1 Jamilatulrohmah dan Ernawati Budi Astuti : Beyond Profit : Membangun Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan Melalui Gic Dan Csr Pada Industri Energi Indonesia Jurnal Akuntansi. Keuangan dan Auditing. Vol. 5 (No. , 2024. Hal: 1 Ae 16. DOI : 10. 56696/jaka. http://publikasi. id/index. php/jaka BEYOND PROFIT : MEMBANGUN KEUNGGULAN KOMPETITIF BERKELANJUTAN MELALUI GIC DAN CSR PADA INDUSTRI ENERGI INDONESIA Jamilatulrohmah dan Ernawati Budi Astuti Progdi Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Wahid Hasyim Jl. Menoreh Tengah X No. Sampangan. Kec. Gajahmungkur. Semarang. Indonesia Corresponding Author: erna_fe@unwahas. Diterima: Juli 2025. Direvisi: September 2025. Dipublikasikan: Oktober 2025 ABSTRACT This study aims to analyze how corporate social responsibility (CSR) and green intellectual capital (GIC) influence long-term competitiveness in the Indonesian energy sector. This study focuses on companies in the energy industry listed on the Indonesia Stock Exchange from 2020 to 2024. The research technique is based on secondary data obtained from sustainability reports and annual reports, using a quantitative approach with multiple linear regression. According to the study, green intellectual capital (GIC) has little effect on long-term competitive advantage. Investment in GIC takes time to produce results. This indicates that GIC investment is long-term, and its effects are not yet visible throughout the study period. If CSR is implemented outside the company's primary objectives, it will be costly and, in the short term, will harm the company's competitiveness. According to this study, energy companies can gain long-term competitive advantage by fully integrating an intuitive Keywords: Green Intellectual Capital. Corporate Social Responsibility. Sustainable Competitive Advantage ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan modal intelektual hijau (GIC) mempengaruhi daya saing jangka panjang di sektor energi Indonesia. Penelitian ini berfokus pada perusahaan di industri energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2020 hingga 2024. Teknik penelitian didasarkan pada data sekunder yang diperoleh dari laporan keberlanjutan dan laporan tahunan, menggunakan pendekatan kuantitatif dengan regresi linier Menurut penelitian, modal intelektual hijau (GIC) memiliki pengaruh yang kecil terhadap keunggulan kompetitif jangka panjang. Investasi dalam GIC membutuhkan waktu untuk memberikan hasil. Hal ini menunjukkan bahwa investasi GIC bersifat jangka panjang, dan pengaruhnya belum terlihat sepanjang periode penelitian. Jika CSR diterapkan di luar tujuan utama perusahaan, hal ini akan menjadi mahal dan, dalam jangka pendek, akan merugikan daya saing perusahaan. Menurut studi ini, perusahaan energi dapat memperoleh keunggulan kompetitif jangka panjang dengan sepenuhnya mengintegrasikan pendekatan intuitif. Kata Kunci: Green Intellectual Capital. Corporate Social Responsibility. Sustainable Competitive Advantage. ISSN 2723 Ae 2522 (Onlin. Jurnal Akuntansi. Keuangan dan Auditing. Vol. 5 (No. , 2024. Hal: ??-?? PENDAHULUAN Perubahan paradigma yang mendalam sedang terjadi di sektor energi global. Kekhawatiran yang mendalam tentang perubahan iklim, tekanan regulasi yang meningkat (Almada et al. , 2. , dan perubahan pengetahuan konsumen merupakan penyebab utama transisi ini (Liu et al. , 2. Dinamika ini merupakan realitas strategis yang mendesak dan bukan bahaya bagi bisnis energi Indonesia di masa depan. Lanskap operasional dan persaingan telah mengalami perubahan yang signifikan sebagai hasil dari komitmen pemerintah terhadap Perjanjian Paris dan kebijakan nasional seperti target Net Zero Emission pada tahun 2060 (Iryanti, 2. Penghematan biaya konvensional dan penguasaan sumber daya alam merupakan dua sumber keunggulan kompetitif tradisional yang mulai memudar. Indonesia menghadapi hambatan lokal dalam bentuk dominasi batu bara dalam bauran energi nasional, peraturan yang tidak efisien, dan kesenjangan investasi ramah lingkungan yang signifikan, terlepas dari krisis geopolitik dan dominasi negara-negara besar dalam teknologi energi bersih. Meskipun ada dorongan di seluruh dunia untuk mempercepat transisi hijau, sektor energi Indonesia masih bergantung pada bahan bakar fosil, dan pada tahun 2023, proporsi energi terbarukan di Indonesia masih rendah, yaitu sekitar 14%. Sejumlah bisnis energi telah mulai menerapkan inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), tetapi mereka belum sepenuhnya mengintegrasikan GIC untuk menciptakan keunggulan kompetitif hijau yang berkelanjutan. Menurut KPMG . , publik dan investor semakin tertarik dengan cara bisnis mengatasi tantangan keberlanjutan, yang mendorong bisnis untuk merilis laporan keberlanjutan sebagai bentuk pertanggungjawaban (Muhammad Chairi Farrel & Fajar Gustiawaty Dewi, 2. Industri ini berkembang dengan cepat, dan upaya untuk menanamkan gagasan kepedulian lingkungan dalam bisnis mulai menunjukkan hasil. Salah satu elemen kunci yang membantu bisnis untuk sukses dalam persaingan adalah lingkungan sekitar. Karena bisnis yang tidak mampu mengenali dan memahami keadaan lingkungan tempat mereka bersaing terus menjadi penyebab banyaknya usaha perusahaan yang kalah. Seperti maraknya pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh pelaku usaha yang tidak menyadari keadaan lingkungan, karena mayoritas pelaku usaha hanya berfokus untuk menghasilkan uang, sehingga mengabaikan