JENDELA PENGETAHUAN Vol. No. Oktober 2022, pp. 106Ae115 ISSN: 1979-7842 ANALISIS KETERSEDIAAN KARBON KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG SIRIMAU KOTA AMBON Roberth Berthy Riry1*. Mohammad Amin Lasaiba1 Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan IPS FKIP Unpatti Article Info Kata Kunci: Ketersediaan karbon. Hutan Lindung dan Gunung Sirimau Keywords: Carbon Protection Forest and Mount Sirimau *Corresponding Author: ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk . Mengetahui besarnya ketersediaan karbon pada berbagai penggunaan lahan di kawasan hutan lindung Gunung Sirimau Kota Ambon dan . Mengetahui potensi serapan CO2 berdasarkan penggunaan lahan di kawasan hutan lindung Gunung Sirimau Kota Ambon. Metode dalam penelitian ini terdiri dari pembuatan peta penggunaan lahan Pengukuran biomasa tumbuhan serta pekerjaan Hasil penelitian menunjukkan bahwa total ketersediaan karbon pada hutan lindung Gunung Sirimau adalah 418,98 ton/ha, yang berasal dari cadangan karbon pohon, 402,25 ton/ha . %), dan tumbuhan bawah 16,69 ton/ha . %). Berdasarkan penggunaan lahan, cadangan karbon terbesar berasal dari penggunaan lahan hutan lahan kering primer sebesar 187,59 ton/ha, hutan lahan kering sekunder 100,48 ton/ha, semak belukar 32,59 ton/ha . ,78 %), pertanian lahan kering 31,41 ton/ha . ,5%), pertanian lahan kering campuran 59,25 ton/ha . ,14%), savana 6,78 ton/ha . ,62%) dan permukiman 0,84 ton/ha . ,2%). Potensi serapan karbon dioksida oleh vegetasi pada hutan lindung Gunung Sirimau sebesar 1. 537,50 ton CO2/ha. Penyerapan terbesar berasal dari vegetasi tingkat pohon sebesar 1. 476,25 Ton CO2/ha atau 96 % dari total penyerapan CO2. Berdasarkan penggunaan lahannya, hutan lahan kering primer memiliki kemampuan penyerapan CO2 terbesar yaitu 688,45 Ton CO2/ha atau 44,78% dari total serapan CO2. ABSTRACT This study aims to . determine the amount of carbon availability in various land uses in the protected forest area of Mount Sirimau. Ambon City, and . determine the potential for CO2 absorption based on land use in the protected forest area of Mount Sirimau. Ambon City. The method in this study consisted of making land use maps, measuring plant biomass and laboratory work. The results showed that the total carbon availability in the protected forest of Mount Sirimau was 418. 98 tons/ha, which came from tree carbon stocks, 402. 25 tons/ha . %), and undergrowth, 16. 69 tons/ha . % ). Based on land use, the largest carbon stocks came from primary dryland forest land use of 187. 59 tons/ha, secondary dryland forest at 100. 48 tons/ha, shrubs at 32. 59 tons/ha . 78%), dry agriculture land at 31. 41 tonnes/ha . 5%), mixed dryland 25 tonnes/ha . 14%), savanna 6. 78 tonnes/ha . and settlements 0. 84 tonnes/ha . 2%). The potential for carbon dioxide absorption by vegetation in the protected forest of Mount Sirimau is 1,537. 50 tons CO2/ha. The biggest absorption came from tree-level vegetation of 1,476. 25 tons CO2/ha or 96% of the total CO2 absorption. Based on land use, primary dryland forest has the greatest ability to absorb CO2, namely 688. 45 tonnes of CO2/ha or 44. 