ISLAM & CONTEMPORARY ISSUES https://doi. org/10. 57251/ici. Vol. No. 2, 2025 | 169-176 Integrasi Ilmu dalam Perspektif Hasan Asari Diah Rahmawati*. Universitas Pembangunan Panca Budi. Indonesia Danny Abrianto. Universitas Pembangunan Panca Budi. Indonesia Ismaraidha. Universitas Pembangunan Panca Budi. Indonesia ABSTRACT This study aims to analyze Hasan AsariAos conceptual contribution to the discourse on the integration of knowledge, focusing on his understanding of the nature of science and its ontological, epistemological, and axiological foundations. Employing a qualitative character study with a conceptualAeanalytical approach, the research examines primary data from in-depth interviews with Hasan Asari, complemented by critical analysis of his writings and relevant scholarly literature. The findings reveal that Hasan Asari conceptualizes science as validated knowledge grounded in both revelation and rational inquiry. Ontologically, science is rooted in Allah as the ultimate reality. epistemologically, it integrates bayani, burhani, tajribi, and Aoirfani modes of knowing. and axiologically, it emphasizes moral responsibility as an essential attribute of scientific practice. This framework constitutes a conceptual response to the dichotomy between religious and secular sciences, positioning the integration of knowledge as a foundational paradigm for reforming contemporary Islamic education and ARTICLE HISTORY Received 15/11/2025 Revised 25/11/2025 Accepted 05/11/2025 Published 17/12/2025 KEYWORDS Integration. Science. Hasan Asari. *CORRESPONDENCE AUTHOR rdiah3029@gmail. PENDAHULUAN Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses strategis dan berkelanjutan dalam menyiapkan generasi agar mampu menjalani kehidupan secara bermakna, efektif, dan bernilai. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga sebagai medium internalisasi nilai-nilai yang membentuk orientasi etis, sosial, dan spiritual individu (Abrianto et al. , 2. Oleh karena itu, pendidikan ideal dituntut untuk mampu mengembangkan potensi manusia secara komprehensif, mencakup dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam kerangka ini, keberhasilan pendidikan diukur tidak semata-mata dari capaian akademik, melainkan dari kemampuannya melahirkan manusia yang berpengetahuan, berkarakter, dan bertanggung jawab secara moral (Susanti, 2. Dnamika sejarah modern, pendidikan Islam menghadapi persoalan mendasar berupa dikotomi ilmu yang memisahkan antara ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu umum. Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari kemunduran peradaban Islam pasca abad ke-6/12 M yang berdampak pada melemahnya tradisi keilmuan Islam serta menguatnya dominasi epistemologi Barat. Akibatnya, terjadi pemisahan struktural dan paradigmatik dalam sistem pendidikan Islam, di mana ilmu agama dipandang sakral tetapi kurang aplikatif, sementara ilmu umum dianggap rasional dan fungsional namun miskin nilai transendental. Kondisi tersebut melahirkan krisis epistemologis yang berdampak pada orientasi dan tujuan pendidikan Islam itu sendiri (Purnamasari et al. , 2. Kesadaran atas problem dikotomi tersebut mendorong lahirnya wacana integrasi ilmu yang mulai mengemuka pada pertengahan abad ke-20. Integrasi ilmu dipahami sebagai upaya merekonstruksi kembali bangunan keilmuan yang terfragmentasi dengan menyatukan berbagai disiplin dalam satu kerangka epistemologis yang utuh dan saling Upaya ini tidak dimaksudkan untuk meniadakan kekhasan metodologis masing-masing disiplin ilmu, melainkan untuk membangun relasi dialogis dan komplementer antarbidang keilmuan. Dengan demikian, integrasi ilmu merupakan proyek intelektual yang bersifat filosofis dan epistemologis, bukan sekadar penggabungan kurikulum atau institusi pendidikan