Jurnal Kajian Bali Journal of Bali Studies p-ISSN 2088-4443 # e-ISSN 2580-0698 Volume 10. Nomor 02. Oktober 2020 http://ojs. id/index. php/kajianbali Terakreditasi Sinta-2. SK Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti No. 23/E/KPT/2019 Pusat Penelitian Kebudayaan dan Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana Beban Ganda: Kondisi Perempuan Pemulung pada Masa Pandemi di Tempat Pengolahan Sampah Monang Maning. Denpasar Bambang Dharwiyanto Putro1 Universitas Udayana Penulis Koresponden: bambang_dp@unud. Abstract Double Burdens: The Condition of Woman Scavengers during the Pandemic at the Monang Maning Waste Processing Site. Denpasar The Covid-19 pandemic has devastated BaliAos economy which relies on the tourism sector. The impact is felt in the informal sector, including scavengers, especially women scavengers who depend on garbage piles. The double burden position they have been doing so far has been exacerbated by the presence of the Covid-19 pandemic. This paper analyzes the condition of women scavengers at TPST Monang Maning. Denpasar, in their roles in the domestic and public spheres and reveals the implications during the pandemic. This research uses observation, interview and literature techniques. This paper uses an approach to the function of women in the domestic and public sphere and a subaltern study approach to see the implications of the double burden of women scavengersAos phenomenon during the pandemic. The results showed that the double burden phenomenon experienced by women scavengers was increasingly burdensome during the pandemic. Limited space for movement in the public sphere and additional burdens in the domestic sphere have implications for their position as a subaltern or dominated The patriarchal culture that led them to a subaltern position grew stronger during the pandemic. Keywords: women scavenger, garbage, covid-19. Monang Maning Denpasar Abstrak Pandemi Covid-19 telah menghancurkan perekonomian Bali yang mengandalkan sektor pariwisata. Dampaknya bahkan dirasakan juga pada sektor informal termasuk para pemulung terlebih pemulung perempuan yang menggantungkan hiA JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 537Ae556 Bambang Dharwiyanto Putro dup dalam tumpukan sampah. Posisi double burden yang telah mereka lakoni selama ini semakin diperparah oleh hadirnya pandemi Covid-19. Tulisan ini menganalisis kondisi perempuan pemulung di TPST Monang Maning. Denpasar, dalam perannya di ranah domestik dan publik serta mengungkap implikasinya selama masa pandemi. Penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara dan Tulisan ini menggunakan pendekatan fungsi perempuan dalam ranah domestik dan publik dan pendekatan studi subaltern untuk melihat implikasi dari fenomena beban ganda perempuan pemulung selama masa pandemi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena double burden yang dialami pemulung perempuan semakin memberatkan selama Keterbatasan ruang gerak di ranah publik dan tambahan beban dalam ranah domestik berimplikasi terhadap posisi mereka sebagai kelompok subaltern, terkuasai. Budaya patriarki yang mengantarkan mereka pada posisi subaltern semakin menguat selama pandemi. Kata Kunci: perempuan pemulung, sampah. Monang Maning Denpasar Covid-19. Pendahuluan ejak diumumkannya kasus pertama virus Covid-19 di Indonesia pada awal Maret 2020 silam. Indonesia mengalami guncangan yang cukup dahsyat. Pandemi yang kali pertama ditemukan di Kota Wuhan China ini seakan merobek berbagai sektor kehidupan di Indonesia terutama sektor ekonomi. Kemerosotan ini semakin diperparah di tengah semakin merebaknya penularan yang hampir diketemukan di seluruh provinsi di Indonesia. Industri pariwisata menjadi sektor yang paling terdampak terutama Bali. Ekonomi Bali yang menggantungkan pada industri pariwisata menjadi provinsi yang paling parah terkena dampak pandemi ini. Pelaksana tugas Kadisparda Badung. Tjokorda Raka Darmawan, menyatakan bahwa sektor pariwisata Bali mengalami penurunan 81% pada bulan Agustus dibanding bulan yang sama pada tahun sebelumnya meskipun pariwisata Bali sudah dibuka untuk wisatawan domestik (Travel Detik 2. LPEM FEB UI mencatat, tingkat okupansi atau hunian hotel di Bali mengalami penurunan drastis dari 63% di bulan Desember 2019 menjadi 46% di bulan Februari 2020 (Revindo dkk, 2020: . Menurunnya sektor JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 537Ae556 Beban Ganda: Kondisi Perempuan Pemulung pada Masa Pandemi . pariwisata Bali pada gilirannya merembet ke berbagai sektor informal. Mandetnya