DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Representasi Kepemimpinan dan Kekuasaan Dalam Film AuMenolak Diam . Ay Putri Hardiansyah, 2Amaliyah , 3Erindah Dimisyqiyani. ARizky Amalia Sinulingga. AAIndri Mustika Dewi Manajemen Perkantoran Digital. Universitas Airlangga. Surabaya E-mail:1 putri. hardiansyah-2023@vokasi. id , 2amaliyah@vokasi. erindah-dimisyqiyani@vokasi unair. id ,Arizkyamalia@vokasi unair. id ,AAindri mustika dewi-2023@@ vokasi. ABSTRAK Representasi kepemimpinan merupakan konstruksi simbolis dan naratif tentang kepemimpinan dalam berbagai medium budaya, termasuk sinema, yang tidak hanya merefleksikan realitas historis atau sosial, tetapi juga membentuk persepsi publik mengenai otoritas, pengaruh, dan tanggung jawab pemimpin. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara kritis representasi kepemimpinan dan kekuasaan yang tergambar dalam film Menolak Diam . , dengan menempatkannya dalam konteks perjuangan sosial-politik serta narasi sejarah Indonesia yang lebih luas. Fokus penelitian menyoroti bagaimana film ini menggambarkan kepemimpinan bukan sebagai posisi formal otoritas semata, melainkan sebagai proses dinamis yang penuh dengan keberanian moral, perlawanan, dan tanggung jawab etis dalam menghadapi struktur kekuasaan represif. Tema sentral analisis mencakup otoritarianisme, aktivisme akar rumput, serta interaksi kompleks antara dominasi dan emansipasi. Metodologi yang diterapkan adalah kualitatif, menggabungkan analisis mendalam terhadap adegan-adegan film, tinjauan pustaka komprehensif, dan triangulasi data, untuk mengkaji strategi naratif serta visual yang digunakan dalam mengilustrasikan ketegangan antara rezim represif dan kehendak kolektif untuk keadilan serta partisipasi demokratis. Temuan utama penelitian mengungkap bahwa Menolak Diam secara kuat menggambarkan kepemimpinan sebagai bentuk perlawanan aktif yang menantang legitimasi kekuasaan otoriter, sekaligus mengekspos kontradiksi inheren dalam kekuasaan tersebutAidi mana upaya membungkam dissent dan mempertahankan kontrol justru memicu kesadaran sosial serta mobilisasi massa. Representasi dalam film ini menekankan dampak negatif dari kekuasaan yang menindas, seperti pengekangan kebebasan berekspresi, marginalisasi suara-suara minoritas, dan erosi ruang demokrasi yang sehat. Di sisi lain, film menyoroti potensi transformatif kepemimpinan yang berlandaskan integritas pribadi, solidaritas komunal, dan pemberdayaan kelompok marjinal. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan pada diskursus kepemimpinan dan kekuasaan dengan menunjukkan bagaimana narasi sinematik dapat berfungsi sebagai alat kritis untuk refleksi sosial dan edukasi Ia mengajak penonton serta pembaca untuk mempertimbangkan ulang nilai-nilai kepemimpinan partisipatif dan tata kelola yang akuntabel dalam masyarakat kontemporer Indonesia, di tengah tantangan demokrasi yang sedang berlangsung Kata kunci: Representasi Kepemimpinan. Dinamika Kekuasaan. Otoritarianisme. Perlawanan Sosial. Menolak Diam. Sinema Indonesia. Partisipasi Demokratis Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. ABSTRACT Representation of leadership Refers to the symbolic and narrative construction of leadership in various cultural media, such as cinema, which not only reflects historical or social realities, but also shapes society's perception of the authority, influence, and responsibility of leaders. This study aims to critically analyze the representation of leadership and power as depicted in the film Menolak Diam . , situating it within the broader context of IndonesiaAos socio-political struggles and historical narratives. The research focuses on how the film portrays leadership not merely as a formal position of authority but as a dynamic and morally charged process involving courage, resistance, and ethical responsibility in confronting oppressive power structures. Central to this analysis are the themes of authoritarianism, grassroots activism, and the complex interplay between domination and emancipation. Employing a qualitative methodology that combines detailed film scene analysis, comprehensive literature review, and data triangulation, the study investigates the narrative and visual strategies used to depict the tensions between