Jurnal Kajian Ilmiah e-ISSN: 2597-792X. ISSN: 1410-9794 Vol. 25 No. 3 (September 2. Halaman: 303 Ae 316 Terakreditasi Peringkat 4 (SINTA . sesuai SK RISTEKDIKTI Nomor. 158/E/KPT/2021 Keadaban Digital Dan Etika Tauhid: Telaah Kritis Filsafat Pendidikan Muhammadiyah Dalam Era Literasi Artifisial Herdiana 1,*. Sudarnoto Abdul Hakim 2. Zamah Sari 1 Sekolah Pascasarjana Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka. e-mail: herdiana@uhamka. id, zamahsari@uhamka. Sekolah Pascasarjana. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. e-mail: sudarnoto@uinjkt. * Korespondensi: e-mail: herdiana@uhamka. Submitted: 28/07/2025. Revised: 05/08/2025. Accepted: 03/09/2025. Published: 30/09/2025 Abstract The advancement of digital technology demands that the world of education integrate technological advancement with Islamic ethical values. This paper examines the thoughts of KH Ahmad Dahlan within the framework of MuhammadiyahAos educational philosophy in responding to the challenges of digitalization and digital literacy. Using a qualitative literature study approach, the discussion focuses on the concept of tauhidic ethics an ethical foundation rooted in the oneness of God . and its application in fostering digital civility. This concept is compared with the ideas of Syed M. Naquib Al-Attas on adab. Seyyed Hossein Nasr on spirituality and technology. Paulo Freire on critical literacy, and Mike Ribble on digital The study shows that tauhidic ethics is relevant in shaping ethical digital behavior, in line with Al-AttasAo emphasis on the proper placement of knowledge, and NasrAos view on the importance of spiritual dimensions in the use of modern technology. Freire contributes a critical awareness perspective that aligns with the Islamic principle of tabayyun . , while Ribble offers practical guidelines that can be integrated with Muhammadiyah values such as the Akhlaq Sosmediyah movement. Therefore. Muhammadiyah education needs to integrate the ethical values of monotheism in the digital curriculum. Keywords: Digital ethics. Islam. Literacy. Muhammadiyah. Tauhid Abstrak Kemajuan teknologi digital menuntut dunia pendidikan untuk mengintegrasikan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai etika keislaman. Tulisan ini mengkaji pemikiran KH Ahmad Dahlan dalam kerangka filsafat pendidikan Muhammadiyah guna merespons tantangan digitalisasi dan literasi digital. Dengan pendekatan studi literatur kualitatif, pembahasan difokuskan pada konsep etika tauhidAiyakni etika yang berakar pada nilai keesaan Tuhan . Aidan aplikasinya dalam membangun keadaban digital. Konsep ini diperbandingkan dengan pemikiran Syed M. Naquib Al-Attas tentang adab. Seyyed Hossein Nasr tentang spiritualitas dan teknologi. Paulo Freire tentang literasi kritis, serta Mike Ribble mengenai kewargaan digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa etika tauhid relevan dalam membentuk perilaku digital yang beradab, sejalan dengan gagasan Al-Attas yang menekankan penempatan ilmu secara tepat, serta pandangan Nasr tentang pentingnya dimensi spiritual dalam menghadapi teknologi Pemikiran Freire menambah dimensi kesadaran kritis yang selaras dengan prinsip tabayyun dalam Islam, sementara Ribble menyajikan panduan praktis yang bisa dipadukan dengan nilai Muhammadiyah seperti Akhlaq Sosmediyah. Oleh karena itu, pendidikan Muhammadiyah perlu mengintegrasikan nilai-nilai etika tauhid dalam kurikulum digital. Kata kunci: Etika digital. Islam. Literasi. Muhammadiyah. Tauhid Available Online at http://ejurnal. id/index. php/JKI Herdiana. Sudarnoto Abdul Hakim. Zamah Sari Pendahuluan Transformasi digital yang kian pesat telah membawa dunia memasuki era literasi artifisial, di mana teknologi kecerdasan buatan . rtificial intelligence. AI) turut berperan dalam produksi dan penyebaran informasi (Xu, 2. Di Indonesia, penetrasi internet yang tinggi dan penggunaan media sosial yang masif memberikan peluang sekaligus tantangan bagi pendidikan (Machfiroh et al. , 2. Di satu sisi, digitalisasi membuka akses pengetahuan yang di sisi lain, muncul problematika seperti hoaks, cyberbullying, disinformasi, dan menurunnya interaksi sosial yang etis. Laporan UNICEF . menemukan 45% dari 2. remaja Indonesia usia 14Ae24 pernah mengalami cyberbullying di ranah daring, menandakan bahwa isu keadaban dalam dunia digital merupakan hal genting (Alismaiel, 2. Kasus-kasus penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian juga marak, bahkan mendorong Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa No. 24 Tahun 2017 tentang etika bermedia sosial yang mengharamkan penyebaran hoaks. Hal ini menunjukkan bahwa literasi digital tak bisa dipisahkan dari dimensi etika dan moral (Sugiarto & Farid, 2. Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam berkemajuan yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada awal abad ke-20, memiliki warisan filosofi pendidikan yang menekankan integrasi nilainilai Islam dengan ilmu pengetahuan modern. KH Ahmad Dahlan dikenal melakukan terobosan dengan memasukkan pendidikan umum . ains, matematik. dalam kurikulum madrasah, seraya menekankan pentingnya tauhid . eesaan Tuha. dan akhlak dalam membentuk karakter peserta didik (Khoirudin et al. , 2. Spirit teologis surat Al-MaAoun tentang kepedulian sosial, misalnya, dijadikan landasan teologi al-MaAoun yang mendorong praktik pendidikan berbasis empati dan aksi sosial. Kini, di era digital, pertanyaan penting muncul: bagaimana filsafat pendidikan Muhammadiyah yang berlandaskan tauhid dan akhlak ini dapat menjawab tantangan literasi digital dan AI? Dapatkah etika tauhid yang menjadi jiwa pendidikan Muhammadiyah diaktualisasikan untuk membimbing perilaku . generasi muda di dunia Meskipun Muhammadiyah sejak awal telah meletakkan fondasi pendidikan berbasis tauhid, akhlak, dan integrasi ilmu pengetahuan modern, dalam realitas era digital dan masyarakat cerdas (Society 5. muncul tantangan serius yang menguji relevansi dan aktualisasi filosofi tersebut. Tantangan berupa dehumanisasi pendidikan akibat dominasi teknologi, sekularisasi yang memisahkan nilai spiritual dari ilmu, serta elitisme pendidikan menunjukkan adanya kesenjangan antara visi pendidikan Muhammadiyah dengan praktik pendidikan digital kontemporer. Dalam konteks ini, muncul permasalahan penting: sejauh mana filsafat pendidikan Muhammadiyah yang berlandaskan tauhid dan spirit teologi al-MaAoun mampu menjawab persoalan literasi digital, etika penggunaan AI, serta pembentukan adab generasi muda di ruang digital, sehingga teknologi tidak justru menggerus nilai kemanusiaan dan spiritualitas peserta didik. Berdasarkan latar belakang di atas, artikel ini bertujuan merumuskan kerangka etik dan pedagogis literasi digital yang berakar pada etika tauhid dan relevan secara universal. Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 303 - 316 (September 2. Keadaban Digital Dan Etika TauhidA Pembahasan mencakup analisis konsep keadaban digital dalam perspektif filsafat pendidikan Muhammadiyah, serta perbandingannya dengan pemikiran Syed M. Naquib Al-Attas. Seyyed Hossein Nasr. Paulo Freire, dan Mike Ribble. Struktur artikel diawali dengan tinjauan pustaka atas konsep-konsep kunci, dilanjutkan metodologi, hasil dan diskusi yang dibagi per tema . tika tauhid digital, komparasi lintas tokoh, tantangan AI, serta inisiatif Muhammadiya. , dan ditutup dengan simpulan serta rekomendasi penguatan pendidikan etis di era digital. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . iterature revie. Sumber data yang dianalisis mencakup repositori akademik, arsip organisasi, dan basis data ilmiah . isalnya Google Scholar. JSTOR. ProQuest, atau Garud. yang relevan dengan topik, serta dokumen kebijakan dan publikasi resmi Muhammadiyah yang berkaitan dengan pendidikan dan etika digital. Beberapa kata kunci yang digunakan dalam penelusuran literatur antara lain: Aupendidikan MuhammadiyahAy. Auetika tauhidAy. Auadab digitalAy. Auliterasi digital IslamiAy. AuPaulo Freire digitalAy, dan Audigital citizenshipAy. Studi ini menempatkan filsafat pendidikan Muhammadiyah sebagai kerangka analisis utama, kemudian melakukan komparasi teori dengan pemikiran tokoh lain untuk memperkaya perspektif. Langkah-langkah penelitian meliputi: . Pengumpulan Data: Mengidentifikasi dan mengumpulkan sumber-sumber tertulis, termasuk artikel jurnal terbaru, buku, fatwa MUI, serta artikel dari media Muhammadiyah . eperti Suara Muhammadiyah dan Suara AoAisyiya. Evaluasi dan Kritis Sumber: Memeriksa kredibilitas setiap sumber dan relevansinya. Sumber primer seperti tulisan KH Ahmad Dahlan atau dokumen resmi Muhammadiyah diberi bobot penting, diimbangi dengan sumber sekunder dari peneliti kontemporer (Maraulang, 2. Analisis Konten: Menerapkan teknik analisis isi tematik. Data atau kutipan dari sumber dikelompokkan ke dalam tema-tema: misalnya Aukonsep tauhid dalam pendidikanAy. Auetika bermedia dalam IslamAy. Aupandangan tokoh X terhadap teknologiAy, dll. Pendekatan deductive content analysis digunakan di mana kerangka konsep awal . auhid, adab, literasi kritis, kewargaan digita. membantu memandu ekstraksi data. Komparasi dan Sintesis: Membandingkan antar konsep Ae mencari keselarasan dan perbedaan antara etika tauhid Muhammadiyah dengan konsep adab Al-Attas, misalnya, atau antara literasi kritis Freire dengan prinsip tabayyun. Pada tahap ini dilakukan sintesis untuk mengintegrasikan pandanganpandangan tersebut ke dalam narasi yang utuh. Perlu dicatat bahwa sebagai penelitian kualitatif berbasis literatur, studi ini bersifat nonempiris. Keterbatasan mungkin muncul pada kurangnya data langsung lapangan. namun, hal ini diatasi dengan memperluas cakupan literatur hingga tahun terbaru . 4Ae2. untuk menangkap perkembangan terkini . isal: dampak AI dalam pendidika. Validitas interpretasi dijaga dengan merujuk silang banyak sumber dan menampilkan kutipan langsung dari tokoh untuk menghindari bias penafsiran. Semua kutipan dan referensi dicantumkan sesuai gaya APA untuk memastikan traceability . apat dilaca. oleh pembaca. Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 303 - 316 (September 2. Herdiana. Sudarnoto Abdul Hakim. Zamah Sari Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan menghasilkan analisis yang mendalam dan relevan secara praktis. Kajian kritis dan komparatif yang dilakukan bertujuan merumuskan konsep keadaban digital berbasis etika tauhid dalam filsafat pendidikan Muhammadiyah yang sesuai dengan tantangan era digital dan literasi artifisial. Hasil dan Pembahasan Etika Tauhid Sebagai Kerangka Keadaban Digital Konsep etika tauhid mengandung esensi bahwa keimanan kepada keesaan Tuhan seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk di dunia maya (T & K, 2. Dalam konteks keadaban digital, etika tauhid memberikan panduan normatif bagi Muslim tentang bagaimana berinteraksi dengan informasi dan orang lain secara daring sesuai nilai Islam (Simamora & Farid, 2. Hasil telaah literatur menunjukkan bahwa tauhid dapat dioperasionalkan menjadi prinsip-prinsip etis praktis di ranah digital. Misalnya, keyakinan bahwa Allah Maha Melihat menumbuhkan sikap berhati-hati dalam berucap di media sosial. yang bertauhid akan menghindari ujaran kebencian atau penipuan daring karena sadar hal itu melanggar perintah Allah untuk berlaku jujur dan berbuat baik. Muhammadiyah sendiri melalui ceramah-ceramah keagamaannya telah menekankan hal ini. (Jaya et al. , 2. , dalam pengajian Ramadan Muhammadiyah, menegaskan bahwa literasi media harus dilandasi tauhid: Aumelandasi literasi sosial kita dengan tauhid di ranah komunikasi mediaAy. Ini berarti setiap aktivitas membaca, menulis, mengunggah, atau menyebarkan informasi sebaiknya dilakukan dengan niat dan cara yang sesuai perintah Allah. Salah satu implementasinya adalah kebiasaan tabayyun Ae memverifikasi kebenaran informasi sebelum mempercayai atau membagikannya (Samsir, 2. Prinsip ini sejalan dengan QS. AlHujurat ayat 6 dan dalam konteks digital dapat mencegah penyebaran hoaks. Muhammadiyah mendukung hal ini dengan menyediakan panduan Akhlaq Sosmediyah, yang antara lain menganjurkan warga untuk tidak langsung percaya pada informasi viral dan selalu mengecek Etika tauhid juga mendorong akhlaq karimah . khlak muli. dalam interaksi digital. Seseorang yang sadar tauhid akan berusaha bersikap amanah . idak menyalahgunakan data atau privasi oran. , adil . idak membuat komentar sewenang-wenan. , dan menjaga kehormatan sesama (Rohanita et al. , 2. Nilai-nilai ini relevan misalnya dalam etika berdiskusi di forum online: tidak melakukan character assassination, tidak mem-bully, serta bersedia meminta maaf jika melakukan kesalahan. Keadaban digital yang berlandaskan tauhid berarti pengguna internet memiliki self-regulation yang kuat karena merasa selalu terhubung dengan nilai spiritual. Jika di ranah publik offline kita mengenal konsep amar maAoruf nahi munkar . engajak pada kebaikan, mencegah kemungkara. , maka di ranah online pun konsep ini berlaku: pengguna Muslim diharapkan menyebarkan konten bermanfaat serta mencegah tersebarnya konten merusak (Sholihul Anwar et al. , 2. Penelitian (Rozak, 2. tentang pendidikan karakter di era Smart Society 5. 0 mendukung hal ini dengan menyimpulkan perlunya Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 303 - 316 (September 2. Keadaban Digital Dan Etika TauhidA fokus pada implementasi nilai agama . sebagai landasan karakter siswa di tengah Menariknya, tauhid sebagai konsep teologis juga melahirkan visi profetik tentang keadaban global. Pesan ketauhidan menekankan kesatuan asal-usul manusia . emua makhluk adalah ciptaan Alla. yang apabila diterapkan, bisa membangun empati lintas kelompok di dunia maya yang plural (NAs, 2. Identitas online sering bersifat anonim, namun etika tauhid mengingatkan bahwa di balik layar tetap ada manusia yang harus dihormati. Ini penting untuk melawan dehumanisasi digital, ketika orang lupa bahwa lawan bicara mereka juga manusia. Spirit tauhid mengingatkan bahwa manusia adalah khalifah di bumi, yang seharusnya membangun, bukan merusak. Etika tauhid juga mengisi kekosongan moral dalam etika sekuler. Jika aturan digital seperti netiket sering diabaikan karena tak ada sanksi, etika tauhid memberi dasar spiritualAibahwa setiap perilaku tetap dinilai oleh Tuhan, meski tak terlihat oleh manusia. Etika tauhid menawarkan panduan keadaban digital yang menyatukan kesadaran spiritual, akhlak mulia, dan tanggung jawab sosial. Ini memperluas makna kesopanan digital menjadi bagian dari ibadah. Tantangannya adalah bagaimana menanamkan nilai ini di kalangan netizen Muslim. Di sinilah pendidikan berperan penting, agar etika tauhid menjadi kebiasaan dalam aktivitas online. Kurikulum Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di sekolah Muhammadiyah perlu memasukkan materi literasi digital yang beretika untuk membimbing generasi muda menerapkan tauhid di dunia maya (Husnaini Rahmi Arrumi, 2. (Husnaini Rahmi Arrumi, 2. Konsep Adab Al-Attas Dan Keadaban Digital Pemikiran Syed M. Naquib Al-Attas tentang adab memberi dasar filosofis penting dalam membahas keadaban digital. Bagi Al-Attas, adab bukan hanya soal sopan santun, tapi mencerminkan keteraturan jiwa dan ilmu sesuai dengan keadilan. Ia menjelaskan bahwa adab mencakup kemampuan mengenali dan menghargai kebenaran secara berurutan dan tepat. Dalam konteks digital, orang yang memiliki adab akan tahu bagaimana menyikapi informasiAi tidak asal menyebarkan, dan bisa memilah mana yang penting atau benar (Mujiburrohman & M. Erlin Susri, 2. Artinya, orang yang beradab mampu membedakan mana informasi yang benar dan penting, dan mana yang tidak berguna atau menyesatkan, sesuai aturan keilmuan. Kehilangan adab dalam dunia digital berarti hilangnya kemampuan iniAiorang jadi sulit membedakan pengetahuan valid dari misinformasi. Al-Attas menyebut kondisi ini sebagai kerusakan ilmu . orruption of knowledg. Dalam praktiknya, kita bisa melihat gejalanya: teori konspirasi dan hoaks mudah menyebar karena masyarakat tak lagi menghargai otoritas Misalnya, pendapat selebritas lebih dipercaya daripada para ahli dalam isu Dengan demikian, mengembalikan adab digital berarti mengembalikan tata tertib epistemologis di internet (Leiter, 2. Pendekatan Al-Attas mengingatkan agar pendidikan digital mencakup penanaman sikap hormat pada ilmu dan pencarinya. Misalnya, etika diskusi Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 303 - 316 (September 2. Herdiana. Sudarnoto Abdul Hakim. Zamah Sari ilmiah di forum online: yang beradab akan mengutip sumber kredibel, berbicara dengan basis data, serta menghargai perbedaan pendapat secara objektif. Ini sejalan dengan salah satu elemen digital fluency dalam kerangka Ribble, yakni kemampuan mendiskusikan literasi media dan membedakan informasi yang baik dan buruk. Konsep adab juga meliputi disiplin diri. Dalam konteks keadaban digital, hal ini terkait dengan digital self-regulation. Contoh kongkrit: disiplin dalam mengatur waktu penggunaan gawai . idak screen time berlebiha. , disiplin menjaga privasi, dan mengendalikan diri dari godaan konten negatif. Seseorang dengan adab tidak akan oversharing hal-hal pribadi secara tidak pantas, karena ia tahu batasan malu . dan kehormatan diri yang harus dijaga. juga tidak akan mengejar viralitas dengan cara-cara murahan atau merugikan orang lain. Ini mengingatkan kita pada pandangan Islam klasik tentang harga diri dan kehormatan, yang dalam digital perlu diterjemahkan ke praktik seperti etika selfie, etika posting, dan sebagainya (Oral, 2. Menurut Al-Attas, adab mencerminkan kebijaksanaan dan keadilan, dan pendidikan dianggap berhasil jika mampu membentuk pribadi yang bijak. Di era digital, tantangan muncul karena melimpahnya informasi tanpa penyaring moral. AI memang memberi pengetahuan cepat, tetapi tanpa adab, siswa bisa jadi hanya mengejar jawaban instan tanpa pemahaman, seperti melakukan plagiarisme atau bergantung penuh pada teknologi. Al-Attas mengingatkan bahwa pendidikan tanpa adab hanya menghasilkan orang yang tahu banyak tapi kurang bijak. Pemikirannya sejalan dengan pendidikan Muhammadiyah yang menekankan tauhid dan akhlak serta menolak pemisahan agama dan ilmu. Dalam konteks digital. Muhammadiyah dapat menerapkan konsep adab ini dengan menyusun pedoman etika digital yang menekankan tanggung jawab dalam menggunakan dan menyebarkan informasi. Etika tauhid dan adab punya tujuan samaAimembentuk manusia beriman dan berkarakterAitapi pendekatannya berbeda. Etika tauhid menekankan hubungan dengan Tuhan sebagai dasar moral, sedangkan adab lebih fokus pada akhlak sosial dan tata ilmu. Di dunia digital, etika tauhid membentuk kesadaran spiritual . isalnya takut menyebar hoaks karena dos. , sementara adab mengatur cara berkomunikasi dan menghormati ilmu. Keduanya saling Literasi digital Islami perlu memadukan keduanya: bukan hanya mengingatkan bahaya hoaks, tapi juga menanamkan bahwa menyebarkannya adalah perbuatan dosa. Spiritualitas Dan Teknologi: Perspektif Seyyed Hossein Nasr Seyyed Hossein Nasr, seorang filsuf Islam kontemporer, dikenal kritis terhadap dampak modernisasi sains dan teknologi. Ia kerap mengingatkan tentang krisis spiritual yang menyertai kemajuan material. Dalam wawancara AuIslam. Muslims, and Modern TechnologyAy (Muhammad & Kerwanto, 2. , ia menyoroti bahwa teknologi modern telah menggantikan banyak metode tradisional dan hal ini memiliki konsekuensi serius bagi kesehatan spiritual umat manusia. Poin Nasr ini sangat relevan ketika kita melihat fenomena kecanduan gawai, alienasi sosial akibat media sosial, dan lunturnya nilai-nilai transcendental di era digital. Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 303 - 316 (September 2. Keadaban Digital Dan Etika TauhidA Seyyed Hossein Nasr tidak menolak teknologi, tapi mengingatkan bahayanya jika digunakan tanpa hikmah. Teknologi bisa membantu hidup, tapi juga berisiko menjauhkan manusia dari alam dan Tuhan jika disalahgunakan. Ia menyoroti kecanduan layar, dominasi algoritma, dan hilangnya kesadaran spiritual serta kesakralan alam. Dalam pendidikan Muhammadiyah, pemikiran Nasr dapat diterapkan dengan menggabungkan etika teknologi dan spiritualitas ekologi, seperti mengajarkan dampak lingkungan dari gadget . -wast. dan penggunaan teknologi yang bijak. Dalam literasi digital. Nasr menekankan bahwa informasi harus membawa manusia lebih dekat kepada Tuhan, bukan sekadar menumpuk data. Ini sejalan dengan semangat Muhammadiyah: Auilmu amaliah, amal ilmiahAy, yang bisa diperluas menjadi ilmu yang mendekatkan hati kepada Allah. Dalam konteks AI, pendekatannya mendorong agar teknologi tetap menjaga maqasid syariah seperti agama, akal, dan jiwa. Nasr juga mengajak Muslim untuk tidak terpesona secara naif pada setiap teknologi Hal ini menggemakan sikap kritis Freire dari perspektif berbeda. Ia menganjurkan kearifan tradisional diaktifkan kembali sebagai penyeimbang. Dalam hal ini, pendidikan literasi digital di Muhammadiyah bisa memanfaatkan kearifan lokal atau ajaran ulama klasik tentang etika Misal, pepatah Aumulutmu harimaumuAy diterjemahkan ke konteks media sosial, atau nasihat Imam Al-Ghazali tentang menahan ghibah . diterapkan pada larangan gibah online (Munisa et al. , 2. Dengan kata lain, spiritual content perlu hadir di ruang digital sebagai pengingat. Saat ini sudah ada tren dakwah digital, namun Nasr mungkin akan mengingatkan agar dakwah tersebut tidak terjebak dalam pola yang sama . isal mencari popularitas duniaw. Nasr dan Muhammadiyah sama-sama menekankan pentingnya spiritualitas dalam sains dan pendidikan. Nasr menawarkan kerangka global, sementara Muhammadiyah dapat mewujudkannya lewat aksi nyata. Beberapa rekomendasi praktis dari analisis ini antara lain: . Mengintegrasikan perspektif keagamaan dalam pelajaran sains dan teknologi, termasuk AIK yang menyentuh isu digital. Pelatihan guru tentang AuTeknologi Berbasis NilaiAy. Pengembangan konten digital Islami yang menumbuhkan akhlak. Nasr menyoroti dampak teknologi terhadap jiwaAiapakah generasi digital makin lalai dari Tuhan? Jika gadget membuat lupa ibadah, itu tanda ghaflah. Etika tauhid bisa jadi rem spiritual, mengingatkan bahwa setiap klik disaksikan Allah. Ini sejalan dengan konsep ihsan, yang bisa dijadikan kebiasaan digitalAi misalnya, membiasakan siswa bertanya: AuApakah Allah ridha dengan postingan ini?Ay sebelum mengunggah sesuatu. Kesimpulannya, perspektif Nasr memperkaya kerangka etika tauhid dengan fokus menjaga kesehatan spiritual di era digital. Membumikan hal ini dalam literasi artifisial akan membantu menghindari salah satu ancaman utama Society 5. 0 yaitu dehumanisasi. Spiritualitas membuat manusia tetap AumanusiawiAy di tengah gemuruh mesin cerdas. Dalam jangka panjang, generasi yang melek teknologi sekaligus teguh spiritualitasnya akan mampu memanfaatkan AI dan teknologi secara bijak, tidak menjadikannya Auberhala baruAy yang menguasai hidup, sesuai peringatan Nasr. Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 303 - 316 (September 2. Herdiana. Sudarnoto Abdul Hakim. Zamah Sari Literasi Kritis Freire Dan Prinsip Tabayyun: Membangun Kesadaran Digital Pandangan Paulo Freire tentang literasi kritis memberikan penekanan pada kesadaran kritis . yang sangat berguna dalam pendidikan digital. Freire berargumen bahwa melek huruf sejati bukan hanya bisa membaca kata, tapi juga membaca realitas dan kemudian menulisnya kembali untuk transformasi (Tygel & Kirsch, 2. Di era media sosial, saat semua orang bisa membentuk Auversi realitasAy sendiri lewat postingan atau vlog, kesadaran kritis menjadi kompas moral dan intelektual agar tidak mudah terjebak manipulasi. Prinsip Paulo Freire selaras dengan nilai Islam seperti tabayyun . dan tafakkur . , yang mendorong kita memeriksa sumber, motif, dan dampak dari informasi yang diterima. Penindasan digital kini bisa berupa hoaks, eksploitasi data pribadi, atau kendali algoritma yang membentuk opini publik demi kepentingan tertentu. Kesadaran kritis membantu pengguna menyadari relasi kuasa di balik platform digital, termasuk efek dari filter bubble yang membatasi pandangan. Literatur menunjukkan bahwa penggabungan literasi digital dengan perspektif kritis mulai diadvokasi oleh para pendidik. Misalnya. Belshaw dalam blog pendidikannya menghubungkan Freire dengan literasi digital: bahwa peserta didik perlu di-conscientize terhadap teknologi, bukan hanya diajari keterampilan teknis (Haryaka & Khadijah Razak, 2. Alih-alih hanya mengajarkan cara memakai internet, guru bisa mendorong siswa berpikir kritis, misalnya dengan mendiskusikan kenapa hasil pencarian tertentu muncul di atas . arena SEO atau ikla. , sehingga siswa tidak hanya menerima informasi, tapi paham proses di baliknya. Ini sejalan dengan pendekatan Freire yang menolak pendidikan satu arah dan menekankan peran aktif siswa. Muhammadiyah dapat menerapkan literasi digital kritis ini lewat Kurikulum Merdeka, misalnya dengan membuat modul proyek yang membahas hoaks, dampaknya, serta mengaitkannya dengan nilai Islam seperti larangan fitnah. Guru berperan sebagai fasilitator yang menyisipkan nilai tauhid secara kontekstual, seperti menghubungkan sikap mudah percaya hoaks dengan kurangnya dzikir dan ketenangan hati. Prinsip pembebasan Freire juga dapat disejajarkan dengan misi tauhid yang membebaskan dari penindasan (Cortina & Winter, 2. Freire mendorong kaum tertindas untuk sadar terhadap struktur penindasan, sementara tauhid membebaskan manusia dari perbudakan sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Allah. Dalam konteks digital, banyak orang tanpa sadar AuterjajahAy oleh tren, influencer, atau ideologi online. Tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah yang layak diikuti, bukan tren viral, sehingga remaja bisa merdeka dari tekanan ikut challenge berbahaya atau ujaran kebencian demi eksistensi. Identitas utama seorang Muslim adalah sebagai hamba Allah yang membawa rahmat, bukan Freire memang berbicara dalam konteks sosial-politik, tapi di era digital, penindasan bisa berbentuk kolonialisasi budaya atau kapitalisme pengawasan yang menjadikan data pribadi sebagai komoditas. Kesadaran tauhid mendorong sikap kritis terhadap dominasi algoritma, peduli pada perlindungan data . igital right. , serta mendorong keadilan akses digital bagi kelompok rentan, selaras dengan semangat al-MaAoun. Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 303 - 316 (September 2. Keadaban Digital Dan Etika TauhidA Hasil diskusi ini menunjukkan integrasi menarik: tabayyun critical literacy = warga digital yang skeptis pada informasi sampai teruji, namun tetap terbuka dialog. Tauhid liberation Freirean liberation = pengguna digital yang tangguh menghadapi manipulasi karena merdeka secara spiritual dan intelektual. Untuk merealisasikannya, pelatihan guru menjadi kunci. Guruguru di sekolah Muhammadiyah perlu diperkenalkan dengan metode pedagogi kritis yang diwarnai nilai Islam. Ini sejalan dengan penelitian (Raihani, 2. yang mengusulkan Islamic critical pedagogy, di mana konsep-konsep Freire diselaraskan dengan konsep Islam (Raihani. Contohnya menganggap Allah sebagai Auliberating forceAy terbesar dan menempatkan penindasan modern . ermasuk yang diakibatkan teknolog. sebagai tantangan yang harus diatasi dengan ilmu dan iman. Kewargaan Digital Dan Inisiatif Muhammadiyah: Sinergi Nilai Tauhid Dengan Kerangka Global Kerangka Digital Citizenship dari Mike Ribble merupakan panduan global tentang etika dan tanggung jawab digital yang bersifat universal. Menariknya, banyak dari sembilan elemennya, seperti etiket digital, selaras dengan ajaran etika Islam. Hal ini membuka peluang bagi Muhammadiyah untuk menyinergikan kerangka tersebut dengan nilai tauhid yang menjadi ciri khasnya. Misalnya, elemen etiket digital yang menekankan empati dan kesadaran dalam berinteraksi online sejalan dengan konsep akhlaq dan ihsan dalam IslamAiberbuat baik seolah melihat dan diawasi Allah. Ini sesuai dengan sabda Nabi agar berkata baik atau diam. Muhammadiyah juga telah menegaskan nilai ini dalam gerakan Akhlaq Sosmediyah, seperti larangan mencaci atau berkata kasar di media sosial (Bustamam, 2. Elemen-elemen Digital Citizenship seperti Digital Law. Digital Literacy. Digital Access, dan Digital Health & Welfare dapat disinergikan dengan nilai-nilai Islam, khususnya tauhid. Digital Law menekankan tanggung jawab atas perilaku online seperti cyberbullying atau sexting. dalam Islam, hal ini terkait kesadaran akan dosa-pahala dan hisab di akhirat, sehingga kepatuhan hukum tidak hanya karena takut sanksi, tapi juga karena takut pada murka Allah. Digital LiteracyAikemampuan memilah informasiAiselaras dengan perintah Quran untuk mencari ilmu yang benar dan tidak mengikuti kabar tanpa dasar (QS Al-Isra: . Digital Access bisa dikaitkan dengan prinsip keadilan sosial. Muhammadiyah melalui amal usahanya dapat menjembatani kesenjangan akses digital, misalnya dengan donasi gadget. Sementara itu. Digital Health & Welfare selaras dengan konsep Islam tentang moderasi . dan menjaga amanah tubuh dari Allah. Muhammadiyah bisa mendorong gaya hidup digital sehat, seperti waktu bebas gadget dan aktivitas luar ruang, untuk menjaga keseimbangan fisik dan Melihat keselarasan antara nilai tauhid dan prinsip digital citizenship. Muhammadiyah berpeluang merumuskan program pendidikan kewargaan digital berbasis tauhid. Formatnya bisa berupa modul ekstrakurikuler atau integrasi dalam mata pelajaran seperti AIK, misalnya dengan menambahkan sub-bab AuEtika Bermedia dalam IslamAy yang menggabungkan nilai-nilai digital seperti keamanan data dengan konsep amanah, mengacu pada sifat Allah Al-Amin. Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 303 - 316 (September 2. Herdiana. Sudarnoto Abdul Hakim. Zamah Sari Beberapa inisiatif konkret sudah berjalan, seperti dakwah digital bertema adab bermedia, pelatihan literasi digital di sekolah Muhammadiyah, dan eksperimen edukasi seperti di SD Muhammadiyah Pucang Muhammadiyah memperluas dampaknya melalui kolaborasi dengan pemerintah atau komunitas, mendorong kebijakan literasi digital nasional yang memuat nilai-nilai etika religius secara inklusif (Mukhlis et , 2. Sebagai ormas besar, suaranya dapat memperkaya strategi pemerintah yang barangkali selama ini lebih menekankan literasi teknis. Diskusi ini juga menyoroti tantangan dalam mengintegrasikan tauhid dengan kerangka global agar tidak terjebak pada formalitas simbolik tanpa substansi. Misalnya, sekolah bisa saja memajang poster AuAkhlaq SosmediyahAy tanpa benar-benar menginternalisasikan nilainya. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi seperti Auaudit adab digitalAy dan pembinaan yang berkelanjutan. Peran keluarga juga penting, terutama melalui AoAisyiyah dalam mendampingi anak di dunia digital dengan pendekatan berbasis tauhid. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa etika tauhid dapat memperkuat kerangka digital citizenship ala RibbleAiyang bersifat teknisAidengan dimensi spiritual dan moral. Kombinasi ini berpotensi menjadi model literasi digital Islami yang aplikatif secara global namun tetap bermakna secara religius dan kultural. Tantangan Etis Dalam Era Literasi Artifisial Dan Digitalisasi Pendidikan Era literasi artifisial ditandai dengan hadirnya AI seperti machine learning, chatbots, dan otomatisasi dalam proses pembelajaran (Walter, 2. Hal ini membawa serangkaian tantangan etis baru. Berdasarkan hasil telaah, beberapa isu etis utama meliputi: Munculnya AI seperti ChatGPT menimbulkan tantangan baru terkait plagiarisme dan kejujuran akademik. Dalam etika tauhid, kejujuran adalah prinsip mutlakAimencontek Pendidik Muhammadiyah menanamkan integritas digital dengan menekankan bahwa AI boleh digunakan sebagai alat bantu belajar, bukan untuk berbuat curang. Pendekatan solutif bisa melalui penilaian berbasis proses, misalnya meminta log penggunaan AI . eperti tangkapan laya. untuk memastikan tanggung jawab siswa. Selain itu, pengembangan etika penggunaan AI berbasis tauhidAiseperti deklarasi kejujuran AuDemi Allah, saya tidak menggunakan AI untuk plagiarismeAyAidapat menjadi ikrar moral yang mengikat secara Perkembangan teknologi seperti deepfake, konten buatan AI, dan algoritma personalisasi meningkatkan risiko hoaks dan echo chamber. Etika tauhid menekankan pentingnya tabayyun dan kejujuran, sehingga literasi kritis menjadi keharusan. Muhammadiyah melalui Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) sudah memulai pelatihan tangkal hoaks, terutama isu keagamaan, namun perlu ditingkatkan dengan pendekatan AuAI for goodAy untuk mendeteksi hoaks. Secara filosofis, masyarakat perlu dibimbing agar tidak langsung percaya pada konten digital meski tampak meyakinkan. Prinsip tauhid mendorong verifikasi melalui sumber primer Islam (Al-Quran. Sunnah, dan ulama kredibe. agar tidak terjebak pada konten agama yang menyesatkan Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 303 - 316 (September 2. Keadaban Digital Dan Etika TauhidA Penggunaan AI dalam pendidikan berpotensi memperlebar kesenjangan antara sekolah maju dan tertinggal. Etika tauhid menuntut keadilan sosial, di mana setiap individu berhak atas pendidikan yang bermartabat. Muhammadiyah perlu menyusun strategi inklusif, seperti membentuk solidarity fund guna mendukung infrastruktur digital di sekolah terpencil. Tanpa langkah ini. AI bisa menjadi alat elitis yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Sejalan dengan pemikiran Freire, perlu dicegah munculnya elitisme pendidikan dalam era Society 5. 