Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 152-163 PERILAKU MENYALAHKAN DIRI DAN PERSEPSI BUDAYA PATRIARKI PADA PEREMPUAN KORBAN PELECEHAN SEKSUAL SELF-BLAME AND PERCEPTIONS OF PATRIARCHAL CULTURE IN SEXUAL HARASSMENT VICTIMS Amadea Pavita Surya . Unika Soegijapranata . Email: amadeasurya. p@gmail. Abstrak: Banyaknya kasus kekerasan seksual serta munculnya perilaku menyalahkan diri pada korbannya membuat perlu adanya penelitian terkait faktor yang mungkin berkorelasi dengan perilaku Penelitian bertujuan untuk menguji hubungan antara persepsi terhadap budaya patriarki dengan perilaku menyalahkan diri sendiri pada korban pelecehan seksual pada kelompok usia dewasa Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini yaitu adanya hubungan positif antara persepsi terhadap budaya patriarki dan perilaku menyalahkan diri pada perempuan korban pelecehan seksual yang berada pada rentang usia dewasa awal. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik sampling insidental. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rape Attribution Questionnaire (RAQ) oleh Frazier . yang terlebih dahulu diterjemahkan dan skala persepsi terhadap budaya patriarki. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rho dengan hasil r=0,013 dan signifikansi 0,899 sehingga hipotesis ditolak. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat korelasi yang signifikan antara persepsi terhadap budaya patriarki dan perilaku menyalahkan diri pada korban pelecehan seksual. Kata Kunci: persepsi, budaya patriarki, perilaku, menyalahkan diri, perempuan, korban, pelecehan seksual. Abstract: The large amounts of sexual harassment cases and the emergence of self-blame in its victims make it urgent to conduct research in this regard. The research aims to examine the relationship between perceptions of patriarchal culture and self-blaming behavior in victims of sexual harassment in the young-adult age group. The research method used in this study is a quantitative research method. The sampling technique used in this research is the incidental sampling technique. The measuring instrument used in this research is the Rape Attribution Questionnaire (RAQ) by Frazier . which was first translated into Indonesian and the scale of perception of patriarchal Data analysis was carried out using the Spearman Rho test with the results of r = 0. 013 and a significance of 0. 899 so the hypothesis was rejected. The conclusion of this study is that there is no significant correlation between perceptions of patriarchal culture and self-blame behavior on victims of harassment. Keywords: perception, patriarchal, culture, self-blame, behaviour Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 152-163 PENDAHULUAN Kasus pelecehan seksual banyak terjadi di Indonesia dan dunia. Dalam kasuskasus tersebut, sering kali korban justru disalahkan atas kejadian yang menimpanya. Contoh nyata dari hal tersebut yaitu kasus kekerasan yang dialami oleh penumpang KRL di Jakarta. Pada kasus tersebut, korban yang melaporkan kejadian yang dialaminya pada petugas justru dianggap tidak bertanggung jawab karena tidak membawa bukti serta tidak dapat menjaga dirinya. Petugas juga tidak mempercayai cerita korban maupun teman korban yang menjadi saksi . com pada 18 April 2. Lebih lanjut, petugas yang menerima laporan tersebut tidak menganggap serius laporan korban dan menganggap hal tersebut sebagai hal wajar yang seringkali . com pada 18 April 2. Hal yang dialami oleh penumpang KRL tersebut dapat disebut sebagai victim blaming. Bentuk pelecehan seksual juga dapat dialami oleh individu dalam kehidupan seharihari. Hal ini dapat dilihat melalui hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada tiga perempuan yang pernah mengalami bentuk pelecehan seksual. Narasumber pertama berinisial WM berusia 22 tahun. mengatakan bahwa dirinya pernah mengalami bentuk pelecehan seksual yaitu cat calling. WM mengatakan dirinya mengalami bentuk pelecehan seksual tersebut ketika dirinya sedang berjalan di lingkungan tempat Narasumber kedua berinisial KL dan berusia 21 tahun. Subjek KL mengatakan bahwa dirinya mengalami bentuk pelecehan seksual berupa eksibisionis. KL mengatakan dirinya mengalami bentuk pelecehan