AGAMA DALAM PERSPEKTIF TEORI-TEORI SOSIAL Oleh: Drs. Syamsuddin Abdullah Dalam literatur Barat disebutkan bahwa Max Miiller . dianggap sebagai orang yang paling berjasa dalam melakukan studi tentang agama. Dia seorang sarjana Jerman yang istimewa. Dia memilih tinggal di Oxford dan bekerja di sana antara tahun 1854 dan 1876. Ia sangat ahli tentang bahasa Sansekerta dan seorang ahli Indologi yang besar. Dia mendalami literatur suci India. Dia juga yang telah menyusun The Sacred Books of the East (Kitab-kitab Suci Dunia Timu. , 51 jilid banyaknya, yang dimulai pada tahun 1875. Kitab ini berisi terjemahan-terjemahan dari Kitab-kitab Suci dari agama-agama Timur. Tulisan-tulisan Miiller dapat diklasifikasikan ke dalam . tulisan-tulisan tentang agama . tulisan tentang astronomi. Ancient Hindu Astronomy and Chronology. tulisan-tulisan tentang pribadi besar . tulisan tentang filologi . tulisan tentang filsafat . tulisan tentang mitologi . tulisan tentang sastra . tulisan tentang sejarah . Perkembangan studi tentang agama selanjutnya dilatarbelakangi oleh pemikiran-pemikiran filsafat abad 17. Dua negara yang sangat berjasa dalam mengembangkan pemikiran-pemikiran filsafat, ialah . Jerman, . Perancis dan Inggris. Ciri-ciri pemikiran filsafat di Perancis dan Inggris ial,ah positivistis, rational, skeptis dan sekuler. Aliran ini mengklaim bahwa hal-hal yang tidak rational harus tunduk kepada prinsip-prinsip yang rational. Aliran pemikiran ini antara lain mengatakan bahwa kepercayaan-kepercayaan gaib yang diajarkan oleh agama harus ditolak dengan alasan bahwa agama adalah alat bagi para pendeta dan pejabat-pejabat agama untulc menunjukkan rakyat banyak bagi kepentingan mereka. Sebaliknya dari pemikiran-pemikiran di Perancis dan Inggris itu, ialah pemikiran-pemikiran filsafat di Jerman. Ciri pemikiran di Jerman pada waktu itu antara lain menekankan bahwa agama tidak dapat dipaharni secara rational sebagaimana diusulkan oleh pemikir-pemikir filsafat di Perancis dan Inggris. Agama secara sui generis memiliki metodanya sendiri. Seorang tokoh ilmu agama yang ternama Joachim Wach . mengomentari sikap kedua arus pemikiran di atas sebagai berikut: "Setelah menguraikan hakekat dan tugas ilmu perbandingan agama, sekarang kita akan membahas metode yang harus diikuti. Sudah banyak pertentangan yang timbul selama sepuluh tahun terakhir ini yang berkisar antara dua macam aliran Yang satu bersikeras bahwa metode untuk mempelajari agama seharusnya adalah sui generis yang sama sekali tidak dapat dibandingkan atau dikaitkan dengan metode-metode yang terdapat dalam pelbagai bidang pengetahuan lainnya. Yang lain tanpa mengindahkan sifat permasalahan yang diteliti mempertahankan bahwa satu-satunya metode yang sah adalah apa yang disebut dengan. metode "ilmiah". sini istilah ilmiah dimaksud dalam pengertian ganda: dalam pengertian yang sempit istilah tersebut menunjuk pada metode yang dipergunakan dalam ilmu pengetahuan alam, dan dalam pengertian yang lebih luas menunjuk kepada setiap cara kerja yang menggunakan disiplin logis dan saling kaitan antara premis-premis yang telah ditentukan sebelumnya dengan jelas. Kedua pendekatan tersebut kurang kuat. Dalam ilmu perbandingan agama modern sudah mulai diperkenalkan sintesa. Beranjak dari aliran pemikiran yang kedua, kita melihat alasan yang tepat untuk menentang aliran pluralisme yang menjemukan atau aliran dualisme dalam mencuatkan persoalan metode dan pengetahuan. Kebenaran adalah tunggal, dan alam juga tunggal, sehingga pengetahuan juga harus tunggal. Pandangan ini sangat penting. Sungguhpun