perputaran uang dalam dunia pariwisata Bali, pada akhirnya turut mempengaruhi perputaran uang di sektor lain bahkan sampai ke desa-desa terpencil. Salah satu sektor informal yang turut menjadi korban keganasan virus ini adalah kelompok perempuan yang menggantungkan hidup di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Monang Maning. Pembatasan aktivitas di luar rumah yang digaungkan pemerintah dan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) yang sempat diterapkan di Kota Denpasar membuat kelompok pemulung ini tidak bisa melakukan pekerjaanya seperti biasanya. Selain itu, menurunnya aktivitas perekonomian di Kota Denpasar menyebabkan volume sampah menurun dan berpengaruh terhadap penghasilan mereka. Selain memulung di TPST, mereka juga sering berkeliling mencari barang bekas di perumahan terdekat. Terbatasnya aktivitas warga membuat volume sampah juga menurun yang berarti barang bekas yang mereka dapatkan juga menurun. Secara teoritik. Twikromo . 9: . mendefinisikan pemulung sebagai seseorang yang mendapatkan penghasilan dari mengumpulkan barang bekas . ampah/grese. Menurut Mudiyono dan kawankawan . 7: . pemulung adalah orang yang mengumpulkan dan memproses sampah di jalanan, sungai, bak sampah dan tempat pembuang sampah sementara/akhir sebagai komoditas pasar. Sedangkan Suparlan . 5: . menyebutkan bahwa pemulung/ penampung barang-barang bekas termasuk ke dalam pekerjaan informal, di mana sektor kerjanya berkecimpung dengan sampah atau barang-barang bekas yang akan didaur ulang. Meskipun dunia sedang dilanda pandemi Covid-19, para pemulung yang dikategorisasi sebagai pekerja sektor informal dan tidak terdaftar di administrasi pemerintahan, tetap menjalani rutinitasnya mengais sampah dari rumah ke rumah maupun di tempat pembuangan sampah meskipun secara terbatas. Profesi pemulung kerap mendapatkan stigma negatif dari masyarakat seperti yang dijelaskan Laksono . 5: . yang mengatakan bahwa pemulung cenderung mendapatkan stereotip pencuri melalui adanya plang peringatan bertuliskan AuPemulung Dilarang MasukAy yang umum dapat ditemukan di pemukiman penduduk kota. Adanya stereotip tersebut JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Bambang Dharwiyanto Putro Hlm. 537Ae556 telah memarginalkan peran mereka dalam perekonomian keluarga, terutama bagi kaum perempuan yang berprofesi sebagai pemulung. Dalam bayang-bayang Covid-19, marjinalisasi ini semakin menguat dengan berbagai kecurigaan masyarakat akan profesi mereka. Seorang perempuan yang bekerja di ranah publik sebagai pemulung tidak serta-merta meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga (Ismanto, 2014: . Mereka tetap melakukan aktivitas memasak, mengurus anak, mengurus rumah dan sebagainya. Pekerjaan memulung dilakukan setelah semua urusan rumah tangga Mereka memilih memulung untuk membantu perekonomian keluarga dan meringankan beban suami yang rata-rata juga merupakan Kondisi ini mengarahkan mereka pada posisi double burden atau beban ganda. Michelle et al. alam Hidayati, 2015: . menyatakan bahwa beban ganda perempuan disebutkan dengan konsep dualisme kultural yakni adanya konsep domestic sphere dan public sphere. Perempuan dikatakan mengalami beban ganda apabila melakukan aktivitas pada kedua wilayah tanpa mengabaikan salah satunya. Berdasarkan paparan di atas, menarik untuk dikaji bagaimana peranan mereka yang telah mengalami beban kerja ganda di tengah pandemi Covid-19. Berbagai kebijakan pemangku kekuasaan terkait masalah Pandemi ini, mau tidak mau sangat mempengaruhi berbagai aktivitas pemulung perempuan baik di ranah domestik maupun publik. Kondisi pandemi ini dapat diasumsikan bahwa peran pemulung perempuan semakin berat. Dalam ranah domestik, pekerjaan semakin berat karena anak-anak mereka belajar secara online yang berakibat bertambahnya beban kerja mereka. Dalam ranah publik, mereka dibayang-banyangi akan persoalan kesehatan dan pendapatan mereka. Tulisan ini mengkaji peranan pemulung perempuan di TPST Desa Monang Maning. Denpasar, di masa pandemi dan implikasinya terhadap posisi mereka sebagai ibu rumah tangga sekaligus pemulung dalam masyarakat (Foto . Kajian ini berkontribusi dalam usaha memahami dahsyatnya dampak pandemi terhadap seluruh lapisan masyarakat, termasuk pada kalangan pemulung perempuan, yang tak sedikit di antaranya menjadi tulang punggung ekonomi keluarga Fenomena beban ganda perempuan terlebih di masa pandemi merupakan realitas empirik yang perlu dikaji melalui pendekatan sosial antropologis. JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 537Ae556 Beban Ganda: Kondisi