secara administratif (Kabir, 2. Secara konseptual, integrasi ilmu menegaskan bahwa seluruh pengetahuan bersumber dari realitas yang sama dan diarahkan pada tujuan yang saling terkait, yaitu kemaslahatan manusia dan pengabdian kepada Tuhan. Gagasan re-integrasi ilmu ini hadir sebagai kritik terhadap epistemologi modern Barat yang cenderung memisahkan dimensi empiris, rasional, dan transendental dalam memahami realitas. Dalam perspektif Islam, ilmu dipandang sebagai satu A 2025 The Author. Islam & Contemporary Issues. ISSN: 2798-3307. Published by Medan Resource Center This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Common Attribution License . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/), which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. 170 | Diah Rahmawati. Danny Abrianto, & Ismaraidha kesatuan yang saling melengkapi dan tidak dapat dipertentangkan. Oleh karena itu, integrasi ilmu menuntut penataan kembali struktur pengetahuan yang menempatkan seluruh disiplin ilmu secara setara dalam kerangka tauhidik, sehingga pendidikan Islam mampu melahirkan manusia berilmu yang beriman, berakhlak, dan berkontribusi nyata bagi peradaban (Enhas et al. , 2. Sejarah intelektual Islam menunjukkan bahwa integrasi ilmu bukanlah gagasan yang lahir dari kegelisahan modern semata, melainkan memiliki akar historis yang kuat dalam tradisi keilmuan Islam klasik. Para filosof dan ilmuwan Muslim seperti al-FArAb. Ibn SnA, dan al-GhazAl telah mengembangkan klasifikasi ilmu pengetahuan sebagai upaya pemetaan epistemologis, bukan sebagai bentuk pemisahan hierarkis yang bersifat dikotomis. Pembagian ilmu ke dalam kategori teoretis dan praktis, maupun klasifikasi ilmu agama, filsafat, dan sastra, dimaksudkan untuk menegaskan relasi fungsional antarbidang keilmuan. Bangunan ilmu dalam tradisi Islam dipahami sebagai satu kesatuan organik yang saling melengkapi dalam rangka mencapai kebenaran dan kemaslahatan manusia (Nuryamin. Namun, dalam praktik pendidikan Islam kontemporer, dikotomi ilmu masih tampak nyata dan berpengaruh kuat terhadap orientasi kelembagaan dan kurikulum. Ilmu agama kerap diposisikan sebagai bersifat normatif, sakral, dan terikat pada otoritas teks, sementara ilmu umum dipandang netral, empiris, dan pragmatis. Pola pemahaman semacam ini berimplikasi pada fragmentasi epistemologis dan lemahnya dialog antara dua rumpun keilmuan tersebut (Siregar et al. , 2. Kondisi inilah yang mendorong berbagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia melakukan reformasi struktural dan konseptual, salah satunya melalui transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) sebagai upaya memperluas cakupan keilmuan sekaligus menjembatani ilmu agama dan ilmu umum dalam satu sistem pendidikan terpadu (Azmi et al. , 2. Transformasi kelembagaan tersebut tidak dapat dipahami semata-mata sebagai perubahan administratif atau nomenklatural, melainkan sebagai proses yang menuntut kerangka epistemologis dan filosofis yang kokoh tentang integrasi ilmu. Implementasi integrasi ilmu di perguruan tinggi Islam mencakup berbagai dimensi, mulai dari konseptual hingga institusional, operasional, dan kultural (Rangkuti, 2. Integrasi ilmu juga menuntut penyesuaian kurikulum, pengembangan metodologi pembelajaran, serta pembentukan budaya akademik yang mendorong dialog Oleh karena itu, kajian terhadap pemikiran para intelektual Muslim kontemporer yang terlibat langsung dalam dinamika transformasi tersebut menjadi penting untuk memahami arah dan tantangan integrasi ilmu secara lebih komprehensif (Abdillah et al. , 2. Dalam konteks inilah pemikiran Hasan Asari menjadi relevan untuk dikaji. Sebagai sejarawan pendidikan Islam dan akademisi yang aktif terlibat dalam proses transformasi UIN Sumatera Utara. Hasan Asari menawarkan