ARSIP Jurnal Arsitektur. Vol. No. November 2023: 83-104 DESIGN OF MULTI RELIGIOUS TOURISM AREA WITH APPROACHNEO VERNACULAR ARCHITECTURE IN SEMARANG CITY PERANCANGAN KAWASAN WISATA RELIGI MULTI AGAMA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR DI KOTA SEMARANG Aan Mardian. Mutiawati Mandaka. Anityas Dian Susanti. Program Studi Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas Pandanaran. aanmrdn220300@gmail. mandaka@unpand. tyas@unpand. Abstrak Semarang merupakan kota yang sering menjadi tempat wisata bagi wisatawan. Semarang menunjukkan bahwa wilayahnya merupakan lokasi yang kaya budaya dan menjunjung tinggi pluralisme. Terlepas dari keragaman agama, warga Semarang memiliki sikap yang mendorong mereka untuk hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat. Destinasi wisata religi yang menjadi ciri khas Kota Semarang selalu menarik dikunjungi karena reputasinya yang memiliki aspek religi beragam. Semarang juga menampilkan struktur berkualitas tinggi dari masa kolonial yang mencerminkan sejarah Eropa. Keberagaman tersebut menjadikan kota Semarang berpotensi untuk semakin menarik wisatawan dengan membangun destinasi wisata yang memunculkan identitas kota Semarang sebagai kota yang menjunjung tinggi pluralitas, maka dari itu akan dirancang kawasan wisata religi multi agama di Semarang. Agar kedepannya. Semarang menjadi wadah dan pusat peradaban kehidupan pluralitas, serta menjadi contoh kerukunan ummat beragama. Perancangan tersebut menggunakan pendekatan arsitektur neo vernakular, bertujuan agar perancangan tersebut tak lepas dari identitas kota Semarang sebagai kota yang kaya akan kultur dan budaya. Gambaran perancangan kawasan tersebut adalah menyajikan kawasan yang didalamnya terdapat beberapa bangunan yang fungsinya berbeda, perancangan ini berfokus terhadap 6 bangunan ibadah ummat beragama, meliputi Masjid. Gereja. Capel. Pura. Vihara, dan Klenteng. Terdapat bangunan lain yang berfungsi sebagai aspek penunjang maupun sebagai daya tarik pengunjung. Kata kunci: kawasan, perencanaan, perancangan, religi, wisata Abstract Semarang is a city that often becomes a tourist spot for tourists. Semarang shows that the region is a location that is rich in culture and upholds pluralism. Despite the diversity of religions, the people of Semarang have an attitude that encourages them to coexist peacefully in society. Religious tourism destinations that characterize the city of Semarang are always interesting to visit because of their reputation for having various religious aspects. Semarang also features high quality structures from the colonial period that reflect European history. This diversity makes the city of Semarang have the potential to attract more tourists by building tourist destinations that bring out the identity of the city of Semarang as a city that upholds plurality, therefore a multireligious religious tourism area will be designed in Semarang. So that in the future. Semarang will become a place and center of civilization for plurality of life, as well as an example of religious harmony. The design uses a neo vernacular architectural approach, with the aim that the design cannot be separated from the identity of the city of Semarang as a city rich in culture and culture. The description of the design of the area is to present an area in which there are several buildings with different functions. This design focuses on 6 religious buildings of worship, including mosques, churches, chapels, temples, monasteries and temples. There are other buildings that function as a supporting aspect as well as a visitor attraction. Keywords: area, tourism, planning, design, religion membangun destinasi wisata yang memunculkan identitas Kota Semarang sebagai kota yang menjunjung tinggi pluralitas, maka dari itu akan dirancang kawasan wisata religi multi agama di Semarang. Agar kedepannya. Semarang menjadi wadah dan pusat peradaban kehidupan pluralitas, serta menjadi contoh kerukunan ummat beragama. Perancangan tersebut menggunakan pendekatan arsitektur neo vernakular, bertujuan agar perancangan tersebut tak lepas dari identitas kota Semarang sebagai kota yang kaya akan kultur dan budaya. Gambaran perancangan kawasan tersebut adalah menyajikan kawasan yang didalamnya terdapat beberapa bangunan yang fungsinya berbeda, perencanaan ini berfokus terhadap 6 bangunan ibadah ummat beragama, meliputi Masjid. Gereja. Capel. Pura. Vihara, dan Klenteng. Terdapat bangunan lain yang berfungsi sebagai aspek penunjang maupun sebagai daya tarik PENDAHULUAN AuPerancangan Kawasan Wisata Religi Multi Agama dengan Pendekatan Arsitektur Neo VernakularAy merupakan sebuah perancangan sebuah kawasan wisata religi berdasarkan pendekatan