isu-isu lingkungan yang muncul dari proses produksi dan berpotensi memberikan dampak negatif kepada masyarakat (Islamiah & Hermawan, 2. Dilansir dari Mongabay. Mei 2. , menekankan dampak buruk industri nikel terhadap keadilan sosial dan lingkungan. Sekitar 650 kilometer persegi, atau 73%, dari Pulau Kabaena . kilometer perseg. adalah konsesi pertambangan, dengan 40% dari konsesi tersebut sekarang digunakan, menurut laporan tersebut. Peningkatan penambangan nikel secara serius merusak lingkungan, terutama habitat pesisir dan suku Bajau. Suku Bajau yang bergantung pada laut kini terpaksa memakan kerang yang tercemar logam berat. Kematian dan masalah kesehatan termasuk kanker, gangguan ginjal dan hati, serta penyakit kulit telah terjadi akibat hal ini (Maulana, 2. Contoh lain dari kerusakan lingkungan terjadi di Morosi. Sulawesi Tenggara, ketika 151 hektar lahan milik masyarakat yang dulunya merupakan kolam ikan diracuni oleh pembakaran batu bara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Sektor industri nikel menghadapi sejumlah masalah sosial selain masalah lingkungan, seperti hak-hak masyarakat adat yang dilanggar oleh konversi lahan tanpa konsultasi yang memadai. Hilangnya sumber daya alam dan ruang hidup yang selama ini mendukung mata pencaharian masyarakat menunjukkan betapa jauhnya keberlanjutan industri ini dari gagasan transisi energi yang adil (Bondan Andriyanu, 2. Karena banyaknya masalah lingkungan di Indonesia, pemerintah, masyarakat, dan perusahaan akhirnya memperhatikan dan bertindak serius dengan mengembangkan sejumlah Perusahaan berusaha untuk mengelola kekayaan intelektual lingkungannya dan mengembangkan sebanyak mungkin karena telah berkontribusi secara signifikan terhadap Jamilatulrohmah dan Ernawati Budi Astuti : Beyond Profit : Membangun Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan Melalui Gic Dan Csr Pada Industri Energi Indonesia kerusakan lingkungan. Akibatnya, hal ini secara tidak sengaja mengarah pada daya saing pasar. Konsumen dengan kesadaran lingkungan yang kuat lebih cenderung membeli barang dari bisnis yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip lingkungan (Islamiah & Hermawan, 2. Oleh karena itu, banyak perusahaan berjuang untuk mencapai hal ini agar dapat mempertanggungjawabkan sumber daya alam untuk kelangsungan perusahaan serta mendapatkan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dan menjadi pemimpin pasar. Ketika perusahaan memiliki dan menggunakan sumber daya dan kemampuan yang berharga, sulit ditiru, tidak umum, dan tidak tergantikan, maka perusahaan dapat memperoleh keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (Marpaung et al. , 2. Dalam hal ini, bisnis energi harus mengembangkan Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan dengan menerapkan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dan Modal Intelektual Hijau (GIC), melampaui fokus sederhana pada keuntungan. Kapital intelektual hijau (GIC) menciptakan barang-barang berkelanjutan dan teknologi rendah karbon, yang berkontribusi secara signifikan terhadap pembentukan kekayaan jangka panjang dan pengurangan emisi karbon. Chen . mendefinisikan modal intelektual hijau sebagai nilai total suatu perusahaan, yang mencakup aset tak berwujud, pengetahuan, kapasitas, dan karakteristik lain yang terkait dengan pelestarian lingkungan dan inovasi hijau pada tingkat manusia dan organisasi. GIC dibagi menjadi tiga kategori: modal relasional hijau, modal struktural hijau, dan modal manusia hijau. Modal manusia adalah penerapan modal tak berwujud yang menghasilkan sumber daya manusia yang unggul. Kapital relasional, yang memiliki hubungan positif dengan pemangku kepentingan, dan kapital struktural, yang mendukung implementasi bisnis hijau, adalah dua contoh kapital intelektual yang akan membantu mengembangkan barang dan jasa ramah lingkungan yang saat ini sangat diminati oleh konsumen (Nurmalasari et al. , 2. Liu . mengusulkan kategorisasi yang sama, mendefinisikan modal intelektual hijau sebagai integrasi sumber daya pengetahuan hijau dan lingkungan, serta potensi perusahaan untuk meningkatkan daya saingnya. Model Chen . adalah salah satu model yang dikutip dalam penelitian lain. Penelitian sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh Islamiah dan Hermawan . , menunjukkan bahwa Modal Intelektual Hijau (GIC) memiliki dampak yang signifikan dan positif terhadap keunggulan kompetitif. namun, temuan ini tidak konsisten di berbagai sektor industri, terutama di sektor energi yang padat modal dan regulasi. Studi-studi ini sering kali menganalisis GIC sebagai konsep tunggal dan homogen. Berdasarkan temuan studi-studi tersebut, kita dapat mengidentifikasi celah penelitian bahwa belum ada pemahaman apakah konsep GIC merupakan pendorong utama atau penghambat keunggulan kompetitif. Kemungkinan besar, efek agregat yang kecil dari GIC disebabkan oleh komponen yang belum berkembang, yang menyembunyikan pengaruh positif komponen lain. Salah satu cara perusahaan menunjukkan komitmen mereka terhadap perilaku moral adalah melalui Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR). Perusahaan diharapkan untuk peduli terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat selain menghasilkan keuntungan yang signifikan (Uyun et al. , 2. Menurut Lantos . , terdapat tiga kategori tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), yaitu sebagai berikut: . Kewajiban perusahaan untuk mencegah kerusakan sosial atau lingkungan sebagai akibat dari operasinya, yang dikenal sebagai tanggung jawab sosial perusahaan yang bersifat etis. Tanpa berhubungan langsung dengan pilihan bisnis, tanggung jawab sosial perusahaan yang bersifat altruistik adalah tindakan sosial perusahaan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Upaya perusahaan untuk meningkatkan reputasi di pasar sasaran dalam rangka meningkatkan penjualan dikenal sebagai tanggung jawab sosial perusahaan yang strategis (Leki & Christiawan, 2. Berdasarkan Pasal 74 UU No. 40 tahun 2007, yang mengamanatkan bahwa bisnis yang terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan sumber daya alam mematuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan (Corporate Social Jurnal Akuntansi. Keuangan dan Auditing. Vol. 5 (No. , 2024. Hal: ??