Standpoint Suicide Attempts Dalam Film Kembang Api Artaji Rahmansyah . Anis Endang SM . Martha Herinazwi Dianthi . 1,2,. Universitas Dehasen Bengkulu Email: . arvnar7@gmail. ARTICLE HISTORY Received . Mei 2. Revised . Juni 2. Accepted . Juni 2. KEYWORDS Suicide. Film. Standpoint. Semiotic Analysis. Mental Health. This is an open access article under the CCAeBY-SA license ABSTRAK Bunuh diri adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius, dengan sekitar 800. kematian setiap tahun menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Di Indonesia, kasus bunuh diri meningkat mencapai 971 insiden pada tahun 2023. Film "Kembang Api" mengangkat isu kesehatan mental, bunuh diri dan menekankan pentingnya nilai hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alasan dibalik percobaan bunuh diri dalam film "Kembang Api" melalui perspektif Standpoint menggunakan analisis semiotika Roland Barthes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mencakup analisis terhadap tanda-tanda visual dan verbal dalam film untuk mengungkap beban emosional dan psikologis yang dialami oleh karakter-karakternya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanda-tanda ini mencerminkan beban emosional dan psikologis yang berat, memperkuat representasi alasan para tokoh dalam film mempertimbangkan bunuh diri. Film ini menggambarkan kompleksitas emosi dan perjuangan setiap tokoh, menekankan pentingnya empati, dukungan sosial dan pemahaman terhadap masalah kesehatan Dengan demikian, film "Kembang Api" menjadi cermin sosial yang mengajak penonton memahami dan mendukung individu yang berjuang dengan masalah emosional dan psikologis. ABSTRACT Bunuh diri adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius, dengan sekitar 800. kematian setiap tahun menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Di Indonesia, kasus bunuh diri meningkat mencapai 971 insiden pada tahun 2023. Film "Kembang Api" mengangkat isu kesehatan mental, bunuh diri dan menekankan pentingnya nilai hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alasan dibalik percobaan bunuh diri dalam film "Kembang Api" melalui perspektif Standpoint menggunakan analisis semiotika Roland Barthes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mencakup analisis terhadap tanda-tanda visual dan verbal dalam film untuk mengungkap beban emosional dan psikologis yang dialami oleh karakter-karakternya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanda-tanda ini mencerminkan beban emosional dan psikologis yang berat, memperkuat representasi alasan para tokoh dalam film mempertimbangkan bunuh diri. Film ini menggambarkan kompleksitas emosi dan perjuangan setiap tokoh, menekankan pentingnya empati, dukungan sosial dan pemahaman terhadap masalah kesehatan Dengan demikian, film "Kembang Api" menjadi cermin sosial yang mengajak penonton memahami dan mendukung individu yang berjuang dengan masalah emosional dan psikologis. PENDAHULUAN Bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius dan salah satu penyebab kematian terbesar di seluruh dunia. Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan sekitar 000 orang meninggal setiap tahunnya akibat bunuh diri, dengan satu kematian setiap 40 detik (Abudi, 2. Tren bunuh diri meningkat secara global, termasuk di Indonesia, dimana Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusikna. Kepolisian Republik Indonesia (Polr. mencatat 971 insiden bunuh diri dari Januari hingga 18 Oktober 2023, melebihi 826 kejadian sepanjang tahun 2022. Di Bengkulu, angka bunuh diri juga meningkat. Menurut Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Indonesia, terdapat 22 kasus bunuh diri di Bengkulu dari Januari hingga Oktober 2023. Provinsi ini termasuk salah satu dengan tingkat percobaan bunuh diri tertinggi di Indonesia. Peningkatan ini memerlukan perhatian serius dari semua pihak untuk menyelidiki faktor-faktor penyebab agar dapat diambil langkah pencegahan yang efektif. Bunuh diri dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, status sosial, atau Beragamnya lika-liku hidup seringkali menjadikan bunuh diri sebagai solusi untuk mengakhiri penderitaan, meskipun kehidupan adalah anugerah dari Tuhan (Kurniawan, 2. Salah satu cara memahami isu bunuh diri adalah melalui representasinya dalam media massa, termasuk film. Film memiliki kekuatan besar untuk merefleksikan realitas kehidupan, menyampaikan pesan budaya, dan memberikan wawasan tentang isu-isu penting seperti kesehatan mental (Effendy, 2009. Fandi, 2. Melalui film, kita dapat meningkatkan kesadaran, mengurangi stigma, dan