Perempuan Pemulung pada Masa Pandemi . Foto 1. Perempuan pemulung di tempat pembuangan sampah di Monang Maning. Denpasar, sebelum pandemi covid (Foto: Bambang DP). Kajian Pustaka Dalam budaya patriarki, perempuan dikonstruksi sebagai second sex (Barker, 2. Walaupun perempuan kini mampu berada di ranah publik, nyatanya perempuan masih diposisikan sebagai pihak kedua. Dalam bingkai perekonomian keluarga, pendapatan mereka dianggap tambahan bukan utama tidak terkecuali bagi rumah tangga pemulung. Fenomena tersebut terdapat dalam sebuah artikel prosiding berjudul AuPerempuan Dalam Ekonomi Rumah Tangga Pemulung di Kota PekanbaruAy . oleh Kadarisman dan Asriwandari. Artikel ini kurang mendalam mencermati peranan perempuan pemulung di ranah publik. Perempuan yang masuk ke ranah publik, tidak mampu seA penuhnya melepas ikatan domestik, sehingga muncul fenomena double burden . eban gand. Fenomena beban ganda, khususnya yang dialami oleh perempuan pemulung dapat diamati dalam artikel karya Suhertina . berjudul AuFenomena Double Burden Perempuan Pemulung Muslim Dalam Pengelolaan Ekonomi KeluargaAy. Tulisan ini hanya fokus terhadap deskripsi kehidupan double burden perempuan pemulung, beserta faktor pendorong menjalani dua peranan, sehingga JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Bambang Dharwiyanto Putro Hlm. 537Ae556 kelemahan dari artikel ini adalah tidak memaparkan implikasi dari fenomena tersebut. Kajian serupa juga dilakukan oleh Nurul Hidayati seorang aktivis perempuan dari Surabaya dalam artikelnya yang berjudul AuBeban Ganda Perempuan Bekerja: Antara Domestik dan PublikAy. Kajian ini bermuatan teoritik terkait dengan bagaimana perempuan bekerja dalam dua ranah yakni ranah domestik dan publik. Hidayati menyimpulkan bahwa beban ganda yang dialami perempuan selama ini merupakan bentuk ketidakadilan gender . Tulisan Hidayati menginspirasi penulis untuk menelusuri fenomena double burden yang dialami oleh pemulung perempuan terlebih di tengah kondisi pandemi Covid-19. Kajian berikutnya ditulis oleh Twikromo pada sebuah buku berjudul Gelandangan Yogyakarta: Suatu Kehidupan dalam Bingkai Tatanan Sosial-Budaya AuResmiAy . Pembahasan dalam buku tersebut memuat tentang siasat dan persaingan serta tekanan yang dialami kaum gelandangan yang hidup di perkotaan Yogyakarta, diantaranya pemulung, pengemis, pekerja seksual, pengamen, pencopet, penyemir, pengasong, dan pencuri kecil-kecilan. Studi mencoba untuk mengupas makna menggelandang sebagai sekadar hidup dan makna persaingan secara internal dan eksternal seperti keterbatasan peluang maupun wilayah kerja, sehingga tidak fokus terhadap kajian perempuan. Rujukan terakhir ditulis oleh Ariyanti dan Ardhana dengan judul AuDampak Psikologis Kekerasan dalam Rumah Tangga terhadap Perempuan pada Budaya Patriarki di BaliAy . Artikel ini menyimpulkan bahwa faktor budaya patriarki menjadi salah satu penyebab terjadinya kekerasan, serta dampak psikologis yang dialami perempuan adalah perasaan takut, pikiran negatif tentang diri, perasaan tidak berharga, perasaan tertekan, dan melampiaskan emosi marah kepada anak. Kajian mengenai perempuan sebetulnya adalah topik yang sudah begitu lama digaungkan, terlebih lagi persoalan kekerasan dalam rumah tangga, tetapi kajian ini akan lebih faktual bila dikaitkan dengan isu-isu Covid-19. Berdasarkan rujukan kajian-kajian di atas, telah memberi pengetahuan mendasar seputar perempuan dan pemulung kepada penulis. Namun, belum ada satu pun hasil penelitian yang memperlihatkan adanya penekanan khusus terhadap relasi antara JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 537Ae556 Beban Ganda: Kondisi Perempuan Pemulung pada Masa Pandemi . perempuan pemulung di tengah pandemi Covid-19 khususnya di Bali sebagai salah satu provinsi yang paling terdampak. Untuk menjawab permasalahan peranan pemulung perempuan dalam kehidupan keluarga di masa pandemi, penulis menggunakan pemikiran Michelle et al tentang beban ganda perempuan. Michelle et al . alam Hidayati, 2015: . menjelaskan bahwa peran ganda yang dialami perempuan terjadi akibat adanya dualisme kultural yang terkait dengan public sphere dan domestic sphere. Beban ganda yang dimaksud adalah partisipasi perempuan dalam peran tradisi dan transisi. Peran tradisi berkenaan dengan fungsi dan tugasnya dalam ranah domestik seperti mengurus anak dan suami, mengurus pekerjaan rumah tangga dan sebagainya. Sementara peran transisi terkait dengan partisipasi perempuan sebagai tenaga kerja, anggota masyarakat dan manusia pembangunan yang berada di ranah publik. Dengan melihat