-?? Responsibilit. Menurut Teori Pemangku Kepentingan, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) merupakan investasi strategis dalam reputasi dan legitimasi. Pendekatan berbasis biaya, di sisi lain, memandang CSR sebagai beban finansial yang dapat mengurangi keuntungan Namun, sebagian besar studi sebelumnya mengukur CSR secara agregat, tanpa membedakan antara niat strategis yang mendasarinya. Berdasarkan hal ini, dapat disimpulkan bahwa kesenjangan penelitian terletak pada kurangnya pemahaman mengenai apakah semua jenis tindakan CSR memiliki dampak yang sama. Dalam konteks menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan melalui Green Intellectual Capital (GIC) dan Corporate Social Responsibility (CSR), penelitian ini sangat penting untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan transisi energi nasional dan penerapan strategi bisnis hijau yang sukses di sektor energi. Kendala terbesarnya adalah bagaimana perusahaan energi dapat benar-benar memasukkan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis mereka untuk tidak hanya memenuhi persyaratan peraturan tetapi juga menghasilkan nilai tambah yang berkelanjutan secara ekonomi, lingkungan, dan sosial, terlepas dari berbagai kebijakan dan target ambisius pemerintah untuk transisi energi. Meskipun beberapa penelitian, seperti yang dilakukan oleh Islamiah dan Hermawan . , menunjukkan bahwa GIC memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap keunggulan kompetitif bisnis pertambangan, penelitian lain menghasilkan temuan yang campur aduk. Ada indikasi bahwa dampak GIC tidak akan terasa secara langsung, terutama di industri dengan aturan yang ketat, seperti sektor energi yang saat ini sedang mengalami perubahan. Kontradiksi antara temuan-temuan ini menandakan adanya kesenjangan empiris yang perlu diteliti lebih Dalam konteks transisi energi Indonesia . , apakah GIC sebenarnya telah menjadi sumber keunggulan kompetitif, atau masih merupakan investasi jangka panjang tanpa hasil yang terlihat?. Di sisi lain, pentingnya CSR dalam keunggulan kompetitif tetap menjadi topik teoretis yang kontroversial. Teori Pemangku Kepentingan menyiratkan bahwa CSR dapat meningkatkan reputasi dan meminimalkan risiko, sementara beberapa pihak berpendapat bahwa biaya upaya CSR mungkin merusak daya saing perusahaan. Makalah ini bertujuan untuk mengatasi kekosongan teoretis ini dengan menyajikan data empiris dari sektor energi Indonesia, sebuah industri yang padat modal di mana mengalokasikan sumber daya untuk kegiatan nirlaba merupakan taruhan strategis yang besar. Keunikan studi ini terletak pada konteksnya yang unik: era kritis 2020-2024, ketika janji pemerintah untuk mencapai Net Zero Emissions pada tahun 2060 mulai diimplementasikan dan tekanan terhadap industri bahan bakar fosil meningkat secara dramatis. Selama era transisi yang sulit ini, belum ada studi yang dilakukan untuk secara khusus mengeksplorasi hubungan antara GIC dan CSR terhadap SCA. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menutup kesenjangan tersebut dengan menginvestigasi secara empiris bagaimana kombinasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dan Modal Intelektual Hijau (Green Intellectual Capital/GIC) dapat meningkatkan Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan (Sustainable Competitive Advantag. dan mendorong keberhasilan pencapaian tujuan transisi energi nasional. TINJAUAN PUSTAKA Resource-Based View Theory Wernerfelt . adalah orang pertama yang mengusulkan Teori Pandangan Berbasis Sumber Daya, yang menyoroti bahwa sumber daya internal itu penting, tidak umum, sulit ditiru, dan tidak tergantikan, dan dapat memberikan keunggulan kompetitif (Ii & Pustaka. Menurut Collins dkk. Teori Pandangan Berbasis Sumber Daya beroperasi di bawah premis bahwa perusahaan dapat memperoleh keunggulan kompetitif dengan mengelola sumber dayanya dengan cara yang memaksimalkan kapasitasnya untuk bersaing dengan bisnis Jamilatulrohmah dan Ernawati Budi Astuti : Beyond Profit : Membangun Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan Melalui Gic Dan Csr Pada Industri Energi Indonesia Dalam menghadapi pergeseran regulasi dan tuntutan pasar yang lebih fokus pada isu keberlanjutan, bisnis yang mampu menciptakan dan mengelola sumber daya internal berbasis lingkungan, seperti Green Intellectual Capital (GIC) dan Corporate Social Responsibility (CSR), akan menjadi lebih fleksibel dan kompetitif, menurut Resource-Based View Theory. perusahaan hanya dapat mencapai keunggulan yang berkelanjutan jika mereka memiliki dan mengelola sumber daya yang sulit ditiru oleh pesaing. Menurut penelitian