Vol. 6 No. Edukasi: Jurnal Pendidikan Dasar ISSN: 2722-5224 (Onlin. 2721-3935 (Prin. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/edukasi Konstruksi Nilai Karakter Melalui Satua AuI Siap BadengAy dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu di SD Negeri 3 Banjar Jawa Buleleng Putu Subawa 1A. I Gusti Ngurah Sudiana2. Heny Perbowosari3 1Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa. Indonesia 2Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa. Indonesia 3Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa. Indonesia Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konstruksi nilai karakter melalui satua AuI Siap BadengAy dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu (PAH) di SD Negeri 3 Banjar Jawa. Buleleng. Penelitian dilatarbelakangi oleh potensi besar folklor Bali sebagai sumber kearifan lokal yang belum dimanfaatkan secara optimal dalam pembelajaran PAH yang cenderung Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan guru Pendidikan Agama Hindu, siswa, dan tokoh adat, serta analisis dokumen satua. Analisis data mengikuti model Miles. Huberman, dan Saldaya. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, satua AuI Siap BadengAy mengandung nilai-nilai karakter yang selaras dengan ajaran Hindu, antara lain kepatuhan anak kepada orang tua, kecerdikan dan kewaspadaan, hukum karma phala, serta gotong royong. Kedua, proses konstruksi nilai terjadi melalui siklus tiga fase: . penyajian dan imersi emosional untuk membangkitkan moral feeling. eksplorasi dan negosiasi makna melalui dialog reflektif untuk membangun moral knowing. refleksi dan aplikasi diri untuk mendorong moral action. Ketiga, muatan dan penyajian satua sesuai dengan tahap perkembangan kognitif operasional konkret (Piage. dan tahap moral pra-konvensional hingga konvensional (Kohlber. siswa sekolah dasar. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa satua AuI Siap BadengAy merupakan wahana pedagogis yang strategis, kontekstual, dan transformatif. Keberhasilan integrasinya memerlukan pengembangan modul berjenjang, pelatihan guru, dan kolaborasi dengan tokoh Kata Kunci: konstruksi nilai karakter, satua I Siap Badeng, folklor Bali, pendidikan agama Hindu, sekolah dasar Abstract This study aims to examine the construction of character values through the Balinese folktale AuI Siap BadengAy in Hindu Religious Education learning at SD Negeri 3 Banjar Jawa. Buleleng. The research is motivated by the great potential of Balinese folklore as a source of local wisdom that has not been optimally utilized in Hindu Religious Education learning, which tends to be The research method used is descriptive qualitative with a case study approach. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews with Hindu Religious Education teachers, students, and traditional leaders, as well as document analysis of the Data analysis followed the Miles. Huberman, and Saldaya model. The results showed three main findings. First, the folktale AuI Siap BadengAy contains character values aligned with Hindu teachings, including children's obedience to parents, cleverness and vigilance, the law of karma phala, and mutual cooperation. Second, the process of value construction occurs Edukasi : Jurnal Pendidikan Dasar, 6 . 2025 | 214 through a cycle of three phases: . presentation and emotional immersion to evoke moral . exploration and negotiation of meaning through reflective dialogue to build moral . reflection and self-application to encourage moral action. Third, the content and presentation of the folktale correspond to the concrete operational stage of cognitive development (Piage. and the pre-conventional to conventional moral stage (Kohlber. of elementary school students. The study concludes that the folktale AuI Siap BadengAy is a strategic, contextual, and transformative pedagogical vehicle. Its successful integration requires the development of graded modules, teacher training, and collaboration with traditional leaders. Keywords: character value construction. I Siap Badeng folktale. Balinese folklore. Hindu religious education, elementary school Copyright . 2025 Putu Subawa This is an open access article under the CCAeBY-SA license A Corresponding author: Putu Subawa Email Address : putusubawa5770@gmail. Received 6 August 2025. Accepted 27 August 2025. Published 30 September 2025 DOI: https://doi. org/10. 