peranan perempuan pemulung di ranah domestik dan ranah publik, akan ditemukan beban ganda yang dialami mereka di masa pandemi Covid-19. Implikasi dari double burden yang dialami pemulung perempuan akan dikaji secara kritis dengan pendekatan subaltern. Subaltern adalah konsep yang dipelopori oleh Gramsci . alam Suryawan, 2010: yang melihat bahwa dalam sebuah tatanan sosial akan selalu ditemukan kelompok-kelompok terpinggirkan, termarginalkan dan Proses marginalisasi ini terjadi akibat adanya kekuatan hegemoni yang mengganggap mereka sebagai kelompok yang tidak penting dan tidak perlu didengarkan suaranya. Kekuatan ideologi tersebut bekerja secara laten dan dianggap sebagai sesuatu yang Ideologi tersebut seolah mendapatkan legitimasi dari anggota kelompok superior yang membuat kelompok subaltern semakin Penulis mengasumsikan bahwa beban ganda yang dialami kelompok pemulung perempuan di masa Pandemi Covid-19 mengantarkan mereka pada posisi subaltern yang terpinggirkan dan termargirnalkan dalam tatanan sosial di masyarakat. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan model penelitian etnografi (Spradley, 2. Metode kualitatif dipilih mengingat penelitian ini menggunakan pendekatan sosial budaya dengan data yang digunakan didominasi oleh data dalam bentuk narasi JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Bambang Dharwiyanto Putro Hlm. 537Ae556 deskripstif serta tidak menggunakan data dalam bentuk kuantitatif. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengamatan dan wawancara dalam kurun waktu satu minggu dengan menyelami kehidupan para pemulung perempuan. Peneliti hanya melakukan pengamatan dari jarak jauh tanpa berpartisipasi. Lokasi penelitian adalah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Monang Maning. Desa Tegal Kertha. Kecamatan Denpasar Barat. Kota Denpasar. Pemilihan lokasi berdasarkan pada pertimbangan bahwa para pemulung di lokasi tersebut terdiri pula dari kaum perempuan, lokasi penelitian merupakan kawasan padat penduduk, artinya TPST didominasi oleh sampah sayur, buah atau makanan sisa, dan plastik yang berasal dari rumah tangga, pasar maupun industri. Di samping itu, kota Denpasar sempat menjadi salah satu zona merah untuk kasus pandemi Covid-19 dan turut mempengaruhi kehidupan kelompok pemulung perempuan di TPST Monang Maning. Jenis data yang dikumpulkan dan digunakan dalam penelitian meliputi data kualitatif berupa deskripsi kata-kata. Sumber data primer pada penulisan artikel diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara dengan bercakap-cakap langsung dengan informan (Goo, 2012: . Proses pengamatan dan wawancara dilakukan pertengahan Juli 2020 dan dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dalam rangka mencegah penularan Covid-19. Sumber data sekunder yang menunjang hasil penelitian didapat melalui penerapan studi pustaka. Penelitian terhadap informan ditentukan berdasarkan teknik purposif, sehingga perempuan pemulung yang masih mengemban peran domestik/ibu rumah tangga menjadi informan kunci, adapun informan lainnya yakni pemulung laki-laki dan Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracu. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Denpasar. Instrumen penelitian, selain peneliti adalah pedoman wawancara, laptop, dan gawai . yang telah dilengkapi fitur kamera foto/video, perekam suara, dan catatan. Data disajikan secara deskriptif interpretatif melalui analisis data mengacu pada tiga tahapan yakni reduksi, penyajian dan verifikasi (Miles dan Huberman, 2. JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 537Ae556 Beban Ganda: Kondisi Perempuan Pemulung pada Masa Pandemi . Gambaran Umum TPST Monang Maning dan Perempuan Pemulung Jadwal kedatangan truk pengangkut sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Monang Maning. Desa Tegal Kerta. Denpasar Barat adalah pukul 09:00, 13:00, 17:00, dan 21:00 Wita. Adapun sampah yang diangkut berjenis sampah organik dan sampah anorganik berasal dari rumah tangga, pasar, maupun industri menengah ke atas. Proses penurunan sampah dari bak truk dan timbunan sampah di TPST kerap menimbulkan kemacetan lalu lintas di sepanjang jalan yang dikeluhkan para pengendara, khususnya bagi pengendara bermotor yang harus menghirup bau sampah. Namun, bagi penduduk sekitar yang banyak membuka gerai usaha kuliner dan pakaian di sekitar TPST, bebauan tersebut sudah menjadi hal yang biasa mereka rasakan sehari-hari. Keberadaan pemulung di TPST Monang Maning turut membantu proses pengelolaan sampah. Pada jam sibuk yang telah disebutkan di atas, pemulung didominasi