beberapa agama yang diakui di Indonesia (Islam. Kristen. Katholik. Hindu. Budha, dan Konghuch. yang mencerminkan Kawasan wisata ini akan dirancang dengan pendekatan Arsitektur Neo Vernakular dengan mengangkat kearifan kearifan lokal yang ada di Kota Semarang dan menyesuaikan dengan kondisi zaman. Latar belakang Semarang merupakan kota yang sering menjadi tempat wisata bagi wisatawan. Semarang menunjukkan bahwa wilayahnya merupakan lokasi yang kaya budaya dan menjunjung tinggi Terlepas dari keragaman agama, warga Semarang memiliki sikap yang mendorong mereka untuk hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat. Destinasi wisata religi yang menjadi ciri khas Kota Semarang selalu menarik dikunjungi karena reputasinya yang memiliki aspek religi beragam. Semarang berkualitas tinggi dari masa kolonial yang mencerminkan sejarah Eropa. Keberagaman tersebut menjadikan kota Semarang berpotensi untuk semakin menarik wisatawan dengan Tujuan Peta dunia saat ini diwarnai oleh konflik agama. Kekhawatiran agama dalam pertempuran semacam itu memainkan peran penting dalam eskalasinya, meskipun agama bukanlah elemen Keanekaragaman dan pluralisme agama adalah realitas sejarah yang secara universal diperlukan sepanjang sejarah dan tidak dapat (Attabik, 2. Tujuan perancangan ini ingin mengungkapkan fakta dan data yang mendalam dan terinci tentang bentuk bentuk pluralisme agama dan nilai-nilai yang mendasari dan dipraktikkannya sebagai kearifan lokal dalam konteks pluralisme Nilai-nilai kearifan lokal tersebut pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan, serta adat kebiasaan atau etika yang berlaku dalam masyarakat. Kegunaan perancangan ini untuk memberi wawasan yang sangat berharga bagi masyarakat dan para penentu 5 kebijakan tentang berbagai bentuk pluralisme agama dan nilai-nilai kearifan lokal dalam konteks pluralisme agama. Di samping itu, hasil perancangan diharapkan untuk dapat masyarakat yang berkaitan dengan konflik dan interaksi dalam pluralitas agama. Klenteng Sam Poe Kong Salah satu tempat wisata di Semarang yang cukup populer adalah Kelenteng Sam Poe Kong. Desain interior dan sejarah pagoda ini sangat Ketika armada Cheng Ho tiba di Pantai Simongan di Kota Semarang, kelenteng sudah mulai dibangun. Karena gayanya yang khas dan arsitektur tradisional Tionghoa, pagoda ini cukup menarik untuk dikunjungi. Legenda Laksamana Cheng Ho yang konon pernah berlayar hingga ke Kota Semarang bisa kita temukan begitu sampai di kawasan klenteng. Masjid Agung Jawa Tengah Masjid merupakan bangunan atau tempat ibadah ummat beragama Islam, dan muslim merupakan sebutan bagi umat beragama Islam, sebutan pemuka agama dalam agama Islam diantaranya (Mustaming,2. Batasan . Lokasi perancangan kawasan wisata religi multi agama di Kota Semarang. Masjid Agung Jawa Tengah terletak di lingkungan Gayamsari di sepanjang Jalan Gajah Raya. Masjid ini memiliki luas 7. 600 m2. Kombinasi arsitektur Romawi. Jawa, dan Arab menjadikan masjid ini unik. Selain itu, pelataran utama Masjid Raya Jawa Tengah dihiasi dengan enam buah payung hidrolik yang menyerupai Masjid Nabawi. Selain itu, masjid ini didukung oleh sejumlah bangunan, seperti auditorium, perpustakaan, dan museum yang didedikasikan untuk budaya Islam. Dengan fasilitas yang memudahkan pengunjung dan akses mudah ke museum yang memamerkan koleksi benda bersejarah yang cukup besar, evolusi Islam Nusantara, dan reproduksi 2 Tajug, masjid ini dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran Islam. Konsep perancangan kawasan wisata religi multi agama berdasarkan ilmu Arsitektur yang berkaitan dengan pendekatan Arsitektur Neo Vernakular. Lingkup kegiatan yang terdapat pada kawasan pluralisme yang akan dibangun, meliputi kegiatan peribadatan dan wisata edukasi mengenai ciri khas dari masing masing bangunan ibadah. TINJAUAN TEORI Tempat Ibadah di Semarang Destinasi wisata religi yang menjadi ciri khas Kota Semarang selalu menarik untuk dikunjungi karena reputasinya yang memiliki aspek religi yang beragam. Pemandangan kota Semarang juga menampilkan struktur berkualitas tinggi dari masa kolonial Belanda yang mencerminkan sejarah Eropa. Berikut daftar beberapa tempat ibadah di wilayah Semarang yang mewakili berbagai tradisi keagamaan: Gereja Blenduk Gereja merupakan bangunan atau tempat ibadah umat beragama Katholik, dan nasrani merupakan sebutan bagi umat beragama Katholik, sebutan pemuka agama dalam agama Katholik diantaranya adalah uskup, romo, paus, biarawan atau biarawati. (Kusuma, 2. Salah satu bangunan terkenal di Kota Tua Semarang adalah Gereja Blenduk. Kubah berwarna bata gereja yang khas menonjol dengan jelas di bagian luar bangunan yang serba Gereja Protestan Immanuel Indonesia Barat