaga pintu masuk iniAo. Sapaan pada puncak Oename ditujukan kepada penjaga pintu pertama dan kedua, yakni Maun Ufa dan Bana Mnasi. Sapaan ini sebagai informasi kepada wujud yang diyakini pada puncak Oename bahwa kehadiran tim FNHA sudah mendapat restu dari Maun Ufa dan Bana Mnasi dan keduanya pun ikut hadir bersama-sama di hadapan sang pemberi berkat. Sapaan pada mesbah utama ditujukan kembali kepada leluhur dari keempat suku besar yang mendiami wilayah Tun Tun, yakni suku Kaba, suku. Sait, suku Kofi, dan suku Kolo. Referen sapaan ini dipahami melalui kalimat HeoA Hai uis ina afoan naek afoan ana, mok hi feto naek feto abaut allaki ma lallaki AoSelamat pagi leluhur kami laki Ae laki besar, lak-laki kecil, bersama saudari besar dan saudari kecil semuanyaAo. Isi merupakan inti atau bagian pokok dari suatu wejangan, baik pidato, pembicaraan, dan sebagainya. Isi wacana merupakan bagian yang memuat pokok atau inti dari wacana (Takasihaeng, 2. Dalam kaitannya dengan wacana FNHA, isi difokuskan pada bagian yang memuat inti atau bagian pokok wacana. Bagian isi wacana FNHA ditampilkan seperti berikut. Isi Wacana FNHA pada Tola Neno I hai emam te hit ta tola ma hita nikut. Misaeb pua ha manus tua funan tua neno. MiAosine kit leko-leko mi tonan kit leko-leko. Kana tuin fa molok sa. I hetaAonua on hit noenli ma oename he, t,masine ma t,mantonan he tafek hit nono ma hit hau ana. Me natuin hita tola ma hita nikut lof utonanki leko leko ma usineki leko leko. he himsa mit main ma mihinmain. he tanua teu hita tola mahita niku hi mihahunbaha haim konom mitatunaha. (Hari ini kami datang di pondok lumbung adat kita, tempat kita bersemayam dan duduk bersama. Kami datang membawa sirih, pinang, dan sopi. Kami memberitahukan kepada bai dan nenek . secara Joni Saleman Nalenan dkk (Ritual Fek Nono Hau Ana A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 179 Ae 193 baik-baik. Kami datang sekarang bermaksud untuk kita bersama-sama pergi ke batu Oename untuk meminta izin supaya kami bisa memulai menebas ladang ini. Melalui kebersamaan kita di Tola ini, kami meminta izin secara baik-baik. Supaya leluhur kami melihat dan Kami mengundang leluhur semuanya untuk menuntun kami turun ke mesbah Oenam. Isi Wacana FNHA pada Pintu Pertama dan Kedua I he tafek hit nono ma hit hau ana he nat benas naot natuin in lalan fanja naot natuin in lalan. (Sekarang kami mau membuka ladang ini. Jauhkanlah kami dari musibah karena parang dan kapa. Isi Wacana FNHA pada Puncak Oename I he tek hit fani ma hit benas he tafek hit nono ma hit hau ana henait bensa naot natuin in lalan fanja naot natuin in lalan. Et usine,ko leko leko utonanki leko leko hi es pupun nok latan nakam ititus es ho apaotat es ho he nait homsa mit main ma muhin ma muhin main he kaisa muktote ma muktana. (Sekarang kami akan menuju ke puncak untuk saling memberitahu secara baik-baik. Kami akan memulai menebas ladang ini. Jauhkanlah kami dari musibah parang dan kapak. Sekarang kami memberitahu secara baik-baik. Engkau yang menjaga di puncak ini, agar engkau melihat dan mengetahui sehingga maksud dan tujuan kami tidak Isi Wacana FNHA pada Puncak Mesbah Utama Ije tema te hita tok a ben es noenli ma oename. usineki leko leko utonanki leko leko. I he tafek hit nono ma hit hau an en, he nait bensa