78% of the total CO2 absorption. Roberth Berthy Riry Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan IPS FKIP Unpatti Jl. Ir. Putuhena Poka Ambon Jurnal Jendela Pengetahan. Vol. No. Oktober 2022: 106Ae115 ISSN: 1979- berthy@gmail. PENDAHULUAN Hutan merupakan sumber daya alam yang sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan manusia dan makluk hidup lainnya, baik secara langsung, seperti hasil kayu dan keanekaragaman flora fauna, maupun tidak langsung seperti jasa lingkungan dan estetika, pengatur tata air, dan sebagai penyerap karbon dan penyedia oksigen. Oleh sebab itu, kegiatan-kegiatan yang bersifat konversi hutan dan merusak hutan akan memicu terjadinya penurunan fungsi hutan termasuk penimbunan CO2 di atmosfir. Sebagai suatu ekosistem, hutan sangat berperan dalam siklus karbon, yaitu menyerap karbon yang berlebihan di atmosfer dan menyimpannya dalam tumbuhan sebagai serasah, dan bahan organik tanah, sehingga konsentrasi karbon dioksida di atmosfer menurun (Hairiah . Menurut Bahruni . hutan menyerap CO2 dan digunakan dalam proses fotosintesis untuk menghasilkan O2 dan sebagian besar energi tersebut berada dalam bentuk biomassa, sedangkan Hanafi dan Bernardianto . mengatakan bahwa kurang lebih 90% biomassa hutan terdapat dalam bentuk pokok kayu, dahan, daun, akar dan sampah hutan . , hewan dan jasad Mekanisme penyerapan dan karbon dari atmosfer dan hasil akhirnya berupa cadangan atau stok karbon dalam ekosistem hutan disebut siklus karbon. Siklus karbon dipengaruhi oleh beberapa kondisi atau faktor yaitu kondisi vegetasi . enis vegetasi dan umur tanama. , kondisi tempat tumbuh dan lingkungan . aktor edafis, suhu, kelembaban, curah huja. , serta kondisi pengelolaan dan Hal menunjukkan bahwa kemampuan hutan dalam menyerap dan menyimpan karbon tidak sama tergantung pada jenis hutan dan keragaman pohonnya, serta faktor lingkungan seperti kondisi tanah dan topografi, sehingga ketersediaan informasi mengenai cadangan karbon dari berbagai tipe hutan, jenis pohon, dan lingkungan tumbuhnya sangat penting (Masripatin, dkk. , 2. Hasil penelitian Masripatin dkk . menunjukkan bahwa cadangan karbon diatas permukaan tanah pada hutan lindung sebesar 211,86 ton C/ha jauh lebih tinggi dari hutan sekunder bekas kebakaran . ,5 ton C/h. , dan hutan sekunder manggrove . ,1 ton C/h. Sejalan dengan peningkatan aktifitas manusia dalam pembangunan, deforestasi dan alih fungsi lahan juga terus meningkat sehingga peningkatan emisi karbon di atmosfer terus terjadi. Kegiatan yang bersifat merusak hutan ini mengakibatkan terjadinya perubahan jenis dan komposisi jenis di lahan tersebut, dan menurunnya fungsi ekologis hutan sebagai penyerap karbon di atmosfer. Oleh sebab itu, besarnya stok karbon yang tersimpan dalam suatu kawasan hutan menjadi salah satu informasi penting untuk mendukung upaya konservasi dan rehabilitasi hutan dengan tujuan meningkatkan serapan dan menurunkan emisi karbon (Masripatin, , 2010 dan Manuri, dkk. , 2. Kota Ambon memiliki kawasan hutan 511 ha, termasuk kawasan hutan lindung Gunung Sirimau seluas 3. 449 Ha yang ditetapkan dengan SK Menteri Kehutanan Nomor: 10327/Kpts-II/2002. Peran hutan lindung di Kota Ambon ini sangat strategis karena selain sebagai pengatur tata air wilayah (DAS), mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah, juga berperan dalam Namun kepadatan penduduk sebesar 1. 