Jurnal Mekanova : Mekanikal. Inovasi dan Teknologi Vol 8 No. Oktober 2022 P-ISSN : 2477-5029 E-ISSN : 2502-0498IJCCS Analisa OEE dan FMEA Untuk Meningkatkan Performa Mesin Sliter di PT PAS Murwan Widyantoro 1. Martono 2. Paduloh3 1,2,3 Teknik Industri. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Bekasi. Indonesia e-mail: 1 Murwan@dsn. id , 2 martono17@mhs. Paduloh@dsn. Abstrak PT. PAS adalah sebuah perusahaan yang memproduksi mie dengan brand mie sedaap. Berdasarkan data produksi tahun sebelum didapatkan kegiatan produk mie yang dilakukan PT. PAS pada tiap bulannya belum mencapai target akibat besarnya waktu kerusakan yang terjadi pada mesin slitter mie. Sehingga perlu dilakukannya penelitian untuk mengetahui performa dari mesin slitter mie dengan menggunakan metode OEE dan FMEA. Berdasarkan hasil perhitungan nilai OEE dari mesin slitter adalah sebesar 76% sehingga dapat disimpulka bahwa performa mesin slitter belum ideal. Berdasarkan analisa dengan menggunakan FMEA, yang menjadi penyebab kerugian akibat defect & rework losses adalah slitter nyacing, dan kerugian akibat iddling and minor stopages losses adalah slitter nembak. Hasil dari implementasi diapatkan peningkatan yang signifikan dari nilai OEE setelah dilakukannya perbaikan pada mesin slitter dengan rata-rata nilai OEE sebesar 91%, sehingga hasil dari perbaikan yang dilakukan dengan membuat modifikasi pelumasan otomatis dapat meningkatkan performa dari mesin slitter hingga ke performa yang ideal. Kata kunciAi FMEA. OEE. Losses. Slitter Abstract PT. PAS is a company that produces noodles with the brand mie sedap. Based on the production data from the previous year, the noodle product activities carried out by PT. PAS, each month has not reached the target due to the time the damage occurred to the noodle slitter machine. it is necessary to research to determine the performance of the noodle slitter machine using the OEE and FMEA methods. Based on the calculation results of the OEE value of the slitter machine is 76%, it can be concluded that the performance of the slitter machine is not ideal. Based on the analysis using FMEA, the cause of losses due to defect & rework losses is slitter syncing, and losses due to idling and minor stoppages are slitter shooting. The result of the implementation is that there is a significant increase in the OEE value after repairs to the slitter machine with an average OEE value of 91% so that the results of the improvements made by making automatic lubrication modifications can improve the performance of the slitter machine to ideal performance. KeywordsAi FMEA. OEE. Losses. Slitter Jurnal Mekanova : Mekanikal. Inovasi dan Teknologi Vol 8 No. Oktober 2022 P-ISSN :: 2502-0498IJCCS E-ISSN PENDAHULUAN erusahaan Prakarsa Alam Segar merupaka sebuah perusahaan yang memproduksi minuman segar yang dipasarkan keseluruh Indonesia. pada tiap bulannya belum mencapai target yang telah ditentukan. Dimana perusahaan menetapkan target sebanyak 400. 000 pcs untuk tiap bulannya dengan toleransi NG mesin 3%. Sedangkan hasil produksi yang dihasilkan di tahun 2021 pada tiap bulannya masih belum dapat mencapai target. Tidak tercapainya target banyak disebabkan kerusakan mesin dan jadwat perawatan mesin yang belum terencana dengan baik. Berdasarka kondisi satu tahun sebelumnya, kegiatan produk mie yang dilakukan PT. PAS pada tiap bulannya belum mencapai target akibat besarnya waktu kerusakan yang terjadi pada mesin slitter mie. Melihat permasalahan yang terjadi, penelitian mengenai pengukuran permformance pada mesin harus dilakukan. Peneltian terdahulu mengenai bagaimana meningkatkan Performa kinerja mesin sudah banyak dilakukan sebelumnya,. melakukan penelitian mengani bagaimana meningkatkan performa dengan menganalisis target dan capaian menggunakan objective matriks,. melakukan peningkatkan performa dengan menganalisis performa mesin press menggunakan OEE dan FMEA,. menganalisis penerapan TPM dengan OEE,. menggunakan