repressive regimes and the collective will for justice and democratic participation. The findings reveal that Menolak Diam powerfully illustrates leadership as an active form of resistance that challenges the legitimacy of authoritarian power, exposing its inherent contradictionsAiwhere power seeks to silence dissent and maintain control, yet simultaneously provokes social awakening and mobilization. The filmAos representation underscores the detrimental effects of oppressive power, such as the suppression of freedom, marginalization of voices, and erosion of democratic spaces, while also highlighting the transformative potential of leadership grounded in integrity, solidarity, and empowerment of the marginalized. This study contributes to the discourse on leadership and power by demonstrating how cinematic narratives can function as critical tools for social reflection and political education, encouraging audiences to reconsider the values of participatory leadership and accountable governance in contemporary society. Keywords : Leadership Representation. Power Dynamics. Authoritarianism. Social Resistance. Menolak Diam. Indonesian Cinema. Democratic Participation PENDAHULUAN Kepemimpinan merupakan aspek fundamental yang tidak pernah lepas dari kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi. Sejak zaman dahulu hingga era modern saat ini, kepemimpinan memegang peranan sentral dalam menentukan arah, tujuan, serta keberlangsungan suatu kelompok, organisasi, bahkan negara (Abijaya et al. , 2. Dalam berbagai konteks sosial, mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, perusahaan, hingga pemerintahan, peran seorang pemimpin tidak dapat dipisahkan dari proses pengambilan keputusan dan penggerakan anggota untuk mencapai tujuan bersama. Keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi sering kali dipengaruhi oleh gaya dan kualitas kepemimpinan yang diterapkan (Suwarno & Bramantyo, 2. Oleh karena itu, kajian tentang kepemimpinan menjadi sangat penting untuk memahami bagaimana dinamika sosial dan dapat terbentuk dan berkembang dalam Secara konseptual, kepemimpinan bukan hanya sekadar kekuasaan formal untuk mengatur dan mengendalikan, melainkan juga kemampuan untuk membimbing, menginspirasi, dan memberdayakan orang lain agar bersedia mengikuti visi dan misi bersama (Lestari, 2. Pemimpin ideal adalah sosok yang mampu mengambil hati dan kepercayaan anggota, memberikan teladan yang positif, serta mengelola dinamika kelompok dengan bijaksana (Subni, 2. Oleh karena itu, kepemimpinan efektif tidak hanya ditentukan oleh otoritas yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan interpersonal dan etis dalam menggerakkan anggota secara sukarela menuju tujuan bersama (Sinaga et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah proses sosial yang kompleks, yang melibatkan interaksi antara Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. pemimpin dan pengikut dalam konteks lingkungan yang dinamis dan penuh tantangan. Dalam kepemimpinan menjadi variabel penting yang Salah satu gaya yang sering menjadi sorotan adalah gaya kepemimpinan otoriter, yang ditandai dengan pengambilan keputusan secara terpusat, kontrol ketat, komunikasi satu arah, dan penolakan terhadap kritik atau masukan dari bawahan (Gaol, 2. Gaya ini sering menurunnya motivasi, kreativitas, dan partisipasi anggota, serta menciptakan suasana kerja yang penuh tekanan dan ketakutan (Seger et al. , 2. Fenomena ini juga tercermin dalam berbagai karya seni, termasuk film, yang menjadi medium efektif untuk merefleksikan dan mengkritisi praktik kepemimpinan dan kekuasaan dalam Film Menolak Diam . merupakan salah satu karya sinematik yang secara eksplisit menggambarkan representasi kepemimpinan dan sosial-politik Indonesia. Film ini mengangkat kisah perjuangan individu dan kelompok yang berani menolak diam terhadap ketidakadilan dan penindasan kekuasaan otoriter. Melalui narasi dan visual yang kuat, film ini menampilkan konflik antara kepemimpinan yang represif dan semangat Representasi kepemimpinan dalam film ini tidak hanya menyoroti aspek kekuasaan yang mengekang, tetapi juga menampilkan kepemimpinan sebagai proses moral dan etis yang berani mengambil sikap dan bertindak demi keadilan sosial. Konteks sosial-politik yang