adalah nama gereja blenduk (GPIB Imanue. Itu menerima moniker yang tidak biasa dari desain atap gereja, yang menyerupai kubah setengah lingkaran. Kita bisa langsung melihat interior neoklasik lama begitu turis memasuki gereja. Bangunan gereja dilengkapi dengan lampu gantung kristal dan bangku yang ditata apik, memberikan tampilan bergaya Belanda. Wisatawan dapat mengikuti ritus Tjiam Shi, yang bertujuan untuk meramal nasib, selain sekadar berfoto dengan latar belakang pagoda di Itulah berbagai destinasi wisata religi yang terdapat di Kota Semarang. Empat destinasi wisata tersebut menjadi bukti tingginya tingkat pluralisme yang ada di Kota Semarang. Berdasarkan disimpulkan bahwa Kota Semarang merupakan kota yang didalamnya terdapat beragam aliran agama dan beragam bangunan ibdah yang megah dam memiliki cerita atau sejarah nya masing masing. Hal tersebut menjadi alasan penulis untuk merancang atau merencanakan kawasan pluralisme, dimana kawasan tersebut nantinya akan terdapat beberapa bangunan ibadah dari masing masing ummat beragama yang ada di Indonesia. Khususnya di Semarang. Guna untuk semaakin mempererat kerukunan ummat beragama di Kota semarang daan juga nantinya kawasan tersebut menjadi daya tarik para wisatawan dalam negeri maupun luar negri. Dari judul AuPerencanaan Kawasan Wisata Religi Multi Agama Dengan Pendekatan Arsitektur Neo VernakularAy tersebut memiliki pengertian sebagai berikut: Berdasarkan definisi dari setiap kata judul diatas maka dapat disimpulkan atau diartikan bahwa AuPerencanaan Kawasan Wisata Religi Multi Agama Dengan Pendekatan Arsitektur Neo VernakularAy merupakan sebuah perencanaan sebuah kawasan wisata religi berdasarkan pendekatan beberapa agama yang diakui di Indonesia (Islam. Kristen. Katholik. Hindu. Budha, dan Konghuch. yang 3 mencerminkan Kawasan wisata ini akan dirancang dengan pendekatan Arsitektur Neo Vernakular dengan mengangkat kearifan kearifan lokal yang ada di Kota Semarang dan menyesuaikan dengan kondisi zaman. Di luar bangunan gedung gereja, biasanya masih ada fasilitas pendukung gereja, diantaranya : Gedung Pastoran Adalah tempat tinggal para Pastor. Lokasinya tidak jauh, bahkan ada yang menjadi satu komplek dengan gedung . Sekretariat Paroki Yaitu tempat segala urusan administrasi, arsip dan dokumen-dokumen Paroki. Panti Paroki Yaitu tempat untuk berbagai macam kegiatan umat Paroki. Gua Maria Paroki Yaitu tempat dimana terdapat patung Bunda Maria di dalam gua. Tempat ini digunakan oleh umat untuk berdevosi kepada Bunda Maria (Darsono, 2. Vihara Buddhagaya Watugong Vihara merupakan bangunan atau tempat ibadah umat beragama Budha, dan buddhis merupakan sebutan bagi para pemeluk agama Buddha, sebutan pemuka agama dalam agama Buddha diantaranya adalah pandita, bante, bikhsu atau (Suparyanto dan Rosad, 2. Pagoda yang merupakan bagian dari kompleks Vihara Buddha Gaya Watugong ini memiliki tinggi 45 meter dan memiliki 7 tingkat. Patung Dewi Kwan Im ditempatkan menghadap ke empat arah mata angin di setiap tingkat. Kemudian adapun beberapa pendekatan gaya arsitektur neo vernacular terhadap perancangan kawasan tersebut yaitu menerapkan terhadap konsep Tapak dan juga material material yang digunakan pada beberapa bangunan pada Konsep pengelolaan tapak di kawasan ini mengadopsi pendekatan arsitektur neo arsitektur neo vernakular adalah sebuah konsep dalam arsitektur yang muncul pada tahun 1960-an pada era postmodern. Gagasan pengelolaan tapak di dalam kawasan mengacu pada filosofi salah satu tradisi dan akulturasi budaya setempat agar mendukung terciptanya unsur neo vernakular terhadap desain, dimana kota semarang memiliki suatu icon yang dimana icon tersebut menjadi wujud simbul akulturasi budaya dan cerminan wujud pluralitas di kota Semarang, icon tersebut merupakan icon Warak Ngendok. Warak ngendok merupakan binatang mitologis, yang menggambarkan simbol pemersatu beberapa etnis mayoritas yang ada di kota semarang, bagian bagian tubuhnya terdiri dari naga yang mewakili penduduk dari negeri China yang identik dengan ajaran masyarakat tionghoa lebih selanjutnya hewan buraq yang mewakili penduduk dari negeri Arab yang identik dengan ajaran ummat beragama islam, dan kambing yang mewakili penduduk dari Jawa atau asli penduduk pribumi, hewan imajiner ini biasanya dijadikan sebagai naskot dalam festival dugderan yang dilaksanakan beberapa hari sebelum bulan ramadhan tiba. Pada ilustrasi tersebut merupakan gambaran kerukunan antar etnis atau umat beragama yang menjadi satu kesatuan dan membentuk sebuah pemandangan ilustrasi yang indah, seolah menegaskan kepada masyarakat bahwasanya semua etnis atau ummat beragama yang ada di kota Semarang itu dapat menjalin kerukunan atas dasar kemanusiaan. Perpaduan