E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 TanzhimunaVol2. No1Juni2022 Degradasi Fungsi-Fungsi Pendidikan Dalam Pewarisan dan Perubahan NilaiNilai Sosial dan Budaya Yuyu Krisdiyansah1 krisdiyansah@gmail. Asep Mulyana2 asepmulyana@syekhnurjati. Sugiyono3 sugielazam22@gmail. 1,2,3. IAIN SyekhNurjati Cirebon ABSTRAK Setiap bangsa, individu pada umumnya menginginkan pendidikan. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan formal, semakin banyak dan semakin tinggi maka semakin baik. Pendidikan menjadi harapan untuk menanggung transmisi keseluruhan sosial dan kebudayaan bangsa. Secara umum proses sosial tidak lepas dari adanya interaksi sosial, dimana terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang dalam berinteraksi, yaitu faktor imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati. Adapun kebudayaan, tidak terlepas dari sarana dan prosesnya. Sarana pewarisan budaya meliputi keluarga, masyarakat, lembaga adat, komunitas agama, sekolah dan media masa. Sedangkan proses pewarisan budaya terbagi menjadi akulturasi dan enkulturasi. Kata Kunci : Degradasi. Interaksi. Sosial. Kebudayaan. ABSTRACT Every nation, individuals in general want education. The education in question is formal education, the more and the higher the better. Education is the hope to bear the overall social and cultural transmission of the nation. In general, social processes cannot be separated from social interaction, where there are several factors that influence a person in interacting, namely imitation, suggestion, identification, and sympathy factors. As for culture, it cannot be separated from the means and The means of cultural inheritance include families, communities, traditional institutions, religious communities, schools and the mass media. While the process of cultural inheritance is divided into acculturation and enculturation. Keywords: Degradation. Interaction. Social. Culture. Latar Belakang Masalah Surat kabar maupun berita online di jaringan Di era globalisasi ini, sering kita internet, berita tentang berbagai kejadian saksikan di media massa baik Televisi. Radio. Degradasi Fungsi-Fungsi Pendidikan Dalam Pewarisan dan Perubahan Nilai-Nilai Sosial dan Budaya Yuyu Krisdiansyah. Asep Mulyana. Sugiyono E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 TanzhimunaVol2. No1Juni2022 Indonesia. Perkelahian peserta didik atau generasi muda pada hampir menjadi AubudayaAy turun-temurun dari umumnya bergaya hidup materialistis dan satu generasi ke generasi berikutnya di suatu Pergaulan bebas . ree se. yang seolah tak lagi tabu di kalangan pelajar. membangun karakter bangsa Indonesia yang Menjamurnya geng motor terutama di kota- luhur dan kokoh sesuai dengan cita-cita luhur kota besar. Penyalahgunaan narkoba yang pendiri bangsa Indonesia yang tertuang dalam hampir setiap hari menghiasi headline berita menginginkan generasi penerus beriman dan bermunculannya penyimpangan sexual LGBT bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (Lesbian. Gay. Bisexual. Transgende. berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, berbagai fenomena lain yang menunjukkan kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara degradasi moral generasi muda Indonesia. yang demokratis serta bertanggung jawab2. Sistem Pendidikan Nasional Moralitas generasi muda Indonesia yang Gambaran di atas menunjukkan bahwa cenderung semakin mejauh dari nilai-nilai pendidikan di Indonesia belum berhasil kebaikan menjadi salah satu indicator bahwa menjalankan fungsinya dalam melakukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pewarisan dan perubahan nilai-nilai social- Indonesia dari tahun ke tahun terus menurun. Kenyataan ini seolah melengkapi degradasi moral dalam berbagai aspek kehidupan, baik Fungsi Pendidikan Dalam Perubahan Nilai-Nilai Sosial ekonomi, politik, social juga dalam dunia Pengertian Sosial pendidikan yang seharusnya menjadi garda Menurut Kamus Besar Bahasa