perspektif yang khas mengenai ilmu dan integrasinya dalam institusi pendidikan Islam modern. Latar belakang keilmuannya dalam sejarah pendidikan Islam memberinya kemampuan untuk membaca integrasi ilmu tidak hanya sebagai tuntutan normatif-teologis, tetapi juga sebagai proses historis dan institusional yang kompleks. Keterlibatannya dalam perumusan kebijakan akademik menempatkan pemikirannya pada posisi strategis dalam menjembatani antara idealitas doktrin Islam dan realitas praktis pendidikan tinggi modern, sehingga relevan sebagai kerangka analitis dalam studi integrasi ilmu di perguruan tinggi Islam (Asari, 2020. Penelitian ini memiliki kebaruan dengan menempatkan pemikiran Hasan Asari dalam kerangka analisis filosofis, khususnya terkait ontologi, epistemologi, dan aksiologi ilmu, serta implikasinya bagi konsep integrasi ilmu. Berbeda dari studi-studi sebelumnya yang lebih menekankan aspek kebijakan atau implementasi institusional, penelitian ini berupaya mensintesis pemikiran Hasan Asari sebagai kontribusi konseptual bagi pengembangan pendidikan Islam modern yang integratif dan berakar pada tradisi intelektual Islam. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi tokoh . ntellectual biograph. , yang bertujuan untuk memahami secara mendalam ide, gagasan, konsep, dan kerangka pemikiran seorang tokoh dalam konteks sosial-intelektualnya. Pendekatan studi tokoh dipilih karena memungkinkan peneliti menelusuri bangunan pemikiran Hasan Asari secara komprehensif, baik melalui karya-karya tertulis maupun pandangan reflektif tokoh itu sendiri, khususnya terkait konsep integrasi ilmu dalam pendidikan Islam. Sumber data dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua kategori, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan Hasan Asari sebagai subjek utama penelitian. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur agar Islam & Contemporary Issues | 171 memungkinkan eksplorasi gagasan tokoh secara terbuka, namun tetap terarah pada fokus penelitian, yakni pandangan filosofis tentang hakikat ilmu, serta konsep ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam integrasi ilmu. Wawancara dilaksanakan dalam rentang waktu tertentu yang disesuaikan dengan ketersediaan narasumber, dan seluruh proses wawancara dicatat secara sistematis melalui rekaman audio serta catatan lapangan untuk menjamin kelengkapan dan akurasi data (DP, 2. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari berbagai sumber tertulis yang relevan, seperti buku, artikel jurnal, karya ilmiah, dan tulisan-tulisan Hasan Asari, baik yang bersifat konseptual maupun reflektif. Selain itu, sumber pendukung berupa kajian akademik tentang integrasi ilmu dan sejarah pendidikan Islam juga digunakan untuk memperkaya konteks analisis serta memperkuat posisi pemikiran Hasan Asari dalam diskursus keilmuan yang lebih Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis isi, yaitu dengan menelaah secara sistematis teksteks karya Hasan Asari untuk mengidentifikasi tema-tema utama, pola argumentasi, serta konsep-konsep kunci yang berkaitan dengan integrasi ilmu. Proses ini meliputi tahap kategorisasi, pengodean, dan pemaknaan terhadap unitunit teks yang relevan, sehingga struktur pemikiran tokoh dapat direkonstruksi secara utuh dan koheren. Penelitian ini juga menerapkan metode interpretasi filosofis untuk memahami makna mendalam dari gagasan-gagasan Hasan Asari. Interpretasi dilakukan dengan mempertimbangkan konteks historis, latar belakang intelektual, serta dinamika sosial-akademik yang melingkupi tokoh. Dengan pendekatan ini, pemikiran Hasan Asari tidak hanya dibaca secara tekstual, tetapi juga secara kontekstual, sehingga terhindar dari reduksi makna atau pemahaman yang parsial (Sritama. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menerapkan beberapa strategi validasi. Pertama, triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara dengan karya-karya tertulis Hasan Asari serta kajian akademik lain yang relevan. Kedua, konfirmasi tokoh dilakukan dengan meminta klarifikasi atau penegasan atas hasil interpretasi tertentu kepada narasumber, guna memastikan kesesuaian antara pemahaman peneliti dan maksud Ketiga, kajian silang teks diterapkan dengan membandingkan pemikiran Hasan Asari dengan pandangan tokoh lain dalam diskursus integrasi ilmu, sehingga diperoleh pemetaan posisi pemikiran yang lebih objektif dan Melalui prosedur metodologis tersebut, penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan pemahaman yang valid, mendalam, dan sistematis mengenai pemikiran Hasan Asari tentang integrasi ilmu, serta kontribusinya bagi pengembangan konsep pendidikan Islam kontemporer (Hasanah, 2. PEMBAHASAN Hakikat Ilmu dalam Perspektif Tauhidik: Sintesis Ontologis. Epistemologis, dan Aksiologis Pemikiran Hasan Asari mengenai hakikat ilmu berangkat dari kerangka tauhidik yang menempatkan ilmu sebagai bagian integral dari relasi manusia dengan Tuhan. Ilmu tidak dipahami semata-mata sebagai hasil rasionalitas manusia yang otonom, melainkan sebagai pengetahuan yang kebenarannya diuji melalui metode tertentu dan diarahkan untuk tujuan transendental. Dalam perspektif ini, ilmu berfungsi sebagai sarana pelaksanaan perintah Ilahi, sehingga tidak pernah bersifat bebas nilai. Setiap aktivitas keilmuan selalu terkait dengan makna, tujuan, dan tanggung jawab moral yang melekat pada posisi manusia sebagai makhluk beriman. Konsepsi tersebut memiliki kedekatan dengan pandangan Al-Ghazali yang mendefinisikan ilmu sebagai idrak al-syaiAo Aoala ma huwa Aoalayh, yaitu persepsi terhadap sesuatu sebagaimana adanya. Namun. Hasan Asari melangkah lebih jauh dengan menekankan implikasi teologis dari definisi tersebut. Ia menegaskan bahwa sumber kebenaran ilmu pada akhirnya adalah Allah sebagai al-AoAlm, sehingga aktivitas keilmuan tidak dapat dilepaskan dari dimensi ibadah. Dengan demikian, pencarian ilmu merupakan bentuk ibadah intelektual yang meneguhkan peran manusia sebagai khalifah di bumi, yang bertugas mengelola dan memaknai realitas sesuai kehendak Tuhan (Asari, 2. Berbeda dengan epistemologi modern Barat yang cenderung memisahkan ilmu dari agama. Hasan Asari menegaskan bahwa Islam justru menjadikan ilmu sebagai fondasi keimanan dan peradaban. Al-QurAoan secara konsisten mendorong penggunaan akal, pengamatan terhadap alam, serta refleksi kritis terhadap realitas sosial dan Hal ini menunjukkan bahwa ilmu dalam Islam bersifat inklusif dan tidak sektarian. Dalam konteks ini, pemikiran Hasan Asari memiliki kesesuaian paradigmatik dengan Syed Muhammad Naquib al-Attas yang menekankan pentingnya menempatkan ilmu pada posisi yang tepat dalam kerangka adab dan tauhid. 172 | Diah Rahmawati. Danny Abrianto, & Ismaraidha Secara ontologis, meskipun Hasan Asari tidak merumuskan definisi ontologi ilmu secara formal, penekanannya pada tauhid memungkinkan penarikan kesimpulan tentang pandangan realitas yang bersifat menyatu. Objek ilmu, baik yang bersifat fisik maupun metafisik, dipahami sebagai ayat-ayat Tuhan yang saling berhubungan dalam satu kesatuan wujud. Ontologi tauhidik ini berimplikasi langsung pada epistemologi, karena mengetahui sesuatu berarti sekaligus memperkuat keyakinan kepada Allah. Setiap pengetahuan yang sahih mengandung potensi spiritual, suatu pandangan yang membedakan pemikiran Hasan Asari dari positivisme Barat yang memisahkan fakta dari nilai dan menafikan dimensi metafisis dalam ilmu (Wahdi et al. , 2. Epistemologi Hasan Asari dibangun di atas prinsip integrasi dan penolakan terhadap dikotomi metodologis yang kaku. Ia mengkritik kecenderungan epistemologi