naot natuin in lalan fanja naot natuin in lalan. Usineki onle I utonanki onle I, hi miket ma mitnoe es fatba bian ma hauba bian, es faija nok maisokan, he nait himsa mnek mes ma ansao mes, haim mbi meusine msat alaha nekmeset ma ansao meset. Usineki onle I utonanki onle I, u uab okki utoen okki naitam nenkai ma mitnin kai hem mtaobakai toen alekot ma lais alekot, neu sulat ma neu atu, nait neteko mu,ik,ma mutea, snasankot muhenum munae he naitam mtae manet makam heo I mimolok mikkit mfe hi nekmina leko leko hi ansaomina leko leko neu sulat I ma atu i. (Tadi di lumbung adat kita tempat bersemayam, kami telah memberitahu secara baik-baik. Sekarang, kami tiba di mesbah Oename. Kami memberitahu secara baik-baik, kini tiba waktunya untuk kami mulai menebas lahan ini sehingga kami dapat dijauhkan dari musibah parang dan kapak. Kami memberitahu seperti ini. Kami berharap kamu telah bersatu di alam lain, dan kami yang masih berziarah di dunia ini pun tetap bersatu. Kami memberitahu seperti ini, sehingga penyampaian kami ini dapat di dengar agar dapat diberi tanda baik saat penyembelihan nanti sehingga terbuka jalan bagi kami dan kami diberi kekuatan dan mendapatkan kesehatan yang baik pada saat bekerj. Joni Saleman Nalenan dkk (Ritual Fek Nono Hau Ana A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 179 Ae 193 Data di atas merupakan bagian isi wacana FNHA pada setiap lokasi ritual. Pada bagian isi ini, tim FNHA menyebutkan semua atribut yang dibutuh oleh leluhur, yakni sopi, sirih, dan pinang. Isi wacana FNHA pada ritual di Tola merupakan pemberitahuan permohonan izin kepada leluhur keempat suku besar yang bersemayam di lopo lumbung adat (Tol. agar memediasi atau bersama-sama dengan tim FNHA ke puncak Oename. Selain itu, masyarakat memohon bantuan leluhur untuk menyampaikan permohonan izin kepada sang pemberi berkat di puncak Oename agar mengizinkan untuk menebas hutan atau lahan yang akan dijadikan ladang bercocok tanam. Bagian isi ini juga merupakan bentuk penyerahan diri masyarakat yang mengimplisitkan rasa kebersamaan dengan leluhur. Isi wacana FNHA pada ritual di pintu pertama, kedua, puncak Oenamei, dan mesbah utama berupa pemberitahuan dan permohonan kepada Maun Ufa. Bana Mnasi, sang pemberi berkat, dan leluhur keempat suku besar bahwa masyarakat akan membuka lahan baru. Oleh karena itu, jauhkanlah mereka dari malapetaka parang dan kapak saat bekerja. Bagian isi ini juga memberikan informasi tentang pentingnya FNHA dilakukan. Artinya, jika masyarakat tidak melakukan ritual FNHA, maka masyarakat akan mendapat malapetaka saat bekerja. Penutup merupakan bagian akhir dari sebuah karangan, rapat, dan sebagainya (KBBI darin. Bagian penutup wacana merupakan kalimat-kalimat yang mengakhiri sebuah topik pada akhir pembicaraan (Syarifudin & Rozi, 2. Dalam kaitannya dengan wacana FNHA, penutup difokuskan pada bagian akhir wacana. Bagian penutup wacana FNHA ditampilkan seperti berikut. Penutup Wacana FNHA pada Pintu Pertama dan Kedua Et usineko onle I utonanko onle I naitam mnen nait mutnin oketam mtaobakai toen alekot ma lais alekot neu sulat ma atu. (Demikian pemberitahuan kami ini, kiranya didengar dan diberi tanda baik saat penyembelihan kurban nant. Penutup Wacana FNHA pada Puncak Oename Et usine,kit onle I