seksual tersebut ketika dirinya sedang berjalan-jalan di kompleks perumahan dimana KL tinggal. Narasumber ketiga yang juga pernah mengalami bentuk pelecehan seksual dalam aktivitas sehari-hari yaitu SA yang berusia 23 SA mengatakan dirinya mengalami bentuk pelecehan seksual berupa pandangan bernuansa seksual. SA mengatakan dirinya mengalami bentuk pelecehan tersebut ketika dirinya sedang makan disebuah rumah makan. Lebih lanjut. SA mengatakan saat itu dirinya sedang menggunakan celana pendek dan pelaku terus menerus memberikan pandangan bernuansa seksual. Berdasarkan hal ini, dapat dilihat bahwa bentuk pelecehan seksual dapat dialami dalam kehidupan sehari-hari yang dekat dengan individu. Tracy (Raphael, 2. mengatakan victim blaming adalah suatu tindakan menyalahkan korban karena korban dinilai telah melakukan suatu tindakan atau berada pada suatu kondisi dan situasi yang mengakibatkan dirinya pantas mengalami kejadian tersebut. Victim blaming juga dapat berupa argumen pembenaran ataupun tindakan membela diri yang dilakukan pelaku terhadap korban (Lila dkk, 2. Schulze dkk, . mengatakan victim blaming seringkali terjadi terutama pada kasus kejahatan sosial termasuk pelecehan seksual pada anak terlantar, perempuan, dan lansia. Victim blaming seringkali dialami oleh individu yang pernah mengalami pelecehan seksual (Gravelin dkk. Victim blaming tidak hanya dapat dilakukan oleh individu lain, namun korban juga dapat menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpanya. Hal ini seringkali disebut dengan self-blame. Self-blame atau perilaku menyalahkan diri sendiri merupakan perilaku dimana individu tersebut percaya bahwa dirinya merupakan penyebab mengapa hal tersebut dapat terjadi pada dirinya (Raphael. Siefkes-Andrew Alexopoulos . mengatakan bahwa seringkali individu yang mengalami pelecehan seksual juga terus-menerus menyalahkan dirinya atas kejadian yang dialaminya. Contoh yang dapat diambil terkait hal ini yaitu kasus yang terjadi seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada berinisial A, dimana korban mengalami pelecehan seksual namun karena mendiskriminasi, hal ini kemudian membuat korban sempat percaya bahwa dirinya bersalah dan tidak lagi berharga karena telah mengalami bentuk pelecehan seksual, namun akhirnya korban mendapat pertolongan dan dapat bangkit kembali . com, pada 31 maret 2. Perilaku menyalahkan diri pada korban pelecehan seksual menurut Frazier . adalah suatu perilaku yang muncul akibat adanya kepercayaan dalam diri individu bahwa dirinya bertanggung jawab atas suatu trauma, seperti pelecehan seksual yang Perilaku menyalahkan diri sendiri pada individu yang mengalami pelecehan seksual dapat muncul karena dipengaruhi oleh Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 152-163 adanya budaya tertentu seperti budaya patriarki di masyarakat. Penelitian Orchowski dkk, . mengatakan bahwa pandangan tradisional terkait peran gender dalam budaya patriarki dapat memperkuat dampak negatif dari pelecehan seksual dan membuat perempuan menjadi rentan untuk menyalahkan dirinya sendiri dan kesulitan pulih dari dampak negatif akibat pelecehan seksual. Penelitian yang dilakukan oleh Peter-Hagene & Ullman . menunjukan bahwa adanya pengaruh budaya dan pemahaman terhadap patriarki dimana perempuan dipandang sebagai individu mempertahankan dirinya dapat meningkatkan peluang individu yang mengalami pelecehan seksual untuk menyalahkan dirinya sendiri. Lebih DeNora mengatakan bahwa persepsi dapat diarahkan dan proses tersebut dapat membantu memahami bagaimana sebuah budaya dapat menjadi tindakan dalam diri individu. Berdasarkan disimpulkan bahwa persepsi terhadap budaya patriarki merupakan proses kognitif untuk mengintepretasi dan mengevaluasi pandangan yang didalamnya terdapat penekanan dan laki-laki. Jauhariyah memunculkan pandangan perempuan sebagai individu yang inferior dibandingkan laki-laki, hal ini menimbulkan pandangan yang seolaholah membuat perempuan merupakan individu yang lemah sehingga perempuan dinilai wajar untuk mengalami pelecehan seksual. Dalam penelitiannya. Indainanto . mengatakan bahwa adanya dominasi laki-laki pada perempuan mengakibatkan pelecehan seksual yang dilakukan oleh laki-laki pada perempuan