JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Volume 3. Nomor 1 (April 2. Page: 15-27 Homepage : https://jurnal. com/index. php/abdidalem PENGUATAN KAMPANYE RAMAH ANAK: INTERNALISASI NILAI ANTI-BULLYING DI PESANTREN MINHAJUL HUDA Eka Ariyanti* Hukum Keluarga Islam. Ahwal Al-Syakhsiyah. STAINU Kotabumi. Lampung Utara. Indonesia Email : ekaariyanti206@gmail. *ekaariyanti206@gmail. Received: 12 Oktober 2025 Revised: 09 December 2025 Published: 01 April 2026 Abstrak Praktik perundungan . masih kerap dijumpai di lingkungan pesantren dan sering kali dianggap sebagai bentuk keakraban antarsantri. Fenomena ini menegaskan perlunya langkah strategis untuk menumbuhkan kesadaran dan menanamkan nilai-nilai antibullying melalui pendekatan pendidikan yang kontekstual dan menyentuh realitas kehidupan santri. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan memperkuat kampanye pesantren ramah anak dengan menekankan internalisasi nilai anti-bullying di Pesantren Minhajul Huda. Kegiatan dilakukan melalui model KKN tematik berbasis partisipasi, yang melibatkan secara aktif para pengasuh, santri, serta mahasiswa. Tahapan kegiatan meliputi observasi lapangan, penyuluhan nilai anti-bullying, pelatihan berbasis praktik sosial seperti role play dan diskusi tematik, serta sesi refleksi dan Hasil pelaksanaan program menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan perubahan sikap santri terhadap pentingnya menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, serta saling menghargai. Santri mulai menyadari bahwa perilaku mengejek, mengucilkan, maupun melakukan kekerasan verbal merupakan tindakan bullying yang harus dicegah. Melalui kegiatan kampanye, refleksi nilai, dan keterlibatan langsung, para santri memperlihatkan antusiasme, empati, serta kesiapan untuk menjadi pelopor perubahan positif di lingkungan pesantren. Pihak pengurus pesantren juga berinisiatif melakukan tindak lanjut, seperti membentuk Tim Santri Ramah Anak dan mengadakan kajian rutin tentang etika pergaulan. Secara umum, kegiatan ini menunjukkan bahwa internalisasi nilai anti-bullying dapat berjalan efektif apabila dilaksanakan secara partisipatif, reflektif, dan terintegrasi dengan aktivitas sosial serta keagamaan pesantren. Program ini berhasil menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya budaya ramah anak sebagai bagian dari pembinaan karakter santri di lingkungan pesantren. Kata Kunci: Pesantren Ramah Anak. Nilai Anti-Bullying. Pendidikan Karakter. Partisipatif. Pengabdian Masyarakat Abstract Bullying practices are still frequently found in Islamic boarding schools . and are often perceived as a form of closeness among students. This phenomenon highlights the urgent need for strategic efforts to raise awareness and internalize anti-bullying values through educational approaches that are contextual and relevant to studentsAo daily lives. This community service program aimed to strengthen the child-friendly Penguatan Kampanye Ramah Anak: Internalisasi Nilai Anti-Bullying di Pesantren Minhajul Hud. 15 abdi dalem : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pesantren campaign by promoting the internalization of anti-bullying values at Minhajul Huda Islamic Boarding School. The activities were implemented through a participatory thematic community service model (KKN) involving caretakers, students, and university The stages of implementation included field observation, dissemination of anti-bullying values, practice-based training such as role play and thematic discussions, followed by reflection and mentoring sessions. The results revealed an improvement in studentsAo awareness and attitudes toward the importance of creating a safe, inclusive, and respectful learning environment. Students began to realize that acts such as teasing, exclusion, and verbal aggression constitute bullying behaviors that must be prevented. Through campaigns, value reflections, and participatory activities, the students demonstrated enthusiasm, empathy, and readiness to act as change agents