depan dalam pengembangan moralitas . Indonesia (KBBI), arti kata sosial adalah Indicator lain yang menunjukkan gejala berkenaan dengan masyarakat. Arti lainnya rusaknya karakter atau moralitas generasi dari sosial adalah suka memperhatikan muda dapat dilihat dari kesopan santunan menderma, dan sebagainy. didik/pelajar . uka memudar, misalnya cara berbicara, sikap Kata sosial berasal dari bahasa Latin, kepada guru dan orang tua di sekolah maupun yakni socius yang artinya ialah bersama- di lingkungan masyarakat. Lebih jauh lagi. DarmiyatiZuchdi, 2010. HumanisasiPendidikan. Jakarta :BumiAksara, hlm. UU Sisdiknasnomor 20 tahun 2003, bab 2, pasal 3. http://kbbi. id diakses pada 7 Juni 2022 pukul Degradasi Fungsi-Fungsi Pendidikan Dalam Pewarisan dan Perubahan Nilai-Nilai Sosial dan Budaya Yuyu Krisdiansyah. Asep Mulyana. Sugiyono E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 TanzhimunaVol2. No1Juni2022 sama, bersatu, terikat, sekutu, berteman. Atau merupakan hubungan-hubungan sosial yang dari kata socio yang memiliki arti menjadikan dinamis menyangkut hubungan antara orang Sehingga sosial dapat dimengerti sebagai pertemanan atau masyarakat. maupun antara orang perorangan dengan Sedangkan menurut para ahli berkenaan kelompok manusia. 4 Interaksi sosial dimulai dengan pengertian dari kata sosial ialah ketika dua individu bertemu, bisa dalam sebagai berikut: bentuk saling menyapa, berjabat tangan. Menurut Philip Wexler, pengertian berbicara, atau bahkan berkelahi. sosial adalah suatu sifat dasar yang Menurut Jika maka proses sosial yang terjadi bisa berupa Lena Dominelli, pendidik, antar peserta didik, atau antara adalah unsur atau bagian yang tidak pendidik dan peserta didik dalam proses utuh dari sebuah hubungan manusia, pembelajaran untuk memperoleh perubahan berupa sikap, perilaku, dan kecerdasan hal-hal bersifat rapuh di dalamnya. Walaupun orang-orang yang bertatap Menurut Keith Jacobs, sosial adalah muuka tersebut tidak saling berbicara atau sesuatu yang dibangun dan terjadi tidak saling menukar tanda-tanda, interaksi dalam seuah situs komunitas. sosial telah terjadi, oleh karena masing- Dari beberapa pengertian diatas, dapat masing dari keduanya sadar akan adanya hal disimpulkan bahwa pengertian sosial adalah sebagai rangkaian norma, moral, nilai, dan perasaan maupun syaraf dari keduanya, misalnya, disebabkan oleh bau keringat, suara mastarakat dan dipakai sebagai acuan dalam berjalan, dan sebagainya. Semua itu akan menimbulkan kesan dalam pikiran seseorang, yang kemudian akan menentukan tindakan Interaksi Sosial apa yang akan dilakukan. Maka, meskipun Secara umum proses sosial adalah guru berdiri, duduk diam di depan siswa interaksi sosial, dimana interaksi sosial tanpa mengucapkan sepatah katapun, maka adalah faktor utama yang menjadikan proses aktivitas sosial itu terjadi. Interaksi sosial SoerjonoSoekanto, 2012. SosiologiSuatuPengantar. Jakarta: RajaWali Press. Degradasi Fungsi-Fungsi Pendidikan Dalam Pewarisan dan Perubahan Nilai-Nilai Sosial dan Budaya Yuyu Krisdiansyah. Asep Mulyana. Sugiyono E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 TanzhimunaVol2. No1Juni2022 telah terjadi interaksi sosial diantara mereka. Imitasi adalah meniru perilaku dan akan tetapi interaksi yang mereka lakukan tindakan orang lain dengan sama persis yang ialah interaksi pasif. dilakukan oleh orang lain tersebut yang dapat Seorang pendidik ketika berhadapan berarti posisitf apabila yang ditiru tersebut dengan para peserta didik yang merupakan adalah perilaku individu yang baik sesuai bagian dari kelompok manusia di dalam nilai sosial dan norma masyarakat. Akan Pada interaksi sosial tersebut, tampak tetapi, sebaliknya proses imitasi bisa juga bahwa tahap pertama pendidik mencoba berarti negatif apabila sosok individu yang untuk menguasai kelasnya agar interaksi ditiru adalah perilaku yang tidak baik atau sosial berjalan dengan seimbang, sehingga perilaku yang menyimpang