Jurnal Wacana Kesehatan Vol 10 No. Desember, pp 31-38 eISSN: 2541-6251 pISSN: 2088-5776 Pengaruh Promosi Kesehatan Menggunakan Video Animasi Tentang Pencegahan Stunting Terhadap Pengetahuan Siswi Di Smpn 22 Pesawaran Marliyana1. Feni Elda Fitri1. Suryadi1. Naura Aprilla Andaradika1 Program Studi D3 Keperawatan. STIKes Baitul Hikmah. Lampung * Corresponding author: marliyana. lecture@stikesbaitulhikmah. Abstract: Stunting is a chronic nutritional problem that has an impact on children's physical growth and cognitive development. Stunting prevention since adolescence is very important considering their role as mothers-to-be. Efforts to prevent stunting in adolescents can be done through health education. The development of digital technology greatly affects the world of education, especially in the provision of learning facilities. Various materials, equipment, and methods can be used to support the learning process and facilitate educational communication between teachers and students. One of the most important forms of learning is video. The use of video in the teaching and learning process is very efficient to convey material in an interesting and easy-to-understand way. The research aims to determine the effect of providing health promotion using animated videos on stunting prevention on the knowledge of students at SMPN 22 Pesawaran. The research design uses a pre-experimental design with a one group pretest-posttest The sample was selected using a random sampling technique totaling 66 Data was collected using a questionnaire for 3 days, namely the first day of knowledge measurement before, the second day of promotion, and the third day of knowledge measurement after education. Furthermore, the data was analyzed using the Wilcoxon test. The results of the study were obtained knowledge before 7. 5% of knowledge was good, 34. 8% knowledge was sufficient, and 57. 5% knowledge was After being given health promotion from 66 respondents, 93. 3% of the knowledge was good, and 6. 7% of the knowledge was sufficient. There was an increase in students' knowledge after being given health promotion using an animated video with a p-value value = 0. 002 (< 0. which means Ha was accepted. Before the intervention, most of the students had 57. 5% less knowledge, and after the intervention it increased to 93. 3% of good knowledge. Conclusion Health promotion using animated video media is effective in increasing students' knowledge about stunting prevention. Keywords: : Animated videos. Health promotion. Knowledge. Stunting. Teens. Literature Abstrak: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Pencegahan stunting sejak remaja sangat penting mengingat peran mereka sebagai calon ibu. Upaya mencegah stunting pada remaja dapat dilakukan melalui pendidikan kesehatan. Perkembangan teknologi digital sangat memengaruhi dunia pendidikan, khususnya dalam penyediaan sarana pembelajaran. Berbagai materi, peralatan, dan metode dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar serta memperlancar komunikasi edukatif antara pengajar dan siswa. Salah satu bentuk sarana pembelajaran yang sangat penting adalah video. Pemanfaatan video dalam proses belajar mengajar sangat efisien untuk menyampaikan materi dengan cara yang menarik dan mudah dimengerti. Penelitian bertujuan adakah pengaruh pemberian promosi kesehatan menggunakan video animasi tentang pencegahan stunting terhadap pengetahuan siswi di SMPN 22 Pesawaran. Desain Penelitian menggunakan desain preeksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. sampel dipilih dengan teknik random sampling berjumlah 66 siswi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner selama 3 hari yaitu hari pertama pengukuran pengetahuan sebelum, hari kedua pelaksanaan promosi, dan hari ketiga pengukuran pengetahuan setelah edukasi. Selanjutnya data dianalisa menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian didapatkan This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License Copyright A Author . DOI: 52822/jwk. Jurnal Wacana Kesehatan Vol 10 No. Desember pengetahuan sebelum 7,5% pengetahuan baik, 34,8% pengetahuan cukup, dan 57,5% pengetahuan kurang. Setelah diberikan promosi kesehatan dari 66 responden 93,3% pengetahuan baik, dan 6,7% pengetahuan cukup. Terjadi peningkatan pengetahuan