antara hewan naga, buraq, dan juga kambing tersebut akhirnya menjadi icon gambaran pluralitas di Kota Semarang. Kemudian penerapan gaya neo vernacular selanjutnya ada pada material material yang di gunakan terhadap beberapa bangunan yang ada pada kawasan. Desain Kawasan wisata religi multi agama dengan pendekatan arsitektur Neo Vernakular memperhatikan dan mengacu pada tradisi dan budaya yang dimiliki oleh daerah setempat ataupun etnis pemeluk agama terhadap masing maisng bangunan ibadah dan kemudian disatu padukan dengan sentuhan gaya modern tertentu yang mendukung adanya nilai vernakular terhadap rancangan. Pada setiap bangunan nantinya akan di beri sentuhan konsep modern agar tak lepas dari nilai neo terhadap desain Pengunaan Material dan Konsep Visual Arsitektur Tempat Ibadah . Pendekatan Material Bangunan Masjid Pembangunan masjid menggunakan kombinasi material lokal dan pabrik. Sumber daya lokal, seperti batu bata, kayu, dan ubin tanah liat, dapat dimanfaatkan sebagai komponen vernakular, sedangkan bahan pabrik, seperti beton, baja tulangan, kaca, langit-langit, dll. Dapat digunakan sebagai fitur modern. Ini memiliki struktur rangka kayu dengan atap sirap di atasnya, yang merupakan bahan yang sama yang digunakan untuk rumah joglo tradisional, yang secara khusus mewakili identitas rumah tradisional Jawa. Gambar 1. Warak ngendog simbul pluralitas Kota Semarang . Konsep Visual Arsitektur Gereja Katholik Konsep yang diterapkan pada bangunan gereja nantinya akan menggunakan gaya desain modern, penerapan tersebut juga sebagai aspek pendukung penerapan gaya konsep neo terhadap bangunan gereja. Visual arsitektur gereja yang akan dirancang nantinya akan sedikit mengikuti gaya desain gereja modern diatas. Konsep Viasual Arsitektur Pura Konsep yang diterapkan pada bangunan pura nantinya akan menggunakan gaya desain arsitektur bali sebagai daya dukung arsitektur Dikarenakan bali merupakan pusat peradaban arsitektur gaya bangunan umat hindu, terlebih pada bangunan pura. Bangunan pura identik dengan pembagian zonasi dan diantara zonasi ruang yang satu dengan yang lain biasanya terdapat sepasang gapura. Kawasan di desain dengan konsep ruang terbuka. Visual arsitektur pura yang akan dirancang nantinya akan sedikit mengikuti gaya desain pura puja mandala nusa dua bali tersebut. Pendekatan Material Pada Bangunan Gereja Katholik Bahan yang digunakan dalam struktur gereja menggabungkan bahan lokal dan buatan. Sumber daya lokal, seperti dinding bata, kayu, dan ubin tanah liat, dapat dimanfaatkan sebagai komponen vernakular, sedangkan bahan-bahan manufaktur, seperti beton, baja tulangan, kaca, langit-langit, dll, dapat digunakan sebagai fitur Penerapan unsur vernacular nantinya akan lebih ditonjolkan di menara bangunan gereja seperti yang terdapat pada gereja di kawasan pluralisme puja mandala nusa dua Bali . Konsep Visual Arsitektur Gereja Kristen Konsep yang diterapkan pada bangunan kapel nantinya akan menggunakan gaya desain futuristik, penerapan tersebut juga sebagai aspek pendukung penerapan gaya konsep neo terhadap bangunan Kapel. Visual arsitektur Kapel yang akan dirancang nantinya akan sedikit mengikuti gaya desain kapel futuristic diatas. Gambar 2. Konsep visual arsitektur pura . Pendekatan Material Bangunan Pura Material menggombinasikan material lokal dengan material pabrik, dengan adanya material lokal berupa dinding batu bata, kayu, genteng tanah liat, dapat dijadikan sebagai unsur vernakular dan juga material bebatuan sebagai aspek pendukung gaya desain bangunan bali, sedangkan untuk unsur modern dapat menerepkan material pabrik berupa beton, dan keramik didesain semirip mungkin dengan gaya desain arsitektur bali. Pendekatan Material Bangunan Gereja Kristen Bahan yang digunakan untuk membangun kapel menggabungkan bahan lokal dan buatan. Material lokal, seperti dinding bata, kayu, dan ubin tanah liat, dapat digunakan untuk membuat manufaktur, seperti beton, baja tulangan, kaca, dan langit-langit, dapat digunakan untuk membuat elemen kontemporer. Penerapan unsur vernacular nantinya akan lebih ditonjolkan di menara bangunan Kapel, menggunakan kayu sebagai rangka atap bangunan menara pada . Konsep Visual Arsitektur Vihara Desain bangunan vihara biasanya hamper mirip dengan gaya desain bangunan klenteng, dimana konsep desain yang diterapkan pada bangunan vihara nantinya juga akan mengacu pada gaya desain arsitektur china, dengan beberapa karakteristik yang kental dimiliki oleh gaya desain arsitektur cina dan dipadukan dengan sentuhan sentuhan gaya desain arsitektur modern menjadi daya dukung terhadap pendekatan arsitektur neo vernacular. Visual arsitektur Vihara yang akan dirancang nantinya akan sedikit mengikuti gaya desain