849 jiwa per km2 yang umumnya terkonsentrasi di Kecamatan Sirimau, telah mendorong pertumbuhan permukiman dan alih fungsi lahan di wilayah kecamatan Sirimau berjalan cepat hingga masuk dalam kawasan hutan lindung Gunung Sirimau. Oleh sebab itu, dalam Kawasan hutan lindung Gunung Sirimau dapat ditemukan berbagai tutupan lahan akibat penggunaan lahan yang berbedabeda. Perubahan tutupan dan penggunaan lahan ini sangat mempengaruhi fungsi Gunung Sirimau sebagai penyerap karbon. Penelitian ini bertujuan mengkaji ketersediaan karbon di kawasan hutan lindung Gunung Sirimau setelah terjadi perubahan baik di areal hutan Jurnal Jendela Pengetahan. Vol. No. Oktober 2022: 106Ae115 maupun di areal non-hutan sejak tahun 2010. Salah satu fungsi hutan Lindung Gunung Sirimau sebagai ekosistem hutan adalah sebagai penyimpan karbon yang diserap dari atmosfir. Pada tahun 2006 komposisi hutan di dalam kawasan hutan Lindung Gunung Sirimau 63% dan sisanya adalah non-hutan. Laporan Dinas Kehutanan Provinsi Maluku tahun 2018 menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan penggunaan lahan di dalam kawasan hutan lindung Gunung Sirimau seluas 41 ha, masing-masing 14 ha pada areal hutan . rimer dan sekunde. dan 27 ha pada areal non-hutan . enggunaan Hal ini tentunya sangat mempengaruhi cadangan karbon pada hutan lindung Gunung Sirimau yang dilaporkan mencapai 11. 462,49 ton/ha yang tersebar pada tegakan/pohon, akar, tumbuhan bawah, nekromassa, serasah dan C-organik pada permukaan tanah (Patampang, 2. Konversi hutan menjadi penggunaan lain seperti pertanian lahan kering campuran, dan pertanian lahan kering merupakan penyebab terjadinya perubahan tutupan lahan dan juga dapat menyebabkan perubahan ketersediaan karbon di dalam kawasan hutan lindung Gunung Sirimau. Berdasarkan kondisi diatas, maka dirumuskan permasalahan yang akan dikaji melalui penelitian ini adalah sebagai berikut: berapa besar ketersediaan karbon pada berbagai penggunaan lahan saat ini di kawasan hutan lindung Gunung Sirimau Kota Ambon, berapa besar potensi serapan CO2 pada kondisi penggunaan lahan saat ini dan bagaimana arahan pengelolaan hutan lindung Gunung Sirimau dalam rangka peningkatan manfaat dan fungsi hutan lindung dalam penyerapan karbon berdasarkan kondisi saat METODOLOGI PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di kawasan hutan lindung Gunung Sirimau seluas 3. ha, dari bulan Mei - Juli 2019. Alat yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian yaitu seperangkat komputer dilengkapi dengan software GIS. Global Positioning System (GPS), kamera. Microsoft office, tali rafia sepanjang 100m, pita meter ukuran 50m, phiband dan alat tulis. Bahan yang digunakan berupa peta penutupan lahan Kota Ambon ISSN: 1979-7842 Tahun 2011 dan 2019. Data lainnya yang digunakan adalah peta administrasi Kota Ambon dan Peta Kawasan Hutan Provinsi Maluku. Penelitian ini terdiri dari: . , . pekerjaan lapangan, . pekerjaan laboratorium, dan . analisis data. Pekerjaan penggunaan lahan Ae dilakukan berdasarkan Peta Penutupan Lahan tahun 2018 yang dikeluarkan Oleh BPKH Wilayah IX Ambon berupa data shp file, dan selanjutnya diolah dan dianalisis menggunakan software Arc GIS untuk mengidentifikasi tutupan lahan dan pengelompokkan tipe penggunaan lahan dalam kawasan hutan Lindung Gunung Sirimau. Penetapan lokasi sampling yang Purposive sampling, yaitu pada semua penggunaan Jumlah