TE DEUM: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan Volume 14. Nomor 1 (Desember 2. : 93-113 ISSN 2252-3871 . , 2746-7619 . http://ojs. id/index. php/tedeum/index DOI: https://doi. org/10. 51828/td. Submitted: 04-02-2024 Accepted: 16-12-2024 Published: 29-12-2024 STRATEGI MISI BERDASARKAN KOLOSE 2:6-10 DALAM MENGHADAPI TANTANGAN BUDAYA MISSION STRATEGY BASED ON COLOSSIANS 2:610 IN FACING CHINESE CULTURAL CHALLENGES Tammy Yulianto Auw,1 Kalis Stevanus2* 1Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia. Surabaya. Indonesia 1Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu. Indonesia *kalisstevanus91@gmail. ABSTRACT This study focuses on the challenges faced in developing mission strategies within the Chinese community in the Chinatown area of Semarang, considering the strong influence of local culture based on the biblical principles found in Colossians 2:6-10, which emphasizes steadfast faith in Christ and rejection of worldly philosophies. The research employs a descriptive qualitative method with a literature review and in-depth interviews. The collected data is analyzed thematically to identify cultural challenges and strategic solutions that are contextually appropriate. The findings indicate that an effective mission strategy must be grounded in a deep understanding of Chinese culture and the application of the values in Colossians 2:6-10, particularly in emphasizing the supremacy of Christ and the importance of strong roots in faith. This strategy includes a dialogical approach, inculturation without syncretism, and the development of personal relationships rooted in Christian love. Thus, the gospel message can be communicated relevantly without compromising biblical truth. Key phrases: Chinese ethnicity. Semarang chinatown. mission strategy. Colossians 2:6-10 Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 94 | STRATEGI MISI BERDASARKAN KOLOSE 2:6-10 ABSTRAK Penelitian ini berfokus pada tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan strategi misi di komunitas Tionghoa di kawasan Pecinan Semarang, dengan mempertimbangkan pengaruh kuat budaya local berdasarkan prinsip-prinsip Alkitabiah dalam Kolose 2:6-10, yang menekankan keteguhan iman dalam Kristus dan penolakan terhadap filsafat Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka dan wawancara mendalam. Data yang diperoleh dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi tantangan budaya serta solusi strategis yang sesuai dengan konteks lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi misi yang efektif harus berlandaskan pada pemahaman mendalam terhadap budaya Tionghoa serta penerapan nilainilai Kolose 2:6-10, khususnya dalam menekankan supremasi Kristus dan pentingnya akar iman yang kuat. Strategi ini mencakup pendekatan dialogis, inkulturasi tanpa sinkretisme, dan membangun hubungan personal yang berlandaskan kasih Kristiani. Dengan demikian, pesan Injil dapat disampaikan secara relevan tanpa mengorbankan kebenaran Alkitabiah. Frasa kunci: etnis Tionghoa, pecinan Semarang, strategi misi, tantangan budaya. Kolose 2:6-10. PENDAHULUAN Di banyak kota di Indonesia, etnis Tionghoa bertempat tinggal di lokasi yang disebut Pecinan yang berarti daerah orang Cina. Kawasan Pecinan Semarang berbentuk lorong - lorong yang membujur dari selatan ke utara dengan deretan rumah atau toko di sebelah kanan maupun kiri. Pada sebuah pertigaan, terdapat lokasi yang disebut Aotusuk sateAo yaitu lokasi yang berada tepat berhadapan dengan ujung dari sebuah Lorong. Biasanya pada lokasi demikian akan didirikan sebuah kelenteng karena dipercaya bahwa lahan yang berada di Aotusuk sateAo itu dipengaruhi oleh roh-roh jahat dan kekuatan magis lainnya yang akan mengganggu kehidupan manusia, sehingga dengan keberadaan klenteng itu, akan menghilangkan pengaruh 1 Dengan demikian terdapat banyak bangunan kelenteng baik yang kecil maupun besar di kawasan ini. Leluhur etnis Tionghoa pada dasarnya memiliki ciri adat istiadatnya sangat mengagungkan kepercayaan terhadap hal-hal gaib, roh-roh, serta para leluhur, dan sangat menjunjung tinggi etika serta upacara-upacara 1 Rina Kurniati. AuRuang Dalam Budaya Etnik--Kawasan Pecinan,Ay 2020, 41. Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. TAMMY YULIANTO AUW. KALIS STEVANUS | 95 dalam hidup bermasyarakat. 2 Etnis Tionghoa sangat kuat dengan tradisi yang awalnya berbasis pada agama Kong Hu Cu dan kepercayaan pada roh dan leluhur yang mengandung sinkretisme. 3 Warisan ajaran yang diturunkan dari generasi ke generasi lebih bersifat kosmosentris dan lebih mementingkan kehidupan mental dari pada material. Sebelum leluhur orang Tionghoa mengenal agama dan filsafat, mereka telah terlebih dahulu mengenal penghormatan pada leluhur yang kemudian menjadi titik tolak dan dasar daripada kepercayaan tradisional Tionghoa. Beberapa dekade terakhir telah banyak orang dari etnis Tionghoa yang melakukan konversi ke agama Kristiani dan bahkan kalangan anak muda mulai menjauhkan diri dari agama-agama leluhur mereka. 4 Namun tradisi-tradisi leluhur tersebut masih banyak dilakukan oleh warga Tionghoa. Dengan demikian tradisi-tradisi nenek moyang ini menjadi tantangan tersendiri bagi penginjilan. Gereja menghadapi persoalan untuk menyelaraskan antara tradisi warga Tionghoa dengan pandangan teologi Kristen. Dalam melakukan penginjilan kepada etnis Tionghoa, maka harus ada pengembangan strategi untuk -mencari titik temu antara iman Kristen dengan tradisi-tradisi Tionghoa. 