within the pesantren community. Furthermore, the pesantren administrators initiated sustainability efforts, including the establishment of a Child-Friendly Santri Team and regular study sessions on social ethics. Overall, this program proved that the internalization of antibullying values can be effectively achieved through participatory, reflective, and integrated approaches within the social and religious life of the pesantren. The program has fostered collective awareness of the importance of a child-friendly culture as part of character education and the development of a positive learning environment in Islamic boarding schools. Keywords: Child-Friendly Pesantren. Anti-Bullying Values. Character Education. Participatory Approach. Community Service PENDAHULUAN Perundungan . masih menjadi masalah serius di dunia pendidikan Indonesia, termasuk di lingkungan pesantren. (Rahmawati, 2. Meskipun pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan yang menekankan pembinaan moral dan karakter, praktik bullying tetap muncul dalam bentuk fisik, verbal, maupun sosial. Fenomena ini sering dianggap sebagai bagian dari budaya keakraban antar-santri, sehingga menimbulkan tantangan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan nyaman (Emilda. Data menunjukkan bahwa tingkat bullying di madrasah maupun pesantren sekitar 6,25%, yang meskipun lebih rendah dibanding sekolah umum, tetap membutuhkan perhatian serius agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan mental, perkembangan karakter, dan motivasi belajar santri (Fauzi, 2. Menurut teori moral Kohlberg, perkembangan moral anak berlangsung melalui tahapan tertentu yang dipengaruhi pendidikan dan lingkungan. Jika nilai antibullying dapat diinternalisasikan secara efektif, santri dapat mencapai tahap post-conventional, di mana pengambilan keputusan etis dilakukan berdasarkan kesadaran internal mengenai kebaikan bersama, bukan karena tekanan eksternal (Asfiyah, 2. Selain itu, teori ecological system Bronfenbrenner menekankan 16 | Penguatan Kampanye Ramah Anak: Internalisasi Nilai Anti-Bullying di Pesantren Minhajul Huda Volume 3. Nomor 1 (April, 2. | pp. bahwa perilaku anak dipengaruhi oleh sistem lingkungan, termasuk keluarga, sekolah/pesantren, komunitas, dan kebijakan kelembagaan (Nurhalimah, 2. Dalam konteks pesantren, peran mesosystem sangat penting untuk membentuk interaksi sosial dan mendukung perilaku prososial santri. Walaupun beberapa pesantren telah melaksanakan program pembinaan akhlak, praktik bullying tetap muncul, dipicu budaya senioritas, perbedaan latar belakang sosial, dan kurangnya empati antar-santri (Madian. Khasanah, , & Nahuda. , 2. Oleh karena itu, strategi sistematis diperlukan untuk memperkuat kampanye ramah anak melalui internalisasi nilai anti-bullying. Kampanye ini tidak hanya menekankan penolakan bullying, tetapi juga menanamkan nilai kepedulian sosial, empati, tanggung jawab moral, dan sikap saling menghargai antar-santri (Hisbidaturrosidah, 2. Penelitian ini bertujuan menganalisis hambatan dalam pelaksanaan kampanye ramah anak, mengidentifikasi nilai anti-bullying yang sesuai dengan kultur lokal Pesantren Minhajul Huda, serta merumuskan strategi penguatan yang efektif. Dengan pendekatan KKN tematik partisipatif, seluruh elemen pesantren, termasuk pengasuh, santri, dan mahasiswa, dilibatkan sehingga nilai anti-bullying dapat diinternalisasikan melalui pengalaman nyata sehari-hari. Hasil penelitian diharapkan tidak hanya memperkaya literatur akademik terkait pendidikan karakter dan pesantren, tetapi juga memberikan rekomendasi praktis bagi pengelola pesantren dalam menciptakan lingkungan yang aman, harmonis, dan ramah anak (Aprilianto, 2. METODE Metode pengabdian masyarakat ini menggunakan model KKN tematik partisipatif untuk memperkuat kampanye ramah anak melalui internalisasi nilai anti-bullying di Pesantren Minhajul Huda. Mahasiswa dan dosen berperan sebagai fasilitator, sedangkan santri, ustaz/ustazah, dan pengurus pesantren menjadi mitra aktif. Tujuan metode ini adalah