Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 REAKTUALISASI MUSIK TONGLING DI SANGGAR SENI PRINGGOWULUNG DENGAN METODE 4N Darno1. Muriah Budiarti2. Sutriyanto3. Sigit Setiawan4 1,2,3,4 Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta darnokartawi@yahoo. id , muriah1958@gmail. com2, su3. artsih@gmail. com3, sigitawan03@gmail. ABSTRAK Kegiatan PKM Karya Seni ini merupakan penjelasan dari serangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan team PKM yang berjudul AuReaktualisasi Musik Tongling Di Sanggar Seni Pringgowulung Dengan Metode 4NAy. Terdapat berbagai permasalahan di dunia kesenian daerah, adalah minimnya bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan para pelaku senu tentang musik bambu baik yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dasrnya dalam konsep musik tradisi maupun inovasi. Berdasarkan permasalahan tersebut kemudian, maka dalam kerjasama ini tim PKM dosen melakukan langkah-langkah strategis yakni melakukan langkah solutif yakni membuat tahapan kegiatan-tahapan kegiatan yang dimulai dari pemetaan permaslahan, perancangan kegiatan, aksi kegiatan, hingga hasil luaran kegiatan. Untuk menghadapi mempermudah dalam memahami prinsip-prinsip garap gamelan dalam karawitan tradisi, digunakanlah dua langkah kegiatan yakni seminar dan workshop yang meliputi: ceramah, diskusi, dan pelatihan, dan pergelaran hasil pelatihan. Obyek materi yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah musik bambu tongling bentuk aransmen. Alat-alat musik bambu tradisi . dan bentuk inovasi dieksplorasi dengan berbagai teknik yang melalui tahapan-tahapan secara progresif yakni dengan menggunakan langkah 4N yaitu: niteni, nirokke, nentokke, dan nemokke. Kata kunci: reaktualisasi, musik tongling, aransmen. ABSTRACT This article of PKM . ommunity servic. art creation explains a series of activities carried out entitled AuTongling Music Re-actualization in the Pringgowulung Art Studio in Wonomulyo VillageAy which is located in Genilangit. Poncol District. Magetan Regency. There are various problems in the world of regional arts, one of them is the lack of knowledge and skills of art performers about bamboo music both related to the basic principles of traditional and innovative music concepts. Based on these problems then, in this collaboration the PKM team takes some solutive strategic steps, such as making stages of activity starting from mapping problems, designing activities, carrying out activities, to the outputs of activities. To make it easier to understand the musicality principles on gamelan in traditional karawitan, two activities conducted are: seminars and workshops which include lectures, discussions and training, also performance as the results of the training. The material object emphasized in this activity is tongling bamboo music in the form of arrangements. Traditional bamboo musical instruments . and forms of innovation are explored with various techniques that go through progressive stages, by using the 4N steps: niteni . o remembe. , nirokke . o immitat. , nentokke . o determin. , and nemokke . o discove. Keywords: reactualization, tongling music, arrangement Volume 14 No. 2 Desember 2023 Darno, dkk: Reaktualisasi Musik Tongling Di Sanggar Seni Pringgowulung Dengan Metode 4N PENDAHULUAN Secara harafiah makna reaktualisasi adalah proses, cara, perbuatan mengaktualisasikan kembali. penyegaran dan pembaruan akan nilai-nilai dari sebuah obyek tertentu. Dalam tulisan ini makna reaktualisasi dikaitkan dengan sebagai upaya untuk menyegarkan kembali musik Tongling dengan berbagai metode inovasi, supaya dapat diterima kembali di tengah-tengah masyarakatnya khususnya di Kabupaten Magetan. Magetan merupakan salah satu daerah kabupaten di wilayah karesidenan Kabupaten Magetan, dikenal sebagai salah satu kantong budaya sub kultur dari kebudayaan Jawa yang memiliki aneka banyak ragam jenis kesenian. Kesenian Kabupaten Magetan merupakan representasi dari karakteristik dan spirit bagi kehidupan masyarakatnya yang berakar dari pola kehidupan tradisional agraris. Sebagai bentuk kebudayaan yang tumbuh secara grassroot dari komunitas wong cilik, kesenian Kabupaten Magetan dijiwai oleh semangat Semua itu menjadi bagian tidak terpisahkan dari masyarakatnya yang secara turun-temurun tumbuh dan berkembang menjadi refleksi akan nilai-nilai kebersamaan yang secara simbolis juga tercermin dalam pertunjukan kesenian tradisionalnya termasuk salah satunya pada musik bambu Tongling yang ada di Magetan. Berdasarkan informasi dari Bapak Winarno selaku pimpinan kelompok kesenian Tongling Pringgowulung, ia menyampaikan bahwa pada awalnya musik Tongling hanya ada di Dusun Wonomulyo. Kecamatan Poncol Kabupaten Kabupaten Magetan yang pimpinan Bapak Winarno, setelah sebagian pemain meninggal kemudian dibawa oleh salah satu pemainnya bernama Kasman ke Desa Genilangit. Kecamatan Poncol. Kabupaten Magetan hingga saat ini. Bersama keluarganya yang terdiri dari kakak kandung kakak ipar, paman dan adik-adiknya disitu Kasman kemudian membentuk pelatihan secara rutin pada malam hari setelah shalat isa. Pada awalnya Kasman hanya ingin mengisi waktu luang, menghibur diri, tapi dalam benak hatinya karena rasa cintanya terhadap kesenian Tongling kemudian ia memiliki cita yang mulia, yakni untuk menularkan ilmu dan keahlianya memainkan alat musik Tongling kepada saudaranya sekeluarga sebagai upaya pelestarian kesenian tradisional musik bambu. Kesenian Tongling merupakan kesatuan antara musik dengan lagu daerah, yang oleh masyarakatnya sering disebut dengan kesenian Patrol. Walaupun kesenian Tongling berada di wilayah kebudayaan Kabupaten Magetan, namun ia memiliki karakter estetika yang berberda dengan jenis-jenis kesenian yang ada di Kabupaten Magetan. Kesenian Tongling memiliki karakterisitik lebih kompleks yang banyak diwarnai oleh sajian musik tradisional gaya kulonan (Surakarta/Jogjakart. Pada pertunjukan Tongling sering menyajikan lagu-lagu Jawa Tengahan seperti dalam bentuk lancaran, ketawang, ladrang dan jineman. Dengan banyaknya sajian gending-gending gaya kulonan pada pertunjukan lengger Tongling maka tidak mustahil jika kemudian berpengaruh terhadap garapan sajian lagu-lagu lain termasuk dari gaya Kabupaten Magetan itu sendiri dan gaya-gaya kulonan. Tongling merupakan perwujudan nyata dari sebuah pertemuan tiga gaya musikalitas yang ada di Jawa. Pertemuan tiga gaya musikalitas dilebur jadi satu yang kemudian merefleksi ke dalam dinamika pertunjukan Lengger Tongling yang kadang berkesan lembut, keras, lucu, gecul, kasar dan gayeng. Penggambaran kesan-kesan tersebut sering terungkap melalui berbagai idiom garap seperti vokal, gending, tabuhan instrumen, teks cakepan, percakapan, dan juga terdapat pada gerak-gerak tari tayub. Interaksi sajian gending-gending musik Tongling dengan tayub menjadi gaya tersendiri dalam pertunjukan kesenian rakyat Kabupaten Magetan. Bahkan ada beberapa tokoh seniman Kabupaten Magetan menyatakan bahwa musik Tongling adalah percampuran keseluruhan musik bambu yang ada di Kabupaten Magetan yang diolah menjadi sebuah estetika lokal yang khas, unik, kompleks dan dinamis. Estetika lokal yang khas pada sajian musik tongling tampak pada jalinan pola yang diadopsi dari permainan musik-musik yang lain seperti dongkrek. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 patrol, dan gamelan ageng gaya kulonan. Satu kasus yang dimaksud sebagai bentuk adopsi pola tabuhan dari gamelan ageng gaya kulonan yaitu terdapatnya bentuk pola imbal instrumen Tongling penitir yang dipinjam dari pola imbal bonang barung dan bonang penerus. Kemudian pola-pola adopsi yang lain misalnya terdapatnya pola melodi instrumen Tongling tengahan dari tabuhan musik dongkrek dan patrol. Pola imbal menjadi sangat dominan dalam sajian musik tongling yang didalamnya memiliki berbagai ragam bentuk yakni imbal yang diadopsi dari bonang gamelan ageng, gambang, dan musik kesenian tayub. Kesenian pada suatu daerah tertentu yang kemudian disebut sebagai kesenian daerah selalu berjalan senafas dengan perkembangan pola pikir masyarakat pendukungnya. Kesenian daerah dan atau kesenian tradisional pada suatu daerah tertentu sebagian besar memiliki sifat yang terbuka, adaptif dan fleksibel berjalan beriringan saling menginspirasi, saling mempengaruhi satu sama lain seperti juga sifat-sifat manusia yang hidup dalam masyarakatnya. Demikian juga dengan sifat kesenian kabupaten Magetan yang hidup di tengahtengah masyarakatnya yang diapit oleh kompleksitas kehidupan kesenian lain, maka tidak mustahil jika kesenian yang ada di derah Kabupaten Magetan kemudian satu sama lain memiliki kesamaan karakter. Kesenian Tongling sebagai salah satu jenis seni musik daerah dalam kenyataanyaakan menunjukan sifatnya sebagai kesenian yang terbuka dan mampu beradaptasi dengan berbagai ragam jenis kesenian lain baik yang berada di dalam maupun di luar lokus budayanya. Berdasarkan dengan sifatnya masing-masing, setidaknya ada tiga jenis musik bambu di Kabupaten Magetan pernah berjaya sebagai musik tradisional kerakyatan masyarakat yaitu: dongkrek, patrol, dan Dari ketiga jenis musik bambu tersebut empat diantaranya . ongkrek, patrol, dan kentonga. memiliki kesamaan dalam cara memainkan yakni dengan teknik dipukul. Musik bambu Kabupaten Magetan di dalamnya terdapat banyak kemiripan baik secara bentuk visual maupun teknik menyajikannya, yang masing-masing memiliki karakter musikalitas yang berbeda-beda namun dalam spirit yang sama yakni kerakyatan. Perbedaan karakteristik musikalitas dari masing-masing jenis musik bambu tersebut dipengaruhi oleh dua hal yakni faktor jenis lagu yang disajikan dan fungsi musik itu Dari empat jenis musik bambu Kabupaten Magetan yang dimainkan dengan teknik pukul secara spesifik dibedakan oleh jumlah instrumen pada setiap perangkatnya yang kemudian berpengaruh secara musikal terhadap sajian instrumentasi repertoar lagunya. Karena memiliki kekhasan yang spesifik itulah maka musik tongling menjadi unik. Unik jika dilihat dari sisi bentuk visual dan penyajiannya, dan juga unik jika dirasakan keindahan bunyinya. Keunikan dan kekhasan musik tongling terlihat dalam beberapa aspek antara lain: aspek teknik penyajian, penyajian garap musikalitas, memiliki karakter warna bunyi yang nyaring dan tajam. Bentuk dari sajian garap musikalitasnya benar-benar dihiasi oleh nilai estetika yang sangat lokal, harmonis, kompleks, dan dinamis, sehingga membuat kebanyakan pemain pemula merasa kesulitan disaat memainkannya untuk mencapai tingkatan esetetika yang ideal. Musik tongling memiliki teknik dan penggarapan instrumen yang sedarhana, berbeda dengan berbagai jenis musik bambu yang ada di daerah lain seperti di Karesidenan Banyumas yakni musik bongkel, gandalia, buncis, dan calung. Dalam penyajian musik tongling setidaknya ada empat aspek yang menjadi penciri yakni: Jalinan pola antar isntrumen yang lazim disebuat imbal, yang menyatukan pola tabuhan dari dua instrumen gambang bambu Melodi, yang dimainkan oleh instrumen gambang secara individu atau secara unison dari berbagai instrumen yang memiliki urutan nada yang sama. Pola ritme, yang terdapat pada instrumen kenthongan dan kenthur. Pola ritme ini lebih difungsikan sebagai pembentuk dinamika musikal agar sajian musik tidak terkesan statis. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Darno, dkk: Reaktualisasi Musik Tongling Di Sanggar Seni Pringgowulung Dengan Metode 4N Disaat menyajikan instrumen yang berpasangan masing-masing pemain harus saling memahami keinginan lawan bermain terutama jika sedang menyajikan lagu-lagu yang garapnya memiliki beragam pola dan gaya musikal. Dewasa ini keberadaan kesenian-kesenian daerah yang khas dan masih bertahan eksistensinya sudah jarang ditemui. Sebagian besar kondisi kesenian-kesenian daerah akan hilang identitas keunikan dan kekhasannya. Jika masih ada yang bertahan untuk eksis kebanyakan akan bercampur dengan jenis musik lain yang oleh masyarakat dianggapnya sebagai suatu bentuk kebaruan. Seperti yang disampaikan oleh Winarno sosok pelaku seni di Kabupaten Magetan menyatakan bahwa, kehadiran jenis musik lain seperti musik pop, campursari, dangdut, dan musik dari luar negeri di tengah-tengah masyarakat dewasa ini benar-benar menjadi tantangan berat bagi para pelaku seni tradisi yang ada di daerah. Hanya ada dua pilihan, jika mau bertahan untuk tetap eksis diminati oleh masyarakat maka harus berubah, namun jika tidak mau berubah maka harus berhenti atau mati . awancara 23 April 2. Kelompok musik tongling yang ada dan bertahan hingga saat ini hanya tinggal satu di Dusun Wonomulyo. Desa Genilangit. Kecamatan Poncol. Kabupaten Magetan yaitu kelompok Pringgowulung. Dewasa