5 Titik temu ini sebagai point of contac mendialogkan Injil. 6 Penting sekali pemberita Injil memahami adat istiadat, kepercayaan leluhur, dan nilai-nilai budaya Tionghoa akan membantu kita lebih bijak dalam menyampaikan Injil. Ini juga menunjukkan rasa hormat, yang dapat membuka pintu untuk dialog untuk menjelaskan pesan Injil tanpa kehilangan identitas Tionghoanya. Perbedaan kultural tradisi kepercayaan ini menjadi hal yang harus diselesaikan oleh gereja untuk menumbuhkan ajaran Kristiani yang benar di lingkungan etnis Tionghoa. Pada awalnya gereja sangat ekstrim dalam menolak tradisi-tradisi sehingga banyak orang memberi stigma bahwa 2 Titin Watini. AuInteraksionisme Simbolik Tradisi Pemujaan Leluhur Dalam Sistem Kepercayaan Etnis Tionghoa Dengan Masyarakat Sunda (Studi Kasus Di Kelenteng Shia Jin Kong Jonggol. Kabupaten Bogo. Ay (Universitas Negeri Jakarta, 2. 3 Julia Ching. AuThe Vitality of Syncretism: Popular Religion,Ay in Chinese Religions (Springer, 1. , 205Ae20. 4 Chiang Yulius Darmawan. AuSubjective Well-Being Remaja Tionghoa Kristiani Yang Orangtuanya Menganut Kepercayaan TridharmaAy (Program Studi Psikologi FPSIUKSW, 2. 5 Joko Tri Haryanto and others. AuGereja Kristen Kalimantan Barat Dalam Upaya Mempertemukan Dogma Kristen Dengan Tradisi Tionghoa,Ay Harmoni 11, no. : 82Ae 6 Paulus Purwoto. David Eko Setiawan, and Kalis Stevanus. AuKristus Dan Krisna: Upaya Menemukan Point of Contact Dalam Mendialogkan Injil,Ay Jurnal Teologi Praktika 1, 2 . : 91Ae105. Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 96 | STRATEGI MISI BERDASARKAN KOLOSE 2:6-10 gereja antipati terhadap tradisi. Hal inilah yang menjadi kendala bagi kegiatan pekabaran Injil di lingkungan Tionghoa yang masih memegang teguh tradisi ajaran dari leluhur. Untuk menjembatani antara Kekristenan dan tradisi Tionghoa, maka gereja seharusnya berupaya memahami sejarah dan konteks sosial budaya lingkungannya sebagai strategi untuk merangkul etnis Tionghoa. 7 Apabila tidak ada keselarasan maka akan semakin memperbesar jarak antara penginjilan dengan masyarakat Tionghoa, terutama yang masih kolot. Harus ada kebijakan terkait tradisi ini supaya dapat terjadi akulturasi dengan memilah hal-hal apa yang dapat dikompromikan dan hal-hal apa yang sama sekali tidak bisa disatukan. Hal yang tidak bisa dikompromikan apabila hal tersebut terkait dengan iman, namun apabila masuk dalam ranah budaya, maka dapat dilakukan AuKritenisasiAy terhadap tradisi tersebut. Banyak orang yang berlatar belakang budaya Tionghoa sulit untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan bagi orang yang sudah percaya, mereka sulit meninggalkan tradisi warisan nenek moyang mereka sepenuhnya sehingga meskipun telah menjadi pengikut Kristus, mereka seringkali masih terlibat dalam upacara tradisi kebudayaan dan praktik-praktik kepercayaan yang telah dilakukan secara turun temurun. Mereka terkadang tidak bisa membedakan mana yang merupakan tradisi budaya dan mana yang menuju penyembahan berhala seperti yang terdapat dalam Kolose 2:6-10. Dengan demikian timbul pertanyaan apa saja praktik-praktik tradisi yang dilakukan yang menjurus kepada paganisme? Bagaimana strategi misi yang tepat untuk menghadapi orang Tionghoa yang berlatar belakang Kong Hu Cu? Penelitian ini dilakukan karena berdasarkan penelurusan di google scholar, penulis tidak menemukan tulisan yang mengangkat topik ini sehingga tulisan ini menjadi sebuah kebaruan dan dapat menambah literatur bagi Hamba Tuhan dan gereja yang ingin melakukan penginjilan pada etnis Tionghoa pada umumnya dan di Pecinan Semarang khususnya. METODE PENELITIAN Dalam riset ini, peneliti memakai metode deskriptif kualitatif. Menurut Imam Gunawan, metode penelitian kualitatif merupakan penelitian yang hasilnya tidak diperoleh dari statistik tetapi penelitian yang dilakukan sendiri oleh peneliti secara natural dan peneliti juga yang 7 Haryanto and others. AuGereja Kristen Kalimantan Barat Dalam Upaya Mempertemukan Dogma Kristen Dengan Tradisi Tionghoa. Ay Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. TAMMY YULIANTO AUW. KALIS STEVANUS | 97 menafsirkan data yang diperoleh menurut perspektif peneliti sendiri. Sedangkan Ardiyanto mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai sebuah prosedur riset yang menghasilkan informasi deskriptif baik berbentuk verbal ataupun tulisan dari orang lain maupun perilaku yang dicermati. Metode ini sesuai dengan tujuan peneliti yaitu mendapatkan rincian data yang mendetil tentang ritual kepercayaan orang Tionghoa yang merupakan fenomena yang sulit diperoleh melalui metode kuantitatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan eksposisi dengan menggunakan data dari wawancara, bermacam referensi, buku dan hasil riset sebelumnya yang relevan, guna memperoleh jawaban serta dasar prinsip tentang permasalahan yang diteliti. Eksposisi digunakan dalam memaparkan ayat-ayat yang menggunakan prinsip hermeneutik. Selain itu peneliti juga menggunakan metode kepustakaan, yaitu dengan menggabungkan berbagai sumber pustaka untuk mendapatkan satu kesimpulan yang mutlak. Riset literatur ialah suatu tipe riset yang dipakai dalam pengumpulan data dengan metode etnografi yaitu suatu bentuk penelitian yang berfokus pada makna sosiologi melalui observasi lapangan tertutup dari fenomena sosiokultural dimana peneliti memfokuskan penelitiannya pada suatu Masyarakat tertentu. 