JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI. Vol. No. 2 ,Desember 2024, pp:105-123 p-ISSN : 1979-116X . e-ISSN : 2621-6248 . Doi : 10. 51903/kompak. n page 1 http://journal. id/index. php/kompak Peran Nilai Etika Memoderasi Faktor-Faktor Pencegahan Kecurangan (Studi Kasus: Pada Grup PT. Asvia Laguna Medi. Ananda Dwi Putra1. Windhy Puspitasari*2 Program Studi Akuntansi. Universitas Trisakti. Indonesia E_Mail: windhy. puspitasari@trisakti. ABSTRACT. Article history: Received 13 Agustus 2024 Received in revised form 13 November 2024 Accepted 22 November 2024 Available online 1 Desember 2024 This study aims to obtain empirical evidence regarding the effect of pressure, opportunity, rationalization, and capability on fraud prevention, as well as the moderating role of ethical values in the relationship. Using a causal research design, data were collected through a survey using a questionnaire to 311 leaders and employees of PT Asvia Laguna Medical Group. Analysis was conducted using quantitative methods to evaluate the relationship between variables. The results showed that pressure, opportunity, rationalization, and capability have a positive and significant influence on fraud prevention. In addition, ethical values strengthen the influence of pressure on fraud prevention, but weaken the influence of opportunity, rationalization, and capability on fraud prevention. The conclusion of this study is that internal factors such as pressure, opportunity, rationalization, and capability are important in preventing fraud, and ethical values play a critical role in moderating this Keywords: Fraud Prevention. Pressure. Opportunity. Rationalization. Capability. Ethical Values. Startups Latar Belakang Apa pun organisasinya, skala operasional dan aktivitasnya tetap berisiko mengalami kecurangan atau biasa disebut dengan fraud. Fraud ialah masing-masing kegiatan organisasi yang penuh dengan ketidakjelasan dan bersinggungan dengan risiko, termasuk kecurangan. Kecurangan merupakan tindakan yang bertentangan dengan hukum demi memperoleh keuntungan sehingga memicu kerugian unsur ataupun organisasi (Handayani et al. , 2. Kecurangan laporan keuangan . , dalam penerapannya, mengacu pada penyebaran informasi palsu secara sengaja dibuat atau direncanakan dengan maksud menyesatkan pengguna informasi laporan keuangan (Megawati & Reskino, 2. Contoh fiskal di Indonesia ialah salah satu contoh kasus kecurangan. Masyarakat kini dibuat waswas dengan simpulan PPATK atas klaim kecurangan di di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenke. Menurut PPAT, terdapat transaksi mencurigakan di DPJ dan DJBC senilai Rp349 triliun. Fondasi penerimaan negara berasal dari dua organisasi atau bidang ini. Pajak dan bea cukai menyumbang hampir70% pendapatan negara. Perihal ini Received Agustus 13, 20234 Revised November 13, 2024. Accepted November 22, 2024 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 memperjelas bila sumber utama pendanaan pembangunan ialah sektor fiskal. Pemerintah sebenarnya menciptakan bencana bagi penerimaan pajak di masa depan apabila budaya tata kelola dalam organisasi perpajakan memburuk. Dalam dua tahun terakhir, pengumpulan pajak secara konsisten melampaui tingkat sebelum Covid-19 dan mencapai target. Penerimaan pajak tahun 2021-2022 sudah melampaui target. Kecurangan besar-besaran terjadi di PT Asabri yang merugikan negara Rp22,78 triliun. PT Jiwasraya Rp16. 81 triliun, dan yang terbaru PT Indosurya Inti Finance yang merugikan nasabah Rp106 triliun, menurut Pusat Pelaporan Transaksi Keuangan dan Analisis (PPATK) (Sumber: Sara, 2. Sri Mulyani. Menteri Keuangan, menyampaikan, terdapat 281 karyawan di kementeriannya sudah mendapat tindakan disiplin dari Kementerian Keuangan. Hukuman atau sanksinya ada hubungannya dengan masalah kecurangan. Dia mengatakan, mengungkapkan. Whistleblowing System (WISE), sebuah sistem pengawasan internal, dipergunakan untuk mengetahui atau mengidentifikasi tindakan kecurangan oleh pegawainya sesudah mendapatkan pengaduan yang disampaikan masyarakat atas kecurangan dan pelanggaran hukum yang dilakukan pegawai Kementerian Keuangan. Inspektorat Jenderal kerap menyelidiki pengaduan itu segera dan terus berlanjut hingga masalah itu teratasi (Sumber: Tim CNN Indonesia, 2. Menurut survei yang dilakukan oleh (ACFE Indonesia Chapter, 2. , korupsi ialah jenis kecurangan yang umum terjadi di Indonesia, diikuti oleh penyalahgunaan aset dan kecurangan pelaporan Meskipun telah dilakukan berbagai kebijakan untuk mengurangi korupsi, namun kenyataannya belum ada kebijakan yang efektif untuk memberantas korupsi di Indonesia. Selain itu, laporan penyebab kegagalan startup dirilis oleh CB Insight. Dari dua puluh alasan atau faktor itu, tidak adanya kebutuhan pasar merupakan alasan atau faktor yang paling umum. Penyebab lain yang disebutkan dalam laporan ini termasuk masalah komposisi tim dan berkurangnya ketersediaan dana. Hilangnya antusiasme organisasi/perusahaan dan kegagalan ekspansi pun turut menjadi faktor penyebabnya (Sumber: w. com, 2. Kementerian Komunikasi dan Informatika mengklaim permasalahan manajerial, seperti kurangnya keahlian dan visi yang jelas dari para pendiri, serta kurang fokusnya mereka dalam menjalankan perusahaan, menjadi penyebab utama kegagalan startup di Indonesia (Sumber : databoks. id, 2. Masih rendahnya kesadaran instansi maupun perusahaan di Indonesia akan pentingnya pencegahan dan pengungkapan kecurangan membuat peneliti tertarik untuk membuktikan beberapa faktor yang memengaruhi pencegahan kecurangan. Peneliti mengharapkan agar studi ini nantinya bisa memberi tambahan informasi bagi berbagai pihak tentang pentingnya pencegahan kecurangan, adapun factor-faktor yang dipergunakan yaitu : Fraud Triangle . pportunity, pressure, rationalizatio. , kapabilitas dan Nilai Etika sebagai variabel moderasi. Peneliti tertarik untuk melihat peran nilai etika memoderasi faktor faktor fraud terhadap pencegahan kecurangan . raud preventio. Kajian Teoritis Teori Keagenan (Agency Theor. Jensen & Meckling . menyampaikan bila teori agensi/keagenan . gency theor. berkaitan antara satu pihak . yang memberi wewenang dan tanggung jawab ke pihak lainnya . terkait pengambilan keputusan berdasar pada kepentingan prinsipal. Sesuai