dari nilai dan terjadi saling mempengaruhi antara kedua belah pihak. Interaksi sosial yang demikian kehidupan bermasyarakat. hanya berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi dari keduanya. Menurut Sasmita, pengertian imitasi adalah proses sosial yang dilakukan oleh Interaksi sosial tidak akan terjadi seseorang dalam peniruan terhadap sikap, apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu gaya hidup, bahkan segala sesuatu yang adanya kontak sosial dan adanya komunikasi. dimiliki seseorang yang menjadi panutan. Kontak Jika badaniah, tetapi sebagai gejala sosial, kontak maka peserta didik dalam proses interaksi tidak mesti berarti hubungan badaniah karena sosialnya akan berusaha untuk meniru teman, seseorang dapat berhubungan dengan orang guru, orang tua, atau masyarakat sekitar baik lain tanpa harus menyentuhnya, misalnya dalam sikap, gaya hidup maupun cara berbicara lewat telepon, komunikasi melalui hubungan badaniah. Faktor Sugesti Sugesti adalah proses dalam interaksi Faktor Interaksi Sosial sosial yang biasanya dipergunakan untuk Soerjono Soekanto menjelaskan bahwa proses interaksi didasarkan pada perkataan, tingkah laku pihak lain, tanpa lagi empat faktor, yaitu5: adanya kritik yang diungkapkan terlebih Faktor Imitasi dahulu, sehingga hal ini mengakibatkan untuk salah seorang yang dipengaruhi akan SoerjonoSoekanto, 2012. SosiologiSuatuPengantar. Jakarta: RajaWali Press. segera mengikuti serta melakukannya tanpa Degradasi Fungsi-Fungsi Pendidikan Dalam Pewarisan dan Perubahan Nilai-Nilai Sosial dan Budaya Yuyu Krisdiansyah. Asep Mulyana. Sugiyono E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 TanzhimunaVol2. No1Juni2022 adanya proses berpikir panjang. Menurut Menurut Harwantiyoko. Kartono, identifikasi adalah proses sosial dan interaksi sugesti adalah bagian daripada proses sosial sosial yang membuat serangkaian pengenalan dan interaksi yang mempengaruhi seseorang terhadap menempatkan obyek dalam suatu terhadap orang lain dalam menerima norma kelas sesuai dengan karakteristik tertentu. maupun pedoman untuk melakukan tindakan Sosok figur atau suri tauladan menjadi keniscahyaan yang membersamai proses perkembangan manusia, dimana seseorang Seorang siswa atau peserta didik akan bertingkah laku sesuai sugesti yang mereka dijadikan panutan dalam bertingkah laku, dapatkan baik ketika bergaul antar sesama bersikap, berpakaian, dan lain sebagainya. siswa maupun masyarakat sekitar, sebagai Sehingga contoh siswa bolos sekolah karena diajak pendidikan, seorang pendidika adalah sosok figur bagi peserta didik, dimana segala manfaatnya, ajakan tersebut diterima dan tingkah laku dan cara berpakaian akan diamati dan ditiru oleh peserta didik. Tanpa meninggalkan sekolah. Didalam Faktor Identifikasi yang mengidolakan secara berlebihan tokoh- Identifikasi merupakan kecenderungan tokoh wirausaha, demi mengidolakan tersebut dalam yang ada dalam diri seseorang untuk seseorang rela melakukan apa yang dulu menjadi sama dengan orang lain, sehingga dilakukan oleh tokoh wirausaha, seperti proses ini sangat lekat dengan makna imitasi berani berjualan disaat rekan-rekan sebaya dan proses arti sugesti yang berlangsung Hingga dalam diri seseorang, perbedaannya dalam dengan adanya kecenderungan yang ia proses identifikasi memiliki pengaruh yang lakukan sama, lambat laun dia sendiri akan cukup kuat. mendapatkan apa yang ia inginkan. Adapun istilah lain bagi orang lain yang Faktor Simpati Simpati dinamakan idola. Dimana untuk seluruh interaksi sosial seseorang yang memiliki rasa tindakan, sikap, kepercayaan dan bahkan tertarik pada pihak lain seperti rasa keinginan sampai pola hidup yang dilakukan oleh untuk memahami pihak lain dan berharap individu tersebut sama persis dalam idola. dapat melakukan kerjasama dengan orang Degradasi Fungsi-Fungsi Pendidikan Dalam Pewarisan dan Perubahan Nilai-Nilai Sosial dan Budaya Yuyu Krisdiansyah. Asep Mulyana. Sugiyono