10 Peneliti juga menggunakan pendekatan fenomenologi dengan mengadakan wawancara guna memperoleh data dari pelaku ritual dan praktik-praktik kepercayaan perihal seluk-beluk mereka dalam mengadakan upacara. Tanya jawab bisa didefinisikan sebagai pembicaraan antara dua orang untuk meminta informasi kepada orang yang diteliti seputar pendapat dan keyakinannya. HASIL DAN PEMBAHASAN Tantangan Budaya Tionghoa Tradisi budaya adalah adat atau kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat secara turun-temurun karena dianggap memiliki nilai - nilai yang baik dan benar dan hal ini sudah biasa dilakukan sejak jaman nenek 12 Dengan demikian tradisi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan 8 Imam Gunawan. Metode Penelitian Kualitatif: Teori Dan Praktik (Bumi Aksara, 2. 9 Yoni Ardianto. AuMemahami Metode Penelitian Kualitatif,Ay Djkn, 2019. 10 James P Spradley and others. AuMetode Etnografi,Ay 1997. 11 Simon Petrus Siagian and Ricu Sele. AuMarpasar Dalam Perspektif Teologi Kristen,Ay Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) 2, no. : 70Ae85. 12 Nelson H H Graburn. AuWhat Is Tradition?,Ay Museum Anthropology 24, no. 2Ae3 . : 6Ae11. Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 98 | STRATEGI MISI BERDASARKAN KOLOSE 2:6-10 masyarakat modern karena merupakan sebuah gaya hidup tersendiri. Pengikut Kristus dari etnis Tionghoa dalam kalangan tertentu memandang tradisi sebagai sesuatu yang harus dilakukan karena tidak menganggap hal itu sebagai aktivitas agama ataupun kepercayaan tertentu, dalam hal ini Kong Hu Cu, melainkan hanya sebatas warisan adat dari nenek moyang atau orang tua mereka sehingga mereka tetap memiliki kewajiban untuk melestarikan tradisi ini Dari berbagai tradisi yang dilakukan, penulis melihat tantangan yang harus dihadapi dengan adanya berbagai ritual yang masih dilakukan oleh orang Kristen Tionghoa yang tidak selaras dengan Firman Tuhan ditinjau misalnya dalam Kolose 2:6Ae10 tentang kepenuhan hidup dalam Kristus. Dalam Kolose 2. Paulus mengingatkan jemaat di Kolose untuk waspada terhadap ajaran dan tradisi manusia yang tidak sesuai dengan ajaran Kristus. Salah satu contoh budaya Tionghoa yang mungkin tidak selaras dengan ajaran Alkitab menurut perspektif ini adalah praktik penyembahan leluhur. Penyembahan leluhur merupakan bagian integral dari banyak tradisi Tionghoa, di mana orang menghormati dan memuja roh leluhur mereka dengan memberikan persembahan, membakar dupa, dan melakukan berbagai ritual lainnya. Ajaran Kristen menolak praktik penyembahan kepada roh atau leluhur, karena dianggap sebagai bentuk penyembahan berhala atau roh-roh dunia, yang bertentangan dengan penyembahan yang seharusnya hanya kepada Tuhan Yesus. Dalam konteks ini, ketika orang Kristen Tionghoa menggabungkan praktik penyembahan leluhur yang merupakan bagian dari tradisi Tionghoa dengan ajaran dan praktik kekristenan, hal ini menciptakan suatu bentuk sinkretisme. Juga diungkapkan oleh Maria bahwa bila dilihat dari sudut pandang etnografi, hal ini dilakukan oleh orang Tionghoa secara sadar karena rasa hormat terhadap leluhur, takut akan hal-hal buruk yang menimpa apabila mereka tidak melakukannya, tetapi ada juga yang melakukannya karena tidak menyadari bahwa hal-hal tersebut bertentangan dengan Firman Tuhan karena kurangnya pemahaman tentang makna dari tradisi dan ritual yang 13 Maria Aprina Matahelemual. AuSpiritualitas Generasi Muda Di Gereja Kristen Pasundan Bakal Jemaat Di Kampung Teko Terhadap Tradisi Perayaan Etnis Tionghoa Bagi Generasi Z Dalam Konteks Budaya Populer,Ay Aradha: Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies 2, no. : 57Ae67. Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. TAMMY YULIANTO AUW. KALIS STEVANUS | 99 Sembahyang Arwah Orang dewasa yang telah menjadi Kristen seringkali memilih untuk tetap merayakan tradisi Tionghoa karena mereka memiliki tanggung jawab dan kewajiban sebagai anak terhadap orang tua dan leluhur mereka yang pada masa hidupnya merupakan penganut agama Kong Hu Cu. Ketika orang tua dan leluhur mereka meninggal dunia, mereka merasa wajib untuk melakukan sembahyang untuk arwah Ae arwah mereka. 14 Dua kali dalam sebulan yaitu pada tanggal 1 dan 15 setiap bulan pada kalender China, keluarga akan menyiapkan altar atau meja sembahyang untuk menyediakan berbagai macam makanan, minuman dan buah-buahan kesukaan leluhur mereka dan biasanya makanan yang disajikan itu lebih istimewa daripada makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan bakti dan penghormatan kepada orang tua dan leluhur yang sudah meninggal. 15 Hal ini dilakukan karena menurut kepercayaan mereka, jika keluarga tidak menyediakan makanan, maka arwah itu akan kelaparan karena mereka tidak memperoleh makanan dari tempat lain. Tradisi ini masih dilakukan terutama pada keluarga yang masih memiliki orang tua yang masih menganut agama Kong Hu Cu. Upacara paling besar yang dilakukan untuk melakukan sembahyang arwah adalah Ceng Beng, atau Qing Ming (Io. yang disebut juga Hari Semua Arwah. Ceng Beng diadakan satu kali dalam setahun untuk berziarah dan sembahyang. Perayaan sembahyang arwah ini jatuh pada tanggal 5 April setiap tahun karena menurut astronomi Tiongkok, matahari bersinar paling terang pada tanggal tersebut. 