Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 1-7 Contents list available at JKP website Jurnal Kesehatan Perintis Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/JKP Pemberian Ekstrak Methanol Trichosanthes cucumerina terhadap Kadar Glukosa dan Prothrombine Time (PT) pada Tikus Ulkus Diabetikum Riski Aditya Permana*. Tri Dyah Astuti. Nazula Rahma Shafriani Fakutas Ilmu Kesehatan. Universitas AoAisyiyah Yogyakarta. Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia Article Information : Received 3 May 2025 . Accepted 25 June 2025. Published 30 June 2025 *Corresponding author: riskiadityap99@gmail. ABSTRAK Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang dapat menimbulkan komplikasi seperti ulkus diabetikum yang berujung gangguan koagulasi dan memengaruhi keseimbangan hemostasis, sehingga penderita berada dalam kondisi hiperkoagulasi. Gangguan penyembuhan luka pada kondisi ini berkaitan dengan kadar glukosa darah tinggi dan hiperkoagulasi yang ditandai dengan pemendekan PT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak metanol Trichosanthes cucumerina terhadap kadar glukosa darah dan PT pada tikus putih (Rattus novergicu. ulkus diabetikum, sedangkan manfaat penelitian ini untuk mengetahui antidibetes dan anti inflamasi pada ekstrak metanol Trichosanthes cucumerina. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental dengan desain pre test and post test one group design dan teknik purposive sampling. Sampel terdiri dari 30 tikus jantan yang dibagi menjadi lima kelompok, yaitu tiga kelompok perlakuan . , 250, dan 500 mg/KgBB) dan dua kelompok kontrol yaitu kontrol positif diberi metformin 150 mg/KgBB dan amoxicillin 4 mg/KgBB, sedangkan kontrol negatif tidak diberi perlakuan. Pemeriksaan kadar glukosa menggunakan alat Point of care test dan PT menggunakan alat Coagulatian Analyzer semi-otomatis MD Pacific TS6000. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak pare belut menurunkan kadar glukosa darah dan menormalkan PT secara signifikan . <0,. Dosis 500 mg/KgBB paling efektif menurunkan glukosa darah, sementara dosis 125 mg/KgBB efektif dalam menormalkan PT. Kesimpulan penelitian ini yakni ekstrak pare belut berpengaruh signifikan terhadap kadar glukosa dan PT pada tikus ulkus diabetikum. Kata kunci : Trichosanthes cucumerina, ulkus Diabetikum, glukosa, prothrombine time ABSTRACT Diabetes mellitus is a chronic metabolic disease that can cause complications such as diabetic ulcers that lead to coagulation disorders and affect the balance of hemostasis, so that sufferers are in a hypercoagulable state. Impaired wound healing in this condition is related to high blood glucose levels and hypercoagulation characterized by shortening of PT. This study aims to determine the effect of Trichosanthes cucumerina methanol extract on blood glucose levels Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 1-7 and PT in white rats (Rattus novergicu. with diabetic ulcers, while the benefits of this study are to determine the antidiabetic and anti-inflammatory effects of Trichosanthes cucumerina methanol extract. This study used a quasi-experimental method with a pre-test and post-test one group design and a purposive sampling technique. The sample consisted of 30 male rats divided into five groups, namely three treatment groups . , 250, and 500 mg/KgBW) and two control groups, namely positive controls given metformin 150 mg/KgBW and amoxicillin 4 mg/KgBW, while negative controls were not given treatment. Glucose level examination using Point of care test and PT using semi-automatic Coagulation Analyzer MD Pacific TS6000. The results showed that bitter melon extract significantly reduced blood glucose levels and normalized PT . <0. The dose of 500 mg/KgBW was the most effective in reducing blood glucose, while the dose of 125 mg/KgBW was effective in normalizing PT. The conclusion of this study is that bitter melon extract has a significant effect on glucose levels and PT in diabetic ulcer rats. Keywords: Trichosanthes cucumerina, diabetic ulcer, glucose, prothrombine time PENDAHULUAN Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit meningkatnya kadar glukosa dalam tubuh yaitu