kita tidak akan sependapat dengan penafsiran positivistis terhadap prinsip ini, namun kita harus memasukkannya ke dalam metodologi atas dua syarat. Syarat pertama ialah bahwa metode tersebut harus terpadu. Sebagaimana yang dikehendaki Aristoteles. Aquinas. Leibniz, dan Whitehead. Semua faham idealisme dan semua aliran naturalisme - termasuk materialisme - tegak dan runtuh dengan metode monisme. Tetapi membayangkan adanya satu macam kebenaran adalah satu hal yang tersendiri, dan memiliki atau mema. aminya adalah hal yang lain. Kita hendaknya realistis daliAAn melihat kebijaksanaan yang mulia pada kata-kata rasul, bahwa di dunia ini kita hanya mengetahui sebagian saja, sehingga harus dikatakan bahwa hanya Tuhan sendirilah yang dapat memahami keseluruhan. Syarat yang kedua ialah bahwa metode tersebut harus sesuai dengan persoalan yang diteliti. Syarat ini memberi sifat kepada prinsip yang pertama, yaitu prinsip keterpaduan Tidak sedikit para penulis teologi dan filsafat di pertengahan pertama abad ini yang telah menunjukkan kelemahan pendekatan ilmiah yang sempit dalam mempelajari agama. Banlak para ilmiawan terkenal yang mempertanyakan penerapan metode-metode 'Clan teknik-teknik eksperimen, kuantitatif, sebab-akibat terhadap dunia spiritual. Usaha filsafat mempertahankan kebebasan spiritual telah dilakukan dengan baik oleh Bergson. Dilthey. Balfour. Von Hugel. Troeltsch. Husserl. Scheler. Temple. Otto. Jung. Baillie. Berdyaev, dan lain-lainnya. Agar supaya metode tersebut dapat sesuai dengan persoalan yang sedang diteliti, maka harus difahami fenomena kepribadian, hakekat nilai, dan pengertian kebebasan. Dengan tepat dikatakan bahwa keseluruhan wilayah perorangan, yang erat kaitannya dengan masalah penelitian keagamaan, pasti akan tetap tertutup bagi peneliti yang tidak melakukan penyesuaian terhadap metodenya seperti yang dikehendaki oleh sifat Masa positivistis menunjang pendapat yang mengatakan teknik penelitian dapat diterapkan secara universal. Agama harus diselidiki secara eksak sebagaimana setiap gejala duniawi yang anorganik maupun yang organik. Dengan persyaratan seperti yang telah disebutkan di atas, maka masa baru ilmu perbandingan agama tersebut telah memperlihatkan munculnya persyaratan baru terhadap adanya suatu konsep metafisis yang akan mampu memberikan penilaian secara tepat terhadap hakekat gejala spiritual maupun gejala dunia fisik". Latar belakang itu melahirkan kristalisasi pemikiran yang timbul pada abad-abad sesudahnya dan yang sangat berpengaruh di dalam banyak hal, tennasuk dalam cara orang memahami agama. kristalisasi itu dapat dilihat di dalam tulisan-tulisan yang disumbangkan oleh Emile Durkheim . dan Max Weber . Kedua tokoh ini sangat mempengaruhi para ahli sosiologi dalam prinsip, prosedur dan pendekatan mereka terhadap agama seperii akan dijelaskan di bawah ini. Paling tidak ada dua tipe utama teori tentang agama yang dikembangkan oleh para sarjana-sarjana sosial. Kedua teori sosial itu ialah: . agama dipelajari dalam hubungan timbal-balik dengan struktur sosial, . studi agama sebagai ma,salah pokok dalam memahami teori tindakan. Agama dan struktur Sosial. Para sarjana sosiologi yang mempelajari agama dalam hubungan timbal-balik dengan struktur sosial tidak menanyakan tentang hakikat agama, melainkan mereka menyelidiki tempat agama dan penganutannya dalam kehidupan sosial. Bentuk-bentuk pertanyaan yang ingin dicari jawabannya oleh mereka adalah" Kondisi-kondisi sosial apakah yang mendorong untuk pembentukan wawasan agama tentang kehidupan? Kondisi-kondisi sosial apakah yang