E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 TanzhimunaVol2. No1Juni2022 tersebut, dimana rasa tertarik yang biasanya Menurut Kamus Besar Bahasa muncul dalam diri setiap individu dan Indonesia (KBBI), budaya dapat diartikan kelompok tersebut lebih dilandasi pada suatu sebagai pikiran, akal budi, adat istiadat atau keinginan mengenai orang kejadian yang sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang dialami oleh orang lain di lingkungannya. sudah sukar diubah. Sementara kebudayaan Adapun menurut Eisenberg, arti simpati adalah serangkaian proses interaksi sosial penciptaan batin . kal bud. manusia seperti yang timbul dari adanya kejadian tertentu kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Menurut Koentjaraningrat, perasaan yang dirasakan oleh individu lain berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu dari kata yang sedang menderita serta memerlukan dasar Buhdhi yang berarti budi atau akal. Bentuk jamak dari kata Buddhi ini adalah Dengan adanya simpati maka antara Buddhayah, dari sinilah kata budaya lahir. individu satu dengan yang lainnya akan Jadi Budaya diartikan sebagi daya akal atau menjaga hubungannya dengan baik. Hal ini budi berupa cipta, karsa dan rasa6. karena mereka sadar bahwa hubungan sosial Interaksi manusia dengan sesamanya ini sangat penting dan menjadi rusak apabila dan dengan alam sekitarnya menghasilkan tidak dijaga dengan sebaik-baiknya. tatanan sistem berfikir, sistem moral, nilai. Apabila norma dan keyakinan. Semua itu kemudian lingkungan yang baik dan positif. Maka hal digunakan dalam kehidupan manusia dan ini akan berdampak secara langsung dengan menghasilkan sistem sosial, sistem ekonomi, pola perilaku seseorang yang semakin baik sistem kepercayaan, sistem pengetahuan. Karena orang tersebut sudah terbiasa teknologi, seni, dan sebagainya7. atau sering melakukan interaksi dengan disimpulkan bahwa interaksi manusia telah melahirkan budaya dalam bentuk sistem berpengaruh juga pada proses perubahan berpikir, nilai, norma, moral dan keyakinan. perilaku yang semakin membaik. sebaliknya dalam interaksinya manusia juga Dari Fungsi Pendidikan Dalam Pewarisan Nilai-Nilai Budaya Pengertian Kebudayaan Budaya Koentjaraningrat. PengantarIlmuAntropologi. Jakarta : RinekaCipta hlm. Usman Ilyas. IntegralisasiBudayaDalamSistemPendidikan Nasional. Foramadiahi: JurnalKajianPendidikanKeislaman Volume: 11 Nomor: 2 EdisiDesember 2019, hlm. Degradasi Fungsi-Fungsi Pendidikan Dalam Pewarisan dan Perubahan Nilai-Nilai Sosial dan Budaya Yuyu Krisdiansyah. Asep Mulyana. Sugiyono E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 TanzhimunaVol2. No1Juni2022 diikat dan diatur oleh budaya yang telah harus mampu menyesuaikan diri dengan Kebudayaan Kemampuan identitas suatu bangsa yang dihasilkan oleh lingkungan geografis ini akan menjadi sebuah adanya interaksi manusia dengan manusia budaya yang mengakar dalam kehidupan lainnya dalam mengatasi permasalahan agar Pendidikan dan budaya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Hasil dari kebudayaan bisa Di satu sisi pendidikan berperan dalam berupa sikap, perilaku, seni, sistem nilai, pelestarian, pengembangan dan pewarisan hukum, ideologi, politik, keterampilan dan budaya baik melalui pendidikan formal Oleh karena itu, kebudayaan maupun informal, sementara di sisi lain suatu daerah pasti akan berbeda dengan budaya itu sendiri menghasilkan bentuk, ciri daerah lainnya, karena permasalahan yang dan sistem pendidikan. Pendidikan sebagai dihadapi oleh masyarakatnyapun berbeda sebuah proses transformasi pengetahuan dan sehingga melahirkan cara atau sikap yang berbeda pula. mewariskan budaya dari satu generasi ke Selain permasalahan yang dihadapi, generasi berikutnya. Berbagai keterampilan, kondisi geografis juga ikut menentukan sistem nilai, adat istiadat, sistem moral dan Kondisi sebagainya akan diwariskan melalui proses geografis atau kondisi alam yang menuntut pendidikan agar generasi