OEE untuk minimalkan resiko six big losses,. melakukan Analisis Penerapan Total Productive Maintenance (TPM) Menggunakan Overall Equipment Efectiveness (OEE) Dan Six Big Losses Pada Mesin Cold Leveller. Penerapan Metode Overall Equipment Effectiveness (Oe. Dan Fault Tree Analysis (Ft. Untuk Mengukur Efektifitas Mesin Reng. Berdasarkan kondisi diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan analisa pengukuran performance mesin SLT 18 dengan menggunakan metode overall equipment effectiveness (OEE) kemudian setelah mengetahuin nilai dari OEE pada mesin SLT 18 akan di lakukan improvement untuk meminimalisir waktu downtime dari mesin SLT 18. METODE PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk melakukan perbaikan terhadap mesin slitter dengan mengukur performa mesin dengan metode overall effectiveness equipment (OEE) dan kemudian melakukan analisa perbaikan dengan metode failure mode effect analysis (FMEA). OEE merupakan ukuran menyeluruh yang mengindentifikasikan tingkat produktifitas mesin / peralatan dan kinerjanya secara teori. OEE juga merupakan alat ukur untuk mengevaluasi dan memperbaiki cara yang tepat untuk jaminan peningkatan produktivitas penggunaan mesin / peralatan . OEE adalah hasil yang dapat dinyatakan sebagai rasio output aktual dari peralatan dibagi dengan output maksimum peralatan di bawah kondisi performa terbaik. OEE didasarkan pada pengukuran tiga rasio utama, yaitu: availability (A), performance efficiency (PE), dan rate of quality product (ROQP). 1 Availability Ratio Availability merupakan rasio operation time terdapat waktu loading time . Avalibility ratio dapat dihitung dengan menggunakan rumus: Avalibility ratio = . 2 Performance Efficiency Performance effeciency ratio merupakan suatu rasio yang menggambarkan kemampuan dari peralatan dalam menghasilkan barang. Performance effeciency ratio dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Performance effeciency = 3 Rate Of Quality Product Jurnal Mekanova : Mekanikal. Inovasi dan Teknologi Vol 8 No. Oktober 2022 P-ISSN :: 2502-0498IJCCS E-ISSN Rate of quality product adalah rasio jumlah produk yang lebih baik terhadap jumlah total produk yang diproses. Rate of quality product dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Rate of quality product = . 2 Six Big Losses Mengeleminasi beberapa kerugian dalam perusahaan yang terkait dengan peralatan, yang biasa disebut six big losses. Adapun six big losses adalah sebagai berikut yang digolongkan menjadi 3 macam . Donwtime Losses : Breakdown losses atau equipment failure. Set-Up dan adjustmen losses Speed Losess : Idling dan minor stoppages losses. Redused speed losses Defect Losess : Process defect. Reduce yield Loses atau StartAeup losses. 4 Fisbone Fishbone adalah strategi yang dibuat oleh Kaoru Ishikawa untuk membedakan keadaan dan hasil logis dari suatu masalah. Garis tulang ikan sangat berharga dalam peningkatan kualitas karena dapat menggambarkan pendorong utama berbagai masalah dalam pengaturan yang . Diagram fishbone adalah sebuah grafik yang menggambarkan hubungan masalah atau akibat dengan faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya masalah. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk melakukan perbaikan terhadap mesin slitter dengan mengukur performa mesin dengan metode overall effectiveness equipment (OEE) dan kemudian melakukan analisa perbaikan dengan metode failure mode effect analysis (FMEA) dan kemudian melakukan modifikasi terhadap masalah kerusakan yang sering terjadi. 1 Availability Ratio Dalam mengukur nilai performa OEE, parameter yang pertama diukur adalah rasio dari ketersediaan waktu operasi. hasil perhitungan nilai availability ratio pada tiap bulannya dapat dilihat pada gambar 1. Gambar 1 Grafik Availability Ratio hasil yang didapatkan dari perhitungan nilai availability ratio berdasarkan rata-rata adalah 94%. Dimana berdasarkan dari grafik rasio ketersediaan waktu sudah melebihi standar. 