siswi setelah diberikan promosi kesehatan menggunakan video animasi dengan nilai p-value = 0,002 (< 0,. yang berati Ha diterima. Sebelum intervensi, sebagian besar siswi memiliki pengetahuan kurang 57,5%, dan setelah intervensi meningkat menjadi 93,3% pengetahuan baik. Kesimpulan promosi kesehatan menggunakan media video animasi efektif meningkatkan pengetahuan siswi tentang pencegahan stunting . Kata kunci: Pengetahuan. Promosi kesehatan. Remaja. Stunting. Video animasi Kepustakaan PENDAHULUAN Menurut United Nations ChildrenAos Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) sekitar 22,3% atau 148,1 juta anak di bawah usia lima tahun di Asia Tenggara mengalami stunting atau terlalu pendek untuk usianya 1 . Berdasarkan hasil survei Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting di Indonesia mengalami penurunan dari 24,4% pada tahun 2021 menjadi 21,6% pada tahun 2022 dan 21,5% pada tahun 2023. Pemerintah terus berupaya menekan angka prevalensi tersebut dengan menargetkan penurunan hingga 14% pada tahun 2024 2 . Lampung merupakan provinsi yang menyumbang angka stunting sebesar 15,2% dari seluruh provinsi di Indonesia 3. Sedangkan di Kabupaten Pesawaran, angka stunting menunjukkan prevalensi sebesar 1,93% 4. Stunting memiliki dampak yang signifikan terhadap masa depan anak jika pencegahannya tidak dilakukan sejak dini. Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan otak anak, sehingga fungsinya tidak optimal. Selain itu, pertumbuhan fisik mereka juga akan terhambat, membuat anak lebih rentan terhadap penyakit dan mengalami gangguan metabolisme. Dalam jangka panjang, stunting dapat mengakibatkan penurunan kemampuan kognitif serta prestasi belajar yang tidak memuaskan. Selain itu, terdapat risiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit degeneratif dan produktivitas ekonomi yang rendah 5. Upaya untuk mencegah stunting bisa dilakukan melalui pendidikan yang menyeluruh, sehingga masyarakat, terutama gadis remaja, dapat memahami masalah ini dengan baik. Salah satu cara yang efektif adalah dengan melaksanakan pendidikan melalui metode penyuluhan di sekolah-sekolah. Dengan pendekatan ini, pengetahuan mengenai stunting dapat berkembang secara signifikan. Pemahaman yang kuat akan mendorong tindakan proaktif dalam mencegah stunting. Kelompok usia remaja, terutama yang berada ditingkat Sekolah Menengah Pertama merupakan kelompok yang sudah siap untuk menerima dan memahami berbagai informasi yang diberikan. Selain itu, siswi SMP berada pada masa transisi menuju usia produktif sehingga intervensi pendidikan gizi dan pencegahan stunting masih dapat dilakukan secara efektif untuk meminimalkan dampak lanjutan di masa depan 6. Promosi kesehatan memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong perubahan perilaku yang diperoleh melalui pengalaman belajar. Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan pemahaman yang mendalam, sehingga remaja dapat berkembang menjadi sumber daya manusia yang berkualitas 7. Media video animasi ini berfungsi sebagai sarana edukasi gizi, yang menyajikan materi dan metode secara sistematis dan menarik. Dalam video ini, terdapat informasi penting mengenai pemahaman remaja putri tentang pencegahan bayi lahir stunting. Selain itu, video ini memberikan pedoman intervensi gizi yang spesifik maupun gizi sensitif bagi remaja putri untuk mempercepat penurunan stunting. Dengan menggunakan media video animasi, remaja putri dapat dengan mudah memahami materi yang Video animasi mampu menggabungkan elemen visual, audio, dan narasi yang menarik sehingga meningkatkan fokus, retensi informasi, serta pemahaman konsep secara lebih mendalam. Hasil riset menunjukkan bahwa edukasi gizi melalui media video animasi dapat meningkatkan pengetahuan remaja putri secara signifikan 8. Tuti Handayani et al (Hubungan Komunikasi Trapeutik Perawat Dengan Kecemasan Pasien HIV) Jurnal Wacana Kesehatan Vol 10 No. Desember Studi pendahuluan yang penulis lakukan pada tanggal 13 Maret 2025 di SMPN 22 Pesawaran, didapatkan data seluruh siswa di SMPN 22 Pesawaran sebanyak 629 siswa dan siswi kelas VII. Vi terdapat 197 siswi atau . ,68%). Studi pendahuluan lebih lanjut penulis melalukan wawancara kepada 2 siswi, didapatkan hasil siswi mengatakan belum mengetahui apa itu stunting, siswi mengatakan belum mengetahui bagaimana cara pencegahan stunting. Wawancara dengan dewan guru bagian bimbingan konseling didapatkan bahwa belum pernah dilakukan penyuluhan tentang stunting dan belum pernah diadakan sosialisasi dari pihak UKS dan puskesmas. METODE Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretestAeposttest. Pada desain ini, seluruh responden diberikan pretest untuk mengukur pengetahuan awal mengenai pencegahan stunting, kemudian diberikan intervensi berupa promosi kesehatan menggunakan media video animasi, dan selanjutnya dilakukan postest untuk mengetahui perubahan tingkat pengetahuan setelah intervensi. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode random sampling, yaitu metode pengambilan sampel di mana setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih menjadi sampel Teknik ini bertujuan untuk menghindari bias peneliti dan memastikan sampel yang terpilih benar-benar mewakili populasi. Total sampel sejumlah 66 responden dengan kriteria inklusi meliputi: siswi yang bersedia mengikuti kegiatan penelitian, hadir pada saat . retest, intervensi, dan posttes. , tidak memiliki gangguan pendengaran atau penglihatan yang menghambat penyampaian materi audiovisual. Uji validitas dilakukan pada 30 responden uji coba . i luar sampel penelitia. menggunakan teknik Corrected ItemAeTotal Correlation dengan bantuan program SPSS. Dari 20 item pertanyaan, seluruhnya memiliki nilai r hitung > 0,361 sehingga 20 item dinyatakan valid dan layak digunakan sebagai instrumen Hasil uji reliabilitas terhadap 20 item kuesioner menunjukkan nilai CronbachAos Alpha = 0,872 . i atas standar minimal 0,. , sangat reliabel dan dapat digunakan dalam penelitian. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan tentang pencegahan stunting yang terdiri dari 20 item pertanyaan pilihan ganda mencakup: pengertian stunting, penyebab langsung dan tidak langsung, faktor risiko pada remaja putri, dampak jangka pendek dan jangka panjang, cara pencegahan stunting sejak remaja, peran nutrisi, pola hidup sehat, dan pemeriksaan kesehatan. Pengetahuan siswi dikategorikan menjadi tingkat pengetahuan baik jika skor . kor 80-100%), tingkat pengetahuan cukup jika skor . kor 60-79%), dan tingkat pengetahuan kurang jika skor . kor <60%). Intervensi berupa media video animasi edukatif yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman remaja putri mengenai pencegahan stunting. Video menggunakan format 2D animasi dengan narasi suara, teks pendukung, ilustrasi visual, dan infografik singkat. Durasi video adalah 8Ae10 menit, dipilih agar tidak terlalu panjang sehingga dapat mempertahankan fokus siswi selama penyampaian materi. Intervensi diberikan secara berkelompok di ruang kelas menggunakan LCD proyektor dan speaker, seluruh siswi menonton video secara bersamaan pada sesi yang telah dijadwalkan. Sebelum pemutaran video, peneliti menjelaskan tujuan kegiatan dan aturan pelaksanaannya. Setelah video selesai, peneliti memberikan waktu 3Ae5 menit bagi siswi untuk bertanya atau memberikan tanggapan, meskipun sesi tanya jawab tidak mempengaruhi Materi yang disampaikan dalam video meliputi: pengantar stunting, penyebab stunting, dampak stunting, mengapa pencegahan harus dimulai sejak remaja putri, upaya pencegahan stunting. Penelitian telah ini telah dilakukan uji etik oleh time etik STIKes Baitul Hikmah dengan no : 36/47/LPPM/V/2025 Analisa data dalam analisa univariat dilakukan untuk mengetahui distribusi presentase tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan, dalam analisa bivariat data dianalisis menggunakan uji wilcoxon menggunakan tingkat signifikansi () sebesar 0,05 atau 5%, yang merupakan standar umum dalam penelitian kesehatan. Analisis ini digunakan untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan siswi sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan melalui video animasi. HASIL PENELITIAN Tuti Handayani et al (Hubungan Komunikasi Trapeutik Perawat Dengan Kecemasan Pasien HIV) Jurnal Wacana Kesehatan Vol 10 No. Desember Analisa Univariat Distribusi frekuensi pengetahuan siswi sebelum diberikan promosi kesehatan tentang pencegahan Tabel 1. Distribusi frekwemsi pengetahuan siswi sebelum diberikan promosi kesehatan Tingkat pengetahuan Baik Cukup Kurang Total Frekuensi Presentase (%) Berdasarkan tabel 1 di atas dari total 66 