16 Perayaan ini dapat dilangsungkan sepuluh hari sebelum atau sepuluh hari setelah tanggal 5 April. Ceng Beng atau tilik kubur adalah salah satu perayaan yang dilakukan dengan berziarah ke makam leluhur sebagai tanda untuk mengingat dan menghormati leluhur yang telah meninggal dunia. Etnis Tionghoa akan datang ke makam leluhur mereka baik untuk membersihkan makam maupun melakukan sembahyang dengan cara menyajikan berbagai macam hidangan tertentu, teh, arak, dupa dan mereka akan membakar kertas sembahyang yang merupakan simbol bahwa mereka mengirimkan 14 K. AuKehidupan Kekristenan Pada Rumah Dengan Budaya Tiong HwaAy (Semarang, 2. 15 NA. AuOrang Kristen Dalam Keluarga Kong Hu CuAy (Semarang, 2. 16 Jessica Jodis. AuApa Itu Upacara Ceng Beng? Ae Keluarga Besar Mahasiswa Khong Cu,Ay December https://studentactivity. id/kbmk/2021/04/apa-itu-upacara-ceng-beng/. Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 100 | STRATEGI MISI BERDASARKAN KOLOSE 2:6-10 uang untuk leluhur mereka. 17 Perayaan ini menekankan pentingnya berbakti pada orang tua dan leluhur sekalipun mereka sudah tiada. Ada orang Kristen tetap melakukannya bersama keluarga karena orang tua dan keluarga besar masih melakukannya karena hal ini dipandang sebagai tradisi yang baik untuk menghormati orang tua dan leluhur yang sudah meninggal, sekalipun gereja tidak mengajarkan untuk menghormati leluhur yang sudah meninggal dengan berziarah ke kubur. Sebenarnya mereka memahami bahwa tradisi sembahyang arwah adalah sesuatu yang sia-sia untuk dilakukan karena mereka tidak dapat membahagiakan arwah para leluhur mereka dengan menyajikan berbagai makanan yang Istimewa dan membakar uang kertas serta berbagai benda lainnya misalnya rumah, mobil dll yang terbuat dari kertas untuk memenuhi kebutuhan hidup di Saat ini tradisi ini lebih banyak dilakukan oleh orang tua yang memiliki latar belakang penganut agama Kong Hu Cu tetapi mereka tidak meminta anak-anak mereka untuk melakukannya pada saat mereka meninggal dunia. Sedangkan generasi muda yang orang tuanya sudah menjadi pengikut Kristus, mereka sudah tidak melakukan ritual sembahyang arwah karena orang tua mereka telah mengajarkan tentang iman dan keselamatan bagi orang Kristen. 19 Justru memberikan pandangan bahwa anak-anak seharusnya membahagiakan dan menghormati orang tua pada saat orang tua masih hidup, sebagaimana ajaran Firman Tuhan. Ziarah kubur ini tetap dapat dilakukan oleh orang Kristen apabila dimaknai sebagai penghormatan kepada leluhur dengan membersihkan kubur sekaligus momentum berkumpul bersama keluarga dan mempererat tali Cisuak Masyarakat Tionghoa percaya bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan di dunia ini, baik peristiwa-peristiwa yang baik dan menguntungkan maupun kejadian yang buruk, terjadi bukan sepenuhnya bergantung dari manusia saja tetapi ada kekuatan lain di luar kendali 17 Catur Kepirianto. Siti Mariam, and Vanessa Febe Purnomo. AuFood Offering Culture at Chinese Rituals in Semarang Chinatown Coastal Community,Ay in E3S Web of Conferences, vol. 317, 2021, 1028. 18 Evelina Hein. AuOrigin and Functions of Chinese Seasonal Festivals Qingmingjie and Chongyangjie,Ay Postmodernism Problems 12, no. : 131Ae55. 19 Darmawan. AuSubjective Well-Being Remaja Tionghoa Kristiani Yang Orangtuanya Menganut Kepercayaan Tridharma. Ay Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. TAMMY YULIANTO AUW. KALIS STEVANUS | 101 20 Berawal dari pemikiran demikian, maka orang Tionghoa berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang baik dan menghindar dari sesuatu yang buruk dalam berkehidupan mereka. Hal ini menyebabkan munculnya budaya manusia untuk mencari keberuntungan, kebahagiaan, dan basib baik yang dihubungkan dengan elemen yang ada di alam yang berujung pada kepercayaan animisme. Cisuak adalah sebuah tradisi ritual yang telah ada sejak jaman dahulu kala sebagai upaya manusia untuk menghindari nasib yang buruk. Cisuak berasal dari perspektif Agama Kong Hu Cu yang tertulis dalam kitab Hukum Sembahyang dimana orang membuat pengorbanan yang kecil untuk menghindarkan diri dari kejadian-kejadian buruk yang tidak Ritual yang diadakan setiap tahun menjelang Tahun Baru Imlek ini bertujuan untuk menolak bala yaitu mencegah terjadinya hal-hal yang buruk yang akan menimpa manusia karena ketidak serasian antara elemen yang ada di dalam diri mereka dengan alam dalam tahun berjalan. 22 Hal ini dilakukan seseorang untuk melindungi diri sendiri maupun keluarganya sekaligus menghindarkan diri dari hal-hal yang menyebabkan nasib buruk. Untuk mendapatkan perlindungan dan berkah dari para dewa dan menghindarkan diri dari nasib buruk dan mara bahaya, ritual ini dilakukan terutama apabila shio kelahiran seseorang sedang chiong atau bertentangan dengan peruntungan di tahun itu karena mereka yakin jika mereka melakukan ritual tolak bala ini maka semua hal buruk yang akan terjadi di tahun itu akan dihindarkan. Tetapi ada juga orang yang sekalipun shio kelahiran tidak chiong mereka tetap melakukannya karena ada keyakinan jika ritual tolak bala ini dilakukan setiap tahun maka mereka akan mendapatkan keberuntungan yang lebih baik. Yang dimaksud dengan shio adalah zodiak Cina yang ditentukan berdasarkan perhitungan tahun kelahiran seseorang. Berbeda dengan astrologi Barat yang berdasarkan bulan, zodiak Cina didasarkan dengan siklus dua belas tahun maka setiap 12 tahun shio ini akan berulang dan setiap tahunnya shio diwakili oleh hewan yang berbeda yaitu tikus, lembu, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam jago, anjing, dan 20 Nathania Nathania. AuFaktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pandangan Masyarakat Tionghoa Surabaya Terhadap Peruntungan Shio essaiiCnaOuUioEu,Ay Century: Journal of Chinese Language. Literature and Culture 2, no. : 123Ae33. 