vihara eka dharma manggala tersebut. sedikit mengikuti gaya desain klenteng tien kok sie tersebut. Gambar 4. Konsep visual arsitektur klenteng . Pendekatan Material Bangunan Klenteng Material menggombinasikan material lokal dengan material pabrik, dengan adanya material lokal berupa dinding batu bata, kayu, genteng tanah liat, dapat dijadikan sebagai unsur vernakular , sedangkan untuk unsur modern dapat menerepkan material pabrik berupa beton , besi tulangan, kaca, plafon, dll. Gambar 3. Konsep visual arsitektur vihara . Pendekatan Material Bangunan Vihara Desain bangunan vihara biasanya hamper mirip dengan gaya desain bangunan klenteng, dimana konsep desain yang diterapkan pada bangunan vihara nantinya juga akan mengacu pada gaya desain arsitektur china, dengan beberapa karakteristik yang kental dimiliki oleh gaya desain arsitektur cina dan dipadukan dengan sentuhan sentuhan gaya desain arsitektur modern menjadi daya dukung terhadap pendekatan arsitektur neo vernacular. Visual arsitektur Vihara yang akan dirancang nantinya akan sedikit mengikuti gaya desain vihara eka dharma manggala tersebut. METODOLOGI PERANCANGAN Kriteria Lokasi Kawasan pluralisme merupakan kawasan yang didalamnya terdapat 6 atau lebih bangunan ibadah dari masing masing umat beragama, direncanakannya kawasan tersebut tentunya ada Selain merencanakan dan merancang kawasan yang bertujuan untuk menjalin kerukunan antar umat beragama, perancangan kawasan seperti ini juga memiliki tujuan sebagai destinasi wisata bagi setiap wisatawan yang ingin berkunjung, sebuah perancangan tentunya harus didukung dengan beberapa aspek yang menjadi daya tarik pengunjung untuk mendapatkan kepuasan pelayanan, sehingga kawasan banyak peminat dan terus berkembang juga menjadi wadah bagi para wisatawan lokal maupun asing. Dan berikut ini merupakan beberapa kriteria lokasi yang harus di miliki oleh kawasan yang nantinya akan . Konsep Visual Arsitektur Klenteng Konsep desain yang diterapkan pada bangunan klenteng nantinya akan mengacu pada gaya desain arsitektur china, dengan beberapa karakteristik yang kental dimiliki oleh gaya desain arsitektur cina dan dipadukan dengan sentuhan sentuhan gaya desain arsitektur modern menjadi daya dukung terhadap pendekatan arsitektur neo vernacular. Visual arsitektur klenteng yang akan dirancang nantinya akan menjadi wadah masyarakat dalam menjalin kerukunan umat beragama juga menjadi daya tarik para wisatawan. Kriteria lokasi tersebut diperoleh berdasarkan preseden atau kawasan yang sudah terbangun. Lokasi berada dipusat keramaian Site dijadikan sebagai kawasan pluralisme sekaligus sebagai kawasan wisata, berada di pusat kota atau pusat keramaian menjadi point penting terhadap site untuk dapat menjadikan kawasan ramai dikunjungi wisatawan dan juga para pemeluk agama yang akan beribadah. Gambar 5. Tapak Kembangsari. Kec. Semarang Tengah. Kota Semarang. Jawa Tengah adalah tempat situs tersebut berada. Dengan luas tanah sekitar 550 m2, orientasi menghadap ke timur, dan batas-batass tapak sebagai berikut: Utara : Permukiman penduduk Timur : Jl Raya Dr. Sutomo Selatan : Pertokoan dan warung makan siap saji Barat : Permukiman Penduduk dan SMPN 40 Semarang . Lokasi sesua dengan peruntukan dan peraturan wilayah Lokasi yang nantinya akan derbangun kawasan pluralisme tentunya harus seusuai dengan peraturan peraturan yang berklaku di daerah tersebut, missal seperti KDB (Koefisien Dasar Banguna. KLB (Koefisien Lantai Banguna. GSJ (Garis Sepadan Jala. , dan GSB (Garis Sepadan Banguna. Kondisi lahan: Jarak dengan pusat kota sangat dekat. Askes menuju tapak sangat mudah. Cukup dekat dengan pusat pemerintahan Kota Semarang. Dekat dengan destinasi wisata Lawang Sewu Semarang. Cukup dekat dengan pusat kesehatan. Memiliki kontur tanah rata. Jalan utama menuju site memiliki 2 arus lalu lintas yang baik. Tapak berpotensi untuk pengembangan kawasan wisata di kemudian hari. Site memiliki potensi untuk pengembangan destinasi wisata dan juga bisnis Kawasan multi agama adalah sebuah kawasan yang akan sangat cocok untuk tempat pariwisata dan bisnis. Fasilitas utilitas pendukung infrastruktur Suatu perencanaan pada kawasan atau wilayah yang dipilih tentunya juga harus mempertimbangkan aspek utilitas pada kawasan tersebut, ada nya sumber utilitas bangunan yang akan dirancang menjadi point lebih terhadap kebutuhan kebutuhan para pengunjung kawasan. HASIL PEMBAHASAN Konsep Tapak . Konsep tapak . Konsep tata bangunan Konsep tata bangunan merujuk pada kegiatan penataan bangunan dan pemanfaatan ruang, meliputi berbagai aspek seperti pembentukan citra fisik/karakter lingkungan, ukuran dan Pemilihan Lokasi konfigurasi elemen: balok, petak. /kavling tanah, bangunan, serta tinggi