ini mampu bertahan hidup semata-mata karena untuk kebutuhan hiburan keluarga, beranggotakan 50 orang yang kesemuanya merupakan saudara kandung dengan usia rata-rata di atas 40 tahun. Winarno sebagai ketua rombongan menyatakan bahwa, sudah tidak ada lagi regenerasi pemain musik tongling, dikerenakan tidak ada anak muda yang suka dengan kesenian tradisi yang rumit. Kebanyakan anak-anak muda hanya mau menjadi seniman yang bentuk musiknya kekninian, yang ramai dengan alat-alat modern yang relatif mudah Kelompok Pringgowulung ada dan tetap bertahan karena raca cintanya Pak Winarno terhadap musik Tongling yang merupakan warisan dari pendahulunya. Winarno menguasai semua instrumen musik Tongling adalah atas jasa ketelatenanya melalui cara mendengarkan dan menirukan musik-musik lain disekitarnya. Ironisnya kesenian ini hanya tinggal satu grup dengan kondisi anggota yang sangat memprihatinkan. Sangat disayangkan jika lambat laun kesenian ini menjadi hilang terbawa mati oleh pelakunya. Berangkat dari kondisi ini, maka pengusul mencoba untuk menggali beberapa teknik sajian musik Tongling yang khas untuk diangkat dan dikembangkan menjadi karya musik Beberapa teknik sajian yang dikembangkan dalam karya ini antara lain: pola jalinan penerus, penuthuk dan penodhong dalam instrumen Tongling ke dalam ragam instrumen dan bentuk musikalitas baru. Dewasa ini dalam kehidupan yang serba mengkiniakan banyak mengalami pergeseran nilai-nilai Kesenian tradisional yang mengandung nilai-nilai lokal sudah banyak yang ditinggalkan oleh para Sebagian besar para pelaku seni tradisional banyak yang berbelok orientasinya dari yang semula memiliki prinsip dan idialisme yang kokoh untuk mempertahankan nilai-nilai lokal, sekarangakan banyak yang beralih menjadi pelaku seni yang berorientasi kepada hal-hal yang lebih menjanjikan untuk mengejar metari. Untuk memenuhi kehidupannya kebanyakan menjalani profesinya bekerja dan berusaha sekeras mungkin agar mampu menafkahi keluarganya dan atau memenui kebutuhan gaya hidupnya. Dalam kondisi yang demikian maka banyak kesenian tradisional yang kemudian ditinggalkan oleh pelakunya, bahkan tidak sedikit yang menggunakan kesenian tradisional sebagai topengnya agar tetap dianggap sebagai pelestari budaya Pada realitanya dewasa ini banyak kesenian lokal di Kabupaten Magetan seperti karawitan, tayub, jatilan, wayang dan jenis kesenian lokal lainnya banyak yang bergeser bahkan berubah dan bercampur menjadi kesenian AubaruAy yang tidak jelas nilai-nilai estetikanya. Pengusul merasa prihatin akan keberlangsungan kesenian-kesenian lokal yang ada di daerah khsusunya di wilayah Kabupaten Magetan jika kehidupanya hanya dipasrahkan dan dikendalikan oleh para pelaku seninya. Tidak mustahil jika sepuluh tahun kemudian musik-musik lokal gaya Kabupaten Magetan berubah menjadi kesenian baru yang kehilangan ciri khasnya yang sebagai penanda identitas lokal Kabupaten Magetan. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Berangkat dari fenomena tersebut, dalam program PKM ini pengusul berinisiatif untuk mengalihkan peran penyangga musik tradisional dari pelaku seni ke guru-guru seni yang terhimpun melalui MGMP seni budaya. Pekerjaan ini pasti sulit dan berat karena guru seni tidak hanya fokus pada bidang seni tertentu saja, namun setidaknya jika dapat ditangani dunia pendidikan kesenian lokal bisa tersalurkan kepada generasi penerus . eserta didi. melalui mata pelajaran muatan lokal. Workshop dan penyajian musik bambu dalam program Pengabdian Pada Masyarakat (PKM) kali ini adalah sebuah upaya kerja sama antar masyarakat akademisi, masyarakat awam, dan organisasi sosial yang consern dibidang pengembangan budaya lokal yang dalam hal ini Sanggar Seni Pringgowulung. Workshop musik bambu sebuah program yang direncanakan dan diadakan berdasar semangat untuk melihat lebih dekat bambu yang sebenarnya jaman dahulu pernah akrab dengan kehidupan budaya kita. Event ini digagas dan diangankan sebagai suatu skenario atau strategi untuk menegakkan dan memperkuat budaya bambu Nusantara. Suatu perpaduan antara pengenalan, pemahaman, dan peningkatan ketrampilan, juga krativitas dan inovasi yang bermartabat. Pertimbangan atas berbagai aspek dalam program ini bermaksud agar luaran yang dicapai mampu membumikan kembali sumber daya alam bambu sebagai media seni khususnya seni musik ramah lingkungan. Di samping pemberdayaan bambu itu sendiri, juga upaya mendekatkan masyarakat kepada bambu agar masyarakat sekarang dapat mengenal lebih dekat sehingga bambu dapat menjadi bidikan alternatif dalam upaya menumbuhkan minat usaha industri kreatif yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan. Berdasarkan dari serangkaian hasil survei terhadap mitra organisasi MGMP Seni Budaya di Kabupaten Magetan, ditemukan berbagai permasalahan seagai berikut: Terbatasnya pemahaman guru-guru seni tentang sifat-sifat dan estetika kesenian lokal sehingga berdampak pada minat yang rendah terhadap rasa ingin tahu akan nilai-nilai yang ada dalam kesenian daerah. Masih minimnya kemampuan guru seni terhadap bidang keahlian praktik musik tradisional khususnya musik bambu, . Masih kurangnya kesadaran sebagian besar guru seni untuk memperdalam kemampuannya dibidang keahlian musik bambu tradisional sebagai bekal proses pembelajaran materi seni musik. Adanya kendala dengan tidak tersedianya sarana pembelajaran berupa instrumen musik bambu sebagai media belajar, . Sangat kurangnya wawasan dan apresiasi guru seni terhadap kesenian lokal, baik yang dalam bentuk tradisional maupun karya-karya baru, sehingga anak didik tidak mendapat informasi yang lengkap tentang kekayaan dan perkembangan budaya lokal. Terbatasnya ruang fasilitasi guru dalam mengembangkan bidang ketrampilan dan pengetahuan kesenian daerah, sehingga di dalam pekerjaan pokoknya sebagai guru seni menjadi tidak maksimal terutama berkenaan dengan pemberian materi ajar kepada siswa yang kecenderungannya menjadi tidak berkualitas dan tidak menarik. Berangkat dari permasalahan yang ada pada guru-guru seni di Kabupaten Magetan berkait dengan kemampuan penguasaan praktik penyajian musik tradisi dan penyususnan musik baru yang rata-rata berkemampuan kurang, maka dalam kerjasama ini dipandang perlu seorang guru seni diberi bekal yang cukup untuk menguasai bidang keahlian praktiknya agar dalam tugasnya sebagai pendidik/guru kelas dapat menghasilkan anak didik yang berkualitas. Kabupaten Magetan menyimpan dan memiliki kesenian lokal yang khas, unik serta spesifik yakni musik bambu, maka pada program ini dicoba difokuskan pada dua bentuk kegiatan yaitu pelatihan karawitan tradisi gaya Kabupaten Magetan gamlean calung dan pelatihan penyusunan musik baru bentuk pengembangan musik tongling dengan idiom mayoritas instrumen bambu. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Darno, dkk: Reaktualisasi Musik Tongling Di Sanggar Seni Pringgowulung Dengan Metode 4N Dalam program PKM ini pengusul berupaya, berinisiatif untuk mengalihkan peran penyangga musik tradisional dari pelaku seni ke guru-guru seni yang terhimpun melalui MGMP seni budaya. Pekerjaan ini pasti sulit dan berat karena guru seni tidak hanya fokus pada bidang seni tertentu saja, namun setidaknya jika dapat ditangani dunia pendidikan kesenian lokal bisa tersalurkan secara akademis kepada generasi penerus . eserta didi. melalui mata pelajaran muatan lokal baik dari aspek pengetahuan maupun ketrampilannya. Berdasarkan dari serangkaian hasil survei terhadap mitra organisasi MGMP Seni Budaya di Kabupaten Magetan, ditemukan berbagai permasalahan seagai berikut: Terbatasnya pemahaman guru-guru seni tentang sifat-sifat dan estetika kesenian lokal sehingga berdampak pada minat yang rendah terhadap rasa ingin tahu akan nilai-nilai yang ada dalam kesenian daerah. Masih minimnya kemampuan guru seni terhadap bidang keahlian praktik musik tradisional khususnya musik bambu, . Masih kurangnya kesadaran sebagian besar guru seni untuk memperdalam kemampuannya dibidang keahlian musik bambu tradisional sebagai bekal proses pembelajaran materi seni musik. Adanya kendala dengan tidak tersedianya sarana pembelajaran berupa instrumen musik bambu sebagai media belajar, . Sangat kurangnya wawasan dan apresiasi guru seni terhadap kesenian lokal, baik yang dalam bentuk tradisional maupun karya-karya baru, sehingga anak didik tidak mendapat informasi yang lengkap tentang kekayaan dan perkembangan budaya lokal. Terbatasnya ruang fasilitasi guru dalam mengembangkan bidang ketrampilan dan pengetahuan kesenian daerah, sehingga di dalam pekerjaan pokoknya sebagai guru seni menjadi tidak maksimal terutama berkenaan dengan pemberian materi ajar kepada siswa yang kecenderungannya menjadi tidak berkualitas dan tidak menarik. METODE Beberapa strategi yang akan dilakukan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah berupa langkah-langkah yang sangat mungkin dan bisa dilakukan oleh siapapun. Langkah-langkah tersebut adalah sangat sistematik dan logis, karena menjadi sangat mudah dijelaskan secara akademis. Kiranya menjadi penting dalam dunia pendidikan diajarkan logika-logika kreatif kepada anak didik melalui dunia penciptaan seni musik. Dalam usaha untuk melancarkan target capaian hasil pelatihan program PKM karya seni, maka pengusul akan melakukan rangkain pelaksanaan kegiatan sebagai berikut: Pertama adalah presentasi seminar dengan topik AuKronologi musik bambu Banyumas dan ciri khas keunikan estetika lokalAy. Dalam tahapan ini capaiannya adalah membentuk rasa penasaran yang tinggi pada para guru tentang keingin tahuan dari keunggulan secara estetika musikal dan keunikan dan ciri khas yang dimiliki oleh musik tongling Magetan, sehingga kemudian memiliki dorongan yang kuat untuk minat belajar Untuk mempengaruhi rasa menjadi ingin tahu salah satu upayanya adalah memberi contohcontoh permainan usik tongling mulai dari yang paling mudah/sederhana hingga yang paling rumit/sulit. Setelah mengapresiasi dan mencermati berbagai unsur sajian musikal musik tongling, lalu diberi penjelaskan dan keyakinan bahwa tidak ada hal yang sulit jika ada tekad dan rasa memiliki serta kepedulian yang tinggi terhadap nilai-nilai lokal. Cara yang kedua adalah semua peserta diperlakukan sama, yakni diberi pelatihan cara memainkan instrumen dengan teknik dan pola yang mudah dan sederhana. Dari pelatihan tahap ini maka akan terlihat masing-masing peserta akan kemampuan secara pribadinya terhadap ketrampilan yang dimiliki, sehingga Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 akan memudahkan pelatih untuk mengelompokkan kelas kemampuan dalam rangka untuk mengembangkan tahap berikutnya pada level sajian yang lebih kompleks. Tahap ketiga adalah kelanjutan level kemampuan teknik interaktif. Pada level ini peserta diberi pola-pola sajian intrumen yang beragam, yang disesuaikan berdasarkan kemampuan masing-masing peserta yang telah dilihat dari pelatihan tahap sebelumnya. Bagi peserta yang dilihat memiliki kecepatan menirukan dan memainkan secara individu, akan diberi pola-pola sajian yang lebih sulit. Jika terlihat dari daya tangkap dan fleksibelitas tangan dalam memainkan instrumen ada yang secara visual terlihat rilex, maka pelatih akan memberikan teknik serta pola yang lebih dinamis. Begitu seterusnya pelatih memberikan rangsanganrangsangan kognisi dan psikomotorik sehingga akan memudahkan untuk modal dasar dalam menyusun sebuah bentuk karya baru. Tahap keempat adalah mengelompokkan kemampuan peserta berdasarkan level masing-masing untuk dijadikan ukuran dalam menyusun menyusun karya. Pada tahap pengelompokan di sini, pelatih akan memberikan materi-materi pola sajian instrumen, dengan berdasarkan pada unsur-usur musikal yang kompleks dan atau beragam. Untuk mempermudah dalam masing-masing pemain instrumen cepat menguasai pola sajian yang diberikan, maka akan dilakukan bentuk pelatihan secara parsial. Tahap ini adalah proses penggemblengan teknik dan hafalan setiap individu, sehingga jika masing-masing telah terlihat menguasai dengan terampil maka akan dilanjutkan pada tahap berikutnya yakni penggabungan. Tahap ke-lima adalah proses penggabungan unsur-unsur musikal dalam kerangka penyusunan musik Dalam tahap ini semua peserta pelatihan dilatih dan dikondisikan terlebih dahulu untuk mengenal pola masing-masing pemain instrumen, untuk kemudian pelatih/penyusun memahamkan kepada semua pemain isntrumen akan pentingnya hubungan jalinan pola setiap pemain sehingga jika bermain dalam satu kerangka akan mengetahui efek masing- masing pola terhadap kesan musikalitas dalam sajian karya secara utuh. Tahap ke-tujuh adalah proses pendalaman materi. Proses pendalaman materi dalam sebuah kerja penyusunan karya baru adalah bagian akhir dari keseluruhan