utonankit onle I he okem bi tola ma nikut naitam mtabakai toen alekot ma lais alekot neu sulat ma neu atu. (Sekarang kami memberitahu seperti ini, sehingga sebentar di mesbah nanti kami diberi tanda baik saat penyembelihan nant. Penutup Wacana FNHA pada Mesbah Utama We hai uis ina Maun Ufa hai uis a Banam Nasi mok apupnama latan, mok main hai uis inam afoa naek, afoa ana, feto naek, feot abaut alakima lallaki. Maut lelba usineki ma u utonanki, et him sat nen tone lasi onan tomenam nalekben. Ide hone ta,o sufa ka,uf natas nalailnen nanine nalainen setel netse ni hit humak hit matak. At bukaelok nai tamamok nai. Mak hana es hi humak hi matam, sis sat es hi humak hi matam nok tua funan tua neno. Miun nai mueonom nai. (Bapak yang maha kuasa. Kakek Maun Ufa. Kakek Banam Nasi dengan anak laki-laki besar, laki-laki kecil, perempuan besar, perempuan kecil saya mengundang untuk berkumpul kembali di mesba ini. Di sini tadi saya sudah mengundang dan menyampaikan semua kelu kesah kami dan kalian sudah mendengar dan memberikan sesuai dengan apa yang kami harapkan atau memberikan yang terbaik. Sekarang anak cucu sudah masak dan sudah disediakan di depan mata atau di atas mesba Joni Saleman Nalenan dkk (Ritual Fek Nono Hau Ana A ) DOI: 10. 24235/ileal. Indonesian Language Education and Literature e-ISSN: 2502-2261 http://w. id/jurnal/index. php/jeill/ Vol. No. Desember 2024, 179 Ae 193 Selamat makan dan selamat makan siri pinang sudah. Nasi sudah di depan mata, daging sudah di depan mata dan sudah disediakan sopi toko dan sopi kampung. Selamat minum dan selamat tingga. Data di atas merupakan bagian penutup wacana FNHA yang merupakan harapan dari masyarakat kepada leluhur keempat suku besar. Maun Ufa. Bana Mnasi, dan sang pemberi berkat untuk memberikan petunjuk perizinan membuka lahan yang ditandai dengan kelancaran penyembelihan hewan kurban di mesbah Pada bagian penutup ini juga berupa penyerahan sesajian kepada leluhur keempat suku besar berupa nasi, daging, kopi, sirih, dan pinang untuk dinikmati. Selain itu, permohonan izin masyarakat untuk santap bersama sebagai ucapan terima kasih atas pengabulan izin membuka lahan baru yang diakhiri dengan ucapan selamat berpisah kepada leluhur. SIMPULAN Wacana ritual FNHA dilakukan di beberapa lokasi, yakni tola, pintu pertama Oename, pintu kedua Oename, puncak Oename, dan mesbah utama. Namun demikian, lokasi tersebut masih merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Tema global wacana ritual FNHA adalah religiusitas yang merupakan suatu proses pencarian jalan kebenaran atau petunjuk oleh masyarakat Tun Tun kepada leluhur untuk membuka lahan baru dalam bercocok tanam. Secara skematik, wacana ritual FNHA terdiri dari pendahuluan, isi, dan penutup. Bagian pendahuluan merupakan sapaan kepada leluhur, bagian isi merupakan permohonan izin kepada leluhur, dan bagian penutup merupakan harapan dari masyarakat kepada leluhur keempat suku besar. Maun Ufa. Bana Mnasi, dan sang pemberi berkat untuk memberikan petunjuk perizinan membuka lahan. Penelitian ini hanya menyoroti wacana FNAH dari sisi struktur makro dan superstruktur. Oleh karena itu, bagi peneliti lain yang berkecimpung di dunia linguistik bisa mengambil wacana FNHA sebagai objek kajian dari sisi menarik lainnya. DAFTAR PUSTAKA