Journal of Physical Activity and Sports (JPAS) E-ISSN. Volume 6. Nomor 1, 2025, 68-74 DOI: https://doi. org/10. 53869/jpas. IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSI TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SMP NEGERI 37 KOTA SEMARANG Mohamad Alif Fahmi 1 . Suprapti 2 Universitas PGRI Semarang. Semarang. Indonesia fsalsania@gmail. com, supraptismp37smg@gmail. * Coressponding Author. E-mail: fsalsania@gmail. Abstract Mohamad Alif Fahmi. "Implementation of inclusive education for children with special needs at the inclusive school of SMP Negeri 37 Semarang ". Postgraduate. Universitas PGRI Semarang, 2024. The study was based on students with special needs, especially subjects related to physical education to be lacking in knowledge material and appear more prominent in skills or practical activities. Its implementation at SMP Negeri 37 Semarang was only in 2024, but it is still not in accordance with existing provisions. The objectives of this study are: 1. ) To know the process of occurrence or the existence of children with special needs. ) To know inclusive education is obtained by children with special needs in PJOK learning in the psychomotor aspect. ) To know the treatment received by students with special needs from PJOK teachers and regular students both from learning, assessment and activities at school. The results of this study prove that the implementation of inclusive education for children with special needs at SMP Negeri 37 Semarang is already in the good category. Evidence from the results of this study can be seen from the good running of aspects such as planning, implementation and evaluation in the inclusive education program. Keywords: Implementation. Inclusive Education. Children with Special Needs Abstrak Mohamad Alif Fahmi. AuImplementasi pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi SMP Negeri 37 SemarangAy. Pascasarjana. Universitas PGRI Semarang, 2024. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh siswa berkebutuhan khusus terutama mata pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan jasmani kurang dalam materi pengetahuan dan lebih menonjol pada keterampilan atau kegiatan praktik. Implementasinya di SMP Negeri 37 Semarang baru pada tahun 2024, namun masih belum sesuai dengan ketentuan yang ada. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. ) Mengetahui proses terjadinya atau eksistensi anak berkebutuhan khusus. Mengetahui pendidikan inklusi yang diperoleh anak berkebutuhan khusus dalam pembelajaran PJOK pada aspek psikomotorik. ) Mengetahui perlakuan yang diterima siswa berkebutuhan khusus dari guru PJOK dan siswa reguler baik dari pembelajaran, penilaian maupun kegiatan di sekolah. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa implementasi pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus di SMP Negeri 37 Semarang sudah dalam kategori baik. Bukti dari hasil penelitian ini dapat dilihat dari berjalannya dengan baik aspek-aspek seperti perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dalam program pendidikan inklusif. Kata kunci: Implementasi. Pendidikan Inklusi. Anak Berkebutuhan Khusus Received: 09-12-2024 Accepted: 19-04-2025 Published: 30-04-2025 Implementasi Pendidikan Inklusi Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus di SMP Negeri 37 Kota Semarang Mohamad Alif Fahmi. Suprapti PENDAHULUAN Menurut Dr. Amka. Si. , pendidikan adalah upaya manusia untuk mengembangkan kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai masyarakat dan kebudayaannya. Dengan demikian, suatu proses pendidikan terjadi dalam peradaban setiap masyarakat. Akibatnya, pendidikan tidak mengenal batas dan dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja oleh manusia. ife long educatio. (Arriani, 2017. Fridayanthie, 2016. Muniarti & Anastasia, 2016. Rahayu, 2. Berdasarkan dari UUD 1945 & UU nomor 20 tahun 2003 pendidikan dapat disimpulkan bahwa negara menjamin sepenuhnya kepada seluruh anak-anak untuk mendapatkan pendidikan dengan kualitas terbaik dan tidak terkecuali untuk seluruh anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Dalam hal ini, undang-undang tersebut mengacu pada perkembangan pendidikan di Indonesia yang