oleh kaum laki-laki, tetapi saat situasi senggang dapat dilihat kalangan ibu yang berprofesi sebagai pemulung ikut memungut sampah yang tersisa. Penampilan para pemulung lebih memperihatinkan dibandingkan petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) yang berseragam hijau, mengenakan sarung tangan dan bersepatu boot serta dilengkapi motor bak. Sedangkan mereka . mengenakan busana usang, membawa sebuah tongkat besi untuk mengais/mengambil sampah, dan menggendong karung sebagai tempat mengumpulkan hasil memulung. Sebagian besar dari pemulung telah menggunakan sepatu boot, namun hanya beberapa orang yang telah mengenakan sarung tangan agar tidak terluka saat bekerja, terutama saat memilah sampah dan mendorong gerobaknya. Khusus perempuan pemulung, mereka membawa sebilah pisau dan baskom atau styrofoam box untuk mengolah sampah organik. Sampah yang dikumpulkan oleh para pemulung adalah sampah plastik berupa gelas dan botol. Hasil memulung mereka jual kepada pengepul yang jarak lokasinya tidak jauh dari TPST. Penghasilan yang diperoleh pemulung dari menjual gelas dan botol plastik bervariasi, tergantung dari berat gelas/botol yang berhasil mereka kumpulkan. Gelas plastik perkilonya dihargai 1. 200 rupiah, sedangkan botol plastik seharga 1. 700 rupiah perkilo, harga penjualan tersebut relatif JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Bambang Dharwiyanto Putro Hlm. 537Ae556 naik-turun tergantung harga pasar. Pengepul akan sulit melakukan kecurangan harga karena adanya banyak pesaing. Seorang perempuan pemulung mengatakan bahwa ia atau perempuan pemulung lainnya dapat mengumpulkan gelas dan botol plastik masing-masing 5 kilogram perharinya, sedangkan laki-laki bisa mengumpulkan sekitar 20 kilogram perhari. Dalam suatu wawancara, laki-laki yang berprofesi sebagai pemulung mengungkapkan bahwa 20 kilogram hasil memulung itu, tidak hanya diperoleh dari TPST Monang Maning, melainkan juga berasal dari mengais di tempat sampah perumahan penduduk (Foto . Foto 2. Suasana di tempat pembuangan sampah di Monang Maning. Denpasar, sebelum pandemi covid (Foto: Bambang DP). Kelompok pemulung perempuan biasanya bekerja setelah urusan domestik selesai seperti memasak, mengurus anak dan urusan rumah tangga lainnya. Mereka berangkat ke TPST sekitar pukul 10:00 Wita dengan membawa karung atau Styrofoam box dan alat pengait yang biasanya terbuat dari besi. Mereka hanya bisa mengambil barang bekas setelah semua sampah sudah diturunkan dari truk pengangkut. Proses penurunan sampah hanya dilakukan dan dibantu oleh kelompok pemulung pria. Hal ini mengakibatkan jumlah barang bekas yang didapatkan oleh kelompok perempuan lebih sedikit karena hanya mengandalkan sisa dari kelompok pria. JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 537Ae556 Beban Ganda: Kondisi Perempuan Pemulung pada Masa Pandemi . Di sela-sela waktu menunggu kedatangan truk pengangkut sampah berikutnya, biasanya mereka manfaatkan untuk mengobrol dengan sesama pemulung atau berkeliling ke perumahan warga untuk memungut barang bekas. Mereka bekerja hanya sampai pukul 16:00 Wita dan segera kembali pulang ke rumah untuk mengurusi berbagai keperluan keluarga. Rata-rata kelompok pemulung perempuan berasal dari Desa Tegal Kertha yang tingal di dekat lokasi TPST. Mereka berasal dari kelompok tidak mampu dan memilih menjadi pemulung untuk membantu perekonomian keluarga karena tidak memiliki skill atau kemampuan dalam bidang lain. Penghasilan para pemulung semakin berkurang, semenjak pandemi Covid-19 merebak di wilayah Denpasar. Berdasarkan hasil wawancara terhadap seorang informan yang telah lama melakoni pekerjaan sebagai pemulung di TPST Monang Maning, pendapatannya ikut menurun secara derastis sejak awal bulan April 2020. Sebagian besar gerai usaha yang selama ini menghasilkan sampah organik maupun anorganik membatasi jam operasional, sehingga mempengaruhi penghasilan jumlah sampah. Begitu pula dengan beberapa penghuni perumahan yang pulang kampung karena dirumahkan/PHK (Pemutusan Hubungan Kerj. , berkurangnya jumlah penghuni rumah, maka berkurang juga sampahsampah yang dapat diperoleh pemulung. Selama ini profesi pemulung mendapatkan stereotip yang kurang bagus di mata masyarakat. Kerap mereka dijadikan kambing hitam atas berbagai bentuk kehilangan barang milik warga. Mereka dicurigai sebagai pencuri dan dianggap meresahkan warga. Hal ini senada dengan pernyataan Twikromo . 9: . menyebutkan bahwa pemulung mendapat stigma sebagai orang yang melanggar normanorma ketertiban umum, seperti licik, kotor, tanpa norma, tidak dapat dipercaya, tidak teratur, sumber kriminal, penipu, pencuri, malas, harus dicurigai, apatis, dan sampah masyarakat. Posisi ini semakin memperburuk kondisi para pemulung terlebih pemulung perempuan dalam menjalankan aktivitasnya. Hal ini disampaikan oleh Nyoman Ariyani . Tahu. AuSering tyang diusir, baru saya pemulung pakaian lusuh, bawa karung saya dikira pencuriAy (Sering saya diusir, karena saya pemulung berpakaian lusuh, membawa karung, saya dikira pencur. Nyoman Ariyani hanya bisa pasrah mendapat stigma tersebut dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya memikirkan JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Bambang Dharwiyanto Putro Hlm. 537Ae556 bagaimana cara membantu pendapatan keluarga. Secara umum perempuan pemulung mendapatkan penghasilan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Singkatnya jam kerja dalam memulung menyebabkan kelompok pemulung perempuan berpenghasilan kecil. Hal ini dikarenakan waktu perempuan telah dimanfaatkan lebih banyak untuk urusan domestik. Made Simpen menuturkan: AuPagi saya ke pasar dulu buat beli makanan untuk anak dan keluarga, setelah itu kalau sempat sembahyang, belum lagi kalau ada upacara atau hari raya. Paling sehari cuma 4 sampai 5 jam saja saya ke luar . Kalau suami saya dari pagi dan pulangnya bisa sampai malamAy (Wawancara pada tanggal 18 Juli 2. Di samping itu, sebagian besar perempuan pemulung bertanggung jawab dalam mengumpulkan dan mengolah sampah organik menjadi pakan ternak. Perempuan pemulung tidak hanya mengumpulkan barang-barang yang dapat dijual, mereka turut mengumpulkan sisa makanan, terutama buah-buahan dan sayursayuran. Buah dan sayur akan dikupas dan dipotong kecil-kecil, lalu disimpan ke dalam baskom atau styrofoam box untuk dibawa pulang sebagai pakan ternak (Foto . Foto 3. Perempuan pemulung mengolah sampah organik di TPST Monang Maning. Denpasar, sebelum pandemi (Foto: Bambang DP). JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 537Ae556 Beban Ganda: Kondisi Perempuan Pemulung pada Masa Pandemi . Kondisi harga-harga dan biaya hidup perkotaan Denpasar yang serba mahal dan ditambah mandeknya perputaran ekonomi akibat pandemi Covid-19, menuntut perempuan pemulung sebagai ibu rumah tangga selektif dalam mengelola keuangan keluarga dan lebih memanfaatkan lingkungan, artinya perempuan pemulung diharapkan tidak membeli pakan ternak dan lebih memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitarnya, salah satunya di tempat pembuangan sampah. Peran Perempuan Pemulung dalam Bayang-bayang Covid-19 Pandemi Covid-19 yang mulai merebak pada akhir 2019 silam ini dengan cepat mengubah wajah dunia. Ekonomi beberapa negara mulai tumbang termasuk Indonesia. Denyut kehidupan pariwisata sebagai tulang punggung perekonomian Bali mulai meredup. Pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II menunjukkan angka -7,22% . uarter-toquarte. dan -10,98% . ear-to-yea. sehingga bisa disebut sebagai resesi (Bali Post 2. Perekonomian Bali pun berada pada titik nadir. Begitu pula kelompok pemulung perempuan yang mengantungkan hidupnya pada tumpukan sampah di TPST Monang Maning. Mereka sama sekali tidak memahami apa itu virus Covid-19, bagaimana penyebarannya, apa kaitannya dengan perekonomian dan sebagainya. Bahkan, pekerjaan mereka tidak ada sangkutpautnya dengan gemerlapnya industri pariwisata Bali. Namun, tidak dapat dipungkiri, mereka terkena imbas akibat pandemi yang sudah berlangsung selama satu semester ini. Mereka dibayang-bayangi akan sosok menakutkan yang kasat mata ini dalam aktivitas memulungnya. Melalui berbagai media yang mereka ikuti, mereka semakin khawatir akan kesehatan diri dan keluarga. Meski demikian, ketakutan mereka jauh dari itu, mereka lebih takut akan kelangsungan ekonomi keluarga, masa depan anak. Mereka mulai merasakan dampak dari pandemi ini setelah pemerintah menerapkan berbagai kebijakan terkait pembatasan aktivitas masyarakat untuk menekan penyebaran virus Covid-19. Made Simpen menuturkan, dirinya sama sekali tidak merasa takut terhadap virus ini. Dia lebih takut jika keluarganya tidak makan. Di tengah Pandemi ini, dirinya dan suami tetap menjalankan aktivitas memulung dengan tetap menjalankan protokol kesehatan seperti JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Bambang Dharwiyanto Putro Hlm. 537Ae556 menggunakan masker dan jaga jarak. Pembatasan aktivitas yang diterapkan pemerintah tak mengurungkan niat mereka untuk tetap mengais rupiah di tumpukan sampah. Mereka hanya berupaya untuk tetap bertahan hidup meski badai sedang menerjang. Menurunya debit sampah