membantu atau memperlambat wawasan itu? Proses-proses sosial apakah yang memperkuat rasa pengabdian beragama dan proses sosial apakah yang memperlemahnya? Bagaimanakah nilai-nilai agama dalam hubungannya dengan pola kehidupan masyarakat suku terasing, masyarakat pedesaan dan pola kehidupan masyarakat modem yang serba kompleks? Perobahan-perobahan apakah yang terjadi terhadap agama di bawah tekanan berbagai pandangan hidup? Proses-proses dan pengaruh sosial apakah yang terjadi terhadap perobahan-perobahan keagamaan dari animisme primitif ke polyteisme dewa-dewa? Bagaimanakah pengaruh agama terhadap sistem sosial yang kompleks, seperti negara dengan sistem kerajaan, sistem kasta, fcodalisme dan demokrasi? Para sarjana sosiologi telah lama mencoba untuk memberikan jawaban-jawaban yang sifatnya hipotetis terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas. Dalam abad XVI. Machiavelli melalui tulisannya Discourses telah berusaha memberikan suatu analisa fungsional tentang agama Romawi dalam hubungan dengan sistem sosial. Bangsa Romawi memiliki sistem pemerintahan yang dibentuk berdasarkan sistem sosial Sistem keagamaan dan sistem pemerintahan pada bangsa Romawi adalah sama, yaitu polyteisme dengan dewa tertinggi sama dengan sistem pemerintahan mereka, yaitu sistem senat dengan ketua dan anggota-anggota. Begitu pula Durkheim . menganggap agama sebagai "variabel" di dalam studinya tentang bunuh diri . Durkheim mulai dengan pengamatan statistis bahwa angka bunuh diri antara orang-orang Katolik lebih rendah daripada antara orang-orang Protestan. Dalam penelitian selanjutnya ia menarik kesimpulan, bahwa faktor utama yang menentukan dalam gejala ini adalah integrasi sosial. Perumusan analisanya dapat diutarakan sebagai berikut: . Integrasi dan kohesi sosial dapat memberi dukungan batin kepada anggota kelompok yang mengalami kegelisahan dan tekanan-tekanan jiwa yang hebat. Angka bunuh diri adalah fungsi dari kegelisahan dan tekanan-tekanan jiwa yang terus-menerus yang dialami orang-orang tertentu. Orang Katolik mempunyai kohesi sosial yang lebih kuat daripada orang-orang Protestan. Karena itu, dapat diharapkan bahwa angka bunuh diri antara orang-orang Katolik akan lebih rendah daripada orang-orang Protestan. Sarjana sosiologi yang paling berjasa dalam mensistematikkan adanya hubungan timbal-balik antara agama dan struktur sosial, dengan tidak ragu-ragu lagi, ialah Max Weber . Dia dianggap Bapak Sosiologi Agama. Dia berkebangsaan Jerman. Dia seorang ahli hukum, tetapi juga mendalami soal-soal ekonomi. Weber dan teman-teman sejawatnya, terutama Werner Sombart . sangat berjasa di dalam mempelajari hubungan antara agama dengan ekonomi. Pokok pikiran Weber ialah agama Kristen Barat sebagai suatu keseluruhan dan teristimewa beberapa firkah . tertentu yang tumbuh dan muncul sebagai akibat Gerakan Reformasi telah banyak membantu terbentuknya suatu keadaan "jiwa-perekonomian" (Wirtschaftsgesinnun. yang memungkinkan terjadinya kapitalisme modem. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa agama sangat mempengaruhi pandangan manusia terhadap masyarakat. Dalil Weber bukannya tidak pernah diverifikasi di Indonesia. Masyarakat Mojok-uta (Jati. dan Tabanan (Bal. telah pernah diteliti oleh Prof. Clifford Geertz antara tahun 1952-1954 dan 1957-1958. Kedua masyarakat kota ini, menurut Geertz, dengan melalui proses sejarah pertumbuhan yang berbeda telah menghasilkan segolongan pengusaha pribumi yang mempunyai sikap dan ti:ngkah laku ekonomi yang serupa. Di Mojokuto, golongan ini muncul dari kaum santri yang berpikiran