lokasi samping per penggunaan lahan dilakukan dengan mempertimbangkan luas masing-masing. Ukuran petak sampling adalah 20 x 60 m . uas = 0,12 h. , dengan 3 jenis plot sesuai dengan jenis tegakan. Untuk tutupan lahan berupa pohon dengan Plot besar berukuran 20m y 60m dengan jumlah 1 petak. Plot sedang 10m y 10m berjumlah 3 Didalam masing-masing petak terbagi lagi menjadi Plot kecil berukuran 1m y 1m sebanyak 3 buah. Plot besar untuk megetahui nilai karbon pada pohon besar . iameter >30 c. , plot sedang mengukur karbon untuk pohon ukuran 5-30 cm, dan plot kecil untuk mengukur karbon tumbuhan bawah tegakan. Pekerjaan lapangan dengan pendekatan satuan lahan sebagai peta kerja lapangan, meliputi: pengukuran biomasa pohon yang dilakukan dengan cara 'non-destructive' . idak merusak bagian tanama. Setiap pohon diukur diameter batang setinggi dada . bh = diameter at breast height = 1. 3 m dari permukaan tana. semua pohon yang masuk dalam plot. Pengukuran diameter . hanya pada pohon berdiameter 5 cm hingga 30 cm . ingkat sapihan s/d poho. Pohon dengan dbh <5 cm diklasifikasikan sebagai tumbuhan bawah . ingkat sema. Pengukuran biomasa tumbuhan bawah . emak, . erusak bagian tanama. Tumbuhan bawah yang diambil sebagai contoh adalah semua Jurnal Jendela Pengetahan. Vol. No. Oktober 2022: 106Ae115 tumbuhan hidup berupa pohon yang berdiameter < 5 cm, herba dan rumputrumputan. Tempatkan kuadran kayu . ,5m x 0,5. di dalam plot . m x 20 . secara Potong semua tumbuhan bawah yang terdapat di dalam kuadran, pisahkan antara daun dan batang. Masukkan ke dalam kantong kertas, beri label sesuai dengan kode Untuk penanganan, ikat semua kantong kertas berisi tumbuhan bawah yang diambil dari satu plot. Masukkan dalam karung besar untuk kamp/laboratorium. Pekerjaan Laboratorium . ampel tumbuhan bawa. dengan pengukuran . berat basah daun atau batang, catat beratnya dalam blangko ambil subcontoh tanaman dari masing-masing biomasa daun dan batang sekitar 100-300g. Bila biomasa contoh yang didapatkan hanya sedikit (< 100 . , maka timbang semuanya dan jadikan sebagai subcontoh. Keringkan sub-contoh biomasa tanaman yang telah diambil dalam oven pada suhu 800C selama 24 jam. Timbang berat keringnya dan catat dalam blanko. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Tutupan Lahan Hutan Lindung Gunung Sirimau. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan lahan di kawasan hutan lindung Gunung Sirimau terdiri dari hutan, yaitu hutan lahan kering primer dan hutan lahan kering sekunder dan penggunaan lahan bukan hutan yang terdiri dari semak belukar, pertanian lahan kering, pertanian lahan kering campuran, padang rumput/savanah, dan Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan ditemukan bahwa vegetasi penyusun tutupan lahan di kawasan hutan lindung Gunung Sirimau, yaitu: Tegakan hutan yang didominasi oleh jenis kayu-kayuan seperti Akasia (Acacia mangiu. Salawaku (Paraserienthes falcatari. Kenari (Canarium commun. Jambu hutan (Eugenia s. Ganemo (Gentum genem. Gayang ISSN: 1979-7842 (Inocarpus eduli. Pule (Alstonia solari. Lenggua (Pterocarpus indicu. Palala (Knema ). Gondal (Ficus septic. Husor (Garcinia corne. Kayu titi (Gmelina molucan. Nani (Metrosideros petiolat. Kenanga (Cananga Samama (Anthocephalus macrophyllu. Timun sp. Papeda uba (Gaertnera s. Sapar (Alphitonia zizypoide. Nanari (Canarium sylvestr. Arupa (Ganua boerlagean. Waru (Hibiscus tiliceu. Gayam (Inocarpus Gaharu (Aquilaria malacensi. Kayu Merah (Eugenia rumphi. Tegakan tanaman perkebunan dan buahbuahan Cengkih (Syzygium aromaticu. Pala (Myristica fragran. Kelapa (Cocos nucifer. , jenis buah-buahan (MPTS) Durian (Durio zibethinu. Langsat (Lansium domesticu. Mangga (Mangifera indic. Kecapi (Sandoricum koetjap. Bicang (Mangifera foetid. Campada (Arthocarpus intege. Mangustan (Garcinia mangostan. , dan Rambutan (Naphelium lappaceu. dan lain-lain. Vegetasi penyusun tumbuhan bawah didominasi oleh jenis . Paku-pakuan (Pterydophyt. Paku Kawat (Lycopodium Paku (Dryopteris filxma. Suplir (Adiantum cuneatu. Semanggi (Marsilea crenat. , dan Paku sarang burung (Asplenium s. , . jenis rumput-rumputan Alang-Alang (Imperata cylindric. Rumput Teki (Cyperus rotundu. Rumput Resam (Dicranopteris lineari. Sunggah-sunggah (Ageratum sp. Kapinawang (Colocasia esculent. dan Ruturutu (Selaginella plan. , . Putri malu (Mimosa pudic. , dan Sirih (Piper Perubahan Penutupan Lahan . 1 Ae 2. Penelitian ini menunjukkan bahwa tutupan lahan pada kawasan hutan lindung Gunung Sirimau dalam kurun waktu 8 tahun . ahun 2011 - 2. telah mengalami perubahan, dan perubahan ini terjadinya akibat terjadinya perubahan penggunaan lahan, baik yang sifatnya bertambah maupun berkurang dalam luasan (Tabel . Jurnal Jendela Pengetahan. Vol. No. Oktober 2022: 106Ae115 ISSN: 1979-7842 Tabel 1. Perubahan Penggunaan Lahan dalam Hutan Lindung Sirimau. Luas Penggunaan lahan . Penggunaan Lahan Tahun 2011 Tahun 2019 Hutan Hutan Lahan Kering 394,02 300,12 Primer 2 Hutan Lahan Kering 669,12 752,24 Sekunder Jumlah 1063,14 1052,36 Bukan Hutan 3 Semak Belukar 753,25 319,60 4 Pertanian Lahan Kering 568,41 57,28 5 Pertanian Lahan Kering 697,99 Campuran 6 Padang Rumput / Savana 0*** 95,52 7 Permukiman 64,20 226,25 Jumlah 2385,86 396,64 Total 3449,00 3449,00 Sumber: Hasil Analisis, 2019 Kondisi ini menunjukkan bahwa proses perubahan penggunaan lahan di hutan lindung Gunung Sirimau sebagian besar disebabkan oleh aktifitas manusia, yaitu untuk memenuhi kebutuhan lahan baik untuk usaha tanaman umur panjang dan pertanian maupun untuk pemukiman. - 93,9 23,83 83,12 11,04 - 433,65 - 511,13 697,99 12,57 14,82 20,24 95,52 162,05 2,77 4,70 Kandungan Biomasa. Kandungan biomasa pohon merupakan penjumlahan dari kandungan biomassa tiap organ pohon yang merupakan gambaran total material organik hasil dari fotosintetis (Hairiah dan Rahayu, dalam Tuah, dkk. , 2. Biomasa pohon pada hutan lindung Gunung Sirimau disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Biomassa Pohon Pada Hutan Lindung Gunung Sirimau. Penggunaan Lahan Rata2 Jumlah Pohon Hutan Lahan Kering Primer Hutan Lahan Kering Sekunder Semak Belukar Pertanian Lahan Kering Pertanian Lahan Kering Campuran Savana Pemukiman Jumlah Sumber: Hasil Analisis, 2019 Hasil analisis data menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi biomasa pohon di kawasan hutan lindung Gunung Sirimau adalah diameter batang dan kerapatan kayu atau berat jenis. Hasil penelitian ini Besar Perubahan Biomasa kg/mA 32,99 17,53 4,74 5,34 10,13 0,54 0,04 71,32 Persentase (%) 46,26 24,58 6,64 7,49 14,21 0,76 0,06 100,00 menunjukkan bahwa biomasa pohon pada semua penggunaan