Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS VII. 2 DI SMPN 1 PRAYA POKOK BAHASAN KALOR DENGAN MENERAPKAN PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC )BERBASIS INQUIRY TAHUN PELAJARAN 2017/2018 Anik Susiani Guru SMP Negeri 1 Praya Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana meningkatnya aktivitas dan hasil belajar IPA siswa SMPN 1 Praya. Jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan di SMPN 1 Praya dengan jumlah siswa 32 orang yang terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar observasi aktivitas siswa, dan data tes hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition ( CIRC ) Berbasis Inquiry dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan rata-rata hasil belajar siswa dari Siklus I ke Siklus II, di mana rata-rata hasil ulangan di akhir Siklus I adalah 69,7 sementara rata-rata hasil ulangan di akhir Siklus II adalah 76,3. Persentase skor rata-rata aktivitas siswa pada Siklus I adalah 9,83 dan pada Siklus II mencapai 14. Kata Kunci : CIRC. Inquiry. Aktivitas Belajar, dan Hasil Belajar. Abstrac. This study aims to determine the extent of increased activity and learning outcomes of science students of junior high school classes. This type of research is classroom action research. The research was conducted at SMPN 1 Praya with 32 students consisting of 16 male students and 16 female students. This study uses a quantitative approach. Analysis of the data used in this study was an observation sheet of student activities, and test data on student learning outcomes. The results showed that the application of Inquiry-based Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) learning models could improve student learning activities and outcomes. This is evidenced by the increase in the average student learning outcomes from Cycle I to Cycle II, where the average test results at the end of Cycle I is 69,7 while the average results of tests at the end of Cycle II are 76,3 The percentage of the average score of group activity in Cycle I was 9,83 and in Cycle II it reached 14. Keywords: CIRC. Inquiry. Learning Activities, and Learning Outcomes. PENDAHULUAN Latar Belakang Pembelajaran hubungan antara beberapa komponen yaitu siswa, guru, dan bahan ajar yang berlangsung dalam suatu lingkungan pembelajaran. Sehingga terjadi interaksi yang mengakibatkan siswa mendapatkan pengetahuan yang belum pernah diketahui atau pengetahuan dasar siswa yang berkembang. Tujuan pembelajaran adalah hasil yang dapat dicapai siswa dalam keterampilan, serta pemahaman konsep yang semakin mendalam dan bermanfaat. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Pembelajaran IPA adalah pembelajaran yang mengajarkan mengenai kumpulan teori, penerapannya yang berlandaskan teori, dan berkembang melalui metode ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka, jujur dan sebagainya. Mata pelajaran IPA di SMP pada masa sekarang menggunakan sistem keterpaduan, yaitu memadukan antara 3 disiplin ilmu fisika, kimia, dan biologi. Mata pelajaran IPA berkaitan langsung dengan diri sendiri dan alam sekitar secara ilmiah. Pendekatan yang diterapkan dalam menyajikan harus memadukan antara pengalaman proses Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index sains dan pemahaman produk teknologi dalam bentuk pengalaman yang berdampak pada sikap siswa dalam mempelajari IPA. Proses Pendidikan Dasar dan Menengah yang menyebutkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta Namun, tidak semua siswa mampu mencari pengetahuannya secara mandiri dan lebih banyak bergantung pada guru dalam menerima pengetahuan yang menyebabkan guru sulit untuk menerapkan pembelajaran IPA Berdasarkan hal tersebut pembelajaran IPA di SMP nampak permasalahan yang harus diantisipasi, yaitu: kurangnya motivasi belajar siswa yang disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Selain dari dari factor tersebut, pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas terlalu monoton terhadap semua materi pelajaran IPA, dan cenderung pembelajaran berpusat pada guru sehingga membuat siswa menjadi cepat bosan dan prestasi belajar siswa menjadi menurun. Karena tidak semua materi pelajaran yang diajarkan tidak selamanya menggunakan metode yang sama dalam penyampaiannya. Hal ini terlihat dari ketuntasan belajar siswa yang belum memenuhi standar ketuntasan belajar yang sudah ditetapkan. Jika situasi pembelajaran tersebut dibiarkan dan tidak segera diatasi oleh guru maka akan berdampak negatif terhadap prestasi belajar IPA secara keseluruhan. Salah satu upaya guru untuk meningkatkan kembali aktivitas dan prestasi belajar IPA siswa adalah pembelajaran yang disesuaikan dengan komponen pembelajaran lainnya. Salah satu metode yang dapat guru gunakan adalah pembelajaran cooperative integrated reading and composition (CIRC) berbasis inquiry. Kesungguhan dalam belajar dengan sendirinya akan memacu siswa untuk dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Jika Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 aktivitas dapat diciptakan dalam pembelajaran IPA, maka suasana saat pembelajaran akan lebih dinamis, tidak membosankan dan benarbenar menjadi pusat aktivitas belajar yang Aktivitas yang tercipta akan mendorong siswa untuk berpikir dan berusaha untuk mendapatkan prestasi belajar IPA yang Berdasarkan uraian di atas, dalam rangka untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa maka peneliti mencoba untuk melakukan penelitian dengan judul : Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas VII. 2 Di SMPN 1 Praya Pokok Bahasan Kalor Dengan Menerapkan Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) Berbasis Inquiry Tahun Pelajaran 2017/2018. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa melalui pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) Berbasis Inquiry pada kelas VII. 2 SMPN 1 Praya tahun pelajaran 2017/2018. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengetahui meningkatnya aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas VII. 2 di SMP Negeri 1 Praya pada pokok Cooperative Integrated Reading Composition (CIRC) Berbasis Inquiry. KAJIAN PUSTAKA Hakikat Belajar Pengertian belajar Belajar bukan saja mengingat akan tetapi mengalami (Hamalik,2001:. Belajar adalah Memodifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau Menurut Slameto dalam Djamarah . Aubelajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index lingkungannyaAy. Oleh karena itu proses belajar mengajar adalah suatu usaha terencana oleh guru untuk merubah tingkah laku siswa sehingga membantu memecahkan masalahmasalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Hakikat IPA IPA adalah salah satu ilmu yang sangat penting dalam dan untuk hidup kita. Banyak hal di sekitar kita yang selalu berhubungan dengan IPA. Salah satu contohnya adalah jual beli barang, dan masih banyak lagi. Karena ilmu IPA ini sangat penting, maka konsep IPA yang harus diajarkan kepada siswa haruslah benar dan kuat. Paling tidak hitungan dasar yang melibatkan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian harus dikuasai dengan sempurna, sebab setiap orang pasti menjumpainya dalam kehiupan sehari-hari. Oleh karena itu IPA dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang bilangan, serta merupakan salah satu cabang ilmu eksakta, yang berhubungan dengan operasi, fakta-fakta, symbol dan logika yang tersusun secara sistematik dan menggunakan nalar deduktif. Pembelajaran Kooperatif Menurut Lie . 0:41-. , ciri khas pembelajaran kooperatif ialah pengelompokan secara heterogenitas. Secara umum kelompok heterogen disukai oleh para guru yang telah menggunakan pembelajaran kooperatif karena beberapa alasan, yaitu: pertama, kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar dan mendukung. kelompok ini meningkatkan relasi dan interaksi antar ras, etnik, dan gender, dan yang terakhir, kelompok heterogen memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi, guru dapat mendapat satu asisten. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih siswa akan saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan hasil Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok setrategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama- sama siswa yang berbeda latar Jadi dalam pembelajaran kooperatif siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa atau sebagai guru. Siswa bekerja secara kolaboratif untuk mencapai tujuan bersama, keterampillan berhubungan dengan sesama manusia yang akan sangat bermanfaat di luar lingkungan sekolah (Trianto. Model Pembelajaran Cooprative Integreted Reading and Composition (CIRC) Model Cooprative Integreted Reading and Composition (CIRC) merupakan suatu model pembelajaran siswa belajar dan bekerja dalam kelompok kecil secara heterogen yang anggotanya terdiri dari 4 . Langkah-langkah kooperatif tipe CIRC adalah sebagai berikut: Guru anggotanya 4-5 orang yang secara Guru memberikan wacana/teks sesuai dengan topik pembahasan. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana /teks dan ditulis pada lembar kertas. Mempresentasikan hasil kerja kelompok Guru membuat kesimpulan bersama Penutup (Suprijono. Pembelajaran Inquiry Pembelajaran inquiry merupakan kegiatan belajar yang melibatkan siswa secara maksimal, seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu ( benda, manusia atau peristiw. secara sistimatis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri ( Mahfiroh,2009:. Proses inquiri dilakukan melalui tahapantahapan sebagai berikut: Guru merumuskan masalah . yang dituntut adalah kesadaran terhadap masalah, melihat pentingnya masalah, dan merumuskan masalah. Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Guru mengembangkan hipotesis ini adalah menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh melihat dan merumuskan hubungan yang ada secara logis, dan merumuskan hipotesis. Guru menguji jawaban tentatif. yang dituntut adalah merakit peristiwa ( terdiri atas mengidentifikasi peristiwa yang dibutuhkan , mengumpulkan data, dan mengepaluasi dat. , menyusun data ( terdiri mengklasifikasikan dat. Analisis data terdiri atas melihat hubungan, mencatat persamaan dan perbedaannya. Guru menarik kesimpulan. yang dituntut adalah mencari pola dan makna hubungan serta merumuskan Guru menerapkan kesimpulan. Model Pembelajaran CIRC Berbasis Inquiry (Penemua. Kegiatan pokok dalam CIRC berbasis Inquiry . untuk memecahkan masalah IPA meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik yang bersifat menemukan sendiri, yakni: Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca, . Guru membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita, termasuk menemukan dan menulis apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, dan memisalkan apa yang ditanyakan dengan suatu variable tertentu, . Saling membuat ikhtisar atau menemukan rencana penyelesaian soal cerita . Guru menuliskan penyelesaian soal ceritanya secara urut . enuliskan urutan komposisi penyelesaianny. , dan, . Saling merevisi dan memeriksa pekerjaan/penyelesaian . ika ada yang perlu direvis. Penerapan Model Cooperative Tipe CIRC Inquiry . menyelesaikan masalah dalam IPA. Mengadopsi model pembelajaran tipe CIRC berbasis penemuan melatih siswa untuk Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 menyelesaikan masalah, maka langkah yang ditempuh seorang guru mata pelajaran IPA adalah sabagai berikut: Guru meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan masalah melalui penerapan CIRC Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa (Learning societ. yang Setiap kelompok terdiri atas 4 atau 5 orang. Guru mempersiapkan 1 atau 2 soal berbasis penemuan dan membagikannya kepada setiap siswa dalam kelompok yang sudah Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan spesifik CIRC berbasis penemuan sebagai berikut: . Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membacakan, . Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi masalah yang akan di pecahkan, termasuk menemukan dan ditanyakan dengan suatu variable tertentu. Siswaaling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita, . Menemukan dan menuliskan penyelesaian soal ceritanya secara urut . enuliskan urutan komposisi penyelesaianny. , . Saling merevisi pekerjaan / penyelesaian ( jika ada yang perlu direvis. , dan . Menyerahkan hasil tugas kelompok kepada guru. Kemudian Setiap kelompok bekerja berdasarkan serangkaian kegiatan pola CIRC (Learnig Societ. Guru berkeliling mengawasi kerja kelompok. Guru kelompok tertentu untuk menyajikan temuannya di depan kelas. Dalam hal ini, keterlibatan siswa untuk belajar secara aktif merupakan salah satu indikator keefektifan belajar. Oleh karena itu siswa tidak hanya menerima saja materi pelajaran yang diberikan oleh guru, melainkan mengembangkan sendiri dalam kelompoknya. Hasil Belajar Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Hasil belajar merupakan hasil dari interaksi dalam proses pembelajaran antara guru dengan siswa yang diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Bukti seseorang telah belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku dari orang tersebut, minsalnya dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Tingkah laku manusia terdiri dari sejumlah aspek. Hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan pada aspek-aspek Adapun aspek-aspek itu adalah, ketrampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, budi pekerti, dan sikap (Hamalik, 2001:. Kalau seseorang telah melakukan belajar maka akan terjadi pada salah satu atau beberapa aspek tingkah laku Hasil belajar sering dipergunakan dalam arti yang sangat luas yakni untuk bermacammacam aturan terhadap apa yang telah dicapai oleh murid, misalnya ulangan harian, tugastugas pekerjaan rumah, tes lisan yang dilakukan selama pelajaran berlangsung, tes akhir semester dan sebagainya. Dalam penelitian ini, hasil belajar yang dimaksudkan adalah hasil tes tiap siklus. Aktivitas Belajar Siswa Kegiatan belajar dapat dirancang oleh guru dan dapat juga dirancang oleh siswa Belajar bukan proses dalam kehampaan, tidak pula pernah sepi dari berbagai aktivitas. AuTidak pernah terlihat orang yang belajar tanpa melibatkan aktivitas raganya, apalagi bila aktivitas belajar itu berhubungan dengan masalah belajar menulis, mencatat, memandang, membaca, mengingat, berpikir, latihan atau praktek, dan sebagainyaAy (Djamarah, 2002:. Dalam interaksi belajar mengajar, proses belajar yang dilakukan oleh siswa merupakan kunci keberhasilan belajar. Proses belajar ini dipengaruhi oleh sikap, motivasi, dan Seseorang mempunyai motivasi belajar yang tinggi, cenderung mempunyai aktivitas belajar yang tinggi pula. Motivasi sebagai daya penggerak dalam diri siswa untuk belajar lebih giat guna Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 mencapai hasil belajar yang memberikan kepuasan pribadi. Aktivitas pembelajaran merupakan salah satu indikator adanya keinginan untuk belajar. Aktivitas ini mencakup aktivitas mental, intelektual, emosional, sosial, dan motorik. Dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe CIRC, indikator atau deskriptor aktivitas siswa yang digunakan yaitu kesiapan siswa menerima materi pelajaran, antusiasme siswa saat pembagian kelompok, antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran, interaksi siswa dengan guru, aktivitas siswa dalam kegiatan kelompok, kerjasama kelompok dalam kegiatan diskusi serta kemampuan siswa dalam menyimpulkan hasil belajar. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat (Corebima, 2009:. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII. 2 SMP Negeri 1 Praya tahun pelajaran 2017/2018 yang terdiri dari 32 siswa dengan komposisi 16 siswa laki-laki dan 16 siswi Sedangkan obyek penelitian ini adalah: . aktivitas belajar, . hasil belajar terhadap pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) Berbasis Inquiry. Prosedur yang digunakan dalam penelitian ini adalah prosedur penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu: . perencanaan, . pelaksanaan tindakan, . , dan . refleksi, yang merupakan langkah berurutan dalam satu siklus yang berhubungan dengan siklus berikutnya. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII. Jenis-jenis data: Data hasil belajar, hasil observasi aktivitas siswa, hasil Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Cara pengambilan data Data hasil belajar yang diperoleh dari hasil evaluasi dengan menggunakan tes pilihan ganda yang telah disiapkan pada akhir Data tentang aktivitas siswa di dalam kelas diambil dengan menggunakan lembar observasi pada tiap siswa. Indikator perilaku siswa yang diamati pada penelitian ini adalah: Kesiapan siswa dalam menerima Antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) Berbasis Inquiry. Interaksi siswa dengan guru. Aktivitas Kerjasama kelompok dalam kegiatan Kemampuan siswa dalam menyimpulkan hasil belajar. Setiap indikator terdiri dari 3 deskriptor, dimana skor aktivitas siswa secara klasikal untuk masing-masing deskriptor, yaitu: Tabel 1 Pedoman pemberian skor aktivitas Skor Kriteria pemberian skor X O 25 % 25 % < X O 50 % 50 % < X O 75 % X > 75 % X = banyaknya siswa yang aktif melakukan aktivitas sesuai deskriptor. Data tentang aktivitas guru di dalam kelas diambil dengan menggunakan lembar observasi pada tiap siklus. Penilaian terhadap aktivitas guru dilakukan melalui observasi langsung dimana seorang guru yang sedang mengajar diobservasi langsung oleh observer dan observer bersama-sama guru dan siswa di dalam kelas. Sedangkan data mengenai aktivitas guru diambil dengan menggunakan lembar observasi berupa lembar aktivitas. Indikator untuk aktivitas guru adalah sebagai berikut: Perencanaan penyelenggaraan pembelajaran. Pemberian motivasi dan apersepsi Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 kepada siswa. Pengaturan kegiatan diskusi. Membimbing siswa dalam kegiatan Memamerkan hasil karya siswa. Membimbing siswa dalam mengerjakan latihan soal. Menutup pembelajaran. Setiap indikator terdiri dari 3 deskriptor. Dimana indikator aktivitas guru ditentukan berdasarkan kriteria penilaian sebagai berikut: Tabel 2 Pedoman konversi aktivitas guru Deskriptor yang Nampak Tingkatan Jika semua deskriptor . BS (Baik yang Nampak Sekal. Jika ada 2 deskriptor yang B (Bai. Nampak Jika ada 1 deskriptor yang C (Cuku. Nampak Jika tidak ada deskriptor K(Kuran. yang Nampak Data tentang hasil belajar siswa dianalisis secara deskriptif kualitatif. Sedangkan kualifikasi prestasi belajar siswa diperoleh dengan pedoman konversi seperti tabel 3 Tabel 3 Pedoman Konversi Skor Hasil Belajar Siswa No Skor Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA yang dicapai pada tiap siklus, digunakan rumus sebagai berikut: Menentukan rata-rata (Sujdana, 1987:. Menentukan ketuntasan individual Setiap siswa dalam proses belajar mengajar dikatakan tuntas secara individu terhadap materi pelajaran yang disajikan apabila siswa mampu memperoleh nilai Ou KKM. Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Menghitung ketuntasan klasikal Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 Dengan KK menyatakan ketuntasan klasikal. X menyatakan jumlah siswa yang memperoleh nilai Ou KKM, dan N menyatakan jumlah siswa sesuai dengan petunjuk teknik Kelas dikatakan tuntas secara klasikal terhadap materi pelajaran yang disajikan jika ketuntasan klasikal mencapai 85 Aktivitas siswa dapat diketahui melalui observasi terhadap perilaku siswa selama mengikuti pembelajaran dengan lembar observasi terdiri dari 6 indikator, tiap indikator terdiri dari 3 deskriptor. Data aktivitas siswa dianalisis dengan cara berikut: Menentukan skor untuk tiap deskriptor aktivitas siswa Menentukan rata-rata skor tiap indikator dilakukan dengan cara menjumlahkan semua skor pada tiap deskriptor dari indikator tersebut kemudian dibagi dengan banyaknya deskriptor pada indikator Data aktivitas siswa dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan skor skala 1-5, sehingga diperoleh skor maksimal ideal (SMI) adalah skor maksimalnya 3 dikalikan dengan jumlah item aktivitas siswa yang dinilai. Kualifikasi belajar siswa ditentukan berdasarkan pedoman konversi seperti pada tabel 4 berikut: Tabel 4 Pedoman Konversi Penilaian Skala 15 Aktivitas Belajar Siswa. Skor Kualifikasi Sangat Aktif MI 1,5 SDI O I Aktif MI 0,5 SDI O < MI 1,5 SDI MI - 0,5 SDI O I < Cukup Aktif MI 0,5 SDI MI - 1,5 SDI O I < Kurang Aktif MI - 0,5 SDI I < MI - 1,5 SDI Sangat Kurang Aktif (Arifin, 2009:. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Skor rata-rata aktivitas siswa ( I ) dapat dihitung dengan menggunakan rumus: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 1 Praya dengan menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan berfokus pada penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan dalam 2 siklus. Adapun rincian pelaksanaan penelitian dan hasilnya diuraikan sebagai berikut: Siklus I Perencanaan Pada tahap perencanaan ini, langkahlangkah yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut: Menentukan pengajar dan observer pada pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini. Dalam hal ini yang menjadi pengajar adalah peneliti yaitu guru bidang studi dan yang menjadi observer adalah rekan kerja. Menyusun perangkat pembelajaran yang meliputi penyusunan rencana pelaksanaan (RPP), kelompok yang memiliki kemampuan akademik heterogen dengan anggota 4 Ae 5 orang, pedoman observasi aktivitas guru, pedoman observasi aktivitas siswa, menyiapkan lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan diskusi, dan membuat soal Pelaksanaan tindakan Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) siklus I. Pada awal pembelajaran guru menyampaikan tujuan pembelajaran, dan mengabsensi kehadiran siswa. Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Adapun langkah yang ditempuh adalah: Guru melaksanakan pembelajaran dengan menjelaskan materi pelajaran. Dengan CIRC, mengamati pemahaman konsep yang telah dikuasai siswa. Siswa diberikan kesempatan bertanya terhadap materi yang belum jelas. Guru bersama-sama siswa membentuk kelompok yang beranggotakan 4-5 orang. Ketua kelompok dipilih sesuai kesepakatan dari masing-masing kelompok. Guru membagikan siswa LKS kemudian siswa diminta mengerjakan LKS secara bersama-sama dengan batas waktu yang sudah ditentukan. Setelah berdiskusi dengan teman kelompok, siswa diminta untuk membahas hasil kerjanya dipimpin oleh ketua. Masing-masing kelompok secara bergiliran mengerjakan lembar kerja di papan tulis, siswa yang lain memperhatikan dan memberi tanggapan. Setelah diskusi berakhir, guru memberikan soal latihan yang dijawab bersama dan beberapa pertanyaan untuk mengingatkan materi yang sudah dibahas. Setelah itu guru bersama-sama dengan siswa menyimpulkan apa yang dipelajari pada pertemuan ini. Hasil observasi Observasi aktivitas guru Hasil perhitungan observasi aktivitas guru dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5 Hasil Perhitungan Aktivitas Guru Siklus I Pertemuan Skor aktivitas Katagori 1,86 Baik 2,00 Baik Dari hasil observasi terhadap kemampuan guru mengelola kelas dan kelompok diperoleh temuan sebagai berikut. Guru tidak memastikan kelengkapan alat belajar siswa, sehingga ketika diskusi tengah berlangsung, ada beberapa orang siswa yang meminta izin untuk mengambil kelengkapan belajar yang mereka lupakan. Dalam menyampaikan materi, guru belum melibatkan siswa secara aktif. Dalam menyampaikan materi, guru terlalu cepat sehingga beberapa siswa kurang Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 memahami materi yang disampaikan oleh . Guru belum dapat mengatur waktu untuk masing-masing item kegiatan yang harus dilakukan siswa sebagaimana yang telah disusun dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Waktu dihabiskan lebih banyak dari yang telah direncanakan dalam RPP. Observasi aktivitas siswa Data mengenai hasil observasi aktivitas siswa untuk siklus I dapat dilihat pada lampiran sekaligus dengan analisisnya. Ringkasan hasil observasi aktivitas siswa dapat dilihat pada Tabel 6. berikut ini: Tabel 6 Ringkasan Hasil Aktivitas Siswa Siklus I Pertemuan Skor aktivitas Katagori 8,99 Cukup 10,67 Aktif Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa di atas, selama proses pembelajaran dengan tipe Cooprative Integreted Reading and Composition (CIRC) berbasis Inquiry secara umum dapat dikatakan sudah terlaksana dengan baik. Namun ada beberapa hal yang perlu diperbaiki pada siklus berikutnya yaitu: Ada siswa yang belum memahami penjelasan guru mengenai materi pelajaran yang disampaikan. Sebagian siswa belum bisa memanfaatkan kesempatan untuk berdiskusi dengan teman . Siswa masih terlihat takut untuk bertanya. Pembagian tugas untuk masing-masing siswa dalam kelompok masih belum jelas sehingga tugas-tugas dalam kelompok dikerjakan oleh satu-dua orang saja . Sebagian siswa belum bisa menyimpulkan materi yang mereka diskusikan. Hanya beberapa siswa yang mengecek jawabannya atau mencatat jawaban yang benar dari soal latihan yang diberikan. Hasil evaluasi Evaluasi belajar siswa diadakan pada akhir pertemuan dengan cara memberikan tes berbentuk pilihan ganda sebanyak 10 soal Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index yang dikerjakan dalam waktu dua jam Ringkasan hasil evaluasi siswa dapat dilihat pada tabel 7. Tabel 7. Ringkasan Hasil Evaluasi Siklus I Jumlah mengikuti tes Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang tidak Nilai tertinggi Nilai terendah Rata-rata nilai hasil belajar Persentase ketuntasan Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dari 32 siswa yang mengikuti evaluasi, terdapat 25 siswa yang tuntas dan 7 siswa tidak tuntas, sehingga ketuntasan belajar siswa pada siklus I ini mencapai 78% dengan nilai rata-rata 69,7. Refleksi Dilihat dari hasil yang diperoleh dari siklus I, ternyata belum mencapai hasil yang Ketuntasan klasikal hanya mencapai 78% sedangkan ketuntasan yang ditetapkan adalah 85%. Hasil observasi juga menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Untuk penyempurnaan dan perbaikan terhadap kekurangan-kekurangan yang muncul pada siklus I. Adapun tindakan-tindakan perbaikan yang akan