diangkat dalam Menolak Diam. Ao sangat relevan dengan sejarah dan realitas Indonesia, khususnya dalam menghadapi rezim otoriter yang membatasi kebebasan berpendapat dan ruang Hal ini berbanding terbalik dengan prinsip-prinsip kepemimpinan modern yang menekankan transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas, sebagaimana tercermin dalam tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG. poin 16 yang menekankan pentingnya perdamaian, keadilan, dan institusi yang kuat (Pertiwi, 2. Film ini menjadi medium refleksi kritis yang mengajak Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 kepemimpinan dan kekuasaan dapat berperan sebagai alat penindasan sekaligus potensi transformasi sosial. Lebih jauh, film Menolak Diam juga menggambarkan bagaimana kekuasaan yang ketidakadilan dan penderitaan bagi masyarakat Dalam digambarkan melalui tindakan-tindakan yang membatasi kebebasan berpendapat, menekan kritik, dan menggunakan kekerasan sebagai alat pengendalian sosial. Hal ini mencerminkan realitas sejarah Indonesia pada masa-masa tertentu, di mana rezim otoriter menggunakan kekuasaan untuk mempertahankan stabilitas politik dengan mengorbankan hak-hak dasar warga negara. Dengan demikian, film ini tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga dokumen sosial yang merekam dan mengkritisi praktik kekuasaan yang tidak adil. Penelitian tentang representasi kepemimpinan film Menolak Diam penting dilakukan untuk memahami bagaimana media visual dapat membentuk persepsi publik tentang kepemimpinan dan Film sebagai medium komunikasi massa memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan-pesan sosial dan politik yang kompleks secara efektif kepada audiens yang luas. Melalui analisis film ini, dapat diperoleh wawasan tentang bagaimana narasi dan simbol-simbol visual digunakan untuk mengkritik praktik nilai-nilai kepemimpinan yang demokratis dan Selain itu, penelitian ini juga relevan dalam konteks pengembangan ilmu kepemimpinan dan studi media. Dengan mengkaji representasi kepemimpinan dan kekuasaan dalam film, penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada pemahaman tentang hubungan antara budaya populer, politik, dan kepemimpinan. Hal ini penting mengingat bahwa persepsi masyarakat terhadap kepemimpinan dan kekuasaan tidak hanya dibentuk oleh pengalaman langsung, tetapi juga oleh representasi media yang mereka konsumsi sehari-hari. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. film Menolak Diam . Penelitian ini akan menggambarkan karakteristik kepemimpinan dan praktik kekuasaan, serta bagaimana representasi tersebut mencerminkan dinamika sosial-politik di Indonesia. Dengan pendekatan kualitatif dan analisis isi film, penelitian ini diharapkan dapat kepemimpinan, ilmu sosial, dan studi film, sekaligus menjadi bahan refleksi bagi pengembangan praktik kepemimpinan yang lebih demokratis dan berkeadilan. 2 Rumusan Masalah Bagaimana representasi kepemimpinan ditampilkan dalam film Menolak Diam . ? Bagaimana dinamika kekuasaan digambarkan melalui konflik antara siswa dan pihak sekolah dalam film tersebut? Bagaimana simbolisme visual digunakan untuk mempertegas pesan kepemimpinan dan kekuasaan dalam film Menolak Diam. ? 3 Tujuan Mengidentifikasi dan mendeskripsikan film AuMenolak Diam . Ay, termasuk aspek moral, etis, dan strategis yang melekat pada sosok pemimpin. Menganalisis praktik dari kekuasaan otoriter dan represif yang digambarkan dalam film serta dampaknya terhadap masyarakat yang menjadi objek kekuasaan. Mengungkapkan pesan sosial-politik yang disampaikan melalui representasi kepemimpinan dan kekuasaan, khususnya dalam konteks Menjelaskan kepemimpinan dan kekuasaan dalam film mencerminkan realitas sosial-politik Indonesia dan relevansinya dengan prinsip kepemimpinan demokratis dan berkeadilan LANDASAN TEORI Landasan teori memegang peranan krusial sebagai fondasi utama dalam sebuah penelitian. Penyusunan landasan teori yang tepat dan sistematis sangat diperlukan karena berfungsi untuk membangun kerangka konseptual yang terstruktur, mendukung kekuatan argumen, serta menjadi pedoman dalam proses analisis data 1 Manajemen secara umum Dalam menjalankan sebuah organisasi, baik yang bergerak di bidang sosial, ekonomi, maupun pendidikan, diperlukan suatu mekanisme