55115/edukasi. Publisher: Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan PENDAHULUAN Pendidikan karakter di era globalisasi menghadapi tantangan kompleks, di mana nilainilai tradisional seringkali tergerus oleh arus informasi dan budaya global yang masif. UNESCO telah menegaskan pentingnya pendidikan yang membangun nilai-nilai universal seperti toleransi, keadilan, dan penghormatan terhadap keragaman. Di Indonesia, upaya penguatan karakter telah diintegrasikan dalam kurikulum, termasuk melalui mata pelajaran Pendidikan Agama. Namun implementasinya di tingkat sekolah dasar seringkali masih bersifat normatif dan kurang menyentuh dimensi afektif serta psikomotorik siswa. Secara khusus, pembelajaran Pendidikan Agama Hindu (PAH) di Sekolah Dasar masih dihadapkan pada kecenderungan pendekatan tekstual dan abstrak. Materi ajaran yang sarat dengan konsep filosofis seringkali disampaikan secara dogmatis, sehingga kurang terkait dengan kehidupan nyata siswa. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa metode ceramah dan hafalan masih mendominasi, sehingga internalisasi nilai-nilai luhur agama dalam perilaku sehari-hari siswa menjadi rendah (Dwik, 2. Hal ini mengindikasikan perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual, partisipatif, dan berbasis pengalaman budaya siswa. Di tengah tantangan tersebut, masyarakat Bali, khususnya di Kabupaten Buleleng, memiliki kekayaan budaya lisan berupa folklor yang belum tergali secara optimal sebagai sumber belajar. Folklor Bali yang mencakup satua . , legenda, mitos, dan gaguritan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media transmisi nilai-nilai moral, spiritual, dan sosial yang telah diwariskan secara turun-temurun (Dananjaya, 1. Setiap cerita rakyat menyimpan Auensiklopedia moralAy yang merefleksikan kearifan lokal dan prinsip-prinsip ajaran Hindu, seperti Tri Hita Karana. Tat Twam Asi. Satya, dan Dharma. Kabupaten Buleleng, dengan sejarahnya sebagai pusat kerajaan dan maritim, memiliki khazanah folklor yang sangat kaya. Salah satu satua yang sangat dikenal dan masih hidup di masyarakat Kelurahan Banjar Jawa adalah satua AuI Siap BadengAy. Cerita ini mengisahkan perjuangan I Siap Badeng . eekor induk aya. beserta anak-anaknya melawan ancaman I Lutung yang licik dan Men Kuwuk yang serakah. Tokoh I Kolagan . nak bungs. menunjukkan kepatuhan, keberanian, dan kecerdikan hingga akhirnya keluarganya selamat. Satua ini mengandung pesan-pesan edukatif tentang kepatuhan anak kepada orang tua. Edukasi : Jurnal Pendidikan Dasar, 6 . 2025 | 215 hukum karma phala, kecerdikan dalam menghadapi bahaya, solidaritas keluarga, serta kewaspadaan terhadap orang yang berpura-pura baik. Namun, potensi besar ini belum dimanfaatkan secara sistematis dalam pembelajaran formal di SD Negeri 3 Banjar Jawa. Hasil wawancara pendahuluan menunjukkan bahwa meskipun satua AuI Siap BadengAy dikenal oleh siswa dan masyarakat, integrasinya ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran masih sangat terbatas. Kendala yang dihadapi antara lain keterbatasan waktu, kurangnya pemahaman tentang teknik bercerita yang efektif, dan tidak tersedianya bahan ajar terstruktur. Di sisi lain, minat baca siswa terhadap sastra lokal rendah karena generasi muda lebih terpapar budaya pop global melalui media digital. Teori perkembangan moral Kohlberg . dan teori konstruktivisme Piaget . menjelaskan bahwa anak usia sekolah dasar . Ae12 tahu. berada pada tahap perkembangan kognitif dan moral yang tepat untuk menerima nilai melalui narasi yang konkret, simbolis, dan emosional. Satua AuI Siap BadengAy, dengan struktur ceritanya yang sederhana namun penuh makna, dapat menjadi jembatan yang efektif antara dunia imajinasi anak dan pembentukan karakter. Penelitian ini bertujuan untuk: . menganalisis nilai-nilai karakter dalam satua AuI Siap BadengAy serta relevansinya dengan tujuan pembelajaran PAH. mendeskripsikan proses konstruksi nilai karakter pada siswa melalui interaksi dengan satua tersebut. menganalisis implikasi muatan nilai satua terhadap tahap perkembangan kognitif dan moral Dengan pendekatan kualitatif yang mendalam, penelitian ini diharapkan dapat memberikan peta jalan bagi pengembangan model pembelajaran PAH yang inovatif, berbasis budaya lokal Banjar Jawa, dan berorientasi pada pembentukan karakter siswa yang utuh serta berakar pada kearifan leluhur. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis studi kasus. Lokasi penelitian adalah SD Negeri 3 Banjar Jawa. Kecamatan Buleleng. Kabupaten Buleleng. Pemilihan lokasi didasarkan pada pertimbangan bahwa sekolah ini berada di wilayah urbanperkotaan, memiliki kekayaan folklor lokal yang masih hidup di masyarakat sekitar . hususnya satua AuI Siap BadengA. , serta terdapat komitmen dari guru PAH dan tokoh adat Partisipan penelitian terdiri atas: . Ibu Ni Ketut Ratnasih. Guru PAH yang telah mengajar lebih dari 12 tahun. siswa kelas i. IV, dan V yang dipilih secara purposive. Bapak I Made Sudarma, tokoh adat Banjar Jawa yang dikenal sebagai penjaga tradisi satua. Teknik pengumpulan data meliputi: . Observasi partisipatif terhadap proses pembelajaran PAH yang mengintegrasikan satua AuI Siap BadengAy, dengan fokus pada interaksi guru-siswa, respons emosional, dan dinamika diskusi, . Wawancara mendalam . emi-terstruktu. dengan guru, siswa, dan tokoh adat. Wawancara dilakukan di ruang guru dan rumah tokoh adat pada September 2025Ae2026, dan . Analisis dokumen meliputi teks satua AuI Siap BadengAy dari buku Kembang Rampe Kesustraan Bali Purwa. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan dokumentasi kegiatan. Analisis data mengikuti model Miles. Huberman, dan Saldaya . melalui tahapan: reduksi data . ranskripsi, kodifikasi, kategorisas. penyajian data . arasi tematik dan . penarikan kesimpulan dan verifikasi . riangulasi sumber dan teori, member checkin. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber . embandingkan data guru, siswa, tokoh ada. , triangulasi metode . bservasi, wawancara, dokumentas. , serta diskusi dengan sejawat dan pembimbing. 216 | Edukasi : Jurnal Pendidikan Dasar, 6 . HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai-Nilai Karakter dalam Satua AuI Siap BadengAy Analisis terhadap teks satua AuI Siap BadengAy dan konfirmasi wawancara menghasilkan identifikasi sepuluh nilai karakter utama yang secara intrinsik selaras dengan ajaran Hindu. Tabel 1 menyajikan nilai-nilai tersebut beserta perwujudannya dalam cerita. Tabel 1. Nilai Karakter dalam Satua AuI Siap BadengAy No. Nilai Karakter Perwujudan dalam Cerita Kepatuhan anak kepada orang tua I Kolagan patuh meskipun ditinggal sendirian di bawah pohon. Kecerdikan I Siap Badeng mendengar percakapan jahat Men Kuwuk dan menyusun strategi. Kewaspadaan . I Siap Badeng tidak mudah percaya pada I Lutung yang bertanya tempat tidur. Karma phala . ukum sebab-akiba. Men Kuwuk menggigit batu hingga giginya rontok dan mulut berdarah. Tanggung jawab orang tua . hakti pitar. I Siap Badeng mencari makan dan melindungi anak-anaknya. Keberanian dan pengorbanan . I Kolagan rela ditinggal sendirian demi keselamatan kakak-kakaknya. Gotong royong dan solidaritas keluarga Keluarga I Siap Badeng saling membantu memanjat pohon dan menyelamatkan diri. Kritik sosial dengan humor Ejekan AuNgakngak ngikngik ngak ngak, gigi pungak nyaplok batuAy di akhir cerita. Kesetiakawanan Saudara-saudara I Kolagan menyambut kepulangannya dengan gembira. Kewajaran dan keadilan Tokoh jahat gagal, tokoh baik selamat . eseimbangan mora. Sumber: Analisis teks satua dan wawancara Temuan tentang sepuluh nilai karakter dalam satua AuI Siap BadengAy memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman tentang kekayaan folklor Bali sebagai sumber pendidikan karakter yang kontekstual dan transformatif. Nilai kepatuhan anak kepada orang tua . harmaning pihana. yang tercermin dari tokoh I Kolagan merupakan manifestasi nyata dari ajaran Catur Guru dalam Hindu, khususnya Guru Rupaka yang menempatkan orang tua sebagai guru utama. Dalam Manawa Dharmasastra dinyatakan bahwa anak yang hormat dan patuh kepada orang tua akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Temuan ini sejalan dengan beberapa hasil penelitian yang menemukan nilai kepatuhan dalam cerita Edukasi : Jurnal Pendidikan Dasar, 6 . 2025 | 217 rakyat Bali AuI LacurAy, namun satua AuI Siap BadengAy memiliki keunikan karena memvisualisasikan kepatuhan dalam situasi krisis (Trismatika et al. , 2025. Warsana, 2. Kolagan ditinggal sendirian dalam ketakutan, tetapi ia tidak kabur atau membantah, melainkan patuh sepenuhnya. Hal ini mengajarkan bahwa kepatuhan sejati bukanlah ketaatan buta, melainkan kepercayaan mendalam kepada orang tua yang didasari cinta. Bagi siswa SD Negeri 3 Banjar Jawa yang sebagian besar masih tinggal bersama keluarga inti, nilai ini sangat relevan karena anak anak Banjar Jawa sejak kecil dibiasakan untuk matatangi . orang tua dan leluhur. Nilai karma phala atau hukum sebab akibat yang tereksplisitkan melalui adegan Men Kuwuk yang menggigit batu hingga giginya rontok dan mulut berdarah merupakan representasi konkret dari konsep abstrak yang sering sulit dipahami anak usia sekolah dasar. Berbeda dengan penelitian Paramita et al. , . yang hanya mengidentifikasi nilai susila dalam satua secara umum, temuan ini menunjukkan bahwa satua AuI Siap BadengAy menyajikan karma phala secara visual dan langsung. Niat jahat tidak hanya gagal, tetapi berbalik menimpa pelaku. Ini sesuai dengan tahap operasional konkret Piaget, di mana anak usia 7 hingga 11 tahun memerlukan bukti visual untuk memahami hubungan sebab akibat. Bapak I Made Sudarma, tokoh adat Banjar Jawa, menafsirkan Men Kuwuk sebagai simbol lobha . dan I Lutung sebagai simbol moha . , dua dari enam musuh dalam diri manusia . ad rip. Interpretasi ini menegaskan bahwa satua tidak hanya mengajarkan moral dasar, tetapi juga memiliki lapisan filosofis yang dalam tentang pengendalian diri, yang merupakan inti dari ajaran Tri Kaya Parisudha. Nilai kecerdikan . dan kewaspadaan . yang ditunjukkan oleh I Siap Badeng