penerus mampu masyarakatnya memiliki kemampuan tertentu mempertahankan kehidupannya. untuk bertahan hidup sehingga lambat laun Sarana Pewarisan Budaya kemampuan tertentu ini menjadi sebuah Setiap manusia memiliki potensi dan Misalnya masyarakat yang tinggal di dataran tinggi harus memiliki kemampuan melalui proses pendidikan dan pengalaman. Pendidikan masyarakat yang tinggal di pantai harus melalui interaksi antara manusia dengan memiliki kemampuan berenang dan mencari masyarakat yang tinggal di gurun pasir Djamal. PendidikandanRekonstruksiBudaya. JurnalPendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: Nomor: 1. Juni 2018, hlm. Haderani. TinjauanFilosofisTentangFungsiPendidikanDalam HidupManusia. JurnalTarbiyah: JurnalIlmiahKependidikan Vol. 7 No. Januari - Degradasi Fungsi-Fungsi Pendidikan Dalam Pewarisan dan Perubahan Nilai-Nilai Sosial dan Budaya Yuyu Krisdiansyah. Asep Mulyana. Sugiyono E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 TanzhimunaVol2. No1Juni2022 Demikian pula dalam hal pewarisan budaya. akan mengajarkan anak-anaknya untuk taat Budaya dapat diwariskan melalui proses pada agama. keluarga yang terbiasa dengan gaya hidup sederhana akan mengajarkan Lingkungan inilah yang dianggap anak-anaknya untuk bersahaja. sebagai sarana pewarisan budaya. keluarga yang terbiasa berfoya-foya maka Keluarga akan membiarkaan anak-anaknya terbiasa Keluarga merupakan komunitas terkecil pula dalam kemewahan dan gaya hidup Semua yang diperlihatkan dan Keluarga inti terdiri dari ayah dan ibu. Pada ditampilkan oleh anggota keluarga akan umumnya keluarga diperluas tidak hanya menjadi Aumateri pelajaranAy pada sang anak ayah dan ibu, namun seluruh isi rumah yang baik secara langsung maupun tidak langsung, masih terikah oleh hubungan darah adalah baik disadari ataupun tidak anak akan Pada mulanya ibu yang sangat mempengaruhi kepribadian anak, namun pada AupelajaranAy yang lambat laun akan menjadi karakter dalam dirinya. tersebut berinteraksi sehingga menghasilkan Masyarakat nilai dan norma yang dijadikan pedoman oleh Masyarakat menjadi sarana pewarisan Anak budaya karena setiap orang akan berinteraksi sebagai bagian dari anggota keluarga, pasti di lingkungan masyarakat. Masyarakat juga akan diajarkan bagaimana menerima dan menerapkan nilai serta norma yang telah pendidikan yang dilembagakan maupun yang terbentuk tadi. Dengan kata lain, pendidikan tidak dilembagakan. Oleh karena itu, para budaya dalam keluarga ditentukan oleh semua tokoh masyarakat baik tokoh agama maupun anggota keluarga yang berinteraksi dengan tokoh adat memiliki peranan sangat besar dalam mengendalikan nilai-nilai budaya yang Keluarga demikian pula keluarga yang buruk pasti akan buruknya masyarakat akan ikut ditentukan mewariskan hal-hal buruk pada anak. oleh nilai-nilai yang dianut oleh anggota memegang erat nilai-nilai ajaran agama, tentu Baik mewariskan nilai-nilai kebaikan pada anak. Sebagai Lembaga Adat Budaya dan adat memiliki hubungan Juni 2018, hlm. yang sangat erat. Lembaga adat memiliki Degradasi Fungsi-Fungsi Pendidikan Dalam Pewarisan dan Perubahan Nilai-Nilai Sosial dan Budaya Yuyu Krisdiansyah. Asep Mulyana. Sugiyono E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 TanzhimunaVol2. No1Juni2022 peranan yang sangat besar dalam menjaga dan Hal ini sejalan dengan fungsi melestarikan budaya. Budaya yang sudah mengakar secara turun temurun akan dijaga transformasi nilai dan pengetahuan. Interaksi antara guru dengan peserta didik di sekolah merusak budaya asli. Namun demikian, tidak pengetahuan dan nilai kepada peserta didik. setiap daerah memiliki lembaga adat yang Sekolah diharapkan menjalankan dua fungsi sekaligus, yaitu melestarikan budaya yang lembaga adat yang masih bertahan dan telah dimiliki dan mempersiapkan peserta menjaga keaslian budayanya adalah lembaga didik yang siap bersaing secara global dengan adat masyarakat Baduy di Banten. Kasepuhan memperkenalkan budaya