ini, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan modal intelektual hijau (GIC) harus menghasilkan keunggulan kompetitif yang bersifat jangka pendek dan jangka panjang. Stakeholder Theory Freeman menciptakan kata Aupemangku kepentinganAy pada tahun 1984 (Chairunnisa. Menurut teori pemangku kepentingan, sebuah bisnis harus dapat mempertahankan hubungannya dengan para pemangku kepentingan untuk mempengaruhi pencapaian tujuannya, karena bisnis pada dasarnya harus melayani kepentingan para pemangku kepentingan selain kepentingan mereka sendiri (Islamiah & Hermawan, 2. Teori pemangku kepentingan menjadi landasan teori untuk penelitian ini, yang menjelaskan mengapa perusahaan energi harus melampaui tujuan finansial semata. Pelaksanaan kewajiban perusahaan terhadap para pemangku kepentingan, terutama mereka yang terlibat dalam masalah lingkungan seperti masyarakat lokal, pemerintah, dan aktivis lingkungan, diwujudkan dalam CSR (Corporate Social Responsibilit. Perusahaan dapat mengurangi risiko konflik, meningkatkan reputasi mereka, dan mendapatkan izin sosial untuk beroperasi-yang kesemuanya merupakan komponen dari keunggulan kompetitif-dengan menjaga hubungan positif dengan semua pemangku kepentingan. Sustainable Competitive Advantage (SCA) Istilah Aukeunggulan kompetitifAy umumnya didefinisikan sebagai karakteristik dan sumber kekuatan yang memungkinkan suatu bisnis unggul dibandingkan bisnis lain dalam industri atau kategori produk yang sama (Chaharbaghi & Lynch, 1999. Porter, 2012. Porter. Di sisi lain, istilah AuberkelanjutanAy merujuk pada perlindungan karakteristik dan sumber kekuatan yang harus dipertahankan sepanjang waktu, bukan hanya di masa depan, agar suatu bisnis dapat mempertahankan keunggulan kompetitifnya. Strategi Auberbasis sumber dayaAy direkomendasikan karena memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan dan realisasi keunggulan kompetitif. Menurut paradigma Resource-Based View (RBV), suatu perusahaan mencapai keunggulan kompetitif berkelanjutan (SCA) ketika memiliki dan mempertahankan sumber daya yang berharga, langka, tidak dapat ditiru, dan tidak dapat digantikan (VRIN). Keunggulan ini harus tercermin dalam kinerja perusahaan yang secara konsisten melampaui pesaingnya. Kinerja yang lebih baik ini sering diukur menggunakan indikator keuangan. Statistik terpenting adalah ROA, yang menilai efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan total asetnya untuk menciptakan laba bersih. Hal ini secara langsung menunjukkan Kemampuan manajemen dalam mengelola aset . umber day. untuk menghasilkan keuntungan. Perusahaan yang menerapkan SCA cenderung lebih efisien dalam operasionalnya, yang menghasilkan ROA yang lebih Kemampuan untuk mempertahankan ROA yang tinggi dan konsisten dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya menghasilkan keuntungan jangka pendek, tetapi juga secara efektif mempertahankan posisinya yang kompetitif dalam jangka panjang. Hal ini sejalan dengan aspek AukelangsunganAy dalam SCA. Green Intellectual Capital (GIC) Green Human Capital. Green Structural Capital, dan Green Relational Capital membentuk Green Intellectual Capital (GIC), jenis modal intelektual yang ditanamkan dengan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan (Chen, 2. Pengelolaan Green Intellectual Capital (GIC) merupakan alat strategis untuk mendorong inovasi hijau, meningkatkan efektivitas operasional, dan memperkuat hubungan dengan para pemangku kepentingan yang sadar Jurnal Akuntansi. Keuangan dan Auditing. Vol. 5 (No. , 2024. Hal: ??-?? lingkungan di sektor energi yang memiliki dampak lingkungan yang besar. Selain mencerminkan aset tidak berwujud perusahaan, green intellectual capital (GIC) berfungsi sebagai landasan untuk mengembangkan keunggulan kompetitif jangka Panjang (Sukirman & Dianawati, 2. Oleh karena itu. Green Intellectual Capital (GIC) diposisikan dalam penelitian ini sebagai faktor penentu yang signifikan yang dapat memotivasi bisnis energi di Indonesia untuk mengembangkan daya saing jangka panjang berdasarkan cita-cita keberlanjutan, bukan hanya pada orientasi keuntungan semata. Bisnis harus menerapkan strategi yang berfokus pada keberlanjutan jangka panjang dan juga pendapatan jangka pendek seiring dengan meningkatnya tekanan terhadap masalah lingkungan dan transisi energi bersih secara global. Melalui penciptaan kapabilitas personil yang ramah lingkungan, struktur organisasi yang mendorong inovasi ramah lingkungan, dan kemitraan eksternal yang didasarkan pada prinsip-prinsip lingkungan. Green Intellectual Capital (GIC) berperan sebagai katalisator dalam hal ini, yang mengintegrasikan cita-cita keberlanjutan ke dalam operasi bisnis. Menurut penelitian Chen . , bisnis dengan tingkat Green Intellectual Capital (GIC) yang tinggi lebih mungkin untuk menjadi kreatif dan fleksibel dalam menanggapi perubahan di dunia luar, yang memberi mereka keunggulan kompetitif jangka panjang. Green Intellectual Capital (GIC) merupakan kekuatan strategis baru bagi bisnis dalam menghadapi masalah pasar yang lebih berfokus pada praktik-praktik hijau, sesuai dengan kesimpulan yang sama seperti yang dilaporkan oleh (Tonay & Murwaningsari, 2. Berdasarkan hal tersebut, hipotesis berikut dikembangkan: Hipotesis 1 (H. : Green Intellectual Capital (GIC) berpengaruh positif terhadap Sustainable Competitive Advantage (SCA) Corporate Social Responsibility Menurut Hackston dan Milne . , proses penginformasian kepada kelompok kepentingan khusus dan