2 Performa Efficiency Jurnal Mekanova : Mekanikal. Inovasi dan Teknologi Vol 8 No. Oktober 2022 P-ISSN :: 2502-0498IJCCS E-ISSN Setelah menghitung nilai availability ratio, parameter berikutnya yang akan dihitung dalam pengukuran performa menggunakan metode OEE adalah menghitung nilai performa mesin dengan mengukur performa efficiency (PE). hasil perhitungan nilai performa efficiency pada tiap bulannya dapat dilihat pada gambar 2. Gambar 2 Grafik Rasio Effisiensi performa hasil yang didapatkan dari perhitungan nilai performa efficiency berdasarkan rata-rata adalah 97%, dimana berdasarkan dari grafik rasio effisiensi performa mesin sudah melebihi 3 Rate Of Quality Product Rate of quality product adalah mengukur kualitas output yang dihasilkan oleh mesin hasil perhitungan nilai rate of quality product pada tiap bulannya dapat dilihat pada Gambar 3 Grafik rasio kualitas produk Hasil yang didapatkan dari perhitungan nilai rate of quality product berdasarkan ratarata adalah 84%. Dimana berdasarkan dari grafik rasio kualitas produk yang dihasilkan belum mencapai standar. Setelah mendapatkan 3 parameter yang diutuhkan, tahapan selanjutnya barulah mengukur performa mesin dengan menghitung nilai OEE. 4 Overall Equipment Effectiveness Tahapan terakhir dari metode ini adalah dengan mengukur performa mesin dengan menghitung nilai OEE, dimana berdasarkan dari suatu penghargaan yang disampaikan oleh japan institute of plant maintenance, maka kondisi ideal dari OEE adalah sebagai berikut : Availability ratio > 90% Performa efficiency > 95% Rate of quality product > 99% Dari hasil perhitungan berdasarkan benchmark dari 3 parameter dalam perhitungan OEE, maka secara idealnya nilai OEE minimal adalah sebesar 85%. Jurnal Mekanova : Mekanikal. Inovasi dan Teknologi Vol 8 No. Oktober 2022 P-ISSN :: 2502-0498IJCCS E-ISSN Berdasarkan dari hasil perhitungan nilai OEE dapat disimpulkan bahwa dari rata-rata nilai OEE maka pada tahun 2021, performa mesin slitter belum dikatakan berjalan secara ideal, dengan nilai OEE sebesar 76% sedangkan nilai ideal dari OEE adalah sebesar 85%. Sehingga perlunya dilakukan improvement agar pada periode berikutnya mesin slitter dapat berjalan secara ideal. 5 Six Big Losses Setelah mendapatkan nilai OEE dari mesin slitter, tahapan selanjutnya adalah mengukur nilai losses berdasarkan six big losses dimana pada tahapan ini yang akan diukur adalah kerugian akibat kerusakan alat, kerugian persiapan dan penyesuaian, kerugian kerusakan. Pada tahapan ini melakukan analisa dari hasil perhitungan yang sudah dilakukan sehingga kemudian dapat di temukan persentase kerugian yang paling tinggi sehingga kerugian tersebut kemudian akan diprioritaskan untuk dilakukan perbaikan. Tabel 1 Hasil perhitunhgan six big losses Six Big Losses Waktu Jenis Losses Persentase (Meni. Equipment Failure Losses 21,112 Setup & Adjustment Loses 5,782 Reduced Speed Losses 9,328 Iddling and Minor Stopages Losses 29,190 Defect Losses 57,119 Rework Losses 57,119 Total 179,649 Pada tabel 2 menunjukan hasi perhitungan keseluruhan dari six big losses, selanjutnya dilakukan analisa dengan membuat diagram parreto, untuk kemudian menantukan prioritas yang akan dilakukan perbaikan. Gambar 4 Diagram parreto pada jenis losses mesin slitter Pada gambar 4 menunjukan diagram parreto dari six big losses pada mesin slitter, dimana berdasarkan hasil analisa dengan parreto chart menunjukan bahwa 80% permasalahan akan terlebih dahulu dilakukan perbaikan, sehingga dapat disimpulkan bahwa pada tahapan selanjutnya, yang akan diprioritaskan untuk dilakukan perbaikan adalah kerugian akibat dari iddling and minor stopages losses, defect losses, dan rework losses dengan total persentase sebesar 80%. 