proses yang lalui. Pada tahap ini penyusun/ pelatih akan mengontrol masing- masing permainan instrumen, sehingga jika terdapat kekurangan dalam mencapai kesan musikal yang dikehendaki maka dapat dilakukan evaluasi dan pembenahan-pembenahan secara mendalam. Melalui pelatihan kreativitas penyusunan karya musik baru ini diharapkan akan menciptakan tenagatenaga guru seni yang kreatif dan mumpuni. Dengan demikian maka kekhawatiran akan punahnya keberlangsungan kesenian tradisional tidak akan terjadi lagi. Guru seni yang mumpuni dan mencintai kesenian tradisi lokalnya akan secara otomatis menjadi media transformasi keberlangsungan kesenian tradisi kepada generasi muda yang dalam hal ini adalah anak didik. Kegiatan pemberdayaan MGMP bertajuk strategi penyusunan musik baru akan berlangsung sekitar 6 . bulan yang dimulai dari tahapan observasi sampai penyususnan laporan kegiatan. Rencana kegiatan akan lebih mengutamakan dalam pembentukan sikap kebersamaan, kedekatan secara emosional antara mentor, narasumber dan peserta kegiatan, sehingga materi bisa terserap secara optimal tanpa ada yang merasa terpaksa dan dibebani dengan kegiatan tersebut. Narasumber dan mentor akan selalu dikondisikan bersikap terbuka untuk saling berbagi dan menerima semua ide-ide kreatif yang lahir dari peserta kegiatan, sehingga program ini tidak semata-mata mengutamakan hasil produk seni musik secara instan namun lebih membentuk kesadaran semua peserta pelatihan akan pentingnya sebuah proses. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Darno, dkk: Reaktualisasi Musik Tongling Di Sanggar Seni Pringgowulung Dengan Metode 4N Dalam kegiatan ini akan membuat target dan luaran kegiatan PKM bagi guru seni di dalam pelaksanaan Target dan luaran dapat dijelaskan melalui 5 . aspek yang utama, yaitu : Menghasilkan modul penyusunan musik baru yang bersumber dari musik tradisional Menghasilkan karya musik bambu baru bentuk pengembangan musik Tongling Menghasilkan artikel yang siap dimuat dalam jurnal ilmiah sebagai publikasi dan pertanggungjawaban kepada dunia seni umumnya, mitra kerja sama dan lembaga ISI pada khususnya. Pergelaran musik bambu inovasi Dokumentasi audio visual pergelaran musik baru hasil karya peserta pelatihan. PEMBAHASAN Berangkat dari permasalahan mendasar pada rata-rata seniman awam di Kabupaten Magetan yang sebagian besar tidak memiliki kemampuan memainkan alat musik bambu. Sebagain besar musik daerah di wilayah Kabupaten Magetan terbuat dari bahan baku logam. Terdapatnya alat musik yang ada di sebagian daerah Kabupaten Magetan, sebagian berbentuk kentongan, yang tidak memiliki nada-nada untuk sengaja disusun sebagai salah satu unsur dalam membuat pola-pola lagu atau melodi. Alat musik kentongan sering disebuat instrumen tektek, yang secara bunyi dan pola tabuhannya hanya berbentuk permainan pukulan ritmis yang relatif bebas, dan atau sekedar membuat jalinan bunyi yang saling mengisi saja. Dalam musik kentongan . lebih mudah dimasuki unsur musikal yang bersifat melodis, karena bunyi-bunyi yang terjalin dalam musik kentongan tidak mengingkat system nada apapun baik pentatonik maupun diatonik. Berangkat dari kondisi musik bambu yang demikian, ketika para pemain musik kentongan diminta untuk memainkan musik bambu dengan nada-nada yang tersistem, maka kemudian banyak pemain yang merasa kesulitan untuk bermain bersama dengan yang lain. Kesulitan tersebut tampak ketika antar pemain instrumen harus mampu berinteraksi memainkan bunyi yang bernada untuk membentuk jalinan melodi. Berdasarkan persoalan tersebut, maka perlu diberi pemahaman dasar tentang teknik bermain instrumen bambu untuk membentuk jalinan yang terstruktur. Melalui kegiatan PPM Karya seni kali ini perlu terlebih dahulu diberi pemahan tentang prinsip dasar menyusun melodi, yakni dengan landasi dari hal-hal yang bersifat pengetahuan dan apresiasi. Untuk melandasi pemahaman tentang prinsip dasar menyusun unsur-unsur musikal yang lebih komplek, terlebih dahulu dalam kegiatan ini diberikan edukasi melalui tahapan-tahapan pelatihan yang dimulai dari kegiatan seminar dan apresiasi. Kegiatan Seminar Seminar pada kegiatan ini merupakan bagian penting dalam mengawali seluruh rangkaian tahapan pelatihan untuk mengedukasi dan mengapresiasi para peserta pelatihan dengan mengusung tema AuAktualisasi Musik TonglingAy. Tahapan awal dalam bentuk seminar dan apresiasi seni ini bertujuan untuk membentuk rasa kaingin tahuan yang tinggi bagi para guru dan pelatih karawitan tentang prinsip-prinsip dasar teknik dan garap musikal dalam instrumen musik bambu pada sajian karya baru atau musik inovasi tradisi. Untuk mempengaruhi rasa menjadi ingin tahu salah satu upayanya adalah menunjukan contoh-contoh bentuk pertunjukan konser musik bambu tradisi atau baru melalui tayangan video disertai penjelasan-penjelasan secara komprehensif yang berkaitan dengan tiga aspek yang harus dimiliki oleh seorang pemusik. Setelah mengapresiasi dan mencermati berbagai bentuk konser, lalu diadakan diskusi dan atau tanya jawab yang bertujuan untuk memberi pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep dan prinsip-prinsip dasar menyajikan dan atau menyusun musik baru. Dalam kegiatan seminar semua peserta workshop diharapkan telah memahami prinsip-prinsip dasar musikal, baik yang bersifat konvensional maupun karya musik baru. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Foto seminar dengan tema reaktualisasi musik tongling (Dokumentasi Darno: 7 Agustus 2. Program kegiatan ini difokuskan pada pembentukan perilaku aktif dan kreatif bagi seuruh peserta pelatihan, yang berorientasi pada kemampuan individu seorang guru seni agar mampu dan memahami prinsipprinsip penggarapan musik tongling dan penyusunan musik baru dalam bentuk inovasi tradisi. Berangkat dari kebutuhan tersebut maka diperlukan seperangkat metode yang tepat dan cepat bagi seorang guru untuk mampu menjadi pendidik yang profesional, cerdas, kreatif dan berwawasan luas terutama berkenaan dengan pengetahuan musik daerah. Dalam rangka proses pembelajaran praktik musik Tongling dan penerapan konsep reaktualisasi pada guru-guru seni diperlukan strategi pembelajaran. Djamarah dan Zain . 