masyarakat umum mengenai dampak sosial dan lingkungan dari operasi ekonomi suatu organisasi umumnya dikenal sebagai pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Menurut Pratiwi dkk. , pengungkapan tanggung jawab sosial juga dapat dipahami sebagai kewajiban etis perusahaan terhadap strategi pemangku kepentingan, di mana perusahaan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat lokal selain kepentingan finansial mereka (Pratiwi et al. , 2. Legitimasi sosial perusahaan meningkat dan kemungkinan konflik dengan komunitas regulator berkurang ketika Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) diterapkan secara efektif (Salsabila, 2. Perusahaan didorong oleh tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk mempertahankan dan mengembangkan aset tak berwujud termasuk modal relasional, struktural, dan manusia. Manajemen green intellectual capital (GIC) dan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bekerja sama untuk meningkatkan kapasitas perusahaan dalam berinovasi dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar yang semakin berfokus pada tantangan Di sektor energi, perusahaan-perusahaan mengadopsi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) sebagai bagian dari strategi bisnis mereka, bukan hanya sebagai persyaratan hukum karena kendala peraturan, ekspektasi pelanggan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Hal ini sejalan dengan upaya perusahaan untuk mendapatkan izin sosial untuk beroperasi dan tujuan pembangunan berkelanjutan. Namun, penelitian lain menunjukkan bahwa penerapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dapat memiliki pengaruh yang merugikan terhadap keberlanjutan perusahaan dalam situasi tertentu. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) membutuhkan investasi yang besar dalam pelaporan keberlanjutan, teknologi ramah lingkungan, dan pelatihan sumber daya Biaya yang dikeluarkan dapat melebihi keuntungan strategis yang diperoleh jika strategi utama perusahaan tidak terhubung dengan pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR). Hal ini membuat Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) menjadi beban keuangan yang, terutama dalam jangka pendek, menurunkan daya saing perusahaan. Jamilatulrohmah dan Ernawati Budi Astuti : Beyond Profit : Membangun Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan Melalui Gic Dan Csr Pada Industri Energi Indonesia Pengeluaran untuk Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) yang tidak secara langsung memengaruhi profitabilitas dapat dianggap sebagai pemborosan karena tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan laba. Investor dan pemegang saham mungkin tidak senang dengan hal ini (Hadiwibowo & Purwanti, 2. Hipotesis berikut diajukan berdasarkan argumen ini: Hipotesis 2 (H. : Green Corporate Social Responsibility berpengaruh negatif terhadap Sustainable Competitive Advantage. Green Relational Capital Sustainable Competitive Advantage Corporate Social Responsibility Gambar 1. Kerangkan Konseptual METODE PENELITIAN Metodologi penelitian ini didasarkan pada teknik penelitian kuantitatif. Untuk menjawab masalah penelitian, penelitian kuantitatif menggunakan data dalam bentuk nilai numerik. Dalam rangka menguji teori atau memberikan penjelasan terhadap suatu fenomena, metode ini sangat menekankan pada pengukuran yang obyektif, pengumpulan data yang terstandardisasi, dan analisis statistic (Waruwu et al. , 2. Tujuannya adalah menggunakan data numerik untuk menguji secara objektif hubungan sebab akibat yang telah dipostulatkan berdasarkan landasan teori. Metode ini memberikan dukungan statistik yang kuat untuk mendukung atau menentang hipotesis dan memungkinkan ekstrapolasi hasil ke populasi yang lebih besar. Penelitian ini akan menggunakan data sekunder dari perusahaan sektor energi yang terdaftar di BEI untuk tahun 2020-2024 untuk mencapai tujuan tersebut. Sektor ini terdiri dari beberapa subsektor yang terkait dengan transisi energi, termasuk batu bara, minyak dan gas, dan utilitas yang menggunakan energi terbarukan. Pengambilan sampel bertujuan akan menjadi teknik pengambilan sampel yang digunakan. Purposive sampling adalah strategi pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu, menurut Sugiyono . Berikut ini adalah kriteria yang menjadi acuan: Jurnal Akuntansi. Keuangan dan Auditing. Vol. 5 (No. , 2024. Hal: ??-?? Tabel 1. Kriteria Sampel Penelitian No. Kriteria Jumlah Perusahaan Perusahaan energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2020 Ae 2024 Perusahaan Laporan Keberlanjutan (Sustainability Repor. selama periode tahun 2020 - 2024 Perusahaan yang menunjukkan tren perbaikan profitabilitas selama periode 2020 - 2024 Jumlah perusahaan yang terpilih sebagai sampel penelitian Jumlah sempel yang terpilih 8 x 5 tahun VARIABEL dan Definisi Operasional Variabel Studi ini dapat dibagi menjadi dua kategori: variabel independen dan variabel Variabel independen atau terikatnya dalam studi ini adalah Green Intellectual Capital (X. dan Corporate Social Responsibility (X. , sedangkan variabel dependen atau terikatnya adalah Sustainable Advantage Competitive (Y. Tabel 2. Definisi Operasional Variabel Nama Variabel Definisi Variabel Indikator Green Intellectual Capital (X. Green Intellectual Green Intellectual Capital dalam Capital (GIC) penelitian ini memiliki 3 dimensi merupakan bentuk untuk menghitungnya. Yaitu : kapital intelektual . Green Human Capital terdiri dari 4 