dianggap sebagai hal yang wajar. Kasus pelecehan seksual sendiri banyak ditemui terjadi pada perempuan di ruang publik, fasilitas publik, maupun komunitas. Cusmano . mengatakan persepsi yang mendukung budaya patriarki pada individu perempuan yang mengalami pelecehan seksual dapat membuat individu merasa tidak berharga ataupun rendah diri sehingga individu tersebut menyalahkan dirinya sendiri atas pelecehan seksual yang terjadi pada dirinya. Meskipun dapat dialami oleh siapa saja, pelecehan seksual seringkali dialami oleh Alfi & Halwati . mengatakan bahwa pelecehan seksual seringkali terjadi pada perempuan dan kelompok sosial yang dianggap lemah. Berdasarkan data dari catatan tahunan (CATAHU) komnas perempuan pada tahun 2021 tercatat sebanyak 1731 kasus kekerasan terhadap perempuan di ruang publik dan komunitas, bentuk kekerasan yang paling menonjol yaitu kekerasan seksual, termasuk pelecehan seksual dengan jumlah kasus sebanyak 962 kasus. Selain itu, pelecehan seksual kerap terjadi pada perempuan pada usia yang digolongkan muda. Data ini didapat melalui survei yang diadakan oleh WHO bekerjasama dengan beberapa lembaga lainnya (Kompas. com, 10 Maret 2. Menurut Lorenz & OAoCallaghan . korban pelecehan seksual perempuan di ruang publik seperti kantor, sekolah, dan ruang publik lainnya kebanyakan berusia 18 hingga 30 Rentang usia 18 hingga 30 tahun dapat dikategorikan sebagai kelompok usia dewasa awal (Santrock, 2. Hal ini juga dibuktikan dengan data Komnas perempuan yang menemukan peningkatan kasus kekerasan seksual, termasuk pelecehan seksual di ruang publik dan komunitas sebanyak 181 kasus pada tahun 2021 (Komnas Perempuan. id, 5 Maret 2. Raphael . mengatakan bahwa seringkali individu yang mengalami pelecehan seksual cenderung merasa dirinya bertanggung jawab atas pelecehan seksual yang dialaminya. Raphael . juga mengatakan bahwa korban juga seringkali percaya bahwa perkataan orang-orang disekelilingnya bahwa dirinya pantas mengalami pelecehan seksual karena dirinya kurang berhati-hati. Hal ini kemudian dapat memunculkan dampak negatif pada individu tersebut. Dampak negatif yang dapat muncul pada individu yaitu menurunnya kesehatan, kesejahteraan psikis yang rendah, munculnya gejala depresi, serta munculnya perilaku kesehatan berisiko seperti konsumsi alkohol berlebih (Pegram, 2. Saputra . mengatakan dampak negatif lain yang akibat perilaku menyalahkan diri yang dapat muncul yaitu timbulnya stress, depresi berkelanjutan, dan juga percobaan bunuh diri pada individu. Carretta & Szymanski . juga mengatakan bahwa perilaku menyalahkan diri sendiri pada perempuan yang mengalami pelecehan seksual dapat meningkatkan peluang individu tersebut mengalami PTSD Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 152-163 dan gangguan psikologis lainya. Dampak negatif dari perilaku menyalahkan diri sendiri pada individu yang mengalami pelecehan (Siefkes-Andrew Alexopoulos, 2. mengatakan bahwa dampak negatif yang muncul dari perilaku tersebut membuat individu tidak memperoleh penanganan yang diperlukan sehingga individu tidak dapat mengembangkan dirinya dengan Hal ini menjadi penting karena pada usia dewasa awal individu berada pada tingkat akhir studi dan mulai memasuki dunia kerja (Santrock. Individu mengembangkan dirinya dengan baik agar individu dapat siap memasuki dunia kerja dengan baik. Banyak dampak negatif yang dapat muncul dari perilaku tersebut. Individu yang mengalami pelecehan seksual. Dampak negatif yang dapat muncul yaitu gejala PTSD, hilangnya kepercayaan diri, dan juga masalah emosional lainya (Schwark & Bohner, 2. Tidak hanya itu, dampak negatif dari menyalahkan diri sendiri dapat memperburuk dampak negatif akibat bentuk pelecehan seksual yang dialaminya (Saputra, 2. Banyaknya kasus pelecehan seksual dan dampak negatif yang muncul akibat pengalaman individu terkait pelecehan seksual serta perilaku menyalahkan diri sendiri yang seringkali muncul bersamaan dengan hal tersebut, membuat diperlukannya upaya lebih untuk memahami topik tersebut. Upaya untuk lebih memahami hal ini dapat dilakukan melalui melalui penelitian-penelitian terhadap faktor-faktor yang mungkin berpengaruh ataupun berhubungan dengan hal ini, termasuk persepsi yang dimiliki