modern Barat yang membatasi sumber dan metode ilmu pada rasionalisme dan empirisme semata, sehingga mengabaikan dimensi normatif dan spiritual pengetahuan. Dengan mengadopsi serta mengontekstualisasikan tradisi bayani, burhani, tajribi, dan Aoirfani. Hasan Asari menunjukkan bahwa Islam memiliki khazanah epistemologis yang jauh lebih komprehensif. Dalam konteks ini, posisinya memiliki irisan dengan gagasan Islamisasi ilmu Ismail Raji al-Faruqi, meskipun Hasan Asari lebih menekankan kesinambungan tradisi intelektual Islam sebagai basis pengembangan ilmu, bukan agenda rekonstruksi epistemologi secara radikal. Keempat metode epistemologis tersebut tidak ditempatkan dalam relasi hierarkis, melainkan dipahami sebagai perangkat yang saling melengkapi dan berinteraksi secara dialektis. Metode bayani berfungsi memberikan landasan normatif berbasis teks wahyu, sementara burhani mengembangkan penalaran rasional dan argumentasi Metode tajribi memperkuat validitas pengetahuan melalui pengalaman empiris dan observasi sistematis, sedangkan Aoirfani membuka ruang bagi pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman batin dan intuisi spiritual. Sintesis metodologis ini menegaskan bahwa ilmu dalam Islam bersifat multidimensional, mampu menjangkau realitas lahiriah sekaligus batiniah tanpa mereduksi salah satunya (Asari, 2020. Aspek aksiologis menjadi penanda penting dalam epistemologi Hasan Asari, karena ilmu tidak pernah dilepaskan dari orientasi nilai dan tujuan etis. Ia menegaskan bahwa ilmu harus diarahkan pada kemaslahatan manusia dan keberlanjutan kehidupan, bukan sekadar pada efisiensi teknis atau dominasi atas alam dan sesama. Dalam kerangka ini. Hasan Asari mengingatkan bahaya ilmu yang terlepas dari nilai moral, sebagaimana tercermin dalam sejarah modernitas yang melahirkan teknologi destruktif dan krisis kemanusiaan. Kritik tersebut sejalan dengan pemikiran al-Attas dan Mulyadhi Kartanegara yang sama-sama menekankan urgensi etika dan spiritualitas dalam pengembangan ilmu. Hakikat ilmu dalam perspektif Hasan Asari dapat dipahami sebagai sintesis tauhidik yang menyatukan dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis secara koheren. Ilmu tidak hanya berkaitan dengan pertanyaan tentang apa yang diketahui, tetapi juga bagaimana pengetahuan diperoleh dan untuk tujuan apa pengetahuan tersebut digunakan. Kerangka integratif ini menjadi fondasi konseptual bagi gagasan integrasi ilmu yang dikembangkan Hasan Asari, sekaligus menawarkan alternatif epistemologi yang relevan dalam merespons tantangan keilmuan dan peradaban Integrasi Ilmu sebagai Kritik atas Dikotomi Epistemologis Modern Gagasan integrasi ilmu dalam pemikiran Hasan Asari lahir sebagai respons kritis terhadap fenomena dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum yang mengakar kuat dalam sistem pendidikan modern. Ia memandang dikotomi tersebut bukan sebagai keniscayaan epistemologis, melainkan sebagai konstruksi historis yang dibentuk oleh pengalaman kolonialisme dan proses sekularisasi Barat. Dalam kerangka ini, pemisahan ilmu dari agama tidak merefleksikan tradisi intelektual Islam, melainkan hasil adopsi epistemologi asing yang kemudian diterima tanpa kritik. Oleh karena itu, integrasi ilmu bagi Hasan Asari tidak sekadar merupakan proyek akademik, tetapi juga upaya dekolonisasi epistemik untuk membebaskan cara berpikir umat Islam dari warisan intelektual yang terfragmentasi. Hasan Asari menegaskan bahwa sejarah klasik Islam menunjukkan perkembangan ilmu yang bersifat integratif dan holistik. Para ulama pada masa itu tidak melihat adanya pertentangan antara disiplin keagamaan seperti fikih dan tafsir dengan ilmu rasional dan empiris seperti filsafat, kedokteran, matematika, dan astronomi. Tradisi ini menegaskan bahwa pencarian