6:5-. akan mengemukakan pendapatnya bahwa dalam proses belajar mengajar ada empat strategi dasar, yaitu: Mengidentifikasikan serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana diharapkan. Memilih teknik pendekatan belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif untuk mencapai Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan Menerapkan norma-norma atau kriteria keberhasilan sehingga dosen mempunyai pegangan yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai keberhasilan tugas-tugas yangakan diberikan. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah dengan cara Trainer penciptaan. Dalam proses pembelajaran karawitan gaya Kabupaten Magetanan, digunakan beberapa metode mengajar sesuai dengan tujuan instruksional khusus yang ingin dicapai. Di antara berbagai metode yang gigunakan antara lain metode latihan, metode demonstratif, metode drill, metode tanya jawab, metode instruksional, dan lain- lain sesuai dengan situasi yang terjadi dalam proses pelatihan. Untuk mencapai target yang diharapkan dengan hasil yang terukur dalam proses penyusunan karya musik digunakan pendekatan saintifik melalui tahapan-tahapan secara sistematik yang disebut dengan 4N yaitu: niteni, nirokke, nentokke, nerapke. Berikut ini penjelasan secara rinci yang dimaksud dengan tahapan 4N. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Darno, dkk: Reaktualisasi Musik Tongling Di Sanggar Seni Pringgowulung Dengan Metode 4N Tahap Niteni Niteni adalah istilah yang berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti memperhatikan. Dalam kontek proses pelatihan ini tahapan niteni adalah langkah awal yang sifatnya mendasari peserta kegiatan dalam mengukur kemampuan masing-masing personal dalam menyerap pengetahuan yang diperoleh baik mendengarkan maupun melihat. Foto pelatihan, penjelasan tentang teknik memproduksi bunyi instrumen bambu dengan pola- pola tabuhan yang dasar (Dokumentasi Darno 12 Juli 2. Pada tahapan ini narasumber memberikan penjelasan tentang cara-cara memegang tabuh, membunyikan instrumen, dan tempat memukul instrumen yang tepat agar menghasilkan bunyi yang jernih. Teknik dasar adalah tahapan yang sangat penting, karena dengan diawali dari pemahaman dan teknik produksi bunyi yang benar maka peserta pelatihan akan mampu menyusun musik yang bunyi-bunyinya dapat terdengar secara jelas sesuai dengan estetika bunyi bambu yang ideal. Selain peserta diberi penjelasan tentang hal-hal teknik berkaitan dengan memproduksi bunyi, pada tahapan juga diberikan pola-pola tabuhan dasar yang diarahkan pada bentuk-bentuk jalinan antar instrumen. Pada penyampaian pola-pola tabuhan, semua peserta harus fokus dengan polanya masing-masing baik yang berkaitan denga ritme maupun hitungan setiap bagiannya. Ketika semua pemegang instrumen telah yakin dan konsisten secara berulang-ulang dengan tabuhan yang benar maka narasumber kemudian memberikan langkah berikutnya yakni langkah penggabungan. Tahap Nirokke Nirokke merupakan kosa kata Bahasa Jawa yang artinya menirukan. Tahap nirokke merupakan bagian yang sangat menentukan tingkat kepekaan, kecerdasan serta keterampilan peserta didalam menyerap penjelasan tahap pertama. Pada tahap nirokke hal yang paling sulit adalah saat semua peserta mempraktikkan pola tabuhannya masing-masing dengan ritme yang berbeda-beda. Jika antara pemegang instrumen satu, dua dan yang lainnya mudah terpengaruh, maka jalinan yang akan dibangun dapat rusak. Jika secara berulang-ulang dalam tempo tertentu ternyata dirasa sulit dan tidak berhasil membetuk jalinan yang benar, maka langkah selanjutnya dilakukan dengan tempo yang lambat secara simultan hingga masing-masing pemegang instrumen banar- benar telah nyaman dan merasakan hubungan harmonisasi antar Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 intrumen tersebut. Target dalam tahap ini adalah mampu menirukan pola jalinan sesuai dengan yang dikehendaki oleh narasumber. Foto siswa SD Wonomulyo sedang menirukan pola-pola tabuhan yang dicontohkan oleh pelatih (Dokumen Darno: 13/07/2. Tahap Nentokke Nentokke adalah istilah yang berasal dari bahasa Jawa yang artinya menirukan. Pada tahap nirokke peserta pelatihan benar-benar harus memiliki kemampuan yang baik tentang tindakannya terutama di dalam menuangkan hasil keputusan dalam menentukan teknik dan pola-pola tabuhan isntrumen yang telah dirumuskan. Dalam tahap nentokke setidaknya ada tiga capaian hasil keputusan peserta pelatihan yakni: kemampuan menentukan teknik produksi bunyi yang benar, menentukan pola tabuhan yang tepat dan kemampuan menghubungkan pola antar instrumen yang harmoni. Dalam tahap nentokke masing-masing peserta workshop diharapkan telah memiliki kemampuan dalam memilih repertoar-repertoar garap musikal yang disesuaikan dengan konsep dan gagasan karya yang telah dirancang. Tahap Nerapke Pada tahapan nerapke di samping mampu menentukan teknik, pola, dan jalinan antar instrumen, peserta juga diharuskan mampu menentukan tempo dan volume. Tempo dan volume menjadi sangat penting dalam sajian musik, karena dua aspek musikal tersebut menjadi salah satu pembentuk karakter musikal yang dapat menjadikan kesan musikal bisa beragam suasana. Tahap nerapke juga menjadi bagian yang sangat urgen, karena disamping dapat berpengaruh kepada baik buruknya bangunan musikal, juga berhubungan dengan gagasan musikal yang diacu sebagai capaian utama. Jika gagasan musikal yang dalam konsep kekaryaan sebagai dapat disebut sebagai abstraksi musikal tidak relefan dengan hasil susunan musik, maka karya tersebut dianggap gagal, karena penyusun karya dianggap tidak mampu menghubungkan antara aspek kognitif dengan aspek psikomotoriknya. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Darno, dkk: Reaktualisasi Musik Tongling Di Sanggar Seni Pringgowulung Dengan Metode 4N Foto siswa SD Wonomulyo berlatih menuangkan pola-pola tabuhan di tahap nentokke dan nerapke (Dokumentasi Darno 13 Juli 2. Workshop Penyusunan Karya Musik Tongling Workshop penyajian instrumen dalam kegiatan ini merupakan bentuk implementasi instrumen yang dititik beratkan pada teknik pembunyian dan cara-cara menyusun dalam kesatuan musikalitasnya. Sebelum para peserta workshop mendapat pelatihan praktik menyajikan instrumen, terlebih dahulu narasumber menjelaskan unsur-unsur musikal yang disertai beberapa contoh secara praktis melalui media instrumen yang telah dibuat oleh masing-masing peserta workshop. Unsur-unsur Musikal Mengingat bahwa peserta workshop sebagian besar tidak memiliki keterampilan, pengatahuan serta dasar-dasar musikal yang memadai maka narasumber memberikan pengetahuan dan teknik yang dimuai tingkat yang paling dasar. Beberapa unsur musikal yang disampaikan oleh narasumber pada tingkat dasar dalam pertemuan pertama antara lain: - Pengertian tentang tempo beserta dengan contoh-contohnya - Pengertian tentang irama beserta dengan contoh-contohnya - Pengertian tentang laras . istem nad. beserta dengan contoh-contohnya - Pengertian tentang melodi . engkok/lag. beserta dengan contoh-contohnya - Pengertian tentang ritme beserta dengan contoh-contohnya - Pengertian tentang udar beserta dengan contoh-contohnya - Pengertian tentang sirep beserta dengan contoh-contohnya - Pengertian tentang senggak beserta dengan contoh-contohnya - Pengertian tentang gregel beserta dengan contoh-contohnya Penjelasan Tentang Teknik Penyajian Instrumen Instrumen musik bambu dimaksud disini adalah salah satu media pokok yang berupa alat-alat musik terbuat dari bahan baku bambu. Ada beberapa instrumen yang digunakan sebagai media workshop penyajian musik musikal antara lain: gumbeng, kenthur, gambang calung, dan kenthongan. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Instrumen Jyndhym Jyndhym adalah satu jenis instrumen yang memiliki ambitus dalam wilayah nada rendah dengan karakter bunyi ulem1, bergaung panjang, berlaras slendro, memiliki enam tabung dan atau enam nada secara berurutan: . 1 2 3 5 . Berdasarkan atas potensi sumber bunyi dan teknik cara membunyikan dengan cara ditabuh . dengan alat tabuh yang lunak, maka gumbeng dikategorikan pada jenis instrumen yang bersifat ritmis/melodis. Artinya ia lebih tepat jika untuk menyajikan pola-pola melodi pendek dengan diperkuat hentakan pola ritme sehingga perpaduan antara melodi dengan ritme menjadi melodi yang ritmis. Berikut salah satu contoh bentuk melodi yang ritmis pada sajian instrumen Jyndhym: j25 j. 5 2 5 j25 j. j62 j. 2 6 2 j62 j. 2 6 2 Pola tersebut akan lebih tepat dan lebih berimbang jika dimainkan dengan tabuh dua. Instrumen kynthur Pada waktu dibuat alat tersebut belum terpikirkan nama, namun kemudian dalam kebutuhan tertentu lalu alat tersebut dinamakan kenthur yang nama tersebut diambil dari bunyi teknik getar berbunyi thur. Instrumen kynthur dibunyikan dengan satu tabuh yang pada ujung tabuh tersebut dibalut karet . an dalam sepeda moto. agar bunyi yang dihasilkan menggema. Kenthur memiliki karakter bunyi yang lunak, ulem, jernih dan berambitus nada yang lebih tinggi dibanding dengan instrumen gumbeng. Bentuk permainan instrumen kenthur lebih bersifat interaksi pola ritme, yakni permainan pola-pola pendek yang dipadukan antar instrumen kenthur sehingga menjadi sebuah jalinan yang indah. Berikut contoh pola ritme permainan instrumen - Kentur satu nada 2-3 dimainkan dengan pola [ j. 2 j3k33 ] - Kentur dua nada 5-6 dimainkan dengan pola [ j6 6 k5j5. - Kentur tiga nada !-@ dimainkan dengan pola [ j. @ j!@ j. ! j@! ] Instrumen gambang bambu . Gambang calung adalah salah satu instrumen yang ada pada gamelan tradisional yang bernama Ada lima jenis instrumen dalam seperangkat gamelan calung adalah: gambang 1, gambang 2, dhendhem, kenong, gong bumbung, dan kendhang. Seperti dalam tradisinya, instrumen gambang calung dalam workshop ini juga difungsikan sebagai penyaji melodi, karena pola-pola yang disajikan lebih bersifat melodis atau dalam istilah jawa AunglaguAy. Sesuai dengan perannya sebagai penyaji lagu, maka pada pelatihan penyajian instrumen gambang calung juga lebih perankan sebagai penyaji melodi. Namun karena gambang calung memiliki banyak potensi musikal, maka dalam pelatihan penyajian instrumen digunakan juga untuk menyajikan berbagai unsur musikal antara lain pola ritme, pola imbal, dan pola cengkok pendek Instrumen gambang calung dimainkan dengan menggunakan tabuh dua, yang bentuk tabuhnya menyerupai tabuh gambang gamelan ageng. Tabuh instrumen gambang dibalut dengan karet ban dalam sepeda motor, agar bunyi yang dihasilkan bisa bergaung/bergema serta tidak cepat merusak/memecahkan bilah gambang. Berikut salah satu contoh dari pola permainan instrumen gambang calung: Volume 14 No. 2 Desember 2023 Darno, dkk: Reaktualisasi Musik Tongling Di Sanggar Seni Pringgowulung Dengan Metode 4N Pola kenthur: [ x6x x3x . [ 2 . [ . [ 2 . 5 6 ] Aransmen Lagu Daerah (Jula-jul. Pada tahap ini penyusun . harus menentukan jenis karya yang diinginkan, yaitu jika penyusun akan membuat karya bentuk aransmen maka langkah awal yang harus ditentukan adalah lagu pokok sebagai sumber pengembangan. Dalam hasil workshop kali ini salah satu sumber yang diaransemen oleh pelatih adalah lagu Kaji-kaji, yang lagu tersebut berkarakter gembira berlaras slendro. Berdasarkan karakter tersebut maka komposer harus memilih unsur- unsur lain yang mampu mendukung karakter lagu Unsur-unsur pendukung dalam membangun karakteristik karya baru tersebut lalu disusun berdasarkan rancang bentuk karya yang direncanakan sebelumnya. Di samping rancang bentuk dalam pengertian format garapan musikal, juga dirancang pula tentang pembentukan dinamika sajiannya yang di dalamnya terdapat unsur keras lirih, cepat lambat, dan bentuk-bentuk repetisi pola. Dalam pelatihan kali ini narasumber menerapkan konsep karya inovasi tradisi yang bersumber dari lagu daerah Jawa Timur berjudul Jula-juli laras slendro pathet sanga. Berikut ini rancangan karya inovasi Jula- juli dalam musik Tongling: - Membuat intro - Membuat rambatan - Lagu pokok dan instrumentasinya - Membuat pengembangan garap instrumen - Membuat penutup Instrumen Notasi Keterangan Bagian Intro jpPI j. D D gj5kj. Kendang Gambang Jimbeng 2 k35 j6k. 2 k35 j6k. ! j@# 5 j5k55 j^^ j!! j66 j23 j5k. 5 j32 j. j61 j23 Sajian pertama Disajikan dengan tempo Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Bagian lagu utama Jimbeng Gambang 66 55 66 55 66 55 66 55 66 22 66 22 66 22 66 22 66 55 66 55 66 55 66 55 22 11 22 11 22 11 22 g11 22 11 22 11 22 11 22 66 22 66 22 66 22 66 22 66 22 11 22 11 22 11 22 11 66 55 66 55 66 55 66 g55 j6 ! j@k. @ j6 ! 5 j@k. @ j!@ j. 5 j35 6 k35k35 6 @ j6 ! j@! j6k. ! j. j@ ! 6 j! @ Ketukan tempo lagu j! 6 ! j@k. 5 j6 ! @ j@ ! 6 j @ j6 ! 55 j. # j@ ! k 5 j6 ! j@k. 5 j6 ! @ Gg. 5 j55 Gg. 5 j6 j! 6 j@ ! Volume 14 No. 2 Desember 2023 Ketukan tempo lagu Darno, dkk: Reaktualisasi Musik Tongling Di Sanggar Seni Pringgowulung Dengan Metode 4N Kenong j2j 5 j. j 5 2 j2j 5 j. j6j 2 j. j 2 6 j6j 2 j. 2 j2j 5 j. j 5 2 ! 