dan elevasi lantai bangunan, yang dapat menciptakan dan menentukan berbagai kualitas ruang kota atau wilayah yang akomodatif bagi tubuh manusia. Penataan massa bangunan pada site yang ditentukan sangat balance dan juga tentu dengan mempertimbangkan hasil analisis keterkaitan spasial dan analisis tapak, serta mempertimbangkan ruang terbuka hijau. cekung dengan rencana kedalaman danau adalah sekitar 5-10 meter. Gambar 7. Konsep kontur tanah pada Gambar 6. Tata massa bangunan pada tapak . Konsep lansekap Aspek penataan ruang, seperti zonasi, alur akses untuk mobilisasi, dan terkendala, termasuk lanskap taman. Untuk dapat mendesain landscape yang mempertimbangkan beberapa unsur, dan konsep landscape pada site terpilih kali tersebut, beberapa unsur tersebut - Bentuk tanah Kontur tanah yang terdapat pada kawasan termasuk dalam jenis tanah datar, dimana ketinggian atau elevasi tanah di sisi satu dengan yang lain adalah sama tingginya, namun berhubung nanti akan direncanakan sebuah danau buatan di tengah site, kemungkinan tanah bagian tengah akan sedikit Vegetasi Istilah "vegetasi" menggambarkan kehidupan yang ditemukan di Komunitas merupakan asosiasi konkret dari semua spesies tumbuhan yang menghuni suatu habitat, adalah unit vegetasi yang dianalisis dalam analisis vegetasi. Dalam lansekap, kehadiran vegetasi sangat penting. Gambar 8. Konsep lansekap pada tapak Bentuk kehidupan lain Landscape taman nantinya juga akan terdapat beberapa gazebo di area pinggiran danau, hal ini ditujukan untuk para pengunjung kawasan yang nantinya ingin menikmati pemandangan danau buatan tersebut. Gambar 11. Panel box Gambar 9. Konsep lansekap taman dengan gazebo pada tapak Untuk saluran drainase didalam tapak dibuatkan jaringan Uditch, hal ini bertujuan untuk dapat mengalirkan aliran air kotor ke saluran kota. Juga peletakan groundtank dan juga tower tandon diletakan pada ujung tapak dibagian barat yang kemudian akan didistribusikan ke tandon masing masing bangunan pada tapak. Konsep sirkulasi Sirkulasi kendaraan pada tapak untuk pintu masuk dan pintu keluar terpisah namun akses keduanya masih tetap sejajar yaitu dari jalan raya menuju pusat kota atau tugu muda, kendaraan diarahkan ke lahan parkir khusus di sisi depan site, dan untuk sirkulasi para pejalan kaki dibuatkan akses jalan aspal untuk langsung menuju ke kawasan pluralisme 6 bangunan ibadah. Gubahan massa Konsep gubahan massa pada kawasan ini menggunakan pendekatan arsitektur neo vernacular, dimana arsitektur neo vernacular berkembang pada era postmodern, mulai muncul pada tahun 1960-an. Kata AuvernacularAy berasal dari bahasa latin yang memiliki arti baru. Menurut Arsimedia . arsitektur Neo-Vernakular dapat diartikan sebagai bahasa setempat yang diucapkan dengan cara baru. Arsitektur yang memiliki prinsip mempertimbangkan peran serta budaya lokal dalam kehidupan masyarakat, kaidah kaidah lokal, serta keselarasan bangunan, lingkungan dan alam. Gambar 10. Konsep sirkulasi pada tapak . Konsep utilitas Pada bagian timur dekat dngan jalan raya diletakan untuk pusat panel untuk mempermudah saat ada kendala maupun perbaikan pada panael agar tidak mengganggu siapapun pengunjung yang mengunjungi kawasan. Gambar 13. Ilustrasi warag ngendog Konsep gubahan massa bangunan di dalam kawasan mengacu pada filosofi salah satu tradisi dan akulturasi budaya setempat, dimana kota semarang memiliki suatu icon yang dimana icon tersebut menjadi wujud simbul akulturasi budaya di Kota Semarang, ikon tersebut merupakan Warak ngendok. Warak ngendok sendiri merupakan binatang mitologis, yang menggambarkan simbol pemersatu beberapa etnis mayoritas yang ada di Kota Semarang, bagian bagian tubuhnya terdiri dari naga yang mewakili penduduk dari negeri China, hewan buraq yang mewakili penduduk dari negeri Arab, dan kambing yang mewakili penduduk dari Jawa, hewan imajiner ini biasanya dijadikan sebagai maskot dalam festival dugderan yang dilaksanakan beberapa hari sebelum bulan ramadhan tiba. Gambar 14. Desain rumah ada jawa . Konsep visual arsitektur gereja Konsep yang diterapkan pada bangunan gereja nantinya akan menggunakan gaya desain modern, penerapan tersebut juga sebagai aspek pendukung penerapan gaya konsep neo terhadap bangunan Penerapan unsur vernacular nantinya akan lebih ditonjolkan di menara bangunan gereja seperti yang terdapat pada gereja di kawasan pluralisme puja mandala nusa dua Bali. Konsep Perancangan . Konsep visual arsitektur . Konsep visual arsitektur masjid Untuk vernacular pada desain bangunan masjid nantinya akan merujuk kepada desain rumah joglo. Atapnya mengikuti gaya desain rumah joglo namun nanti nya akan sedikit memodifikasi bagian saka masjid dan dinding masjid, dimana dinding dan saka masjid