item, prinsip . Green Structural Capital terdiri dari 4 item, lingkungan, yang . Green Relational Capital terdiri terdiri dari Green dari 4 item. Human Capital. Perusahan akan diberikan skor 1 Green Structural untuk setiap item yang diungkapkan Capital, dan Green dan akan mendapatkan skor 0 jika Relational Capital item tidak diungkapkan. Rumus menghitung Green Intellectual Capital : yaycyceyco ycycaycuyci yccycnycycuyciycoycaycyycoycaycu ycycnycaycy yceycoyceycoyceycu GIC = ycNycuycycayco yaycycoycoycaEa ycoyceycyceycoycycycEaycaycu ycnycyceyco ycycnycaycy yceycoyceycoyceycu Corporate Social Responsibility (X. Corporate Social Responsibillity (CSR) merupakan variabel independen CSR di ukur menggunakan 90 item penilaian CSR. Perusahaan akan diberi skor 1 untuk setiap item yang diungkapkan. Jamilatulrohmah dan Ernawati Budi Astuti : Beyond Profit : Membangun Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan Melalui Gic Dan Csr Pada Industri Energi Indonesia Sustainable Competitive Advantage (Y) sosial dan lingkunan dengan kelompok berkepentingan dan dengan masyarakat secara keseluruhan. Sustainable Competitive Advantage kemampuan suatu perusahaan untuk pesaingnya dalam jangka panjang. sedangkan jika tidak diungkapkan diberi skor 0. Rumus menghitung Corporate Social Responsibillity : yaycyceyco ycycaycuyci yccycnycycuyciycoycaycyycoycaycu ycycnycaycy yceycoyceycoyceycu CSR = ycNycuycycayco yaycycoycoycaEa ycoyceycyceycoycycycEaycaycu ycnycyceyco ycycnycaycy yceycoyceycoyceycu Sustainabel Advantage Competitive diukur menggunakan rasio Return On Asset (ROA). Rumus meghitung Return On Asset (ROA) : ROA = yaycaycayca yaAyceycycycnEa ycNycuycycayco yaycyceyc ANALISA DAN PEMBAHASAN ANALISIS Uji Statistik Deskriptif Tabel 3. Hasil Uji Statistik Deskriptif Descriptive Statistics Minimum Maximum Mean Std. Deviation GIC 0,15 0,92 0,6197 0,1705 CSR 0,06 0,22 0,1425 0,04606 SCA 124,91 26,5198 29,2063 Valid N . Berdasarkan hasil uji statistic deskriptif pada table diatas, menunjukkan bahwa nilai N atau jumlah data penelitian yang valid pada setiap variable sebanyak 40 yang berasal dari Perusahaan energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020-2024. Hasil uji statistic deskriptif untuk variable Green Intelektual Capital (GIC) menunjukkan nilai minimum sebesar 0,15 yaitu di PT Elnusa Tbk tahun 2023, nilai maksimum sebesar 0,92 nilai dari PT. Bukit Asam Tbk Tahun 2024, mean . ata-rat. sebesar 0,6197 dengan memiliki standar deviasi sebesar 0,17050. Hasil uji statistic deskriptif untuk variable Corporate Social Responsibility (CSR) menunjukkan nilai minimum sebesar 0,06 Pada PT Bayan Resource Tbk Tahun 2022, nilai maksimum sebesar 0,22 di PT Mitrabara Adiperdana Tbk Tahun 2020, mean . ata-rat. sebesar 0,1425, dengan memiliki standar deviasi sebesar 0,04606. Sedangkan untuk hasil uji statistic deskriptif yang terakhir yaitu Sustainable Competitive Advantage (SCA) menunjukkan nilai minimum sebesar 1,50 di PT Elnusa Tbk Tahun 2021, nilai maksimum sebesar 124,91 pada PT Golden Energy Mines Tbk. Tahun 2022, mean . ata-rat. 26,5198, dengan memiliki Jurnal Akuntansi. Keuangan dan Auditing. Vol. 5 (No. , 2024. Hal: ??-?? satandar deviasi sebesar 29,20630. Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Tabel 4. Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Parametersa,b Most Extreme Differences 0,0000000 Mean Std. Deviation Absolute Positive 26,31299074 0,125 0,125 Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. -0,067 0,125 ,119c Berdasarkan Uji Normalitas One Sample Kolmogorov Swirnov Test diperoleh nilai Asymp Sig. -taile. sebesar 0,119 yang artinya lebih besar dari 0,05 . ,119 > 0,. yang menunjukkan bahwa data berdistribusi normal sehingga layak untuk digunakan. Uji Multikolinieritas Tabel 5. Hasil Uji Multikolinieritas Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients 1,766 26,042 Std. Error 44,878 27,88 9,03 42,033 (Constan. CIC CSR Standardized Coefficients Sig. Beta Collinearity Statistics Tolerance VIF 0,152 0,039 0,934 0,969 0,356 0,996 1,004 0,035 0,215 0,831 0,996 1,004 Dependent Variable: SCA Berdasarkan hasil uji multikolinearitas pada tabel di atas menunjukkan bahwa nilai tolerance dan VIF untuk variabel Green Intellectual Capital (GIC) masing-masing sebesar 0,996 dan 1,004. Sedangkan untuk variabel Corporate Social Responsibility (CSR) memperoleh nilai tolerance dan VIF masing-masing sebesar 0,996 dan 1,004. Nilai tolerance yang diperoleh dari kedua variabel tersebut lebih besar dari 0,10 dan nilai VIF pada kedua variabel tersebut lebih kecil dari 10, maka bisa disimpulkan bahwa tidak ada korelasi antar variabel independen atau tidak terjadi gejala multikolinearitas dalam penelitian ini. Sehingga persamaan regresi tersebut layak untuk dipakai dalam memprediksi variabel dependen Sustainable Competitive Advantage (SCA). Jamilatulrohmah dan Ernawati Budi Astuti : Beyond Profit : Membangun Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan Melalui Gic Dan Csr Pada Industri Energi Indonesia Uji Heteroskedasitas Ganbar 1. Hasil Uji Heteroskedasitas Hasil uji scatterplot pada gambar di atas menunjukkan hasil bahwa pada penyebaran titik-titik terlihat menyebar secara acak di sekitar garis horizontal 0 dan tidak membentuk pola Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak terjadi heteroskedasitas pada persamaan regresi penelitian ini sehingga layak dipakai untuk memprediksi variabel dependen Sustainable Competitive Advantage (SCA) pada perusahaan energi. Analisis Uji Regresi Linier Berganda Tabel 6. Hasil Uji Regresi Linier Berganda Coefficientsa Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Model 1 (Constan. 