ditempuh adalah: Guru harus lebih memberikan kesempatan kepada siswa dalam mengemukakan pendapat atau jawaban tanpa harus terbebani apakah pendapat atau jawaban tersebut benar atau salah . Guru meminta tiap kelompok untuk mendiskusikan hasil berpasangan dengan temannya dan melatih siswa untuk dapat menyimpulkan sendiri materi yang telah di . Sebelum pembelajaran selesai guru meminta siswa untuk mencatat jawaban benar yang telah didiskusikan bersama. Guru lebih mengatur alokasi waktu dalam setiap kegiatan selama pembelajaran . Secara garis besar, pelaksanaan siklus I berlangsung cukup baik, walaupun belum Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 mencapai ketuntasan klasikal. Untuk itu kegiatan pada siklus I perlu diulang agar kemampuan siswa mengerjakan soal dapat Siklus II Pelaksanaan siklus II ini pada dasarnya sama urutannya dengan pelaksanaan pada siklus I. Namun pada siklus II ini merupakan tahap penyempurnaan dari tahap siklus I. Tahap pelaksanaan penelitian siklus II sama dengan siklus I yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Perencanaan Perencanaan siklus II tidak jauh beda dengan pelaksanaan siklus I. Pada tahap perencanaan ini juga dilakukan persiapanpersiapan sebagai berikut. Meyiapkan pembelajaran yang meliputi penyusunan kelompok yang memiliki kemampuan akademik heterogen dengan anggota 4 Ae 5 orang, pedoman observasi aktivitas guru, pedoman observasi aktivitas siswa, menyiapkan lebar kerja siswa (LKS) sebabagai bahan diskusi, dan membuat soal evaluasi siklus II lengkap dengan pedoman . Memeriksa kembali prasarana yang diperlukan siswa dalam menyelesaikan LKS dan soal evaluasi. Prasarana yang dimaksud antara lain penggaris, kertas buram, pensil dan lain sebagainya. Pelaksanaan tindakan Pelaksanaan tindakan pada siklus ini hampir sama dengan pelaksanaan tindakan pada siklus sebelumnya. Guru melaksanakan pelaksanaan pembelajaran (RPP) yaitu dengan membagikan LKS kepada setiap siswa. Setelah itu guru mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok yang terbentuk pada siklus I dan siswa belajar dengan langkahlangkah yang ada pada model pembelajaran Cooprative Integreted Reading Composition (CIRC) berbasis Inquiry. Selama memantau kerja tiap-tiap kelompok dan membimbing siswa yang mengalami kesulitan. Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Setelah diskusi selesai guru bersama-sama siswa menyimpulkan materi yang telah didiskusikan dan memperbaiki hasil presentasi siswa yang belum sesuai dengan konsep IPA yang benar. Hasil observasi Aktivitas guru Data yang diperoleh dari observasi aktivitas guru dapat dilihat pada tabel 8: Tabel 8. Hasil Perhitungan Aktivitas Guru Siklus II Secara umum, guru sudah berusaha untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan Rencan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pengaturan waktu dilakukan dengan baik, melakukan pemantuan dan bimbingan menyampaikan kesimpulan materi dan memperbaiki hasil presentasi kelompok yang tidak sesuai dengan konsep yang benar. Aktivitas sisiwa Data mengenai hasil observasi aktivitas siswa untuk siklus II dapat dilihat pada lampiran dan sekaligus dengan analisis. Ringkasan hasil observasi siswa dapat dilihat pada tabel 9 berikut: Tabel 9. Ringkasan hasil aktivitas siswa siklus Skor aktivitas Pertemuan Katagori 13,34 Aktif 14,66 Sangat aktif Pada tabel di atas menunjukkan bahwa kriteria keaktifan siswa sudah tercapai. Ada peningkatan skor rata-rata aktivitas siswa dari siklus I. Dari hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II didapatkan bahwa siswa antusias dengan model pembelajaran yang diterapkan karena model pembelajaran ini melibatkan semua siswa. Siswa mempuyai tugas masingmasing dalam kelompoknya dan siswa merasa tertantang untuk mengeluarkan pendapatnya ketika berdiskusi. Hasil evaluasi Evaluasi belajar siswa diadakan pada akhir pertemuan dengan cara memberikan tes Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 berbentuk pilihan ganda sebanyak 10 soal yang dikerjakan dalam waktu dua jam Hasil evaluasi siswa selengkapnya dapat dilihat pada tabel 10. Tabel 10. Ringkasan hasil evaluasi siklus II Jumlah siswa yang mengikuti tes Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang tidak Nilai tertinggi Nilai terendah Rata-rata nilai Prosentase ketuntasan Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari 32 siswa yang mengikuti evaluasi, terdapat 29 siswa yang tuntas dan 3 siswa tidak tuntas, sehingga ketuntasan belajar siswa pada siklus II ini mencapai 91% dengan nilai rata-rata 76,3 Mengenai hasil evaluasi pada siklus II dan analisis dari hasil evaluasi tabel diatas dapat dilihat pada lampiran. Refleksi Berdasarkan data yang diperoleh dari tes evaluasi dan observasi yang dilakukan, terjadi Ketuntasan klasikal sudah memenuhi standar yang ditetapkan yaitu sebesar 95%. Aktivitas siswa termasuk dalam kategori aktif dan guru sudah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pelakasanaan pembelajaran yang disepakati. Pembahasan Dengan Cooprative Integreted Reading and Composition (CIRC) Inquiry diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam belajar IPA. Model pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk berpikir lebih kreatif, dan belajar bekerja sama, dengan teman sebangku atau teman kelompoknya. Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja dengan orang Menurut Lie . , bahwa keunggulan dari teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa, yaitu memberi kesempatan delapan kali lebih banyak kepada siswa untuk Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Pembelajaran Cooprative Integreted Reading and Composition (CIRC) berbasis Inquiry dapat mengembangkan kemampuan untuk memberikan pendapat atau gagasan dan dapat mengambil kesimpulan dari ide-ide yang dikemukakan oleh orang lain. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan adanya penerapan model pembelajaran Cooprative Integreted Reading and Composition (CIRC) berbasis Inquiry memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan atau idenya. Disamping itu, dalam interaksi di dalam kelas, siswa dapat menerima segala keterbatasan dan perbedaan yang ada dalam pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan memberi ransangan untuk berpikir yang bermanfaat bagi proses pendidikan jangka Kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun. Kegiatan pembelajaran diawali dengan Pada pendahuluan, guru mengawali pembelajaran dengan memeberikan apersepsi mengajukan pertanyaan kepada siswa tentang materi yang telah dipelajari yang berkaitan menyampaikan tujuan pembelajaran dan menginformasikan metode pembelajaran yang akan digunakan agar siswa mengetahui langkah yang akan dilakukan ketika proses pembelajaran berlangsung. Respon siswa setelah guru melakukan Setelah diinformasikan akan diterapkannya model pembelajaran Cooprative Integreted Reading and Composition (CIRC) berbasis Inquiry, siswa sangat antusias dan lebih semangat mendapatkan pengalaman baru tentang belajar secara kooperatif. Setelah melakasanakan kegiatan awal, selanjutnya guru melakukan kegiatan inti. Kegiatan inti dimulai dengan menjelaskan materi secara singkat oleh guru dan Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 memberikan kesempatan bertanya kepada siswa terhadap materi yang belum dipahami. Siswa mendengarkan semua penjelasan dari Sebelum masuk ke dalam kelompok diskusi, guru membagikan LKS kapada masing-masing kelompok kemudian siswa diminta bekerja sama dengan teman kelompoknya selama waktu yang telah Setelah berdiskusi dengan teman kelompoknya yang terdiri dari 4-5 siswa tiap kelompok dan membahas hasil kerjanya yang dipimpin oleh ketua kelompok. Masingmasing wakil dari anggota kelompok secara bergiliran mengerjakan lembar kerja di papan tulis, siswa yang lain memperhatikan dan memberi tanggapan. Langkah akhir dari pembelajaran yang dilakukan adalah guru bersama-sama dengan siswa menyimpulkan materi yang didiskusikan. Dari uraian di atas, maka pada siklus II guru harus memperbaiki cara menyampaikan materi sehingga siswa dapat mengerti terhadap materi yang disampaikan. Siswa juga diingatkan kembali tentang memanfaatkan kelompoknya dengan baik, dan semua anggota harus lebih berperan aktif dalam diskusi kelompok berdasarkan hasil diskusi kelompok yang harus dikemukakan dalam diskusi Pada siklus II tahapan-tahapan yang akan dilaksanakan tidak jauh beda dari tahapan yang ada pada siklus I yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan Sebelum memulai proses kegiatan belajar mengajar guru telah membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa, soal evaluasi, kunci jawaban dan lembar observasi untuk siswa dan guru. Tidak jauh beda pada siklus I, pada siklus II kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah yang tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang di mulai dari pendahuluan dengan memberikan Kegiatan menyampaikan materi secara singkat oleh guru dan siswa belajar sesuai dengan langkahlangkah pada model pembelajaran kooperatif Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index tipe Cooprative Integreted Reading and Composition (CIRC) berbasis Inquiry. Langkah akhir dari pembelajaran yang dilakukan adalah guru bersama-sama dengan didiskusikan, dan merefleksikannya. Dalam tahap pelaksanaan proses belajar mengajar pada siklus II ini dilaksanakan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan atau kelemahan yang ada pada siklus I yaitu: Cara mengajar guru masih terlalu cepat sehingga siswa kurang memahami materi yang disampaikan oleh guru. Hal ini ditindak lanjuti dengan guru harus memperbaiki cara menyampaikan materi sehingga siswa dapat mengerti terhadap materi yang disampaikan. Sebagian siswa belum dapat memanfaatkan kesempatan dalam berdiskusi dengan Hal ini dapat ditindak lanjuti dengan pemberian motivasi oleh guru tentang pentingnya berdiskusi dengan Sebagian siswa belum terbiasa bekerja kelompok, sehingga tugas kelompok dipercayakan pada anak yang paling pandai dalam kelompoknya, hanya agar tugas tersebut segera dapat diselesaikan tanpa kelompok yang belum memahami materi yang sedang dibahas. Hal ini ditindak lanjuti dengan cara guru mengingatkan kembali pada siswa tentang memanfaatkan kesempatan untuk berdiskusi dengan baik dan semua anggota harus lebih berperan aktif dalam diskusi kelompok berdasarkan hasil diskusi dengan temannya yang harus dikemukakan dalam diskusi kelompok. Siswa menyimpulkan materi yang dibahas. Hal