responden, terdapat 5 responden . ,5%) yang memiliki pengetahuan baik, 23 responden . ,8%) memiliki pengetahuan cukup, dan 38 responden . ,5%) menunjukkan pengetahuan yang kurang. Distribusi frekuensi pengetahuan siswi setelah diberikan promosi kesehatan tentang pencegahan Tabel 2. Distribusi frekwensi pengetahuan siswi setelah diberikan promosi kesehatan Tingkat pengetahuan Baik Cukup Kurang Total Frekuensi Presentase (%) Berdasarkan tabel diatas diketahui dari 66 responden, terdapat 62 responden . ,3%) yang memiliki pengetahuan baik, dan 4 responden . ,7%) yang memiliki pengetahuan cukup. Analisa Bivariat Hasil analisa pengaruh promosi kesehatan menggunakan video animasi tentang pencegahan stunting terhadap pengetahuan siswi di SMPN 22 pesawaran, dijabarkan dalam tabel berikut ini : Tabel 3. Analisis tingkat pengetahuan sebelum dan setelah promosi kesehatan kesehatan menggunakan video animasi tentang pencegahan stunting terhadap pengetahuan siswi di SMPN 22 pesawaran Tingkat Pengetahuan Tingkat pengetahuan sebelum promosi kesehatan Tingkat pengetahuan setelah promosi kesehatan Median (Minimum-Maksimu. Rerata A 50 A 3. 0,001 Berdasarkan tabel 3 di atas, hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,001 (< 0,. , sehingga Ha diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pemberian promosi kesehatan melalui video animasi terhadap peningkatan pengetahuan siswi tentang pencegahan Tuti Handayani et al (Hubungan Komunikasi Trapeutik Perawat Dengan Kecemasan Pasien HIV) Jurnal Wacana Kesehatan Vol 10 No. Desember Pembahasan Analisa Univariat Pengetahuan siswi sebelum diberikan promosi kesehatan tentang pencegahan stunting. Dari hasil penelitian terhadap 66 responden, diketahui bahwa hanya 5 responden . ,5%) yang memiliki tingkat pengetahuan baik. Sebanyak 23 responden . ,8%) memiliki pengetahuan yang tergolong cukup, sementara mayoritas responden, yaitu 38 orang . ,5%), menunjukkan tingkat pengetahuan yang kurang. Temuan ini menggambarkan bahwa sebagian besar responden masih membutuhkan peningkatan pemahaman terkait topik yang diteliti. Berdasarkan teori, pengetahuan dapat dipahami sebagai hasil dari proses seseorang dalam mengenali dan memahami suatu objek melalui indera yang dimilikinya. Pengetahuan mencakup informasi, pemahaman, serta keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman dan proses pendidikan. Dengan demikian, pengetahuan tidak hanya terbatas pada apa yang diketahui secara teoritis, tetapi juga mencakup kemampuan seseorang dalam mengolah dan memaknai informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari 9. Salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman individu adalah melalui penyampaian informasi yang efektif, yang turut berperan dalam membentuk perilaku. Tingkat pemahaman seseorang tidak hanya bergantung pada informasi itu sendiri, tetapi juga pada cara dan media penyampaiannya. Salah satu media yang terbukti efektif adalah tayangan video, termasuk video animasi, yang dapat membantu memvisualisasikan konsep dan mempermudah penerimaan informasi. Penelitian terdahulu yang berjudul AuPenggunaan Video Animasi sebagai Media Pembelajaran untuk Meningkatkan Pemahaman dan Sikap Kader Posyandu dalam Mengidentifikasi Risiko StuntingAy menunjukkan bahwa pelatihan menggunakan video animasi memiliki dampak signifikan dengan p-value sebesar 0,000 untuk perbandingan antara pengetahuan pre-test dan post-test. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari edukasi menggunakan media video animasi terhadap pengetahuan kader posyandu dalam deteksi risiko stunting. Hasil penelitian tersebut relevan dengan temuan peneliti karena sama-sama menekankan pentingnya media pembelajaran berupa video dalam meningkatkan pemahaman peserta, sekaligus memengaruhi sikap dan perilaku terkait topik yang Upaya meningkatkan pemahaman individu merupakan langkah penting dalam membentuk perilaku Untuk mencapai pemahaman yang lebih baik, diperlukan penyampaian informasi yang efektif dan mudah diterima. Cara penyampaian pesan, termasuk pemilihan media yang digunakan, sangat berpengaruh terhadap tingkat pemahaman tersebut. Media yang tepat dapat membantu individu memproses informasi dengan lebih jelas dan mendalam. Salah satu contohnya adalah penggunaan tayangan video, yang terbukti mampu meningkatkan pemahaman karena