43,496 Std. Error 20,213 GIC 32,243 25,484 CSR -259,364 94,327 Beta 2,152 Sig. 0,038 0,188 1,265 0,214 -0,409 -2,750 0,009 Dependent Variable: SCA Berdasarkan table diatas, maka persamaan model analisis regresi linier berganda yang diperoleh adalah sebagai berikut : Persamaan regresi linier pada penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel Green Intellectual Capital (GIC) dan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Sustainable Competitive Advantage (SCA), sehingga model persamaan regresi linier berganda dapat dirumuskan dengan: Y = a b1X1 b2X2 e . Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda pada tabel di atas dapat didistribusikan dalam model persamaan sebagai berikut: Y = 43,496 32,243 X1 - 259,364 X2 e Jurnal Akuntansi. Keuangan dan Auditing. Vol. 5 (No. , 2024. Hal: ??-?? Dapat disimpulkan bahwa : Konstanta bernilai positif, yaitu sebesar 43,496. Tanda positif menunjukkan bahwa adanya hubungan yang searah antara variable independent dan variable dependen. Hal ini artinya apabila semua variable independent yang meliputi GIC dan CSR dianggap ada atau sama dengan satu . , maka CSR akan mengalami kenaikan. Variabel GIC menunjukkan koefisien regresi sebesar 32,243. Hal ini menunjukkan setiap kenaikan satu . persen, maka GIC akan mengalami kenaikan sebesar 32,243. Dengan asumsi semua variable independent tetap. Variabel CSR menunjukkan koefisien regresi sebesar -259,364. Hal ini menunjukkan setiap kenaikan satu . persen, maka CSR akan mengalami penurunan sebesar -259,364. Dengan asumsi semua variable independent tetap. Uji Hipotesis Uji Koefisien Determinasi (R. Tabel 7. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R. Model Summaryb Model ,434a Adjusted R Square 0,144 R Square 0,188 Std. Error of the Estimate 27,01479 DurbinWatson 0,728 Predictors: (Constan. CSR. GIC Dependent Variable: SCA Berdasarkan hasil Uji R2, menunjukkan nilai adjusted R Square sebesar 0,144. Maka dapat disimpulkan bahwa kedua variable independen yang meliputi GIC (X. , dan CSR (X. secara bersamaan mempengaruhi variable dependen yaitu SAC (Y) sebesar 14,4 persen. Sedangkan 85,6 persen dipengaruhi oleh variable lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian Uji F (Simulta. Tabel 8. Hasil Uji F (Simulta. ANOVAa Model 1 Regression Sum of Squares 6264,754 Residual 27002,566 Total 33267,320 Dependent Variable: SAC Predictors: (Constan. CSR. GIC Mean Square 3132,377 4,292 Sig. ,021b 729,799 Tabel menunjukkan hasil uji F dimana diperoleh nilai F-hitung sebesar 4,292 dan nilai signifikansi sebesar 0,021. Oleh karena signifikansi lebih kecil dari 0,05 (<=0,. , maka dapat dikatakan bahwa variabel pengungkapan GIC dan CSR perusahaan secara simultan atau bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap SAC. Jamilatulrohmah dan Ernawati Budi Astuti : Beyond Profit : Membangun Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan Melalui Gic Dan Csr Pada Industri Energi Indonesia Uji t (Persia. Tabel 9. Hasil Uji t (Persia. Coefficientsa Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Model 1 (Constan. 43,496 Std. Error 20,213 GIC 32,243 25,484 CSR -259,364 94,327 Beta 2,152 Sig. 0,038 0,188 1,265 0,214 -0,409 -2,750 0,009 Dependent Variable: SCA Nilai ttabel berdasarkan rumus ttabel =t. /2. n-k-. = t. ,05/2. 40-2-. = t. ,025. , nilai ttabel yang diperoleh adalah 0,02619 Berdasarkan table diatas, uji t menghasilkan : Nilai thitung 1, 265 > 0,02619 untuk variable GIC dengan nilai signifikan 0,214 > 0,05. Sehingga dapat dikatakan bahwa variable GIC tidak berpengaruh secara signifikan terhadap SAC, maka H1 ditolak. Nilai thitung -2,750 < 0,02619 untuk variable CSR dengan nilai signifikansi 0,009 < 0,05. Sehingga dapat dikatakan bahwa variable CSR berpengaruh negative secara signifikan terhadap CSR, maka H2 diterima. PEMBAHASAN Pengaruh Green Intellectual Capital (GIC) terhadap Sustainable Competitive Advantage (SCA) Hasil analisis menunjukkan bahwa hipotesis pertama tidak terbukti. Uji parsial . -tes. yang membandingkan variabel GIC dengan SCA menunjukkan bahwa GIC tidak memiliki pengaruh terhadap SCA, dengan nilai t untuk variabel GIC sebesar 1. 265 > 0. 02619 dan nilai signifikansi sebesar 0. 214 > 0. Dari temuan ini jelas bahwa GIC tidak berpengaruh terhadap SCA. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun perusahaan energi Indonesia telah mulai menerapkan prinsipprinsip keberlanjutan melalui GIC, dampaknya terhadap keunggulan kompetitif belum optimal. GIC merupakan investasi jangka panjang. Keuntungan dari GIC, seperti efisiensi energi atau pengembangan produk hijau, masih berada pada tahap awal pengembangan dan belum sepenuhnya diubah menjadi keunggulan kompetitif yang dapat diukur. Dengan kata lain, dampak investasi GIC terhadap keunggulan kompetitif belum terlihat secara langsung. Kesimpulan bahwa GIC tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap SCA (H1 ditola. mengisi celah empiris yang diidentifikasi dalam penelitian ini. Temuan ini bertentangan dengan temuan Islamiah dan Hermawan . , menunjukkan bahwa dalam konteks transisi energi Indonesia dari 2020 hingga 2024, investasi dalam kemampuan hijau belum cukup matang untuk diubah menjadi keunggulan kompetitif yang dapat diukur melalui ROA. Hal ini memperkuat konsep bahwa GIC adalah aset jangka panjang dengan konsekuensi yang tertunda. Pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Sustainable Competitive Advantage (SCA) Hasil analisis mendukung penerimaan hipotesis kedua. CSR memiliki dampak negatif terhadap SCA, berdasarkan penelitian terhadap variabel tersebut menggunakan uji parsial . 