5 Vokal j2j 5 j. j5j ! j. j5j ! j. 5 j5j ! j. g! j5j ! j. ! j2j 6 j. j 6 2 j2j 6 j. 6 j5j ! j. j ! 5 j5j ! j. ! j2j 5 j. j 5 2 Kenthur j2j 5 j. 55 k2j2. j55 k2j2. j55 k2j2. j55 k2j2. @ j!@ ! j@! @ j!@ ! j@! ] . @ j!@ ! j@! @ j!@ ! j@!] . 2 j5k55 2 j5k55 2 j5k55 j. 2 j5k. ! j6j 5 e la ! j6j 5 e- la a- ja ! @ ^j ! ci- la- ka- ne j!j ! ! ke-te- mu mbu- ri de- men Ketukan Ketukan tempo lagu 5j 2 j3j 2 2 yok nga- pusi Ketukan tempo lagu lo j. @ ^j ! j!j ! ! ! ! cila- ka- ne ke- te- mu mbu- ri j ! j6j ! ! ! Pring pring bong- ko-tan 5xj c6 tak ke- thok ga- ce- le- ngan j5j 5 5 6 j!j ! 6xj c! ! ! Ce-lengan a- nyar di co- long ma-ling j5j 5 j5j 5 j5j ! 6xj c5 j5j 5 j3j 5 j5j 5 5 nginceng temanten a-nyar di en-tup ka-la jeng-king Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 KESIMPULAN Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dosen perguruan tinggi adalah suatu keniscayaan yang telah mentradisi menjadi pendorong perkembangan seluruh aspek kehidupan di masyarakat. PKM adalah salah satu wujud kepedulian masyarakat akademisi dalam mengabdikan diri kepada masyarakat dengan tujuan agar terjadi sinergitas antara perkembangan ilmu pengetahuan di kampus dengan kehidupan masyarakat di daerah. Aspek-aspek kehidupan yang terintegrasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan di kampus telah terbukti kemanfaatannya sebagai pendorong daya hidup masyarakat menjadi semakin maju sejalan dengan arus perkembangan jamannya, termasuk aspek kehidupan masyaraat dibidang kesenian. ISI Surakarta yang seacra spesifik mendorong sektor kehidupan dibidang kesenian, telah membuktikan prestasinya dalam turut serta membangun iklim pertumbuhan kesenian-kesenian daerah hingga mampu berkembang selaras dengan pertumbuhan aspek kehidupan yang lain. Kehidupan kesenian akan menjadi bermanfaat dan berdaya hidup bagi masyarakatnya jika kesenian tersebut mampu berinteraksi dan beradaptasi dengan lingungannya. Kemampuan beradaptasi dalam kehidupan kesenian dapat menjadi persoalan yang serius jika tidak dikawal dan dikendalikan oleh orang yang benarbenar memiliki kompetensi dibidangnya. Kesenian selalu mengalami perekembangan, ia berjalan seiring dengan dinamika jaman. Dewasa ini di daerah-daerah telah banyak kesenian tradisi yang dikembangkan oleh para pelaku seni, namun sayangnya banyak pula yang cara mengembangkannya tidak dibekali ilmu pengetahuan yang cukup sehingga banyak yang kemudian berlawanan dengan norma-norma yang ada pada budaya masyarakatnya. Tidak sedikit karya-karya seniman pelaku yang hanya berorientasi pada pemenuhan selera pasar, yang di dalam pengolahannya mengabaikan aspek-aspek mendasar yakni nilai estetik dan etik. Kehadiran ISI Surakarta melalui program PKM dosen menjadi sangat penting sebagai penyeimbang atas derasnya arus perkembangan kesenian-kesenian yang hidup di daerah yang semakin hari semakin tak Eksistensi kesenian tradisi di daerah-daerah tampaknya jika diserahkan secara bebas kepada pelaku seni, tidaklah menunjukkan prestasi yang membanggakan, namun justru sebaliknya. Hal ini terbukti telah maraknya penyajian kesenian musik tradisi di daerah yang didominasi oleh sajian AudangdutAy dan AupopAy, yang terkesan dipaksakan untuk masuk dalam gamelan Jawa. Jika hal ini dibiarkan berlangsung tanpa diproteksi oleh seniman-seniman yang memiliki ilmu yang tepat, maka tidak mustahil jika kesenian-kesenian daerah akan kehilangan jati dirinya. Dengan demikian maka peran perguruan tinggi senilah yang tepat untuk mengkawal laju perkembangan kesenian-kesenian daerah agar keberadaannya tetap membawa nilai-nilai seni yang Kesenian daerah dewasa ini dalam kenyataan sudah banyak yang dirusak bahkan punah, ia terjadi tidak lain akibat dari prilaku sebagian besar pekerja seni yang ada di daerahnya. Mereka dengan sadar atau tidak sadar telah melakukan segala upaya dengan berkesenian untuk memenuhi tuntutan hidupnya. Bentuk-bentuk hadirnya genre musik baru banyak yang mengacuhkan nilai-nilai budaya adiluhung. Ini sebagai bukti bahwa pelaku/pekerja seni tidak lagi bisa diandalkan sebagai penjaga kesenian tradisinya. Tinggal satu kemungkinan yang bisa dipercaya mampu menjaga nilai-nilai budaya yang ada pada kesenian-kesnian daerah yaitu melalui kelompok sanggar seni di daerah dan dunia pendidikan, yang salah satu program strategisnya adalah pengembangan musik tongling Kabupaten Magetan. Workshop pembuatan instrumen dan penyusunan musik bambu pada kegiatan Pengabdian Pada Masarakat Kelompok kali ini merupakan bentuk pembekalan yang mendasari kemampuan psikomotorik, koknitif dan afektif pada para peserta workshop. Pembekalan akan pengetahuan, keterampilan, dan kepekaan adalah kemampuan fundamental yang harus dibentuk sejak awal agar terbentuk pula dalam diri peserta memiliki interes yang tinggi terhadap hal-hal yang bersifat progresif. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Darno, dkk: Reaktualisasi Musik Tongling Di Sanggar Seni Pringgowulung Dengan Metode 4N Jika kesenian harus berkembang sejalan dengan dinamika jaman, maka peran sanggar-sanggar seni di daerah serta dunia pendidikan harus hadir. Guru-guru yang sebagian besar tidak memiliki kompetensi yang cukup, maka sudah seharusnya melakukan revolusi budaya. Sebagai pengabdi negara, seorang guru adalah tauladan masyarakat, tauladan dari generasi penerus, yang selalu menjadi panutan dalam setiap langkah kehidupanya termasuk juga kehidupan kesenian. Dengan demikian maka tidak ada cara lain kecuali melaukan peningkatan diri melalui pelatihan ketrampilan yang terstruktur dan sistematik untuk mencapai tingkat kemampuan yang memadai menjadi tenaga pendidik yang profesional. Seyogyanya pemerintah daerah Kabupaten Magetan ada perhatian khusus terhadap kegiatan peningkatan pelatihan musik bambu tongling yang berada di desa kantong-kantong seni, karena kenyataannya potensi Sumber Daya Manusia dan potensi kesenian yang ada sekitar setiap desa sangat membutuhkan fasilitasi berupa biaya dan tenaga ahli yang benar- benar mumpuni dibidang kesenian dari sebuah lembaga perguruan tinggi seni. Besar harapan masyarakat desa Wonomulyo dan MGMP seni budaya Kabupaten Magetan bahwa kegiatan pelatihan bidang kesenian khususnya musik baik tradisional maupun inovasi dijadikan program yang berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA