SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 192-212 Fakultas Ekonomi Universitas Semarang P-ISSN : 1412-5331. E-ISSN : 2716-2532 DOI: 10. 26623/slsi. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. 2 April 2026. Hal 192-212 Pertumbuhan Desa Wisata: Digitalisasi BUMDes. Transparansi Laporan Keuangan. Kualitas Sumber Daya Manusia Alfred Salindeho. Ahmad Gazali. Pricilia Joice Pesak. Email Korespondensi: alfredsalindeho5@gmail. Akuntansi. Sekolah Tinggi Bisnis dan Manajemen Dua Saudara. Bitung. Indonesia1,. Akuntansi. Universitas Negeri Manado. Tondano. Indonesia. INFO ARTIKEL Proses Artikel Dikirim : 01/03/2026 Diterima: 08/04/2026 Dipublikasikan: 29/04/2026 Akreditasi oleh Kemenristekdikti No. 79/E/KPT/2023 ABSTRAK Penelitian ini berfokus pada kebutuhan untuk mempercepat pertumbuhan desa melalui pemanfaatan teknologi dan tata kelola yang akuntabel, sesuai dengan rencana pembangunan dan penguatan BUMDes. Tujuan penelitian ini adalah menyelidiki bagaimana digitalisasi, transparansi anggaran, dan kualitas sumber daya manusia memengaruhi pertumbuhan desa di Desa Tumaluntung dan Desa Sawangan. Minahasa Utara. Populasi penelitian ini adalah masyarakat dan aparatur desa pada kedua desa tersebut, dengan jumlah sampel sebanyak 247 responden yang ditentukan menggunakan purposive Metode survei kuantitatif digunakan. pengujian asumsi klasik dan estimasi regresi linier berganda dilakukan dengan alat analisis Stata 17. Hasil menunjukkan bahwa digitalisasi memiliki efek positif, tetapi belum signifikan secara statistik. transparansi anggaran dan kualitas SDM berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan desa. Hal ini berarti bahwa peningkatan tata kelola dan kemampuan manusia adalah pengungkit utama kinerja, sementara digitalisasi berhasil hanya dapat dicapai melalui kesiapan organisasi, peraturan yang jelas, dan dukungan untuk implementasinya. Jadi, untuk membuat manfaat digitalisasi menjadi hasil pembangunan yang nyata, kebijakan desa harus memprioritaskan transparansi dan pengembangan SDM. Secara teoritis, penelitian ini menyimpulkan bahwa digitalisasi hanya dapat menjadi katalis pembangunan yang nyata jika didukung oleh penguatan kapasitas manusia dan keterbukaan informasi. Oleh karena itu, kebijakan desa harus diprioritaskan pada pengembangan SDM yang adaptif dan sistem anggaran yang transparan untuk menciptakan ekosistem pertumbuhan yang berkelanjutan. Pengelola Bumdes perlu memprioritaskan penguatan kapasitas sumber daya manusia, penerapan sistem pengelolaan keuangan yang transparan, serta pemanfaatan digitalisasi yang didukung kesiapan organisasi agar mampu mendorong pertumbuhan desa secara lebih efektif dan Kata Kunci : Digitalisasi bumdes. transparansi laporan keuangan. kualitas sumber daya manusia. pertumbuhan desa. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 192-212 Abstract This study focuses on the need to accelerate village growth through the use of technology and accountable governance, in line with development plans and the strengthening of village-owned enterprises (BUMDe. The objective of this study is to investigate how digitalization, budget transparency, and human resource quality influence village growth in Tumaluntung and Sawangan villages. North Minahasa. The study population consists of the community and village officials in both villages, with a sample size of 247 respondents selected using purposive sampling. A quantitative survey method was employed. classical assumption tests and multiple linear regression estimates were conducted using Stata 17. The results indicate that digitalization has a positive effect, though not yet statistically significant. transparency and human resource quality have positive and statistically significant effects on village growth. This implies that improvements in governance and human capacity are the primary drivers of performance, while successful digitalization can only be achieved through organizational readiness, clear regulations, and support for its implementation. Therefore, to translate the benefits of digitalization into tangible development outcomes, village policies must prioritize transparency and human resource development. Theoretically, this study concludes that digitalization can only serve as a catalyst for tangible development if supported by strengthened human capacity and information transparency. Consequently, village policies should prioritize the development of adaptive human resources and transparent budgeting systems to foster a sustainable growth Village-owned enterprise (BUMDe. managers need to prioritize human resource capacity building, the implementation of transparent financial management systems, and the utilization of digitalization supported by organizational readiness to effectively and sustainably drive village growth. Keywords : financial report transparency. human resource quality. village growth. BUMDes This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. PENDAHULUAN Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan desa wisata Indonesia meningkat pesat. Partisipasi desa dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) meningkat dari 1. 831 desa pada 2021 menjadi 573 desa pada 2023 . enparekraf, 2023. Pati & Lengkong, 2. Tren ini menunjukkan peningkatan ekosistem pariwisata berbasis komunitas dan peningkatan penggunaan platform digital untuk promosi dan reservasi. Pada saat yang sama, pemerintah menetapkan Likupang. Sulawesi Utara sebagai salah satu dari lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) (Indonesia, 2. Hal ini memberikan kesempatan bagi desa-desa penyangga di Minahasa Utara untuk meningkatkan jejaring pasar mereka. Stimulus ADWI dan DPSP ini menjadi konteks makro SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 192-212 yang relevan untuk membuat strategi pertumbuhan desa wisata yang kinerjanya terukur (Rahafuna, 2. Desa Tumaluntung dan Sawangan merupakan wilayah yang terdampak langsung oleh pengembangan Likupang sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas Urgensi ini semakin kuat karena perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang pada semester I 2024 telah mencatat investasi sekitar USD 8,95 juta, sementara perjalanan wisatawan Nusantara ke Minahasa Utara meningkat dari 464. 344 pada tahun 2023 252 pada 2024 (Wijanarko, 2. Dalam konteks tersebut. Desa Tumaluntung dan Desa Sawangan memiliki posisi strategis sebagai dua pusat wisata di Minahasa Utara. Tumaluntung terletak A7,8 km dari pusat pemerintahan kabupaten dan memiliki 18 jaga dengan luas A2. 