menyebarkan pesan penting tentang kesehatan mental kepada masyarakat. Film Aukembang ApiAy, disutradarai oleh Herwin Novianto dan diadaptasi dari film Jepang '3ft Ball and Souls' karya Yoshio Kato, secara khusus mengangkat isu kesehatan mental dan bunuh diri. Film ini, dirilis pada 2 Maret 2023, menceritakan tentang empat individu yang berencana melakukan aksi bunuh diri Jurnal Professional. Vol. 11 No. 1 Juni 2024 page: 451 Ae 460 | 451 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X bersama: Sukma (Marsha Timoth. Raga (Ringgo Agus Rahma. Fahmi (Donny Damar. , dan Anggun (Hanggini Purinda Rett. Penelitian ini bertujuan menganalisis standpoint dari para pemeran dalam film AoKembang ApiAo mengenai alasan mereka melakukan tindakan bunuh diri, menggunakan teori semiotika Roland Barthes: denotasi, konotasi, dan mitos. Analisis semiotika ini memungkinkan kita memahami bagaimana film membangun pesan, memengaruhi penonton, dan merepresentasikan realitas sosial. Berdasarkan latar belakang tersebut. LANDASAN TEORI Film Merupakan bagian dari media komunikasi massa, film menurut kamus besar Bahasa Indonesia merujuk pada pita rekaman gambar bergerak atau berhenti, dan juga dapat merujuk pada kegiatan pembuatan film. Film juga diartikan sebagai lakon . gambar hidup. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman pada Bab 1 Pasal 1 menyebutkan, yang dimaksud dengan film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan. Bunuh Diri Menurut Keliat . dalam (Johan, 2. , bunuh diri merujuk pada tindakan sabotase diri dengan penolakan untuk menghadapi situasi yang terasa tidak dapat diatasi. Tindakan ini bersifat agresif dan merusak diri sendiri, mencerminkan kondisi darurat psikiatri pada individu yang mengalami tingkat stres yang tinggi dan menggunakan strategi koping yang tidak sesuai. Selanjutnya, bunuh diri diartikan sebagai perilaku yang merugikan integrasi diri dan mengakhiri hidup, dan biasanya diawali oleh respons yang tidak sesuai serta mungkin merupakan keputusan akhir dari individu untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Bunuh diri adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang karena tekanan yang muncul ketika mereka merasa tidak mampu menghadapi tantangan hidup. Selain itu, pelaku bunuh diri seringkali kurang memahami norma-norma agama atau perilaku yang dianggap berisiko menurut ajaran agama. Mayoritas individu yang terlibat dalam perilaku bunuh diri didorong oleh gangguan psikis dan masalah kesehatan mental, sehingga mereka memilih untuk mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Teori Standpoint Teori Standpoint adalah kerangka teoritis kritis yang dikembangkan oleh Sandra Harding dan Patricia Hill Collins. Selanjutnya, teori ini diterapkan dalam studi ilmu komunikasi oleh Julia Wood dan Marsha Houston. Teori standpoint menginvestigasi bagaimana kondisi kehidupan sesorang memengaruhi aktivitas mereka dalam memahami dan membentuk realitas sosial (Littlejhon & Foss, 2. dalam (Fitri, 2. Teori standpoint mengeksplorasi bagaimana kondisi individu memengaruhi aktivitas mereka dalam memahami dan membentuk realitas sosial. Pemahaman awal terhadap pengalaman bukanlah terkait dengan kondisi sosial, harapan peran, atau definisi gender, melainkan terkait dengan cara unik di mana individu membentuk kondisi dan pengalaman mereka di dalamnya (Mulyadi, 2. Teori standpoint adalah teori yang menekankan pentingnya memahami pengetahuan dan pemahaman kita tentang dunia dibentuk oleh pengalaman dan posisi kita dalam masyarakat. Oleh karena itu, untuk memahami alasan seseorang untuk melakukan tindakan bunuh diri dalam sebuah film, kita perlu memahami pengalaman dan posisi karakter tersebut dalam masyarakat. Faktor-faktor seperti ras, gender, kelas sosial, orientasi seksual dan agama dapat menjadi bagian dari pengalaman dan posisi tersebut. Semiotika Roland Barthes Teori ini diperkenalkan oleh Roland Barthes . , di mana ia mengembangkan semiotika menjadi dua tingkatan pertandaan, yakni tingkat denotasi dan konotasi. Denotasi mengacu pada tingkat pertandaan yang menjelaskan keterkaitan antara penanda dan petanda terhadap realitas, menghasilkan makna yang jelas, langsung, dan pasti. Sebaliknya, konotasi mengacu pada tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda di mana terdapat makna yang tidak terungkap secara eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti. (Kusumarini, 2. Menurut Roland Barthes bahasa merupakan suatu sistem tanda yang mencerminkan asumsiasumsi dari suatu masyarakat pada saat tertentu. Sistem denotasi, sebagai sistem tanda tingkat pertama, terbentuk oleh rangkaian penanda dan petanda, yang merupakan hubungan material atau konsep abstrak di baliknya. Dalam perspektif Roland Barthes. Makna konotasi dari pernyataan tersebut merujuk pada suatu tindakan ideologis yang disebut sebagai "mitos. " Tindakan ini berperan dalam 452 | Artaji Rahmansyah. Anis Endang. Martha Herinazwi Dianthi . Standpoint Suicide Attempts . mengungkapkan dan memberikan legitimasi pada nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu waktu Konotasi dibangun sebagai suatu jalinan makna yang sudah ada sebelumnya, atau dengan kata lain, dapat dianggap sebagai sistem makna tingkat kedua (Wibisono & Sari, 2. METODE PENELITIAN Metode Analisis Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes. Data dikumpulkan melalui dokumentasi dan observasi langsung terhadap film "Kembang Api" dengan menonton film tersebut yang berdurasi 105 menit juga menonton trailernya, setelah itu memilih adegan . yang menunjukan mengapa ke 4 tokoh tersebut ingin bunuh diri untuk dianalisis. Analisis tersebut dilakukan dengan menerapkan konsep pemaknaan denotasi, konotasi, dan mitos yang diperkenalkan oleh Roland Barthes. Teknik analisa data yang digunakan pada penelitian ini dibagi menjadi 4 tahap yakni, memilih scene yang berkaitan alasan ke 4 tokoh tersebut ingin bunuh, menemukan makna denotasi dan konotasi dengan menggunakan codes of television yang dikemukakan oleh Jonathan Bignell . , kemudian menjelaskan mitos disetiap scene. Dan terakhir menemukan standpoint alasan para tokoh ingin melakukan bunuh diri. Teknik analisis data melibatkan identifikasi dan interpretasi tanda-tanda visual dan verbal yang mencerminkan beban emosional dan psikologis karakter dalam film. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pada bagian ini, hasil penelitian akan dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap denotasi dan konotasi. Aspek mitos akan dijelaskan dalam bagian konotasi. Penelitian ini menggunakan semiotika Roland Barthes, di mana analisis denotasi digunakan sebagai langkah awal dalam proses analisis makna sebelum melanjutkan ke analisis konotasi. Tujuan dari analisis konotasi adalah untuk mengungkap mitos atau ideologi tersembunyi dalam teks media pada film "Kembang Api". Tabel 1 Tokoh Fahmi Data yang Dianalisis dalam Tahap Denotasi Gambaran cerita : Pada adegan menit 48:42 Ae 52:47. Fahmi sibuk memeriksa kembang api yang ia buat dengan wajah tegang. Pada hari itu, ketika mencoba memicu peledakan kembang api dengan harapan menciptakan keajaiban warna dan cahaya, kembang api tersebut gagal meledak sebagaimana mestinya. Kategori Shot Kamera : Teknik long-shot dan close-up Kategori Lightning : Low-key Sound Musik : backsound instrumental Seorang kepala rumah tangga bernama Fahmi yang kehilangan pekerjaannya dan menghadapi tuntutan ganti rugi yang besar. Ekspresi wajah Fahmi menunjukkan rasa tak berdaya dan putus asa, serta ketidakpercayaan terhadap situasinya yang memicu kebingungan dan frustrasi. Tatapan kosongnya mencerminkan kekhawatiran tentang masa depan keluarganya. Latar tempat yang luas dan sepi menegaskan perasaan gagal Fahmi, sementara kembang api yang gagal dinyalakan melambangkan usaha sia-sia dan ketidakmampuannya mencapai tujuan. Teknik kamera menyoroti wajah panik, cemas, dan bingung Fahmi, dengan pencahayaan redup untuk menekankan ketegangan dan ketidakberdayaan. Dalam pandangan masyarakat, seorang kepala keluarga seperti Fahmi, yang mengalami kegagalan Jurnal Professional. Vol. 11 No. 1 Juni 2024 page: 451 Ae 460 | 453 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X dalam pekerjaan dan harus mengganti rugi sebesar 1,3 miliar rupiah, dianggap gagal dalam menafkahi Kepala keluarga diharapkan dapat menjalankan kewajibannya mencari nafkah dengan baik dan menghindari masalah yang menyebabkan kerugian finansial. Di masyarakat Indonesia, terdapat mitos kuat bahwa individu harus menunjukkan ketangguhan dalam menghadapi masalah. Dipecat dan memiliki hutang besar dapat menyebabkan rasa malu yang mendalam dan kehilangan harga diri, dan masyarakat mungkin memandang individu tersebut dengan belas kasihan atau menganggapnya tidak Tabel 2 Tokoh Raga Data yang Dianalisis dalam Tahap Denotasi Gambaran Cerita : Raga, seorang dokter yang dulu dihormati, mengalami kegagalan tragis ketika operasi yang ia lakukan menyebabkan kematian pasien dan bayinya. Trauma ini membuatnya gemetar dan mengganggu kinerjanya. Rumah sakit akhirnya menghentikan sementara pekerjaannya karena dianggap tidak lagi dapat dipercaya. Keputusan ini menghancurkan