asing. Ciptagelar di Sukabumi. Kampung Naga di Media Massa Tasikmalaya, dan lembaga adat lainnya yang Di era globalisasi ini media massa Contoh terkontaminasi dengan budaya dari luar yang biasanya jauh dari modernisasi. bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi dapat Komunitas Agama dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi Komunitas agama menjadi salah satu sarana dalam mewariskan nilai-nilai budaya, keberlangsungan budaya local yang telah terutama yang berhubungan dengan ajaran dipertahankan secara turun-temurun. Media agama itu sendiri. Biasanya yang berperan massa dapat menjadi media promosi yang dalam melakukan pewarisan nilai-nilai itu adalah para pemuka agama melalui upacara kebudayaan secara luas. Dari media massa keagamaan atau melalui khutbah. Rumah ibadah juga biasanya menjadi tempat untuk pewarisan nilai-nilai budaya dan agama. Dengan media massa, kebudayaan dari setiap daerah bahkan dari setiap bangsa akan masjid-mesjid AudipertarungkanAy. Jika pemanfaatan media menyediakan TPA atau TPQ. Sekolah massa tidak maksimal dalam mempromosikan Sekolah sebagai lembaga pendidikan budaya, maka bisa jadi budaya tersebut akan Usman Ilyas. IntegralisasiBudayaDalamSistemPendidikan Nasional. Foramadiahi: JurnalKajianPendidikanKeislaman Volume: 11 Nomor: 2 EdisiDesember 2019, hlm. Degradasi Fungsi-Fungsi Pendidikan Dalam Pewarisan dan Perubahan Nilai-Nilai Sosial dan Budaya Yuyu Krisdiansyah. Asep Mulyana. Sugiyono E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 TanzhimunaVol2. No1Juni2022 memenangkan AupertarunganAy tadi. pembiasaan-pembiasaan baik secara sadar Proses Pewarisan Budaya maupun tidak sadar dalam batas yang Proses pewarisan budaya dapat terjadi diperbolehkan oleh norma yang berlaku di dengan dua bentuk, yaitu pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya yang Dengan kata lain, enkulturasi adalah disebut enkulturasi, dan adopsi budaya oleh proses yang pasti dilalui oleh manusia dalam orang yang baru mengenal budaya tersebut berinteraksi dengan manusia lainnya. Oleh karena pendidikan pada hakikatnya adalah pewarisan budaya ini akan menghasilkan interaksi antara guru dengan peserta didik, maka dapat dikatakan pula bahwa pendidikan Kedua merupakan proses enkulturasi yang disengaja Enkulturasi Menurut dan direncanakan. Hal ini karena dalam Usman Alwi. Enkulturasi adalah proses pewarisan budaya dari satu mewariskan budaya dan keterampilan tertentu generasi ke generasi berikutnya. Pewarisan yang harus dimiliki oleh peserta didik. bentuk ini biasanya lebih banyak dilakukan di Akulturasi lingkungan pendidikan non formal seperti di Akulturasi merupakan adopsi budaya lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam luar yang masuk ke dalam budaya yang telah proses enkulturasi pembudayaan dilakukan ada sebelumnya. Akulturasi terjadi karena oleh orang yang lebih tua kepada orang yang adanya interaksi antara dua kelompok atau lebih muda, dengan muatan budaya yang lebih yang berbeda budaya, dari interaksi diajarkan berupa tata krarma, adat istiadat dan keterampilan yang dimiliki suatu komunitas menghilangkan budaya aslinya. atau suku. Sementara Sementara Abdul Koentjaraningrat Rahmat mengemukakan bahwa akulturasi terjadi jika Enkulturasi adanya interaksi antara budaya asli dengan berlangsung seumur hidup, dan berlangsung budaya pendatang kemudian melebur menjadi di setiap lingkungan kehidupan manusia. budaya baru namun tanpa menghilangkan ciri Dalam proses enkulturasi terdapat proses khas atau karakteristik budaya lamanya. Dengan demikian, dalam akulturasi, budaya Usman Alwi. PeranPendidikanSebagaiTransformasiSosialdanBudaya . Jurnal Al Ae Qiyam Vol. No. December 2021, hlm Abdul Rahmat. SosiologiPendidikan. Gorontalo :Ideas Publishing, 2015, hlm 25 Degradasi Fungsi-Fungsi Pendidikan Dalam Pewarisan dan Perubahan Nilai-Nilai Sosial dan Budaya Yuyu Krisdiansyah. Asep Mulyana. Sugiyono E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 