merepresentasikan kemampuan berpikir jernih dan bertindak tepat dalam situasi I Siap Badeng tidak panik ketika mengetahui niat jahat Men Kuwuk. ia segera menyusun strategi evakuasi, memerintahkan anak anaknya memanjat pohon, dan melindungi I Kolagan dengan dingklangan batu. Ini sejalan dengan konsep prajna dalam ajaran Hindu sebagai kebijaksanaan praktis yang lahir dari kesadaran spiritual. Nilai kewaspadaan . sangat relevan dengan tantangan zaman modern di mana anak anak rentan terhadap perundungan, penipuan daring, dan rayuan orang asing. Melalui tokoh I Lutung yang bertanya berulang kali dengan ramah namun menyimpan niat jahat, satua mengajarkan bahwa bahaya tidak selalu datang dengan wajah seram, tetapi kadang dengan senyum manis. Ini adalah widhi sastra, yaitu ilmu kewaspadaan hidup yang secara turun temurun diajarkan masyarakat Banjar Jawa. Nilai tanggung jawab orang tua . hakti pitar. yang diwujudkan melalui perjuangan I Siap Badeng mencari makan setiap hari di kebun meskipun diintai bahaya, serta kesediaannya mencari tempat berteduh saat hujan, mengajarkan bahwa kasih sayang orang tua adalah yadnya pertama yang diterima seorang anak. Dalam ajaran Hindu, orang tua memiliki kewajiban . untuk melindungi, membimbing, dan memenuhi kebutuhan anak. Keunikan satua AuI Siap BadengAy adalah menyajikan perspektif ganda, yaitu kewajiban anak (I Kolaga. sekaligus kewajiban orang tua (I Siap Baden. , sehingga menjadi media pembelajaran yang seimbang tentang hak dan kewajiban dalam keluarga Hindu. Nilai keberanian dan pengorbanan . yang ditunjukkan oleh I Kolagan, meskipun hanya seekor anak ayam bungsu yang paling kecil dan lemah, justru menjadi pahlawan karena kesediaannya ditinggal sendirian demi menyelamatkan kakak kakaknya. Ini mengajarkan bahwa keberanian tidak diukur dari ukuran tubuh atau usia, tetapi dari keteguhan hati dan kemauan berkorban. Bagi siswa kelas rendah di SD Negeri 3 Banjar Jawa yang sering merasa minder karena menjadi anak bungsu atau yang paling kecil di kelas, tokoh I Kolagan menjadi teladan yang sangat kuat. Ibu Ni Ketut Ratnasih melaporkan bahwa siswa kelas i sering berkata. AuI Kolagan lebih kecil dari saya, dia berani, saya juga harus beraniAy. Nilai ini selaras dengan konsep wiraha dalam ajaran Catur Wiraha . mpat sikap kepahlawana. yang menjadi bagian dari etika Hindu. 218 | Edukasi : Jurnal Pendidikan Dasar, 6 . 2025 Nilai gotong royong dan solidaritas keluarga tercermin dari kerja sama seluruh anggota keluarga I Siap Badeng dalam menghadapi bahaya. Ketika I Siap Badeng memerintahkan anak anaknya memanjat pohon, mereka saling membantu. yang lebih besar menolong yang lebih kecil. Setelah selamat, mereka bersama sama mengejek Men Kuwuk dengan nyanyian sindiran, menunjukkan bahwa kebersamaan adalah kekuatan. Nilai ini relevan dengan tradisi ngayah . erja bakt. di masyarakat Banjar Jawa yang masih kuat melalui struktur banjar dan subak. Dibandingkan dengan penelitian Margunayasa & Riastini, . yang fokus pada metode pembelajaran berbasis cerita rakyat, temuan ini memperkuat bahwa nilai gotong royong dalam folklor Bali bukan sekadar pesan moral, tetapi cerminan dari praktik sosial yang masih hidup dalam keseharian masyarakat Buleleng. Nilai kritik sosial yang disampaikan dengan humor melalui ejekan AuNgakngak ngikngik ngak ngak, gigi pungak nyaplok batuAy di akhir cerita mengajarkan bahwa konflik dapat diselesaikan tanpa kekerasan. Kejahatan tidak hanya layak mendapat hukuman, tetapi juga layak diejek sebagai bentuk ketidaksetujuan sosial. Ini berbeda dengan pendekatan Barat yang cenderung individualistis. dalam budaya Bali, ejekan kolektif sebagai bentuk sanksi sosial masih dipraktikkan dalam konteks tertentu. Nilai kewajaran dan keadilan yang terefleksikan dari resolusi cerita, di mana tokoh jahat gagal dan menderita sementara tokoh baik selamat, memperkuat keyakinan bahwa alam semesta memiliki keseimbangan moral. Ini sejalan dengan prinsip Rwa Bhineda . dalam filsafat Hindu Bali, bahwa kebaikan dan kejahatan adalah dua sisi yang selalu ada, tetapi pada akhirnya kebaikan akan menang. Secara keseluruhan, sepuluh nilai karakter dalam satua AuI Siap BadengAy tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk suatu jalinan nilai yang terintegrasi. Kepatuhan melahirkan keselamatan, kecerdikan mengalahkan kelicikan, gotong royong memperkuat solidaritas, dan karma phala menegakkan keadilan. Temuan ini memperkaya khazanah penelitian pendidikan karakter berbasis kearifan lokal karena tidak hanya mengidentifikasi nilai, tetapi juga menunjukkan bagaimana nilai nilai tersebut saling terkait dalam satu naratif yang Implikasi pedagogisnya adalah bahwa satua AuI Siap BadengAy dapat digunakan sebagai bahan ajar tematik terintegrasi yang mencakup berbagai kompetensi dasar PAH sekaligus, mulai dari kelas I hingga VI dengan