Raga, membuatnya merasa bersalah, malu, dan tidak memiliki tempat di Kategori shot kamera : full-shot, long-shot, close up. Kategori Lightning : low-key Sound Musik : lagu dari Feby Putri Nilam Cahyani dan Fiersa Besari dengan judul AuRuntuhAy Seorang dokter yang mengalami trauma setelah kegagalan operasi yang menyebabkan kematian Kegagalan ini membuatnya merasa bersalah, malu, dan akhirnya dipecat oleh rumah sakit. Raga merasa dunianya runtuh dan tidak bisa menghadapi keluarganya, hingga beberapa kali mencoba bunuh diri. Adegan ini menggambarkan krisis identitas dan kehancuran emosional Raga melalui ekspresi wajah, teknik kamera, pencahayaan, dan musik. Masyarakat cenderung memandang negatif orang-orang yang mengalami kegagalan profesional, menganggap mereka tidak kompeten dan tidak dapat Hal ini mengakibatkan stigma sosial yang berat, di mana individu yang dianggap kurang profesional sering dikucilkan atau diasingkan, kehilangan dukungan sosial, dan menghadapi penolakan. Raga merasakan tekanan untuk selalu berhasil, dan stigma kegagalan menghancurkan harga dirinya. Masyarakat menilai tidak hanya kemampuan profesional tetapi juga integritas dan karakter individu yang gagal, menyebabkan krisis identitas yang mendalam bagi orang seperti Raga, yang merasa tidak lagi layak atau berharga dalam peran profesionalnya. Tabel 3 Tokoh Sukma Data yang Dianalisis dalam Tahap Denotasi Gambaran Cerita : Sukma, seorang istri dan ibu, membawa anaknya Darwin yang masih kecil menuju kantor suaminya karena kesibukan suaminya yang jarang ada di rumah. perjalanan itu, kehidupan mereka tiba-tiba terguncang oleh kecelakaan yang merenggut 454 | Artaji Rahmansyah. Anis Endang. Martha Herinazwi Dianthi . Standpoint Suicide Attempts . Darwin. Sukma terluka dalam dan luar, memikul rasa bersalah yang tak terhapuskan atas kejadian tersebut. Meskipun didukung oleh orang-orang terdekat. Sukma tetap merasa sendirian dalam badai kesedihan yang menghantuinya setiap hari. Kategori shot kamera : Teknik long-shot, close up. Kategori Lightning : High key. High contrast. Low-key. Sound Musik : backsound yang tajam dan mencekam dan backsound instrumental dengan tempo yang lambat Adegan ini menunjukkan kebahagiaan Sukma bersama anaknya Darwin sebelum kecelakaan fatal yang mengubah segalanya. Kehilangan Darwin merusak kehidupan Sukma, memenuhinya dengan kesedihan dan penyesalan yang tak terobati, meskipun ada dukungan dari suami dan orang-orang Masyarakat sering sulit memahami atau menerima masalah kesehatan mental, terutama yang disebabkan oleh trauma dan kehilangan. Ada mitos bahwa dukungan keluarga seharusnya cukup untuk mengatasi kesedihan. Perasaan kehilangan, krisis identitas, dan kekecewaan membuat Sukma mengalami masalah kesehatan mental dan mencoba bunuh diri. Beban emosional berat sering ditempatkan pada wanita, terutama ibu, yang diharapkan selalu kuat. Kelemahan emosional sering dianggap sebagai ketidakmampuan. Kisah Sukma menunjukkan bahwa kehilangan anak memiliki dampak mendalam pada kesehatan mental dan dukungan keluarga saja tidak selalu cukup. Pemahaman dan dukungan lebih luas dari masyarakat diperlukan untuk membantu individu seperti Sukma yang mengalami krisis identitas dan kehilangan. Tabel 4 Tokoh Anggun Data yang Dianalisis dalam Tahap Denotasi Gambaran Cerita : Anggun karakter termuda dalam film ini, menjadi korban perundungan yang kejam di sekolahnya. Bukti-bukti seperti poster dan foto-foto tidak senonoh yang ditemukan di tasnya digunakan oleh teman-temannya untuk mengejek, menyebarkan gosip jahat dan bahkan meminta uang darinya. Anggun merasa terisolasi dan terjebak dalam kegelapan pikiran, sehingga memunculkan pikiran untuk bunuh diri sebagai jalan keluar dari Dia berharap tindakannya bisa membuat orang lain menyadari kekejaman perundungan dan mencegah hal serupa terjadi di masa depan. Kategori Shot Kamera : Teknik long-shot, close up Kategori Lihgtning : Low-key. High key. Sound Musik : Backsound dengan tempo yang cepat denga melodi melankolis. Pada awal scene. Anggun terlihat sangat takut dan gelisah setelah dilecehkan oleh temantemannya. Meskipun merasa marah dan ingin mengungkapkan penderitannya, ia menyembunyikan hal tersebut dari Ibunya dengan pura-pura bahagia. Bahkan. Anggun merasa putus asa sampai ingin bunuh diri, berharap pelaku perundungan menyesal. Anggun, yang menjadi korban perundungan, merasa terjebak dalam mitos bahwa mengungkapkan penderitannya akan membuatnya terlihat lemah di mata orang lain. Rasa malu, ketakutan, dan tekanan sosial membuatnya memilih untuk menyimpan masalahnya sendiri. Dia