kebenaran dipahami sebagai satu kesatuan, meskipun diekspresikan melalui beragam metode dan disiplin. Pandangan Hasan Asari sejalan dengan tesis George Makdisi dan Ismail Raji al-Faruqi yang menekankan karakter holistik pendidikan Islam klasik, di mana ilmu agama dan ilmu rasional tumbuh secara simultan dalam satu ekosistem intelektual yang terpadu (Asari, 2. Islam & Contemporary Issues | 173 Dalam perspektif Hasan Asari, dikotomi ilmu yang mengemuka di dunia Muslim modern merupakan Auluka sejarahAy yang berdampak jangka panjang terhadap perkembangan pendidikan dan peradaban. Sistem pendidikan kontemporer di banyak negara Muslim cenderung mewarisi struktur epistemologi Barat yang memisahkan agama dari sains dan nilai dari fakta. Konsekuensinya, lahir generasi terdidik yang mengalami keterbelahan intelektual: di satu sisi religius tetapi curiga atau bahkan anti terhadap sains, dan di sisi lain saintifik tetapi teralienasi dari nilai-nilai Kondisi ini tidak hanya melemahkan integritas keilmuan, tetapi juga menghambat lahirnya pandangan dunia yang utuh dan bermakna. Berbeda dengan al-Faruqi yang menawarkan Islamisasi ilmu sebagai proyek normatif dengan cakupan global. Hasan Asari lebih menekankan pentingnya rekonstruksi kesadaran epistemologis dari dalam tradisi Islam sendiri. Baginya, integrasi ilmu bukanlah sekadar upaya simbolik seperti Aumenempelkan ayatAy pada teori-teori sains modern, melainkan pembangunan kerangka berpikir yang memandang seluruh realitas sebagai satu kesatuan bermakna dalam perspektif tauhid. Dengan pendekatan ini, integrasi ilmu diharapkan melahirkan tradisi keilmuan yang tidak hanya unggul secara metodologis, tetapi juga kokoh secara filosofis dan etis (Asari et al. , 2. Pendekatan integrasi ilmu yang ditawarkan Hasan Asari menunjukkan kedekatan konseptual yang kuat dengan gagasan Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang adab ilmu. Integrasi, dalam pandangan ini, tidak berhenti pada penyatuan kurikulum atau penggabungan disiplin secara administratif, melainkan menyentuh level yang lebih fundamental, yaitu pandangan hidup. Tanpa transformasi cara pandang terhadap realitas, manusia, dan pengetahuan, integrasi ilmu berpotensi tereduksi menjadi proyek kosmetik yang tidak menyentuh akar persoalan epistemologis. Oleh karena itu, perubahan worldview tauhidik menjadi prasyarat utama agar integrasi ilmu benar-benar bersifat Hasan Asari juga mengajukan kritik tajam terhadap cara pandang instrumental terhadap ilmu yang dominan dalam epistemologi modern. Ilmu kerap direduksi menjadi alat untuk menguasai alam, meningkatkan produksi, dan memperkuat struktur kekuasaan, sementara dimensi makna dan pengabdian diabaikan. Dalam kerangka integrasi ilmu. Hasan Asari menuntut reposisi ilmu sebagai sarana pengabdian kepada Tuhan dan pemaknaan hidup manusia. Di sinilah dimensi aksiologis kembali menempati posisi sentral, karena nilai dan tujuan ilmu menjadi tolok ukur utama dalam menentukan arah dan legitimasi aktivitas keilmuan (Asari et al. , 2. Lebih lanjut, integrasi ilmu meniscayakan keberanian metodologis untuk mengakui pluralitas cara mengetahui. Hasan Asari menolak sikap reduksionistik yang hanya mengakui pengetahuan yang dapat diverifikasi secara empirispositivistik. Pengetahuan intuitif dan pengalaman spiritual, sepanjang memiliki landasan etis dan metodologis dalam tradisi Islam, tidak boleh didiskualifikasi dari ranah keilmuan. Sikap ini mencerminkan keberpihakan Hasan Asari pada epistemologi yang inklusif dan manusiawi, yang mengakui kompleksitas subjek manusia sebagai makhluk rasional sekaligus spiritual. Meskipun, gagasan integrasi ilmu juga menghadapi tantangan serius, terutama dari komunitas akademik yang telah mapan dalam paradigma sekuler. Tanpa landasan argumentasi filosofis yang kokoh, integrasi ilmu berisiko dipersepsikan sebagai langkah regresif atau anti-ilmiah. Oleh karena itu, pemikiran Hasan Asari perlu terus dikembangkan melalui dialog kritis dengan filsafat ilmu kontemporer, agar mampu menunjukkan relevansi, rasionalitas, dan daya jelajahnya dalam menjawab problem keilmuan dan peradaban modern (Pangeresa et al. , 2. Multikulturalisme dan Lembaga Pendidikan sebagai Arena Praktis Integrasi Ilmu Dimensi praksis integrasi ilmu dalam pemikiran Hasan Asari tampak jelas melalui perhatiannya terhadap isu multikulturalisme dan peran strategis lembaga pendidikan. Ia memandang multikulturalisme bukan sebagai ancaman terhadap identitas keislaman, melainkan sebagai realitas sosial yang niscaya dan harus dikelola secara konstruktif. Dalam kerangka tauhidik, keberagaman budaya dan latar belakang manusia dipahami sebagai bagian dari sunnatullah yang mengandung potensi pembelajaran dan pengayaan intelektual. Oleh karena itu, integrasi ilmu menuntut sikap terbuka terhadap perbedaan tanpa kehilangan orientasi nilai yang bersumber dari ajaran Islam. Dalam perspektif historis. Hasan Asari menegaskan bahwa peradaban Islam klasik justru tumbuh dan berkembang melalui interaksi lintas budaya yang intens. Gerakan penerjemahan karya-karya Yunani. Persia, dan India pada masa Abbasiyah menjadi bukti konkret bahwa keterbukaan intelektual tidak melemahkan identitas Islam, melainkan memperkaya khazanah keilmuannya. Tradisi asimilasi dan kritik terhadap pengetahuan asing tersebut 174 | Diah Rahmawati. Danny Abrianto, & Ismaraidha menunjukkan bahwa integrasi ilmu selalu berlangsung dalam konteks multikultural yang dinamis. Integrasi bukanlah proses eksklusif, melainkan dialog kreatif antara berbagai tradisi intelektual dalam bingkai tauhid (Setiawan et al. Multikulturalisme, dalam kerangka pemikiran Hasan Asari, berfungsi sebagai prasyarat penting bagi terwujudnya integrasi ilmu yang autentik. Pengakuan terhadap keragaman budaya, bahasa, dan tradisi intelektual membuka ruang bagi dialog epistemologis yang produktif dan saling memperkaya. Sikap ini mencegah lahirnya klaim kebenaran tunggal yang sempit dan reduksionistik, sekaligus memperkuat kesadaran bahwa pengetahuan dapat bersumber dari beragam jalur. Posisi ini sejalan dengan gagasan Mulyadhi Kartanegara tentang pluralitas sumber pengetahuan, yang menempatkan rasio, pengalaman empiris, dan intuisi spiritual dalam relasi yang saling melengkapi. Lembaga pendidikan memegang peran sentral dalam merealisasikan integrasi ilmu dalam praktik nyata. Hasan Asari menunjukkan bahwa dalam sejarah klasik Islam, institusi seperti kuttab, masjid, dan madrasah mengajarkan ilmu agama dan ilmu umum secara simultan tanpa dikotomi yang tegas. Pendidikan dipahami sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya, bukan sekadar transfer pengetahuan teknis. Model pendidikan yang holistik ini menjadi rujukan normatif bagi upaya integrasi ilmu kontemporer, sekaligus menegaskan bahwa reformasi pendidikan merupakan kunci strategis dalam mengatasi fragmentasi keilmuan di dunia Muslim modern (Mukhlis, 2. Kemunduran peradaban Islam yang beriringan dengan masuknya model universitas Barat telah mengubah secara signifikan lanskap pendidikan di dunia Muslim. Universitas modern membawa seperangkat nilai dan asumsi epistemologis yang berakar pada sekularisme, yang tidak selalu sejalan dengan worldview Islam. Dalam perspektif Hasan Asari, kondisi ini tidak semata-mata dipahami sebagai ancaman, tetapi juga sebagai tantangan historis yang membuka peluang untuk melakukan rekonstruksi pendidikan tinggi Islam. Rekonstruksi tersebut menuntut sikap kritis dan selektif dalam mengadopsi struktur dan metode akademik modern tanpa kehilangan fondasi nilai tauhidik. Transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) dipandang