DIMENSI. VOL. NO. 3 : 644-649 NOVEMBER 2020 ISSN: 2085-9996 ANALISIS KUAT TEKAN BETON TERHADAP APLIKASI BAHAN ADITIF ANALYSIS OF CONCRETE COMPRESSIVE STRENGTH ON ADDITIONAL MATERIAL APPLICATION Muhammad Afif Ridwan Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Riau Kepulauan Jl. Pahlawan No. 99 Batu Aji Kota Batam. Indonesia e-mail: Muhammad. afif@gmail. Abstrak Tujuan penelitian ini untuk memperoleh persentase dosis aditif optimum, jenis aditif yang digunakan yakni retarder dan plastisicer merk Plastiment-VZ produk Sika Indonesia. Variasi dosisnya yaitu 0,15%. 0,20%. 0,25% terhadap berat semen. Jumlah total benda uji yakni 12 buah, dengan rincian jumlah sampel untuk setiap variasi dosis terdapat 3 benda uji dan ditambah 3 benda uji beton normal. Benda uji yang digunakan adalah benda uji silinder dengan ukuran diameter 150 mm dan tinggi 300 mm. Benda ujii beton normal dengan variasi dosis bahan aditif direncanakan pada kuat tekan rencana K-250. Hasil penelitian ini sebagai berikut dosis optimum dicapai pada dosis aditif terendah . ,15%) dengan kuat tekan yang dicapai 321,88 kg/cm2 dan nilai slump sebesar 155 mm. Nilai slump meningkat seiring bertambahnya dosis, pada variasi beton dengan dosis aditif 0,20% diperoleh nilai slump 160 mm, dan untuk dosis 0,25% diperoleh nilai slump 165 mm. Meningkatnya nilai slump tidak berbanding lurus dengan nilai kuat tekannya. Untuk beton variasi dosis 0,20% dicapai kuat tekan 311,83 kg/cm 2, dna pada dosis 0,25% dicapai kuat tekan 306,30 kg/cm2. Kata Kunci: Kuat Tekan. Beton. Aplikasi Bahan. Aditif Abstract The purpose of this study was to obtain the optimum percentage of additive dosage, the type of additive used was the retarder and plasticizer of the Plastiment-VZ brand of Sika Indonesia products. The variation of the dose is 0. 25% by weight of cement. The total number of test objects is 12 pieces, with details of the number of samples for each dose variation there are 3 test objects and plus 3 normal concrete test objects. The test object used is a cylindrical specimen with a diameter of 150 mm and a height of 300 mm. Normal concrete test specimens with variations in the dosage of additives are planned at the design compressive strength of K-250. The results of this study are as follows, the optimum dose was achieved at the lowest additive dose . 15%) with a compressive strength of 88 kg/cm2 and a slump value of 155 mm. The slump value increases with increasing dose, in the variation of concrete with an additive dose of 0. 20%, a slump value of 160 mm is obtained, and for a dose of 0. 25%, a slump value of 165 mm is obtained. The increase in the slump value is not directly proportional to the compressive strength value. For concrete with a dose variation of 0. 20%, a compressive strength of 311. 83 kg/cm2 was achieved, and at a dose of 25%, a compressive strength of 306. 30 kg/cm2 was achieved. Keywords: Compressive Strength. Concrete. Material Application. Additive PENDAHULUAN Pembuatan material beton untuk tiang bor merupakan bagian dari kegiatan pekerjaan tiang bor, untuk hal tersebut diperlukan kejelian dari kontraktor untuk mengenali kendala, situasi maupun ketersedian peralatan kerja yang ada. Mengacu data teknis perencanaan proyek AyGeotechnical Improvement at Pemping Gas StationAy yang direncanakan oleh konsultan perencana (LAPI -ITB), disyaratkan bahwa mutu beton minimal yaitu K-250 . arakteristik beton 250 kg/cm2, dengan benda uji kubus 15 cm x 15 cm x 15 c. , sedangkan nilai slump yang direncanakan untuk tiang bor dengan sistem DIMENSI. VOL. NO. 3 : 644-649 NOVEMBER 2020 ISSN: 2085-9996 pengecoran menggunakan pipa tremie yaitu minimal 150 mm (Table 3. Slump Detail For in Concrete Use in Bored Pile Construction. BS 8004: 1. Pada sisi sequence kegiatan konstruksi untuk mengatasi