konteks sektor pemerintahan, selaku prinsipal, masyarakat memberi mandat atau amanah kepada pemerintah sebagai agen. Prinsipal yang berhak meminta pertanggungjawaban, harus mendapat pertanggungjawaban dari pemerintah yang merupakan agen yang bertugas menjalankan amanah tersebut. Pemerintah wajib menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan seluruh aktivitas atau tindakan yang menjadi kewenangannya. Theory Planned Behavior JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Theory of Planned Behaviour (TPB) merupakan pengembangan dari Theory of Reasoned Action (TRA) yang telah dikemukakan sebelumnya oleh Fishbein dan Ajzen pada tahun 1975. AjzenAos mengatakan TPB telah diterima secara luas sebagai alat untuk menganalisis perbedaan antara sikap dan niat serta sebagai niat dan perilaku. Dalam hal ini, upaya untuk menggunakan TPB sebagai pendekatan untuk menjelaskan whistleblowing dapat membantu mengatasi beberapa keterbatasan penelitian sebelumnya, dan menyediakan sarana untuk memahami kesenjangan luas diamati antara sikap dan perilaku (Park dan Blenkinsopp 2. Theory Fraud Penipuan . merupakan tindakan curang yang melibatkan pelanggaran hukum dengan disengaja demi memperoleh maksud tertentu seperti menipu atau memberi informasi yang salah kepada pihak lainnya, baik dari dalam maupun luar organisasi. Kecurangan ini bermaksud guna memperoleh keuntungan secara personal ataupun kelompok dengan cara tidak jujur, yang menyebabkan pihak lain merugi secara langsung ataupun tidak langsung Fraud Triangle Studi ini mempergunakan teori Fraud Triangle . egitiga kecuranga. yang diperkenalkan Donald R Cressey pada tahun 1950. Studi milik (Cressy et al. , 2. melibatkan wawancara dengan 200 narapidana mantan pegawai yang melakukan pencurian uang perusahaan. Temuan studi tersebut menghasilkan hipotesis bila pelaku kecurangan mengalami kendala finansial yang tidak dapat mereka bagikan dengan orang lain, serta mereka meyakini bila masalah itu bisa diselesaikan dengan menyembunyikan tindakan curang atau menyalahgunakan jabatan mereka, dan mengubah perspektif orang lain terkait tindakan mereka, sehingga tindakan tersebut dianggap sebagai peminjaman bukan pencurian. Pendapat ini cenderung dikenal sebagai segitiga kecurangan (Fraud Triangl. Tiga elemen ini meliputi tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi, merupakan faktor-faktor yang mendorong individu guna bertindak kecurangan (Tuanakotta, 2. Fraud Diamond Teori fraud diamond merupakan perspektif anyar terkait penipuan, sesuai yang disarankan (Wolfe & Hermanson, 2. Gagasan ini merupakan penyempurnaan dari teori Fraud Triangle oleh (Cressey, 1. , menambahkan unsur kualitatif yang dianggap mempunyai keterkaitan cukup penting terhadap tindakan curang atau penipuan. Dalam teori Fraud Triangle ((Cressey, 1. , (Tuanakotta, 2. menyampaikan bila ada unsur tekanan, peluang atau kesempatan, dan rasionalisasi, sementara teori fraud diamond, unsur-unsur tersebut ditambahkan dengan kemampuan atau kapabilitas/kapasitas. Kapabilitas Kapabilitas merupakan kemampuan seseorang dalam menembus pengendalian internal dalam melakukan tindakan kecurangan (Theotama et al. , 2. Kemampuan adalah sesuatu yang berkaitan dengan pemalsuan akademik yang dimiliki oleh siswa ((Parengkuan & Pesudo, 2. (Wolfe & Hermanson, 2. menyampaikan bila kemampuan atau kapabilitas sebagai fungsi penting untuk bertindak Mayoritas kecurangan tidak terjadi tanpa ada pihak yang tepat dengan kapasitas yang tepat untuk bertindak curang. Nilai Etika Untuk penelitian ini, definisi nilai etika diambil dari (Nair et al. , 2. yang berarti bersikap jujur dan patuh terhadap kebijakan dan prosedur suatu organisasi Menurut (Hildayani & Sherly, 2. Nilai memiliki peran penting dalam memahami sikap dan motivasi individu serta memengaruhi persepsi manusia dalam perilaku organisasi. Nilai mencerminkan gagasan seseorang tentang apa yang benar, baik, atau diinginkan, sehingga nilai menjadi dasar yang penting dalam mempelajari perilaku dalam suatu organisasi. JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Pencegahan Kecurangan Penipuan, sesuai didefinisikan oleh Association of Certified Fraud Examiners . , bertolok pada tindakan ilegal yang dilaksanakan oleh individu, baik internal ataupun eksternal terhadap suatu organisasi, dengan maksud memperoleh keuntungan pribadi atau kolektif melalui cara-cara seperti manipulasi atau menyerahkan laporan palsu ke pihak lain. Perbuatan itu menimbulkan kerugian, baik langsung ataupun tidak langsung terhadap pihak lain. Pernyataan Statement of Auditing Standards (SAS) Nomor 99 menjelaskan penipuan . sebagai perbuatan sengaja yang menimbulkan ketidakakuratan signifikan dalam laporan keuangan yang diaudit. Penipuan didefinisikan sebagai tindakan yang disengaja sehingga menimbulkan kesalahan signifikan dalam laporan keuangan yang diaudit. Kerangka Konseptual dan Hipotesis Gambar 1. Model Konseptual Berdasarkan bagan yang disajikan di atas hendak melihat bahwa Pencegahan kecurangan . raud preventio. dipengaruhi oleh empat variabel independen yaitu tekanan . , peluang . , rasionalisasi . dan kapabilitas dan satu variabel moderasi yaitu nilai etika. Fraud Triangle yang terdiri dari . Tekanan (Pressur. merujuk pada faktor-faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan kecurangan, seperti masalah keuangan, tekanan dari atasan, atau dorongan untuk mencapai target yang tidak realistis. Kesempatan (Opportunit. melibatkan adanya kondisi atau situasi yang memungkinkan seseorang untuk melakukan kecurangan tanpa terdeteksi, misalnya lemahnya kontrol internal dalam suatu perusahaan. Rasionalisasi (Rationalizatio. merupakan proses mental di mana pelaku kecurangan meyakinkan diri mereka bahwa tindakan yang dilakukan sebenarnya dapat dibenarkan atau diterima. kapabilitas Pencegahan Kecurangan mengacu pada upaya dan strategi yang digunakan oleh organisasi untuk mencegah kecurangan. Ini meliputi sistem pengendalian internal yang kuat, pendidikan JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 dan pelatihan etika bagi karyawan, penggunaan teknologi untuk deteksi kecurangan, serta kebijakan yang jelas terkait dengan perilaku yang tidak etis. Nilai etika memainkan peran penting dalam memoderasi atau mengurangi dampak dari