kadar glukosa sewaktu > 200 mg/dL dan kadar glukosa puasa > 126 mg/dL (Hestiana, 2. Pada tahun 2022. International Diabetes Federation (IDF) melaporkan bahwa 537 juta orang dewasa ( 20-79 tahu. menderita penyakit ini, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 643 juta pada tahun 2030 dan 784 juta pada Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia, pada tahun 2021, ada 19,47 juta orang yang menderita Kadar gula darah dalam tubuh yang berkepanjangan dapat menyebabkan Kebutaan, penyakit jantung, gagal ginjal, dan kematian. Penyakit ini jika tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi serius seperti ulkus kaki diabetik, yang memiliki risiko 25% pada penderita DM (Rahayu et al. , 2. Pasien dengan ulkus diabetikum sering mengalami hambatan penyembuhan luka akibat gangguan koagulasi yang memengaruhi keseimbangan hemostasis, sehingga penderita berada dalam kondisi Hiperkoagulasi trombosis (PT memende. , dimana trombus menyumbat pembuluh darah, menghambat aliran darah ke luka, memperlambat penyembuhan, memperburuk kaki diabetik, dan menyebabkan gangren (Yuliansari et , 2. Kondisi ini dapat dideteksi melalui pemeriksaan Prothrombin time (PT). PT adalah uji yang digunakan untuk mengukur waktu pembekuan darah untuk mendeteksi kelainan koagulasi darah (Hasanah et al Pengobatan diabetes melitus saat ini masih bergantung pada penggunaan Obat Hipoglikemik Oral (OHO) yang bertujuan mengendalikan kadar gula darah dan mencegah komplikasi. Obat-obatan oral yang umum digunakan yaitu biguanida, sulfonilurea, glinida, thiazolidinediones, acarbose, dan injeksi insulin. Namun, obatobatan ini bisa menimbulkan efek samping seperti diare, sakit kepala, pusing, muntah, kenaikan berat badan, dan hipoglikemia. Penggunaan jangka panjang dapat merusak hati dalam proses metabolisme, yang dapat menyebabkan kerusakan sel-sel hati hingga sirosis dan jika tidak segera ditangani, meningkatkan risiko komplikasi serius seperti kanker hati bahkan kematian (Pangestuningsih & Rukminingsih, 2. Salah satu metode pengobatan yang lebih aman adalah menggunakan tanaman Tanaman herbal atau obat tradisional adalah tanaman yang dipakai untuk mengatasi penyakit secara alami dan dibandingkan OHO karena memiliki efek samping yang relatif rendah (Wasana et al. Salah satu tanaman herbal yang sering digunakan untuk pengobatan DM adalah Trichosanthes cucumerina. Trichosanthes cucumerina merupakan tanaman tradisional yang terkenal buahnya terutama dikonsumsi sebagai sayur. Tanaman ini merupakan sumber yang kaya akan unsur fungsional selain nutrisi dasarnya seperti flavonoid, karotenoid. Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 1-7 asam fenolik, saponin, dan serat makanan yang larut maupun tidak larut sehingga membuat tanaman ini aktif secara farmakologis dan terapeutik (Dai et al. Senyawa aktif yang berperan dalam pengendalian kadar glukosa dalam darah adalah flavonoid dan saponin, sehingga tanaman ini dijadikan salah satu bahan utama dalam beberapa sediaan poliherbal yang diresepkan di Sri Lanka untuk mengendalikan DM. (Lianage et al. , 2. Berdasarkan dilakukan oleh Sassi et al . yang berjudul AuTrichosanthes cucumerina extracts enhance glucose uptake and regulate adiponectin and leptin concentrations in 3T3-L1 adipocytes modelAy didapatkan hasil Ekstrak Trichosanthes cucumerina secara . <0,. penyerapan glukosa. Perbedaan peneliti yang akan lakukan dengan peneliti sebelumnya yaitu berada pada pelarut yang digunakan yaitu pada peneliti sebelumnya menggunakan pelarut air dan etanol sedangkan penelitian ini menggunakan Berdasarkan pada uraian diatas pengaruh pemberian ekstrak metanol Trichosanthes cucumerina terhadap kadar glukosa dan PT pada permodelan tikus ulkus diabetikum dengan variasi dosis 125 mg/kgBB, 250 mg/kgBB, dan 500 mg/kgBB, sedangkan manfaat penelitian ini untuk mengetahui antidibetes dan anti inflamasi pada ekstrak metanol Trichosanthes METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian quasi eksperimental. Teknik yang digunakan untuk mengambil sampel adalah purposive sampling yang merupakan metode pengambilan sampel non-acak menggunakan rancangan Pre test and Post test one group. Terdapat lima