pengelolaan yang efektif untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya demi mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Mekanisme pengelolaan tersebut dikenal dengan istilah manajemen. Manajemen merupakan suatu proses yang dapat diterapkan dalam berbagai aktivitas sosial dan ekonomi yang terstruktur, serta menjadi faktor kunci dalam keberhasilan organisasi mencapai targetnya (Wardhana et al. , 2. Secara umum, manajemen terdiri dari empat fungsi utama yang sering disebut dengan singkatan POAC, yaitu Perencanaan (Plannin. Pengorganisasian (Organizin. Pelaksanaan (Actuatin. , dan Pengendalian (Controllin. (Ayu & Nawawi. Masing-masing fungsi memiliki peran yang berbeda dalam memastikan kelancaran operasional organisasi. Namun, jika dikaitkan dengan aspek kepemimpinan, fungsi yang paling erat kaitannya adalah fungsi pelaksanaan atau actuating (Yahya et al. , 2. Fungsi actuating berfokus pada penerapan rencana dan struktur organisasi ke dalam tindakan nyata yang dilakukan oleh anggota Pada tahap ini, peran seorang pemimpin menjadi sangat vital karena keberhasilan organisasi tidak hanya bergantung pada perencanaan yang matang atau struktur yang jelas, tetapi juga pada kemampuan pemimpin dalam menggerakkan, memotivasi, dan membimbing anggota agar bekerja secara optimal (Safitri & Kanda, 2. Dengan demikian, kepemimpinan dapat dianggap sebagai inti dari fungsi actuating, karena fungsi ini komunikasi efektif, serta keteladanan dari seorang pemimpin. Berbeda dengan fungsi perencanaan yang lebih menitikberatkan pada penetapan tujuan, pengorganisasian yang mengatur pembagian tugas dan sumber daya, serta pengendalian yang melakukan evaluasi dan Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. koreksi, fungsi actuating lebih menonjolkan aspek manusiawi dalam manajemen. Seorang pemimpin harus mampu mempengaruhi dan menginspirasi anggota, bukan hanya memberikan perintah formal, melainkan juga membangun motivasi dan semangat kerja (Tyaningsih & Nurachadijat, 2. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa fungsi actuating merupakan arena utama di mana kepemimpinan berperan paling signifikan, karena keberhasilan organisasi sangat bergantung pada kemampuan pemimpin dalam mengarahkan dan menggerakkan seluruh anggota menuju pencapaian tujuan bersama. 2 Kepemimpinan Kepemimpinan didefinisikan sebagai suatu kegiatan esensial yang melibatkan kemampuan untuk memengaruhi perilaku individu lain. Tujuannya adalah untuk mendorong kolaborasi dan kerja sama menuju pencapaian tujuan bersama yang diinginkan oleh kelompok atau organisasi (Potu, 2013. Ajefri, 2. Lebih lanjut, kepemimpinan dapat dipahami sebagai manifestasi perilaku seorang individu yang secara aktif memandu dan mengarahkan aktivitas suatu kelompok menuju visi atau sasaran kolektif yang telah ditetapkan bersama (Heryanto & Putra, 2. 3 Gaya kepemimpinan Gaya kepemimpinan merupakan cara atau pola perilaku yang digunakan oleh seorang pemimpin bawahannya agar mau bekerjasama dan bekerja secara produktif demi mencapai tujuan Gaya kepemimpinan bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai dengan situasi, kondisi, serta karakteristik bawahan (Nikmat, 2. Seorang pemimpin yang efektif mampu menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan kebutuhan bawahan dan situasi organisasi sehingga dapat meningkatkan motivasi, kepuasan kerja, dan produktivitas (Apriyanto, 2. Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin mengelola fungsi manajemen, khususnya dalam mengatur bawahan, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan mereka. Gaya kepemimpinan ini terbagi menjadi beberapa jenis, antara lain: Otoriter: Gaya kepemimpinan otoriter ditandai oleh sikap pemimpin yang menegaskan Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 tegas, mengendalikan bawahan dengan ketat, dan menuntut kepatuhan tanpa memberikan ruang untuk mempertanyakan Kepemimpinan ini menekankan dominasi pemimpin dalam mempertahankan kekuasaan dan kewenangan dalam setiap pengambilan keputusan (Kurniyatillah et al. Demokratis: Kepemimpinan demokratis adalah kemampuan pemimpin untuk mengajak dan mempengaruhi anggota agar berkolaborasi dalam mencapai tujuan bersama, dengan melibatkan partisipasi bawahan dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan (Mattayang, 2. Karismatik:Kepemimpinan karismatik ditandai oleh kepribadian pemimpin yang kuat dan mampu memberikan pengaruh mendalam kepada Gaya ini berfokus pada penggunaan kekuasaan dengan orientasi sosial melalui penanaman nilai dan keyakinan bersama, bukan hanya daya tarik pribadi. Kepemimpinan karismatik mendorong komitmen kolektif yang dapat meningkatkan kinerja secara signifikan (Sutianah et al. , 2. Laissez-faire: Tipe kepemimpinan laissez-faire ditandai dengan sikap pemimpin yang memberikan kebebasan penuh kepada bawahan untuk mengatur prosedur dan pelaksanaan Dalam model ini, staf memiliki otoritas luas untuk menentukan cara kerja dan memilih rekan kerja yang dianggap tepat dalam menjalankan tanggung jawabnya (Salsabilla et , 2. Transformasional: Gaya kepemimpinan transformasional berfokus pada kemampuan pemimpin untuk membangkitkan motivasi dan inspirasi pada karyawan, sehingga mereka terdorong untuk mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Pendekatan ini mampu memberikan dampak positif yang besar terhadap sikap dan kinerja karyawan (Angelia & Puri Astiti, 2. 4 Gaya kepemimpinan Otoriter Gaya kepemimpinan otoriter adalah pola kepemimpinan di mana pemimpin menegaskan otoritasnya secara tegas dan menuntut kepatuhan penuh dari bawahan tanpa memberikan ruang P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. untuk diskusi atau kritik. Hal ini sejalan dengan definisi yang dikemukakan oleh Kurniyatillah et . ,Gaya ini dapat meningkatkan efisiensi dan disiplin kerja dalam situasi yang pengawasan ketat, namun dapat menimbulkan stres dan menurunkan motivasi jika diterapkan secara berlebihan. Studi lain oleh Angelia dan Puri Astiti . menunjukkan bahwa gaya otoriter kurang efektif dalam lingkungan kerja yang menuntut inovasi dan kolaborasi, karena membatasi kebebasan dan kreativitas karyawan. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi desain kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes menganalisis representasi kepemimpinan dan dinamika kekuasaan dalam film "Menolak Diam . Pendekatan ini memungkinkan interpretasi tanda pada tiga tingkatan: denotasi . akna litera. , konotasi . akna kultura. , dan mitos . akna ideologi. , yang didukung oleh teori kepemimpinan dan kekuasaan untuk menghubungkan analisis tekstual dengan konteks sosial yang lebih luas. Objek utama adalah film tersebut, dengan proses pengumpulan data melalui pengamatan berulang, klasifikasi adegan dan dialog relevan, serta analisis bertahap untuk menghasilkan deskripsi Sumber data primer berasal langsung dari film, sementara data sekunder diperoleh dari literatur seperti buku, jurnal, dan penelitian terdahulu. Teknik pengumpulan data meliputi observasi . enayangan film untuk menangkap detail visual dan interaks. , dokumentasi . askah, transkrip dialo. , serta studi pustaka . eori kepemimpinan dan Analisis data dilakukan secara kualitatif deskriptif melalui tahapan reduksi data . emilahan adegan releva. dan penarikan kesimpulan dalam bentuk naratif yang mudah dipahami, bertujuan menggambarkan pola kepemimpinan otoriter dan praktik kekuasaan. Untuk triangulasi sumber . erbandingan data film dengan literatur dan penelitian terkai. serta triangulasi teori . engaitan temuan dengan kerangka kepemimpinan dan kekuasaa. , sehingga interpretasi menjadi lebih akurat, konsisten, dan ilmiah. Pendekatan ini tidak hanya berkontribusi pada kajian semiotika film, tetapi juga memperkaya pemahaman sosial tentang fenomena kepemimpinan dalam konteks budaya Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Pengkajian dalam film AuMenolak Diam. Ay Menggambarkan perjuangan sekelompok siswa SMA yang menuntut transparansi dari pihak sekolah terkait dana iuran wisuda yang dialihkan tanpa pemberitahuan. Cerita ini secara mendalam dinamika kekuasaan, dan simbolisme visual. Scene 1: Alif di hadapan guru, memperjuangkan rincian APBS. Gambar 1 scene yang menunjukkan representasi kepemimpinan Alif. Alif: "Saya minta rincian APBS yang tertera hanya angka global saja. Dari Bu Retno rincian fasilitas multimedia dan dari Pak Ridwan rincian kegiatan OSIS. Pak Edi: "Kalau itu ada. Lif. Ada. Ibu setiap tahun selalu bikin laporannya. Pak Ridwan juga Alif: "Tapi ada Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik. Pak. Karena APBS itu ngaruh hajat hidup banyak orang. Cuplikan gambar 1 ini menggambarkan representasi kepemimpinan Alif yang kuat dan berani dalam menghadapi otoritas sekolah. Pertama. Alif secara tegas meminta rincian APBS yang selama ini hanya disajikan dalam bentuk angka global, menuntut transparansi yang lebih jelas dan terperinci. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Scene 2 : Di gudang, setelah Alif dan teman-temannya tertangkap Gambar 2. Scene alif dan temantemannya tertangkap Pak Edi: "Maling! Kalau sampai Pak Edi tahu, kalian langsung kena DO. Dan sekali DO, tetap DO. Mau anak presiden juga. Alif: "Pak, orang tua kami berhak tahu. Kami minta ini dipublikasikan ke mereka. Pak Edi: "Supaya apa? Supaya mereka tahu. Mas? Tahu konsekuensinya? Mungkin Bapak akan dimutasi dan diganti, mungkin sekolah ini akan tutup, mungkin 300 murid harus pindah Cuplikan dialog ini menggambarkan ketegangan yang tajam antara kekuasaan otoriter yang diwakili oleh Pak Edi dan perlawanan yang diperjuangkan oleh Alif. Pak Edi menggunakan ancaman keras berupa sanksi drop out (DO) untuk menakut-nakuti siswa dan membungkam kritik, menunjukkan sikap kekuasaan yang represif dan tidak toleran terhadap tuntutan Scene 3 : Di lapangan upacara. Alif berpidato. Gambar 3 scene yang mengutarakan suara atas ketidak adilan. Alif:"Kami minta pertanggungjawaban! Kami minta laporan yang rinci! Bukan laporan fiktif!" Siswa: "Betul! Betul!" Alif: "Kami adalah siswa berpendidikan! Kami tidak bisa dibodohi!" Siswa: "Betul! Betul!" kepemimpinan transformasional Alif yang mampu menginspirasi perubahan sikap dan membangun kekuatan kolektif. Ia tidak hanya menjadi suara individu, tetapi juga simbol perjuangan bersama yang menuntut akuntabilitas dan kejujuran dari pihak 2 Pembahasan Kepemimpinan dalam film ini ditampilkan dalam beberapa bentuk yang saling melengkapi, di mana variasi ini mencerminkan dinamika kepemimpinan kontemporer yang berbasis etika (Northouse. Kepemimpinan Berbasis Moral dan Keadilan sangat terlihat pada sosok Alif sebagai karakter Alif memimpin bukan semata-mata karena jabatan atau posisi formal, melainkan karena ia merasa memiliki tanggung jawab moral teman-temannya, sebagaimana dijelaskan dalam teori ethical leadership yang menekankan komitmen terhadap keadilan sebagai pendorong aksi kolektif (Banks et al. , 2. Ia menolak sikap apatis yang ditunjukkan oleh sebagian besar teman-temannya dan dengan gigih memperjuangkan hak mereka untuk mendapatkan wisuda serta kejelasan terkait dana yang menjadi hak mereka. Sikap ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang berlandaskan moral dan keadilan mampu memotivasi seseorang untuk bertindak demi kebaikan bersama, bukan hanya demi kepentingan pribadi atau status, sebuah prinsip yang mendukung transformasi sosial melalui integritas pribadi (Northouse, 2. ) Kepemimpinan dalam film ini ditampilkan dalam beberapa bentuk yang saling Selain itu. Alif juga menunjukkan karakteristik kepemimpinan transformasional. Ia berhasil Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. mengubah mentalitas teman-temannya yang pasif dan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, seperti Dito yang lebih fokus pada ujian, menjadi individu yang berani dan solid, melalui inspirasi yang membangkitkan (Siangchokyoo Melalui inspirasinya, mereka terdorong untuk bangkit dan peduli terhadap isu yang lebih besar daripada sekadar kepentingan pribadi. Transformasi ini menandakan bahwa kepemimpinan yang efektif mampu menggerakkan perubahan sikap dan perilaku dalam kelompok, sehingga menciptakan semangat kolektif yang kuat, sebagaimana dibuktikan dalam meta-analisis tentang dampak transformational leadership terhadap kinerja tim (Siangchokyoo et al. , 2. Lebih jauh lagi, perjuangan yang dipelopori oleh Alif berkembang menjadi sebuah kepemimpinan Meskipun Alif adalah inisiatornya, perjuangan tersebut tidak hanya bergantung pada dirinya saja. Nisa. Bondan, dan Dito turut bergabung, dan akhirnya seluruh siswa angkatan mencerminkan model shared leadership di mana tanggung jawab dibagi untuk meningkatkan solidaritas dan efektivitas (Wang et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif tidak selalu harus berpusat pada satu individu, melainkan dapat menjadi kekuatan bersama yang melibatkan partisipasi aktif dari banyak pihak. Kepemimpinan kolektif seperti ini memperkuat solidaritas dan memperbesar peluang keberhasilan dalam mencapai tujuan bersama, sebagaimana dianalisis dalam review tentang shared leadership yang menyoroti peranannya dalam konteks tim dinamis (Wang et , 2. Dinamika kekuasaan digambarkan secara kontras melalui konflik antara siswa dan pihak sekolah. Dinamika kekuasaan digambarkan secara kontras melalui konflik antara siswa dan pihak sekolah, di mana kekuasaan otoriter pihak subversif siswa (Giroux, 2. Kekuasaan otoriter tampak jelas dalam sikap pihak sekolah yang diwakili oleh Pak Edi dan Pak Ridwan. Mereka menggunakan kekuasaan secara dominan dan represif dengan mengabaikan aspirasi siswa serta memberikan jawaban yang tidak jelas terkait permasalahan yang dihadapi, sebagaimana dijelaskan dalam teori kekuasaan relasional Foucaultian yang menyoroti pengawasan institusional sebagai alat untuk mempertahankan kontrol (Saltman, 2. Selain itu, mereka mengancam siswa dengan sanksi berat seperti drop out (DO) untuk membungkam kritik dan menekan perlawanan, sebuah praktik yang koersif untuk menekan suara subordinat (Mayo. Lebih jauh lagi, mereka memanfaatkan posisi dan kewenangan mereka untuk menutupi penyelewengan dana, sehingga menciptakan suasana ketidakadilan dan ketidakpercayaan di Sikap memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat disalahgunakan untuk mempertahankan status quo dan menekan suara yang menuntut perubahan, seperti yang dibahas dalam analisis kekuasaan represif di pendidikan neoliberal (Giroux, 2. Simbolisme visual digunakan untuk memperkuat pesan kepemimpinan dan Simbolisme visual digunakan untuk kekuasaan, di mana elemen elemen fisik dalam narasi berfungsi sebagai tanda semiotik yang merepresentasikan dinamika dominasi dan perlawanan (Rose, 2. Tumpukan dokumen APBS dan LPJ OSIS yang berantakan dan disembunyikan menjadi simbol penting dalam Dokumen-dokumen melambangkan kekuatan informasi yang sengaja disembunyikan oleh pihak sekolah, yang menguasai akses terhadap data penting tersebut dan menolak untuk memberikannya kepada siswa, sebagaimana dianalisis dalam teori visual culture yang menyoroti bagaimana representasi informasi tersembunyi memperkuat hegemoni kekuasaan (Mirzoeff, 2. Kondisi ini mencerminkan bagaimana penguasaan informasi dapat menjadi alat kekuasaan yang digunakan untuk menutupi kebenaran dan mempertahankan dominasi, mirip dengan konsep "visual economy of power" di mana simbol-simbol administratif menjadi instrumen kontrol (Chandler, 2. Perjuangan Alif untuk membuka tumpukan dokumen ini bukan sekadar upaya administratif, melainkan sebuah simbol perlawanan untuk Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. kepemimpinan etis (Rose, 2. Ruang kepala sekolah dan ruang guru digambarkan sebagai benteng kekuasaan yang kokoh dan eksklusif, di mana representasi spasial ini mencerminkan produksi ruang sosial sebagai alat dominasi (Shields, 2. Ketika Alif memasuki ruang-ruang ini, ia berada dalam posisi yang tidak setara, dikelilingi oleh para penguasa yang lebih senior dan berkuasa, sebuah kekuasaan melalui desain visual eksklusif. Namun, keberanian Alif untuk berdiri tegak dan menantang otoritas mereka menunjukkan bentuk kepemimpinan yang berani dan penuh integritas, sebagaimana dibahas dalam teori ruang Lefebvrian yang melihat ruang sebagai arena kontestasi di mana perlawanan dapat merebut makna simbolis (Shields, 2. Ruang-ruang ini bukan hanya sekadar tempat fisik, melainkan simbol dari struktur kekuasaan yang harus dihadapi dan dilawan oleh mereka yang ingin membawa perubahan, dengan visualisasi yang kepemimpinan (Mirzoeff, 2. Lapangan upacara yang luas dan terbuka pada awalnya berfungsi sebagai tempat di mana otoritas, dalam hal ini kepala sekolah, berbicara dari podium kepada massa siswa yang pasif, melambangkan panoptikon kekuasaan di mana pengawasan visual mendominasi (Elden, 2. Namun. Alif berhasil mengubah fungsi ruang ini secara simbolis dan nyata, di mana apropriasi ruang oleh individu menjadi tindakan subversif yang merepresentasikan pergeseran kekuasaan (Chandler, 2. Ketika ia mengambil alih podium, lapangan upacara berubah menjadi arena perlawanan dan persatuan, di mana siswa bersatu untuk