0, agar teknologi benar-benar membebaskan, bukan menyingkirkan (Bulathwela et al. , 2. Tindakan nyata seperti program Siswa Virtual Berbagi . isal siswa di kota menjadi mentor online bagi siswa di des. bisa menjembatani kesenjangan Pemanfaatan AI dan platform digital di kelas menimbulkan isu privasi, seperti pelacakan data atau kewajiban menyalakan kamera saat PJJ. Islam menegaskan pentingnya menjaga privasi dan kehormatan individu . arangan tajassu. Karena itu, implementasi teknologi di sekolah perlu disertai kebijakan perlindungan data pribadi. Tantangan ini membuka ruang bagi ijtihad fikih baruAiapakah praktik tertentu dalam e-learning melanggar nilai-nilai syariat? Muhammadiyah dapat mengaktifkan peran LHKP dan Majelis Tarjih untuk merumuskan panduan etis yang berpijak pada prinsip tauhid dan martabat manusia Humanisasi Pembelajaran: Walau bukan isu etika klasik, banyak peneliti . ermasuk Suyatno, 2. menyebut dehumanisasi sebagai risiko Ketergantungan berlebihan pada AI dapat mengikis dimensi kemanusiaan dalam pendidikan. Etika tauhid menempatkan manusia sebagai makhluk berakal dan berhati nurani, sedangkan AI hanyalah alat tanpa ruh. Maka. AI sebaiknya dimanfaatkan untuk tugas-tugas teknis, sementara peran guru tetap sentral sebagai penanam nilai dan teladan moral. Nasihat Seyyed Hossein Nasr relevan: spiritualitas tidak bisa diserahkan pada mesin. Dalam konteks ini, tajdid teknologi oleh Muhammadiyah harus tetap selaras dengan nilai taAolim dan amal saleh, memastikan pendidikan berbasis AI tetap bermuara pada pembentukan insan beradab Pada titik ini, diskusi hasil menggarisbawahi bahwa prinsip-prinsip etika tauhid perlu diaktualisasikan secara dinamis terhadap tantangan kekinian. Tauhid bukan konsep statis. dalam setiap perkembangan zaman ia dapat melahirkan fiqh baru. Era literasi artifisial pun Bisa jadi lahir konsep seperti Aufiqh AIAy atau Auetikate tauhid 4. 0Ay yang digagas intelektual Muslim termasuk dari Muhammadiyah. Sejumlah solusi etis yang teridentifikasi dalam diskusi ini antara lain: Pembuatan Pedoman Etika AI oleh ormas Islam: semacam risalah yang menjabarkan doAos and donAots menggunakan AI bagi pendidik dan pelajar Muslim. Ini bisa kolaborasi Muhammadiyah-NU-MUI. Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 303 - 316 (September 2. Herdiana. Sudarnoto Abdul Hakim. Zamah Sari Pelatihan Guru terkait AI: Membekali guru agar memahami batas mana bantuan AI diperbolehkan dan mana yang melanggar integritas. Sertakan perspektif tauhid . integritas = amanah dari Alla. Kurikulum adaptif: Menambahkan topik mengenai AuHakikat Manusia vs MesinAy dalam pelajaran agama/etika, supaya siswa diajak merenungi perbedaan mereka dengan AI (AI tak punya hati, kita puny. Role-modeling oleh tokoh Muhammadiyah: Jika para ustadz dan pimpinan bisa menunjukkan pemanfaatan teknologi yang bijak . isal pakai tablet tapi tetap khusyuk, memanfaatkan medsos tanpa giba. , itu akan berdampak besar. Secara keseluruhan, tantangan etis literasi artifisial menguji relevansi filsafat pendidikan Muhammadiyah. Dari hasil analisis, tampak bahwa prinsip-prinsip dasar . auhid, adab, hikmah, keadila. tetap ampuh dijadikan rujukan. Tinggal bagaimana kreativitas dan ijtihad para pendidik untuk menerjemahkan ke panduan konkrit. Sebagaimana Ahmad Dahlan dahulu kreatif mengubah pengajian tradisional menjadi kelas modern, kini penerusnya ditantang kreatif memasukkan nilai tauhid ke dalam coding class atau virtual classroom. Jika berhasil. Muhammadiyah akan terus menjadi pelopor pendidikan berkemajuan yang tidak hanya mengikuti zaman tetapi juga memberi ruh pada zaman. Kesimpulan Filsafat pendidikan Muhammadiyah yang berakar pada tauhid dan akhlak terbukti sangat relevan dalam menjawab tantangan era literasi digital dan AI. Etika tauhid memberi dasar spiritual bagi keadaban digital, sementara konsep adab dari Al-Attas serta pandangan Nasr dan Freire memperkaya pendekatannyaAidengan menekankan kesadaran moral, ekologi, dan kritis dalam penggunaan teknologi. Pendekatan ini dapat diwujudkan melalui kurikulum etika digital Islami, pelatihan guru yang literat secara spiritual dan teknologi, serta kolaborasi Muhammadiyah, sebagai gerakan tajdid, memiliki peran strategis dalam mengarahkan literasi artifisial ke arah yang berlandaskan iman, adab, dan kemanusiaan, menjadikan etika tauhid sebagai kompas dan keadaban digital sebagai tujuan peradaban. Daftar Pustaka