akibat melemahnya perekonomian di Kota Denpasar mau tidak mau mempengaruhi penghasilan mereka. Sebelum masa pandemi. Made Simpen bisa mengumpulkan botol plastik dan gelas plastik masing-masing 5 kilogram dengan pendapatan Rp. 500,00. Memasuki masa pandemi, pendapatan Made Simpen semakin Sehari dia hanya bisa mengumpulkan botol dan gelas plastik sebanyak 1 sampai 2 kilogram. Selain mengumpulkan botol dan gelas plastik. Made Simpen dan pemulung perempuan lainnya juga mengumpulkan sampah organik sebagai pakan ternak. Sebelum pandemi, mereka bisa mengumpulkan pakan ternak untuk kebutuhan Namun dalam masa pandemi ini, mereka hanya bisa mengumpulkan pakan ternak untuk dua kali makan ternak mereka. Sisanya mereka terpaksa membeli. Secara ekonomi. Made Simpen dan keluarga merasakan dampak yang luar biasa selama pandemi ini. Selain pendapatan mereka berkurang, pengeluaran justru semakin membengkak di masa pandemi Kebijakan sekolah online yang diterapkan semakin memberatkan keluarga Made Simpen. Mereka harus menyiapkan dana untuk pembelian kuota kedua anaknya yang masing-masing duduk di kelas VII SMP dan X SMA. Aktivitas belajar di rumah juga menyebabkan uang untuk kebutuhan rumah tangga semakin membengkak. Biasanya Made Simpen memberikan bekal Rp. 000 untuk anaknya yang SMP dan Rp. 000 untuk anaknnya yang SMA. Bekal ini biasanya cukup untuk satu hari kedua anaknya dan biasanya tidak meminta lagi. Setelah memasuki masa pandemi. Made Simpen bisa mengeluarkan uang sampai Rp. 000 untuk uang jajan kedua anaknya. Kondisi ini semakin menekan Made Simpen dan keluarga secara ekonomi. Double burden yang dialami Made Simpen dan pemulung perempuan lainnya dirasakan semakin berat di masa pandemi ini. Seperti penjelasan Mihcelle et al. alam Hidayati, 2015: . beban ganda ini merupakan risiko yang harus diterima oleh perempuan JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 537Ae556 Beban Ganda: Kondisi Perempuan Pemulung pada Masa Pandemi . ketika berada dalam dua ranah yakni ranah domestik dan publik atau wilayah tradisi dan transisi. Sebelum masa pandemi, kaum pemulung perempuan bisa melewati dualisme kultural tersebut tanpa ada halangan yang berarti. Mereka bisa melakoni pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus sebagai pemulung untuk membantu perekonomian keluarga. Beban ganda yang dialami kelompok pemulung perempuan ini tidak disadari dan menganggap ini semua demi perekonomian keluarga. Dalam posisi ini, mereka menjalankan fungsi keluarga sebagai fungsi ekonomi, selain fungsi pengaturan seksual, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi, fungsi afeksi, fungsi penentuan status dan fungsi perlindungan (Horton dan Hunt dalam Syamsuddin, 2018: . Memasuki masa pandemi, kelompok pemulung perempuan ini mulai menyadari beban ganda yang mereka alami semakin nyata dan berat. Keterbatasan kegiatan dalam public sphere secara langsung mengakibatkan penurunan penghasilan mereka. Pembatasan aktivitas dan menurunnya debit sampah membuat mereka harus berjuang keras untuk menutupi kebutuhan ekonomi. Meskipun mereka mengurangi aktivitas di wilayah publik, pekerjaan domestik justru semakin bertambah dalam masa pandemi. Sistem pembelajaran online yang diterapkan membuat kelompok perempuan mendapatkan tugas pendidikan anak sebagai tugas tambahan. Mereka berupaya melakukan pengawasan untuk memastikan asupan pendidikan anak tetap berjalan meski belajar dari rumah. Sistem pembelajaran online ini juga pada gilirannya akan menuntut hadirnya orang tua terutama ibu dalam pengawasan Selama anak di rumah, ibu menjadi sosok yang paling Pandemi Covid-19 seolah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi pemulung perempuan di TPST Monang Maning. Dalam menjalankan fungsi ekonominya di wilayah publik, mereka dihantui dengan kekhawatiran akan kesehatan diri dan keluarga. Dalam menjalankan perannya di ranah domestik, mereka akan dihantui oleh ketakutan akan perekonomian keluarga. Posisi ini semakin membuat kelompok pemulung perempuan tertekan. Pilihan antara kesehatan atau ekonomi selalu membayangi mereka. Pandemi JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Bambang Dharwiyanto Putro Hlm. 537Ae556 inipun dengan segera memberikan beban tambahan kepada kelompok pemulung yang sebelumnya sudah berada dalam kondisi double burden. Jika dianalogikan, mereka saat ini berada dalam kondisi triple burden bahkan quadruple burden. Implikasi Pandemi Covid-19 bagi Kehidupan Perempuan Pemulung Pandemi Covid-19 ini mengibatkan posisi beban ganda yang dialami kelompok pemulung perempuan ini semakin berat. Berbagai