5 Failure Mode And Effect Analysis Tahapan selanjutnya adalah dengan melakukan akar masalah penyebab dari kerugian dengan menggunakan metode failure mode and effect analysis (FMEA). Dimana dalam penentuan akan penyebab masalah dari kerugian akibat iddling and minor stopages losses, defect losses, dan rework losses ditentukan berdasarkan nilai RPN tertinggi. Data mode kegagalan dapat dilihat pada tabel dibawah. Failure Tabel 2 Failure mode pada mesin slitter Failure Mode Slitter nyacing Failure Effect Hasil untaian putusputus . idak standa. Hasil untaian mie jelek Slitter kasar Hasil untaian mie kasar Pisau defider kendor Mesin slitter berhenti Slitter macet Mesin slitter berhenti Slitter nyerbuk Defect & Rework Losses Iddling and minor stopages losses Slitter nembak Mesin slitter berhenti Pada tabel 3 menunjukan tiap mode kegagalan yang menyebabkan kerugian dan menurunkan performa mesin slitter yaitu iddling and minor stopages losses, defect losses, dan rework losses masing-masing terdapat 3 mode kegagalan. Selanjutnya barulah menentukan nilai severity, occurance, dan detection melakukan brainstroming terhahadap 5 responden yang menjadi tim dalam melakukan improvement pada mesin slitter. Severity Severity adalah tingkat keparahan yang terjadi, dimana kriteria penilaian dari severity adalah sebagai berikut : - 1-2 = Tidak ada akibat - 3-4 = Terjadi akibat tetapi sedikit berpengaruh pada performa mesin - 5-6 = Terjadi dan berpengaruh pada performa mesin - 7-8 = Terjadi dan sangat berpengaruh pada performa mesin - 9-10 = Terjadi dan menyebabkan performa mesin Hasil braintroming dari severity sebagai berikut : Tabel 3 Penilaian severity Brainstorming Severity No Failure Failure Mode Failure Effect 1 2 3 4 5 S Hasil untaian putusSlitter nyerbuk 4 4 8 6 8 6 idak standa. Defect Rework Losses Slitter nyacing Hasil untaian mie jelek 8 8 9 9 6 8 Slitter kasar Hasil untaian mie kasar 6 6 4 9 3 6 Pisau Mesin slitter berhenti 6 6 6 6 6 6 Iddling and kendor minor stopages Slitter macet Mesin slitter berhenti 6 6 8 4 6 6 Slitter nembak Mesin slitter berhenti 8 8 7 8 9 8 Occurance Occurance adalah tingkat keseringan dari mode kegagalan yang menyebabkan penurunan performa mesin slitter, dimana kriteria penilaian dari occurance adalah sebagai - 1-2 = Tidak pernah terjadi - 3-4 = Jarang terjadi - 5-6 = Sering terjadi - 7-8 = Sangat sering terjadi - 9-10 = Selalu terjadi Hasil braintroming dari occurance sebagai berikut : Tabel 4 Penilaian occurance Brainstorming Occurance Failure Failure Mode Failure Effect 1 2 3 4 5 O Defect Hasil untaian putus-putus Slitter nyerbuk 4 4 4 4 4 4 Rework Losses . idak standa. 208 Slitter nyacing Slitter kasar Iddling and Pisau defider kendor minor stopages Slitter macet Slitter nembak Hasil untaian mie jelek Hasil untaian mie kasar Mesin slitter berhenti Mesin slitter berhenti Mesin slitter berhenti Detection Detection adalah tingkat yang menunjukan kemudahan dalam mendeteksi suatu mode kegagalan dari penuruna performa mesin slitter yang terjadi, dimana kriteria penilaian dari detection adalah sebagai - 1-2 = Sangat jelas - 3-4 = Jelas - 5-6 = Memerlukan inspeksi - 7-8 = Sangat sulit dideteksi - 9-10 = Tidak dapat terdeteksi Hasil braintroming dari detection sebagai berikut : Tabel 5 Brainstorming detection Brainstorming Detection Failure Failure Mode Failure Effect Defect Rework Losses Slitter nyerbuk Slitter nyacing Slitter kasar Pisau Iddling and kendor minor stopages Slitter macet Slitter nembak Hasil untaian putus4 putus . idak standa. Hasil untaian mie jelek Hasil untaian mie kasar Mesin slitter berhenti Mesin slitter berhenti Mesin slitter berhenti Perhitungan RPN Setelah mendapatkan nilai dari severity, occurance, dan detection barulah melakukan perhitungan nilai risk priority number (RPN) dimana dimana kriteria penilaian dari risk priority number (RPN) adalah sebagai berikut : - 1-2 = Tidak penting - 3-4 = Kurang penting - 5-6 = Penting - 7-8 = Sangat penting - 9-10 = Paling penting Hasil perhitungan RRN dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 6 Hasil perhitungan RRN No Failure Failure Mode Failure Effect O D Total RPN Hasil untaian putusSlitter nyerbuk putus . idak standa. Defect & Hasil untaian mie Rework Slitter nyacing Losses