merasa bahwa tidak ada yang benar-benar mengerti atau bisa membantu, dan takut diasingkan lebih jauh oleh teman-temannya. Terlebih lagi. Anggun merasa bahwa masyarakat cenderung meremehkan dampak dari perundungan, sehingga ia memilih untuk menutupi kelemahannya dengan perilaku yang tidak baik, seperti mengambil uang tanpa izin. Jurnal Professional. Vol. 11 No. 1 Juni 2024 page: 451 Ae 460 | 455 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian dan observasi tersebut penulis mendapatkan standpoint dari ke 4 tokoh dalam film Aukembang apiAy dari berbagai aspek yang relate dengan ke 4 tokoh dalam film tersebut. Karakter Fahmi Karakter Fahmi dalam film "Kembang Api," mengungkapkan bagaimana tekanan ekonomi dan kegagalan profesional dapat mendorong seseorang ke ambang keputusasaan. Fahmi, seorang teknisi di pabrik kembang api yang berdedikasi, mengalami kegagalan dalam pertunjukan kembang api yang diharapkan akan menjadi puncak pertunjukan dalam sebuah event. Kegagalan ini tidak hanya mengakibatkan kehilangan pekerjaan tetapi juga menuntutnya untuk mengganti rugi sebesar 1,3 miliar rupiah, jumlah yang tak terbayangkan bagi seseorang dengan latar belakang ekonomi seperti Fahmi. Teknik long-shot dan close-up yang digunakan secara efektif menyoroti latar dan emosi karakter, sementara lighting low-key dan backsound dengan tempo lambat memperkuat suasana tegang dan Fahmi digambarkan sebagai figur yang tidak berdaya dan putus asa, yang akhirnya mempertimbangkan bunuh diri sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah keuangan keluarganya melalui uang asuransi. Dalam pandangan masyarakat, tindakan Fahmi mungkin dipandang sebagai hasil dari ketidakmampuan untuk mengatasi tekanan ekonomi yang besar, dan ada ekspektasi bahwa seorang kepala keluarga harus mampu menanggung beban tersebut tanpa menunjukkan kelemahan. Karakter Raga Karakter Raga dalam film AoKembang ApiAo yang menunjukkan bagaimana kegagalan profesional dan trauma emosional dapat menghancurkan kehidupan seseorang, terutama dalam profesi yang sangat diandalkan seperti dokter. Raga, yang dulunya dihormati dan diandalkan oleh pasien-pasiennya, mengalami kegagalan tragis saat melakukan operasi yang berujung pada kematian pasien dan bayi yang Trauma ini mengguncang keyakinan Raga sebagai dokter dan menyebabkan gejala psikologis seperti tremor yang menghambat kinerjanya. Pihak rumah sakit memutuskan untuk menghentikan tugas Raga hingga kondisinya membaik. Raga merasa dunianya runtuh. Rasa bersalah dan malu yang mendalam mendorongnya untuk mencoba bunuh diri beberapa kali. Teknik full-shot dan long-shot yang digunakan secara efektif menyoroti tempat percobaan bunuh diri Raga dan latar ruang operasi, sementara teknik close-up menangkap detail ekspresi wajahnya setelah percobaan bunuh diri, menunjukkan ketakutan dan kekecewaannya. Lighting low-key menciptakan suasana dramatis dan memperkuat kesan kegagalan dan kesedihan yang dialami Raga. Musik backsound dengan dentingan piano lembut serta lagu "Runtuh" dengan lirik yang menyentuh hati memperdalam nuansa kesedihan dan keputusasaan. Karakter Raga dalam film "Kembang Api" menggambarkan dampak traumatis dari kegagalan profesional dan tekanan sosial terhadap kesehatan mental seseorang. Mitos sosial yang mengharuskan individu untuk selalu kuat dan sukses memperburuk kondisi emosional Raga, menyebabkan dia merasa tidak memiliki jalan keluar selain mengakhiri hidupnya. Kegagalan Raga bukan hanya soal profesionalisme, tetapi juga tentang beban emosional dan psikologis yang datang dengan ekspektasi sosial yang tinggi terhadap peran seorang dokter. Karakter Sukma Karakter Sukma dalam film AoKembang ApiAo menggambarkan dampak mendalam dari trauma dan rasa bersalah setelah kehilangan anaknya dalam kecelakaan mobil. Sukma, yang awalnya digambarkan sebagai ibu yang bahagia dan penuh cinta, mengalami perubahan drastis setelah kecelakaan tragis yang menewaskan anaknya. Darwin. Trauma dan penyesalan yang mendalam menghantui Sukma, menyebabkan depresi berat dan keinginan untuk bunuh diri. Teknik long-shot dan close-up yang digunakan secara efektif menyoroti latar tempat dan emosi karakter, sementara lighting high-key dan low-key serta backsound yang tajam dan lambat memperkuat suasana tragis dan emosional. Sukma digambarkan sebagai ibu yang penuh kasih namun dihantui oleh rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam setelah kehilangan anaknya dalam kecelakaan yang dia anggap sebagai kesalahannya. Sukma dalam film ini mencerminkan dampak traumatis dari kehilangan yang tidak hanya mempengaruhi kesehatan mental tetapi juga identitas dan fungsi sosial seseorang. Harapan sosial yang tinggi terhadap kekuatan emosional dan stigma terhadap kelemahan psikologis memperparah penderitaan Sukma, membuatnya merasa tidak ada jalan keluar selain mengakhiri hidupnya. Film ini mengajak penonton untuk lebih memahami dan menerima kerentanan emosional serta pentingnya dukungan mental yang lebih mendalam bagi individu yang mengalami trauma. 