TanzhimunaVol2. No1Juni2022 interaksi dengan budaya pendatang. membentuk system nilai yang baru. Hal ini karena adanya interaksi manusia antara satu Dengan kata lain, akulturasi merupakan memungkinkan perubahan standar norma dan hasil pertemuan sebuah budaya dengan nilai tersebut. Kondisi ini semakin nampak di era globalisasi di mana informasi dapat membentuk budaya baru namun karakteristik diakses oleh siapapun tanpa batas ruang dan budaya lamanya tidak hilang. Nurcholis Majid sebagaimana dikutip Perubahan Nilai-Nilai Sosial Dan Budaya oleh Fauzi menggambarkan era informasi Syukri Syamaun mengutip pendapat sebagai puncak modernitas dan rasionalitas. Kontjaraningrat yang menyatakan bahwa ada yaitu suatu era yang dinilai lebih tinggi dan tujuh unsur yang terkandung dalam sosial- lebih maju dari era industri. Era informasi ini budaya, yaitu: bahasa, sistem teknologi, terjadi pada seluruh dunia, ketika umat sistem ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi dan kesenian13. Dengan dengan perangkat teknologi komunikasi dan Kondisi ini disebutnya sebagai sekumpulan norma dan nilai yang mengatur kondisi menuju zaman budaya tunggal . ono kehidupan masyarakat. Norma dan nilai itu cultur. dibentuk dan dipelihara oleh masyarakat Di era globalisasi, sarana komunikasi pendukungnya sekaligus menjadi pedoman dan informasi dapat menjangkau berbagai dalam kehidupan masyarakat. Baik dan terjadinya komunikasi secara global. Di satu masyarakat dilihat dengan menggunakan sisi masyarakat dimudahkan dengan berbagai standar norma dan nilai yang dibentuk itu. kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kebudayaan namun di sisi lain kondisi ini mendorong dasarnya tidaklah statis, melainkan akan menemui berbagai dinamisasi sehingga bisa materialistis, pragmatis, hedonis dan kapitalis. Arus globalisasi yang mendorong terjadinya SyukriSyamaun. PengaruhBudayaTerhadapSikap Dan PerilakuKeberagamaan, dalamJurnal At-Taujih Vol. No. 2 Juli - Desember 2019 . ttp://jurnal. id/index. php/Tauji. Fauzi. PeranPendidikanDalamTransformasiNilaiBudayaLokal Di Era Millenial, dalamJurnalInsania. Vol. No. Januari Ae Juni 2018 hlm. Degradasi Fungsi-Fungsi Pendidikan Dalam Pewarisan dan Perubahan Nilai-Nilai Sosial dan Budaya Yuyu Krisdiansyah. Asep Mulyana. Sugiyono E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 TanzhimunaVol2. No1Juni2022 perubahan social dan budaya semacam ini akan menjadi bangsa yang produktif akan berdampak sangat serius terhadap dalam segala hal. kehidupan manusia. Tatanan system nilai Terjadi dikotomi masyarakat. Kondisi yang telah terbentuk secara turun temurun bisa saja dengan mudah tergantikan dengan tatanan system nilai yang baru. Menurut Mastuhu sebagaimana dikutif kolaborasi antara satu kelompok dengan oleh Fauzi, ada beberapa kecenderungan kelompok masyarakat lainnya. Hal ini disorientasi masyarakat di era milenial atau di era globalisasi ini, yaitu : sehingga mendorong lahirnya rasa acuh Individualis, terhadap orang lain. Tempat kepentingan umum. Sikap seperti ini sebagai tempat mencari uang. Oleh bertentangan dengan budaya gotong- karena orientasinya hanya pada materi, royong yang telah lama melekat sebagai sehingga tempat bekerja tidak bisa tradisi dan kearifan local masyarakat menjadi sarana pembelajaran nilai-nilai Indonesia Instan, berorientasi jangka pendek. Masyarakat Belum Konsep kesadaran bahwa pada harta yang kita sesuatu yang cepat dan tidak AusabaranAy. dapatkan ada hak orang lain yang harus Keinginan yang serba instan berakibat juga pad acara pandang yang pragmatis, mendorong lahirnya sikap peduli dan yaitu mengukur sesuatu hanya dari sisi kasih saying terhadap sesame. kegunaannya secara konkrit. Tidak Ketidakmampuan Konsep Kesadaran Masyarakat kehebatan sesaat dan bersifat jangka pendek, bukan kehebatan yang tumbuh memanfaatkan waktu dengan sebaikbaiknya akan menurunkan produktifitas sebuah bangsa. Bangsa yang disiplin secara konsisten dan tiada akhir. Tidak Terjadi kreatifitas, yang ada adalah budaya Degradasi Fungsi-Fungsi Pendidikan Dalam Pewarisan dan Perubahan Nilai-Nilai Sosial dan Budaya Yuyu Krisdiansyah. Asep Mulyana. Sugiyono E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 TanzhimunaVol2. No1Juni2022 memiliki yang terlalu besar, bukan perubahan sikap peserta didik dari yang tidak budaya mencipta. baik menjadi baik, bukan hanya perubahan Mengutamakan kebenaran normative- pengetahuan dari tidak bisa menjadi bisa. Kondisi ini menggambarkan Orientasi pendidikan saat ini lebih sikap kaku masyarakat dalam mengukur banyak tertuju pada kebutuhan pasar . arket Padahal pada kenyataannya, pendidikan kehilangan ruang gerak dalam dalam kehidupan sehari-hari sering kali ditemui solusi atas sebuah masalah hal-hal Indikator substantive atau non formal15. pragmatis dan mengabaikan hal-hal yang Uraian di atas menunjukan bahwa berkaitan dengan moralitas sosial. Kondisi ini kemajuan teknologi dan informasi telah diperparah dengan rendahnya pemahaman membuai masyarakat unuk terjerumus ke peserta didik tentang keluhuran nilai-nilai dimensi budaya yang berbeda dengan budaya tradisi dan budaya sehingga jika ini asli yang mereka miliki. Pendidikan sebagai nilai-nilai media atau alat untuk AumenularkanAy nilai dan budaya local akan digantikan oleh budaya norma hasil kebudayaan memiliki peranan global sebagaimana dikatakan oleh Nurcholis strategis dalam membentuk sikap, perilaku Majid di atas. Melalui proses enkulturasi, pendidikan kemudian hari akan menjadi manusia dewasa berfungsi dalam mewariskan nilai-nilai dan prestasi-prestasi generasi masa lalu kepada Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang sebagai karakteristik suatu bangsa yang Sementara Nilai-nilai pengajaran dan pelatihan16. Dalam pengertian pendidikan berfungsi dalam menyerap budaya ini, titik focus pendidikan adalah adanya menyempurnakannya sehingga menghasilkan Fauzi. PeranPendidikanDalamTransformasiNilaiBudayaLokal Di Era Millenial, dalamJurnalInsania. Vol. No. Januari Ae Juni 2018 hlm. Dakir. ManajemenPendidikanKarakter, (Yogyakarta : Penerbit K-Media, 2. Fauzi. PeranPendidikanDalamTransformasiNilaiBudayaLokal Di Era Millenial, dalamJurnalInsania. Vol. No. Januari Ae Juni 2018 hlm. Degradasi Fungsi-Fungsi Pendidikan Dalam Pewarisan dan Perubahan Nilai-Nilai Sosial dan Budaya Yuyu Krisdiansyah. Asep Mulyana. Sugiyono E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 TanzhimunaVol2. No1Juni2022 budaya baru sesuai dengan karakteristik Kebudayaan sebagai hasil karya, karsa masyarakat yang telah terbentuk. Dari sinilah dan cipta manusia menjadi pedoman bagi dapat kita pahami bahwa pendidikan memiliki sebuah komunitas budaya tersebut dalam bersikap, bertingkah laku dan berinteraksi perilaku dan kecerdasan dari satu generasi ke dengan sesamanya. Di satu sisi kebudayaan generasi berikutnya. Simpulan masyarakat, namun di sisi lain system Suatu proses interaksi didasarkan pada empat faktor, yaitu faktor imitasi, sugesti, perubahan kebudayaan. identifikasi, dan simpati. Faktor imitasi Di era globalisasi, peran dan fungsi mempunyai peranan penting dalam proses pendidikan dalam melakukan perubahan dan pewarisan nilai-nilai social budaya telah yang lahir kaidah dan nilai-nilai yang berlaku. Faktor bersamaan dengan kemajuan media informasi Beberapa memberi suatu pandangan atau sikap yang masyarakat di era globalisasi menunjukkan berasal dari dirinya kemudian diterima oleh bahwa nilai-nilai budaya dan kearifan local semakin terkalahkan dan tidak mampu survive kecenderungan atau keinginan dalam diri melawan pengaruh globalisasi. Beberapa seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain karena kepribadian seseorang dapat Pragmatis, terbentuk atas dasar proses ini. Proses simpati materialistis, dan tidak produktif. Identifikasi merupakan suatu proses seseorang merasa tertarik pada pihak lain, dalam proses ini DAFTAR PUSTAKA