diferensiasi kedalaman sesuai usia. Hal ini menjadikan satua tidak sekadar pelengkap, tetapi sumber pembelajaran utama yang kontekstual, bermakna, dan berakar pada budaya lokal Banjar Jawa. Temuan ini memperkuat konsep local wisdom-based character education dan menegaskan bahwa folklor bukan sekadar pelengkap, melainkan sumber substantif pewarisan dharma (Prihanta et al. , 2. Proses Konstruksi Nilai Karakter Penelitian menemukan bahwa proses konstruksi nilai karakter melalui satua AuI Siap BadengAy berlangsung dalam siklus tiga fase yang saling terkait. Tabel 2. Tiga Fase Konstruksi Nilai Karakter Fase Aktivitas Fase 1: Penyajian & Imersi Emosional Guru mendongeng dengan variasi suara, boneka tangan, dan ekspresi wajah untuk Dimensi Karakter (Lickona. Contoh Temuan Moral feeling Siswa menangis saat I Kolagan ditinggal tegang saat Men Kuwuk hendak Edukasi : Jurnal Pendidikan Dasar, 6 . 2025 | 219 Fase Dimensi Karakter (Lickona. Contoh Temuan Moral knowing Siswa mampu menghubungkan niat jahat dengan akibat. perdebatan tentang kepatuhan dan Moral action Siswa berkomitmen untuk membantu orang tua. mengaku tidak akan berbohong lagi Aktivitas Fase 2: Eksplorasi & Negosiasi Makna Diskusi reflektif dengan pertanyaan pemantik: AuMengapa Men Kuwuk celaka?Ay. AuApakah I Kolagan ikhlas ditinggal?Ay Fase 3: Refleksi & Aplikasi Diri Menulis AuJanji SatyaAy, membuat komik alternatif, proyek kepatuhan di rumah Sumber: Analisis data observasi dan wawancara Temuan tentang tiga fase konstruksi nilai karakter . enyajian dan imersi emosional, eksplorasi dan negosiasi makna, serta refleksi dan aplikasi dir. memberikan dukungan empiris yang kuat terhadap teori konstruktivisme sosial Vygotsky dan teori pendidikan karakter Lickona. Proses ini menunjukkan bahwa internalisasi nilai tidak terjadi melalui transfer satu arah dari guru ke siswa, melainkan melalui interaksi aktif dan dialogis antara siswa, teks satua, dan komunitas belajar. Fase pertama, yaitu penyajian dan imersi emosional, mengaktifkan moral feeling sebagaimana dikemukakan Lickona . Ketika Ibu Ni Ketut Ratnasih mendongengkan satua AuI Siap BadengAy dengan variasi suara yang khas . embut tegas untuk I Siap Badeng, melengking licik untuk I Lutung, kasar serakah untuk Men Kuwuk, dan polos gemetar untuk I Kolaga. serta menggunakan boneka tangan sederhana, siswa tidak sekadar mendengar cerita, tetapi mengalami secara emosional. Air mata yang keluar saat I Kolagan ditinggal sendirian, ketegangan yang terlihat dari raut wajah ketika Men Kuwuk hendak menyerang, serta tawa saat ejekan di akhir cerita menunjukkan bahwa moral feeling telah terbangun. Dalam perspektif neurosains pendidikan, pengalaman emosional yang kuat seperti ini melepaskan neurotransmitter yang memperkuat konsolidasi memori, sehingga nilai nilai moral lebih mudah diingat dan diakses kembali saat siswa menghadapi situasi nyata. Fase kedua, yaitu eksplorasi dan negosiasi makna, merupakan inti dari konstruksi sosial nilai. Pertanyaan reflektif yang diajukan guru, seperti AuMengapa Men Kuwuk celaka?Ay atau AuApakah I Kolagan benar benar ikhlas ditinggal sendirian?Ay, berfungsi sebagai scaffolding dalam Zone of Proximal Development (ZPD) Vygotsky . Siswa tidak hanya menerima interpretasi tunggal, tetapi diajak untuk mempertanyakan, menganalisis, dan memperdebatkan makna moral dari setiap adegan. Ketika terjadi perbedaan pendapat di antara siswa, misalnya ada yang berargumen bahwa I Kolagan seharusnya ikut memanjat dan ada yang membela bahwa ia harus patuh pada ibunya, terjadi konflik kognitif yang sehat. Guru kemudian memfasilitasi dialog untuk mencapai sintesis, bahwa kepatuhan I Kolagan adalah bentuk dharma yang didasari kepercayaan dan cinta, bukan ketakutan buta. Proses negosiasi makna ini sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya bahwa diskusi etis terbuka 220 | Edukasi : Jurnal Pendidikan Dasar, 6 . 2025 lebih efektif membentuk karakter reflektif dibandingkan hafalan norma. Dalam konteks SD Negeri 3 Banjar Jawa, keberhasilan fase ini sangat bergantung pada kemampuan guru menciptakan iklim kelas yang aman, di mana setiap pendapat dihargai dan tidak ada jawaban yang dianggap salah. Fase ketiga, yaitu refleksi dan aplikasi diri, merupakan puncak dari proses konstruksi nilai yang menandai peralihan dari pemahaman kolektif menuju internalisasi personal. Ketika siswa diminta menulis AuJanji SatyaAy untuk diri sendiri, seperti yang dilakukan I Putu Gede yang berjanji tidak akan mengambil jajan teman lagi atau Ni Luh Putu yang berkomitmen membantu orang tua tanpa disuruh, mereka sedang melakukan proses internalisasi dari ranah interpsikologis . ke ranah intrapsikologis . sebagaimana dijelaskan Vygotsky. Nilai nilai yang sebelumnya didiskusikan secara kelompok kini diolah secara privat dan dihubungkan dengan identitas