individu terkait budaya Hal ini perlu dilakukan agar dampak negatif yang dapat muncul akibat perilaku menyalahkan diri sendiri pada individu yang mengalami bentuk pelecehan seksual dapat dicegah ataupun setidaknya tidak mengalami Dampak negatif yang dapat muncul seperti masalah emosional dan psikologis dapat mengganggu aktivitas seharihari individu (Raphael, 2. Selain itu, dampak negatif dari perilaku tersebut juga dapat membuat individu tidak memperoleh penanganan yang tepat dan juga menghambat individu untuk dapat mengembangkan dirinya sendiri (Siefkes-Andrew & Alexopoulos. Individu pada rentang usia dewasa berada pada tingkat akhir studi dan mulai memasuki dunia kerja (Santrock, 2. Oleh karena itu, penting bagi individu yang berada pada usia dewasa awal untuk dapat mengembangkan dirinya dengan baik sehingga siap memasuki dunia kerja. Penelitian ini berfokus pada perilaku menyalahkan diri sendiri pada perempuan dalam rentang usia dewasa awal yang mengalami bentuk pelecehan seksual dan persepsinya terkait budaya patriarki. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Peter-Hagene & Ullman . yang mengatakan bahwa seringkali individu yang mengalami pelecehan seksual yang menganut budaya patriarki seringkali juga menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang dialaminya. Peneliti secara spesifik memilih topik ini dikarenakan belum banyak penelitian terkait hal ini yang dilakukan pada kelompok usia dewasa awal. Padahal kelompok usia dewasa adalah kelompok yang sering menggunakan fasilitas dan ruang publik dimana kasus pelecehan seksual seringkali Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji hubungan antara persepsi terhadap budaya patriarki dengan perilaku menyalahkan diri sendiri pada korban pelecehan seksual pada kelompok usia dewasa awal. Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi kepada pembacanya tentang perilaku perilaku menyalahkan diri sendiri pada korban pelecehan seksual dengan persepsi terhadap budaya patriarki pada kelompok usia dewasa Informasi ini diharapkan dapat mencegah ataupun menurunkan perilaku menyalahkan diri pada korban pelecehan seksual pada kelompok usia dewasa awal. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu adanya hubungan positif antara persepsi terhadap budaya patriarki dan perilaku menyalahkan diri pada perempuan yang mengalami pelecehan seksual dalam rentang usia dewasa awal. METODE Penelitian yang digunakan adalah penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif berupa penelitian korelasional. Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 152-163 Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 100 perempuan yang pernah mengalami bentuk pelecehan seksual dalam rentang usia 18-30 tahun dan berdomisili di Provinsi Jawa Tengah. Jawa barat. Jawa Timur. DKI Jakarta, dan D. I Yogyakarta. Dalam penelitian ini didapati sebanyak 47,7% partisipan memiliki latar belakang pendidikan terakhir sebagai Sebanyak 52,3% partisipan memiliki latar belakang pendidikan terakhir sekolah menengah atas (SMA) dan sedang menempuh pendidikan S1. Variabel perilaku menyalahkan diri menggunakan bentuk perilaku menyalahkan diri menurut Frazier . yaitu: percaya perilaku atau tindakan individu menyebabkan dirinya mengalami pelecehan seksual, percaya bahwa pelaku melakukan pelecehan seksual karena alasan tertentu yang menyangkut kepribadian atau diri individu, percaya bahwa tidak ada tindakan apapun yang dapat menolong individu setelah mengalami pelecehan seksual, percaya bahwa individu dapat mengalami pelecehan seksual kembali, percaya bahwa dirinya harus merubah perilaku tertentu dari dirinya agar tidak mengalami pelecehan seksual kembali. Bentuk perilaku menyalahkan diri tersebut terdapat dalam Rape Attribution Questionnaire (RAQ) oleh Frazier . Semakin tinggi skor maka semakin tinggi munculnya perilaku menyalahkan diri pada individu yang mengalami pelecehan Sebaliknya, semakin rendah maka semakin rendah pula munculnya perilaku menyalahkan diri pada individu yang mengalami pelecehan seksual. Bentuk Tersebut terdapat dalam skala Rape Attribution Quizioner (RAQ) yang terlebih dahulu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Skala RAQ memiliki total item sebanyak 25 item