400 hektare. Desa tersebut memiliki modal sosial dan geografis yang cukup untuk mengembangkan ekowisata dan tur budaya lokal (Jadesta, 2. Disis lain. Taman Purbakala Waruga, kompleks makam megalitikum Minahasa, dan potensi arung jeram di Sungai Tondano membuat Sawangan menjadi Desa Wisata Budaya Nasional (Walansendow dkk. , 2. Di dalam klaster DPSP Likupang, diferensiasi produk seperti tradisi budaya dan petualangan alam menjadi landasan untuk perumusan strategi bersama yang saling melengkapi (Mahmudin dkk. , 2024. Setiawan, 2023. Tumbuan & Pondaag, 2. Dalam konteksi ekonomi desa, keberadaan Bumdes menjadi instrument yang semakin penting untuk memastikan bahwa pertumbuhan Kawasan pariwisata juga berujung pada peningkatan manfaat ekonomi lokal (Pesak dkk. , 2. Dalam dua sampai tiga tahun terakhir, peran Bumdes di wilayah sekitar Likupang mulai diarahkan untuk mendukung pengelolaan potensi wisata dan memperluas sumber pendapatan desa. Desa Tumaluntung menghadapi banyak masalah kelembagaan BUMDes yang berdampak pada kinerja destinasi. Penelitian oleh (Lumempouw , 2. menunjukkan bahwa ada masalah dengan capacity building melalui BUMDes, seperti konsistensi program dan pengorganisasian. Hal ini menunjukkan bahwa tata kelola dan peran orkestrasi BUMDes harus diperkuat. Dalam hal layanan destinasi, pengembangan pariwisata Tumaluntung belum maksimal karena belum ada pusat informasi, papan penunjuk, dan jalur interpretasi yang memadai. Akibatnya, kualitas pengalaman pengunjung serta peluang pendapatan BUMDes/UMKM belum optimal. Di sisi lain, dinamika restrukturisasi pengurus pada tahun 2021 menunjukkan fase penataan organisasi yang membutuhkan prosedur operasional yang lebih ketat di bidang keuangan, operasi, dan kolaborasi usaha (Napitupulu dkk. , 2. Sementara itu. Desa Sawangan, yang bergantung pada daya tarik Waruga dan produk wisata budaya, menghadapi masalah besar dalam pelaporan dan akuntansi BUMDes (Pesak dkk. Pencatatan masih dilakukan secara manual dan hanya terbatas pada buku kas masukkeluar (Pesak dkk. , 2025. Hal ini menghambat transparansi, akuntabilitas, dan akses ke kolaborasi dan dana. Hasil ini sejalan dengan upaya peningkatan kapasitas baru-baru ini, yang berfokus pada pelatihan pengelolaan keuangan dan aplikasi penyusunan laporan. Ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan akuntansi masih sangat penting. Selain fungsi akuntansi. Sawangan masih menghadapi masalah dengan infrastruktur wisata dan keterlibatan lokal yang kurang baik (Anjani & Setiyonugroho, 2023. Walansendow dkk. , 2. Hal ini menyebabkan basis pendapatan dan skala usaha BUMDes menjadi terbatas. Dibandingkan dengan peraturan yang telah diberlakukan dalam lima tahun terakhir, yaitu Peraturan Menteri Nomor 3 Tahun 2021 tentang Desa. Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, dan Kepmendesa Nomor 136 Tahun 2022 tentang penyusunan laporan keuangan BUMDes, masalah yang dihadapi oleh kedua desa terutama berkaitan dengan ketidaksesuaian peraturan. Hal ini termasuk kurangnya pelaksanaan digitalisasi proses, dan pemenuhan standar pelaporan. Menurut penelitian terbaru (Fatimah & Mukarramah, 2023. Rahoyo dkk. , 2. , ada tiga faktor yang mendorong pertumbuhan desa wisata. Pertama, digitalisasi, yang mencakup sistem informasi destinasi, platform pemasaran digital, dan platform reservasi, telah ditunjukkan untuk meningkatkan koordinasi layanan, meningkatkan jangkauan pasar, dan mengurangi biaya Bukti empiris menunjukkan bahwa digitalisasi membantu pengembangan desa wisata berkelanjutan dan membantu pengelola menggunakan situs web dan media sosial destinasi dengan lebih baik. Rangkuman studi di Indonesia juga menegaskan dampak digitalisasi yang signifikan pada perencanaan dan promosi desa wisata (Fatimah & Mukarramah, 2023. Rahoyo SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 192-212 , 2. Kedua, tata kelola BUMDes harus dipercaya publik dengan laporan keuangan yang transparan dan akuntabel. Kerangka hukum yang tersedia untuk digunakan adalah Peraturan Menteri Nomor 3 Tahun 2021 tentang Desa. Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi yang mengatur pembinaan dan pemeringkatan BUMDes, dan Kepmendesa 136 Tahun 2022 tentang penyusunan laporan keuangan BUMDes yang memberikan pedoman dasar untuk menyusun laporan . eraca, laba rugi, arus ka. Implementasi Sistem Informasi Akuntansi (SIA) di BUMDes telah menunjukkan bahwa itu meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, dan kualitas laporan keuangan membantu mempertahankan bisnis dan layanan publik desa (Nuraini & Ratri Paramitalaksmi, 2025. Wasuka & Sinarwati, 2. Ketiga. BUMDes. Pokdarwis, dan UMKM bergantung pada kualitas layanan, inovasi produk, dan keberlanjutan destinasi. Penelitian (Lestari dkk. , 2024. Sitorus dkk. , 2. menunjukkan bahwa kapasitas SDM memengaruhi perkembangan desa wisata secara signifikan. Program pembangunan kapasitas, seperti layanan prima, manajemen destinasi, dan sertifikasi, meningkatkan kesiapan operasional di tingkat desa. Studi sektor pariwisata oleh Simarmata . juga menunjukkan bahwa materi pelatihan harus disesuaikan dengan potensi lokal. Terlepas dari fakta bahwa ketiga variabel di atas telah dibahas secara mendalam, setidaknya ada tiga gap penelitian. Tidak ada penelitian integratif yang melihat bagaimana digitalisasi BUMDes, transparansi laporan keuangan, dan kualitas SDM berkorelasi dengan pertumbuhan desa wisata secara khusus. Tidak ada bukti empiris yang cukup di wilayah Timur Indonesia, terutama di ekosistem DPSP Likupang, meskipun karakteristik pasar dan infrastrukturnya berbeda dari Jawa-Bali. Tidak banyak penelitian yang menempatkan BUMDes sebagai orchestrator yang menghubungkan unit usaha wisata. UMKM lokal, dan tata kelola pelaporan Selain itu, literatur menunjukkan bahwa penelitian tentang digitalisasi BUMDes sendiri masih terbatas, yang menunjukkan betapa pentingnya model integratif untuk topik penelitian ini. Penelitian ini berfokus pada metode terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan desa wisata Tumaluntung dan Sawangan dengan digitalisasi BUMDes, transparansi laporan keuangan BUMDes, dan kualitas sumber daya manusia. Pengembangan desa wisata bergantung pada kemampuan desa untuk mengubah potensi lokal menjadi nilai tambah ekonomi yang Dalam konteks ini. BUMDes berfungsi sebagai mesin intermediasi pasar yang semakin efektif ketika dikuatkan oleh digitalisasi proses, transparansi pelaporan, dan kualitas SDM pengelola. Penemuan penelitian terbaru menunjukkan bahwa kombinasi digitalisasi, transparansi dan kualitas SDM meningkatkan jangkauan pemasaran, meningkatkan efisiensi operasional, dan meningkatkan kepercayaan warga terhadap pengelola (Sanputra dkk. , 2. Secara teoritik, kerangka Resource-Based View (RBV) memandang kemampuan digital dan kemampuan SDM sebagai aset tak berwujud yang langka dan sulit ditiru (Barney, 2001. Nguyen , 2023. Uyanik, 2. Oleh karena itu, keunggulan kinerja BUMDes berasal dari fakta bahwa kapabilitas dinamis menjelaskan bagaimana digitalisasi memungkinkan BUMDes merasakan dan menangkap peluang . ensingAeseizin. dan mengonfigurasi ulang proses . sehingga BUMDes lebih sesuai dengan pasar wisata (Fernyndez dkk. , 2. Selain itu, teori pemangku kepentingan (Davila, 2. menganggap transparansi laporan keuangan sebagai cara untuk mengurangi asimetri informasi dan meningkatkan kepercayaan. Hal ini adalah modal sosial yang terbukti meningkatkan kinerja layanan dan bisnis desa seperti studi pada pemerintah desa di DIY, yang menunjukkan bahwa transparansi meningkatkan kepercayaan warga dan merupakan komponen penting dari