akan diberi sedikit sentuhan gaya modern agar mendukung terciptanya unsur modern terhadap desain bangunan masjid. Pembangunan masjid menggunakan kombinasi material lokal dan pabrik. Untuk bagian dinding pada tampilan material batu bata local dengan kombinasi kayu untuk menambah kesan kehangatan pada desain bangunan. Material pintu bangunan masjid menggunakan desain gebyok agar mendukung gaya tradisional pada Gambar 15. Desain gereja modern . Konsep visual arsitektur capel Konsep yang diterapkan pada bangunan kapel nantinya akan menggunakan gaya desain futuristik, penerapan tersebut penerapan gaya konsep neo terhadap bangunan Kapel. Visual arsitektur Kapel yang akan dirancang nantinya akan sedikit mengikuti gaya desain kapel futuristic diatas. Penerapan unsur ditonjolkan di menara bangunan Kapel, menggunakan kayu sebagai rangka atap bangunan menara pada kapel. dipraktikkan (Mancapara,2. Gambar 16. Kapel futuristik Harajuku . Konsep visual arsitektur pura Rancangan candi candi didasarkan pada ide Trimandala, yang memiliki tiga tingkat kemurnian: mandala nista, juga dikenal sebagai jaba pisan, mandala tengah, juga dikenal sebagai jaba tengah, dan mandala utama, juga dikenal sebagai inti. (Putra & Sudirga,2. Gambar 17. Pura Puja Mandala Nusa Dua. Bali . Konsep visual arsitektur vihara Vihara merupakan bangunan atau tempat ibadah umat beragama Budha, dan buddhis merupakan sebutan bagi para pemeluk agama Buddha, sebutan pemuka agama dalam agama Buddha diantaranya adalah pandita, bante, bikhsu atau bikhsuni. (Suparyanto & Rosad, 2015,2. Konsep yang diterapkan pada bangunan pura nantinya akan menggunakan gaya desain arsitektur bali sebagai daya Dikarenakan bali merupakan pusat peradaban arsitektur gaya bangunan umat hindu, terlebih pada bangunan Bangunan pura identik dengan pembagian zonasi dan diantara zonasi ruang yang satu dengan yang lain biasanya terdapat sepasang gapura. Kawasan di desain dengan konsep ruang Desain bangunan vihara biasanya hamper mirip dengan gaya desain bangunan klenteng, dimana konsep desain yang diterapkan pada bangunan vihara nantinya juga akan mengacu pada gaya desain arsitektur china, dengan beberapa karakteristik yang kental dimiliki oleh gaya desain arsitektur cina dan dipadukan dengan sentuhan sentuhan gaya desain arsitektur modern pendekatan arsitektur neo vernacular. Bahan pembangunan Vihara memadukan bahan lokal dan pabrik. Sebagai tempat wisata religi. Puja Mandala dilengkapi dengan berbagai Fasilitas tersebut antara lain lokasi strategis di dataran tinggi yang relatif tinggi, dekat dengan Bandara Internasional Ngurah Rai, dekat dengan pintu tol Bali Mandara Nusadua, area parkir yang luas, serta toko yang menjual pakaian dan makanan. Puja Mandala tidak diciptakan dalam melainkan mengalami proses yang berlarut-larut dari tahun 1991 hingga konsep tersebut akhirnya . Konsep organisasi ruang Menyajikan dua aspek yaitu yang pertama pola hubungan makro pada kawasan dan yang kedua adalah organisasi perletakan antar bangunan pada kawasan. Analisa nya sebagai berikut: Gambar 18. Vihara Eka Dharma Manggala. Samarinda . Konsep visual arsitektur klenteng Konsep desain yang diterapkan pada bangunan klenteng nantinya akan mengacu pada gaya desain arsitektur china, dengan beberapa karakteristik yang kental dimiliki oleh gaya desain arsitektur cina dan dipadukan dengan sentuhan sentuhan gaya desain arsitektur modern menjadi daya dukung terhadap pendekatan arsitektur neo vernacular. Visual arsitektur klenteng yang akan dirancang nantinya akan sedikit mengikuti gaya desain klenteng tien kok sie tersebut. Gambar 20. Organisasi ruang pada kawasan . Konsep struktur dan konstruksi . Struktur bawah Struktur bangunan pada kawasan menggunakan pondasi footplat dan juga pondasi batu Untuk bangunan yang lebih dari dua lantai nantinya akan menggunakan tambahan konstruksi jenis pondasi footplat, kemudian untuk bangunan 1 hingga 2 lantai nantinya akan menggunakan jenis pondasi batu kali Pembagian meja altar dan meja persembahan di pagoda dilakukan sesuai dengan jumlah dewa yang dipuja di Akibatnya, struktur candi harus dimodifikasi untuk mengakomodasi ibadah (Do. Tindakan yang diambil, peraturan yang diikuti, dan dewa-dewa yang disembah di kuil semuanya telah dimodifikasi agar sesuai dengan ideologi dan ajaran agama Khong Hu Chu. (Irawan & Padmanaba, 2. Struktur tengah Struktur tengah yang digunakan terhadap bangunan pada kawasan menggunakan balok beton bertulang dan kolom beton bertulang dan juga plat lantai beton . Struktur atas Struktur atas merupakan rangkaian konstruksi yang terdapat pada atap bangunan, berfungsi untuk menjadi bangunan dari cuaca hujan dan juga Struktur yang digunakan terhadap digunakan menyesuaikan