456 | Artaji Rahmansyah. Anis Endang. Martha Herinazwi Dianthi . Standpoint Suicide Attempts . Karakter Anggun Karakter Anggun dalam film AoKembang ApiAo menggambarkan dampak mendalam dari perundungan . di sekolah. Anggun, yang merupakan karakter termuda di antara ketiga tokoh utama, menghadapi kekerasan dan intimidasi dari teman-temannya yang menyebabkan tekanan emosional dan psikologis yang berat. Perundungan ini tidak hanya mencakup pelecehan verbal dan fisik tetapi juga pemerasan dan penyebaran foto-foto tidak senonoh. Dampak dari perlakuan ini membuat Anggun mempertimbangkan bunuh diri sebagai jalan keluar dari penderitaannya. Teknik long-shot dan close-up yang digunakan secara efektif menyoroti latar dan emosi karakter, sementara lighting low-key dan backsound dengan tempo cepat dan melodi melankolis memperkuat suasana ketegangan dan Anggun dalam film AoKembang ApiAo ini mencerminkan dampak traumatis dari perundungan yang dapat menyebabkan isolasi sosial, depresi, dan keinginan untuk bunuh diri. Harapan sosial dan stigma terhadap korban perundungan memperburuk situasi, membuat korban merasa sendirian dan tidak mampu mencari bantuan. Masyarakat mungkin melihat Anggun sebagai individu yang lemah atau tidak mampu melawan. Mereka mungkin menyalahkan Anggun karena tidak memberikan perlawanan atau melaporkan kejadian perundungan tersebut. Masyarakat sering kali tidak memahami betapa sulitnya kondisi yang dihadapi oleh Anggun dan cenderung meremehkan dampak serius dari perundungan. Film ini mengajak penonton untuk lebih memahami dampak serius dari perundungan dan pentingnya dukungan yang memadai bagi korban. Analisis Standpoint Theory dalam Film AoKembang ApiAo menyoroti bagaimana pengalaman hidup setiap karakter memengaruhi cara mereka memahami dan merespons realitas sosial mereka. Teori Standpoint yang dikembangkan oleh Sandra Harding dan Patricia Hill Collins, mengakui bahwa perspektif seseorang tidak terlepas dari kondisi sosial, harapan peran, atau definisi gender dan bahwa pengalaman individu tercermin dalam pemahaman mereka tentang dunia. Segi perspektif trauma dan penyesalan, karakter Fahmi (Langit Mendun. mengalami tekanan ekonomi yang besar setelah kehilangan pekerjaan dan harus membayar kompensasi atas kegagalan di tempat kerja. Hal ini membuatnya merasa terjebak dan mempertimbangkan bunuh diri sebagai solusi untuk mengakhiri penderitaannya. Sementara itu. Raga (Anggrek Hita. merasa terisolasi dan tidak kompeten setelah kegagalan operasi yang berujung pada kematian pasien, yang mengguncang identitas profesionalnya. Dia juga mempertimbangkan bunuh diri sebagai jalan keluar. Sedangkan Sukma (Tengkorak Puti. merasa bersalah dan traumatik setelah kehilangan anaknya dalam kecelakaan, yang membuatnya mengalami rasa penyesalan yang mendalam dan mempertimbangkan bunuh diri sebagai penyelesaian atas rasa sakitnya. Anggun, di sisi lain, merasakan dampak negatif dari bullying yang dia alami. Hal ini mengakibatkan dia juga mempertimbangkan bunuh diri sebagai cara untuk mengakhiri penderitaannya. Segi perspektif keluarga dan dukungan, setiap karakter mengalami perasaan tidak ada dukungan meskipun memiliki dukungan keluarga. Fahmi merasa bertanggung jawab untuk membiayai pendidikan anaknya yang menambah tekanan dalam hidupnya, merasa menanggung beban sendiri setelah dipecat dari pekerjaannya meskipun memiliki dukungan dari keluarganya. Raga, meskipun memiliki dukungan keluarga ia masih merasa terisolasi dalam penderitaannya setelah kegagalan Sukma juga merasa sendirian dalam penderitaannya meskipun memiliki dukungan keluarga terutama suaminya, suaminya mungkin mencoba memberikan dukungan, tetapi kesedihan dan rasa bersalah yang mendalam membuat Sukma merasa bahwa tidak ada yang benar-benar bisa Anggun, meskipun memiliki dukungan dari keluarganya terlebih dari ibunya, merasa tidak didukung oleh lingkungan sekitarnya setelah mengalami bullying. Ibunya mungkin mendukungnya secara emosional, tetapi kurangnya pemahaman dan dukungan dari lingkungan sekitar membuat Anggun merasa terasing. Segi perspektif identitas dan masa depan, setiap karakter merasa terganggu