lahan meningkat dengan meningkatnya diameter batang. Hubungan Diameter Batang Dan Biomasa Pohon. Jurnal Jendela Pengetahan. Vol. No. Oktober 2022: 106Ae115 ISSN: 1979-7842 Gambar 1. Hubungan Diameter Batang Dan Biomasa Pohon. Biomasa tumbuhan bawah pada suatu kawasan sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanah, jenis tanah dan kondisi kanopi di atas tumbuhan bawah (Lestari, dkk. , 2. Tabel 3. Biomassa Tumbuhan Bawah Pada Hutan Lindung Gunung Sirimau. Jumlah Plot Biomasa Persentase Penggunaan Lahan Sampel Kg/MA (%) Hutan Lahan Kering Primer 0,32 9,10 Hutan Lahan Kering Sekunder 0,34 9,52 Semak Belukar 1,25 35,24 Pertanian Lahan Kering 0,27 7,72 Pertanian Lahan Kering Campuran 0,45 12,57 Padang rumput / Savana 0,79 22,31 Pemukiman 0,13 3,53 Jumlah 3,55 100,00 Sumber: Hasil Analisis, 2019 tutupan atas atau yang secara langsung Pada ekosistem non hutan . emak dibawah pengaruh matahari mempunyai belukar, pertanian lahan kering campuran dan biomasa lebih besar dibandingkan dengan savan. mempunyai jenis tumbuhan bawah penggunaan lahan yang mempunyai tutupan yang lebih banyak dari pada jenis di ekosistem atas lebih rapat dan kurang mendapat cahaya Pada ekosistem hutan . utan lahan matahari secara langsung. kering primer dan sekunde. hanya Karbon tersimpan dalam tanaman didominasi oleh 2 jenis tumbuhan bawah melalui fotosintesis, yaitu CO2 diserap dan yaitu jenis Rumput Resam (Dicranopteris diubah oleh tumbuhan menjadi karbon lineari. dan Paku ekor (Dryopteris filxma. organik dalam bentuk biomassa. Oleh sebab sedangkan pada ekosistem non hutan itu, ukuran volume tanaman penyusun lahan bervariasi pada petak contoh yang diamati. menjadi ukuran jumlah karbon yang Hal itu disebabkan karena pada tersimpan sebagai biomasa . adangan ekosistem hutan terdapat tajuk yang menutupi karbo. cahaya matahari sehingga terjadi persaingan Biomasa dan cadangan karbon pohon dalam yang bervariasi pada setiap penggunaan lahan proses di hutan lindung Gunung Sirimau disebabkan karena adanya perbedaan pada jumlah dan Tingginya Biomasa pada Semak belukar jenis vegetasi pohon dan pada pertumbuhan dan Padang Rumput/savana mengindikasikan tegakan pohon, sehingga diameter batang bahwa biomasa tumbuhan bawah yang yang ditemukan pada hutan lindung Gunung tersebar pada penggunaan lahan yang kurang Jurnal Jendela Pengetahan. Vol. No. Oktober 2022: 106Ae115 Sirimau berbeda-beda penggunaan lahan. ISSN: 1979-7842 Tabel 4. Total Biomassa Dan Cadangan Karbon Pohon. Penggunaan Biomasa Biomasa Cadangan Lahan Pohon* Pohon Karbon kg/mA t/ha . g/ph. Hutan Lahan 32,99 570,52 Kering Primer Hutan Lahan 17,53 889,23 Kering Sekunder Semak Belukar 4,74 670,66 Pertanian Lahan 5,34 012,12 Kering Pertanian Lahan 10,13 715,46 Kering Campuran Savana 0,54 305,57 Pemukiman 0,04 24,88 Jumlah 71,32 713,20 188,44 Sumber: Hasil Analisis, 2019 Vegetasi penggunaan lahan hutan lahan kering primer (HLKP) di hutan lindung Gunung Sirimau tidak semuanya merupakan tegakan hutan tetapi telah bercampur dengan tanaman buah-buahan umur panjang dengan kerapatan tutupan yang rapat sehingga menyebabkan tingginya biomasa pohon yaitu, 329,9 t/ha dan cadangan karbon 185,71 t/ha. Selain kerapatan tegakan, tingginya biomasa pohon pada penggunaan lahan ini dapat dikaitkan dengan keragaman jenis vegetasi hutan yang