tugas baik dalam ranah domestik maupun publik semakin berat dirasakan mereka. Kondisi ini semakin menjerumuskan posisi mereka sebagai kelompok subaltern. Mereka semakin dipinggirkan dan termarjinalkan dalam tatanan sosial. Beban-beban tambahan yang diamanatkan kepada mereka pada masa pandemi tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Mereka tidak bisa mengeluh, berbicara bahkan menolak aneka beban tersebut. Mereka menerimanya dengan pasrah sambil terus memutar otak untuk mencari solusi terbaik. Mereka hanya bisa menyalurkan kegelisahan mereka ke sesama pemulung perempuan yang memiliki nasib yang sama. Posisi subaltern ini semakin diperparah dengan menguatnya stereotip profesi pemulung di mata masyarakat. Seperti penjelasan Laksono . 5: . , pemulung kerap mendapatkan stigma yang kurang baik dari masyarakat seperti dianggap pekerjaan rendahan, suka mencuri dan stigma negatif lainnya. Pandemi seolah hadir dan menguatkan citra profesi pemulung tersebut terlebih memulung dilakukan oleh kelompok perempuan. Seperti yang disampaikan oleh Nyoman Ariyani Ausaya tidak berani sekarang ke rumah-rumah, saya takut dikira mencuri. Sekarang di sini saja saya mencari barangAy (Wawancara, 18 Juli 2. Pandemi ini membatasi ruang gerak para pemulung perempuan sehingga mengakibatkan menurunya pendapatan mereka. Double burden yang menghantui kelompok pemulung perempuan ditambah menguatnya stereotip terhadap profesi mereka semakin mengantarkan mereka dalam jurang subaltern. Mereka dibungkam, dimarjinalkan dan dipinggirkan oleh budaya patriarki yang telah terbangun kuat di Bali. Dalam budaya patriarki, mereka dianggap sebagai second sex dan dianggap sebagai manusia kelas dua (Barker. Segala bentuk peranan yang mereka lakukan baik dalam ranah JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Hlm. 537Ae556 Beban Ganda: Kondisi Perempuan Pemulung pada Masa Pandemi . domestik maupun publik tidak pernah mendapatkan apresiasi apapun dalam budaya patriarki. Mereka hanya dianggap sebagai pelengkap Kelompok pemulung perempuan saat ini juga berada dalam posisi demikian. Aneka pekerjaan mereka di masa pandemi seperti mengurus anak, suami, rumah tangga di ranah domestik dan memulung di ranah publik seolah menjadi takdir yang tidak perlu diapresiasi dalam budaya patriarki. Gramsci . alam Suryawan, 2010. melihat bahwa proses marjinalisasi kelompok masyarakat tertentu terjadi akibatnya adanya hegemoni kekuatan ideologi tertentu. Proses ini pada gilirannya akan mengantarkan mereka sebagai kelompok subaltern dalam tatanan masyarakat. Ideologi patriarki yang telah tertanam kuat dalam budaya Bali mengantarkan pemulung perempuan sebagai kelompok subaltern. Seperti penjelasan Ariyanti dan Ardhana . budaya patriarki di Bali menjadi salah satu alasan dalam terjadinya kekerasan terhadap perempuan yang lambat laut akan menghadirkan tekanan psikologi seperti rasa takut, cemas, pikiran negatif tentang diri, perasaan tidak berharga dan sebagainya. Meskipun pemulung perempuan tidak sampai mengalami kekerasan secara fisik, namun mereka merasakan beban psikologi yang sangat berat dalam kondisi pandemi ini. Hegemoni patriarki semakin mencengkeram kelompok pemulung perempuan di masa pandemi ini. Mereka hanya bisa pasrah tanpa bisa melakukan perlawanan. Simpulan Berdasarkan pembahasan di atas, maka ada dua simpulan yang dirumuskan sebagai berikut. Pertama, fenomena double burden yang telah melekat pada kelompok pemulung perempuan semakin berat dan menguat pada masa pandemi. Berkurangnya aktivitas di ranah publik sebagai pemulung serta tambahan beban kerja dalam ranah domestik semakin memperkuat beban ganda yang mereka pikul. Di masa pandemi ini mereka tetap melakukan aktivitas memulung meskipun dibayang-bayangi akan kondisi kesehatan dirinya dan keluarga. Dalam ranah domestik beban tambahan harus mereka jalankan terkait dengan sistem belajar online yang diterapkan pada anak-anak mereka. Mereka dibelenggu akan kondisi kesehatan, ekonomi dan pendidikan JURNAL KAJIAN BALI Vol. No. Oktober 2020 Bambang Dharwiyanto Putro Hlm. 537Ae556 anak sehingga beban ganda yang mereka pikul semakin berlipat. Kedua, beban ganda yang semakin berlipat mengantarkan mereka pada posisi subaltern. Ideologi patriarki yang menjakiti masyarakat Bali semakin diperparah dengan hadirnya pandemi ini. Stereotip akan profesi memulung yang semakin menguat di tengah pandemi ini, semakin meminggirkan mereka dalam tatanan sosial masyarakat. Ruang gerak mereka semakin terbatas dan tidak bisa mengekpresikan kegelisahan yang mereka alami selama ini. Daftar Pustaka