13 Jurnal Akuntansi. Keuangan dan Auditing. Vol. 5 (No. , 2024. Hal: ??-?? Nilai t untuk variabel GIC adalah -2. 750 < 0. 02619, dan nilai signifikansi adalah 0. Menurut analisis ini, keunggulan strategis CSR dikalahkan oleh biaya yang Hal ini terjadi karena inisiatif CSR hanya didasarkan pada biaya dan tidak diintegrasikan ke dalam rencana utama bisnis untuk memperoleh keunggulan kompetitif. Akibatnya. CSR menjadi beban finansial yang berdampak negatif pada SCA. Studi ini mendukung perspektif berbasis biaya dalam tanggung jawab sosial Menurut pandangan ini, yang dipopulerkan oleh ekonom Milton Friedman, memaksimalkan keuntungan harus menjadi prioritas utama bagi perusahaan. Menurut pandangan ini, pengeluaran untuk kegiatan sosial dianggap tidak perlu dan menguras sumber daya perusahaan untuk investasi yang esensial . eperti efisiensi atau teknolog. , yang merugikan kemampuan perusahaan untuk bersaing. Penerapan H2, yang menunjukkan bahwa CSR memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap SCA, memperkuat argumen teoretis mengenai pentingnya CSR. Penelitian ini menyediakan bukti empiris untuk mendukung posisi berbasis biaya, yang menyatakan bahwa dalam bisnis energi Indonesia, penerapan CSR yang tidak sepenuhnya terintegrasi ke dalam strategi inti menjadi beban finansial yang mengurangi daya saing dalam jangka pendek. Temuan studi ini memiliki implikasi kebijakan yang signifikan mengingat tujuan Pemerintah Indonesia untuk mencapai Net Zero Emissions pada tahun 2060. Undang-undang Net Zero Emissions (NZE) pada dasarnya mewajibkan perusahaan di sektor energi untuk berinvestasi dalam kemampuan hijau (GIC) dan menerapkan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) sesuai dengan prinsip-prinsip transisi energi yang adil. Namun, temuan studi ini menyoroti masalah implementasi yang cukup besar. Fakta bahwa GIC belum memberikan pengaruh positif terhadap keunggulan kompetitif menunjukkan bahwa insentif legislatif belum sepenuhnya sejalan dengan motivasi pasar. Perusahaan energi kemungkinan masih berada dalam fase adaptasi, di mana pengeluaran hijau yang diwajibkan oleh undang-undang belum cukup matang untuk diubah menjadi manfaat kompetitif yang signifikan. Di sisi lain, pengaruh negatif CSR terhadap daya saing perusahaan menjadi peringatan Hal ini membuka kemungkinan bahwa tekanan untuk mematuhi tujuan keberlanjutan akan mendorong penerapan CSR yang bersifat ceremonial atau altruistik semata, yang pada akhirnya menjadi beban biaya dan merusak keuntungan jangka pendek. Jika tren ini berlanjut, percepatan tujuan NZE (Net Zero Emission. mungkin tertunda karena perusahaan melihat transisi hijau sebagai beban finansial rather than sebagai peluang strategis. Oleh karena itu, terdapat kesenjangan antara tujuan makro kebijakan NZE dan realitas mikro di tingkat perusahaan, yang menyoroti perlunya mekanisme insentif yang lebih efektif dan model yang lebih baik untuk mengintegrasikan strategi keberlanjutan agar transisi energi tidak mengancam daya saing industri nasional. SIMPULAN Beyond profit : membangun keunggulan kompetitif berkelanjutan melalui GIC dan CSR pada perusahaan sektor energi Indonesia menjadi fokus studi ini. Berdasarkan temuan analisis. GIC tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap SCA, menunjukkan bahwa investasi yang dilakukan perusahaan energi pada asset tak berwujud berbasis lingkungan, seperti kompetensi karyawan hijau dan inovasi hijau masih memerlukan waktu yang lebih lama untuk menunjukkan perbaikan yang dapat diukur dalam keunggulan kompetitif perusahaan, seperti peningkatan profitabilitas (ROA). GIC merupakan investasi strategi jangka Panjang yang dampaknya belum terlihat dalam periode 2020 Ae 2024. Di sisi lain. CSR secara signifikan merugikan SCA. Hal ini menyarankan bahwa inisiatif CSR yang tidak diintegrasikan ke dalam rencana utama bisnis dapat berakhir dengan membebani perusahaan secara finansial dan, dalam jangka pendek, biaya yang dikeluarkan untuk inisiatif CSR yang bersifat filantropis atau seremonial justru menggerus profitabilitas dan menurunkan daya saing perusahaan dipasar. Jamilatulrohmah dan Ernawati Budi Astuti : Beyond Profit : Membangun Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan Melalui Gic Dan Csr Pada Industri Energi Indonesia KETERBATASAN DAN SARAN Kesimpulan dari studi ini tidak dapat digeneralisasikan ke industri lain atau periode waktu lain karena studi ini hanya menggunakan data sekunder dari perusahaan energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk periode 2020Ae2024. Selain itu, karena studi ini bersifat cross-sectional, studi ini tidak dapat sepenuhnya menangkap dinamika jangka panjang dari implementasi GIC dan CSR. Untuk membuat hasil penelitian lebih umum dan dapat diterapkan secara luas, disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut guna memperluas cakupan sampel dalam hal industri dan periode waktu. Agar pengeluaran CSR dapat memberikan nilai strategis rather than hanya menjadi beban finansial, perusahaan energi Indonesia sebaiknya memasukkan inisiatif CSR ke dalam rencana bisnis utama mereka. DAFTAR PUSTAKA