yang terdiri dari item favorabel dan unfavorabel. Uji validitas pada skala perilaku menyalahkan diri memiliki rentang koefisien 0,356-0,636. Skala perilaku menyalahkan diri memiliki nilai alpha Cronbach yaitu 0,838 maka item dalam skala perilaku menyalahkan diri dapat dikatakan Penggunaan dikarenakan RAQ dinilai paling cocok untuk penelitian ini dan juga seringkali digunakan dalam penelitian-penelitian terdahulu terkait topik ini, seperti dalam penelitian Carretta . Pegram . , dan Peter-Hagene & Ullman . Tabel 1. Blue print skala perilaku menyalahkan diri Bentuk Perilaku Jumlah Item Percaya perilaku atau tindakan individu menyebabkan dirinya mengalami pelecehan seksual Percaya melakukan seksual bahwa pelaku pelecehan karena alasan tertentu yang menyangkut kepribadian atau diri individu Percaya bahwa tidak ada tindakan apapun yang dapat menolong individu setelah mengalami pelecehan seksual Percaya bahwa individu dapat mengalami pelecehan seksual Percaya bahwa dirinya harus merubah perilaku tertentu dari dirinya agar tidak mengalami pelecehan seksual kembali. Variabel persepsi budaya patriarki akan diungkap menggunakan skala yang disusun berdasarkan ciri budaya patriarki menurut Taylor . yaitu: terdapat dominasi lak-laki dalam bidang pekerjaan dan kepemimpinan, dipandang sebagai hal yang wajar, terdapat pembenaran terhadap perilaku kekerasan dan pelecehan pada perempuan, terdapat hak istimewa laki-laki . ale privileg. , dan terdapat penekanan pada hak laki-laki . ale entitlemen. Semakin tinggi skor maka akan menunjukan semakin tinggi persepsi budaya patriarki pada individu yang juga menunjukan semakin individu sependapat dan yakin dengan pandangan budaya patriarki. Sebaliknya semakin rendah skor maka semakin rendah pula persepsi budaya patriarki yang dimiliki individu dan semakin individu tidak sependapat dengan pandangan budaya Item pada skala persepsi budaya patriarki berjumlah 10 item favorabel. Penggunaan skala ini dikarenakan bentukbentuk ciri budaya patriarki tersebut seringkali dijumpai dalam masyarakat. Uji validitas pada skala persepsi terhadap budaya patriarki memiliki rentang 47 koefisien 0,318-0,460. Nilai alpha Cronbach yaitu 0,671 maka item dalam skala persepsi terhadap budaya patriarki dapat dikatakan reliabel. Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 152-163 Dalam CronbachAos Coefficient Alpha: Well Known but Poorly Understood. Cho dan Kim . menekankan bahwa alpha yang lebih rendah dari 0. 7 dapat diterima dalam kasus di mana skala baru dikembangkan, atau dalam konteks eksploratif dengan jumlah item yang sedikit. Referensi serupa dikatakan oleh Taber . dalam The Use of CronbachAos Alpha When Developing and Reporting Research Instruments in Science Education, menjelaskan bahwa CronbachAos alpha sering Meskipun alpha sebesar 0. umumnya digunakan sebagai batas minimal untuk konsistensi internal yang dapat diterima, ia juga mencatat bahwa alpha sebesar 0. 6 bisa dianggap dapat diterima dalam konteks penelitian eksploratif atau saat alat pengukuran baru sedang dalam pengembangan. Tabel 2. Blue print skala persepsi budaya validitas dan reliabilitas pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 16. Skala perilaku menyalahkan diri memiliki nilai alpha Cronbach yaitu 0,838 maka item dalam skala perilaku menyalahkan diri dapat dikatakan reliable. Skala persepsi terhadap budaya patriarki memiliki enam item Terdapat empat item gugur pada putaran pertama uji validitas skala persepsi terhadap budaya patriarki dan satu item gugur pada putaran kedua. Tidak terdapat item gugur pada putaran ketiga. Uji validitas pada skala persepsi terhadap budaya patriarki memiliki rentang koefisien 0,318-0,460. Nilai alpha Cronbach yaitu 0,671 maka item dalam skala persepsi terhadap budaya patriarki dapat dikatakan reliabel. HASIL Hasil uji statistik deskriptif variabel penelitian dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Statistik deskriptif variabel penelitian Ciri Budaya Patriarki Jumlah Item Fav Kategori Skor Terendah Terdapat dominasi laki-laki dalam bidang pekerjaan dan Dipandang sebagai hal yang wajar dalam masyarakat Skor Tertinggi Standar Deviasi Rata-rata Terdapat terhadap perilaku kekerasan Terdapat hak istimewa lakilaki . ale privileg. Terdapat penekanan pada hak laki-laki . ale entitlemen. Uji validitas pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji validitas Pearson Product moment. Dilakukan pula uji Part-Whole untuk mengatasi kelebihan bobot pada angka korelasi yang diperoleh. Uji validitas pada skala perilaku menyalahkan diri memiliki rentang koefisien 0,356-0,636. Terdapat 13 item valid pada putaran pertama dan tidak terdapat item gugur pada uji validitas putaran kedua. Uji reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan menggunakan uji reliabilitas CronbachAos Alpha, dimana apabila nilai CronbachAos Alpha lebih dari 0,6 maka data yang diperoleh dapat dikatakan reliabel. Uji Persepsi budaya 7,61 2,59 30,220 9,770 Self-blame Uji asumsi terdiri dari uji normalitas dan uji linearitas. Uji normalitas digunakan untuk mencari tahu apakah data terdistribusi normal atau tidak. Uji linearitas digunakan untuk melihat apakah variabel yang diuji linier atau tidak. Hasil uji normalitas skala perilaku menyalahkan diri menunjukkan nilai 2,036 dan 0,001 . <0,. Berdasarkan hasil uji tersebut dapat disimpulkan bahwa data penelitian ini tidak terdistribusi dengan normal. Hasil uji normalitas skala persepsi terhadap budaya patriarki menunjukan nilai 2,147 dan signifikansi 0,000 . <0,. Berdasarkan hasil uji normalitas tersebut dapat disimpulkan bahwa data penelitian ini tidak terdistribusi Hasil menunjukan hasil dari Fhitung yaitu 7,007 dan signifikansi 0,010 . <0,. yang artinya data Berdasarkan hasil tersebut dapat Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 152-163 disimpulkan terdapat hubungan yang linear antara persepsi terhadap budaya patriarki dan perilaku menyalahkan diri pada korban pelecehan seksual. Kategorisasi menyalahkan diri dilakukan menggunakan IBM SPSS Statistics 16. Hasil dari kategorisasi tersebut dapat dilihat pada tabel 4. Kategorisasi data persepsi terhadap budaya patriarki dilakukan menggunakan IBM SPSS Statistics 16. 0, hasil kategorisasi dapat dilhat pada tabel 5. Hasil dari kategorisasi data menunjukan 99% partisipan berada dalam kategori rendah dan 1% partisipan berada pada kategori sedang. Tabel 4. Kategorisasi Perilaku Menyalahkan Diri . elf-blam. Frekuensi Valid Rend Percent Valid Percent Comulative Percent Tabel 5. Kategorisasi Persepsi Budaya Patriarki Frekuensi Valid Rend Seda Percent Valid Percent Comulative Percent Uji hipotesis dilakukan agar peneliti dapat mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara persepsi terhadap budaya patriarki dan perilaku menyalahkan diri pada korban pelecehan seksual. Uji hipotesis pada penelitian ini awalnya akan dilakukan menggunakan metode uji korelasi dengan analisis korelasi Product Moment Pearson, namun dikarenakan hasil uji asumsi menunjukan sebaran data yang tidak normal maka uji korelasi dilakukan menggunakan metode uji Spearman Rho. Hasil uji hipotesis korelasi variable dapat dilihat pada tabel 6. Uji hipotesis dalam penelitian ini dilakukan menggunakan IBM SPSS Statistics 16. Penelitian ini dilakukan dengan terlebih dahulu menanyakan kesediaan partsipan dan juga merahasiakan identitas partisipan. Tabel 6. Statistik korelasi nonparametrik spearman rho Self-blame . Persepsi budaya Koefisien Korelasi Total Koefisien Korelasi Total 1,000 0,013 0,013 1,000 0,899 0,899 Sig. -taile. Hasil dari uji korelasi menggunakan Spearman Rho signifikansi sebesar 0,899 . <0,. dan koefisien korelasi 0,013. Hasil uji korelasi tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi yang signifikan antara persepsi terhadap budaya patriarki dan perilaku menyalahkan diri pada korban pelecehan seksual. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis adanya hubungan positif antara persepsi terhadap budaya patriarki dan perilaku menyalahkan diri pada perempuan yang mengalami pelecehan seksual dalam rentang usia dewasa awal ditolak. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh McAllister & Vennum . dimana tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara pemahaman terhadap budaya, peran, ataupun orientasi seksual tertentu pada perilaku menyalahkan diri dan self-criticism pada individu yang pernah mengalami pelecehan Lebih lanjut McAllister & Vennum . juga mengatakan bahwa terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi munculnya perilaku menyalahkan diri pada individu yang mengalami pelecehan seksual salah satunya yaitu self- compassion. Melalui hal tersebut, dapat dilihat bahwa perilaku menyalahkan diri tidak hanya dapat dipengaruhi oleh persepsi terhadap budaya patriarki, namun juga dapat dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti selfcompassion pada diri individu. Hasil penelitian lain yang serupa dengan penelitian ini dilakukan oleh Okur. Pereda. Van Der Knaap, dan Bogaerts . yang menemukan sebanyak 53% partisipan dalam penelitian tersebut lebih menyalahkan pelaku daripada dirinya sendiri atas pelecehan Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 152-163 seksual yang dialaminya. Lebih lanjut. Okur dkk . mengatakan bahwa sebagian besar partisipan yang menyalahkan pelaku pelecehan seksual memiliki pandangan dan persepsi gender serta budaya yang berbeda-beda. Terdapat partisipan dengan persepsi budaya patriarki dan terdapat pula partisipan dengan persepsi budaya yang lebih modern. Okur dkk . juga menemukan bahwa terdapat beberapa hal lain yang dapat mempengaruhi perilaku menyalahkan diri yang muncul pada diri korban pelecehan seksual selain persepsi terhadap budaya patriarki ataupun peran gender tertentu. Hal-hal tersebut termasuk, kedekatan hubungan pelaku dan korban, tingkat kepercayaan diri korban, dan dukungan serta penerimaan dari keluarga dan orangorang terdekat korban. Sebaliknya, terdapat pula penelitian yang mengatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi terhadap budaya patriarki dan perilaku menyalahkan diri pada korban pelecehan seksual. Penelitian Carretta . dengan 327 partisipan perempuan dan laki-laki berusia 18-30 tahun, memiliki hasil bahwa individu yang memiliki persepsi gender tradisional, seperti pandangan menyalahkan diri dan merasa bertanggung jawab atas pelecehan seksual yang terjadi pada Lebih lanjut, dalam penelitianya Carretta . juga menjelaskan bahwa perempuan dengan paham dan nilai-nilai feminisme dapat mengambil langkah untuk memulihkan dirinya dari trauma yang disebabkan oleh pelecehan seksual. Individu tersebut juga tidak merasa bahwa dirinya bertanggung jawab atas pelecehan seksual Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 100 perempuan yang pernah mengalami pelecehan seksual dalam rentang usia 18-30 tahun. Berdasarkan hasil kategorisasi data perilaku menyalahkan diri ditemukan bahwa semua partisipan berada dalam kategori rendah. Partisipan pada penelitian ini cenderung tidak memunculkan bentuk perilaku menyalahkan diri setelah mengalami bentuk pelecehan seksual. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi hal ini termasuk adanya dukungan sosial dari lingkungan individu, karakter individu, sikap dan keyakinan individu terhadap pelecehan seksual, serta pandangan terhadap budaya atau konsep gender tertentu (Hill & Marshall. Sebanyak 77 perempuan dengan sikap dan pandangan yang lebih modern dan tidak menerima rape-myths yang ada di masyarakat dalam penelitian (Hill & Marshall, 2. menunjukan perilaku menyalahkan diri yang rendah dan pemulihan dari trauma yang cepat. Dalam penelitian ini, partisipan menunjukan persepsi terhadap budaya patriarki yang cenderung rendah. Terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi hal Hal-hal tersebut antara lain yaitu tingkat pendidikan individu, kondisi sosial- ekonomi individu, budaya dan nilai-nilai dalam agama serta keluarga individu, dan pernikahan pada usia dini (Sudarso dkk, 2. Dalam penelitian Sudarso dkk . menemukan bahwa sebanyak 70 perempuan yang menikah pada usia 13-15 tahun serta memutus pendidikan pada usia tersebut cenderung lebih menunjukan penerimaan terhadap budaya Lebih lanjut, dalam penelitian ini didapati sebanyak 47,7% partisipan memiliki latar belakang pendidikan terakhir sebagai Sebanyak 52,3% partisipan memiliki latar belakang pendidikan terakhir sekolah menengah atas (SMA) dan sedang menempuh pendidikan S1. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa banyak partisipan pada penelitian ini memiliki latar belakang pendidikan yang cukup tinggi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sudarso dkk . yang mengatakan bahwa mempengaruhi penerimaan nilai-nilai budaya patriarki pada individu tersebut, semakin rendah pendidikan individu semakin tinggi kemungkinan individu memiliki budaya Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Guest, 2. yang menemukan bahwa perempuan yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dapat memahami nilai-nilai feminisme yang mengutamakan kesetaraan gender dengan lebih baik. Latar belakang pendidikan individu juga memiliki keterkaitan dengan munculnya perilaku menyalahkan diri setelah individu mengalami pelecehan seksual. Latar belakang pendidikan yang cukup tinggi dapat membuat individu cenderung menunjukan perilaku menyalahkan diri yang rendah. Hal ini sejalan Motiva : Jurnal Psikologi 2024. Vol 7. No 2, 152-163 dengan Veletsianos dkk . yang mengatakan dalam penelitiannya bahwa perempuan yang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi dapat menemukan strategi koping terhadap dampak negatif yang muncul akibat pelecehan seksual. Lebih lanjut, dalam penelitiannya Veletsianos dkk . menemukan bahwa 14 perempuan yang memiliki gelar master atau PhD memiliki pengetahuan lebih untuk mengatasi dampak negatif yang muncul sehingga individu cenderung menunjukan perilaku menyalahkan diri yang rendah. Secara keseluruhan terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi hasil penelitian ini seperti latar belakang pendidikan, keadaan sosial-ekonomi, kepercayaan diri individu, dan self-compassion pada diri individu. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait persepsi terhadap budaya patriarki dan perilaku menyalahkan diri pada korban pelecehan seksual dan juga factor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi hasil penelitian. Sehingga disarankan bagi peneliti selanjutnya yaitu peneliti selanjutnya diharapkan untuk dapat meninjau kembali faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penelitian seperti peran gender, faktor lingkungan individu, faktor internal individu seperti karakter dan kepercayaan diri, dan dukungan sosial yang diperoleh individu yang mengalami pelecehan Peneliti selanjutnya juga diharapkan mempertimbangkan variasi jenis kelamin partisipan mengingat pelecehan seksual dapat terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi yang signifikan antara persepsi terhadap budaya patriarki dan perilaku menyalahkan diri pada korban pelecehan seksual. Terdapat penelitian terdahulu dengan hasil serupa dan terdapat pula penelitian terdahulu yang menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara persepsi terhadap budaya patriarki dan perilaku menyalahkan diri pada korban pelecehan seksual. Dapat disimpulkan pula bahwa terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi hasil penelitian ini seperti latar belakang pendidikan, keadaan sosial-ekonomi, kepercayaan diri individu, dan self-compassion pada diri individu. Hasil penelitian ini penelitian lebih lanjut terkait persepsi terhadap budaya patriarki dan perilaku menyalahkan diri pada korban pelecehan seksual. Berdasarkan hasil penelitian ini, ditemukan terdapat banyak faktor yang mungkin berkaitan dengan perilaku menyalahkan diri pada korban. Hal ini diperlukan mengingat belum banyak penelitian yang dilakukan terkait topik ini, penelitian diperlukan untuk menambah pemahaman terkait hal ini. Saran bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk dapat meninjau kembali faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penelitian seperti peran gender, faktor lingkungan individu, faktor internal individu seperti karakter dan kepercayaan diri, dan dukungan sosial yang diperoleh individu yang mengalami pelecehan seksual. Peneliti mempertimbangkan variasi jenis kelamin partisipan mengingat pelecehan seksual dapat terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan. Dengan begitu diharapkan adanya penelitian lebih lanjut terkait hal ini di masa depan sehingga dapat menambah kontribusi pada bidang ilmu psikologi dan juga masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Alfi. , & Halwati. Faktor-faktor Blaming the Victim (Menyalahkan Korba. di Wilayah Praktik Kerja Sosial. Islamic Management and Empowerment Journal, 1. , 217Ae DOI: https://doi. org/10. 18326/imej. Azwar. Metode Penelitian. Pustaka