masih tinggi . ekitar 60% dari total samplin. dan masih dijumpai tegakan yang mempunyai diameter batang >50 cm, seperti Canarium sylvestre. Eugenia Garcinia cornea, dan Metrosideros Berdasarkan hasil ini, dapat dilihat bahwa cadangan karbon pohon pada setiap penggunaan lahan di hutan lindung Gunung Sirimau dipengaruhi oleh jumlah dan Cadangan Karbon /h. 185,71 Kategori* 98,89 Sedang 26,71 30,12 Rendah Rendah 57,15 Sedang 3,06 0,25 401,89 Rendah Rendah Tinggi keanekaragaman tanaman, serta diameter batang pohon. Pada penggunaan lahan dengan keragaman dan jumlah tanaman yang lebih banyak, dan diameter pohon yang lebih besar, maka cadangan karbon yang ditemukan semakin tinggi, dan sebaliknya jika penggunaan lahan dengan keragaman jenis dan tegakan pohon yang lebih sedikit, dan diameter batang yang lebih kecil, maka fungsi penyerap karbon akan berkurang secara signifikan, sehingga karbon yang tersimpan juga akan menurun. Cadangan karbon tumbuhan bawah ditentukan oleh biomasa berdasarkan berat kering hasil analisis laboratorium dikalikan faktor fraksi-fraksi karbon . arbon fractio. kandungan karbon . sesuai SNI 7724:2011 (BSN, 2. Hasil analisis cadangan karbon tumbuhan bawah pada berbagai penggunaan lahan di hutan lindung Gunung Sirimau disajikan pada Tabel 5. Jurnal Jendela Pengetahan. Vol. No. Oktober 2022: 106Ae115 ISSN: 1979-7842 Tabel 5. Cadangan Karbon Tumbuhan Bawah (Understore. Biomasa Biomasa Cadangan C Persentase Penggunaan Lahan Kg/m2 Ton/Ha Ton/Ha (%) 1 Hutan Lahan Kering Primer 0,32 3,23 1,52 9,10 2 Hutan Lahan Kering Sekunder 0,34 3,38 1,59 9,52 3 Semak Belukar 1,25 12,51 5,88 35,24 4 Pertanian Lahan Kering 0,27 2,74 1,29 7,72 5 Pertanian Lahan Kering 0,45 4,46 2,10 12,57 Campuran 6 Padang rumput / Savana 0,79 7,92 3,72 22,31 7 Pemukiman 0,13 1,26 0,59 3,53 Jumlah 3,55 35,51 16,69 100,00 Sumber: Hasil analisis, 2019 Tingginya cadangan karbon pada penutupan lahan semak belukar desebabkan oleh rapatnya tumbuhan bawah yang terdiri dari jenis paku-pakuan . seperti paku kawat (Lycopodium clavatu. , paku ekor (Dryopteris filxma. Suplir (Adiantum cuneatu. Semanggi (Marsilea crenat. Tingginya cadangan karbon tumbuhan bawah pada penggunaan lahan semak belukar dan padang rumput/savana juga disebabkan karena tidak terdapat vegetasi berkayu yang relatif besar dengan tutupan tajuk yang rapat sehingga sinar matahari dapat menembus langsung ke lantai hutan Total simpanan karbon di atas permukaan tanah pada hutan lindung Gunung Sirimau merupakan penjumlahan dari simpanan karbon pada tegakan pohon dan Hasil cadangan karbon pada hutan lindung Gunung Sirimau disajikan pada Tabel 6. Tabel 6. Cadangan Karbon Diatas Permukaan. Penggunaan Lahan Hutan Lahan Kering Primer Hutan Lahan Kering Sekunder Semak Belukar Pertanian Lahan Kering Pertanian Lahan Kering Campuran 6 Padang rumput / Savana 7 Pemukiman Jumlah Sumber: Hasil Analisis, 2019 Stoc Karbon Jumlah Ton/Ha Stoc Karbon Pohon Tumbuhan Bawah Ton/Ha 186,07 1,52 187,59 98,89 1,59 100,48 26,71 5,88 32,59 30,12 1,29 31,41 57,15 2,10 59,25 3,06 0,25 402,25 Total cadangan karbon menurun seiring berkurangnya tegakan pohon pada setiap penggunaan lahan. Oleh sebab itu total cadangan karbon terendah dijumpai pada penggunaan lahan padang rumput/savanna dan pemukiman yang hanya mempunyai beberapa pohon seperi Ficus Elastica. Eugenia , dan Cocos Nucifera. 