membangun kesadaran kolektif dan mendorong perubahan perilaku terhadap bullying melalui kegiatan edukatif, reflektif, dan aplikatif berbasis nilai keislaman dan kemanusiaan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui empat tahap, yaitu persiapan dan identifikasi masalah melalui observasi dan wawancara untuk memetakan bentuk bullying dan pola interaksi sosial, penyusunan modul serta media kampanye AuPesantren Ramah Anak dan Anti-BullyingAy. pelaksanaan program edukatif berupa workshop, penyuluhan, simulasi, permainan edukatif, kelas reflektif, kampanye kreatif . oster, video, sloga. , dan pembentukan duta santri ramah anak. pendampingan dan pembiasaan nilai melalui mentoring, diskusi reflektif mingguan, serta pembinaan Penguatan Kampanye Ramah Anak: Internalisasi Nilai Anti-Bullying di Pesantren Minhajul Hud. 17 abdi dalem : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat karakter berbasis Islam. serta evaluasi dan refleksi kegiatan melalui observasi, wawancara, dan angket untuk menilai peningkatan pengetahuan, sikap, dan perubahan interaksi sosial santri. Metode ini menghasilkan modul edukatif antibullying, media kampanye karya santri, dan pedoman pembinaan karakter ramah anak yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan di pesantren. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa kampanye ramah anak yang dilaksanakan di Pesantren Minhajul Huda berhasil meningkatkan pemahaman santri terhadap nilai-nilai anti-bullying. Dari 100 responden yang mengisi kuesioner dengan skala Likert 1Ae5, 78% santri menyatakan bahwa mereka memahami prinsip-prinsip anti-bullying setelah mengikuti kampanye. Hal ini mengindikasikan efektivitas program dalam menanamkan kesadaran mengenai pentingnya menghargai teman dan mencegah tindakan bullying di lingkungan pesantren. Selain itu, data juga menunjukkan bahwa 65% santri pernah mengalami atau menyaksikan bullying, baik secara langsung maupun tidak langsung. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun kesadaran telah meningkat, masih terdapat praktik bullying yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Penemuan ini sejalan dengan teori pendidikan karakter yang menekankan pentingnya intervensi lingkungan belajar untuk membentuk perilaku sosial positif pada anak (Lickona, 1. Berikut adalah tabel ringkasan hasil penelitian: Tabel data Pesantren Minhajul Huda berhasil meningkatkan pemahaman santri terhadap nilai-nilai anti-bullying Variabel Jumlah Responden Persentase (%) Memahami prinsip anti-bullying Pernah mengalami/melihat bullying 65 Dari tabel di atas, terlihat jelas perbedaan antara tingkat pemahaman santri dengan pengalaman mereka terkait bullying. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman nilai antibullying perlu terus diperkuat melalui kegiatan praktik, simulasi, dan pendampingan yang konsisten. Untuk mempermudah interpretasi, berikut grafik hasil penelitian: 18 | Penguatan Kampanye Ramah Anak: Internalisasi Nilai Anti-Bullying di Pesantren Minhajul Huda Volume 3. Nomor 1 (April, 2. | pp. Gambar 1. 1 di atas menunjukkan persentase santri yang memahami prinsip anti-bullying . %) dibandingkan dengan persentase yang pernah mengalami atau menyaksikan bullying . %). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kampanye ramah anak di Pesantren Minhajul Huda cukup efektif dalam meningkatkan kesadaran santri terhadap nilai anti-bullying. Namun, karena masih terdapat pengalaman bullying di kalangan santri, perlu dilakukan penguatan program melalui strategi partisipatif seperti diskusi kelompok, role play, dan monitoring berkelanjutan agar internalisasi nilai anti-bullying dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan Hasil kualitatif mendukung temuan tersebut. Selama kegiatan kampanye, santri menunjukkan antusiasme tinggi, partisipasi aktif dalam diskusi, dan kesediaan untuk mempraktikkan prinsip anti-bullying dalam interaksi sosial mereka. Kegiatan seperti shalawat bersama, kajian hadist tentang persaudaraan, gotong royong, serta sosialisasi di kelas