menyuarakan tuntutan mereka, sebuah simbolisme visual dalam aktivisme kolektif (Rose, 2. Simbolisme ini menegaskan bahwa kekuasaan tidak selalu berada di tangan otoritas resmi, melainkan juga dapat direbut dan dimiliki oleh rakyat yang bersatu dan berani menuntut perubahan, sebagaimana dijelaskan dalam analisis visual methodologies tentang ruang publik sebagai situs perlawanan (Shields, 2. Dengan demikian, ruang-ruang fisik dalam cerita ini menjadi cerminan dinamika kekuasaan dan perjuangan yang berlangsung di dalamnya, di mana simbolisme visual memperkaya narasi Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 (Mirzoeff. KESIMPULAN Film AuMenolak Diam. Ay memperlihatkan bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu lahir dari jabatan atau posisi formal. Tokoh Alif adalah Ia hanyalah seorang siswa biasa, namun sikapnya yang tegas, kemampuannya menganalisis situasi dengan cepat, rasa tanggung jawab yang besar, dan keberanian untuk menanggung risiko menjadikannya figur teman-temannya. Kepemimpinan yang ia tampilkan bersumber dari moralitas dan integritas, bukan dari struktur atau status yang diberikan. Selain menghadirkan sosok pemimpin, film ini juga membongkar dinamika kekuasaan dalam lingkup sekolah. Otoritas sekolah digambarkan secara represif menutupi praktik korupsi, mengabaikan suara siswa, dan mencoba membungkam aspirasi yang Akan tetapi, kekuasaan semacam ini tidak sepenuhnya berhasil mendominasi. Perlawanan muncul melalui solidaritas siswa yang menolak diam. REFRENSI Ajefri. Efektifitas Kepemimpinan dalam Manajemen Berbasis Madrasah. Jurnal Kependidikan Islam, 7. , 100Ae119. Angela, , & Winduwati. Representasi Kemiskinan dalam Film Korea Selatan (Analisis Semiotika Model Saussure pada Film Parasit. Koneksi, 3. , 478Ae484. https://doi. org/10. 24912/kn. Ardana. , & Mujiati. Perilaku Keorganisasian. Graha Ilmu. Astuti. Resepsi Film Hachiko Monogatari Sebagai Sarana Hiburan. Janaru Saja: Jurnal Program Studi Sastra Jepang, 7. , 52Ae60. Danesi, . Pengantar Memahami Semiotika Media. Jalasutra. Giovani. Representasi AuNazarAy dalam Film Insya Allah Sah Karya Benni Setiawan. PROPORSI : Jurnal Desain. Multimedia Dan Industri Kreatif, 5. , 227Ae238. https://doi. org/10. 22303/proporsi. 59-70 Javandalasta. Lima Hari Mahir Bikin Film. Mumtaz Media. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Fakza. , & Tandyonomanu. REPRESENTASI DEMOKRASI NEGARA BERKEMBANG (Analisis Semiotika Roland Barthes Pada Film Newto. The Commercium, 2. Umaroh. , & Maulida. A film semiotics study of representation on Surakarta English and Literature Journal, 8. Dianiya. Representation of social class in film . emiotic analysis of Roland Barthes film parasit. Profetik: Jurnal Komunikasi, 13. , 212-224. Azwar. , & Auliana. The Representasi Rekayasa Sosial dalam Film Unlocked (Analisis Semiotika Roland Barthe. EKSPRESI DAN PERSEPSI: JURNAL ILMU KOMUNIKASI, 7. Hanifah. , & Ningsih. Representation of women in the Layangan Putus film series: Semiotic analysis of Roland Barthes. KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, 17. , 161-173. Sari. , & Efendi. Film Gundala Sebagai Bentuk Perlawanan Hegemoni Hollywood di Indonesia. Jurnal sosial dan sains, 2. Ghofur. Ramadhan. , & Adi. Representasi Kepemimpinan dalam Film Menolak Diam. Jurnal Komunikasi Nusantara, 3. , 111-118. Ranni. Wirawanda. , & Kom. Representasi Pesan Moral Dalam Film Kejarlah Janji Dan Film Tepatilah Janji Karya Kpu (Analisis Semiotika Roland Barthe. (Doctoral dissertation. Universitas Muhammadiyah Surakart. Exploring power and trust in documentary: A study of Tom ZubryckiAos Molly and Mobarak. Studi tentang kekuasaan & kepercayaan dalam film dokumenter. Setiawan. Estetika. Makna Dan Media. Dewan Kesenian Jawa Timur. Pramaysti. Pesan Perjuangan Animasi Battle Film Surabaya (Doctoral UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU). Aziz. , & Febriana. Reprentation Struggle Of ArekAeArek Suroboyo In The Film Battle Of Surabaya (Semiotic Analysis Charless Sanders Peirc. Procedia of Social Sciences and Humanities, 7, 852-864. Respati. Sari. , & Dianthi. Representasi Kepemimpinan Dalam Film Barbie. Harmonization: Jurnal Ilmu Sosial. Ilmu Hukum, dan Ilmu Ekonomi, 2. , 191-200. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026