tata kelola yang baik (Sofyani & Tahar, 2. Hasil penelitian (Safira & Taufiq, 2. menemukan bahwa transparansi dan akuntabilitas berdampak positif dan signifikan pada kinerja BUMDes. Ini menunjukkan bahwa praktik pelaporan yang terbuka meningkatkan partisipasi dan pengawasan sosial, yang meningkatkan kinerja unit usaha. Dalam hal proses akuntansi, penerapan Sistem Informasi Akuntansi pada BUMDes, meskipun sistem spreadsheet sederhana dapat meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan ketertiban pelaporan periodik. Hal ini meningkatkan dasar pengambilan keputusan manajer dan menumbuhkan kepercayaan publik, yang merupakan syarat untuk pertumbuhan BUMDes (Nuraini & Ratri Paramitalaksmi, 2. Pada dimensi manusia, kualitas SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 192-212 SDM yang ditunjukkan melalui indikator motivasi, keterampilan, dan lingkungan kerja sangat berpengaruh terhadap kualitas pengelolaan BUMDes (Zulfia Syam dkk. , 2. Uji statistik terbaru menunjukkan hubungan yang kuat antara kualitas pengelolaan BUMDes dan kualitas SDM, menegaskan betapa pentingnya pelatihan, pendampingan, dan penguatan kompetensi untuk mendorong pertumbuhan. Selain itu, bukti menunjukkan bahwa BUMDes dapat memperluas pasar produk dan jasa desa wisata melalui penggunaan kanal dan konten digital dalam praktik komunikasi pemasaran (Safitri dkk. , 2. Ini adalah jalan yang relevan bagi BUMDes di destinasi seperti Tumaluntung dan Sawangan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris bahwa digitalisasi BUMDes, transparansi laporan keuangan, dan kualitas SDM berpengaruh positif terhadap pertumbuhan desa wisata di Tumaluntung dan Sawangan. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kebaruan pada tingkat model . enggabungkan tiga variabel kunci secara bersamaa. , konteks . ua desa di Minahasa Utara dengan diferensiasi produk wisata sebagai hinterland DPSP Likupan. , dan output praktis . oadmap dan dashboard kinerj. Dengan memadukan digitalisasi BUMDes, pelaporan keuangan yang akuntabel, dan penguatan SDM, pertumbuhan desa wisata di Tumaluntung dan Sawangan diharapkan tidak hanya cepat tetapi juga berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan, dengan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat desa. KAJIAN PUSTAKA Resource-Based View (RBV) RBV merupakan teori strategi yang memandang organisasi sebagai kumpulan aset dan kapabilitas (Miran dkk. , 2. Dalam konteks Badan Usaha Milik Desa (Bumde. RBV menekankan bahwa peningkatan pertumbuhan desa wisata tidak hanya bergantung pada kondisi eksternal, melainkan pada sejauh mana BUMDes mampu mengonsolidasikan sumber daya internal yang memiliki karakteristik valuable, rare, inimitable, dan organized (VRIO) (Miran , 2. Sumber daya ini mencakup aset berwujud seperti infrastruktur fisik maupun aset tidak berwujud seperti sistem digitalisasi, transparansi tata kelola, dan keunggulan intelektual sumber daya manusia. Pengaruh Digitalisasi BUMDes terhadap Pertumbuhan Desa Wisata Digitalisasi dalam tata kelola BUMDes bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan kebutuhan fundamental untuk menciptakan efisiensi operasional dan perluasan pangsa pasar di era ekonomi Dalam perspektif teori RBV, keunggulan bersaing suatu organisasi ditentukan oleh kemampuannya mengelola sumber daya yang bernilai, langka, sulit ditiru dan tidak mudah tergantikan (Miran dkk. , 2. Dalam konteks Bumdes, digitalisasi dapat dipahami sebagai sumber daya strategis sekaligus kapabilitas organisasi yang memungkinkan pengelola desa wisata mengintegrasikan informasi, meningkatkan kecepatan layanan, memperluas akses pasar dan membangun diferensiasi layanan yang lebih kompetitif. Secara teoritis, digitalisasi bertindak sebagai enabler yang mereduksi asimetri informasi antara pengelola desa wisata dan calon Melalui implementasi platform reservasi daring, sistem pembayaran digital, penggunaan aplikasi akuntansi hingga pemanfaatan analisis big data. Sejalan dengan pandangan RBV, kemampuan Bumdes dalam mengadopsi dan memanfaatkan teknologi digital tidak hanya mencerminkan penggunaan alat modern, tetapi juga menunjukkan kapasitas internal dalam mengonversi sumber daya teknologi menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan. Sebagaimana dikemukakan oleh (Darmawan dkk. , 2025. Gutierriz dkk. , 2. , transformasi digital yang terintegrasi menciptakan nilai tambah yang unik dan meningkatkan daya saing destinasi melalui aksesibilitas yang tanpa batas. Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat digitalisasi yang diadopsi oleh BUMDes, akselerasi pertumbuhan desa wisata, baik dari sisi jumlah kunjungan maupun pendapatan ekonomi, akan semakin signifikan. H1: Digitalisasi BUMDes berpengaruh positif terhadap peningkatan pertumbuhan Desa Wisata SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 192-212 Pengaruh Transparansi Laporan Keuangan terhadap Pertumbuhan Desa Wisata Transparansi laporan keuangan merupakan instrumen dalam membangun modal reputasi dan kepercayaan dari berbagai pemangku kepentingan, mulai dari masyarakat lokal hingga investor Dalam teori RBV, integritas yang tercermin dari keterbukaan informasi keuangan adalah aset yang sangat bernilai dan sulit ditiru. Dalam konteks Bumdes, keterbukaan informasi keuangan mencerminkan integritas kelembagaan yang dapat berkembang menjadi aset strategis untuk memperkuat legitimasi organisasi di mata para pemangku kepentingan. Penggunaan teknologi akuntansi modern yang akuntabel memastikan bahwa setiap rupiah pendapatan desa wisata dikelola secara profesional untuk pengembangan infrastruktur dan keberlanjutan Sejalan dengan teori RBV, kemampuan Bumdes dalam menjaga transparansi dan mengelola akuntabilitas keuangan secara konsisten menunjukkan kapabilitas internal yang dapat menciptakan keunggulan institusional yang berkelanjutan. (Anisa Anisa dkk. , 2. Menekankan bahwa akuntabilitas finansial yang kuat akan meminimalkan konflik kepentingan dan meningkatkan partisipasi publik dalam mendukung program-program wisata. Dengan demikian, penguatan transparansi laporan keuangan diyakini akan memperkokoh fondasi kelembagaan BUMDes yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan desa wisata secara H2: Transparansi Laporan Keuangan berpengaruh positif terhadap peningkatan pertumbuhan desa wisata Pengaruh Kualitas Sumber Daya Manusia terhadap Pertumbuhan Desa Wisata Sumber daya manusia merupakan aset intelektual yang menjadi motor penggerak bagi seluruh kapabilitas organisasi lainnya. Dalam perspektif RBV, keunggulan bersaing organisasi dibangun melalui penguasaan dan pengelolaan sumber daya yang bernilai, langka, sulit ditiru, dan tidak mudah tergantikan. Dalam konteks desa wisata dan Bumdes, kualitas sumber daya manusia merupakan sumber daya strategis karena menentukan kemampuan organisasi dalam mengelola aset fisik, memanfaatkan teknologi digital, membangun inovasi layanan, serta merespons dinamika pasar wisata secara adaptif. Tanpa kualitas SDM yang memiliki kompetensi manajerial, kreativitas dan literasi teknologi yang memadai, aset fisik