diniyah berhasil menciptakan suasana belajar yang positif, menyenangkan, dan bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa metode partisipatif dan berbasis pengalaman dapat meningkatkan penerimaan nilai-nilai anti-bullying di kalangan santri. Meskipun demikian, masih terdapat tantangan dalam penerapan nilai anti-bullying, terutama di kalangan santri baru atau yang memiliki pengalaman sebelumnya dengan Oleh karena itu, perlu dilakukan strategi penguatan program yang lebih sistematis, seperti: Diskusi kelompok dan refleksi rutin, agar santri dapat saling berbagi pengalaman dan memahami dampak bullying secara lebih mendalam. Role play dan simulasi, yang memungkinkan santri untuk mempraktikkan respons positif terhadap situasi bullying dan memperkuat empati terhadap teman sebaya. Monitoring dan evaluasi berkelanjutan, termasuk melibatkan pengurus pesantren dan guru dalam mengawasi interaksi santri serta memberikan bimbingan atau intervensi bila terjadi kasus bullying. Penguatan Kampanye Ramah Anak: Internalisasi Nilai Anti-Bullying di Pesantren Minhajul Hud. 19 abdi dalem : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Integrasi nilai anti-bullying dalam seluruh kegiatan pesantren, baik akademik maupun non-akademik, sehingga internalisasi nilai ini menjadi bagian dari budaya pesantren. Tabel data kegiatan Hari / Waktu Kegiatan Tanggal Hasil Kegiatan Responden Kegiatan berjalan lancar, peserta merespon sangat baik dan mulai mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari Diikuti oleh pengurus putri dan seluruh santri putri Pondok Pesantren Minhajul Huda Jumat / 25 Juli Koordinasi dengan 00 - pengurus pondok selesai pesantren mengenai bahaya bullying Sabtu / 26 Juli Kegiatan berjalan lancar karena para Sosialisasi anti08. 00 dewan guru MI Al bullying di Madrasah Huda membantu dan Ibtidaiyah Al Huda mengondisikan anakanak Shalawat Bersama Minggu / 00 - untuk membangun 27 Juli selesai ketenangan hati dan mengurangi konflik Senin / 28 Juli Kegiatan berjalan 30 - Kajian hadist tentang lancar, santri antusias selesai persaudaraan saat mengisi kitab Dilaksanakan di kelas 3 Madrasah Diniyyah putri, dihadiri 20 santri Selasa / 29 Juli Gotong royong 45 - lingkungan pondok selesai pesantren dan ditutup dengan makan bersama Kegiatan berjalan lancar, 80% santri senang melakukan kegiatan outdoor Dilaksanakan di area pondok putri, diikuti seluruh santri putri dan dewan asatidzah Rabu / 30 Juli Pembiasaan sholat dhuha berjamaah di 45 MI Al Huda sekaligus penerapan senyum anti-bullying Dilaksanakan di Kegiatan berjalan depan kantor lancar, anak-anak ratauntuk santri putri rata sudah hafal dan di masjid bacaan shalat untuk santri putra Jumat / 1 20. 00 - Sosialisasi di kelas Acara berlangsung lancar dan khidmat. santri semangat Kegiatan kurang Dilaksanakan di kelas i MI, siswa/siswi Dilaksanakan di aula pondok putri, ustadzah dan 200 santri putri Dilaksanakan di 20 | Penguatan Kampanye Ramah Anak: Internalisasi Nilai Anti-Bullying di Pesantren Minhajul Huda Volume 3. Nomor 1 (April, 2. | pp. Hari / Waktu Kegiatan Tanggal Hasil Kegiatan Responden Agustus selesai diniyah rendah maksimal karena kelas 1 Ibtidaiyah mengenai pentingnya anggota rata-rata menjaga persatuan lulusan SD / santri baru untuk mencegah Kegiatan outdoor Sabtu / seperti masak 00 bersama untuk Agustus selesai menumbuhkan rasa tolong-menolong Kegiatan berjalan 75% maksimal, anggota Dilaksanakan di depan TPQ semangat namun ada Minhajul Huda kendala kekurangan Minggu / Upacara bendera 45 - sekaligus lomba Agustus selesai bersama anak-anak dan wali murid Kegiatan berjalan lancar, wali murid antusias mengikuti Wawancara terhadap Jumat / Kegiatan berjalan jamaah rutinan 45 lancar, narasumber pengajian mengenai Agustus selesai menjelaskan jawaban pembulian di secara gamblang Rabu / Muhadoroh / pidato 00 - bertema pentingnya Agustus selesai persatuan untuk mencegah bullying Dilaksanakan di halaman utama Pondok Pesantren Minhajul Huda Dilaksanakan di depan ndalem Umi Hj. MustafaAoah Kegiatan kurang Dilaksanakan di maksimal karena aula putri Pondok beberapa pendaAoi Pesantren kurang menguasai teks Minhajul Huda DOKUMENTASI Gambar 1. 