Hasil untaian mie Slitter kasar Iddling and Pisau Mesin slitter berhenti 6 Slitter macet Mesin slitter berhenti Slitter nembak Mesin slitter berhenti Dari tabel 7 menunjukan hasil perhitungan RPN pada losses tertinggi dari mesin slitter, dimana berdasarkan dari nilai RPN tertinggi, mode kegagalan yang menjadi penyebab utama dari kerugian akibat defect & rework losses adalah slitter nyacing sehingga menyebabkan banyak produk mie yang defect akibat hasil dari untaian mie yang jelek. Selanjutnya penyebab utama dari kerugian akibat Iddling and minor stopages losses adalah slitter nembak sehingga menyebab mesin slitter berhenti. Setelah mengetahui akar penyebab utama dari menurunnya performa mesin slitter, selanjutnya dilakukan perbaikan dengan menggunakan fishbone. 6 Fishbone Setelah mendapatkan akar penyebab masalah berdasarkan nilai RPN tertinggi, selanjutnya akar masalah tersebut akan dilakukan analisa dengan menggunakan metode fishbone, hasil analisa dengan fishbone dapat dilihat pada gambar dibawah. Gambar 5 Fishbone slitter nembak Gambar 6 fishbone slitter nembak 6 Modifikasi Improvement Mesin Setelah mendapatkan hasil analisis akar masalah dengan menggunakan fishbone, tahapan selanjutnya adalah membuat rekomendasi perbaikan dengan memodifikasi mesin. Jurnal Mekanova : Mekanikal. Inovasi dan Teknologi Vol 8 No. Oktober 2022 P-ISSN :: 2502-0498IJCCS E-ISSN Gambar 7 Mesin slitter sebelum modifikasi Pada gambar 7. Menunjukan mesin slitter sebelum di lakukan modifikasi, di mana pelumasan mesin slitter di lakukan oleh operator secara manual dengan menggunakan gayung yang berisi minyak kemudian di siramkan ke roll slitter untuk melumasi mesin slitter dengan interval waktu selama 2 jam. Gambar 8 Mesin slitter setelah modifikasi Pada gambar 4. Menunjukan mesin slitter yang sudah di lakukan modifikasi dengan menambahkan siraman secara otomatis yang bekerja dengan menggunakan timer yang di settingan dengan interval waktu pelumasan 2 jam dengan durasi pelumasan selama 20 detik secara terus menerus 7 Hasil Analisis Setelah dilakukan perbaikan dengan melakukan modifikasi penyiraman pelumasan otomatis, maka permasalah dari kerugian akibat defect & rework losses dan iddling and minor stopages losses dapat dihilangkan . Gambar 9 Grafik nilai OEE mesin slitter sebelum perbaikan Dari gambar 9 menunjukan grafik dari nilai OEE sebelum perbaikan. Dimana pad tiap bulannya, performa dari mesin slitter belum berada dalam performa yang ideal dengan rata-rata dari nilai OEEnya adalah sebesar 76%. Gambar 10 Grafik nilai OEE mesin slitter sesudah perbaikan Pada gambar 10 menunjukan grafik dari nilai OEE setelah dilakukan perbaikan, terdapat peningkatan yang signifikan dari nilai OEE setelah dilakukannya perbaikan pada mesin slitter dengan rata-rata nilai OEE sebesar 91%, sehingga hasil dari perbaikan yang dilakukan dengan membuat modifikasi pelumasan otomatis dapat meningkatkan performa dari mesin slitter hingga ke performa yang ideal. KESIMPULAN Berdasarkan hasil perhitungan, didapatkan nilai OEE dari mesin slitter sebesar 76% yang mana belum mencapai standar dari OEE yaitu sebesar 85% sehingga pada periode sebelumnya mesin slitter belum beroperasi secara ideal. Hasil dari analisa dengan menggunakan FMEA, yang menjadi penyebab kerugian akibat defect & rework losses adalah slitter nyacing, dan kerugian akibat iddling and minor stopages losses adalah slitter nembak, kemudian barulah dilakukan modifikasi dengan membuat pelumasan otomastis untuk mengatasi masalah dari slitter nyacing dan nembak. SARAN Untuk selanjutnya PT. PAS perlu melakukan pengukuran performa dari seluruh mesin yang digunakan dalam proses produksi sehingga dapat mengetahui apakah mesin yang digunakan sudah dalam keadaan yang ideal atau belum. Selain itu juga perlu memperhatikan kondisi serta pemeliharaan mesin yang digunakan dalam proses produksi sehingga bisa selalu beroperasi dalam keadaan yang ideal dan memberikan produktivitas yang prima. DAFTAR PUSTAKA