21 Atik Febriyani. AuCiswak Ritual as a Ritual of Rejecting the Annual Bala of the Chinese,Ay Bambuti 4, no. : 11Ae27. 22 Febriyani. Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 102 | STRATEGI MISI BERDASARKAN KOLOSE 2:6-10 23 Orang Tionghoa percaya bahwa hewan yang menentukan tahun lahir seseorang memiliki pengaruh besar terhadap kepribadian dan nasib. Fengshui Feng shui adalah istilah yang tidak asing di telinga masyarakat terutama dalam masyarakat etnis Tionghoa. Pada umumnya feng shui digunakan sebagai petunjuk untuk mempertimbangkan dengan baik posisi dan arah setiap ruangan untuk menghindari dampak buruk dan memperoleh hal yang terbaik dalam hidup yang berkaitan dengan kesehatan, keuangan dan juga dalam kehidupan tiap-tiap hari ataupun dalam bisnis. Banyak orang memanfaatkan perhitungan feng shui karena mereka memercayai bahwa seluruh kehidupan yang dijalani, konsep dari feng shui turut mempengaruhi. Sebenarnya feng shui bukanlah perihal yang terkini karena itu adalah ialah adat-istiadat kebiasaan yang diwariskan dari setiap generasi. Menurut Wendy, konsep feng shui ialah sebuah kepercayaan yang bermula dari adat Cina kuno tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan 25 Meskipun feng shui adalah ajaran kuno, orang yang hidup di era modern ini, bahkan orang yang tergolong intelektual sekalipun, banyak yang mengadopsi feng shui terutama dalam hal yang berkenaan dengan mendirikan bangunan atau pemilihan tanggal. Hal tersebut terjadi karena banyak ajaran feng shui yang terlihat masuk akal. Bahkan arsitek yang menerapkan feng shui dalam merancang sebuah bangunan lebih diminati oleh klien. 26 Dalam sebuah penelitian, terdapat fakta bahwa di ruang modern pun, penerapan feng shui masih digunakan sebagai bagian dari tradisi. Banyak arsitek professional menggunakan feng shui untuk mempertimbangkan hal-hal yang dapat mempengaruhi desain tetapi tidak mengesampingkan lingkungan. Bagi mereka, sains harus dapat mencakup semua aspek termasuk pengaruh sosial, ekonomi dan Pengalaman arsitektural dengan penerapan feng shui terbukti mampu memberikan dampak positif pada desain ruang sehingga 23 Yanzi Chen. The 12 Animals An Interactive Guide To The Chinese Zodiac Signs (Rochester Institute of Technology, 2. 24 Kim Hyun-Jee. AuAnimal Symbolism of the Trademarks and Trade Characters: Cultural Influences of the Animal Symbols,Ay Archives of Design Research, 2006, 71Ae92. 25 Wendy W N Wan et al. AuPriming Attitudes toward Feng Shui,Ay Asian Journal of Business Research 2, no. 26 William L. Chang and Peirchyi Lii. AuFeng Shui and Its Role in Corporate Image and Reputation: A Review from Business and Cultural Perspectives,Ay Journal of Architectural and Planning Research 27, no. : 1Ae14. Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. TAMMY YULIANTO AUW. KALIS STEVANUS | 103 dimasukkan ke dalam doktrin desain arsitektur kontemporer. Pada kenyataannya praktik feng shui banyak diterapkan pada perumahan, perkantoran, hotel, mall dan bangunan-bangunan lainnya. Feng shui secara umum dimanfaatkan dalam merancang tata letak sesuatu misalnya ruang, rumah, gedung, taman atau makam. Hal ini harus diselaraskan dengan alam supaya mendapatkan keberuntungan, kesehatan dan keharmonisan baik individu, keluarga atau usaha perniagaan. 28 Praktik feng shui dilakukan dengan membuat pengamatan secara terperinci terhadap lingkungan alam disekitarnya supaya dapat menghasilkan perhitungan yang 29 Apabila orang mendirikan sebuah cafy dengan perhitungan feng shui yang tepat maka tempat itu akan memancarkan chi yang positif, sehingga energi itu dapat mengundang orang-orang di sekitarnya untuk berkunjung dan menjadi pelanggan di cafy tersebut. 30 Terlepas dari penggunaan feng shui secara konvensional, seperti penentuan posisi rumah dan kuburan dan menghitung tanggal untuk pemakaman, pernikahan, dan lain sebagainya. Ahli feng shui biasanya juga dipanggil untuk memecahkan sejumlah 31 Tidak jarang, seorang pebisnis Kristen mencari ahli feng shui terlebih dahulu sebelum membuka usahanya. Selain tempat yang strategis, ia membutuhkan orang yang dapat membaca feng shui agar usahanya dapat menghasilkan banyak keuntungan. 32 Ia juga biasanya berkonsultasi untuk mencari waktu yang tepat untuk memulai bisnis dengan cara mencocokan shio dengan usaha yang dilakukan. Ketika seorang ahli feng shui menyarankan waktu yang cocok, biasanya orang tersebut langsung mencurahkan segala tenaganya untuk pembangunan usaha tersebut. Jemaat Kolose Pemberitaan Injil pada etnis Tionghoa yang masih memegang teguh ajaran leluhur membutuhkan strategi yang tepat agar mereka dapat menerima pekabaran Injil dan hidup sesuai dengan ajaran Kristus. 27 Yang Wang and Yang Wang. AuA Comprehension of Feng-Shui and Its Relevance to Landscape Architecture,Ay 2012. 28 Auw Tammy Yulianto. Simon Simon, and Tjiong Eric Cahyadi. AuTheological Review of the Concept of Feng Shui According to Colossians 2: 8,Ay Evangelikal: Jurnal Teologi Injili Dan Pembinaan Warga Jemaat 6, no. : 124Ae34. 29 AR. AuPraktik Feng Shui Dalam KehidupanAy (Semarang, 2. 30 LT. AuKiat Kiat Sukses BerkarirAy (Semarang, 2. 31 Ole Bruun. Fengshui in China: Geomantic Divination between State Orthodoxy and Popular Religion (University of Hawaii Press, 2. 32 LT. AuPentingnya Feng Shui Dalam KarirAy (Semarang, 2. 