2 Koordinasi Bersama pengurus pondok mengenai bahayanya bulliying. /07/2. Penguatan Kampanye Ramah Anak: Internalisasi Nilai Anti-Bullying di Pesantren Minhajul Hud. 21 abdi dalem : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Gambar 2. 2 Sosialisasi anti bulliying di Madrasah Ibtidaiyah Al-Huda . /07/2. Gambar 3. 3 Sholawat bersama. /07/2. Gambar 4. 2 Kajian hadist tentang persaudaraan . /07/2. Gambar 5. 2 Kegiatan gotong royong dan makan bersama. /07/2. Gambar 6. 2 Pembiasaan sholat dluha di Madrasah Ibtidaiyah Al-Huda. /07/2. Gambar 7. 2 Sosialisasi di kelas diniyah mengenai pentingnya mencegah bulliying. /08/2. 22 | Penguatan Kampanye Ramah Anak: Internalisasi Nilai Anti-Bullying di Pesantren Minhajul Huda Volume 3. Nomor 1 (April, 2. | pp. Gambar 8. 2 Kegiatan masak-masak(. /08/2. Gambar 9. 3 Perayaan Hari Kemerdekaan dan lomba. /08/2. Gambar 10. 2 Sosialisasi kepada jamaah ibu-ibu dan wawancara Gambar 11. 2 kegiatan muhadoroh bertema anti bulliying Berdasarkan data diatas selama pelaksanaan berbagai kegiatan, santri menunjukkan antusiasme yang tinggi dan partisipasi aktif, baik dalam sesi sosialisasi, kajian hadist, maupun kegiatan praktis seperti gotong royong dan shalawat bersama. Misalnya, kegiatan shalawat bersama untuk membangun ketenangan hati dan mengurangi konflik berjalan dengan khidmat dan penuh Para santri terlihat aktif mengikuti ritme acara, sementara ustadzah maupun pengurus pesantren memberikan bimbingan yang memadai. Demikian juga dalam kegiatan kajian hadist tentang persaudaraan, santri tampak antusias saat mengisi kitab kuning, menunjukkan kesungguhan mereka dalam memahami pesan moral yang diajarkan. Penguatan Kampanye Ramah Anak: Internalisasi Nilai Anti-Bullying di Pesantren Minhajul Hud. 23 abdi dalem : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Selain itu, kegiatan yang bersifat partisipatif dan kolaboratif, seperti gotong royong membersihkan lingkungan pondok pesantren dan kegiatan masak bersama, juga menunjukkan dampak positif terhadap internalisasi nilai sosial dan anti-bullying. Hasil observasi menunjukkan bahwa sekitar 80% santri menikmati kegiatan outdoor, dan mereka aktif bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Kegiatan semacam ini tidak hanya menumbuhkan rasa tanggung jawab, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antar-santri, sehingga prinsip persaudaraan dan anti-bullying dapat lebih mudah diterapkan dalam interaksi sehari-hari. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan sejumlah kendala yang perlu Beberapa kegiatan, terutama sosialisasi untuk santri baru atau kelas diniyah rendah, tidak berjalan maksimal. Hal ini disebabkan karena sebagian santri masih berasal dari latar belakang sekolah dasar dan baru masuk pesantren, sehingga pemahaman awal mereka terhadap nilai-nilai sosial dan anti-bullying masih terbatas. Selain itu, terdapat beberapa kegiatan yang menghadapi kendala teknis, seperti kurangnya peralatan saat melakukan kegiatan masak bersama, sehingga partisipasi santri meskipun tinggi, tidak dapat berlangsung secara optimal. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kampanye ramah anak di Pondok Pesantren Minhajul Huda efektif dalam meningkatkan kesadaran santri terhadap anti-bullying, namun efektivitasnya dapat lebih ditingkatkan melalui beberapa strategi penguatan. Strategi pertama adalah diskusi kelompok dan refleksi rutin, yang memungkinkan santri untuk saling berbagi pengalaman dan memahami dampak bullying dari sudut pandang teman sebaya. Kegiatan ini akan menumbuhkan empati dan kesadaran bahwa tindakan bullying dapat menimbulkan konsekuensi emosional dan sosial yang serius. Strategi kedua adalah role play atau simulasi, yang memungkinkan santri untuk mempraktikkan respons positif ketika menghadapi situasi bullying. Dengan cara ini, nilai-nilai anti-bullying tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga dapat diaplikasikan secara praktis dalam interaksi sosial sehari-hari. Simulasi semacam ini juga dapat membantu santri mengembangkan kemampuan problem solving dan komunikasi yang efektif, sehingga mereka lebih siap menghadapi konflik sosial yang mungkin muncul. Strategi ketiga adalah monitoring dan evaluasi berkelanjutan, yang dilakukan oleh pengurus pesantren maupun guru. Monitoring dapat berupa pengamatan interaksi antar-santri, pemberian bimbingan apabila ditemukan kasus bullying, serta evaluasi rutin terhadap perkembangan perilaku sosial santri. Dengan pendekatan ini, internalisasi nilai anti-bullying dapat dipastikan berlangsung secara konsisten dan menyeluruh. 24 | Penguatan Kampanye Ramah Anak: Internalisasi Nilai Anti-Bullying di Pesantren Minhajul Huda Volume 3. Nomor 1 (April, 2. | pp. Selain itu, integrasi nilai anti-bullying dalam seluruh kegiatan pesantren, baik akademik maupun non-akademik, sangat penting untuk membentuk budaya yang ramah anak. Misalnya, pengajaran dalam kelas diniyah dapat dikaitkan dengan pembiasaan nilai persaudaraan, toleransi, dan kepedulian terhadap teman sebaya. Kegiatan ekstrakurikuler, seperti olahraga, seni, dan kegiatan sosial, juga dapat dijadikan media untuk menanamkan prinsip anti-bullying secara nyata. Pendekatan yang holistik ini akan membuat internalisasi nilai antibullying menjadi bagian dari budaya pesantren, bukan sekadar kegiatan Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi pendekatan partisipatif, berbasis pengalaman, dan monitoring berkelanjutan dapat meningkatkan pemahaman santri terhadap anti-bullying sekaligus mengurangi insiden bullying di pesantren. Walaupun masih terdapat beberapa tantangan, terutama di kalangan santri baru, langkah-langkah strategis yang sistematis diyakini mampu menciptakan lingkungan yang lebih aman, harmonis, dan mendukung perkembangan sosial-emosional santri. Oleh karena itu, pesantren perlu terus mengembangkan dan menyesuaikan program kampanye ramah anak agar nilai anti-bullying tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. KESIMPULAN Berdasarkan kegiatan pengabdian masyarakat berjudul AuPenguatan Kampanye Ramah Anak: Internalisasi Nilai Anti-Bullying di Pesantren Minhajul HudaAy, beberapa kesimpulan dapat dirumuskan sebagai berikut: Efektivitas Kampanye: Kampanye ramah anak terbukti mampu meningkatkan pemahaman santri terhadap nilai-nilai anti-bullying. Data kuesioner menunjukkan bahwa 78% santri memahami prinsip antibullying, meskipun 65% diantaranya pernah mengalami atau menyaksikan bullying, menandakan perlunya penguatan secara berkelanjutan. Partisipasi dan Motivasi: Kegiatan partisipatif, seperti sosialisasi, kajian hadist, shalawat bersama, gotong royong, dan role play, mendorong antusiasme tinggi, menumbuhkan empati, serta memperkuat kerja sama antar-santri, sehingga internalisasi nilai anti-bullying dapat lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tantangan Pelaksanaan: Beberapa kendala muncul pada santri baru atau kelas diniyah rendah yang memiliki pemahaman sosial awal terbatas, serta keterbatasan sarana dalam kegiatan praktik. Penguatan Kampanye Ramah Anak: Internalisasi Nilai Anti-Bullying di Pesantren Minhajul Hud. 25 abdi dalem : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Strategi Penguatan: Upaya yang disarankan untuk memperkuat internalisasi nilai anti-bullying meliputi diskusi kelompok dan refleksi rutin, role play atau simulasi, monitoring serta evaluasi berkelanjutan oleh pengurus dan guru, serta integrasi nilai anti-bullying dalam seluruh aktivitas akademik maupun non-akademik di pesantren. Dampak Holistik: Pendekatan partisipatif, reflektif, dan berbasis pengalaman berhasil membentuk budaya pesantren yang lebih aman, harmonis, dan ramah anak, sekaligus mendukung perkembangan sosialemosional santri. Kesimpulannya, kampanye ramah anak melalui internalisasi nilai anti-bullying terbukti efektif, namun perlu penguatan sistematis agar perubahan perilaku dapat berkelanjutan dan menjadi bagian dari budaya pesantren. DAFTAR PUSTAKA