pribadi serta pengalaman konkret mereka. Ini sejalan dengan konsep Atma Preksha . ntrospeksi dir. dalam ajaran Hindu, di mana individu merenungkan perbuatannya dan berkomitmen untuk memperbaiki diri. Penelitian ini menemukan bahwa komitmen personal yang lahir dari refleksi mendalam lebih kuat dan berkelanjutan dibandingkan kepatuhan yang didasari rasa takut akan hukuman eksternal. Siswa tidak hanya berkata Ausaya tidak mau berbohong karena takut dimarahi ibuAy, tetapi Ausaya tidak mau berbohong karena saya ingin menjadi anak yang baik seperti I KolaganAy. Pergeseran motivasi dari eksternal ke internal ini merupakan indikator keberhasilan pendidikan karakter menurut Lickona . Keberhasilan seluruh siklus tiga fase ini sangat bergantung pada peran guru sebagai fasilitator dan mediator budaya. Ibu Ni Ketut Ratnasih tidak hanya bertindak sebagai pencerita, tetapi juga sebagai more knowledgeable other yang membimbing siswa dalam ZPD. tidak memberikan jawaban mutlak, melainkan membuka ruang bagi siswa untuk menemukan sendiri makna moral melalui dialog. Ia juga berperan sebagai mediator budaya dengan menjelaskan simbol simbol dalam satua, seperti batu sebagai perlindungan kebenaran, pohon sebagai tempat keselamatan, dan gigi rontok sebagai manifestasi karma phala. Kompetensi ini tidak dimiliki semua guru. penelitian Dewi dan Artawan . menunjukkan bahwa banyak guru PAH di Buleleng masih kesulitan mengintegrasikan folklor karena kurangnya pemahaman filosofis. Oleh karena itu, temuan ini menegaskan perlunya pelatihan guru yang berfokus pada pedagogi budaya . ultural pedagog. dan teknik fasilitasi dialog reflektif. Selain itu, dukungan dari tokoh adat seperti Bapak I Made Sudarma yang sesekali diundang untuk mendongeng memperkaya lapisan makna dan memberikan otentisitas budaya, sehingga siswa tidak hanya belajar nilai, tetapi juga merasa bangga menjadi bagian dari masyarakat Banjar Jawa yang memiliki warisan lisan yang kaya. Dengan demikian, proses konstruksi nilai melalui satua AuI Siap BadengAy bukan sekadar strategi mengajar, tetapi sebuah ekologi pembelajaran yang melibatkan hati, pikiran, dan tindakan secara terintegrasi, serta menghubungkan sekolah dengan keluarga dan komunitas adat dalam ekosistem pendidikan karakter yang berkelanjutan. Implikasi terhadap Tahap Perkembangan Kognitif dan Moral Penelitian ini menemukan bahwa muatan dan penyajian satua AuI Siap BadengAy secara intrinsik sesuai dengan tahap perkembangan kognitif dan moral siswa sekolah dasar usia 7 hingga 12 tahun. Kesesuaian ini bersifat simultan dan saling memperkuat, karena struktur naratif satua yang konkret dan simbolis memfasilitasi pemahaman kognitif sekaligus menyediakan bahan bagi penalaran moral yang berjenjang. Temuan ini mengonfirmasi bahwa satua AuI Siap BadengAy tidak hanya relevan secara kultural, tetapi juga developmentally appropriate . anggap perkembanga. , sehingga efektif sebagai media internalisasi nilai dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu di SD Negeri 3 Banjar Jawa. Edukasi : Jurnal Pendidikan Dasar, 6 . 2025 | 221 Dari aspek perkembangan kognitif, satua AuI Siap BadengAy memiliki empat karakteristik utama yang selaras dengan tahap operasional konkret Jean Piaget . sia 7Ae11 Pertama, alur cerita yang linear dan mudah diikuti. Satua dimulai dari pengenalan tokoh (I Siap Badeng mencari makan bersama anak anakny. , konflik . ncaman I Lutung yang licik dan niat jahat Men Kuwu. , hingga resolusi . eluarga I Siap Badeng selamat. Men Kuwuk celak. Alur yang terprediksi ini memberikan rasa aman kognitif dan memungkinkan siswa fokus pada pesan moral, bukan pada upaya memahami plot yang rumit. Ibu Ni Ketut Ratnasih melaporkan bahwa siswa kelas i dapat menceritakan ulang alur satua dengan runtut tanpa bantuan, yang merupakan indikator pemahaman hubungan sebab akibat yang merupakan ciri utama tahap operasional konkret. Kedua, satua menggunakan simbol visual yang kuat dan mudah dibayangkan. Batu yang menjadi pelindung I Kolagan, pohon sebagai tempat memanjat untuk menyelamatkan diri, serta gigi Men Kuwuk yang rontok dan mulut yang berdarah adalah simbol simbol konkret yang dapat divisualisasikan dengan mudah oleh anak. Konsep abstrak seperti perlindungan Tuhan, keselamatan, dan karma phala menjadi AuterlihatAy melalui simbol simbol Bagi siswa yang masih berpikir konkret, simbol bukanlah halangan, melainkan alat bantu kognitif yang memperkuat retensi moral. Seorang siswa kelas IV. Ni Kadek Ayu, mengungkapkan. AuSaya tidak akan lupa adegan Men Kuwuk menggigit batu. Rasanya sakit Itu membuat saya ingat bahwa orang jahat pasti celaka. Ay Kemampuan mengingat detail visual ini menunjukkan bahwa simbol telah berfungsi sebagai jangkar memori. Ketiga, konsekuensi moral dalam satua bersifat langsung dan kasat mata. Niat jahat Men Kuwuk tidak berbuah