oleh Hasan Asari sebagai sebuah eksperimen institusional dalam mewujudkan integrasi ilmu. Perubahan ini tidak berhenti pada aspek nomenklatur, melainkan mengisyaratkan pergeseran paradigma akademik yang lebih luas. Dengan memasukkan disiplin-disiplin ilmu umum ke dalam struktur universitas Islam. UIN berupaya menembus batas dikotomi keilmuan yang telah lama mengakar. Pendekatan struktural ini melengkapi pendekatan filosofis dan epistemologis integrasi ilmu, karena menyediakan wadah institusional bagi terjadinya dialog dan kolaborasi lintas disiplin (Asari, 2020. Pengalaman UIN Sumatera Utara menunjukkan bahwa integrasi ilmu menuntut perencanaan jangka panjang, ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten, serta keberanian institusional dalam mengambil langkah-langkah Pembukaan program studi sains dan teknologi di lingkungan UIN menjadi simbol konkret dari upaya menjembatani ilmu agama dan ilmu umum. Namun, langkah ini tidak dapat dipahami semata sebagai ekspansi akademik, melainkan sebagai komitmen untuk membangun ekosistem keilmuan yang lebih utuh dan responsif terhadap tantangan zaman. Namun, tantangan integrasi ilmu tidak berhenti pada pembukaan program studi atau restrukturisasi Tanpa integrasi epistemologis yang mendalam dalam kurikulum, riset, dan budaya akademik, universitas justru berisiko mereproduksi dikotomi keilmuan dalam bentuk baru. Oleh karena itu, integrasi harus menyentuh level visi institusional, orientasi penelitian, dan etika akademik yang menjiwai seluruh aktivitas keilmuan. Dengan demikian, pemikiran Hasan Asari menegaskan bahwa integrasi ilmu merupakan proyek multidimensional yang mencakup dimensi filosofis, epistemologis, kultural, dan institusional, dengan multikulturalisme dan lembaga pendidikan sebagai arena strategis untuk merealisasikan kesatuan ilmu dalam praksis nyata (Asari, 2. SIMPULAN Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa pemikiran Hasan Asari tentang hakikat ilmu bertumpu pada kerangka tauhidik yang menyatukan dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis secara koheren. Ilmu dipahami bukan sebagai entitas netral dan bebas nilai, melainkan sebagai bagian integral dari relasi manusia dengan Tuhan, di mana kebenaran, metode perolehan, dan tujuan ilmu saling terkait dalam satu kesatuan makna. Dengan mengintegrasikan berbagai metode epistemologisAibayani, burhani, tajribi, dan AoirfaniAiHasan Asari menawarkan paradigma keilmuan Islam yang multidimensional, inklusif, dan kritis terhadap reduksionisme epistemologi modern Barat. Kerangka ini menegaskan bahwa setiap pengetahuan yang sahih memiliki implikasi Islam & Contemporary Issues | 175 spiritual dan etis, sekaligus memperkuat peran ilmu sebagai sarana ibadah dan pengabdian manusia sebagai khalifah di bumi. Selanjutnya, gagasan integrasi ilmu dalam pemikiran Hasan Asari muncul sebagai kritik fundamental terhadap dikotomi ilmu agama dan ilmu umum yang berkembang dalam sistem pendidikan modern. Integrasi ilmu diposisikan bukan sekadar sebagai penyatuan disiplin atau restrukturisasi kelembagaan, melainkan sebagai transformasi worldview tauhidik yang memandang realitas, pengetahuan, dan manusia secara utuh. Dalam konteks praksis, multikulturalisme dan lembaga Pendidikan islam menjadi arena strategis untuk merealisasikan integrasi tersebut secara nyata. Transformasi institusional seperti perubahan IAIN menjadi UIN menunjukkan upaya konkret menembus fragmentasi keilmuan, meskipun tetap menghadapi tantangan epistemologis dan kultural. Dengan demikian, pemikiran Hasan Asari memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan filsafat ilmu Islam kontemporer, sekaligus menawarkan alternatif konseptual dan praktis dalam merespons problem keilmuan dan peradaban modern. REFERENCE