dan terancam dalam identitas dan masa depan mereka. Setelah kehilangan pekerjaannya Fahmi merasa identitasnya sebagai kepala keluarga dan penyedia utama terguncang, kehilangan pekerjaan dan memiliki hutang membuat Fahmi merasa tidak ada lagi yang berarti dalam hidupnya. Dengan tanggungan biaya pendidikan anak dan hutang yang besar masa depan Fahmi tampak suram. Beban finansial dan ketidakmampuan untuk memenuhi ekspektasi sosial sebagai kepala keluarga membuatnya merasa tertekan dan putus asa. Raga, seorang dokter mengalami krisis identitas setelah kegagalan operasi yang fatal. Identitas profesionalnya sebagai penyelamat hidup terganggu, menimbulkan perasaan tidak kompeten dan malu. Kegagalan operasi memengaruhi pandangan Raga tentang masa depannya di dunia medis. Trauma ini bisa menghancurkan kariernya dan membuatnya Jurnal Professional. Vol. 11 No. 1 Juni 2024 page: 451 Ae 460 | 457 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X mempertanyakan kemampuannya untuk melanjutkan profesi yang sangat ia cintai. Sukma merasa identitasnya sebagai seorang ibu terganggu setelah kehilangan anaknya dalam kecelakaan. Peran sebagai ibu sangat penting bagi dirinya, dan kehilangan ini menciptakan kekosongan besar dalam Kehilangan anak membuat Sukma merasa masa depannya tanpa tujuan. Anggun, seorang remaja yang menjadi korban bullying, merasa identitasnya terguncang oleh stigma negatif yang ditempelkan padanya. Pengalaman bullying merusak pandangannya tentang diri sendiri dan mengurangi rasa percaya dirinya. Anggun merasa masa depannya terancam karena bullying tersebut. Stigma dan pengalaman negatif ini dapat mempengaruhi kemampuan akademisnya, hubungan sosialnya dan prospek masa depannya secara keseluruhan. Dia merasa tidak memiliki tempat dalam masyarakat yang penuh prasangka. Segi perfektif perasaan terisolasi, setiap karakter mengalami perasaan terisolasi. Fahmi, meskipun keluarganya tetap mendukung setelah dipecat dari pekerjaannya Fahmi merasa menanggung beban Tekanan untuk memenuhi ekspektasi keluarga dan masyarakat sebagai pencari nafkah memperparah perasaannya. Raga, meski memiliki dukungan keluarga Raga merasa terjebak dalam penderitaannya trauma fisik dan emosional dari operasi yang gagal membuatnya merasa tidak ada yang benar-benar memahami penderitaannya. Sukma, meskipun suaminya mendukung Sukma merasa sendirian dalam penderitaannya. Dukungan dari suaminya mungkin ada, tetapi tidak mampu menjangkau kedalaman kesedihannya. Anggun menunjukkan bagaimana bullying dan stigma dapat merusak identitas dan masa depan seseorang. Meskipun ada dukungan dari ibunya, rasa isolasi sosial yang mendalam membuat Anggun merasa tidak ada tempat yang aman dan diterima. Segi perspektif alternatif dan penyelesaian, setiap karakter mencoba menemukan jalan keluar dari penderitaan mereka, namun sering kali melalui cara-cara yang berbahaya atau merusak. Fahmi mendapatkan kombinasi cobaan dari kehilangan pekerjaan dan masalah keuangan membuat Fahmi merasa tidak ada lagi harapan untuk masa depan, sehingga ia melihat bunuh diri sebagai satusatunya jalan keluar. Raga. Trauma dari operasi yang gagal membebani mental dan emosional Raga, membuatnya merasa tidak ada jalan untuk pulih atau memperbaiki kesalahannya. Sukma, kehilangan anak telah membuat Sukma merasa bahwa hidupnya tidak lagi memiliki tujuan atau makna, sehingga ia mempertimbangkan bunuh diri sebagai jalan untuk mengakhiri penderitaannya. Anggun mencoba bunuh diri sebagai bentuk protes dan untuk memberikan efek jera pada para pelaku bullying. Segi persfektif Struktur sosial, masing-masing karakter berada dalam struktur sosial yang mempengaruhi cara mereka memahami dan menghadapi krisis mereka. Fahmi adalah seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab atas kesejahteraan finansial keluarganya. Dalam struktur sosial patriarkal, kepala keluarga sering dianggap sebagai pencari nafkah. Sebagai pria dan kepala keluarga, ada ekspektasi sosial bahwa Fahmi harus mampu memenuhi kebutuhan finansial Kehilangan pekerjaan mengguncang posisinya dalam struktur ini, menyebabkan krisis identitas dan harga diri. Struktur sosial yang menekankan peran pria sebagai penyedia utama membuat Fahmi merasa gagal dan tidak berharga ketika kehilangan pekerjaannya. Dukungan dari keluarga tidak cukup untuk meredakan tekanan sosial yang ia rasakan akibat kehilangan peran ini. Raga adalah seorang dokter, sebuah profesi yang sangat dihormati dalam struktur sosial. Identitas profesionalnya sangat erat kaitannya dengan kesuksesannya dalam menyelamatkan nyawa. Dokter diharapkan memiliki