3,72 0,59 16,69 6,78 0,84 418,94 Persentase (%) 44,78 23,98 7,78 7,50 14,14 1,62 0,20 100,00 Hutan dapat berfungsi sebagai penyerap karbon (Carbon sin. dan pengemisi karbon (Carbon source. Tanaman atau pohon di hutan berfungsi sebagai tempat penimbunan dan pengendapan karbon dan istilah ini disebut rosot karbon (Manuri, dkk. , 2. Proses penyimpanan karbon di dalam tanaman yang sedang tumbuh disebut sebagai sekuestrasi karbon . arbon sequestratio. , dan Jurnal Jendela Pengetahan. Vol. No. Oktober 2022: 106Ae115 ISSN: 1979-7842 jumlah karbon yang ditimbun dalam tanaman sangat bergantung pada jenis dan sifat tanaman itu sendiri (Pamudji, 2. serapan karbondioksida, dengan mengalikan nilai karbon tersimpan dengan 3,67. Tabel 7. Potensi Serapan Karbon Pada Hutan Lindung Gunung Sirimau. Penggunaan Lahan Hutan Lahan Kering Primer 2 Hutan Lahan Kering Sekunder 3 Semak Belukar 4 Pertanian Lahan Kering 5 Pertanian Lahan Kering Campuran 6 Padang rumput / Savana 7 Pemukiman Jumlah Sumber: Hasil Analisis, 2019 Stoc Karbon Ton/Ha Penyerapan CO2 (Ton/H. Pohon Tumbuhan Bawah 186,07 1,52 682,87 5,58 688,45 44,78 98,89 1,59 362,93 5,83 368,76 23,98 26,71 30,12 5,88 1,29 98,01 110,54 21,58 4,73 119,60 115,28 7,78 7,50 57,15 2,10 209,76 7,70 217,46 14,14 3,06 3,72 11,21 13,67 24,88 1,62 0,25 402,25 0,59 16,69 0,91 476,25 2,16 61,25 3,08 537,50 0,20 100,00 Tingginya dihasilkan vegetasi pohon atau penggunaan lahan hutan lahan kering primer disebabkan oleh hutan/pohon memiliki kanopi atau tutupan tajuk yang besar sehingga dengan jumlah daun yang banyak mampu menyerap karbon yang banyak pula, sebaliknya tumbuhan bawah dan penggunaan lahan padang rumput/savana memiliki serapan karbon dioksida yang rendah karena tidak memiliki tajuk yang banyak atau luas permukaan daun kecil KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa total ketersediaan karbon pada hutan lindung Gunung Sirimau adalah 418,98 ton/ha, yang berasal dari cadangan karbon pohon, 402,25 ton/ha . %), dan tumbuhan bawah 16,69 ton/ha . %). Berdasarkan penggunaan lahan, cadangan karbon terbesar berasal dari penggunaan lahan hutan lahan kering primer sebesar 187,59 ton/ha, hutan lahan kering sekunder 100,48 ton/ha, semak belukar 32,59 ton/ha . ,78 %), pertanian lahan kering 31,41 ton/ha . ,5%), pertanian lahan kering campuran Pohon Tumbuhan Bawah Persentas (%) Jumlah 59,25 ton/ha . ,14%), savana 6,78 ton/ha . ,62%) dan permukiman 0,84 ton/ha . ,2%). Potensi serapan karbon dioksida oleh vegetasi pada hutan lindung Gunung Sirimau 537,50 ton CO2/ha. Penyerapan terbesar berasal dari vegetasi tingkat pohon 476,25 Ton CO2/ha atau 96 % dari CO2. Berdasarkan penggunaan lahannya, hutan lahan kering primer memiliki kemampuan penyerapan CO2 terbesar yaitu 688,45 Ton CO2/Ha atau 44,78% dari total serapan CO2. Arahan pengelolaan hutan lindung Gunung Sirimau penggunaan lahan hutan lahan kering sekunder, pertanian lahan kering dan pertanian lahan kering campuran dengan vegetasi pohon . utan, perkebuan dan buahbuaha. , pada penggunaan lahahn semak belukar dan savanna dengan penanaman vegetasi hutan, perkebunan dan buah-buahbuahan, dan pada penggunaan lahan pemukiman berupa pengkayaan dengan tanaman buah-buah. Jurnal Jendela Pengetahan. Vol. No. Oktober 2022: 106Ae115 DAFTAR PUSTAKA