medan yang terjal dibutuhkan waktu penuangan beton yang lebih lama dari waktu setting beton normal, yaitu diperlukan waktu 4 Ae 6 jam agar pengecoran kontinyu untuk tiap titik tiang yang akan dituangi beton segar. Untuk memenuhi kriteria mutu yang disyaratkan maka perlu direncankan komposisi campuran beton yang akan diaplikasikan sesuai dengan kondisi di lapangan. Pada penelitian ini digunakan perencanaan campuran beton dengan metode ACI (American Concrete Institut. dengan menambahkan bahan aditif jenis retarder yang berfungsi menghambat waktu pengikatan beton dan plasticiser yang berfungsi untuk meningkatkan kelecakan beton, pada komposisi beton yang Bahan aditif Plastiment VZ produk Sika memiliki kedua fungsi tersebut, dan agar diperoleh dosis yang optimal perlu ditinjau pengaruh kuat tekan beton terhadap dosis yang disarankan oleh produsen aditif tersebut, mengacu pada (Technical Data Shee. Edition 3, 2009 Plastiment VZ) produsen menyarankan penggunaan aditif tersebut pada range 0,15% - 0,40 % dari berat semen. Berdasarkan hasil survei pada proyek yang menggunakan aditif serupa, sebagian besar menggunakan dosis aditif kurang dari 0,20% dari berat semen. METODE PENELITIAN Bahan Penyusun Beton Semen Pada penelitian ini digunakan semen dengan merk Holcim dengan kemasan zak 40 kg, dengan kondisi baik, hal ini dilihat secara visual tidak ada bagian dari semen tersebut yang mengeras. Agregat Kasar Agregat kasar pada pengujian ini diambil dari material yang telah ada di lapangan Pulau Pemping yang berasal dari Pulau Karimun. Agregat halus pada pengujian ini diambil dari material yang telah ada di lapangan Pulau Pemping yang berasal dari Pulau Moro. Bentuk agregat halus dapat dilihat Air Air yang digunakan pada penelitian berasal dari jaringan air bersih Laboratorium Bahan dan Struktur Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Riau Kepulauan. DIMENSI. VOL. NO. 3 : 644-649 NOVEMBER 2020 ISSN: 2085-9996 Bahan tambah Retarder yang dipakai untuk penelitian ini digunakan Plastiment Ae VZ produk Sika Indonesia. Rencana Campuran Hasil pengujian bahan penyusun beton dilaboratoium bahan dan kuat tekan rencana (K250, benda uji kubus 15 cm x 15 cm x 15 c. ekivalen 20,75 MPa . enda uji silinder diameter 15 cm dan tinggi 30 c. ), maka hasil perencanaan campuran dengan metode ACI Benda Uji Pendahuluan Pada uji ini untuk mencermati karakteristik perilaku campuran khususnya mengenai kendalakendala yang akan dialami pada proses pelaksanaanya. Hal tersebut juga harus diantisipasi dengan tindakan-tindakan tertentu sehingga hasil perencanaan dapat dipastikan mampu diimplementasikan di lapangan. Pembuatan Benda Uji Urutan pelaksanaan pembuatan benda uji dilakukan sebagai berikut: Menyiapkan cetakan yang telah dibersihkan dan semua permukaan dilapisi dengan tipis dengan oli dengan pada moulding benda uji bagian pada permukaannya, hal ini dimaksudkan agar pada saat pelepasan cetakan benda uji tidak mengalami cacat pada bagian Mencampur semen dan pasir sampai dengan material tersebut bersifat homogen sesuai dengan perhitungan Setelah material tersebut homogen maka tambahakan batu pecah granit, aduk kembali sampai dengan material penyusun beton tersebut kembali homogen antara agregat dan Menambahkan air sesuai dengan ukuran yang direncanakan serta mengaduk kembali sampai dengan kondisi beton segar tersebut homogen. Mengukur nilai slump sesuai dengan prosedur standar pengukuran slump Mengisi cetakan dan memberikan pemadatan yang cukup sesuai dengan jumlah yang Perawatan Benda Uji Perawatan benda uji dilakukan agar proses hidrasi semen berlangsung dengan sempurna kira-kira selama 28 hari. Kelembaban pada permukaan beton dijaga dengan cara menutup semua sampel beton dengan karung basah, yang disiram secara teratur setiap hari. Hal ini dimaksudkan