kelompok perlakuan tikus dengan berat 150-200 gram, tiga kelompok diberi ekstrak dengan dosis 125 mg/KgBB, 250 mg/KgBB, dan 500 mg/KgBB dan dua kelompok kontrol, yaitu kontrol positif diberi metformin 150 mg/KgBB dan amoxicillin 4 mg/KgBB, sedangkan kontrol negatif tidak diberi perlakuan. Variabel dalam peneliti ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel Trichosanthes cucumerina dan tikus ulkus diabetikum, variabel terikat adalah kadar Glukosa dan PT. Populasi dalam penelitian ini adalah Tikus putih (Rattus norvegicu. ulkus diabetikum berjenis kelamin jantan dari spesies yang sama dengan umur 2-3 bulan, sedangkan sampel penelitian ini adalah 25 tetapi setiap kelompok perlakuan ditambahkan 1 tikus drop out jadi tiap perlakuan terdapat 6 tikus maka jamlah sampel keseluruhan adalah 30 tikus. Pembuatan Ekstrak Metanol Trichosanthes cucumerina Buah Trichosanthes sebanyak 50 kg dipisahkan bijinya, diiris tipis (A5 m. , dan dikeringkan dalam oven pada suhu 50AC selama A72 jam. Daging buah yang telah kering digiling hingga berbentuk serbuk . , menghasilkan 1 kg serbuk simplisia. Serbuk ini diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan Maserasi dilakukan selama 48 jam dengan 2. 200 mL metanol, diikuti maserasi kedua dan ketiga masing-masing selama 24 jam dengan 850 mL dan 750 mL metanol. Filtrat hasil maserasi diuapkan menggunakan rotary evaporator pada suhu 40AC dan kecepatan 4 rpm hingga diperoleh ekstrak kental (Duengo et al. , 2. Perlakuan Hewan Coba Perlakuan hewan coba di mulai dengan adaptasi dan aklimitasi hewan coba lingkungan dan pola makan hewan coba sementara aklimitasi penyesuain dengan suhu, kelembapan, dan cahaya. Seluruh tikus perlakuan diinduksi menggunakan aloksan dosis 150 mg/KgBB selama 96 jam hingga mengalami diabetes (Kim, 2. Tikus diinsisi sepanjang 2 cm pada bagian paha menggunakan pisau bisturi ukuran 11 dan dilanjutkan dengan inokulasi suspensi bakteri Staphylococcus aureus, sehingga terbentuk uklus diabetikum. Pengambilan darah tikus sebanyak 2 kali yaitu pre terapi dan post terapi, darah tikus diambil pada ekor dan sinus orbital, darah diambil pada ekor tikus menggunakan gunting untuk A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 1-7 glukometer dan darah diambil dari sinus orbital untuk pemeriksaan PT dimasukan ke dalam tabung vacum biru yang berisi antikoagulan citrat, setelah pengambilan darah tikus dilakukan terapi dengan ektrak metanol Trichosanthes cucumerina selama 14 hari dengan volume pemberian 1 mL pada setiap dosis 125 mg/KgBB, 250 mg/KgBB, dan 500 mg/KgBB (Shafriani et , 2. Pemeriksaan Kadar Glukosa Pemeriksaan Kadar Glukosa dilakukan dengan alat Point of Care Test (POCT). Pertama-tama ujung ekor tikus dibersikan menggunakan alkohol 70%, kemudian dipotong sedikit dan strip glukosa pada alat ditempelkan pada darah sampai ruang kosong pada strip terisi dan tunggu sebentar hasil akan timbul pada layar monitor alat (Masdar et al. , 2. Pemeriksaan PT Pemeriksaan PT dilakukan dengan alat Coagulatian Analyzer semi-otomatis MD Pacific TS6000. Reagen serbuk PT diencerkan menggunakan cairan PT Aureconstitution" sebanyak 2 mL. Reagen PT kemudian diinkubasi di posisi reagen prewarming selama 30 menit untuk memastikan Kuvet diletakkan pada posisi Sample pre-warming, tambahkan sebanyak 100 AAL sampel ke dalam kuvet, dan tambahkan satu bola magnet ke dalam Inkubasi dilakukan selama 3 menit dengan menekan ikon jam pada layar. Inkubasi selesai kuvet dipindahkan ke tempat test channel, lalu tambahkan reagen PT sebanyak 200 AAL ke dalam kuvet menggunakan micropipet yang terhubung dengan alat, tekan hingga terdengar bunyi AubeepAy. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pemeriksaan kadar glukosa dan PT pada semua kelompok sebelum perlakuan dan setelah perlakuan menunjukkan adanya penurunan kadar Glukosa dan PT menjadi normal yang disajikan pada tabel 1. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna p<0,05 pada kadar glukosa pre dan post terapi, serta PT pre dan post terapi. Berdarkan tabel 1 ditemukan p value <0,05 yang berarti terjadi perbedaan yang signifikan terhadap kadar glukosa darah dan PT sebelum dan sesudah terapi. tingginya kadar glukosa darah. Hal ini sejalan dengan Hasanah et al . yaitu Kadar HbA1c yang tinggi dengan PT terdapat korelasi, penelitian yang dilakukan oleh fayeza et al . Sunita et al . bahwa waktu PT pada pasien DM tipe 2 mengalami pemendekan yang menandakan keadaan hiperkoagulasi. Pemberian ekstrak metanol pare belut terbukti memengaruhi kadar glukosa darah dan PT. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan Benny . tentang pengaruh Trichosanthes menurunkan gula darah pada hewan percobaan dan Shafriani et al . tentang efek Trichosanthes cucumerina dalam menurunkan gula darah dan fibrinogen pada hewan coba. Trichosanthes cucumerina mengandung beberapa senyawa aktif seperti falvonoid, saponin, dan fenolik (Ahuja et al. , 2. Senyawa flavonoid memberikan efek sebagai antidiabetik dengan mendukung pensinyalan insulin, sekresi insulin, dan penyerapan glukosa. Senyawa ini menargetkan banyak molekul yang terlibatdalam regulasi beberapa jalur, seperti meningkatkan proliferasi sel , dan medorong sekresi insulin dengan mengatur Tabel 1. Hasil pemeriksaan glukosa dan PT Parameter Kontrol ( ) Glukosa . g/dL) Pre 522,2 156,7 Post 178,2 13,9 PT . Pre 9,14 0,88 Post 14,16 1,68 Kontrol (-) Kelompok I . mg/ KgBB) Kelompok II mg/ KgBB) Kelompok i . mg/ KgBB) 356,4 93,6 264,8 40,8 302,0 180,9 223,6 52,1 365,80 154,5 330,20 184,4 228,20 53,8 190,80 39,9 0,035 7,30 2,29 9,72 2,86 8,94 2,18 11,80 2,12 8,28 2,24 12,12 1,97 0,046 8,58 3,10 12,32 1,34 Value A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 1-7 anti-bakteri, mekanisme kerja saponin yaitu dengan mendanaturasi protein, karena zat aktif permukaan saponin mirip deterjen yang dapat digunakan sebagai anti-bakteri dimana tegangan permukaan dinding sel bakteri akan diturunkan dan permeabilitas membran bakteri dirusak (Putri et al. , 2. Senyawa fenolik dalam tanaman ini bertindak sebagai antioksidan utama atau mengikat radikal bebas. Senyawa fenolik yang terkandung dalam Trichosanthes cucumerina dapat digunakan sebagai terapi dan memiliki sifat anti-infeksi, anti-inflamasi serta penyembuhan luka (Periyanayagam et , 2. Pada penelitian ini hasil post terapi Trichosanthes penurunan kadar glukosa darah diikuti oleh penormalan PT yang signifikan pada 3 kelompok perlakuan sehingga hasil post terapi kadar glukosa setelah pemberian ekstrak metanol Trichosanthes cucumerina mg/kgBB menunjukkan efek yang lebih optimal dalam menurunkan kadar glukosa dan hasil post terapi PT setelah pemberian ekstrak metanol Trichosanthes cucumerina dosis 125 mg/kgBB efektif menormalkan PT. Pada kelompok kontrol negatif terjadi penurunan kadar glukosa walaupun masih dalam kategori diabetes, begitu pula dengan PT meskipun terjadi peningkatan PT tetapi masih dibawah nilai normal. Hal ini disebabkan oleh pertahanan antioksidan tubuh dalam menetralkan efek zat berbahaya aloksan (Lenzen, 2. Pada penelitian Kim . terdapat 24 tikus yang mengalami diabetes tidak menerima pengobatan insulin dapat bertahan hidup selama 20 hari tanpa kematian. Analisis imunohistokimia menunjukkan sejumlah besar sel beta pankreas yang tersisa telah beregenerasi, sehingga produksi insulin kembali terjadi dan menurunkan glukosa Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lucchesi et al . penurunan kadar glukosa pada tikus kontrol negatif setelah penginduksian aloksan dapat disebabkan melalui mekanisme biologis tubuh yang berusaha mengatur kadar sel beta pankreas. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada aspek keamanan, khususnya terkait penggunaan dosis ekstrak yang tinggi. Hingga saat ini, belum dilakukan uji toksisitas terhadap ekstrak Trichosanthes dipastikan apakah dosis yang digunakan aman dalam jangka panjang. KESIMPULAN Terjadi penurunan kadar glukosa dan PT menjadi normal secara signifikan setelah diberi perlakuan dan dari ketiga dosis ekstrak yang dilakukan terapi. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melakukan uji toksisitas terhadap ekstrak pare belut untuk mengetahui tingkat keamanan penggunaan ekstrak dalam berbagai dosis. Hal ini penting untuk memastikan bahwa dosis yang digunakan tidak menimbulkan efek samping terutama jika akan dikembangkan sebagai obat terapi jangka panjang. REFERENSI