faktorfaktor dalam Fraud Triangle dan meningkatkan kapabilitas pencegahan kecurangan. Etika memberikan dasar moral yang kuat bagi individu dan organisasi untuk: . Mengurangi Tekanan (Pressur. dimana Nilai etika yang kuat dapat membantu individu untuk menahan tekanan yang mungkin mendorong mereka melakukan kecurangan. Misalnya, etika yang kuat dalam menghargai kejujuran dan integritas dapat mengurangi tekanan untuk mencapai target dengan cara yang tidak jujur. Mengurangi Rasionalisasi (Rationalizatio. dimana Nilai etika yang ditanamkan secara kuat dalam budaya perusahaan dapat membantu mencegah rasionalisasi yang mengarah pada tindakan curang. Karyawan yang memiliki kesadaran moral yang tinggi lebih cenderung untuk menolak pembenaran diri terhadap tindakan curang dan . Meningkatkan Kapabilitas Pencegahan Kecurangan dimana Etika yang terintegrasi dengan baik dalam budaya perusahaan dapat membantu dalam pengembangan dan penerapan kebijakan yang lebih efektif terkait dengan pencegahan kecurangan. Karyawan yang memiliki nilai etika yang kuat akan lebih cenderung mematuhi kebijakan dan pedoman yang ditetapkan oleh perusahaan. Dalam keseluruhan, nilai etika berperan sebagai kerangka kerja moral yang dapat membantu mengurangi tekanan dan rasionalisasi yang dapat mendorong individu melakukan kecurangan serta meningkatkan efektivitas kapabilitas pencegahan kecurangan dalam suatu organisasi. Tekanan memiliki hubungan positif yang signifikan dengan kecurangan. Tekanan adalah anteseden utama untuk perilaku penipuan karena banyak individu dapat memenuhi tuntutan atasan mereka berdasarkan situasi tekanan tinggi. Hal didukung penelitian sebelumnya oleh Nair et al. , . dan Pradipta & Bernawati, . yang mengatakan ada pengaruh positif dan signifikan Tekanan (Pressur. terhadap pencegahan kecurangan . raud preventio. , sehingga penulis merumukan hipotesis H1 : Tekanan (Pressur. berpengaruh positif dan signifikan terhadap pencegahan kecurangan . raud preventio. Kesempatan juga memiliki hubungan positif yang signifikan dengan kecurangan. Ketika individu berada dalam situasi peluang tinggi, mereka lebih cenderung membuat keputusan berdasarkan analisis biaya-manfaat. Mereka akan melakukan perintah atasan mereka jika mereka percaya bahwa tindakan ilegal tersebut memberi mereka keuntungan, memiliki sedikit usia untuk ditemukan, atau tidak memiliki sanksi peraturan yang kuat. Hal ini didukung hasil penelitian terdahulu oleh Nair et al. , . dan Pradipta & Bernawati . yang mengatakan ada pengaruh positif dan signifikan antara Peluang (Opportunit. terhadap pencegahan kecurangan . raud preventio. Dengan hipotesis sebagai berikut: H2 : Peluang (Opportunit. berpengaruh positif dan signifikan terhadap pencegahan kecurangan . raud preventio. Mengungkapkan variabel rasionalisasi berpengaruh besar terhadap kecenderungan kecurangan. Peningkatan rasionalisasi variabel akan meningkat secara signifikan. Karyawan di perusahaan-perusahaan tersebut seringkali melakukan korupsi rasional dengan berbagai cara sehingga menyebabkan individu bertindak tanpa merasa bersalah. Hal ini didukung penelitian sebelumnya oleh Theotama et al. , . yang mengatakan ada pengaruh positif dan signifikan antara Rasionalisasi terhadap Pencegahan Kecurangan (Fraud preventio. Dengan hipotesis sebagai berikut: H3 : Rasionalisasi (Rationalizatio. berpengaruh positif dan signifikan terhadap pencegahan kecurangan . raud preventio. Kapabilitas dalam konteks kecurangan dapat terjadi karena adanya kemampuan untuk mengabaikan rasa bersalah juga memberikan kepercayaan diri dalam melakukan kecurangan. Seringkali, kemampuan untuk mengontrol situasi saat melakukan kecurangan dengan untuk mencontek. Kapabilitas seseorang dalam organisasi dapat mempermudah mereka untuk berbuat fraud di organisasi tempat mereka JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Posisi dalam pekerjaan memberi kekuasaan bagi seseorang untuk mengendalikan situasi yang mereka inginkan untuk mendukung tindakan fraud. Hal tersebut akan mudah dilakukan jika pengendalian di organisasi tidak terlalu baik. Penipuan atau kecurangan akan terjadi jika dilakukan oleh orang yang tepat dan memiliki kapabilitas untuk melaksanakan penipuan (Wijayanto, 2. Hal ini didukung penelitian sebelumnya oleh Artani & Wetra, . yang mengungkapkan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara Kapabilitas terhadap pencegahan kecurangan . raud preventio. Dengan hipotesis sebagai berikut: H4 : Kapabilitas berpengaruh terhadap positif dan signifikan pencegahan kecurangan . raud preventio. Nilai etika adalah salah satu pilar dalam pencegahan kecurangan. Dengan menanamkan nilai etika yang kuat dalam organisasi, tekanan yang ada dapat diatasi dengan cara-cara yang etis, sehingga mencegah terjadinya kecurangan. Dengan hipotesis penelitian ini : H5 : Nilai etika memperkuat pengaruh positif dan signifikan tekanan (Pressur. terhadap pencegahan kecurangan . raud preventio. Peluang untuk berbuat curang muncul ketika ada kelemahan dalam pengawasan prinsipal terhadap Agen yang memiliki nilai etika yang tinggi akan cenderung tidak memanfaatkan peluang ini untuk keuntungan pribadi, melainkan tetap bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip integritas. Nilai etika mempengaruhi persepsi kontrol perilaku, yang merupakan komponen penting dalam TPB. Agen dengan nilai etika yang tinggi akan merasa lebih bertanggung jawab dan memiliki kontrol diri yang lebih baik, sehingga meskipun ada peluang untuk curang, mereka akan memilih untuk tidak melakukannya. Peluang adalah salah satu faktor utama dalam terjadinya kecurangan menurut Theory Fraud. Dengan nilai etika yang kuat, individu atau organisasi akan lebih cenderung menghindari tindakan curang meskipun ada peluang yang memungkinkan. Fraud Triangle menyatakan bahwa kesempatan adalah salah satu elemen kunci yang memungkinkan kecurangan terjadi. Agen dengan nilai etika yang tinggi akan cenderung tidak mengambil kesempatan untuk berbuat curang, karena mereka memiliki komitmen untuk bertindak secara etis dan bertanggung jawab. Peluang untuk melakukan kecurangan dapat diminimalisir dengan menanamkan nilai etika yang kuat dalam organisasi. Agen yang berpegang pada nilai etika akan menghindari tindakan curang meskipun ada peluang, sehingga membantu dalam pencegahan kecurangan. Dengan hipotesis penelitian ini : H6 : Nilai etika memperkuat pengaruh positif dan signifikan peluang (Opportunit. terhadap pencegahan kecurangan . raud preventio. Agen dapat merasionalisasi tindakan curang mereka untuk membenarkan perilaku tersebut kepada Namun, dengan nilai etika yang kuat, agen akan memiliki pandangan yang lebih jernih tentang apa yang benar dan salah, sehingga mengurangi kemungkinan mereka merasionalisasi tindakan curang sebagai sesuatu yang dapat diterima. TPB menunjukkan bahwa sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku mempengaruhi niat seseorang untuk bertindak. Dengan nilai etika yang kuat, agen akan memiliki sikap negatif terhadap rasionalisasi kecurangan, norma subjektif yang mendukung integritas, dan persepsi kontrol perilaku yang mendorong mereka untuk bertindak secara etis. Rasionalisasi adalah salah satu faktor dalam Theory Fraud yang memungkinkan individu untuk membenarkan tindakan curang. Dengan nilai etika yang kuat, individu atau organisasi akan memiliki prinsip yang lebih teguh, mengurangi kemampuan untuk merasionalisasi tindakan curang. Fraud Triangle mencakup rasionalisasi sebagai salah satu elemen yang memungkinkan kecurangan terjadi. Nilai etika yang tinggi akan menghambat kemampuan individu untuk merasionalisasi tindakan curang, karena mereka akan lebih cenderung melihat tindakan tersebut sebagai tidak bermoral dan tidak dapat diterima. JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Nilai etika yang kuat akan mengurangi kecenderungan individu atau organisasi untuk merasionalisasi tindakan curang. Dengan demikian, rasionalisasi kecurangan dapat diminimalisir, membantu dalam pencegahan kecurangan. Dengan hipotesis penelitian ini : H7 : Nilai etika memperkuat pengaruh positif dan signifikan rasionalisasi (Rationalizatio. terhadap pencegahan kecurangan . raud preventio. Kapabilitas agen untuk bertindak curang sering kali disertai dengan peluang untuk melakukannya tanpa terdeteksi oleh prinsipal. Nilai etika yang tinggi dalam agen akan mengurangi kecenderungan untuk menggunakan kapabilitas mereka dalam melakukan kecurangan karena mereka berkomitmen untuk bertindak sesuai dengan prinsip moral dan akuntabilitas. Kapabilitas berkaitan dengan persepsi kontrol perilaku dalam TPB. Agen yang memiliki nilai etika yang kuat akan merasa lebih bertanggung jawab dan memiliki kontrol diri yang lebih baik, sehingga kapabilitas mereka akan digunakan untuk tujuan yang etis dan bukan untuk kecurangan. Kapabilitas merupakan faktor yang memungkinkan individu untuk melakukan kecurangan. Dengan nilai etika yang kuat, individu akan cenderung menggunakan kapabilitas mereka untuk tujuan yang sah dan bertanggung jawab, mengurangi kemungkinan terjadinya kecurangan. Kapabilitas tidak secara eksplisit disebutkan dalam Fraud Triangle, tetapi dapat dianggap sebagai elemen tambahan yang mempengaruhi tekanan, peluang, dan rasionalisasi. Nilai etika yang tinggi akan mengurangi kemungkinan individu menggunakan kapabilitas mereka untuk melakukan kecurangan. Nilai etika yang kuat akan memastikan bahwa kapabilitas yang dimiliki oleh individu atau organisasi digunakan untuk tujuan yang sah dan bertanggung jawab. Dengan demikian, kapabilitas yang dimiliki akan diarahkan untuk pencegahan kecurangan dan bukan untuk memfasilitasi kecurangan. Dengan hipotesis penelitian ini : H8 : Nilai etika memperkuat pengaruh positif dan signifikan kapabilitas terhadap pencegahan kecurangan . raud preventio. Hal ini didukung penelitians sebelumnya oleh Anggrastuti & Mayangsari, . mengatakan etika auditor mampu memoderasi terhadap pencegahan kecurangan . raud preventio. Riset Sabirin, . menunjukan bahwa variabel perilaku etis berpengaruh positif dan siginifikan terhadap pencegahan kecurangan yang artinya semakin baiknya prilaku etis karyawan maka semakin baik pula pencegahan Adiko et al. , . mengatakan etika auditor berpengaruh terhadap pencegahan kecurangan. Metode Penelitian Data kuantitatif berupa skor atau nilai atas jawaban yang diberikan oleh responden terhadap pernyataan-pernyataan yang terdapat di kuesioner (Suliyanto, 2. Jenis pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data primer, yang dapat diperoleh dengan melakukan penyebaran kuesioner secara langsung oleh penulis kepada responden dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang relevan dengan penelitian yang diajukan. PT. Asvia Laguna Medis merupakan Perusahaan manufaktur Instrumen Bedah yang berdiri sejak 2022. Perusahaan tersebut merupakan rumah bagi merek instrument bedah ASVIA. Meskipun Perusahaan ini tergolong baru. PT. Asvia Laguna Medis sudah memiliki 11 distributor resmi yang tersebar di seluruh Indonesia, yang merupakan grup dari Perusahaan tersebut . Penetapan populasi yang tepat sangat penting dalam studi kasus karena hal ini akan menentukan cakupan dan generalisasi temuan penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah pimpinan dan karyawan dari Grup PT. Asvia Laguna Medis. Untuk menentukan sampel dalam penelitian pada Grup PT. ASVIA JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Laguna Medis dengan teknik purposive sampling, pertimbangan-pertimbangan berikut dapat digunakan: Menyasar pimpinan dan karyawan yang memiliki jabatan atau tanggung jawab yang relevan dengan variabel penelitian. Misalnya, memilih manajer yang terlibat dalam pengambilan keputusan strategis dan karyawan yang terlibat dalam proses operasional atau pelayanan. Memilih responden yang memiliki pengalaman kerja tertentu dalam startup tersebut. Misalnya, karyawan yang telah bekerja selama minimal satu tahun untuk memastikan pemahaman yang cukup terhadap kondisi dan budaya organisasi. Fokus pada karyawan dan pimpinan yang terlibat dalam proyek atau inisiatif khusus yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Ini membantu memastikan bahwa responden memiliki wawasan yang Mengambil sampel dari berbagai divisi dan posisi untuk mendapatkan perspektif yang komprehensif. Misalnya, melibatkan karyawan dari berbagai departemen seperti pemasaran, pengembangan produk, dan keuangan. Mempertimbangkan ketersediaan dan kesediaan responden untuk berpartisipasi dalam penelitian. Memilih individu yang bersedia meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner Tabel 1. Sampel Dari Populasi Jumlah Staff Yang Perusahaan Berpartisipasi Skala Jumlah Karyawan Manager Karyawan PT. Asvia Laguna Medis 76 orang PT. Rajawali Nusindo 451 orang PT. Anugrah Permata Pratama 88 orang PT. Lami Indo Medika 65 orang PT. Naga Langit 35 orang PT. Mimar Citra Abadi 40 orang PT. Amanah Jaya Bersama 77 orang PT. EH SYAM 38 orang PT. Kasih Karunia Kekal 476 orang PT. Bwanakerta Sarana Medika 41 orang PT. Enviro Meditech Pratama 360 orang PT. Bara Sehat Jaya 409 orang JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 PT. Buana Inti Medika 56 orang Total Manager Total Karyawan Total Manager dan Karyawan Alat analisis data Statistik inferensial bertujuan untuk mendeskripsikan kesimpulan mengenai populasi berdasarkan data sampel yang dikumpulkan dari responden. Dalam penelitian ini, statistik inferensial menggunakan Partial Least Square - Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Proses ini dimulai dengan penilaian outer model, penilaian model struktural . nner mode. , dan pengujian hipotesis, yang dibantu oleh aplikasi SmartPLS 3. Analisis Partial Least Square (PLS) bertujuan untuk membantu peneliti mendapatkan variabel laten untuk tujuan prediksi. (Ghozali, 2. Metode analisa data yang digunakan pada penelitian ini: Untuk menguji dan menganalisis pengaruh tekanan (Pressur. terhadap pencegahan kecurangan . raud preventio. menggunakan analisis SEM dengan alat bantu SmartPLS Untuk menguji dan menganalisis pengaruh peluang (Opportunit. terhadap Pencegahan kecurangan . raud preventio. menggunakan analisis SEM dengan alat bantu SmartPLS Untuk menguji dan menganalisis pengaruh rasionalisasi (Rationalizatio. terhadap Pencegahan kecurangan . raud preventio. menggunakan analisis SEM dengan alat bantu SmartPLS Untuk menguji dan menganalisis pengaruh evaluasi peluang (Opportunit. terhadap Pencegahan kecurangan . raud preventio. menggunakan analisis SEM dengan alat bantu SmartPLS Untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh nilai etika memoderasi tekanan (Pressur. , peluang (Opportunit. , rasionalisasi (Rationalizatio. dan evaluasi terhadap pencegahan kecurangan . raud preventio. menggunakan analisis SEM dengan alat bantu SmartPLS Hasil Dan Pembahasan Responden yang mengisi kuesioner merupakan pimpinan dan karyawan Grup PT. ASVIA Laguna Medis. Dari distribusi kuesioner didapatkan 311 responden yang telah memenuhi kriteria yang ditentukan dimana untuk level pimpinan pada kepala bagian divisi yaitu keuangan. SDM, operasional dan produksi serta karyawan. Penjelasan tentang profil responden yang menjadi sumber analisis data peneltian ini dapat ditampilkan dalam Tabel 2 sebagai berikut: Tabel 2. Profil Responden Deskripsi Kategori Pria Wanita Jenis Kelamin Total JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Deskripsi Kategori 18-25 Tahun 26-35 Tahun 36-45 Tahun 46-50 Tahun > 50 Tahun SLTA Jenjang Pendidikan Usia Total Total Dari Tabel 2. diketahui bahwa terdapat 62,1% atau 193 responden adalah wanita dan 37,9% atau 118 responden adalah pria. Dari sisi usia, terdapat 55,6% atau 173 responden yang berusia diantara 26-35 Sekitar 51,4% responden memiliki pendidikan terakhir S1. Pengujian Hipotesis Pada penelitian ini analisis inferensial dilakukan dengan metode statistik multivariate, melalui pendekatan Partial Least Square - Structural Equation Model (PLS-SEM). Dalam PLS-SEM, ada dua tahapan evaluasi model pengukuran yang digunakan, yaitu model pengukuran . uter mode. dan model struktural . nner mode. Tujuan dari dua tahapan evaluasi model pengukuran ini dimaksudkan untuk menilai validitas dan reliabilitas suatu model. Suatu konsep dan model penelitian tidak dapat diuji dalam suatu model prediksi hubungan relasional dan kausal jika belum melewati tahap purifikasi dalam model pengukuran (Ghozali, 2016: . Analisa Outer Model (Model Pengukura. Tahap pertama dalam evaluasi model, yaitu evaluasi model pengukuran . uter mode. Dalam PLS-SEM tahapan ini dikenal dengan uji validitas konstruk. Pengujian validitas konstruk dalam PLS-SEM terdiri dari validitas konvergen dan validitas diskriminan. Menurut Jogiyanto . , korelasi yang kuat antara konstruk dan item-item pertanyaannya dan hubungan yang lemah dengan variabel lainnya, merupakan salah satu cara untuk menguji validitas konstruk . onstruct validit. Validitas konstruk terdiri atas validitas konvergen dan validitas diskriminan. Pada software SmartPLS 3. 0 untuk mengukur tingkat validitas dan reliabilitas dilakukan menggunakan beberapa analisis model pengukuran. Pengujian outer JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 model atau model pengukuran akan memberikan gambaran hubungan antara variabel laten dengan Variabel laten atau unobserved variable adalah variabel yang tidak dapat diukur langsung kecuali diukur dengan satu atau lebih variabel manifest. Convergent Validity Validitas konvergen berhubungan dengan prinsip bahwa pengukur-pengukur dari suatu konstruk seharusnya berkorelasi tinggi (Jogiyanto, 2011:. Uji validitas indikator reflektif dengan program SmartPLS dapat dilihat dari nilai loading factor untuk tiap indikator konstruk. Rule of Thumb untuk menilai validitas konvergen adalah nilai loading factor harus lebih dari 0. 7 untuk penelitian yang bersifat confirmatory dan antara 0. 6Ae0. 7 untuk penelitian yang bersifat exploratory, serta nilai average variance inflation factor (AVE) harus lebih besar dari 0. 5 (Ghozali, 2015:. Convergent Validity digunakan untuk mengukur tingkat validitas pada masing-masing variabel laten yang diukur melalui nilai AVE. Nilai AVE yang diharapkan lebih dari 0,5. Rumus AVE yaitu sebagai berkut: Keterangan : = standardized loading factor i = jumlah indikator Sumber: Ghozali, 2006 n = jumlah item pertanyaan yang diuji Tabel 3. Convergent Validity AVE Average Variance Kesimpulan Extracted (AVE) Nilai Akar Kuadrat AVE Tekanan Valid Peluang Valid Rasionalisasi Valid Kapabilitas Valid Pencegahan Kecurangan Valid Nilai Etika Valid Sumber: Data Diolah (PLS 3. Berdasarkan hasil pengujian diketahui semua variable laten menghasilkan nilai AVE lebih dari 0,5. Sehingga dapat dikatakan variabel tersebut valid jika dilihat melalui nilai AVE. Discriminant Validity Discriminant validity merupakan uji evaluasi yang menyatakan bahwasanya suatu indikator reflektif benar menjadi pengukur yang baik bagi konstruknya, masing-masing indikator harus memiliki korelasi tinggi dengan konstruknya. Dalam software smartpls 3. 0 discriminant validity diuji menggunakan nilai JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 cross loading. Konstruk dibandingkan dengan nilai loading dari konstruk yang dituju harus lebih besar dari setiap nilai loading konstruk yang lainnya. Tabel 4. Discriminant validity Outer Loading D11 D12 D13 D21 D22 D23 D31 D32 D33 D41 D42 D43 D44 DY1 DY2 DY3 DY4 DZ1 DZ2 DZ3 Sumber: Data Diolah (PLS 3. Dari hasil estimasi cross loading pada Tabel 4 menunjukkan bahwa bahwa nilai loading dari masing-masing item indikator terhadap konstruknya lebih besar dari pada nilai cross loading nya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua konstruk atau variabel laten sudah memiliki JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 discriminant validity yang baik, dimana indikator pada blok indikator konstruk tersebut lebih baik dari pada indikator di blok lainnya. Uji Reliabilitas Dalam penelitian menggunakan kuesioner dengan model skal likert,variabel yang diukur akan dijabarkan melalui indikator variabel. Dalam PLS-SEM selain pengujian validitas juga dilakukan pengujian reliabilitas. Uji reliabilitas digunakan untuk membuktikan akurasi, konsistensi, dan ketepatan instrumen dalam mengukur konstruk (Ghozali, 2015:. Mengukur reliabilitas suatu konstruk dengan indikator reflektif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan CronbachAos Alpha dan Composite Reliability. Rule of Thumb untuk menilai reliabilitas konstruk adalah nilai Composite Reliability harus lebih besar dari 0. Namun demikian, penggunaan CronbachAos Alpha untuk menguji reliabilitas konstruk akan memberi nilai yang lebih rendah . nder estimat. sehingga lebih disarankan untuk menggunakan Composite Reliability (Ghozali, 2015:. Tabel 5. Hasil Tingkat Reliabilitas Cronbach's Alpha Composite Reliability Kesimpulan Reliabel Tekanan Reliabel Peluang Reliabel Rasionalisasi Reliabel Kapabilitas Reliabel Pencegahan Kecurangan Reliabel Nilai Etika Reliabel Sumber: Data Diolah (PLS 3. Berdasarkan hasil pengolahan nilai CR yang dihasilkan dari semua variable sangat tinggi yaitu diatas 0,90. Artinya reliabilitas diantara semua variabel laten tersebut sangat baik. Analisa Inner Model (Model Struktura. Inner model merupakan model struktural yang digunakan untuk memprediksi hubungan kausalitas . ubungan sebab-akiba. antar variabel laten atau variabel yang tidak dapat diukur secara Structural model . nner mode. menggambarkan hubungan kausalitas antar variabel laten yang telah dibangun berdasarkan substansi teori. Pada uji structural model . nner mode. menggunakan bantuan prosedur Bootstrapping dan Blindfolding dalam SMART PLS. Uji pada model struktural dilakukan untuk menguji hubungan antara konstruk laten. Ada beberapa uji untuk model struktural yaitu seperti: RSquare pada konstruk endogen. Uji Kesesuaian Model dan Uji Individua tau Uji Signifikansi (Sekaran & Bougie, 2. Koefisien Determinasi JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Koefisien determinasi digunakan untuk melihat seberapa besar kontribusi variabel independen dalam menjelaskan hubungannya dengan variabel dependen. Koefisien determinasi dilakukan dengan melihat nilai statistik R-Squared pada masing-masing hubungan variabel. Model struktural merupakan sebuah pengujian digunakan untuk memprediksi hubungan antar variabel laten dan mengukur kriteriakualitas model pada PLS dengan cara melihat nilai R-square atau koefisien Nilai koefisien dari pengujian menunjukan seberapa besar variabel endogen dapat dijelaskan oleh variabel eksogen. Evaluasi nilai R-square sebesar 0,67 menunjukkan bahwa model yang kuat. 0,33 menunjukkan bahwa model moderat dan 0,19 menunjukkan bahwa model yang lemah. Tabel 6. Hasil Tingkat Reliabilitas Pencegahan Kecurangan R Square R Square Adjusted Sumber: Data Diolah (PLS 3. Dapat dilihat bahwa nilai R-Square pada model Pencegahan Kecurangan sebesar 0,937. Angka tersebut menggambarkan bahwa kemampuan variabel independent dan moderating dalam Penelitian ini memiliki kontribusi dalam menjelaskan variabel Pencegahan Kecurangan sebesar 93,7% sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Uji Kesesuaian Model Fit Uji kesesuaian model menggunakan beberapa indikator statistik diantaranya. Standardized Root Mean Square Residual (SRMR). Normed Fit Index (NFI) dan RMS_theta. Model dikatakan memenuhi kriteria model fit, nilai SMSR < 0,05 (Cangur dan Ercan, 2. Namun berdasarkan penjelasan dari situs SMARTPLS, batasan atau kriteria model fit antara lain: Nilai RMS Theta atau Root Mean Square Theta < 0,102. Nilai Standardized Root Mean Square (SRMR) < 0,10 atau < 0,08 dan Nilai NFI > 0,9. Tabel 7. Hasil Tingkat Reliabilitas Saturated Model Estimated Model Kesimpulan SRMR Model Fit d_ULS Model Fit Model Fit Model Fit NFI Model Fit rms Theta Chi-Square Model Fit Sumber: Data Diolah (PLS 3. Berdasarkan output tersebut diperoleh bahwa nilai SRMS sebesar 0,059 yakni kurang dari 0,08. Selain itu nilai NFI sebesar 0,596 kurang dari 0,900. Nilai RMS_theta dihasilkan sebesar 0,237 yakni mendekati nilai 0. Dari SRMR dan rms theta indikator dapat disimpulkan bahwa model yang terbentuk sudah memenuhi kriteria kesesuaian sehingga model dapat digunakan dan cukup bagus dalam menggambarkan hubungan antar variabel. JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Uji Individu Pada bagian ini akan dilakukan pengujian hipotesis yang bertujuan untuk menguji hipotesis yang diajukan pada Bab II. Hasil pengujian ini didasarkan atas pengolahan data penelitian dengan menggunakan analisis Partial Least Square (PLS) dengan menggunakan software SmartPLS 3. Path diagram dari hasil output pengujian hipotesis berdasarkan analisa Partial Least Square (PLS) dengan menggunakan software SmartPLS versi 3. 