33 LT. AuPembacaan Shio Dengan Hubungan KarirAy (Semarang, 2. Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 104 | STRATEGI MISI BERDASARKAN KOLOSE 2:6-10 Walaupun tradisi budaya Tionghoa memiliki nilai-nilai yang luhur dan mengarahkan manusia kepada ajaran-ajaran yang baik namun kita harus bersikap hati hati terhadap filosofi-filosofi yang kosong dan palsu sebagaimana Firman Tuhan yang dituliskan untuk jemaat Kolose yang masih relevan untuk sampai saat ini. Jemaat Kolose dibangun oleh Epafras, seorang yang bertobat melalui pelayanan Paulus di Efesus. 34 Jemaat di Kolose berkembang dengan pesat pada waktu itu. Dalam Kolose 1: 3,4, terlihat kalau kepercayaan serta kasih jemaat di Kolose ini sedemikian itu baik, akibatnya membuat Paulus menyanjung mereka dalam kedua perihal itu. Kondisi jemaat di Kolose yang baik ini tampaknya tidak menjamin jika mereka hidup dengan keadaan yang baik tanpa ujian. Malah dalam kondisi yang nyaman serta aman semacam itulah banyak hal yang dapat menipu orang percaya. Mereka terlena dengan rasa nyaman serta aman, akibatnya mereka tidak menyadari bahwa ajaran ajaran sesat telah masuk dalam ibadah mereka, yaitu merambatnya suatu paham palsu yang saat disebutkan sebagai ajaran palsu Kolose. 35 Pemikiran itu ialah kombinasi dari praktik- praktik yang di tentang Paulus. Orang-orang itu berpendapat bahwa keselamatan sepenuhnya tidak bisa digapai dengan ketaatan pada Yesus saja, namun perlu di tambah dengan pengertian tentang soal-soal ilahi lewat peraturanperaturan yang diterapkan oleh bidat-bidat yang nampak penuh hikmat tetapi itu semua merupakan ibadah buatan mereka sendiri, maka hal tersebut tidak ada gunanya karena hanya untuk menggembirakan hidup secara keduniawian saja. Dalam konteks Kolose 2:6-10 Paulus mendorong jemaat di Kolose untuk tetap teguh dalam iman mereka kepada Kristus dan menghindari ajaran dan praktik yang tidak sesuai dengan ajaran Kristus. Ini termasuk waspada terhadap ajaran-ajaran palsu yang berusaha mencampuradukkan ajaran Kristen dengan tradisi manusia atau roh-roh dunia. Dalam hubungannya dengan praktik penyembahan leluhur oleh orang Kristen Tionghoa, firman Tuhan ini mengajak untuk berpegang teguh pada ajaran Kristus dan menghindari praktik-praktik yang bisa mengalihkan fokus dari iman yang murni kepada Kristus. Segala praktik berkomunikasi atau memberikan persembahan kepada leluhur dianggap tidak sesuai dengan ajaran tentang kehidupan setelah kematian dalam Kristen. Jadi. Paulus 34 Sostenis Nggebu. AuPemuridan Model Epafras Sebagai Upaya Pendewasaan Iman Bagi Warga Gereja,Ay Jurnal Teologi Pengarah 3, no. : 26Ae42. 35 MA. Situmorang. JonarT. Sejarah Gereja Umum (PBMR ANDI, 2. Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. TAMMY YULIANTO AUW. KALIS STEVANUS | 105 memperingatkan agar orang Kristen untuk berakar dalam Kristus dan ajaran-Nya, bukan pada tradisi atau praktik yang bertentangan dengan iman Kristen. Mengintegrasikan praktik penyembahan leluhur bisa mengaburkan akar iman yang seharusnya tertanam dalam Kristus. Pada ayat 6 Paulus menekankan untuk hidup dalam Kristus dengan mengatakan bahwa: AuKamu telah menerima Kristus Yesus. Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam DiaAy. Kata aEA . berasal dari tradisi Rabinik, yang artinya menerima, menyetujui dan memindahkan. Juga terdapat kata aEAnEA . yang ditulis dalam bentuk kata kerja present imperative active orang kedua jamak yang dapat diartikan sebagai berjalan, melangkah di sekitar, mengikuti sebagai pendamping jadi hal ini dilakukan dengan kesadaran sendiri. Ayat ini bermakna bahwa Jemaat yang telah menerima Kristus harus melangkah bersama Kristus dengan kesadaran mereka sendiri dalam segenap aspek hidup mereka. 37 Dalam ayat 7 Rasul Paulus menasihatkan untuk bertumbuh di dalam Kristus dengan cara berakar dan dibangun dalam Kristus serta memiliki iman yang semakin teguh dan hati yang melimpah dengan ucapan Kata Yunani aOA (Erriizsmeno. memiliki arti menumbuhkan akar, sedangkan kata aAsA . berarti dibangun di atas suatu fondasi, sedangkan kata AsA . berarti benar-benar kokoh. Jadi makna dari ayat ini umat Tuhan harus selalu bertumbuh dan dibangun diatas fondasi iman yang benar-benar kokoh dan ini menikmati semua proses ini dengan ucapan Syukur yang akan berlangsung seumur hidup. Ayat 8 adalah ayat kunci dari strategi misi ini yang berhubungan langsung dengan ritual-ritual etnis Tionghoa. Kata eAAEA (Blepet. yang ditulis dalam bentuk kata kerja present imperative active 2nd plural adalah kalimat perintah agar jemaat Tuhan harus mewaspadai ajaran-ajaran yang ada dan dapat membedakan manakah yang ajaran yang benar. Paulus menuliskan surat kepada jemaat di Kolose karena orang-orang mencampuradukkan ajaran Kristus dengan ajaran Taurat dan dengan filsafat Yunani. Dalam ayat 9 ada kata a aE . n aut. diterjemahkan Aodi dalam DiaAo dan frasa AAO EIC oAUEEC . lersma tes theoteto. diterjemahkan Aokepenuhan ke-AllahanAo menunjukkan bahwa seluruh kualitas Ilahi dari Allah ada di dalam Yesus sekalipun dalam keadaan 36 John Drane. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar Historis-Teologis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. 37 Lindin Anderson and Bernadeta Beka Fitri Aprianti. AuKepenuhan Hidup Didalam Kristus Menurut Kolose 2: 6-15,Ay LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta 3, no. : 86Ae96. Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 106 | STRATEGI MISI BERDASARKAN KOLOSE 2:6-10 fisiknya sebagai manusia. Ayat 10 mengatakan bahwa seluruh jemaat Kristus harus hidup di dalam Kristus secara sepenuhnya dan hal ini juga berlaku bagi kita. Selanjutnya. Kristus disebutkan sebagai Kepala yang memiliki kuasa atas semua pemerintah dan penguasa yang artinya hanya Dia berkuasa atas segala sesuatu dan tidak ada kekuatan apapun yang Strategi Misi Tradisi Tionghoa Di Pecinan Semarang Pendekatan Dialogis Pendekatan dialogis membutuhkan kesabaran, kasih, dan ketulusan. Ingatlah bahwa tujuan utama adalah membawa mereka kepada pengenalan akan Kristus, bukan sekadar memenangkan argumen. 38 Pendekatan dialogis adalah cara memberitakan Injil melalui percakapan dua arah yang penuh hormat, dengan tujuan membangun hubungan, memahami perspektif lawan bicara, dan mengkomunikasikan kebenaran Injil secara relevan. Ketika menghadapi orang Tionghoa yang masih memelihara tradisi leluhur yang bercampur dengan paganisme atau sinkretisme, pendekatan ini menjadi sangat penting karena menyentuh hati dan pikiran mereka dengan cara yang tidak menghakimi. Seorang penginjil dapat menemukan nilai positif dalam budaya Tionghoa,40 seperti menghormati orang tua . Xia. , kebajikan (. , dan keadilan (O. , sejalan dengan ajaran Alkitab. Tunjukkan bagaimana nilai-nilai ini terpenuhi secara sempurna dalam Kristus. Misalnya, ajarkan bahwa Yesus juga menghormati keluarga, tetapi Ia mengarahkan penghormatan tertinggi kepada Bapa Surgawi. Inkulturasi Nilai Kristiani ke Dalam Tradisi Pendekatan inkulturasi tanpa sinkretisme dalam menyampaikan Injil kepada orang Tionghoa yang masih memelihara tradisi leluhur dan sinkretisme mengutamakan adaptasi yang menghormati budaya setempat tanpa mencampurkan ajaran agama Kristen dengan elemen-elemen yang bertentangan dengan ajaran Kristiani. Sengga menjelaskan bahwa 38 Kalis Stevanus. Panggilan Teragung: Pedoman Dan Metoda Praktis Untuk Memberitakan Kabar Baik Sampai Ke Ujung Bumi (Yogyakarta: Andi Offset, 2. , 67. 39 Yonatan Alex Arifianto and Kalis Stevanus. AuMembangun Kerukunan Antarumat Beragama Dan Implikasinya Bagi Misi Kristen,Ay HUPERETES: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 2, no. : 39Ae51. 40 M. Iqbal Mubarok. AuNilai Budaya Etnis Tionghoa Dalam Novel Pecinan Karya Ratna Indraswari Ibrahim,Ay 2020, https://repository. id/handle/123456789/764. Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. TAMMY YULIANTO AUW. KALIS STEVANUS | 107 inkulturasi sendiri adalah proses penyesuaian atau penanaman nilai-nilai Injil ke dalam budaya lokal tanpa mengubah esensi ajaran Kristen itu 41 Ini bertujuan untuk menjembatani pemahaman orang-orang dari latar belakang budaya tertentu, dalam hal ini orang Tionghoa, sehingga mereka dapat memahami dan menerima Injil dengan cara yang relevan dengan konteks budaya mereka. Namun, dalam pendekatan ini, sangat penting untuk menghindari sinkretisme, yaitu pencampuran ajaran agama Kristen dengan ajaran atau praktik dari agama atau tradisi lain yang dapat merusak kemurnian pesan Injil. Meskipun telah beberapa tradisi Tionghoa yang dapat dilakukan secara umum misalkan peringatan Imlek. Gereja dapat mengadakan ibadah pada hari Imlek dan mendekorasi gereja dengan pernak-pernik khas Tionghoa. Pada tradisi yang lain misalnya perkabungan, dapat diisi dengan kebaktian rumah tangga. Pada tradisi Cheng Beng . embahyang kubu. , gereja bahkan dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk mengabarkan Injil pada keluarga atau orang-orang yang belum percaya Inkulturasi nilai-nilai gereja ke dalam tradisi Tionghoa membuat warga Tionghoa dapat menerima kehadiran gereja. Diharapkan dengan nilai kebersamaan dalam merayakan tradisi budaya bersama orang tua dan keluarga besar di tengah perbedaan agama dapat membuat mereka melakukan penginjilan sekaligus melestarikan budaya dan nilai-nilai luhur karena perayaan seperti Tahun Baru Imlek biasanya lebih meriah dan penuh semangat dibanding dengan perayaan pergantian tahun masehi. Dengan merayakan tradisi tersebut di tengah persekutuan sesama umat Tuhan, mereka menyatukan tradisi Tionghoa secara Kristiani sehingga akan memperkuat kebersamaan. Interaksi tradisi budaya dalam keluarga dan kehidupan beragama dapat memberikan pengaruh baik secara timbal balik. Dalam berbagai ritual, mereka tidak lagi memanjatkan doa kepada leluhur, terlebih bagi generasi muda, sekalipun berada di tengah keluarga, mereka tidak lagi melakukan ritual sembahyang sebagaimana tradisi yang dilakukan oleh orang tua atau kakek nenek mereka dan orang tuapun tidak mau membebani anak-anak mereka dengan kewajiban sembahyang. Namun 41 Fransiskus Yance Sengga. AuMenelisik Konsep. Terminologi. Landasan Biblis Dan Teologis Inkulturasi Sebagai Proses Inkarnasi Injil Dalam Budaya-Budaya Gereja Lokal [Sebuah Telaah Kritis Menurut Perspektif Teologi Liturg. ,Ay Atma Reksa: Jurnal Pastoral Dan Kateketik 6, no. : 27Ae67. 42 Yohanes Suryadi. AuJalan Bakti Dalam Upaya Inkulturasi Injil Kristus Di Tengah Masyarakat Tionghoa Kristen Di Indonesia,Ay MELINTAS 31, no. : 336Ae52. Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 108 | STRATEGI MISI BERDASARKAN KOLOSE 2:6-10 nilai-nilai kebaikan dalam ritual ini membuat mereka memiliki pandangan yang baik terhadap tradisi perayaan Tionghoa. Ada banyak momentum dalam perayaan yang berhubungan dengan tradisi yang dapat dimanfaatkan untuk mendeklarasikan diri sebagai orang Kristen maupun menyampaikan Injil. Penyampaian Injil mesti mempertimbangkan konteks penerima43 termasuk budayanya. Seperti perayaan Imlek misalnya karena perayaan ini bukanlah tradisi ritual agama tertentu, tetapi perayaan bagi semua etnis Tionghoa untuk menyambut datangnya musim semi dan tahun baru, sesuai dengan keadaan di Cina. Dalam hal ini, umat Kristen boleh melakukannya, namun tidak boleh melakukan sembahyang Dewa Dapur, sembahyang pada arwah orang mati, dan mengusir setan dengan membunyikan mercon, karena hal-hal tersebut terkait dengan ritual. Hal-hal lain yang berhubungan dengan kultural tetap bisa dilakukan misalnya membersihkan rumah, makan bersama, kunjungan ke rumah sanak saudara, dan membagi Ang Pao. Bahkan dalam momen perayaan Imlek dapat dimanfaatkan untuk menyatakan bakti kepada orang tua sambil memperkenalkan Injil pada sanak keluarga. Tradisi Ceng Beng atau tradisi ziarah kubur juga berhubungan dengan kultural. 44 Hari Ceng Beng di kalangan Tionghoa merupakan upacara yang penting, yakni semangat untuk mengingat pada leluhur. Dalam pelaksanaannya dilakukan acara pembersihan kuburan dan upacara sembahyang arwah. Bagi orang Kristen, acara pembersihan kuburan dipandang sebagai hal yang positif dan dipandang tidak bertentangan karena tidak melupakan leluhur dan menghormati orang tua juga. Alkitab mengajarkan untuk menghormati orang tua (Kel. Tidak ada perintah eksplisit dalam Alkitab tentang membersihkan kubur. Membersihkan kubur bisa dilihat sebagai salah satu bentuk menghormati kenangan dan warisan orang tua dan leluhur. Hemat penulis sebagai orang Kristen Tionghoa, praktik ini pada dasarnya tidak bertentangan dengan iman, asalkan tidak disertai dengan tindakan yang bertentangan dengan ajaran Kristen, seperti pemberian persembahan kepada roh orang yang telah meninggal. 43 Kalis Stevanus. AuRekonstruksi Paradigma dan Implementasi Misi Gereja Masa Kini di Indonesia,Ay Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan 7, no. 2 (June 30, 2. : 105Ae 15, https://doi. org/10. 47543/efata. 44 Bangun Yeremia. AuTradisi Cheng Beng Pada Etnis Tionghoa Di Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli SerdangAy (UNIMED, 2. Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. TAMMY YULIANTO AUW. KALIS STEVANUS | 109 Membangun Hubungan Personal dengan Kasih yang Tulus Membangun hubungan personal dengan kasih yang tulus untuk memenangkan jiwa orang Tionghoa yang masih memelihara tradisi leluhur sangat penting dalam konteks inkulturasi Injil. Pendekatan ini menekankan pentingnya relasi yang mendalam dan berbasis kasih, yang lebih dari sekadar berbicara tentang iman, tetapi juga menunjukkan melalui tindakan nyata bahwa kasih Kristus dapat diterima dalam konteks budaya mereka. Orang Tionghoa sangat menghargai hubungan yang tulus dan saling Untuk membangun hubungan yang baik, penting untuk menunjukkan kasih yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Stevanus mengatakan ini bisa berupa bantuan praktis dalam situasi sulit, perhatian terhadap kebutuhan keluarga mereka, 45 atau sekadar menjadi teman yang dapat diandalkan. Kasih yang tidak bersyarat, yang tercermin dalam sikap rendah hati dan perhatian, adalah cara yang sangat efektif untuk menyentuh hati orang Tionghoa. Selain itu penyampaian Injil dapat dilakukan melalui kesaksian pribadi tentang karya Kristus. Kesaksian hidup seseorang adalah salah satu cara terbaik untuk membangun hubungan dan menarik orang ke dalam iman Kristen. 46 Ketika orang Tionghoa melihat perubahan positif dalam hidup seseorang yang mereka percayai, mereka lebih cenderung membuka hati untuk mendengarkan. Menunjukkan bagaimana kasih Kristus telah mengubah kehidupan seseorang dapat menjadi bukti yang lebih kuat daripada sekadar teori. KESIMPULAN Dalam konversi agama, seringkali orang masih sulit melepaskan diri dari nilai-nilai dan ajaran agama sebelumnya. Demikian pula yang terjadi pada orang Kristen etnis Tionghoa yang ada di Pecinan Semarang, hal ini terlihat dalam kehidupan mereka yang seringkali masih terlibat dalam ritualritual seperti sembahyang arwah, ciswak maupun fengshui. Hal ini dilakukan secara sadar karena rasa hormat terhadap leluhur, takut akan halhal buruk yang menimpa apabila mereka tidak melakukannya, tetapi ada juga yang melakukannya karena tidak menyadari bahwa hal-hal tersebut 45 Kalis Stevanus. AuMengimplementasikan Pelayanan Yesus Dalam Konteks Misi Masa Kini Menurut Injil Sinoptik,Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika 1, no. (December 29, 2. : 284Ae98, https://doi. org/10. 34081/fidei. 46 Kalis Stevanus. AuKarya Kristus Sebagai Dasar Penginjilan Di Dunia NonKristen,Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika 3, no. : 1Ae19. Copyright . 2024 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 110 | STRATEGI MISI BERDASARKAN KOLOSE 2:6-10 bertentangan dengan Firman Tuhan, khususnya ayat-ayat yang terdapat di dalam Kitab Kolose 2:6-10. Untuk mengatasi hal ini maka hamba Tuhan yang melayani jemaat etnis Tionghoa harus lebih menekankan bahwa Yesus saja cukup sehingga mereka tidak perlu mengkhawatirkan kehidupan Strategi yang dapat dilakukan untuk menyampaikan pesan Injil kepada etnis Tionghoa yang masih memelihara tradisi leluhur yang terindikasi sinkretisme dengan pendekatan pertama adalah membangun dialogis yang akrab dan kekeluargaan, kedua adalah melakukan inkulturasi tanpa sinkretisme, dan ketiga adalah membangun hubungan personal dengan kasih yang tulus. DAFTAR PUSTAKA