kompetensi tinggi dan jarang melakukan kesalahan. Kegagalan dalam operasi yang fatal mengguncang posisinya dalam dunia profesional ini. Struktur sosial yang menempatkan dokter di posisi tinggi menyebabkan Raga merasa terisolasi dan malu setelah kegagalan operasinya. Perasaan bersalah dan hilangnya identitas profesional membuatnya mempertimbangkan bunuh diri sebagai jalan keluar. Sukma adalah seorang ibu, peran yang sangat penting dan dihormati dalam banyak budaya. Ibu diharapkan menjadi pusat emosional keluarga, memberikan dukungan dan Kehilangan anaknya menyebabkan Sukma merasa gagal dalam peran ini. Struktur sosial yang menempatkan ibu sebagai penjaga utama anak membuat Sukma merasa kehilangan identitasnya setelah kematian anaknya. Dukungan dari suaminya tidak cukup untuk mengatasi rasa kehilangan yang mendalam dan krisis identitasnya. Anggun adalah seorang remaja yang sedang mencari identitas diri dalam lingkungan sosial sekolah. Bullying merusak posisinya dalam hierarki sosial remaja, bullying membuat Anggun merasa terisolasi dan distigma. Struktur sosial di sekolah yang menekankan konformitas dan penerimaan membuat Anggun merasa terasing setelah mengalami bullying. Meskipun ada dukungan dari ibunya, stigma dan perasaan tidak diterima oleh teman-temannya membuatnya merasa tidak ada tempat dalam masyarakat. 458 | Artaji Rahmansyah. Anis Endang. Martha Herinazwi Dianthi . Standpoint Suicide Attempts . KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Film "Kembang Api" secara mendalam mengangkat tema kesehatan mental, bunuh diri, dan pencarian makna hidup. Melalui perjalanan emosional empat individu dalam timeloop, film ini mengajak penonton merenungi nilai kehidupan dan tantangan menghadapi keterpurukan. Dari perspektif teori Standpoint, pengalaman hidup dan sudut pandang setiap karakter memengaruhi cara mereka menghadapi masalah mereka. Dukungan keluarga dan sosial, identitas, dan pandangan masa depan menjadi faktor penting dalam keputusan mereka. Penelitian ini menegaskan pentingnya empati, dukungan sosial, dan pemahaman mendalam tentang kesehatan mental untuk membantu individu menghadapi tantangan hidup. Film ini menggambarkan kompleksitas emosi dan perjuangan yang dialami setiap karakter, menunjukkan betapa pentingnya dukungan sosial dalam mengatasi masalah emosional dan psikologis. Saran Penelitian Lanjutan : Film ini menyediakan banyak materi untuk penelitian lebih lanjut, termasuk analisis semiotika, teori Standpoint, dan dampaknya terhadap pemahaman masalah kesehatan mental di masyarakat. Penelitian mendalam dapat memberikan wawasan baru tentang bagaimana media seperti film menggambarkan alasan seseorang ingin bunuh diri. Solusi Mitos Pada Karakter Fahmi : Pentingnya kesadaran emosional dan dukungan sosial harus Masyarakat perlu memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari kehidupan. Kampanye publik dan seminar harus mengubah pandangan bahwa kegagalan bukan tanda kelemahan, tetapi bagian dari proses belajar. Dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas sangat penting, bersama dengan program pelatihan kerja dan akses ke konseling keuangan. Solusi Mitos Pada Karakter Raga : Edukasi publik tentang kegagalan sebagai bagian dari proses belajar sangat penting. Membangun budaya kerja yang mendukung dan program pelatihan resiliensi dapat membantu profesional mengatasi kegagalan dengan sehat. Kebijakan perusahaan yang mendukung pemulihan dari kegagalan dan pendidikan integritas dalam pelatihan profesional juga Solusi Mitos Pada Karakter Sukma : Kampanye untuk pemahaman yang lebih luas tentang tekanan sosial yang dihadapi wanita, terutama ibu, sangat penting. Menyediakan forum diskusi dan pendidikan tentang berbagi tanggung jawab emosional dan domestik dalam keluarga diperlukan. Memperluas akses layanan kesehatan mental yang terjangkau, melatih profesional kesehatan, dan membentuk kelompok dukungan sangat penting. Mengurangi stigma melalui narasi positif dan mendorong kebijakan perusahaan yang mendukung kesehatan mental juga diperlukan. Solusi Mitos Pada Karakter Anggun : Kampanye edukasi intensif tentang bullying dan dampaknya serta program anti-bullying di sekolah sangat penting. Pembentukan kelompok dukungan, peningkatan akses ke layanan konseling, dan pelatihan bagi orang tua juga penting. Mengubah pandangan bahwa meminta bantuan atau melaporkan bullying bukan tanda kelemahan, tetapi tindakan keberanian dan kekuatan, harus ditekankan. Cerita sukses dari individu yang telah berhasil mengatasi bullying dapat digunakan sebagai inspirasi. DAFTAR PUSTAKA