dan digital desa wisata tidak akan mampu memberikan hasil optimal. Kualitas SDM lokal yang mumpuni menjadi kunci utama terciptanya service excellence yang menjadi kunci utama retensi wisatawan. Sejalan dengan teori RBV, kapasitas manusia yang terus dikembangkan akan menjadi kapabilitas internal yang sulit ditiru oleh destinasi lain karena terbentuk melalui pengalaman, pembelajaran dan penguasaan pengetahuan lokal yang khas. Menurut (Rismayadi dkk. , 2. , investasi pada pengembangan kapasitas manusia tidak hanya meningkatkan efektivitas kerja, tetapi juga mendorong inovasi produk wisata berbasis kearifan lokal yang sulit ditiru oleh destinasi lain. Oleh karena itu, peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan dan Pendidikan yang berkelanjutan diprediksi akan memberikan dampak positif yang kuat terhadap peningkatan performa dan pertumbuhan desa wisata secara keseluruhan H3: Kualitas sumber daya manusia berpengaruh positif terhadap peningkatan pertumbuhan desa Digitalisasi Bumdes Transparan Laporan Keuangan Kualitas Sumber Daya Manusia Pertumbuhan Desa Wisata Gambar 1. Kerangka Penelitian SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 192-212 METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan Penggunaan metode ini adalah karena tujuannya untuk melihat bagaimana tiga variabel independen, yaitu digitalisasi BUMDes, transparansi laporan keuangan BUMDes, dan kualitas SDM, berkorelasi dengan variabel dependen pertumbuhan BUMDes. Adapun tahapan penelitian adalah . perancangan instrumen seperti analisis indikator, penyusunan kisi-kisi kuesioner, dan panduan dokumentasi. pengujian pilot pada lebih dari 30 responden di luar sampel utama untuk menilai reliabilitas awal dan kejernihan butir indikator. pengumpulan data utama melalui survei dan penelusuran dokumen. pembersihan, pengodean, dan verifikasi dan . penyusunan laporan dan umpan balik ke pemangku kepentingan. Penelitian ini dilakukan di dua desa, yaitu Desa Tumaluntung dan Desa Sawangan. Kabupaten Minahasa Utara. Para pemangku kepentingan yang berinteraksi langsung dengan BUMDes adalah populasi penelitian ini. Pemangku kepentingan antara lain perangkat desa, pengelola atau pengurus BUMDes, dan masyarakat yang terlibat dengan BUMDes. Populasi penelitian ini adalah pengelola Bumdes, aparat desa dan masyarakat desa yang terlibat dalam aktivitas Bumdes. Jumlah populasi tidak diketahui, khususnya untuk masyarakat yang pernah beraktivitas dengan Bumdes. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu penentuan sampel berdasarkan kriteria tertentu. Responden yang menjadi sampel penelitian ini ditentukan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, yaitu responden harus tinggal di desa setempat selama minimal enam bulan terakhir, berusia minimal 18 tahun, dan terlibat dalam aktivitas BUMDes dalam 12 bulan terakhir, sehingga jumlah sampel penelitian adalah 247 Digitalisasi BUMDes adalah proses mengintegrasikan teknologi digital ke dalam manajemen dan operasi usaha milik desa, meliputi penggunaan platform/aplikasi untuk keuangan, pemasaran, dan Variabel ini dioperasionalkan melalui tiga dimensi: . sistem manajemen keuangan berbasis digital, misalnya aplikasi akuntansi, pencatatan dan pelaporan digital, . pemasaran online seperti website/marketplace, booking engine, dan . pemanfaatan media sosial untuk promosi & layanan (Diana. Bambang Agus. Sari, 2024. Pranajaya dkk. , 2. Transparansi laporan keuangan BUMDes adalah tingkat keterbukaan dan kejernihan informasi keuangan yang akurat, tepat waktu, dapat diakses, dan dipahami oleh pemangku kepentingan seperti pemerintah desa. BPD dan masyarakat. Variabel ini diukur melalui indikator . ketersediaan laporan berkala yang rinci, . kemudahan akses publik terhadap informasi keuangan, dan . tingkat pemahaman masyarakat atas laporan yang disajikan (Margareta & Siahaan, 2022. Santoso. Dwi Budi. Pangestuty. Farah Wulandari. Aulia, 2024. Seswandi. Agus. Burhan. Oemar, 2. Kualitas sumber daya manusia adalah kemampuan, keterampilan, dan keahlian orang-orang yang mengelola/menjalankan BUMDes. Variabel ini dicerminkan oleh . pendidikan dan pelatihan yang relevan, . kemampuan manajerial atau kepemimpinan, dan . keterampilan teknis operasional (Azhari dkk. , 2023. Rosari dkk. , 2022. Sahri. Tawakkal. Iqbal. Saida. Ita Aristia. Asfira. Eka. Hidayat. Taufiq. Fitriani. Diah. Laily, 2. Pertumbuhan BUMDes merefleksikan capaian tujuan sosialAeekonomi BUMDes, diukur melalui . peningkatan omzet tahunan, . pertumbuhan ragam produk/jasa yang ditawarkan, dan . peningkatan partisipasi/keanggotaan /kontribusi ekonomi Masyarakat (Arafah. Siti Nikmatul. Choiri, 2025. Marthen Lona, 2. Alat utama adalah kuesioner tertutup dengan skala Likert 1Ae5, di mana 1 menunjukkan sangat tidak setuju dan 5 menunjukkan sangat setuju. Parameter yang dirancang adalah digitalisasi memiliki 5 indikator, transparansi memiliki 8 indikator, kualitas SDM memiliki 7 indikator, dan pertumbuhan BUMDes memiliki 5 indikator. Data primer dan sekunder dikumpulkan melalui observasi. Laporan keuangan BUMDes, notulensi musyawarah desa terkait pertanggungjawaban BUMDes, dan arsip program dan kegiatan adalah sumber data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner dalam bentuk Google Form yang dibagikan kepada sampel penelitian. Analisis data penelitian ini adalah regresi linier berganda dibantu dengan aplikasi STATA dan persamaanya sebagai berikut: SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 192-212 ycEyceycycycycoycaycEaycaycu yayceycyca = yu0 yu1 yaycnyciycn yu2 ycNycycaycuycn yu3 ycIyaycAycn yuAycn Dalam Stata, analisis dimulai dengan persiapan dan rekapan data, mencakup impor berkas, pelabelan, pemeriksaan kelengkapan, dan konsistensi pada rentang skala Likert 1Ae5. Selanjutnya, uji reliabilitas instrumen dilakukan melalui CronbachAos Alpha untuk setiap konstruk dan analisis faktor eksploratori untuk menentukan validitas konstruk eksploratori. Selanjutnya, disajikan statistik deskriptif untuk setiap konstruk, yaitu digitalisasi BUMDes, transparansi laporan keuangan, kualitas SDM, dan pertumbuhan BUMDes. Untuk memotret pusat dan sebaran data, statistik deskriptif mencakup jumlah observasi (N), median, rerata, simpangan baku dan minimum-maksimum. Dalam penelitian ini, uji asumsi klasik difokuskan pada tiga komponen, yaitu normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas. Pertama, uji normalitas dilakukan pada model regresi linier berganda menggunakan sktest . ji skewnessAekurtosi. Keputusan didasarkan pada nilai p. jika nilai p > 0,05, maka data terdistribusi normal (Budi dkk. , 2024. Verardi & Jann, 2. Kedua, uji multikolinearitas menggunakan faktor variasi inflasi (VIF) bersama dengan perintah estat vif setelah regresi untuk mengevaluasi tumpang tindih informasi di antara prediktor. Dalam praktik, ambang VIF kurang dari 10 . tau toleransi lebih dari 0,. Jika ditemukan multikolinearitas yang signifikan, peneliti mempertimbangkan kembali struktur dengan menghapus atau meringkas indikator yang tidak diperlukan, melakukan centering atau standardisasi pada skor komposit, atau menyederhanakan spesifikasi untuk membuat estimasi koefisien lebih stabil. Ketiga, uji heteroskedastisitas menggunakan estat heteroskedastisitas BreuschAePagan dan estat imtest White untuk memeriksa ketidaksamaan varians residual. Indikasi heteroskedastisitas diteliti . < 0,. Diberikan laporan lengkap tentang hasil setiap uji, termasuk statistik, p-value, dan keputusan. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa estimasi regresi berganda memenuhi prasyarat inferensi yang andal (Mehmetoglu, 2. Setelah uji asumsi klasik selesai, langkah selanjutnya adalah menilai koefisien determinasi, yang berfungsi sebagai ukuran daya yang menjelaskan model. R-squared (R. dan R-squared yang disesuaikan (Adj. akan ditampilkan di Stata melalui regresi OLS. R2 menunjukkan proporsi variasi pertumbuhan BUMDes yang dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh digitalisasi, transparansi laporan keuangan, dan kualitas SDM. sementara Adj. R2 mengoreksi bias karena jumlah prediktor, sehingga lebih tepat untuk membandingkan model. Uji-t parsial digunakan untuk menguji hipotesis. Model diuji untuk signifikansi parsial seluruh prediktor apabila p-value < 0,05, maka masing-masing variabel independen tersebut berpengaruh terhadap pertumbuhan BUMDes (Drukker, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Responden Berdasarkan purposive sampling, jumlah sampel penelitian ini adalah 247 responden. Kuesioner dibagikan kepada perangkat desa, pengelola desa, dan masyarakat yang pernah berhubungan dengan BUMDes, dengan diberikan waktu pengisian selama 30 hari, dan jumlah yang mengisi adalah 247 responden. Responden yang menjawab terdiri atas 221 . tau 89,47% dari tota. anggota masyarakat sebelumnya yang pernah terlibat dalam aktivitas BUMDes, pengelola BUMDes 15 orang . ,07%), dan perangkat desa 11 orang . ,45%). Oleh karena itu, persentase responden terbanyak dalam penelitian ini berasal dari kelompok masyarakat yang pernah terlibat atau berhubungan dengan BUMDes. Struktur ini memiliki dua konsekuensi metodologis, yaitu pertama, analisis aspek kebermanfaatan ekonomi dan sosial BUMDes, seperti persepsi tentang akses layanan, pemerataan peluang, dan kualitas interaksi pelayanan, akan lebih sensitif jika responden masyarakat dominan. Berarti bahwa hasil akan kuat pada dimensi hasil di tingkat Kedua, perangkat desa dan pengelola tetap ada, memberikan sudut pandang operasional dan tata kelola yang diperlukan untuk triangulasi. Hal ini terutama berlaku untuk menilai keselarasan antara pengalaman komunitas dan prosedur manajemen. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 192-212 Tabel 1. Karakteristik Responden Jenis Responden 1 Pengelola BUMDes 2 Perangkat Desa 3 Masyarakat yang pernah terlibat dengan BUMDes Total Sumber: Olahan data oleh peneliti . Jumlah Frekuensi 6,07 4,45% 89,47% Statistik Deskriptif Berdasarkan 247 observasi, statistik deskriptif menunjukkan bahwa keempat konstruk memiliki keragaman sedang-rendah dan tingkat yang relatif tinggi yang terlihat pada Tabel 2. Tabel 2. Statistik Deskriptif Variabel Digitalisasi BUMDes Transparansi Laporan Keuangan Kualitas Sumber Daya Manusia Pertumbuhan Desa Wisata Sumber: Olahan data oleh peneliti . Obs Mean 18, 38057 29,12551 27,17004 17,89879 Std. Dev Min 3,093546 5,399906 3,957598 12 2,798424 Max Variabel digitalisasi Bumdes memiliki rata-rata 18,38 (SD 3,09. rentang 6Ae. Jika dinormalisasi terhadap skor maksimum teoretik, posisi rata-rata setara dengan 73,5% dari titik tertinggi, dan koefisien variasi (CV) 16,83% menunjukkan bahwa jawaban tersebar secara luas. Kedua, transparansi laporan keuangan menunjukkan skor rata-rata 29,13 (SD 5,40. rentang 8Ae. , yang merupakan 72,8% dari skor maksimum. Dengan tingkat variabilitas tertinggi (CV 18,54% dan rentang . , ini menunjukkan bahwa ada perbedaan dalam praktik transparansi antara responden dan entitas yang disurvei. Ketiga, kualitas sumber daya manusia mencapai rata-rata 27,17 (SD 3,96. rentang 12Ae. atau 77,6% dari nilai tertinggi. CV 14,57% menunjukkan konsistensi penilaian yang baik. Terakhir, pertumbuhan desa wisata rata-ratanya 17,90 (SD 2,80. rentang 8Ae . , setara 71,6% dari maksimum, dan CV 15,63%. Ini menunjukkan bahwa persepsi pertumbuhan desa cenderung stabil di seluruh responden. Setiap konstruksi rata-rata berada di atas titik tengah rentang skornya, menunjukkan kecenderungan penilaian yang positif. Digitalisasi Bumdes, transparansi laporan keuangan, dan kualitas SDM dianggap berjalan baik, sejalan dengan pertumbuhan desa yang juga tinggi. Keabsahan Data Pada penelitian ini, instrumen pengukuran telah diuji kelayakannya melalui uji validitas dan reliabilitas terhadap tiga puluh orang yang tidak termasuk dalam sampel utama, yang terdiri dari siswa dan orang-orang yang tinggal di sekitar lokasi peneliti. Untuk menghindari kontaminasi data utama dan memastikan bahwa item pertanyaan berfungsi seperti yang direncanakan sebelum pengumpulan data sebenarnya, subjek uji coba dipilih di luar responden penelitian. Dengan menggunakan Stata, validitas empiris diuji melalui korelasi butir-total. Setiap butir pada konstruk digitalisasi Bumdes, transparansi laporan keuangan, kualitas sumber daya manusia dan pertumbuhan desa wisata menunjukkan nilai signifikansi p sebesar 0,05, yang ditunjukkan oleh hasil uji . = 0,. , yang menunjukkan bahwa p sangat kecil, sehingga setiap indikator yang dinilai mampu membedakan responden sesuai konstruk yang diukur. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 192-212 Tabel 3. Hasil Uji Validitas Transparansi Digitalitasi Laporan Bumdes Keuangan X1. 0,00 X1. 0,00 X1. 0,00 X1. 0,00 X1. 0,00 X2. 0,00 X2. 0,00 X2. 0,00 X2. 0,00 X2. 0,00 X2. 0,00 X2. 0,00 X2. 0,00 X3. X3. X3. X3. X3. X3. X3. Y1. Y1. Y1. Y1. Y1. Sumber: Olahan data oleh peneliti . Kualitas Sumber Daya Manusia Pertumbuhan Desa Wisata ChronbachAos Alpha 0,8208 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Oleh karena itu, keterwakilan instrumen yang diukur dapat dipertahankan, dan tidak ada komponen yang harus dihilangkan untuk menjamin validitas statistik. Dengan menggunakan Cronbach's alpha = 0,8208, reliabilitas internal dapat dihitung. Sebagai hasilnya, nilai ini menunjukkan konsistensi antar-butir yang baik, karena berada di atas batas standar 0,70. Kesimpulan dari uji validitas dan reliabilitas dinyatakan valid dan dapat diandalkan. Oleh karena itu, kuesioner dapat digunakan untuk mengumpulkan data utama tanpa menghilangkan instrumen. Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Untuk menguji normalitas, prosedur skewnessAekurtosis . digunakan pada Stata dengan ketentuan nilai p harus lebih besar dari 0,05. Hasil uji Skewness-Kurtosis menunjukkan nilai p berturut-turut Digitalisasi Bumdes = 0,1505. Transparansi Laporan Keuangan = 0,0592. Kualitas Sumber Daya Manusia = 0,2091, dan Pertumbuhan Desa Wisata = 0,0545 atau lebih besar dari 0,05, yang berarti data penelitian ini berdistribusi normal. SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 192-212 Tabel 4. Hasil Uji Skewness and Kurtosis Nomor Variabel Digitalisasi Bumdes Transparansi Laporan Keuangan Kualitas Sumber Daya Manusia Pertumbuhan Desa Wisata Sumber: Olahan data oleh peneliti . Nilai P 0,1505 0,0592 0,2091 0,0545 Uji Multikolinearitas Uji multikolinieritas digunakan untuk menentukan apakah ada atau tidaknya korelasi yang tinggi antara variabel bebas dalam model regresi linear berganda. Ketika VIF setiap prediktor kurang dari 10 dan toleransi . /VIF) lebih besar dari 0,10, model biasanya dianggap bebas dari masalah Hasil uji multikolinearitas penelitian ini terlihat pada tabel 5, yang menunjukkan bahwa nilai VIF lebih kecil dari 10 dan nilai 1/VIF lebih besar dari 0,10 sehingga penelitian ini bebas multikolinearitas. Tabel 5. Hasil Uji Multikolinearitas Variabel Digitalisasi Bumdes Transparansi Laporan Keuangan Kualitas Sumber Daya Manusia Sumber: Olahan data oleh peneliti . VIF 1,37 3,35 3,28 1/VIF 0,73 0,29 0,31 Uji Heterokedastisitas Uji heteroskedastisitas menentukan apakah ada ketidaksamaan varian residual untuk setiap pengamatan pada model regresi linier. Uji asumsi klasik ini harus dilakukan pada regresi linier Jika hasilnya menunjukkan bahwa asumsi heteroskedastisitas tidak terpenuhi, model regresi tidak dapat dianggap sebagai alat peramalan. Banyak metode dapat digunakan untuk menguji heteroskedastisitas, tetapi dalam hal ini digunakan metode Breusch-Pagan. Jika nilai P yang ditunjukkan dengan Prob>chi2 lebih besar dari 0,10, maka heteroskedastisitas tidak terjadi. Hasil P pada penelitian ini menunjukkan angka 0,6439 atau di atas 0,10 yang berarti penelitian ini bebas dari heteroskedastisitas. Tabel 6. Hasil Uji Heterokedastisitas BreuschAePagan/CookAeWeisberg test for heteroskedasticity Assumption: Normal error terms Variable: Fitted values of Y chi2. Prob > chi2 Sumber: Olahan data oleh peneliti . 0,21 Uji R-Square dan Hipotesis Analisis dilakukan menggunakan regresi linier berganda di Stata 17. Tujuan analisis adalah untuk menguji pengaruh digitalisasi Bumdes, transparansi laporan keuangan, dan kualitas sumber daya manusia terhadap pertumbuhan desa wisata. Untuk mengevaluasi signifikansi statistik, t-statistic dan p-value digunakan pada taraf 5%. Berikut ini adalah Tabel 7 yang menunjukkan hasil uji hipotesis dan R-square. Tabel 7. Hasil Uji Hipotesis dan R-Square Variabel Koefisien Std Eror Digitalisasi Bumdes T Hitung Sig. Hasil H1 Ditolak SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 192-212 Variabel Koefisien Std Eror Transparansi Laporan Keuangan Kualitas Sumber Daya Manusia Consta Adjusted R-Square Sumber: Olahan data oleh peneliti . T Hitung Sig. Hasil H2 Diterima H3 Diterima Digitalisasi BUMDes menunjukkan bahwa koefisien adalah 0,002687, t adalah 1,75, dan p adalah 0,081. Pengaruh positif pada taraf 5% (H1 ditola. Secara praktis, peningkatan satu satuan pada skor digitalisasi hanya dikaitkan dengan peningkatan kecil pada Pertumbuhan Desa. Selain itu, interval kepercayaan 95% mencakup nol, sehingga tidak ada bukti statistik yang cukup. Temuan ini, bagaimanapun, dapat diklasifikasikan sebagai kecenderungan positif yang marjinal sebanyak sepuluh persen. Koefisien transparansi anggaran adalah 0,108264, t = 2,18, dan p = 0,030. Berpengaruh positif dan signifikan pada pertumbuhan desa . %) (H1 diterim. Artinya, ceteris paribus, setiap kenaikan skor transparansi satu satuan diikuti dengan peningkatan pertumbuhan rata-rata 0,108 Koefisien kualitas sumber daya manusia adalah 0,232822, t = 3,48, dan p = 0,001. Berpengaruh positif dan signifikan . %) terhadap pertumbuhan desa. Dibandingkan dengan dua variabel lainnya, prediktor terkuat dalam model adalah perbaikan kualitas SDM, yang berkorelasi paling kuat dengan pertumbuhan. Setelah memperhitungkan jumlah prediktor dan ukuran sampel, nilai R-Square yang disesuaikan sebesar 0,3263 menunjukkan bahwa sekitar 32,63% variasi pada Y dapat disebabkan oleh variabel independen dalam model, sedangkan 67,37% sisanya dapat disebabkan oleh faktor lain di luar model atau kesalahan. Secara substantif, ini menunjukkan kemampuan menjelaskan model pada tingkat sedang. Hasil uji signifikansi masing-masing koefisien . , dan terpenuhinya asumsi klasik harus memastikan kelayakan keseluruhan tetap. Pengaruh Digitalisasi Terhadap Pertumbuhan Desa Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa pada penelitian ini digitalisasi tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan desa. Ada dua cara untuk menjelaskan hasil uji hipotesis tersebut, yaitu dari sudut pandang substantif dan metodologis. Secara substansial, dampak ekonomi digitalisasi sering kali tidak muncul secara instan karena membutuhkan investasi tambahan, seperti peningkatan kemampuan SDM, tata kelola, dan penyesuaian proses. Akibatnya, dampak ekonominya mengikuti pola J-curve, yaitu kinerja jangka pendek dapat datar atau bahkan menurun sebelum manfaat jangka panjang muncul (Brynjolfsson dkk. , 2. Selain itu, pengaruh digitalisasi berbeda antara wilayah dan prasyarat kebijakan karena hubungan dengan pertumbuhan dapat lemah atau tidak terlihat dalam sampel tertentu jika tidak ada kesiapan institusional, infrastruktur, dan kapasitas lokal (Che dkk. , 2. Dari perspektif metodologis, mayoritas respons kuesioner menunjukkan angka tiga, yang merupakan angka netral. Ada beberapa alasan mengapa banyak responden memilih angka tiga . pada jawaban kuisioner (Franco-Martynez dkk. , 2023. Pearson dkk. , 2024. Westland. Pertama, angka tiga sering digunakan untuk menunjukkan ambivalensi, yaitu peserta melihat aspek pro dan kontra secara bersamaan, bukan netral murni. Penelitian terbaru membedakan dengan jelas antara netral dan ambivalen dan menunjukkan konsekuensi dari keduanya (Pearson dkk. , 2. Kedua, ketika responden memiliki pengetahuan atau pengalaman rendah tentang topik, atau ketika opsi tidak tahu/tidak berlaku tidak tersedia, mereka cenderung menaruh jawaban di tengah sebagai isyarat ketidakpastian daripada sikap netral (Westland. Eksperimen dan pedoman metode survei menunjukkan bahwa ada atau tidak ada pilihan tidak tahu mengubah proporsi pemilihan di tengah (Pearson dkk. , 2. Ketiga, pertimbangan SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 192-212 sosial mungkin mendorong responden untuk bermain aman di masalah sensitif atau menghindari hal-hal yang terlalu ekstrem, yang mengarah pada pemilihan tiga sebagai bentuk perlindungan wajah (Franco-Martynez dkk. , 2. Studi eksperimental tentang bagaimana desain pertanyaan setuju-tidak setuju dan penggunaan kategori netral mendukung pola ini. Keempat, ambiguitas pernyataan atau label kategori tengah, seperti "netral", "tidak tahu", atau "tidak setuju maupun setuju," bersama dengan polarisasi item setuju-tidak setuju, dapat menyebabkan pemilihan nomor 3 menjadi lebih mungkin karena responden menafsirkan makna midpoint dengan cara yang berbeda (Glas dkk. , 2. Berdasarkan Teori Resource-Based View (RBV), digitalisasi sendiri belum tentu menjadi sumber keunggulan yang berdampak pada pertumbuhan desa karena dua syarat kunci tidak terpenuhi, yaitu sumber daya digital yang digunakan belum memenuhi syarat VRIN . aluable, rare, inimitable, non-substitutabl. , kebanyakan berupa teknologi generik yang mudah ditiru dan belum terikat ke kapabilitas organisasi . SDM, dan tata kelol. (DAoOria dkk. , 2. Menurut penelitian terbaru dari RBV, organisasi kemampuan teknologi informasi ke dalam proses bisnis . iasanya melalui praktik seperti otomasi proses bisni. atau penyebaran kemampuan penyerap/absorpsi meningkatkan kinerja baru (Agyapong dkk. , 2024. Li & Zhang, 2. Tanpa teknologi informasi, pengaruh pada kinerja mudah hilang secara statistik. Dengan kata lain, desa mungkin memiliki aplikasi atau jaringan, tetapi mereka mungkin belum mampu memanfaatkannya untuk menghasilkan output pertumbuhan, seperti peningkatan produktivitas, investasi, dan UMKM (Agyapong dkk. , 2. Teori yang mendukung penjelasan ini adalah Teori Kapasitas Dinamis yang menjelaskan bahwa sebuah desa atau organisasi akan memiliki kemampuan untuk sensasi-menangkap-transformasi atau mengidentifikasi peluang, menangkap, dan mengubah cara mereka bekerja sebelum dapat memanfaatkan digitalisasi (Al-Moaid & Almarhdi, 2. Investasi digital sering mandek sebagai proyek teknologi tanpa kemampuan dinamis dan manajemen perubahan yang baik (NAoDri & Su. Selain itu, kerangka teknologi, organisasi, dan lingkungan dan ruang kosong institusional di negara berkembang dijelaskan oleh hambatan konteks seperti infrastruktur yang timpang, keterampilan digital yang rendah, biaya adopsi, dan kekurangan dukungan kelembagaan semuanya menyebabkan adopsi tidak otomatis berdampak pada indikator pertumbuhan lokal (Heeks dkk. , 2. Selain itu, bukti empiris baru-baru ini menunjukkan efek di tingkat makro dan organisasi, imbal hasil teknologi sering mengikuti Productivity J-Curve (Brynjolfsson dkk. , 2. Pada tahap awal, investasi tambahan tak terlihat seperti pelatihan, pengaturan proses, dan redesain data, sehingga efeknya tidak jelas dan baru muncul setelah kemampuan mereka berkembang. Evaluasi lapangan di komunitas pedesaan menemukan bahwa, meskipun kualitas hidup meningkat, penggunaan internet untuk pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan tidak mengalami perubahan signifikan dalam jangka pendek (Valentyn-Syvico dkk. , 2. Akibatnya, koefisien tidak signifikan dapat dihasilkan dengan jendela observasi yang pendek atau adopsi yang belum luas. Hasil penelitian lain juga menunjukkan hubungan non-linier/berambang, yang berarti tidak ada efek ke pertumbuhan pada level digitalisasi yang rendah atau tidak tepat sasaran (Guo & Xu. Selain itu, seperti yang ditunjukkan oleh (Lubis, 2. dalam penelitiannya, strategi digital marketing dapat membantu pertumbuhan sektor ekonomi, tetapi ada masalah besar dengan Ini menunjukkan bahwa digitalisasi tidak selalu mendorong pertumbuhan ekonomi desa. Jika tingkat literasi digital masyarakat tidak selaras dengan kebutuhan akan teknologi modern, dapat terjadi hasil yang tidak optimal. Studi di Desa Jata Kecamatan Jatiasih oleh (Rahmadani dkk. , 2. menunjukkan bahwa ketika masyarakat tidak memahami digitalisasi dengan baik sehingga manfaat yang diharapkan sulit dicapai. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh (Fardani dkk. , 2. juga menunjukkan bahwa kesiapan dan penerimaan masyarakat yang rendah menghambat laju digitalisasi di desa. Digitalisasi dalam kasus ini seringkali tidak dapat menyelesaikan masalah struktural yang ada, dan jika tidak didukung dengan baik, bahkan dapat memperburuk ketimpangan. Selain itu, penelitian di Desa Bendelan menunjukkan bahwa meskipun ada program digitalisasi, hasilnya tidak selalu terlihat SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 192-212 dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada banyak tantangan untuk melaksanakan program tersebut (Rusdianto dkk. , 2. Pengaruh Transparansi Laporan Keuangan Terhadap Pertumbuhan Desa Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa transparansi laporan keuangan berpengaruh posistif terhadap pertumbuhan desa. Hal ini berarti Laporan keuangan BUMDes atau pemerintahan desa yang lebih terbuka, rutin, rinci, dan mudah diakses, bersama dengan kesiapan pengelola untuk menjelaskan isi laporan, berkorelasi positif dengan kinerja ekonomi dan sosial desa. Transparansi meningkatkan efisiensi program dan partisipasi ekonomi, mengurangi potensi kebocoran dan asimetri informasi, dan mempercepat pengambilan keputusan berbasis data. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa jawaban rata-rata berada pada angka empat atau setuju, menguatkan temuan bahwa transparansi laporan keuangan membantu pertumbuhan desa. Secara substansial, setiap indikator transparansi yang diukur dalam penelitian ini membentuk satu rantai akuntabilitas yang mendorong kinerja ekonomi desa. Indikator penyusunan laporan keuangan sesuai periode memastikan disiplin pencatatan dan kontrol, sehingga keputusan bisnis BUMDes dapat dibuat dengan cepat dan berdasarkan data. Detail transaksi pendapatan dan pengeluaran meningkatkan alokasi biaya, mengurangi kebocoran informasi, dan meningkatkan margin usaha. Kemudahan untuk mendapatkan informasi laporan dan ketersediaan informasi di platform yang mudah diakses membuat informasi lebih tersedia untuk warga dan mitra (UMKM/investor loka. , meningkatkan kepercayaan, dan meningkatkan partisipasi ekonomi. Rasa didukung dan dilibatkan karena memiliki akses terus-menerus untuk meningkatkan kontrol sosial dan kerja sama warga, yang penting untuk keberlanjutan program desa. Menjaga reputasi BUMDes, mempercepat penyelesaian masalah operasional, dan menyelesaikan kesalahan interpretasi dipermudah dengan kesiapan pengelola untuk penjelasan. Kemampuan warga untuk memahami isi laporan, kelengkapan informasi, dan catatan meningkatkan literasi keuangan komunitas, yang menghasilkan musyawarah perencanaan yang lebih baik dan penurunan risiko salah sasaran. Jika ada dominasi skor empat pada semua indikator, itu menunjukkan bahwa praktik transparansi telah berjalan dengan baik. Efek ini diterjemahkan menjadi peningkatan efisiensi, kepercayaan, dan partisipasi, tiga syarat yang secara mekanis mendorong pertumbuhan desa melalui peningkatan kinerja BUMDes dan aktivitas ekonomi lokal (Westland, 2022. Dalam perspektif Resource-Based View (RBV) (Harahap, 2021. Widyoutomo dkk. , 2. transparansi laporan keuangan adalah sumber daya tak berwujud . nformasi yang akurat, tepat waktu, dan dapat diaudi. dan kemampuan pengelolaan . utinitas pencatatan, pengungkapan, dan penjelasan kepada publi. Ketika transparansi memenuhi kriteria VRIN . aluable, rare, inimitable, and non-substitutabl. , transparansi menciptakan keunggulan berkelanjutan bagi desa. Transparansi membantu desa menangkap nilai, seperti SDM terlatih, prosedur pelaporan SOP, sistem informasi, dan pengawasan warga. Hal ini meningkatkan kepercayaan dan partisipasi warga dan mitra, menarik modal dan kolaborasi baru, mengurangi kebocoran, dan memperbaiki alokasi sumber daya. Alur ini meningkatkan kinerja BUMDes serta kualitas layanan publik. Selain itu, meningkatkan omzet/SHU, ekspansi unit usaha, serapan tenaga kerja, dan kualitas layanan publik. Ini secara mekanis menggambarkan efek positif transparansi laporan keuangan terhadap pertumbuhan desa. Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa meningkat ketika laporan keuangan desa Sebuah penelitian oleh (Zubaidah & Nugraeni, 2. menunjukkan bahwa transparansi meningkatkan kualitas laporan keuangan, yang berdampak pada tata kelola pemerintahan yang lebih baik. Ketika masyarakat percaya bahwa laporan pemerintah desa jujur dan dapat diandalkan, mereka cenderung lebih terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan berpartisipasi dalam pembangunan desa. Lebih lanjut, (Marlena & Anam, 2. menyatakan bahwa penerapan sistem akuntansi yang transparan di pemerintah desa sangat penting untuk menjamin pengelolaan sumber daya publik yang baik. Laporan keuangan yang transparan mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam perencanaan dan pengawasan pengeluaran anggaran, memungkinkan mereka untuk memantau secara lebih efektif bagaimana dana desa SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 192-212 Pengaruh Kualitas Sumber Daya Manusia Terhadap Pertumbuhan Desa Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia berpengaruh positif terhadap pertumbuhan desa. Hal ini berarti, semakin baik kualitas SDM pengelola BUMDes, semakin besar peluang untuk pertumbuhan kinerja usaha, partisipasi ekonomi warga, dan pertumbuhan desa secara keseluruhan. Selain itu, temuan kuesioner menunjukkan bahwa setiap indikator menerima skor rata-rata empat . Singkatnya, setiap indikator kualitas SDM terdiri dari rantai kapabilitas yang mendorong BUMDes dan aktivitas ekonomi lokal: . Pelatihan pengelola yang sesuai dengan kebutuhan usaha desa memastikan pengetahuan akuntansi dan manajemen dasar serta kepatuhan terhadap prosedur, yang membantu membuat keputusan operasional yang lebih akurat. Pelatihan rutin manajemen dan keuangan memperbarui pengetahuan dan mengurangi kesalahan penganggaran dan pencatatan. Kemampuan untuk merencanakan, mengorganisasi, dan mengawasi membuat proses lebih teratur, biaya lebih terkendali, dan risiko operasional lebih rendah. Kemampuan untuk secara tepat dan bertanggung jawab membuat keputusan strategis memperbaiki alokasi sumber daya dan ketangkasan untuk menangani peluang dan pasar. Keterampilan teknis yang sesuai bidang usaha memastikan kualitas produk, layanan, dan output yang konsisten. Kemampuan untuk mengoperasikan perangkat dan teknologi mempercepat alur kerja, memperluas jangkauan layanan, dan membuka pintu untuk pemasaran dan pelaporan digital. Keterampilan teknis yang terbukti meningkatkan efisiensi dan produktivitas langsung meningkatkan omzet, meningkatkan arus kas, dan mendorong ekspansi unit usaha dan serapan tenaga kerja. Kombinasi skor rata-rata empat untuk masing-masing indikator menunjukkan bahwa sebagian besar peserta menganggap kapabilitas SDM pengelola BUMDes cukup kuat. Berdasarkan teori Resources-Based View (RBV) (Alam dkk. , 2022. DAoOria dkk. , 2. menyatakan temuan bahwa kualitas sumber daya manusia di BUMDes berdampak positif pada pertumbuhan desa dapat dijelaskan oleh fakta bahwa mereka mewakili sumber daya tak berwujud dan kapabilitas yang memenuhi kriteria VRIN. Keterampilan teknis khusus, pendidikan yang relevan, pelatihan manajemen dan keuangan yang teratur, kemampuan merencanakan, mengorganisasi, dan mengawasi, keterampilan membuat keputusan strategis yang tepat, dan keterampilan mengoordinasikan. Dalam logika RBV, bukan sekadar memiliki individu yang terampil yang berharga tetapi mengorganisasi kemampuan tersebut ke dalam rutinitas dan mekanisme kontrol yang melekat, yang menyebabkan mekanisme terpisah. Ini membuat sulit bagi orang lain untuk meniru cara kerja BUMDes. Kapasitas sumber daya manusia meningkatkan produktivitas dan efisiensi, memperbaiki alokasi sumber daya, mempercepat penyerapan peluang pasar, dan mengurangi kekurangan operasional. Kanal ini secara ekonomi menghasilkan peningkatan omzet/SHU, serapan kerja, ekspansi unit usaha, dan akhirnya pertumbuhan desa yang lebih besar. Penelitian oleh (Nurhayati dkk. , 2. menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia meningkatkan akuntabilitas pengelolaan keuangan desa. Hal ini berarti bahwa ketika sumber daya manusia memiliki keterampilan dan pengetahuan yang tepat, pengelolaan keuangan desa menjadi lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan, yang pada gilirannya menghasilkan tata kelola pemerintahan desa yang lebih baik. Selain itu, terbukti bahwa pengembangan sektor ekonomi, khususnya dalam industri pariwisata, dibantu oleh pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Menurut (Liwaul, 2. , meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan pariwisata meningkatkan pengetahuan masyarakat dan meningkatkan pendapatan dan peluang kerja baru. Akibatnya, sumber daya manusia yang terampil dapat berfungsi sebagai katalisator utama untuk kegiatan ekonomi desa yang mencakup inovasi dan efisiensi. PENUTUP SOLUSI : Jurnal Ilmiah Bidang Ilmu Ekonomi Vol. No. April 2026. Hal 192-212 Berdasarkan hasil penelitian, digitalisasi menunjukkan pengaruh positif, tetapi belum mencapai signifikansi statistis. Oleh karena itu, kontribusi digitalisasi terhadap pertumbuhan desa dalam penelitian ini tidak berpengaruh karena penggunaan teknologi informasi masih terbatas pada penggunaan MS. Excel untuk pengelolaan keuangannya. Sebaliknya, terbukti bahwa transparansi anggaran berdampak positif dan signifikan pada pertumbuhan desa. Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran informasi fiskal meningkatkan efisiensi tata kelola dan akuntabilitas pembangunan. Dengan cara yang sama, peningkatan kapasitas aparatur dan pelaku ekonomi lokal untuk mempercepat kinerja pembangunan desa merupakan prasyarat utama, karena kualitas sumber daya manusia memiliki dampak positif yang signifikan dan berfungsi sebagai prediktor paling Secara keseluruhan, hasil ini menekankan bahwa pengembangan kapabilitas manusia dan praktik tata kelola harus konsisten, sementara agenda digitalisasi memerlukan pematangan organisasi agar dampaknya semakin terkonversi ke hasil pembangunan yang nyata. Rekomendasi kebijakan difokuskan pada penguatan tata kelola dan kapabilitas manusia sambil menata ulang agenda digital, berdasarkan temuan bahwa transparansi anggaran dan kualitas SDM berpengaruh positif serta signifikan terhadap pertumbuhan desa, sementara digitalisasi menunjukkan arah positif namun belum signifikan. Pemerintah desa harus menciptakan transparansi melalui prosedur pelaporan standar, kalender keterbukaan informasi, jejak audit, dan kanal publikasi yang mudah diakses. Untuk memastikan kepatuhan yang berkelanjutan, perlu ada insentif berbasis kinerja. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah mengevaluasi penggunaan desain longitudinal untuk menilai kualitas, menyelidiki mekanisme mediasi misalnya, kemampuan kelembagaan, tata kelola data, kualitas layanan dan moderator misalnya, partisipasi warga, kesiapan organisasi, akses pasar, dan infrastruktur digital dalam kaitannya dengan hubungan transparansi SDM dan pertumbuhan. DAFTAR PUSTAKA