DIMENSI. VOL. NO. 3 : 644-649 NOVEMBER 2020 ISSN: 2085-9996 agar air di dalam beton diharapkan tidak menguap keluar akibat perbedaan suhu akibat proses hidrasi semen maupun suhu ruang. Hal tersebut dilakukan di Laboratorim Struktur dan Bahan Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Riau Kepulauan. Pelaksanaan Pengujian Pelaksanaan pengujian dilaksanakan setelah mencapai umur 3 hari untuk beton normal dan 4 hari pada beton yang menggunakan aditif . hari diasumsikan waktu jedah masa setting beton akibat penggunaan retarde. Urutan pengujian kuat tekan beton adalah sebagai berikut: Silinder beton yang telah berumur lebih dari 3 . hari ditimbang serta diukur diameter dan tingginya. Pada saat pengujian, benda uji diletakkan pada alas pembebanan mesin uji kuat tekan Mesin uji kuat tekan dihidupkan serta dilakukan setting pada besarnya pertambahan pembebanan/hal ini dilakukan karena benda uji yang akan diuji memiliki dimensi . iameter 15 cm dan tinggi 30 c. Semen Semen yang digunakan merupakan semen Holcim tipe I (OPC ordinary portland cemen. yang umum dipakai, dalam penelitian ini produk semen yang digunakan yaitu semen Holcim dalam kemasan 40 kg per zak dengan kondisi butir-butir semen halus dan tidak menggumpal sehingga dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. Air Air yang digunakan pada penelitian berasal dari jaringan air bersih Adhya Tirta Batam (ATB). Kondisi air dalam keadaan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan memenuhi syarat sebagai air minum, sehingga memenuhi syarat sebagai bahan campuran beton. Agregat Halus Dari hasil pengujian bahan hasil pemeriksaan pasir beton . erasal dari Pulau Mor. didapatkan hasil sebagai berikut: Berat jenis (SSD) Persentase penyerapan air : 2,578 : 1,42 % Modulus Halus Butir (MHB) : 2,6 Nilai MHB berkisar diantara 1,5 sampai 3,8. engacu SNI 03-2494-2002/ASTM C 637-. , sehingga agregat halus dapat digunakan. DIMENSI. VOL. NO. 3 : 644-649 NOVEMBER 2020 ISSN: 2085-9996 Agregat Kasar (Keriki. Dari pemeriksaan bahan di laboratorium agregat kasar didapatkan hasil sebagai berikut: Berat Jenis (SSD) : 2,6 Persentase penyerapan air : 0,3 % Modulus halus butir (MHB) : 6,81 Berat isi : 1,41 Pengujian Silinder Beton Dari nilai kuat tekan proyeksi untuk kuat tekan beton pada, maka nilai kuat tekan karakteristik yang dicapai masih jauh lebih tinggi dibanding kuat tekan yang disyaratkan yaitu K-250, dan dapat disimpulkan bahwa komposisi campuran beton rencana dapat digunakan. Bahan Aditif Plastiment VZ Dengan meningkatkan dosis aditif pada beton tidak selalu berdampak meningkatkan mutunya . uat teka. Pada penelitian ini penurunan nilai kuat tekan beton pada dosis yang lebih tinggi disebabkan oleh terjadinya bleeding . aiknya air pada permukaa. Meningkatnya nilai slump seiring dengan meningkatnya dosis penggunaan aditif, tentunya memiliki hubungan yang erat dengan penyebab bleeding pada beton. Untuk memenuhi kriteria beton yang disyaratkan K-250 dan nilai slump 150 mm, penggunaan aditif diperlukan, khususnya dalam hal pemenuhan persyaratan kelecakan . beton, bahwa nilai slump rencana pada beton normal tidak dapat terpenuhi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut: Kuat tekan beton normal sebesar 314,86 kg/cm2 memenuhi kriteria yang disyaratkan Grafik Hubungan Nilai Slump Vs Dosis Plastiment VZ . Nilai slump beton normal 12,17 cm tidak dapat memenuhi syarat kelecakan . beton yang direncanakan 15 cm. Dosis optimum aditif Plastiment VZ yaitu 0,15 % dengan nilai kuat tekan yang dicapai sebesar 321,88 kg/cm2 dengan nilai slump 155 mm, merupakan kuat tekan tertinggi dibandingkan dari dosisdosis lainnya yaitu dosis 0,20% dengan kuat tekan 311,83 kg/cm2 dengan nilai slump 160 mm, dan dosis 0,25% dengan kuat tekan 306,30 kg/cm2 dengan nilai slump 165 mm. REFERENSI