Jurnal Peduli Masyarakat Volume 6 Nomor 3. September 2024 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM REMAJA SIAGA CEGAH PERNIKAHAN DINI PENYEBAB STUNTING Ida Ariyanti1. Dewi Andang Prastika1. Ngadiyono1 . Sri Setiasih1. Yuni Puji Widiastuti 2* Jurusan Kebidanan. Poltekkes Kemenkes Semarang. UUP Kampus Kendal. Jalan Laut No. 21 A Kendal. Jawa Tengah 51311. Indonesia Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal. Jalan Laut No. 31 Kendal. Jawa Tengah 51311. Indonesia *widi_ardana@yahoo. ABSTRAK Dewasa ini, masalah kesehatan reproduksi pada remaja belum tertangani sepenuhnya. Hal ini terlihat dengan masih tingginya perkawinan usia dini, yaitu sebesar 46,7% (Riskesdas, 2. dan masih tingginya kelahiran pada usia remaja (ASFR), yaitu sebesar 48 per 1000 wanita (SDKI, 2. Pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi juga masih rendah dan kejadian kehamilan pada usia remaja masih tinggi yakni 16,7%. Metode pengabdian dengan penyuluhan, kepada para remaja dan kader serta membentuk Remaja Siaga. Sasaran pengabdian adalah kader kesehatan dan remaja. Wilayah yang digunakan untuk pengabdian adalah kelurahan Bandarharjo Kota Semarang yang berjarak kira-kira 15 KM dari Poltekkes Kemenkes Semarang. Pengabdian Masyarakat ini diikuti oleh 40 remaja yang masih berstatus pelajar Sekolah Menengah Atas / Kejuruan dengan proporsi 20 remaja perempuan dan 20 remaja laki Ae laki. Hasil dari pengabdian masyarakat ini adalah terbentuknya remaja siaga cegah pernikahan dini. Remaja ini nantinya akan menjadi kader bagi teman sebaya di lingkungan Kelurahan Bandarharjo untuk terus memberikan kaderisasi tentang bahaya pernikahan dini dalam rangka mencegah Luaran dari pengabdian masyarakat ini adalah leaflet dan booklet yang digunakan untuk memberikan informasi seputar pernikahan dini dan kaitannya dengan stunting. Kata kunci: pernikahan dini. TEENAGERS ARE ALERT TO PREVENT EARLY MARRIAGE CAUSES OF STUNTING ABSTRACT Currently, reproductive health problems in adolescents have not been fully addressed. This can be seen from the still high rate of early marriage, namely 46. 7% (Riskesdas, 2. and still high teenage births (ASFR), namely 48 per 1000 women (SDKI, 2. Adolescents' knowledge of reproductive health is also still low and the incidence of pregnancy in adolescents is still high, namely 16. Method of service with counseling, to teenagers and cadres and Forming Alert Youth. The targets of service are health cadres and teenagers. The area used for service is the Bandarharjo sub-district. Semarang City, which is approximately 15 KM from the Semarang Ministry of Health Polytechnic. This Community Service was attended by 40 teenagers who were still High School/Vocational School students with a proportion of 20 female teenagers and 20 male teenagers. The result of this community service is the formation of teenagers alert to prevent early marriage. These teenagers will later become cadres for their peers in the Bandarharjo Village environment to continue providing cadres about the dangers of early marriage in order to prevent stunting. The output of this community service is leaflets and booklets which are used to provide information about early marriage and its relationship to stunting. Keywords: early marriage. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group PENDAHULUAN Tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi serta sulitnya AKI dan AKB untuk turun mengindikasikan bahwa intervensi program kesehatan ibu, tidak bisa hanya dilakukan di bagian hilir saja yaitu pada ibu hamil, namun juga harus ditarik lebih ke hulu yaitu pada kelompok remaja dan dewasa muda untuk memastikan bahwa remaja dapat tumbuh dan berkembang secara sehat. Dewasa ini, masalah kesehatan reproduksi pada remaja belum tertangani Hal ini terlihat dengan masih tingginya perkawinan usia dini. Hal ini masih menjadi salah satu permasalahan sosial di banyak negara, termasuk Indonesia dan masih tingginya kelahiran pada usia remaja (ASFR), yaitu sebesar 48 per 1000 perempuan (SDKI, 2. Dalam undang-undang perkawinan memberlakukan 19 tahun sebagai usia minimun pernikahan, pada usia tersebut seseorang yang melakukan pernikahan sudah memasuki usia dewasa, sehingga sudah mampu memikul tanggung jawab dan perannya sebagai suami maupun sebagai istri. Namun, pada kenyataannya banyak terjadi pernikahan dini, yaitu pernikahan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan yang belum dewasa dan matang berdasarkan perpektif psikologis maupun undang-undang. Menurut UNICEF . menyebutkan sekitar 650 juta perempuan yang hidup saat ini menikah sebelum mereka mencapai usia 18 tahun. Setiap tahun, lebih dari 12 juta anak perempuan di dunia menikah sebelum usia 18 tahun, artinya 1 dari 5 perempuan di seluruh dunia menikah sebelum usia tersebut. Sama halnya yang terjadi di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar . melaporkan bahwa 2,6% dari perempuan menikah sebelum usia 15 tahun, dan 23,9% menikah antara usia 15-19 tahun. Sedangkan menurut BPS . sekitar 1 dari 9 perempuan . ,21%) di Indonesia menikah sebelum usia 18 tahun. Berdasarkan data United Nations Children's Fund (UNICEF) tahun 2023. Indonesia menempati peringkat empat dalam perkawinan anak global dengan jumlah kasus sebanyak 25,53 juta (Schoolmedia, 2. Angka tersebut sekaligus menobatkan Indonesia sebagai negara di kawasan ASEAN yang memiliki kasus perkawinan anak terbesar (Budianto, 2. Beberapa faktor seperti tradisi, agama, dan ekonomi serta kehamilan diluar nikah turut mempengaruhi tingginya angka pernikahan dini di Indonesia. Faktor tradisi terutama di pedesaan dimana sebagian anak menikah usia dini. Data statiskik menunjukkan bahwa pernikahan anak lebih umum terjadi di daerah pedesaan dibandingkan dengan daerah perkotaan, di mana angka pernikahan dini di pedesaan adalah 13,42%, sementara di perkotaan sebesar 8,2%. Adanya anggapan bahwa pernikahan dini adalah suatu tradisi dari nenek moyang yang harus dilestarikan secara turun menurun. Tentunya hal ini sungguh sangat memprihatinkan dan membutuhkan Selain itu alasan ekonomi menjadi faktor risiko yang berkontibusi terjadinya pernikahan dini. Remaja dengan orang tua yang tidak bekerja dengan kondisi social ekonomi rendah dan tidak mampu lagi untuk membiayai kehidupan anak, berisiko 7. 4 kali melakukan pernikahan, remaja putri yang berpengetahuan rendah lebih rentan dua 2,3 kali melakukan pernikahan dini, remaja putri dengan lingkungan yang negative akan lebih beresiko 2,1 kali melakukan pernikahan dini, serta remaja putri yang berpendidikan rendah akan lebih rentan 5,4 kali melakukan pernikahan dini (Handayani, 2. Senada dengan hasil penelitian Sutinbuk. Murniani dan Dwibarto . yang menenukan bahwa pernikahan dini pada remaja merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Desa Simpang Yul. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group Pernikahan yang dilakukan di bawah usia 18 tahun sering kali menimbulkan berbagai dampak negatif, baik secara fisik, mental, social maupun ekonomi. Secara fisik leher rahim remaja perempuan masih sensitif sehingga jika dipaksakan hamil, berisiko menimbulkan kanker leher rahim di kemudian hari. Kehamilan yang terjadi pada remaja perempuan akan menimbulkan banyak permasalahan, terutama kehamilan resiko tinggi seperti anemia, persalinan premature dan perdarahan yang akan berakibat pada kematian ibu dan bayi yang semakin meningkat. Selain itu ibu yang mengandung di usia dini akan mengalami trauma berkepanjangan, kurang sosialisasi dan juga mengalami krisis percaya diri. Remaja yang menikah dini akan kehilangan kesempatan mengecap pendidikan yang lebih tinggi serta semakin sempitnya peluang mendapat kesempatan kerja yang otomatis mengekalkan kemiskinan. Secara psikologis remaja juga belum siap untuk menanggung beban yang sangat berat sebagai orang tua sehingga menyebabkan kecemasan dan stress berkelanjutan pada remaja. Selain itu remaja belum mampu untuk mengendalikan emosi sehingga berisiko untuk terjadi pertengkaran dan kekerasan dalam rumah tangga yang berakhir dengan perceraian (Mubasyaroh, 2016. Agustinus et. all, 2. Selain dampak negative bagi remaja, anak yang akan dilahirkan berisiko lahir premature dengan berat badan lahir rendah sehingga meningkatkan angka kesakitan dan kematian pada bayi dan Perlakuan dan penelantaran anak serta pengasuhan yang buruk berkontribusi meningkatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal ini merupakan factor risiko kejadian stunting pada anak yang akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan psikologis, kematangan mental dan status kesehatan serta kemampuan kognitif atau intelengensi anak yang berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia yang rendah di masa mendatang (Trimuliana, 2024. Agustinus et. all, 2023. (Sutinbuk. Murniani dan Dwibarto, 2. Begitu luar biasa dampak negatif dari pernikahan dini bagi remaja dan anak yang akan Oleh karena itu pencegahan terjadinya pernikahan di usia dini perlu dilakukan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pembentukan kelompok remaja Siaga Cegah Pernikahan Dini. Remaja dianggap kelompok social yang memungkinkan untuk mengajak sesama remaja untuk mencegah pernikahan dini yang akan berdampak pada kehamilan dan persalinan beresiko tinggi dan kejadian (Sutinbuk. Murniani dan Dwibarto. Kelurahan Bandarharjo sebagai salah satu wilayah yang ada di Kecamatan Banyumanik merupakan daerah yang berada di Kota Atas dengan mayoritas penduduk yang bekerja. Hal ini yang mendorong untuk pembentukan kelompok remaja Siaga Cegah Pernikahan Dini. Adapun tujuan dari kegiatan PKM ini adalah memberikan pengetahuan kepada remaja dalam mempersiapkan diri menjadi remaja siaga cegah pernikahan dini penyebab stunting. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan berdasarkan standar prosedur operasional pelaksanaan kegiatan PKM. Adapun tahapan yang dilalui meliputi: tahap persiapan pengabdian, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Dalam tahap persiapan yang dilakukan pertama kali adalah identifikasi masalah, dilanjutkan dengan analisis kebutuhan pendampingan pada remaja dan kader, pembuatan materi edukasi berupa ppt dan leaflet serta penyusunan strategi pelaksanaan pemberian edukasi sesuai hasil analisis kebutuhan. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan, pada tahap ini dilaksanakan koordinasi dengan Kepala Kelurahan Bandarharjo. penentuan jadwal pertemuan kader dan remaja. memberikan pendidikan kesehatan tentang factor risiko, dampak dan pencegahan pernikahan dini, kehamilan yang tidak diinginkan serta stunting. melaksanakan pelatihan cara memberikan motivasi pada teman sebaya. Praktik memberikan motivasi dengan teman sendiri dengan membentuk diskusi grup atau dengan mengadakan acara Ae acara yang bersifat motivasi yang berfokus terhadap pengembangan diri atau edukasi kesehatan remaja sehingga remaja mampu untuk memberikan motivasi kepada Tim PKM melakukan Pre pre tes sebelum pendidikan kesehatan dimulai dan post-test setelah dilakukan pendidikan kesehatan dan pelatihan. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah pendidikan kesehatan dan pelatihan dengan memberikan pengetahuan tentang f a k t o r risiko, dampak, dan pencegahan pernikahan dini, kehamilan yang tidak diinginkan serta stunting. Adapun pendidikan kesehatan dan pelatihan tersebut dilaksanakan dengan metode ceramah, diskusi partisipatif dan demonstrasi serta roleplay. Kegiatan diawali dengan Pre tes yang dilakukan sesaat sebelum pendidikan kesehatan dan pelatihan dilakukan dan diakhiri dengan Post tes. Tahap ketiga adalah kegiatan evaluasi yang dilakukan setelah kegiatan PKM untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan kemampuan remaja dan kader tentang faktor risiko, dampak dan pencegahan pernikahan dini, kehamilan yang tidak diinginkan serta stunting. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat tentang Ay Remaja Siaga Cegah Pernikahan Dini Penyebab Stunting Di Kelurahan BandarharjoAy kepada 40 remaja yang terdiri dari 20 remaja putra dan 20 remaja putri. Dalam pelaksanaan kegiatan ini tim dibantu oleh kader dan Bidan Desa. Adapun target dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah terbentuknya Remaja Siaga Cegah Stunting yang memiliki pengetahuan dan kemampuan memberikan pendidikan kesehatan tentang faktor risiko, dampak dan pencegahan pernikahan dini, kehamilan tidak diinginkan dan stunting serta mampu memotivasi teman sebaya untuk menjadi remaja yang berkemampuan dan berdayaguna. Para remaja yang telah mengikuti kegiatan PKM ini akan menjadi kader bagi teman sebayanya dan berkomitmen bersama untuk mencegah pernikahan dini sebagai salah satu faktor risiko kejadian stunting di Kelurahan Bandarharjo. Sebelum kegiatan pendidikan kesehatan dimulai peserta mengerjakan pre test, untuk mengetahui pemahaman dasar peserta tentang factor risiko, dampak dan pencegahan pernikahan dini, kehamilan tidak diinginkan dan stunting. Hasil pre test menunjukan sebagian besar remaja memiliki tingkat pengetahuan yang kurang tentang factor risiko, dampak dan pencegahan pernikahan dini, kehamilan tidak diinginkan dan stunting yaitu sebanyak 33 remaja . %). Setelah dilaksanakan penyuluhan, hasil post tes menggunakan kuesioner yang sama didapatkan semua remaja memiliki pengetahuan dalam kategori baik yaitu sebanyak 40 remaja . %). Hasil lebih detai terkait tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah pelksanaan penyuluhan dapat dilihat pada table 1 berikut: Tabel 1. Tingkat pengetahuan sasaran sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan Katergori Tingkat Pengetahuan Kurang Baik Sebelum pendkes Sesudah pendkes Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group Berdasarkan hasil tersebut dapat diartikan bahwa pendidikan kesehatan mampu meningkatkan pengetahuan dan kemampuan remaja tentang factor risiko, dampak dan pencegahan pernikahan dini, kehamilan tidak diinginkan dan stunting. Senada dengan penelitian Cahyaningtyas. Indriarti dan Keswara . yang menemukan bahwa ada pengaruh yang signifikan pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan remaja tentang dampak pernikahan dini. Sejalan dengan penelitian Kristiningrum et. yang menyebutkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan responden setelah mendapatkan pendidikan kesehatan tentang pencegahan pernikahan dini. Selaras dengan Ginanjar . yang menemukan bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahun ibu tentang stunting. Tingkat pengetahuan remaja tentang pernikahan dini, kehamilan yang tidak diinginkan dan stunting didapatkan dari berbagai macam sumber informasi, baik elektronik, media cetak ataupun melalui pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan adalah sebuah kegiatan dalam upaya menyampaikan pesan atau informasi tentang kesehatan kepada individu, kelompok atau masyarakat untuk mendapatkan dan meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan. Pengetahuan yang baik diharapkan dapat mempengaruhi perilaku sesorang. Dengan kata lain dengan adanya promosi kesehatan melalui kegiatan pendidikan kesehatan, diharapkan mampu membawa dampak positif terhadap perubahan perilaku dari responden (Rosdiana et al. , 2. Pendidikan kesehatan dengan metode ceramah menggunakan power point sebagai media penyampaian informasi kesehatan sangat efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan wacana Pengetahuan merupakan mediator perubahan perilaku. Hal ini tidak menjamin bahwa pengetahuan yang baik akan menghasilkan perubahan perilaku yang lebih baik. Namun pengetahuan merupakan cikal bakal bagi terjadinya sebuah perubahan perilaku ke arah yang lebih baik (Notoatmojo, 2. Selain itu pengetahuan remaja berhubungan sebab akibat dengan pernikahan usia dini. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Salmawati . Rahawa dan Mauliza . yang menemukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan remaja dengan kejadian pernikahan dini. Hal senada dikemukakan oleh Peni. Lestari dan Prasida . serta Yuliani dan Alodia . yang menyatakan bahwa terdapat hubungan tingkat pengetahuan remaja terhadap kejadian pernikahan dini. Pengetahuan remaja yang rendah mempengaruhi kejadian pernikahan usia dini 2 kali dibandingkan dengan remaja yang berpengetahuan tinggi. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pendidikan kesehatan berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan remaja tentang pernikahan dini (Fesrugel. Farida dan Esti, 2022. Sinaga, 2. Oleh karena itu pendidikan kesehatan tentang factor risiko, dampak dan pencegahan pernikahan dini, kehamilan yang tidak diinginkan dan stunting mampu meningkatkan pengetahuan dan kemampuan remaja menjadi kader remaja siaga cegah pernikahan dini penyebab stunting. SIMPULAN Pendidikan Kesehatan tentang factor risiko, dampak dan pencegahan pernikahan dini, kehamilan yang tidak diinginkan, dan stunting di kalangan remaja baik putri maupun putra di Kelurahan Bandarharjo Semarang yang dilaksanakan oleh tim dosen Poltekkes Kemenkes Semarang dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal beserta mahasiswa merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan remaja sehingga bisa menjadi Kader Remaja Siaga Cegah Pernikahan Dini penyebab stunting. Kegiatan PKM dilakukan melalui pendidikan kesehatan dengan metode ceramah dengan menggunakan media power point. Berdasarkan kegiatan pendidikan kesehatan yang dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa para peserta mendapat wacana atau wawasan baru tentang factor risiko, dampak dan pencegahan pernikahan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group dini, kehamilan yang tidak diinginkan, dan stunting yang berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan dan pemahan serta kemampuan peserta terkait hal ini, sehingga peserta remaja mampu menjadi Kader Remaja Siaga cegah pernikahan dini penyebab stunting. DAFTAR PUSTAKA