menyajikan informasi secara visual dan auditori 11. Menurut peneliti, faktor yang dapat memengaruhi tingkat pengetahuan seseorang meliputi umur dan metode penyampaian informasi. Rata-rata peserta dalam penelitian ini adalah siswi berusia 13 tahun, yaitu usia dengan rasa ingin tahu yang tinggi sehingga mendorong remaja untuk mencari informasi, yang pada akhirnya berdampak pada pengetahuan mereka. Sekolah Menengah Pertama merupakan jenjang pendidikan yang dilalui remaja sebelum memasuki fase dewasa. Pada tahap ini, individu mulai memilih dan menentukan arah hidup mereka di masa depan. Dengan demikian, mereka mampu menerima serta menganalisis pesan yang disampaikan melalui media pendidikan, seperti video animasi, terutama apabila disajikan dengan cara yang menarik dan sesuai dengan usia mereka. Pengetahuan siswi setelah diberikan promosi kesehatan tentang pencegahan stunting. Promosi kesehatan merupakan suatu upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam menjaga, meningkatkan, dan melindungi kesehatan diri serta lingkungan sekitar mereka. Pemberdayaan itu sendiri berfokus pada pengembangan kemandirian, yang dilakukan dengan cara meningkatkan kesadaran. Tuti Handayani et al (Hubungan Komunikasi Trapeutik Perawat Dengan Kecemasan Pasien HIV) Jurnal Wacana Kesehatan Vol 10 No. Desember kemampuan, dan menciptakan suasana yang mendukung kemandirian tersebut 12. Sarana yang dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan promosi kesehatan adalah alat bantu audio visual aids dengan desain yang menarik dan persuasif. Media ini berfungsi untuk merangsang indra penglihatan dan pendengaran selama proses promosi kesehatan, sehingga menjadi sarana yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan mendorong perilaku hidup sehat 13. Video animasi dirancang untuk menarik perhatian remaja dengan durasi yang singkat. Penggunaan media video animasi terbukti berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan. Peningkatan pengetahuan ini dapat terjadi karena remaja menerima pengetahuan yang cukup baik, sehingga menimbulkan reaksi positif terhadap sikap mereka. Selain itu, pemilihan media yang tepat juga merupakan faktor penting dalam promosi kesehatan. Media audio visual aids yang digunakan memudahkan remaja untuk memahami informasi yang mungkin sulit 14. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang berjudul "Pemanfaatan media video animasi jari centini . emaja putri cegah stunting sejak din. sebagai media edukasi pencegahan stunting". Hal ini terlihat dari kenaikan pengetahuan remaja, dengan nilai rata-rata sebelum edukasi yaitu 72 dan setelahnya menjadi 90 15. Media video edukasi secara signifikan meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang stunting, karena lebih mudah dipahami dan tidak membosankan 16. Pengetahuan dan sikap remaja dapat diubah secara efektif oleh video animasi karena sifatnya yang interaktif dan komunikatif 17. Menurut peneliti, penggunaan video animasi dalam kampanye kesehatan dapat meningkatkan pemahaman peserta karena media ini menyajikan informasi kesehatan dengan cara yang mudah dipahami. Kampanye kesehatan yang menggunakan video animasi bisa menarik perhatian siswi karena menggabungkan elemen visual, suara, dan narasi yang bersifat interaktif. Penggunaan warna serta gambar bergerak membuat media ini lebih menarik bagi penonton, sehingga animasi berperan penting dalam menyampaikan informasi yang lebih mudah dimengerti oleh mereka. Diharapkan peningkatan pengetahuan ini menjadi langkah awal yang signifikan dalam mengubah sikap dan perilaku siswi terhadap masalah stunting, khususnya dalam hal penerapan gaya hidup sehat, pemilihan makanan bergizi, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Peningkatan pengetahuan ini sejalan dengan teori Dale's Cone of Experience, yang mengungkapkan bahwa pembelajaran yang melibatkan lebih banyak indra melihat dan mendengar sekaligus akan lebih mudah untuk dipahami dan Dalam konteks ini, siswi tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga mengamati visual yang relevan dalam bentuk animasi, sehingga informasi lebih tertanam dalam ingatan mereka. Penelitian terdahulu berjudul AuEfektivitas Media Video Animasi terhadap Peningkatan Pengetahuan Remaja tentang Pencegahan AnemiaAy. Penelitian menggunakan desain quasi eksperimen dengan pretestAe posttest pada 120 remaja putri. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang diberikan edukasi melalui video animasi mengalami peningkatan pengetahuan yang signifikan dibandingkan kelompok leaflet. Peneliti menjelaskan bahwa kombinasi visual bergerak, suara, dan narasi membantu remaja memahami materi kesehatan dengan lebih mudah serta meningkatkan daya ingat. Temuan ini memperkuat gagasan bahwa video animasi merupakan media edukasi yang efektif dalam kampanye kesehatan remaja 18. Analisa Bivariat Berdasarkan hasil uji wilcoxon didapatkan nilai p-value 0. 002 (<0. artinya Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh pemberian promosi kesehatan menggunakan video animasi tentang pencegahan stunting terhadap pengetahuan siswi. Hasil penelitian terdahulu berjudul "Dampak video animasi dan leaflet terhadap tingkat pengetahuan remaja putri mengenai pencegahan stunting di SMK Muhammadiyah Prambanan Sleman". Dengan metode simple random sampling, yang melibatkan total 100 responden, terdiri dari 50 responden dalam kelompok eksperimen dan 50 responden dalam kelompok Dengan hasil p-value = 0,026 untuk dampak vidio animasi sedangkan leflet tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan karena p-value = 0,083. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan pada pengetahuan remaja putri mengenai pencegahan Tuti Handayani et al (Hubungan Komunikasi Trapeutik Perawat Dengan Kecemasan Pasien HIV) Jurnal Wacana Kesehatan Vol 10 No. Desember Hal ini mengindikasikan bahwa penyampaian materi melalui animasiAiyang memadukan visual bergerak, suara, dan narasiAimampu menarik perhatian, meningkatkan fokus, serta mempermudah pemahaman konsep stunting dan pencegahannya 19. Penelitian dengan judul "Pendidikan gizi seimbang melalui media video animasi terhadap peningkatan pengetahuan gizi seimbang pada remaja". Untuk analisis datanya, digunakan uji Wilcoxon. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan remaja meningkat 100% dengan p value = 0. 000 (<0,. Data ini menunjukkan bahwa video animasi mengenai edukasi gizi seimbang memiliki dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan gizi seimbang di kalangan remaja 20. Hasil penelitian lain yang berjudul "Implementasi edukasi gizi seimbang dengan video animasi untuk meningkatkan pemahaman dan sikap remaja yang mengalami stunting di RW 01 Kelurahan Bubulak Kota Bogor". Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan video animasi untuk edukasi gizi seimbang terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap setelah empat sesi selama dua minggu 21. Penelitian yang berjudul AuDampak edukasi pencegahan stunting melalui video terhadap remaja di Desa Long Loreh. Ay Dengan jenis desain satu kelompok pre-post test. Jumlah populasi yang diteliti mencakup 21 remaja putri di SMP Negeri 01 Malinau Selatan. Data yang dikumpulkan selanjutnya dianalisis menggunakan uji Wilcoxon, dengan hasil penelitian menunjukkan nilai P= 0. 000 (P <0. Dapat disimpulkan bahwa penyampaian informasi melalui pendidikan mengenai pencegahan stunting pada kaum muda berdampak pada pemahaman remaja perempuan mengenai cara mencegah terjadinya stunting sedini mungkin 22. Hasil penelitian berjudul AuThe effect of health education video media on pregnant women's prevention knowledg stunting in the work area of regional public service agency public service agency (BLUD) Puskesmas Selajambe Kuningan Regency In 2023. Ay dengan total sampel sebanyak 48 ibu hamil. Hasil Sebelum mendapatkan edukasi, sebagian besar ibu hamil memiliki pengetahuan yang baik, yaitu 39 responden . ,3%). Setelah menerima edukasi melalui video, dari 48 responden yang diteliti, mayoritas sekarang berpengetahuan baik, yaitu 42 responden . ,5%). Terdapat pengaruh dari media video edukasi kesehatan terhadap pengetahuan ibu hamil mengenai pencegahan stunting 23. KESIMPULAN Promosi kesehatan menggunakan media video animasi berpengaruh terhadap pengetahuan siswi mengenai pencegahan stunting. Pengetahuan siswi sebelum diberikan edukasi 57,5% sedangkan setelah intervensi terjadi peningkatan pengetahuan menjadi 93,3%, dengan nilai p value Sekolah dapat mengintegrasikan video animasi sebagai media edukasi dalam program UKS, mata pelajaran IPA/Biologi, dan kegiatan promosi kesehatan lainnya. DAFTAR PUSTAKA