maju, yang memasuki sektor perdagangan, umumnya sebagai pedagang kecil, bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di daerah sekelilingnya dan kota itu sendiri. Di Tabanan golongan ini muncul sesudah Revolusi fisik, ketika kemerdekaan mulai menimbulkan ancaman-ancaman langsung atas kehidupan para ningrat penguasa, yang kemudian menimbulkan desakan pada golongan ningrat ini untuk melakukan perubahan-perubahan yang fundamental dalam sikap hidup dan tingkah lakunya. Berlainan dengan Mojokuto, di Tabanan, golongan pengusaha pribumi itu berasal dari kaum ningrat penguasa priyayi Pamongpraja-nya Bali. Agama dalam kerangka teori tindakan. Tindakan manusia selalu dihubungkan oleh para sarjana sosiologi agama dalam hubungan dengan masalah-masalah yang di luar jangkauan akal pikiran. Tindakan manusia akan dapat dipelajari dalam mekanisme yang tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam diri manusia, seperti: Mengapa saya harus mati? Mengapa sang kekasih harus mati di masa remaja yang belum terpuaskan? Mengapakah petualangan itu sedemikian rupa sehingga kita ingin kembali mengulanginya? Mengapa kita harus sakit? Pada titik-titik kritis . reaking point. ini, atau apa yang dinamakan oleh Weber sebagai "problem of meaning" ("masalah makna") tampil dalam bentuk yang paling mendesak dan parah. Situasi "di sini dan kekinian" menjadi bermakna karena disesuaikan dengan sesuatu yang di luar dunia kita . Mengapa manusia membutuhkan "sesuatu yang subordinasi terhadap pengalaman" atau dalam istilah Talcott Parsons "referensi transendental", sesuatu yang berada di luar dunia empiris sangat ditentukan oleh pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Weber, di samping Parsons, rupa-rupanya tidak menyendiri dalam pendapat di Dengan suara lain, tetapi bernada sama. Freud antara lain mengatakan bahwa agama juga membantu pengendalian sosial dengan membuat manusia menjauhi kecenderungan anti sosial, setidak-tidaknya sampai suatu tingkat yang dapat ditolerir. Memang, di samping itu. Freud juga mengatakan agama adalah sebuah ilusi, karena alasan-alasan psikoanalitis yang cukup berarti bahwa "pemenuhan keinginan merupakan faktor tertinggi dalam motivasi manusia". Dalam perkembangan selanjutnya, agama dalam kerangka teori tindakan diformulasikan dalam sistem simbol . eligious symbol. yang untuk ringkasnya dapat dipahami dalam definisi Clifford Geertz yang berbunyi "Religion is a system of symbols which acts to establish powerful, pervasive, and long-lasting moods and motivations in men by formulating conceptions of a general order of existence and clothing these conceptions with such an aura of factuality that the moods and motivations seen uniquely realistic. Penelitian tentang agama sebagai sistem simbol sudah berkembang pada masa mutakhir ini yang dikenal dengan model si bernetika (Cybernetic Mode. Buku-buku yang dibaca untuk menyusun artikel ini antara lain ialah: Banton. Michael (Ed. 1966 Anthropological Approaches to the Study of Religion. London: Tavistock. Dea. Thomas F. 1966 The Sociology of Religion. New Jersey: Prentice-Hall. Inc. Geenz. Qifford 1973 Penjaja dan Raja. Terjemahan S. Supomo. Kata Pengantar Dorodjatun Kuntjoro-Jakti. Jakarta: Buku obor. Merton. Robert K. 1957 Social Theory and Social Structure. New York: The Free Press of Glencoe. Moberg. David 0. 1962 The Church as a Social Institution: the Sociology of American Religion. New Jersey: Prentice-Hall. Inc. Parsons. Talcott, et al. 1965 Theories of Society: Foundations of Modern Sociological Theory. New York: The Free Press of Glencoe.