pada hukuman yang abstrak atau tertunda, melainkan pada cedera fisik seketika. Gigi rontok dan mulut berdarah adalah konsekuensi yang dapat diamati secara indrawi. Hal ini sesuai dengan kebutuhan anak pada tahap operasional konkret yang memahami moral melalui hubungan sebab akibat yang nyata, bukan melalui prinsip etika Ibu Ratnasih memanfaatkan adegan ini untuk menjelaskan karma phala: AuLihat, anak Men Kuwuk tidak ketahuan orang lain, tidak ada polisi yang menangkapnya, tetapi ia tetap celaka. Itulah kekuatan karma. Ay Penjelasan ini membuat siswa memahami bahwa hukum sebab akibat bekerja secara otomatis, tidak tergantung pada hukuman dari manusia. Keempat, tokoh dalam satua bersifat stereotipikal dengan dikotomi moral yang jelas. I Siap Badeng adalah tokoh baik yang bijaksana dan bertanggung jawab. I Kolagan adalah anak yang patuh dan berani, sementara I Lutung dan Men Kuwuk adalah tokoh jahat yang licik dan serakah. Dikotomi yang tajam ini memudahkan anak mengklasifikasikan tindakan ke dalam kategori AubenarAy dan AusalahAy berdasarkan konsekuensi yang terlihat, yang merupakan kemampuan kognitif dasar pada tahap operasional konkret. Penelitian ini menemukan bahwa bahkan sebelum diskusi reflektif, siswa kelas rendah sudah mampu mengidentifikasi tokoh baik dan tokoh jahat hanya dari cara guru mendongeng dengan variasi Dari aspek perkembangan moral, satua AuI Siap BadengAy secara simultan menjangkau dua tahap perkembangan moral Lawrence Kohlberg, yaitu tahap pra konvensional (Tahap 2: Instrumental Purpose and Exchang. dan tahap konvensional awal (Tahap 3: Good Interpersonal Relationship. Pada tahap pra konvensional, anak menilai benar salah berdasarkan konsekuensi langsung yang bersifat fisik, apakah menguntungkan diri sendiri atau tidak. Satua AuI Siap BadengAy menyajikan konsekuensi fisik yang sangat jelas: Men Kuwuk yang berniat jahat mengalami cedera fisik . igi rontok, mulut berdara. , sementara I Kolagan yang patuh selamat dan dipuji. Bagi siswa kelas rendah . sia 7Ae9 tahu. , respons moral mereka dominan pada tahap ini. Mereka berkata. AuSaya tidak mau jadi Men Kuwuk karena nanti gigi saya rontokAy atau AuSaya takut celaka kalau berbuat jahat. Ay Logika mereka adalah Auberbuat jahat mendapat hukuman, berbuat baik mendapat keselamatan. Ay Ini sangat efektif karena satua memberikan bukti visual yang langsung. 222 | Edukasi : Jurnal Pendidikan Dasar, 6 . 2025 Seiring bertambahnya usia dan pengalaman sosial, siswa mulai memasuki tahap konvensional awal . sia 10Ae12 tahu. Pada tahap ini, mereka mulai mempertimbangkan harapan sosial, norma keluarga, dan keinginan untuk diakui sebagai Auanak baikAy. Satua AuI Siap BadengAy juga memfasilitasi tahap ini melalui tokoh I Kolagan yang tidak hanya selamat secara fisik, tetapi juga dipuji oleh ibunya dan disambut gembira oleh kakak kakaknya. menjadi teladan anak yang patuh, setia, dan berani. Siswa kelas V di SD Negeri 3 Banjar Jawa menunjukkan pergeseran motivasi moral. Mereka tidak hanya berkata Ausaya takut dihukumAy, tetapi Ausaya ingin seperti I Kolagan, dipuji ibu karena patuhAy dan Ausaya tidak mau mengecewakan keluarga. Ay Seorang siswa. Ni Luh Putu, mengungkapkan. AuSaya lebih takut dikucilkan daripada dicubit. Menjadi anak baik di mata keluarga itu penting. Ay Ini adalah indikator bahwa mereka telah menginternalisasi norma sosial dan menjadikan harmoni keluarga sebagai nilai yang dijunjung. Temuan yang lebih mendalam adalah bahwa satua AuI Siap BadengAy juga berpotensi merangsang penalaran moral reflektif yang melampaui kedua tahap tersebut. Pada siswa kelas V dan VI yang telah memiliki kemampuan berpikir lebih abstrak, diskusi reflektif yang difasilitasi guru memunculkan pertanyaan pertanyaan yang menunjukkan awal dari penalaran pasca konvensional. Siswa bertanya. AuApakah I Kolagan benar benar ikhlas ditinggal, atau ia hanya terpaksa karena takut?Ay dan AuApakah hukuman Men Kuwuk . igi ronto. setimpal dengan kesalahannya? Ia belum sempat membunuh. Ay Pertanyaan pertanyaan ini menunjukkan bahwa siswa mulai mempertimbangkan niat, konteks, dan proporsionalitas keadilan, bukan hanya mengikuti aturan secara dogmatis. Bapak I Made Sudarma, tokoh adat, menegaskan. AuOrang tua dulu mendongeng bukan sekadar agar anak anak tidur, tapi agar mereka berpikir. AoI Siap BadengAo mengajarkan bahwa dunia tidak selalu hitam putih. Siap Badeng harus membuat pilihan sulit, meninggalkan I Kolagan atau semuanya mati. Anak anak diajak membayangkan dirinya di posisi itu. Ay Kesesuaian satua AuI Siap BadengAy dengan tahap perkembangan kognitif dan moral memiliki implikasi pedagogis yang signifikan. Pertama, satua dapat digunakan secara berjenjang . di seluruh kelas SD. Untuk kelas I hingga i, guru dapat memfokuskan pada konsekuensi langsung dan identifikasi tokoh baik jahat, sesuai dengan