ini dapat ditindak lanjuti dengan membimbing siswa dalam menyimpulkan materi yang sudah dibahas. Pada siklus II guru melakukan perbaikan kekurangan-kekurangan terdapat pada siklus I, yaitu sebagai berikut: Jika pada siklus I, cara mengajar guru masih terlalu cepat sehingga siswa kurang memahami materi yang disampaikan oleh guru, pada siklus II, dalam menyampaikan Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 materi sudah diperbaiki, dan sudah banyak melibatkan siswa. Jika pada siklus I, sebagian siswa belum dapat memanfaatkan kesempatan dalam berdiskusi dengan teman-temannya dan belum terbiasa bekerja kelompok, sehingga tugas kelompok dipercayakan pada anak yang paling pandai dalam kelompoknya, hanya agar tugas tersebut segera dapat diselesaikan tanpa mempertimbangkan setiap anggota kelompok yang belum memahami materi yang sedang dibahas. Pada siklus II, diskusi sudah kelihatan hidup karena guru sudah berhasil memotivasi siswa untuk aktif dalam diskusi baik dengan teman-teman kelompoknya. Jika pada siklus I, kemauan untuk bertanya dan merespon pertanyaan masih kurang. Pada siklus II, kemauan untuk bertanya dan maju ke depan kelas untuk menyelesaikan soal semakin meningkat walaupun hanya sebagian siswa. Hal ini pengaruh dari motivasi guru untuk membangkitkan kepercaan diri untuk bertanya dan merespon pertanyaan. Jika pada siklus I, siswa masih kesulitan dalam menyimpulkan materi yang dibahas. Pada siklus II, siswa sudah mampu dalam menyimpulkan hasil diskusi walaupun intensitasnya masih kurang. Beradasrkan analisis data pada siklus I menunjukkan bahwa aktivitas siswa tergolong cukup aktif dengan rata-rata skor aktivitas siswa sebesar 9,83. Aktivitas guru dengan ratarata skor 1,93 dengan kategori baik. Rata-rata nilai hasil belajar siswa adalah 69,7 dengan ketuntasan klsikal mencapai 78%. Pencapaian tersebut belum memenuhi standar ketuntasan minimal yang ditetapkan yaitu sebesar 85%. Pada siklus II, terdapat peningkatan aktivitas siswa yaitu pada siklus I rata-rata skor aktivitas siswa adalah 9,83 dengan kategori cukup aktif, pada siklus II terjadi peningkatan menjadi 14 dengan kategori sangat aktif. Aktivitas guru termasuk dalam kategori sangat baik dengan skor rata-rata 2,5. Nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat dari sebelumnya yaitu 76,3. Ketuntasan klasikal mencapai 91% meningkat dari ketuntasan klasikal pada siklus I yang hanya Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index mencapai 78%. Dengan demikian pada siklus II ini menunjukkan bahwa hasil belajarnya sudah mencapai ketuntasan klasikal. Hal ini menggambarkan bahwa siswa telah terbiasa dengan model pembelajaran kooperatif tipe Cooprative Integreted Reading and Composition (CIRC) berbasis Inquiry. Siswa sudah bisa memahami penjelasan materi dari guru. Siswa lebih terampil dalam menyelesaikan LKS secara individu dan Sebagian besar siswa juga telah berperan aktif dalam kelompoknya, dapat bertukar informasi dengan anggota yang lain, dapat membantu anggota lain yang kesulitan dalam memahami materi. Siswa juga telah dapat bekerjasama dan melaksanakan evaluasi dengan baik. Dari hasil penelitian di atas dapat pembelajaran kooperatif tipe (CIRC) berbasis Inquiry dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan keaktifan siswa dan hasil belajar siswa, hal tersebut didukung oleh adanya pemberian sikap kepada siswa yaitu guru berusaha untuk selalu menanamkan sikap kritis kepada siswa, sehingga terjadi komunikasi antara guru dan siswa. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan analisis data dan pembahasan dalam penelitian, maka dapat disimpulkan Penerapan model pembelajaran tipe Cooprative Integreted Reading Composition (CIRC) berbasis Inquiry dapat Antusiasme siswa dalam belajar juga meningkat sehingga pembelajaran menjadi lebih aktif, kreatif, efektif dan bermakna. Hal ini dapat dilihat dari skor aktivitas siswa pada siklusi I adalah 9,83 dengan kategori cukup aktif meningkat menjadi 14 pada siklus II dengan kategori sangat aktif. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Cooprative Integreted Reading and Composition (CIRC) berbasis Inquiry dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII. SMPN 1 Praya. Hal ini dapat dilihat dari ratarata hasil belajar siswa siklus I yaitu 69,7, ratarata nilai evaluasi hasil belajar siswa siklus II Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 sebesar 76,3. Sedangkan persentase ketuntasan klasikal pada siklus I yaitu 78%, dan meningkat pada siklus II sebesar 91%. Saran Bagi Hendaknya menjadikan pembelajaran kooperatif tipe Cooprative Integreted Reading Composition (CIRC) berbasis Inquiry menjadi sebuah inovasi belajar untuk memudahkan pembelajaran IPA yang dianggap sulit dan pelajaran IPA akan menjadi labih menarik dan mudah dimengerti. Bagi pendidik. Guru hendaknya pandaipandai dalam memilih metode dalam pembelajaran dan mensiasatinya sesuai dengan bidang yang diajarkan dan minat belajar siswa. Adanya model pembelajaran kooperatif tipe Cooprative Integreted Reading Composition (CIRC) berbasis Inquiry menjadi salah satu metode dalam pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi lebih aktif, kreatif, efektif, inovatif dan menyenangkan. DAFTAR PUSTAKA