0 disajikan pada gambar 2 PLS ALGO BOOTSTRAPPING Sumber: Hasil pengolahan data, dengan Software SmartPLS 3. Gambar 2. Path Diagram Hasil Output Pengujian Hipotesis Output hasil pengolahan program Partial Least Square (PLS) pada lampiran Tabel 8. Pengujian Hipotesis Pengaruh Langsung P Values Teori BETA STDEV T Statistics Keputusan . X1 -> Y H1 diterima X2 -> Y H2 diterima X3 -> Y H3 diterima X4 -> Y H4 diterima X1*Z -> Y H5 diterima X2*Z -> Y H6 ditolak X3*Z -> Y H7 ditolak X4*Z -> Y H8 ditolak JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Hasil Uji Hipotesis dengan regresi dengan menggunakan SmartPLS 3. H1: Tekanan berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan. Dari Tabel 8 diketahui nilai koefisien Tekanan sebesar 0. 457 artinya jika persepsi Tekanan naik maka persepsi pencegahan kecurangan akan naik. Hasil ini sesuai dengan hipotesis yang diajukkan dimana Tekanan berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan. Nilai P-value sebesar 0,000 < 0,05 . lpha 5%) maka H1 diterima. Disimpulkan secara statistik pada tingkat kepercayaan 95% Tekanan berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan. H2: Peluang berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan. Dari Tabel 8 diketahui nilai koefisien Peluang sebesar 0. 360 artinya jika persepsi Peluang naik maka persepsi pencegahan kecurangan akan naik. Hasil ini sesuai dengan hipotesis yang diajukkan dimana Peluang berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan. Nilai P-value sebesar 0,000 < 0,05 . lpha 5%) maka H2 diterima. Disimpulkan secara statistik pada tingkat kepercayaan 95% Peluang berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan. H3: Rasionalisasi berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan. Dari Tabel 8 diketahui nilai koefisien Rasionalisasi sebesar 0. 229 artinya jika persepsi Rasionalisasi naik maka persepsi pencegahan kecurangan akan naik. Hasil ini sesuai dengan hipotesis yang diajukkan dimana Rasionalisasi berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan. Nilai P-value sebesar 0,000 < 0,05 . lpha 5%) maka H3 diterima. Disimpulkan secara statistik pada tingkat kepercayaan 95% Rasionalisasi berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan. H4: Kapabilitas berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan. Dari Tabel 8 diketahui nilai koefisien Kapabilitas sebesar 0. 156 artinya jika persepsi Kapabilitas naik maka persepsi pencegahan kecurangan akan naik. Hasil ini sesuai dengan hipotesis yang diajukkan dimana Kapabilitas berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan. Nilai P-value sebesar 0,001 < 0,05 . lpha 5%) maka H4 diterima. Disimpulkan secara statistik pada tingkat kepercayaan 95% Kapabilitas berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan. H5: Nilai etika memperkuat pengaruh tekanan terhadap pencegahan kecurangan. Tabel 8 diketahui nilai koefisien tekanan*Nilai etika sebesar 0. 172 artinya jika persepsi tekanan yang dimoderasi oleh Nilai etika naik maka persepsi pencegahan kecurangan akan naik. Hasil ini sesuai dengan hipotesis yang diajukkan dimana Nilai etika memperkuat pengaruh tekanan terhadap pencegahan kecurangan. Pengujian singnifikan dilanjutkan kembali dan menerima H 5. Disimpulkan secara statistik Nilai etika mampu memperkuat pengaruh tekanan terhadap pencegahan kecurangan. H6: Nilai etika memperkuat pengaruh peluang terhadap pencegahan kecurangan. Tabel 8 diketahui nilai koefisien peluang*Nilai etika sebesar -0. 192 artinya jika persepsi peluang yang dimoderasi oleh Nilai etika naik maka persepsi pencegahan kecurangan akan turun. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis yang diajukkan dimana Nilai etika memperkuat pengaruh peluang terhadap pencegahan kecurangan. Walaupunn Nilai P-value sebesar 0,002 < 0,05 . lpha 5%) maka H6 diterima. Disimpulkan secara statistik pada tingkat kepercayaan 95% Nilai etika memperlemah pengaruh peluang terhadap pencegahan kecurangan. H7: Nilai etika memperkuat pengaruh rasionalisasi terhadap pencegahan kecurangan. Tabel 8 diketahui nilai koefisien rasionalisasi *Nilai etika sebesar 0. 018 artinya jika persepsi rasionalisasi yang dimoderasi oleh Nilai etika naik maka persepsi pencegahan kecurangan akan naik. JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis yang diajukkan dimana Nilai etika memperlemah pengaruh rasionalisasi terhadap pencegahan kecurangan. Pengujian singnifikan tidak dilanjutkan kembali dan menolak H5. Disimpulkan secara statistik Nilai etika memperlemah pengaruh rasionalisasi terhadap pencegahan kecurangan. H8: Nilai etika memperkuat pengaruh kapabilitas terhadap pencegahan kecurangan. Tabel 8 diketahui nilai koefisien kapabilitas*Nilai etika sebesar -0. 165 artinya jika persepsi kapabilitas yang dimoderasi oleh Nilai etika naik maka persepsi pencegahan kecurangan akan turun. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis yang diajukkan dimana Nilai etika memperkuat pengaruh kapabilitas terhadap pencegahan kecurangan. Walaupun Nilai P-value sebesar 0,001 < 0,05 . lpha 5%) maka H8 diterima. Akan tetapi disimpulkan secara statistik pada tingkat kepercayaan 95% Nilai etika memperlemah pengaruh kapabilitas terhadap pencegahan kecurangan Kesimpulan Dan Saran Penelitian ini mempunyai fokus pada Peran Nilai Etika Memoderasi Faktor-Faktor Pencegahan Kecurangan (Fraud preventio. Terdapat 8 hipotesis yang telah diuji secara empiris dengan menggunakan data survei dari responden sebagai pimpinan dan karyawan grup PT. Asvia Laguan Medis. Analisis data dengan PLS-SEM telah dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyan penelitian yang diajukan. Dari hasil analisis data ini didapatkan kesimpulan penelitian seperti dibawah ini: Tekanan (Pressur. memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Pencegahan Kecurangan. Peluang (Opportunit. memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Pencegahan Kecurangan. Rasionalisasi (Rationalizatio. memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Pencegahan Kapabilitas memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Pencegahan Kecurangan. Nilai Etika memperkuat pengaruh yang positif dan signifikan Tekanan (Pressur. terhadap Pencegahan Kecurangan. Nilai Etika memperlemah pengaruh Peluang (Opportunit. terhadap Pencegahan Kecurangan. Nilai Etika memperlemah pengaruh Rasionalisasi (Rationalizatio. terhadap Pencegahan Kecurangan. Nilai Etika memperlemah pengaruh Kapabilitas terhadap Pencegahan Kecurangan. Daftar Referensi Achmad. Ghozali. , & Pamungkas. Hexagon Fraud: Detection of Fraudulent Financial Reporting in State-Owned Enterprises Indonesia. Economies, 10. , 1Ae16. Adiko. Astuty. , & Hafsah. Pengaruh Pengendalian Internal. Etika Auditor, dan Good Corporate Governance Terhadap Pencegahan kecurangan PT Inalum. Jurnal Akuntansi Dan Keuangan Kontemporer (JAKK), 2. , 52Ae68. Anggrastuti. , & Mayangsari. Relevansi Etika Auditor Sebagai Variabel Moderasi Terhadap Pencegahan kecurangan. Ekonomi Digital, 1. , 41Ae56. https://doi. org/10. 