tahap pra konvensional. Pertanyaan yang diajukan bersifat sederhana, seperti AuApa yang terjadi pada Men Kuwuk karena ia jahat?Ay Untuk kelas IV hingga VI, guru dapat mengangkat aspek sosial dan dilema moral, sesuai dengan tahap konvensional awal, seperti AuMengapa I Kolagan bersedia ditinggal?Ay dan AuApakah Men Kuwuk bisa dimaafkan jika ia menyesal?Ay Strategi diferensiasi ini memungkinkan satu satua yang sama digunakan untuk mengajar berbagai tingkatan dengan kedalaman yang berbeda. Kedua, keberhasilan satua sebagai media internalisasi nilai sangat bergantung pada kualitas fasilitasi guru. Tanpa pertanyaan reflektif dan diskusi terstruktur, satua berisiko menjadi hiburan tanpa makna. Ibu Ni Ketut Ratnasih menunjukkan bahwa dengan scaffolding yang tepat, siswa dapat diajak melompat dari pemikiran Autakut hukumanAy menuju Aukesadaran akan tanggung jawab sosialAy. Ini sejalan dengan teori ZPD Vygotsky, di mana guru berperan sebagai more knowledgeable other yang membimbing siswa mencapai tingkat pemahaman lebih tinggi. Sebaliknya, jika guru hanya mendongeng tanpa dialog, satua hanya akan membekas sebagai cerita lucu, bukan sebagai pelajaran moral yang mengubah Ketiga, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap perdebatan tentang apakah anak SD sudah mampu berpikir reflektif tentang moral. Temuan tentang munculnya pertanyaan reflektif di kelas V dan VI menunjukkan bahwa potensi penalaran moral yang lebih tinggi ada, tetapi memerlukan rangsangan yang tepat. Satua AuI Siap BadengAy dengan dilema moralnya yang tersirat (I Kolagan ditinggal, proporsionalitas hukuman Men Kuwu. menyediakan bahan yang kaya untuk diskusi etis. Ini berarti pendidikan moral di SD tidak Edukasi : Jurnal Pendidikan Dasar, 6 . 2025 | 223 perlu dibatasi pada penanaman nilai tahap dasar, tetapi dapat juga melatih kemampuan berpikir kritis dan empati melalui naratif yang tepat. Secara keseluruhan, implikasi paling mendasar dari temuan ini adalah bahwa satua AuI Siap BadengAy merupakan media pembelajaran yang developmentally responsive, artinya ia AutumbuhAy bersama siswa. Untuk siswa yang masih pada tahap konkret dan pra konvensional, satua memberikan bukti visual dan konsekuensi langsung. Untuk siswa yang mulai memasuki tahap konvensional, satua menyajikan norma sosial, harapan keluarga, dan teladan Bahkan untuk siswa yang menunjukkan kemampuan reflektif, satua membuka ruang diskusi tentang dilema etis dan keadilan. Dengan demikian, satua AuI Siap BadengAy tidak hanya mengajarkan nilai, tetapi juga menemani perkembangan moral siswa selangkah demi selangkah, dari ketakutan akan hukuman fisik menuju kesadaran akan tanggung jawab sosial dan akhirnya menuju penalaran etis yang lebih matang. Hal ini menjadikan satua sebagai sumber belajar yang tidak pernah usang, karena ia dapat disesuaikan dengan tingkat kematangan siswa di setiap jenjang kelas. SIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan tiga hal utama. Pertama, satua AuI Siap BadengAy mengandung nilai nilai karakter yang selaras dengan ajaran Hindu, antara lain kepatuhan anak kepada orang tua, kecerdikan, kewaspadaan, hukum karma phala, tanggung jawab orang tua, keberanian, gotong royong, serta kritik sosial yang disampaikan dengan humor. Nilai nilai ini disampaikan secara eksplisit melalui dialog dan implisit melalui simbol . atu, pohon, gigi ronto. , sehingga relevan dengan Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Hindu dan mampu menjembatani ajaran abstrak dengan realitas budaya siswa Banjar Jawa. Kedua, proses konstruksi nilai terjadi melalui siklus tiga fase: . penyajian dan imersi emosional untuk membangkitkan moral feeling. eksplorasi dan negosiasi makna melalui dialog reflektif untuk membangun moral knowing. refleksi dan aplikasi diri untuk mendorong moral action. Proses ini bersifat ko konstruktif dan sangat bergantung pada peran guru sebagai fasilitator dan mediator budaya. Ketiga, muatan dan penyajian satua sesuai dengan tahap perkembangan kognitif operasional konkret (Piage. dan tahap moral pra konvensional hingga konvensional (Kohlber. , sehingga efektif sebagai media internalisasi nilai yang dapat digunakan secara berjenjang dari kelas I hingga VI. Secara keseluruhan, satua AuI Siap BadengAy merupakan wahana pedagogis yang strategis, kontekstual, dan transformatif untuk pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Keberhasilannya memerlukan pengembangan modul berjenjang, pelatihan guru dalam fasilitasi dialog reflektif, serta kolaborasi sinergis antara sekolah, dinas pendidikan, keluarga, dan tokoh adat Banjar Jawa. Temuan ini memperkaya teori pendidikan karakter berbasis kearifan lokal serta memberikan dukungan empiris terhadap teori konstruktivisme sosial Vygotsky dan teori perkembangan moral Kohlberg dalam pembelajaran kontekstual. DAFTAR PUSTAKA