tidak lepas dari istilah inklusif atau inklusi. Apabila dikaitkan dengan dengan ranah pendidikan. Pendidikan inklusif adalah sistem pendidikan yang memerlukan anak-anak dengan kebutuhan khusus untuk belajar di sekolah terdekat dan di kelas reguler dengan siswa seusianya. Keberhasilan pendidikan inklusi di Indonesia bergantung kepada sistem pendukung dalam setiap sekolah inklusi, yang meliputi pelatihan guru, sumber daya berupa sarana dan prasarana, kerjasama pihak terkait, dukungan sosial dan masyarakat, di antaranya dengan mengembangkan hubungan kolaboratif di antara staf dan dengan orang tua, serta organisasi yang terlibat dalam hubungan dengan masyarakat ( Kantavong, 2. Pendidikan inklusi merupakan hal baru di Indonesia. Ini adalah pendekatan yang bertujuan untuk mengubah sistem pendidikan dengan menghapus semua hambatan yang menghalangi siswa untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam proses pendidikan. Setelah peneliti melaksanakan pengamatan disalah satu sekolah negeri di kota Semarang yaitu sekolah SMP Negeri 37 Kota Semarang berlokasi di Jl. Sompok Lama No. Peterongan. Kec. Semarang Selatan. Kota Semarang. Jawa Tengah 50242. Dimana tercatat pada tahun pelajaran 2023/2024 dengan jumlah siswa 768 dan terdapat siswa-siswi anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan jumlah 4 siswa. Berdasarkan dari hasil pengamatan yang telah dilaksanakan peneliti terdapat ank berkebutuhan khusus yang lamban dalam pembelajaran materi pengetahuan tetapi menonjol dalam pembelajaran materi keterampilan. Lalu bagaimana guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (PJOK) menyampaikan materi dan praktik melalui pendidikan inklusi dengan menarik dan Ketika anak berkebutuhan khusus (ABK) melakukan interaksi atau menjalankan tugas yang bersifat kelompok sangat berpengaruh dalam kelompoknya disebabkan kurangnya aspek pengetahuan karena lambatnya berpikir. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah penelti laksanakan terdapat kekurangan dalam pola berfikir anak-anak berkebutuhan khusus di SMP Negeri 37 Semarang. Pada siswa dengan berkebutuhan khusus terutama mata pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan cenderung kurang pada saat materi pengetahuan dan tampak lebih menonjol pada kegiatan keterampilan atau peraktik. Karena siswa dengan berkebutuhan khusus di SMP Negeri 37 Kota Semarang tidak ada yang mengalami disabilitas, sehingga pada saat kegiatan pelajaran jasmani olahraga dan kesehatan terutama pada materi keterampilan cenderung lebih menonjol dibandingkan saat menerima materi pengetahuan. Bagi anak berkebutuhan khusus di SMP Negeri 37 Kota Semarang tidak memiliki batas ketentuan minimum (KKM) dalam setiap penilaian yang dilakukan. Guru diminta membuat rencana pembelajaran dengan memasukkan unsur pengecualian atau differensiasi sehingga dapat membedakan tujuan pembelajaran yang dicapai oleh siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus. Pada saat pengambilan penilaian pengetahuan maupun keterampilan di mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (PJOK) tetap memperhatkan unsur-unsur pengecualian atau differensiasi dan mengutamakan nilai proses terutama di penilaian keterampilan. Sedangkan perlakuan terhadap siswa reguler maupun siswa berkebutuhan khusus disamaratakan. Hanya pada saat penilaian akan memperhatikan unsur pengecualian atau differensiasi. Terdapat anak berkebutuhan khusus (ABK) yang lamban dalam pembelajaran tetapi itu belum di duga kebenarannya sehingga perlu adanya kepastian terkait penerapan pendidikan inklusi yang dilakukan dalam pembelejaran PJOK di Sekolah Menengah Pertama. Berdasarkan uraian diatas, dengan demikian peneliti tertarik dan berminat untuk melaksanakan penelitian yang berjudul AuImplementasi Pendidikan Inklusi Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Di Sekolah Menengah Pertama (SMP) (Studi Kasus di Sekolah Inklusi SMP Negeri 37 Kota Semaran. Au. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan menggunakan studi kasus dalam pendekatan dalam mencari data Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus Studi Kasus merupakan metode kualitatif yang bagi penulis dirasa dapat menjadi metode yang dapat menguraikan permasalahan (Yusanto, 2020. Soedjono, 2. Dari keterangan diatas maka peneliti mengunakan model pendekatan studi kasus dalam menggali data kualitatif, menurut Moleong . Kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian, seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara menyeluruh sesuai dengan penjelasan Berdasarkan uraian tersebut peneliti menggunakan penelitian kualitatif menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumen atau teks. Dengan sumber data primer melakukan wawancara secara langsung dengan beberapa sumber yaitu Wakil Kepala Sekolah. Guru BK. Wali Kelas. Guru Mapel. Lalu data sekunder yang dikumpulkan dalam penelitian ini didapatkan dari data Implementasi Pendidikan Inklusi Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus di SMP Negeri 37 Kota Semarang Mohamad Alif Fahmi. Suprapti yang sudah ada file. Pada penelitian ini, peneliti menggunaka triangulasi data yang dimana triangulasi data menjadi fokus bahasan dan terkait dengan triangulasi, teknik pemeriksaan yang paling umum digunakan dalam penelitian skripsi. Dalam penelitian, triangulasi digunakan untuk mengumpulkan informasi bersama dengan sumber yang sudah jelas. Ini memungkinkan peneliti untuk menguji apakah informasi tersebut dapat dipercaya atau tidak. (Sugiyono, 2013, 2015, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah implementasi pendidikan inklusi untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) di SMP Negeri 37 Kota Semarang. Hasil Penelitian dan Analisis Data Perencanaan Ketika siswa diketahui merupakan anak berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas. Maka tidak akan dibiarkan begitu saja oleh Dinas Pendidikan, tetapi akan mendapatkan konsultasi asesmen atau psikoedukasi dari RDRM. Lalu akan dipertemukan orang tua dan guru bersama dengan psikolog untuk disampaikan langkah-langkah pendampingannya seperti aspek apa yang bisa dikembangkan, aspek apa yang harus diasah, aspek apa yang kurang, lalu bakat-bakat yang direkomendasikan, dengan tujuan orang tua terinformasi. Persiapan pembelajaran, dari data yang peneliti dapatkan siswa berkebutuhan khusus dan siswa reguler ketika melakukan persiapan pembelajaran seperti pada umumnya siswa. Seperti mempersiapkan buku, alat tulis, baju olahraga, tetapi terkadang tidak membawa buku, alat tulis atau baju olahraga. Persiapan yang dilakukan oleh guru pada umumnya membuat perangkat pembelajaran, termasuk dengan guru pada sekolah inklusi tetap harus membuat perangkat pembelajaran. Berdasarkan data yang peneliti dapatkan guru di SMP Negeri 37 Kota Semarang terkhusus guru mapel untuk perangkat pembelajaran baik itu siswa inklusi ataupun siswa reguler memiliki perangkat pembelajaran yang sama, hanya pada tujuan pembelajaran dan penilaian perlu dilakukan/diperhatikan aspek differensiasi. Cara menentukan aspek differensiasi dengan menggunakan tes diagnostik untuk kelas VII. Pelaksanaan Pelaksanaan program Pendidikan Inklusi di SMP Negeri 37 Kota Semarang sudah dalam kategori baik. Perihal tersebut dapat dibuktikan dengan berjalannya pembelajaran dengan berpedoman pada perangkat pembelajaran yang sudah dibuat dengan differensiasi. Berdasarkan data yang peneliti dapatkan dari tujuh siswa berkebutuhan khusus enam diantaranya lebih suka dengan pembelajaran gerak atau keterampilan. Ketika kegiatan pembelajaran di SMP Negeri 37 Kota Semarang, siswa inklusi dengan siswa reguler tercampur dalam satu kelas. Ketika pembelajaran pada umumnya siswa disamaratakan maka dari itu perlakuan yang di dapatkan oleh siswa berkebutuhan khusus oleh guru ataupun siswa reguler seperti siswa pada umumnya. Dengan demikian bisa mendorong mental, emosional serta semangat siswa ABK ketika bersekolah. Harapannya dengan perlakuan seperti itu siswa ABK bisa keluar dari zona berkebutuhan khusus. Karena setiap dua tahun sekali siswa berkebutuhan khusus harus melakukan asesmen untuk melihat taraf intelektual, mental, serta emosional siswa berkebutuhan khusus masih di rekomendasi inklusi atau menjadi reguler. Ketika pembagian tugas dari guru termasuk dalam kategori baik karena semua siswa baik inklusi atau reguler ketika pemberian tugas kelompok selalu mendapatkan kelompok. Siswa berkebutuhan khusus banyak yang senang ketika berkelompok dikarenakan ketika berkelompok bisa berdiskusi dengan temannya. Tetapi dari siswa reguler ada yang kurang suka karena ada siswa ABK yang kurang berkontribusi ketika mengerjakan tugas kelompok. Terkadang guru menanyakan terkait pemahaman siswa jika di rasa kurang paham maka akan diberikan pengulangan penjelasan, bisa secara individu dan pengulangan untuk satu kelas. Terkait penilaian guru tidak membedakan siswa inklusi dan siswa reguler, kebanyakan dari siswa tidak mengetahui terkait penilaian yang di dapatkan. Tetapi ada salah satu siswa inklusi dalam penilaian di dalam kelas mendapatkan pertanyaan soal yang lebih sedikit dibandingkan teman satu kelas lainnya. Selanjutnya terkait dengan perlakuan yang diberikan guru kepada siswa inklusi keseluruhan baik, guru memperlakukan siswa reguler sama seperti siswa lainnya. Karena memang sesuai dengan keinklusiannya siswa inklusi di SMP Negeri 37 Kota Semarang hanya ada kategori slowlearner saja. Dalam artian baik itu intelektual, mental, emosional, psikomotornya tidak berbeda jauh dengan siswa reguler atau teman seumurannya. Ketika ada siswa inklusi maupun siswa reguler berbuat salah atau mengganggu pembelajaran pasti akan ditegur oleh guru. Tanggapan guru terhadap siswa inklusi ketika mengganggu pembelajaran langsung ditegur seperti AuJangan diulangi lagiAy lalu AuJangan mengganggu temannyaAy. Evaluasi Terkait dengan evaluasi dalam implementasi program pendidikan inklusi di SMP Negeri 37 Kota Semarang sudah masuk dalam kategori baik. Ini dapat ditunjukkan dengan siswa inklusi dan siswa reguler berteman dengan baik dan saling mendukung satu sam lain seperti dari siswa reguler pernah melihat nilai yang di dapatkan siswa inklusi tetapi siswa reguler tidak memiliki kecemburuan atau iri terhadap nilai atau sikap guru yang memperhatikan siswa inklusi ketika pembelajaran di dalam dan di luar ruangan. Selanjutnya guru BK selaku guru yang membimbing siswa inklusi, meski di SMP Negeri 37 Kota Semarang belum memiliki guru pembimbing khusus (GPK) maka guru BK yang ditunjuk untuk melakukan pembimbingan. Bimbingan dari guru BK bermacam-macam ada yang dilakukan satu bulan sekali, ada yang dua ulan sekali ada yang setiap \minggu ketika di pembelajaran guru BK. Bimbingan yang diberikan berupa motivasi untuk siswa inklusi supaya semangat belajar dan nasihat yang diberikan berupa tidak boleh mengganggu temannya, tidak boleh melakukan bullying, serta tindakan apa yang harus di lakukan siswa inklusi baik itu di sekolah ataupun dirumah. Yang Implementasi Pendidikan Inklusi Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus di SMP Negeri 37 Kota Semarang Mohamad Alif Fahmi. Suprapti terakhir perlakuan yang didapatkan oleh siswa inklusi dari siswa reguler, berdasarkan informasi dari siswa inklusi dan pengamatan peneliti perlakuan yang di dapatkan baik seperti teman seumuran pada umumnya jika ada yang tidak paham maka siswa reguler akan mengajari dan sebaliknya. KESIMPULAN Berdasarkan temuan dari penelitian peneliti terkait AuImplementasi Pendidikan Inklusi Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Di Sekolah Menengah Pertama (SMP) (Studi Kasus di Sekolah Inklusi SMP Negeri 37 Kota Semaran. Au dapat disimpulkan bahwa: Perencanaan dalam Implementasi Pendidikan Inklusi di SMP Negeri 37 Kota Semarang dalam kategori baik. Pelaksanaan dalam Implementasi Pendidikan Inklusi di SMP Negeri 37 Kota Semarang dalam kategori baik. Evaluasi dalam Implementasi Pendidikan Inklusi di SMP Negeri 37 Kota Semarang dalam kategori baik. Berdasarkan dari kesimpulan tersebut, peneliti memberikan saran yang berhubungan dengan permasalahan yang peneliti tulis yaitu sebagai berikut: Perlu adanya sosialisasi kepada guru atau tenaga pendidik terkait data siswa ABK beserta hambatan, potensi dan bakat dari siswa ABK tersebut. Perlu adanya kurikulum yang baku untuk menentukan capaian yang sesuai dengan kemampuan siswa ABK. Perlu adanya pendanaan untuk membangun ruang sumber bagi siswa ABK di SMP Negeri 37 Kota Semarang. Perlu adanya guru pembimbing khusus (GPK) untuk mengawasi, membimbing, menjaga siswa ABK selama di lingkungan sekolah hingga siswa ABK pulang atau dijemput orangtuanya DAFTAR PUSTAKA