55837/eg. Artani. , & Wetra. Pengaruh Academic Self Efficacy Dan Fraud Diamond Terhadap Perilaku Kecurangan Akademik Mahasiswa Akuntansi Di Bali. Jurnal Riset Akuntansi JUARA, 7. , 123Ae132. Barreto. Pengaruh Pengalaman Auditor Dan Etika Auditor Terhadap Kualitas Audit Pada kantor akuntansi publik (KAP) Surabaya. Jurnal Mutiara Ilmu Akuntansi (Jumi. , 1. , 158Ae170. JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Cressy. Cumming. , & Mallin. Entrepreneurship . Governance and Ethics. Journal of Business Ethics, 95. , 117Ae120. https://doi. org/10. 1007/s10551-011-0848-3 Dinata. , & Nurbaiti. Start-Up and Fraud Shenanigans: Case Study on Start-Ups Affiliated Public Companies. Asia Pacific Fraud Journal, 7. , 1Ae13. https://doi. org/10. 21532/apfjournal. Eisenhardt. Agency Theory: An Assessment and Review. The Academy of Management Review, 14. , 57Ae74. Ferdinan. Isnurhadi. Widiyanti. , & Adam. Pengaruh Perencanaan Anggaran dan Pelaksanaan Anggaran terhadap Penyerapan Anggaran dengan Komitmen Organisasi sebagai Variabel Moderasi pada Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Republik Indonesia. Jembatan: Jurnal Ilmiah Manajemen, 17. , 117Ae134. Fitri. , & Nadirsyah. Pengaruh Tekanan (Pressur. Kesempatan (Opportunit. Rasionalisasi (Rationalizatio. Dan Kapabilitas (Capabilit. Terhadap Kecurangan Pengadaan Barang/Jasa Di Pemerintahan Aceh Dengan Pemoderasi Budaya Etis Organisasi. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi (JIMEKA), 5. , 69Ae84. Ghozali. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 25 Edisi 9: Vol. (Issue Semarang: Badan penerbit Universitas Diponegoro. Gleason. Kannan. , & Rauch. Fraud in Startups: What Stakeholders Need to Know. SSRN, 1. , 1Ae43. Hair. Risher. Sarstedt. , & Ringle. When To Use And How To Report The Results Of PLS-SEM. European Business Review, 31. , 2Ae24. Handayani. Sutarjo. , & Yani. Pengaruh Pressure. Opportunity Dan Rationalization (Fraud Triangl. Terhadap Financial Statement Fraud (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013-2. Pareso Jurnal, 3. , 683Ae694. Hildayani. , & Sherly. Pengaruh Tekanan. Peluang. Rasionalisasi dan Nilai Etika terhadap Intensi Kecurangan Karyawan: Studi Kasus pada Perusahaan BUMN. Jurnal Eksplorasi Akuntansi (JEA), 3. , 734Ae748. Izzati. , & Firmansyah. Fraud Diamond Theory. Efektivitas Belanja Pemerintah Dan Komitmen Organisasi. Media Riset Akuntansi. Auditing & Informasi, 23. , 65Ae90. Jensen. , & Meckling. Theory of The Firm : Managerial Behavior. Agecy Costs and Ownership Structure. Journal of Financial Economics, 3. , 305Ae360. Mardiasmo. Perpajakan Edisi Terbaru. In Perpajakan . th ed. Andi. Megawati, & Reskino. Pengaruh Pengendalian Internal. Whistleblowing System. Dan Komitmen Organisasi Terhadap Pencegahan Kecurangan Dengan Moralitas Individu. Jurnal, 10. , 31Ae50. Nair. Ramani. Tabianan. Perumal. , & Jayabalan. Factors Affecting Accounting Fraud in Malaysian SMEs. Hongkong Journal of Social Sciences, 60. , 262Ae275. Parengkuan. , & Pesudo. The Influence of Fraud Diamond on Academic Fraud Intention Among Accounting Students. JURNAL AKSI Akuntansi Dan Sistem Informasi, 8. , 19Ae Pradipta. , & Bernawati. The Influence of Pressure. Opportunity. Rationalization and Ethical Value on the Accounting Fraud Tendency. Sustainable Business Accounting and Management Review, 1. , 63Ae71. JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123 p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Pratiwi. , & Irwansyah. Pengaruh Implementasi Sustainable Development Goals. Lingkungan Pengendalian Dan Spiritualitas Terhadap Pencegahan kecurangan. Edunomika, 4. , 88Ae100. Prayuda. Zakiyuddin, & Firmansyah. Skema Ponzi : Indikasi Kecurangan Pada Valuasi Startup Menggunakan Gross Merchandise Value. Jurnal Ilmiah Manajemen Kesatuan, 10. , 35Ae50. https://doi. org/10. 37641/jimkes. Putri. , & Asmara. Determinants of Fraud Financial Statements on State Owned Enterprise. International Journal of Social Science and Business, 7. , 1Ae10. Rosari. Aboladaka. Poiran. Cakranegara. , & Kusumaningrum. Peningkatan pencegahan kecurangan melalui pengendalian internal dan good corporate governace. Jurnal Akuntansi Dan Pajak, 23. , 1Ae4. Sabirin. Pengaruh Komitmen Profesi dan Perilaku Etis Terhadap Pencegahan kecurangan. JAFJournal of Accounting and Finance, 5. , 74. https://doi. org/10. 25124/jaf. Sarstedt. Ringle. , & Hair. Partial Least Squares Structural Equation Modeling (Issue Jul. https://doi. org/10. 1007/978-3-319-05542-8 Sarwono. Dasar Structural Equation Modeling ( SEM ). January 2010. Sekaran, & Bougie. Research Methods for Business: A skill. Building Approach (Edisi . New York : John wiley@Sons. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif dan R&D. Bandung : Penerbit Alfabeta. Suliyanto. Metode Penelitian Bisnis. Untuk Skripsi. Tesis dan Disertasi. Andi. Suwena. Tekanan. Kesempatan, dan Rasionalisasi Pemicu Tindakan Kecurangan (Frau. pada Perusahaan. JIA (Jurnal Ilmiah Akuntans. , 6. , 102Ae114. Theotama. Waskita. , & Hapsari. Fraud hexagon in the motives to commit academic fraud. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis, 26. , 195Ae220. Tuanakotta. Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif. Jakarta: Salemba Empat. Wijayanto. Komitmen Organisasi. Kapabilitas. Gaya Kepemimpinan Dan Kecenderungan Fraud Di Sektor Pemerintahan (Persepsi Aparatur Sipil Negara Di Kota Salatig. Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 9. , 120Ae130. Wolfe. , & Hermanson. The Fraud Diamond : Considering the Four Elements of Fraud. CPA Journal, 74. , 38Ae42. Yin. , . Case Study Research and Applications: Design and Methods. Washington DC: Sage Publications. Creswell. Research design : qualitative, quantitative, and mixed methods Singapore: Sage Publication, 2014 JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI Vol. No. Desember 2023 : 105Ae123