konsep visual bangunan, misalnya seperti masjid yang Gambar 19. Klenteng Tien Kok Sie. Solo mengangkat menggunakan material kayu sebagai rangka atap, yang nantinya akan memiliki desain atap joglo, dimana atap joglo merupakan jenis atap khas masyarakat jawa, hal tersebut mewakili penerapan pendekatan arsitektur neo vernacular pada desain bangunan dialirkan langsung ke roll kota. Dan air hujan disalurkan melalui rangkaian uditch yang terpasang dan bak control, yang nantinya akan di salurkan menuju ke drainase kota . Sistem Instalasi Listrik Sumber tenaga listrik terhadap kawasan berasal dari (PLN) atau Perusahaan Listrik Negara dan juga adanya diesel genset sebagai tenaga listrik cadangan untuk keadaan darurat misalnya ada pemadaman listrik dari pusat yang disebabkan oleh factor factor dan kebijakan tertentu serta panel surya untuk membantu menghemat kebutuhan listrik dari pusat. Konsep utilitas . Sistem Air Bersih Sistem instalasi air bersih pada kawasan bersumber dari PDAM yang terdapat pada tapak. Menggunakan sistem AuContinuous SystemAy dimana air bersih dialirkan secara kontinyu dan terus menerus ke pengguna melalui sistem ini. Konsumen dapat mengakses air bersih dari jaringan pipa distribusi pada posisi pipa manapun, yang merupakan keunggulan dari sistem ini. Di sisi lain, penggunaan air lebih boros dengan sistem ini. Penangkal Petir Penangkal petir berpotensi mengurangi konsekuensi negatif dari sambaran petir. Selama cuaca buruk dan periode petir yang intens, obat dapat menghentikan terjadinya korsleting. Sistem penangkal petir elektrostatik telah dipasang di wilayah yang akan dirancang. Sistem Pengamanan Bahaya Kebakaran Menerapkan Representatif pengaman bahaya kebakaran berguna untuk menanggulangi meluas dan menyebarnya bahaya kebakaran yang meliputi alat pemadam kebakaran Fire Hydrant. Hidran kebakaran adalah jenis alat pemadam api yang berfungsi sebagai terminal air untuk memadamkan api saat mulai menyala. Alat pemadam api ini terdiri dari beberapa bagian antara lain reservoir, jaringan pompa, pipa distribusi, dan beberapa komponen . Sistem sirkulasi dalam ruangan Sistem merupakan jalur yang ada didalam masing masing bangunan pada kawasan. Adanya sistem sirkulasi yang efektif dan efisien dapat memudahkan para pengguna dalam mengakses ruangan yang terdapat pada bangunan. Sistem dibedakan menjadi dua jenis yaitu Hasil Perancangan . Sistem Sanitasi Air kotor yang bersumber dari wastafel dan toilet dibuang langsung ke septic tank kemudian mengalir ke sumur resapan, air kotor yang bersumber dari pengoprasian service seperti dapur Gambar 21. Site eksisting Gambar 22. Siteplan Gambar 25. Desain masjid Gambar 23. Masterplan 1 Gambar 24. Masterplan 2 Gambar 28. Denah pura Gambar 26. Desain gereja protestan Pura merupakan bangunan atau tempat ibadah umat beragama Hindu, sebutan pemuka agama dalam agama Hindu diantaranya adalah pandita, sulinggih, pedanda. (Mudana,2. Gambar 27. 3D pura Gambar 29. Tampak pura Gambar 30. Tampak pura Gambar 31. Gereja katholik Gambar 32. 3D vihara Gambar 33. Tampak atas vihara Gambar 34. Tampak depan & belakang vihara Gambar 37. Tampak atas klenteng Gambar 35. Tampak samping vihara Gambar 38. Tampak depan & belakang klenteng Gambar 36. 3D klenteng Gambar 39. Tampak samping klenteng Gambar 42. Desain Penginapan A Gambar 40. Denah klenteng Gambar 41. Desain gedung pengelola Gambar 43. Desain penginapan B Gambar 44. Desain penginapan C Gambar 48. View 2 Gambar 45. Potongan AA Gambar 49. View 3 Gambar 50. View 4 Gambar 46. Potongan BB Gambar 51. View 5 Gambar 47. View 1 beberapa aspek dalam pengerjaannya, beberapa aspek tersebut meliputi: Analisa terhadap tapak, yang didalamnya terdapat kesimpulan data berupa potensi tapak, kendala tapak, solusi yang diberikan terhadap kendala yang ada pada tapak. Mendapatkan data mengenai program ruang, dimana program ruang akan menyajikan beberapa data yaitu berupa analisa aktivitas yang akan terjadi pada kawasan, pengguna kawasan, kemudian kebutuhan ruang yang ada pada sebuah kawasan, dan besaran ruang dari masing masing bangunan yang ada pada kawasan. Tata kawasan, dimana seoraang arsitek harus benar benar memperhatikan fungsi dari dari massing masing bangunan pada kawasan yang akan dirancang. Yang pada perencanaan kali ini arsitek harus dapat memperhatikan tata letak dari area yang berfungsi untuk kegiatan ibadah dan juga area yang berfungsi untuk kegiatan penunjang maupun aktifitas diluar kegiatan peribadatan lainya. Memperhatikan visualisasi arsitektur pada memberikan desain yang menarik bagi para pengunjung serta memperhatikan ciri khas dan karakteristik dari masing masing bangunan ibadah. Gambar 52. View 6 Gambar 53. View 7 Gambar 54. View 8 DAFTAR PUSTAKA